• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pomade Bung

Dalam dokumen Merry Christmas Felix Siauw (Halaman 103-117)

“Banyak yang pada kaget tuh pas gua ngeluarin pomade varian Kretek. Apa-apaan tuh, pomade kok kretek? Ya gua bilang aja kalo pomade Bung bikinan gua emang pengen konsisten make ikon budaya Indonesia. Setelah Gurindam, gua ngeluarin Kretek,” katanya.

Lelaki itu masih dengan keriangannya yang sama dengan ketika kami sering nongkrong bareng bertahun-tahun lalu di sebuah warkop di depan kampus kami. Ia menerima saya di rumahnya di pelosok Bekasi yang jauh. Dari Ciputat, saya perlu waktu dua jam lebih naik sepeda motor untuk bertemu dengannya. Itu di tengah malam. Saya enggan membayangkan menempuh jarak itu di jam orang pergi atau pulang kerja. Olok-olok orang Jakarta sepertinya tidak berlebihan, Bekasi memang lebih jauh ketimbang Pluto.

ngeblog pun bisa menghasilkan uang. Menjelang kelulusannya, ia menghabiskan ribuan dolar hasil ngeblog untuk melunasi semua kebutuhannya agar bisa diwisuda.

Ia yang secara tak langsung banyak mengajari saya menulis. Beberapa kali, saya memintanya memeriksa naskah yang saya buat, masukan darinya selalu sangat berguna, dan disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Dan yang jauh lebih penting, ia yang terus menjaga semangat membaca saya. Dia selalu mengajak saya berlomba-lomba memburu buku-buku bagus, untuk kemudian saling pamer apa yang telah masing-masing kami baca.

Ia adalah penulis bola yang paling saya kagumi setelah Sindhunata, sebelum Zen RS, sebelum Darmanto Simaepa dan Mahfud Ikhwan. Ia sempat membangun sebuah portal sepakbola bernama sepakbolamania.com. Di situlah analisis-analisis kerennya tentang berbagai pertandingan dipublikasikan.

Tapi kini ia banting stir! Sepakbolamania sudah lama gulung tikar. Ia semakin jarang menulis. “Gua juga udah jarang baca sastra. Paling buku-buku bola, gua pesen di book depository,” katanya.

Tapi ia masih punya keriangan yang sama. Selera humor yang masih meluap-luap. Ia menerima saya dengan gembira, dengan guyonan-guyonan lama, dengan kue lebaran yang enak-enak, dengan kopi Jambi yang tak kalah enak.

Tapi ia kini banting stir! Ia sudah jarang menulis. Sekarang ia seorang pebisnis. Pengusaha pomade.

Tapi ia tidak kehilangan karakternya. Ia tidak kehilangan wawasan kebudayaannya. Ia tidak kehilangan apa-apa yang ia yakini benar. Ia tidak kehilangan kecintaannya terhadap Indonesia. Ini bukan sekadar bualan tahi kucing. Ia masih memegang prinsip yang sama. Sejak dulu, ia seorang Indonesia yang bangga. Bukan congkak. Ia menolak gagasan bahwa bangsanya inferior, ia selalu berkeyakinan bahwa menjadi Indonesia bukanlah menjadi medioker. Ia yakin seyakin-yakinnya, dan itu bukan sekadar omongan tahi babi.

“Indonesia tuh pasar pomade yang

pertumbuhannya paling tinggi. Sayang banget kalo kebanyakan beli produk luar. Grup Indonesia Pomade Enthusiast itu grup pomade yang anggotanya paling banyak di dunia. Produsen-produsen luar sekarang pada ngemis reseller di sini,” ujarnya, ngakak.

“Bayangin, pernah ada tiga produsen rumahan di Houston kolaborasi. Mereka bikin produk limited edition. Cuma 300. 200-nya orang Indonesia yang beli,” katanya, ngakak lagi. Gila memang. “Nah, yang kayak-kayak gini nih yang perlu dicerahkan.”

Maka dimulailah perjuangannya di bidang perpomade-an sejak akhir tahun 2014. Setelah setahun sebelumnya dia mencobai berbagai jenis pomade, juga membaca banyak buku tentang itu, dia nekat terjun ke dunia yang tiga tahun yang lalu sama

Arlian Buana

sekali asing baginya.

