Bab III : Metode Penelitian
3.4. Populasi, Sampel, Dan Metode Pengambilan Sampel
3.4.1 Populasi Dan Sampel
Menurut Arikunto (2006) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa tunarungu SLB Taman Pendidikan Islam, dan SLB Aisiyah Melati. Karakteristik dalam populasi ini adalah siswa tunarungu. Sampel menurut Arikunto (2006) adalah sebagian atau wakil dari jumlah populasi yang hendak diteliti. Sampel yang digunakan peneliti adalah siswa dari SLB Taman Pendidikan Islam, dan SLB Aisiyah Melati.
Sampel dalam penelitian ini sebanyak 62 siswa tunarungu.
3.4.2 Metode Pengambilan Sampel
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representative (Margono,2004). Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampling yang akan digunakan didasarkan pada metode non probability sampling
yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk di pilih menjadi sampel, dengan menggunakan pendekatan purposive sampling.
Menurut Sugiyono (2017), purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangann yang di tentukan oleh penulis sebagai berikut:
- Penyandang tunarungu
- Bersekolah di SLB TPI dan SLB Aisiyah Melati - Usia berkisar antara 8-15 tahun
- Berada di kelas 2 sampai 6
Adapun yang menjadi pertimbangan penulis ketika menentukan kriteria dari sampel adalah 1) Penyandang tunarungu, karena pada penelitian ini berfokus pada anak tunarungu. 2) bersekolah di SLB TPI dan SLB Aisiyah Melati, karena katerbatasan penulis dalam mencari sampel, sehingga memutuskan untuk menggunakan siswa tunarungu di kedua SLB tersebut. 3) usia berkisar 8-15 tahun, hal ini berdasarkan observasi penulis ketika mengunjungi sekolah tersebut sebelum menentukan kriteria usia yang akan digunakan. Dalam observasi tersebut penulis mendapatkan bahwa rata-rata anak yang bersekolah di kedua SLB tersebut berada pada rentang usia 8-15 tahun. 4) berada dikelas 2 sampai 6, hal ini dikarenakan penulis ingin melihat hasil belajar siswa selama setahun belakangan.
Jika anak kelas 1 digunakan, penulis belum dpapat melihat hasil belajarnya, sebab anak kelas 1 belum mendapatkan raport.
3.5 Teknik Pengumpul Data
Menurut Arikunto (2002), teknik pengumpulan data adalah“ cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data penelitiannya”. Adapun teknik pengambilan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala. Penelitian ini menggunakan model skala likert, yang menurut Sugiyono (2004) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Skala pola asuh yang digunakan dalam penelitian ini diadptasi dari Paretal Authority Questionnaire (PAQ) yng dikembangkan oleh Buri (1991). PAQ di desain berdasarkan pengukuran tiga pola asuh Baumrind yaitu pola asuh otoriter,demokratis dan permisif ( dalam Riberio,2009). Dalam penelitian ini pola asuh yang digunakan adalah pola asuh demokratis,permisif,dan otoriter. Hal ini dikarenakan peneliti mengadaptasi skala yang dikembangkan oleh Buri ( 1991 ).
PAQ terdiri dari 30 aitem yang masing-masing subskala memiliki 10 aitem yang digunakan untuk mengukur pola asuh ayah da ibu. PAQ yang di adaptasi peneliti memiliki 4 alternatif jawaban ( SS= Sangat Setuju, S= setuju,N=Netral, TS=
Tidak Setuju, dan STS= Sangat Tidak Setuju).
Tabel 1. Blue Print Pola Asuh Orang Tua
No Jenis Pola Asuh Aitem Jumlah
1 Permisif 1,6,10,13,14,17,19,21,24 10
2 Otoriter 2,3,7,9,12,16,18,25,26,29 10
3 Demokratis 4,5,8,11,15,20,22,23,27,30 10
TOTAL 30
Sedangkan untuk prestasi belajar dilihat dari hasil belajar siswa tunarungu selama setahun di sekolah yang dilihat dari hasil raport siswa disekolah.
