Yang dimaksud kiai yang sederajad dalam sub bab ini adalah kiai yang
tidak ada keterkaitan sebagai guru-santri. Karena itu, mereka memiliki
kedudukan dan status sosial yang sama. Kiai sebagai sesama alumni pesantren,
baik yang berasal dari satu pesantren maupun dari pesantren lainnya memiliki
pengaruh, peran, dan status sosial yang sama di tengah-tengah masyarakat NU.
Mereka juga memiliki pola komunikasi yang setara antara kiai yang satu dengan
yang lainnya, bahkan tingkat keakraban yang tinggi biasa terjadi dalam
berkommunikasi. Pola komunikasi ini juga tidak terlepas dari penggunaan
tingkat tutur (speech level), pilihan bahasa dan ragam bahasa, tone, body
language, dan alih giliran tutur. Poedjosoedarmo (2003) memukakan bahwa tingkat tutur (unda usuk) adalah variasi yang keberadaannya dan perbedaan
bentuknya ditentukan oleh anggapan si penutur terhadap lawan tutur yang
didasarkan pada tingkat keakraban atau rasa hormatnya. Dengan kata lain,
tingkat tutur itu ditentukan oleh hubungan si penutur dan lawan tutur, antara O1
(orang pertama) dengan O2 (orang kedua). Ada hubungan yang akrab, dan ada
yang berjarak. Ada hubungan yang santun, penuh rasa hormat, dan ada yang tak
perlu menghormat. Masyarakat yang tingkat peradabannya tinggi biasanya
memiliki tingkat tutur yang kelihatan jelas. Di Jerman orang membedakan
tingkat tutur Sie dan du, di Perancis ada Vus dan Tu. Di Madura, Jawa, Sunda,
dan Bali pilahan-pilahan tingkat tutur juga kelihatan jelas. Tingkat tutur tersebut
, sebagai tola ukur penggunaan kode tutur yang lain dalam peristiwa komunikasi.
145 pola komunikasi. Seseorang yang menggunakan tingkat tutur È-B, berupaya
secara konsisten memilih BM untuk mempertahankan politeness, bersuara
lemah lembut (merendahkan suaranya), menunjukkan bahasa tubuh yang santun
(seperti, menundukkan kepala dan pandangan), dan memtahui alih giliran tutur.
Didasarkan pada konteks terjadinya tuturan, pola komunikasi kiai yang
sederajat ini, akan di petakan menjadi dua kategori yakni, pola komunikasi kiai
yang sederajat dalam situasi formal dan informal.
5.2.1 Pola Komunikasi Kiai Sederajat dalam Situasi Formal
Dalam situasi formal, kiai lebih berhati-hati dalam berkomunikasi
termasuk bagaimana menggunkan bahasa halus (abhâsa) dan penggunaan tingkat
tuturnya biasanya cenderung konsisten. Karena itu, petuturan yang di dalamnya
jauh dari keakraban dan situasinya formal, cenderung menggunakan bahasa yang
juga konsisten, agar terhindar dari penggunaan bahasa yang yang kasar (ta‟
abhâsa). Fenomena tersebut dapat dilihat pada data berikut:
Data 8: Sambutan Kiai pada Acara selamatan tingkepan tujuh bulan
Assalaamu‟alaikum Warahmatullaahi Wabarokaatuh Wa‟laikum Salaam Warahmatullaahi Wabarokaatuh
Bismillaahi Alhamdulillah Ashsholaatu wassalaamu ‟alaa sayyidinaa Muhammadin wa‟alaa „aalihi waashbihii wamawwalah walaahaula quwwata illa billah, ammaa ba‟duh. Para onjhângan sadhâjâ, insyaAllah sè pareppaen è muljaaghi Allah Swt. Cabis pamator, badan kaulah narèmah mandat dâri shohibul hajah sekeluarga kaangguy makkèlèn pamator sè bhâdi èyatorroaghi dâ‟ panjenengan sadhâjâ. Ngèngèngèn klabân acara slametan è malem samangkèn, engghi ka‟dinto: nomor sèttong, atas nama shohibul hajah mator syukur kehadirat Allah swt. atas terlaksana èpon ponapa sè dhâddhi cita-cita otabâ hajhât dari shohibul hajâh sekeluarga, sampè‟ hajât dari
146
shohibul hajah è malem samangkèn paneka nagatorè longghu dâ‟ bâdân kaulâ sadhâjâ. Lastarè ka‟dinto ca‟èpon, atas kehadiran èpon panjenengan sadâjâ sanget è kabhunga, mator sakalangkong sè cè‟ rajhâna, kalabân nyo‟on dâ‟ ka Allah Swt. kalabân settong pernyo‟onan Jazaakumullaahu khairan katsiiraa. Amien yaa rabbâl‟aalamaiin. (Bismillaahi Alhamdulillah Ashsholaatu wassalaamu ‟alaa sayyidinaa Muhammadin wa‟alaa „aalihi washahbihii wamawwalah walaahaula walaa quwwata illaa billah, ammaa ba‟duh. Para undangan semua, insyaAllah yang sedang di muliakan Allah swt. Sowan pembicaraan, badan saya menerima mandat dari shohibul hajah sekeluarga untuk mewakili pembicaraan yang akan dihaturkan ke panjenengan semua. Mengingat dengan acara selamatan di malam ini, yaitu: nomor satu, atas nama shohibul hajah mengucapkan syukur kehadirat Allah swt. atas terlaksananya apa yang menjadi cita-cita atau hajat dari shohibul hajah sekeluarga, sampai hajat dari orang yang punya hajat di malam sekarang ini mempersilahkan duduk kepada badan saya semua. Setelah ini katanya, atas kehadirannya penjenengan semua sangat menyenangkan, ucapan terima kasih yang sangat besar, dengan memohon kepada Allah Swt. dengan suatu permohonan semoga Allah mengganti kebaikan yang banyak, Amien ya rabbâl‟alamaiin!)
„Bismillaahi Alhamdulillah Ashsholaatu wassalaamu ‟alaa sayyidinaa Muhammadin wa‟alaa „aalihi washahbihii wamawwalah walaahaula walaa quwwata illaa billah, ammaa ba‟duh. Para undangan yang insyaAllah sedang di muliakan Allah swt. mohon ijn berbicara, saya menerima mandat dari shohibul hajah sekeluarga untuk mewakili prakata ke panjenengan semua. Berkaitan dengan acara selamatan pada malam hari ini, yaitu: pertama, atas nama shohibul hajah kami bersyukur kehadirat Allah swt. atas terlaksananya acara ini, sehingga niatan shohibul hajah pada malam hari ini mengundang kita semua. Kemudian, atas kehadiran penjenengan semua merupakan kebahagiaan bagi shohibul hajah. Karena itu, kami ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, seraya memohon kepada Allah Swt. dengan suatu permohonan semoga Allah mengganti dengan kebaikan yang lebih besar, Amiin ya rabbâl‟aalamaiin!‟
Pada acara formal kata sambutan seperti pada data (8) di atas, tuturan
diawali dengan salam yang lengkap, dan partisipan tutur juga menjawabnya
dengan salam yang lengkap. Setelah itu, ucapan syukur dan sholawat kepada
Nabi yang dikemukakan dengan BA. Sebelum memulai sambutan kiai
menyatakan Para onjhângan sadhâjâ sè muljâ „Para undangan yang mulia‟
147