Tapi ia pembelajar yang cepat, dan tangguh. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia pernah secara serius membaca segala tentang sepakbola dalam waktu relatif singkat lalu mulai menulis. Kini ia mendalami seluk-beluk pomade, saya sama sekali tidak ragu dengan kemampuannya melakukan berbagai studi, percobaan, dan penelitian.

“Kami mulai memikirkan tentang Bung pada akhir tahun 2014. Setelah hampir setahun mulai menggeluti dunia pomade dan mencicipi berbagai merk, baik lokal maupun internasional, kami berpikir untuk membuat produk sendiri.

“Setelah membaca berbagai referensi, ide tersebut mulai dikerjakan pada awal Februari 2015. Lewat riset kecil-kecilan di dapur sederhana, kami mencurahkan antusiasme, waktu, tenaga dan tentu modal, demi menemukan formula produk yang bekerja dengan baik,” tulisnya di blog PomadeBung.

“Berapa kali percobaan, Bang?” tanya saya.

“Ratusan ada kali,” jawabnya. “Rambut gua sempet rusak. Gua nyobain satu formula, jelek, langsung cuci rambut. Bikin baru lagi, gua cobain lagi. Gitu terus, bikin yang lain, cobain, sampe tiga bulanan. Pernah sehari gua harus cuci rambut sampe tiga kali. Kelinci percobaannya rambut gua sendiri.” Kali ini roman mukanya agak serius.

akhirnya berhasil menciptakan lampu penerang untuk peradaban manusia, Edison harus melalui sepuluh ribu lebih percobaann yang gagal. Tapi, kata Edison, “Saya tidak pernah gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang belum pas.”

Saya ingat pula Kolonel Harland Sanders. Yang konon pernah gagal 1009 kali sebelum resep ayam gorengnya benar-benar diterima orang, lalu laku dan menjadi legendaris. Dan yang paling dahsyat, saya ingat pernah membaca di suatu tempat bahwa serial Twilight pernah 14 kali ditolak penerbit. Yawlaaa, kok ya ada yang mau menerbitkan novel vampire alay begitu. Yawlaaa.

“Kenapa Schweinsteigger?” Saya coba alihkan pembicaraan, ia seorang pendukung Manchester United garis keras. Ia terlihat tenang, sama sekali tidak tergeragap mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.

“Kehadirannya di lapangan tengah penting. Setelah Scholes, belum ada lagi yang bisa jadi bos di lapangan tengah Emyu,” katanya. “Justru gua heran sama orang-orang yang nanya kenapa Schweini.” Ia menghisap asap kreteknya dalam-dalam, menghembuskannya, kemudian terkekeh.

“Kenapa Bung?” Kembali ke pomade karyanya. “Emang ada yang lebih bagus?” Giliran saya yang tertawa.

“Ada review bagus dari temen di Solo. Dia bilang, orang mbaca merk ini gak mungkin lemah-lesu.

Arlian Buana

Orang mbacanya pasti pakai tanda seru. Gua suka reviewnya.”

“Ya iyalah. Orang jualan mah pasti seneng kalo dagangannya dipuji.”

Ia cekikikan.

Waktu subuh hampir tiba, dari masjid di dekat rumahnya terdengar suara speaker membangunkan warga.

“Tambah lagi kopinya, Ban,” katanya.

“Nanti aja, Bang. Terus itu Gurindam gimana ceritanya?”

“Gurindam itu pomade medium hold. Daya rekatnya sedang. Itu kan produk pertama. Gua pengen, semua tulisan di kemasan produk gua pake bahasa Indonesia. Makanya gua mikir, apa ya nama varian yang bagus. Akhirnya gua putusin pake ikon budaya aja. Yang pertama: Gurindam.”

“Respons orang-orang gimana?”

“Ya namanya produk baru, pasti kan banyak yang pengen tau. Itu kesempatan gua buat ngasih penjelasan. Pada nanya apaan Gurindam, ya gua jelasin ini nama varian. Di grup Indonesia Pomade Enthusiast, gua juga jelasin pentingnya Gurindam buat Indonesia. Kalo gak ada Gurindam, gak bakal ada Bahasa Indonesia. Sambutannya lumayan.”