3.6 Uji Coba Alat Ukur 3.6.1 Uji Validitas
Menurut Ghozali (2006) uji validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu skala. Suatu skala dikatakan valid jika pernyataan pada skala mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh skala tersebut. Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity), yang merupakan ketepatan suatu alat ukur ditinjau dari isi alat ukur tersebut. Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas isi apabila isi atau bahan alat ukur tersebut benar-benar merupakan bahan yang representative terhadap bahan pembelajaran yang diberikan. Dalam skala asli validitas dibedakan berdasarkan perpola asuh. Pada pola asuh otoriter validitasnya sebesar 0,36%, pola asuh demokratis sebesar 0,56%, sedangkan pada pola asuh permisif sebesar 0,04%.
Teknik yang digunakan untuk melihat validitas isi dalam penelitian ini adalah professional judgement, pendapat profesional diperoleh dengan cara berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan juga dosen pihak lain (Azwar, 2000).
3.6.2 Reliabilitas Alat Ukur
Menurut Ghozali (2006) reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu skala yang merupakan indikator dari variabel. Suatu skala dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan skala konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Reliabilitas dinyatakan dengan koofisien reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang 0 hingga 1,00. Semakin tinggi koofisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas (Azwar, 2007). Sama halnya dengan vaiditas, reliabilitas pada skala asli ini juga dibedakan berdasarkan pola asuh masing-masing. Reliabilitas pola asuh otoriter sebesar 0,85%, pola asuh demokratis sebesar 0,82% dan pola asuh permisif 0,75%.
Reliabilitas aitem pada penelitian ini diukur dengan metode cronbach alpha dengan bantuan program SPSS version 18.0 for Windows untuk menghitungnya. Adapun reliabilitas untuk skala pola asuh permisif sebesar 0,632, dan untuk reliabilitas pola asuh authoritarian sebesar 0,618. Dan yang terakhir untuk pola asuh authoritative sebesar 0,709.
3.7 Hasil Uji Coba Alat Ukur
Skala pola asuh yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Paretal Authority Questionnaire (PAQ) yng dikembangkan oleh Buri (1991). Skala ini terdiri dari 30 aitem yang masing-masing subskala terdiri dari 10 aitem. Uji coba alat ukur ini dilakukan pada 50 orang anak SD namun tidak penyandang tunarungu. Hal ini disebabkan karena keterbasan sampel yang dimiliki oleh peneliti.
Dalam skala ini terdapat tiga subskala yang akan diukur yaitu permisif, authoritarian, dan authoritative. Sehingga pengukurannya juga dilakukan persubskala secara terpisah. Dari hasil uji coba yang dilakukan di dapatkan ada beberapa aitem yang gugur. Namun setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing dan dosen lain yang ahli di bidang statistika, untuk tetap menggunakan semua aitem yang ada pada skala aslinya tanpa melihat daya beda aitem sebab peneliti hanya menterjemahkan skala asli ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan pusat bahasa.
Tetapi setelah skala ini diterjemahkan oleh pusat bahasa, peneliti melihat kembali bahwa terjemahan yang diberikan oleh pusat bahasa masih terlihat rancu, sehingga peneliti memutuskan untuk bertanya kepada pembimbing dan berdasarkan diskusi dengan pembimbing, memutuskan untuk memperbaiki kata-kata yang masih rancu, namun berdasarkan skala terjemahan yang diberikan pusat bahasa.
3.8 Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan persiapan penelitian (pra-penelitian) dan tahap pelaksanaan penelitian.
3.8.1 Tahap Persiapan Penelitian
Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan hal yang berkaitan dengan kedua variabel yang akan diteliti, baik itu variabel terikat maupun variable bebas.
