• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan berkelanjutan adalah : pengelolaan yang dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia saat ini, tanpa mengorbankan potensi pemenuhan kebutuhan dan

2.1. Potensi Biofisik, Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya

Kawasan kars merupakan kawasan yang mempunyai bentang lahan yang komplek dan mempunyai keanekaragaman habitat kars yang unik sehingga penting untuk dikonservasi (Infield, 2004). Keanekaragaman yang unik ini adalah sebagai akibat formasi geologinya yang tersusun terutama oleh batuan kapur atau

limestone. Kawasan kars memiliki karakter hidrologi yang khas yang cenderung kering di permukaan, tetapi terdapat sumber air bawah tanah seperti sungai bawah tanah. Sifat inilah yang akan menghasilkan proses pembentukan suatu kawasan yang akan menghasilkan potensi-potensi tujuan wisata, yang dapat dikembangkan sesuai dengan sifat kerapuhannya. Struktur batuan yang mudah larut oleh air akan menghasilkan fenomena alam yang menarik, oleh karena itu potensi untuk wisata kawasan kars dapat diperkirakan sesuai dengan proses pembentukannya sebagaimana diuraikan berikut.

Kawasan Kars Wediombo membentang sepanjang pegunungan selatan Jawa dan secara morfologi dibagi menjadi dua yaitu Eksokars dan Endokars. Eksokars merupakan kenampakan yang dapat diamati dan ditemui secara langsung di permukaan. Sedangkan Endokars merupakan kenampakan yang dapat dijumpai di bawah permukaan yang berupa goa-goa ataupun luweng yang dapat dimasuki oleh manusia. Geomorfologi Kawasan Kars Gunung Sewu yang dikembangkan oleh Van Bemmelen (1970) disajikan pada Gambar 5.

Keterangan:

1.Perbukitan/Plateau Kars 5. Lembah Uvala

2.Bukit/Perbukitan/Kubah/Kerucut kars (Konikal, Sinoid, Pepino)

6. Lembah Polje 3. Bukit/Perbukitan Menara Kars (Mogote) 7. Lembah Kering

4. Lembah Dolina 8. Dataran Kars

Gambar 5. Skema Geomorfologi Kars (Van Bemmelen, 1970)

Wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul merupakan kawasan yang berada pada sistem kars dari geologi Pegunungan Selatan. Kelompok batuan yang tertua

pada sistem kars ini berumur Oligo-Miocene (± 22,5 juta tahun) dan termuda

berumur Pliosen (± 5 juta tahun) (Verstappen, 1997). Wilayah tersebut tersusun

oleh batuan volkanik klastik asam, batuan sedimen klastik, dan batuan sedimen

karbonat. Namun demikian, batuan sedimen karbonat (limestone) paling banyak

ditemukan di permukaan.

Menurut Surono et al. (1992), wilayah pantai selatan dan sekitarnya,

merupakan kawasan yang seluruhnya terbentuk oleh Formasi Wonosari. Penyusun utama batuan Formasi Wonosari adalah batu gamping yang kompak, keras, namun rapuh. Selain itu dijumpai batu gamping napalan, batu gamping

konglomeratan, batu pasir dan batu lanau (Surono et al., 1992). Walaupun

kawasan pantai selatan ini terbentuk dari Formasi Wonosari yang didominasi oleh batuan kapur, dijumpai anomali yaitu adanya bentuk lahan struktural denudasional

17 bahwa batuan penyusun Pantai Wediombo bukan batuan kapur, melainkan terdiri dari batuan beku andesit, dan termasuk bagian dari Formasi Nglanggran. Lebih spesifiknya, kawasan Pantai Wediombo sebelah barat tersusun oleh formasi semilir, sedangkan selain kawasan tersebut semua tersusun oleh formasi kepek

(Surono et al., 1992). Verstappen (1977) mengelompokkan proses dan asal

tenaga eksogen dalam proses pembentukan bentuk lahan (landform) menjadi

sembilan, satu diantaranya adalah proses pelarutan. Proses pelarutan inilah yang menghasilkan bentuk lahan kars. Karakteristik bentuk lahan kars menurut King (1975) meliputi konfigurasi permukaan, struktur atau penyusun bentuk lahan, dan proses yang menyebabkan terjadinya bentuk lahan.

Bentuk lahan kars yang dapat dijumpai di Kabupaten Gunungkidul adalah

dolin, uvala, ponor, kegel kars, turm kars, dan lembah kering. Kars di

Gunungkidul dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan karakteristik dolin dan perkembangannya yaitu kars polygonal, kars labirin, dan kars tower yang tumbuh dan berkembang secara bersamaan (Lehman dalam Haryono dan Day, 2004). Sebagai akibat pelarutan oleh air, pada permukaan kawasan kars ditemukan lubang-lubang yang tidak teratur, permukaan kars yang terkikis air, dan hancurnya saluran dan jaringan yang mempunyai kompleksitas tinggi dan berlanjut hanya beberapa meter dari batuan permukaan. Gambar 6 menunjukkan proses terbentuknya goa dan proses pengikisan batuan gamping menurut beberapa

teori, yaitu abandon flank margin cave, pit cave dan collapsed phreatic cave

forms a banana hole.