“Terus kalo yang Kretek, itu gimana ceritanya?” “Gara-gara gua kesel sama orang, tuh. Jadi ada orang yang ngampanyain rokok elektrik. Dia ngejelek-njelekkin rokok. Gua bilang, jangan gitulah. Maksud gua, kalo lu kampanye pake pomade, gak perlu juga njelek-njelekin yang gak make pomade. Kalo lu ngampanyein faving, ya gak perlu bilang kretek itu jelek.”

“Apa sih enaknya faving? Kayak ngisep uap batu es.” “Nah, itu lu njelek-njelekkin juga namanya.” Saya nyengir kuda.

“Yaudah, kebetulan gua lagi nyari ide nama varian produk kedua, pomade light, gua pake aja nama Kretek.”

“Sambutannya gimana?”

“Di grup anak-anak pomade, gua ceritain fragmen Agus Salim yang ngisep kretek di Buckingham. Pada seneng banget sama cerita itu.”

“Terus, Bang?”

“Ada juga yang nanya emangnya Gurindam sama Kretek itu ikon budaya? Mereka kan taunya ikon budaya yang mainstream, Borobudur, Ondel-ondel, Tari Kecak, gitu-gitu. Ya gua kasihtau: Gurindam itu warisan budaya yang emang udah banyak dilupain, padahal penting banget. Nah, kalo kretek, saking deketnya sama kita sehari-hari, malah gak dianggep budaya.”

Arlian Buana

Ia terdiam sebentar, mengambil bungkus kreteknya lantas menyalakan sebatang. Setelah dua hisapan, ia beranjak. “Bentar, gua ambilin pomadenya.”

Selang berapa menit, ia muncul dengan empat kaleng bulat. Saya langsung mengambil Bung: Kretek, membuka penutupnya, menghirup aromanya. Wangi cengkeh menguar di hidung saya. Aroma khas kretek.

Oh iya, hampir lupa, perkenalkan: namanya Ahmad Makki.

Sebagaimana Indonesia harus bersyukur atas keberadaan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, para pejuang antirokok tidak boleh kufur nikmat setelah Farhat Abbas bergabung di barisan mereka.

Indonesia patut bersyukur karena NU dan

Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar yang baru saja menyelenggarakan muktamar, telah menjadi pagar hidup untuk membendung ekstremisme dalam beragama. Dan gerakan antirokok patut mengumandangkan puja-puji kepada Farhat Abbas yang telah demikian heroik membodoh-bodohkan, menjahat-jahatkan, dan menyampah-nyampahkan para perokok.

Oh, tidak, saya tidak bermaksud menyamakan NU dan Muhammadiyah dengan Farhat Abbas. Tentu saja kedua organisasi itu tidak bisa diperbandingkan dengan es teh pletok macam Farhat. NU dan Muhammadiyah sudah berkiprah untuk keindonesiaan jauh sebelum kemerdekaan

Arlian Buana

Indonesia diproklamasikan, sementara Farhat Abbas hingga kini masih belum jelas apa sumbangsihnya untuk Indonesia. Apakah eksistensi Farhat merupakan manfaat atau mudarat bagi Indonesia sampai

sekarang masih misteri—saya juga belum jelas, sih. Saya hanya mencontohkan alasan mengapa kampanye antirokok mestinya semringah menerima Farhat. Jika Indonesia bersuka-cita menerima NU dan Muhammadiyah, maka gerakan antirokok pun sewajarnya berpesta-pora menyambut Farhat Abbas. Maksud saya begitu. Bila perlu, Tulus Abadi, Tere Liye dkk segera saja menghelat pesta akbar sekelas muktamar sebagai ucapan selamat datang untuk mantan suami Nia Daniaty itu.

Tapi demi menjaga perasaan umat, baiklah, dengan lapang dada saya cabut perumpamaan di atas.