Peneliti membaca referensi yang bersumber dari buku maupun jurnal. Begitu pula
dengan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini, peneliti mencari alat ukur yang biasa digunakan untuk mengukur variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
3.8.2 Tahap Pelaksanaan penelitian
Penelitian ini dilakukan pada dua seklolah SLBB yang ada dikota Medan dengan melibatkan 62 orang siswa SLBB. Oleh sebab itu peneliti harus mengunjungi langsung dua SLBB yang ada di kota Medan.
3.9 Metode Analisa
Sebelum melakukan anlisis terlebih dahulu dilakukan uji asumsi penelitian yang bertujuan untuk melihat apakah populasi tersebut terdistribusi normal atau tidak. Adapun uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas dan uji homogenitas.
3.9.1 Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas terhadap serangkaian data adalah untuk mengetahui apakah populasi data terdistribusi normal atau tidak. Jika data dinyatakan terdistribusi normal, maka dapat digunakan uji statistic parametrik.
Namun sebaiknya jika populasi data tidak terdistribusi normal, maka digunakan uji statistic nonparametrik. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk dengan bantuan SPSS version 17.0 for Windows. Data dikatakan terdistribusi secara normal jika nilai p > 0.05.
3.9.2 Uji Homogenitas
Dalam penelitian ini uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah objek yang di teliti mempunyai varian yang sama. Uji homogenitas ini menggunakan Levene’s test dengan bantuan SPSS version 17.0 for Windows. Data dikatakan homogen jika nilai p > 0.05.
BAB IV
ANALISA DAN INTERPRETASI DATA
Pada bab ini akan dipaparkan hasil penelitian secara keseluruhan sesuai dengan data yang telah diperoleh. Dimulai dengan menguraikan gambaran umum subjek penelitian dan hasil dari penelitian.
4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 62 orang siswa tunarungu yang berusia 8-15 tahun. Berikut akan disajikan gambaran umum subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, dan kelas.
1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa tunarungu yang ada di SLB Taman Pendidikan Islam dan SLB Aisiyah Melati berjumlah 62 orang. Yang terbagi dalam 21 orang berjenis kelamin laki-laki dan 41 orang berjenis kelamin perempuan. Adapun penyebaran subjek berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 21 34%
Perempuan 41 66%
2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Subjek penelitian ini merupakan siswa tunarungu yang berusia sekitar 8-15 tahun. Berikut ini merupakan tabel penyebaran subjek berdasarkan usia.;
Table 3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase
8 Tahun 3 5%
9 Tahun 4 6%
10 Tahun 7 11%
11 Tahun 9 15%
12 Tahun 10 16%
13 Tahun 8 13%
14 Tahun 11 18%
15 Tahun 10 16%
Total 62 100%
3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kelas
Penyebaran subjek penelitian berdasarkan kelas dapat dilihat dari tabel berikut:
Total 62 100%
Table 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kelas
Kelas Jumlah Persentase
2 4 6%
3 12 11%
4 19 31%
5 15 24%
6 12 28%
Total 62 100%
4.2 Hasil Penelitian
Berikut ini akan dipaparkan mengenai hasil penelitian, namun sebelumnya akan di jelaskan terlebih dahulu mengenai uji asumsi yang digunakan. Uji asumsi yang digunakan peneliti ialah uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah populasi data terdistribusi normal atau tidak.
Sedangkan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dimiliki memiliki varian yang sama atau tidak.
4.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov. Dikatakan populasi data terdistribusi normal jika nilai probabilitas berada diatas 0,05. Hasil uji normlitas terhadap nilai raport yang menjadi tolak ukur prestasi belajar dengan pola asuh permisif menunjukkan hasil sebesar 0,072, sedangkan pada pola asuh
otoriter didapat nilai sebesar 0,002, dan terakhir pada pola asuh demokratis nilai yang dapat sebesar 0,034. Sehingga secara secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa data yang di dapat tidak terdistribusi normal. Untuk lebih jelasnya akan di paparkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Uji Normalitas
Pola Asuh Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Nilai raport Permisif ,225 13 ,072 ,853 13 ,031
Otoriter ,288 15 ,002 ,741 15 ,001
Demokratis ,216 17 ,034 ,773 17 ,001
Lainnya ,216 17 ,003 ,592 17 ,000
4.2.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah objek penelitian memiliki varian yang sama atau tidak. Metode yang digunakan untuk uji asumsi homogenitas ini adalah levene. Sampel akan dinyatakan homogen apabila probabilitas p˃0,05. Berikut hasil dari uji homogenitas dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 6. Uji Homogenitas
Nilai raport
Levene Statistic df1 df2 Sig.
,442 3 58 ,724
Berdasarkan hasil yang didapat pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai p=0,724, p>0,05 yang artinya bahwa data yang ada menunjukkan skor homogen.
Yang artinya data tersebut memilliki varian yang sama.
4.3 Uji Hipotesa Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis penelitian yaitu Ada perbedaan prestasi belajar anak tunarungu bila di tinjau dari pola asuh demokratis,otoriter,dan permisif. Oleh Karena itu, peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan bantuan SPSS version 18.0 for windows. Uji hipotesis dilakukan dengan non-parametrik test karena data tidak terdistribusi normal.
Tabel 7. Hasil Analisa Uji Kruskal Wallis Prestasi Belajar Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua
Pola Asuh N Mean Rank
Nilai Raport Permisif 13 25,08
Otoriter 15 20,40
Demokratis 17 23,71
Total 45
Nilai Raport
Chi-square ,963
Df 2
Asymp.sig. ,618
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai chi- square untuk nilai raport sebesar0,963 dengan signifikansi p=0,618. Dengan nilai p > 0,05, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar siswa tunarungu bila ditinjau dari pola asuh orang tua.
4.4 Gambaran Pola Asuh Orang Tua
Salah satu tujuan dari enelitian ini ialah untuk memperoleh gambaran mengenai prestasi belajar siswa tunarungu yang diasuh dengan pola asuh demokratis, permisif, dan otioriter. Hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa skor tertinggi yang didapat adalah 5 sedangkan skor terendah yang diperoleh adalah 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah:
Tabel 8. Hasil Analisa Perbedaan Skor Empirik Dan Hipotetik Pola Asuh Orang Tua
Variabel N Data Empirik Data Hipotetik
Skor Mean Sd Skor Mean Sd
Min Max Min Max
Pola Asuh
62 1 4 2,61 1,107 30 150 90 20
Berdasarkan tabel diperoleh mean skor empirik pola asuh orang tua sebesar 2,61 sedangkan mean hipotetik pola asuh sebesatr 90. Artinya bahwa skor hipotetik pola asuh lebih besar daripada skor mean empirik pola asuh.
4.5 Kategorisasi Variabel
Kategorisasi variabel pola asuh dan prestsi belajar yang dilihat dari nilai raport siswa di bagi masing-masing menjadi tiga bagian. Pada skor pola asuh kategorisasi di bagi menjadi tiga kategori, yaitu permisif, demokratis, dan otoriter.
Sedangkan pada nilai raport akan di kategorikan pula menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.
4.5.1 Kategorisasi Skor Pola Asuh
Pada bagian ini, akan dipaparkan mengenai kategorisasi dari masing-masing pola asuh orang tua. Dalam proses pengkategorian ini akan mengacu pada
kriteria yang telah dibuat. Kategori terdiri dari tiga kategori, yaitu permisif, demokratis, dan otoriter. Untuk melihat kategorisasi pola asuh orang tua dilihat dari z sore tiap pola asuh. Kategorisasi data skor pola asuh dapat dilihat pada tabel di bawah:
Tabel 9. Kategorisasi Skor Data Pola Asuh
Variabel Kriteria Bukan Jenjang Kategori Jumlah Persentase Pola asuh Zpermisif ≥ 0,50; Zotoriter < 0; dan
Zdemokratis< 0
permisif 13 21%
Zotoriter ≥ 0,50; Zpermisif < 0; dan Zdemokratis < 0
Otoriter 15 25%
Zdemokratis ≥ 0,50; Zpermisif < 0; dan Zotoriter < 0
Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa pada kategori permisif didapatkan sebanyak 13 orang dengan persentase sebesar 21%, selanjutnya kategori otoriter di dapatkan sebanyak 15 orang dengan jumlah persentase 25%
dan kategori demokratis dengan jumlah 17 orang dengan persentase sebesar 27%, dan yang terakhir untuk kategori lainnya sebanyak 17 orang dengan persentase
sebanyak 27%. Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh terbanyak terdapat pada kategori demokratis dan lainnya.