Barangkali lebih tepatnya begini: kehadiran Farhat Abbas untuk kaum antirokok sama pentingnya dengan kehadiran Bastian Schweinsteiger di lapangan tengah Manchester United. Maka seperti halnya Schweinsteiger yang dianggap menjanjikan, menerbitkan harapan, Farhat Abbas pun seharusnya dianggap sebagai darah segar yang memancarkan optimisme. Sebagaimana fans Man Utd bersorak dan tak sabar menunggu kontribusi Schweini, tim hore antirokok pun semestinya bergembira dan tak sabar menanti aksi plus atraksi antirokok Farhat selanjutnya.

persamaan di atas, sila selesaikan ketidakterimaan anda dengan Yang Mulia Farhat di Puncak Gunung Merapi di tengah malam bulan purnama bulan ini.

Nah, sekarang saatnya kita apresiasi kicauan-kicauan antirokok Sang Presiden Oposisi RI: satu dan satu-satunya Farhat Abbas Law. Eh, bukan kicauan ding, kata Farhat sendiri itu kokok. Bukan Kokok Dirgantoro CEO VoxPop. Kokok saja. Kokok.

“Yang merokok harap jangan emosi! Cukup kami yang emosi melihat kalian merokok! Maaf, kami banyak berkokok mengenai rokok! #BudayaTidakMerokok,” kokok blionya.

Tenang, Tuan Farhat, kami sama sekali tidak emosi. Kami geli. Anda ajaib sekali.

Bagaimana kami tidak geli, semua kokok anda tentang rokok adalah kebenaran absolut yang tidak mungkin dibantah. Kami tidak bisa melakukan apa-apa selain manggut-manggut dan mencengkeram perut.

“Biasanya orang yang merokok lebih percaya rokok daripada Tuhan.”

“Merokok itu setara dengan menghisap lem aibon.” “Merokok lebih berbahaya daripada selingkuh.” “Hanya di masjid dan rumah gue aja orang gak ada yang berani merokok.”

Arlian Buana

“Kalo gue jadi presiden, seluruh pegawai yang terima gaji dari negara, gue haramkan merokok!”

Tidak satupun kokok Tuan Ajaib yang bisa disalahkan. Tidak satupun. Semuanya sahih belaka. Semuanya melampaui aforisma, manifesto, sabda, firman, atau apapun namanya. Manusia hanya bisa berencana, Tuan Farhat jua yang berkokok.

Seandainya kami diperintahkan Tuhan untuk mendengarkan kokok Tuan Farhat seumur hidup, saya yakin semua perokok dalam satu hari saja pasti langsung mati geli.

“Hampir semua pelaku kejahatan adalah perokok berat. Hati-hati yang merokok berat, ntar dikira penjahat,” kokok blionya lagi.

Kepada para pembaca yang kebetulan santri dan punya kiai yang perokok berat, coba perdengarkan kokok Farhat. Siapa tahu nanti kiai anda dikira Don Vito Corleone. Dan buat menantu baik-baik yang kebetulan punya mertua perokok berat, coba perhatikan lagi, jangan-jangan mertua anda adalah Wise Guy.

Dan puncak dari segala keajaiban Tuan Farhat adalah ketika ia berkokok: “Cewek perokok lebih gampangan daripada cewek yang tidak merokok.” Dari mana pengacara tampan dan menawan ini bisa mengambil kesimpulan sebegini dahsyat?

Bahwa wanita yang merokok dan hobi dugem tidak layak dinikahi. “Wanita yang pantas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang

snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin

direncanakan jadi istri,” kata Mario.

Sebagai seorang motivator yang harusnya bijaksana dan bijaksini, Mario Teguh terlalu gegabah mengeluarkan pernyataan itu. Mario diprotes keras dari berbagai arah. Apa hubungannya kelayakan menjadi istri dengan kesukaan merokok dan dugem? Tidak ada, kecuali konstruksi patriarki bahwa baik dan buruk didefinisikan oleh laki-laki.

Menyadari kekeliruannya, Mario Teguh kemudian minta maaf secara terbuka lalu tutup akun—dua hal yang hampir mustahil kita harapkan dari seorang Farhat Abbas.

Apakah cewek perokok memang gampangan? Suer, hanya manusia yang punya kadar keajaiban tertentu yang sanggup berkokok begitu. Kadar keajaiban yang setingkat dengan matahari terbit dari barat sehingga Farhat layak masuk menjadi salah satu tanda-tanda kiamat.

Dalam dokumen Merry Christmas Felix Siauw (Halaman 103-117)