4.5.2 Kategorisasi Skor Nilai Raport
Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai kategorisasi skor nilai raport siswa dengan kriteria kategori. Kriteria kategorisasi terbagi menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dalam pengkategorian ini dilihat dari jumlah mean tiap raport. Niai raport yang dilihat adalah nilai raport terakhir siswa. Sebelum mengkategorikan nilai raport terlebih dahulu di cari mean dari nilai raport tiap subjek. Kategorisasi ini menggunakan kategori berdasarkan signifikansi perbedaan, sebab data yang dimiliki tidak berdistribusi normal. Sehingga di dapatkan mean raport keseluruhan adalah 76,35. Kategorisasi skor nilai raport dapat dilihat pada tabel dibawah:
Tabel 10. Acuan Pengkategorian Skor Nilai Raport
Kriteria Kategori Nilai
X > K3 Tinggi X > 78,925 K1 ≤ X ≤ K3 Sedang 75,675 ≤ X ≤78,925
X < K1 Rendah X < 75,675
Tabel 11. Kategori Skor Nilai Raport
No. Kategori Jumlah Persentase
1. Tinggi 15 24%
2. Sedang 32 52%
3. Rendah 15 24%
Total 62 100%
‘
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada ketegori tinggi didapatkan sebanyak 15 orang dengan persentase sebesar 24%, kemudian pada ketegori sedang didapatkan sebanyak 32 orang dengan jumlah persentase sebesar 52%, dan pada kategori rendah didapatkan sebanyak 15 dengan jumlah persentase 24%. Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai tertinggi berada pada kategori sedang.
4.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa hipotesis alternatif di tolak (Ha) dan hipotesis nol (Ho) di terima yang artinya tidak ada perbedaan prestasi belajar jika ditinjau dari pola asuh orang tua. Hasil yang didapat menunjukkan signfikansi dengan nilai p > 0,05 yaitu sebesar 0,618. Pada penelitian ini menggunakan analisis kruskal wallis sebab data yang didapat tidak normal. Meskipun begitu pola asuh terbanyak terdapat pada kategori demokratis dan lainnya. Sedangkan kategori terbanyak pada nilai raport terdapat pada
kategori sedang. Adapun jumlah subjek dari pola asuh demokratis dan lainnya sebanyak 17 orang dan jumlah nilai raport terbanyak sebesar 32 orang.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Florencia (2017) yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam prestasi akademik pada remaja berdasarkan pola asuh, baik oleh ayah maupun ibu, dengan skor p pada pola asuh ayah =. 223 dan skor p pada pola asuh ibu=.737. Dalam penelitiannya Florencia (2017) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang mungkin menjadi penentu prestasi belajar, seperti lingkungan dan variabel lain yang berasal dari keluarga. Hal yang sama juga dikatakan oleh Rahmawati (2008) bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar siswa dikaitkan dengan pola asuh orang tua di SMP Negeri 2 Wlingi Kabupaten Blitar.
Hasil uji normalitas perhitungan Kolmogorov-smirnov, dapat diketahui bahwa nilai p < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dari sampel penelitian tidak berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas dari variabel yang ada menunjukkan hasil p > 0,05, yang artinya data tersebut memiliki varian yang sama. Dengan kata lain, data tersebut tidak normal, namun memiliki varian yang sama. Sehingga uji statistik yang digunakan dalam hal ini adalah statistik non-parametrik.
Menurut Hadi (1994) tidak signifikannya suatu hasil penelitian atau ditolaknya hipotesis penelitian dapat diintepretasi oleh dua sebab. Pertama, memang antara variabel bebas dan variabel tergantung tidak terdapat
perbedaan/korelasi yang signifikan. Kedua, sebenarnya antara variabel bebas dan variabel tergantung terdapat perbedaan atau korelasi yang signifikan, akan tetapi karena jumlah kasus yang diselidiki tidak cukup banyak, maka korelasi itu tidak dapat ditemukan dalam perhitungan Menurut penulis ada beberapa faktor yang dapat menyebabkannya tidak diterimanya hipotesis penelitian, antara lain: (1) Jumlah subjek. Pada penelitian ini subjek penelitian sebanyak 62 orang.
Perbandingan jumlah subjek otoriter, demokratis dan permisif yang sangat tidak seimbang, sehingga menyebabkan skor-skor yang diperoleh subjek terutama yang jumlahnya sedikit menjadi kurang variatif . (2) Tidak adanya pengontrolan terhadap variabel luar yang memungkinkan dapat mempengaruhi prestasi belajar, misalnya inteligensi, minat, dan bakat.
Seperti yang diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu tersebut, sedangkan faktor ekternal berasal dari luar individu tersebut. IQ merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar secara internal. Menurut Wechsler (1958) dan Freeman (1962, dalam azwar,1996), bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk belajar. Hal ini didukung oleh Thorndike (dalam Azwar 1996) bahwa kemudahan dalam belajar disebabkan oleh inteegensi yang tinggi yang terbentuk oleh ikatan-ikatan syaraf antara stimulus dan respon yang mendapat pengutan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh H.J Eysenck (2000),yang mengatakan bahwa intelegensi memegang peranan penting untuk mencapai suatu keberhasilan.
Dalam kasus anak tunarungu, seperti yang telah dijelaskan bahwa intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal lainnya. Hanya saja prestasi anak tunarungu seringkali lebih rendah daripada anak normal. Hal ini disebabkan oleh hambatan-hambatan yang dimiliki oleh anak tunarungu, seperti ketidakmampuan untuk berkomunikasi yang berdampak pada hal yang lebih luas misalnya keterampilan bahasa, membaca dan menulis. Kendala-kendala ini secara tidak langsung mempengaruhi prestasi belajar anak tunarungu. Jadi bisa saja anak intelegensi anak tunarungu tinggi namun karena keterbatasannya sehingga berdampak pada prestasi belajarnya.
Menurut Syah (2006) tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, dan sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Hal yang sama juga diungkap oleh Ekowati (2006) yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi positif antara intelegensi (kecerdasan) terhadap hasil belajar siswa. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Malik (2002) yang memperoleh kontribusi intelegensi terhadap prestasi akademik sebesar 8% pada 83 orang siswa kelas I dan II SMUN di wilayah Jakarta Timur yang berpartisipasi dalam kegiatan KIR.
Selain itu, minat juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Minat sebagai faktor internal yang berasal dari dalam diri individu tersebut. Djamarah (2008) mengatakan minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh.
Sedangkan Slameto (2010) mengatakan minat adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Minat dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Siswa yang minat belajarnya tinggi akan memperoleh prestasi belajar baik. Pentingnya minat belajar siswa terbentuk antara lain agar terjadi perubahan belajar ke arah lebih positif. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya kemungkinan besar ia akan berminat dan termotivasi untuk
Sedangkan Slameto (2010) mengatakan minat adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Minat dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Siswa yang minat belajarnya tinggi akan memperoleh prestasi belajar baik. Pentingnya minat belajar siswa terbentuk antara lain agar terjadi perubahan belajar ke arah lebih positif. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya kemungkinan besar ia akan berminat dan termotivasi untuk