Gambar 6. Proses Pengikisan Batuan Karbonat Membentuk Struktur Goa (Ford dan William, 1989)

ABANDONED PHREATIC DEVELOPING PHREATIC DIFFUSE VADOSE COLLAPSED PHRETIC CAVE FORMER SEA CURRENT SEA

FRESHWATER DIFFUSE PHREATIC FLOW PIT PIT PIT BURIED PALEOSOL ABANDONED FLANK MARGIN PALEOSOL WITH

Teori awal tentang perkembangan kars menjelaskan bahwa goa berkembang dalam zone vados oleh pergerakan air melalui rekahan batuan. Dalam hal ini, air bergerak atau mengalir pada rekahan (bidang perlapisan dan atau struktur) batu kapur sambil melarutkannya, kemudian sungai bawah tanah mulai terbentuk. Tahapan berikutnya sungai mengikis saluran hingga membentuk goa. Namun demikian, Davies (dalam Haryono, 2007) berpendapat bahwa tidak mungkin goa terbentuk dalam mintakat (zone) vados karena yang terjadi adalah pembentukan ornamen goa karena proses pengendapan. Dengan argumen tersebut

maka Davies mengemukakan teori baru yang dikenal dengan deep phreatic

theory yang menjelaskan bahwa goa terbentuk di bawah muka air tanah oleh pergerakan hidraulik air. Teori ini diperkuat oleh Seinnerton (dalam Haryono, 2007) yang mengatakan bahwa air tanah tidak mungkin mampu melarutkan batu

gamping, karena pada umumnya telah jenuh, sehingga muncul teori water table

yang menjelaskan bahwa goa terbentuk di dekat muka air tanah (water table) dan

teori ini didukung oleh teori baru karena sebagian goa berbentuk goa horizontal. Ford dan William (dalam Mylroie dan Carew, 2003) lebih lanjut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian modern dan laboratorium, goa dapat terbentuk baik di mintakat vados, phreatik maupun dekat muka air tanah. Mereka menjelaskan terdapat empat tipe goa berdasarkan proses pembentukannya, yaitu

bathyphreatic cave, phreatic cave with multiple loops, cave with mixture of phreatic and watertable level components, dan ideal water table cave.

Menurut Ford dan Wiliam (dalam Haryono, 2007) tahapan akhir perkembangan kars setelah kars poligonal adalah terjadinya proses perataan

permukaan (planasi) yang dominan, sehingga cekungan-cekungan sudah tidak

ditemukan lagi karena sudah berhubungan membentuk dataran dengan kubah-kubah tersebar acak di tengahnya. Beberapa kars berciri labirin ditemukan di sebelah barat dan tengah Wediombo yang bercirikan oleh lembah-lembah kering memanjang yang dibatasi oleh jajaran kubah kars di kanan kirinya dengan dinding

yang terjal (canyon).

Kawasan kars mempunyai 3 ciri (Haryono dan Day, 2004). Pertama, mudah terjadi pelapukan yang sangat tinggi dan tingginya proses pelarutan di bawah permukaan yang membentuk goa-goa, sungai bawah tanah, dan bentuk

19 lahan dengan banyak patahan-patahan pada batuan sebaran pegunungan. Kedua, cadangan air yang sempat terjebak di permukaan akan mengakibatkan pelarutan bagian lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah dengan membawa sedimen-sedimen halus dari hasil pelapukan. Ketiga, dapat diidentifikasi secara umum adanya bentuk pegunungan berupa persegi ketupat yang berpasangan karena adanya pengaruh tenaga endogen dari dalam bumi.

Karena sifatnya yang sangat fragile, mudah larut dalam air, maka

topografi kars memiliki sistem air bawah permukaan yang dominan berupa lorong-lorong solusional dan sangat rentan terhadap degradasi, terutama disebabkan kontaminasi air bawah tanah. Hal ini disebabkan karena cepatnya aliran air serta minimnya mekanisme filtrasi pada lorong-lorong sistem bawah tanah (Haryono, 2007).

Beberapa habitat kars hidup di bawah permukaan dan di atas permukaan.

Biota bawah permukaan banyak dijumpai di goa, maka muncul biospeleologie

yaitu ilmu yang mempelajari tentang kehihupan bawah tanah. Berdasarkan sebaran biota goa dikenal beberapa istilah (Vermeullen dan Whitten, 1999), yaitu:

Site endemic, local endemic dan regional endemic. Site endemic yaitu jenis yang

sebarannya dapat mencapai 100 km2 tetapi ada yang dari kurang 1 km, biasanya

terdapat dalam satu kawasan kars. Sebagai contoh Stenasellus javanicus,

ditemukan di goa kars Cibinong (Magniez dan Rahmadi, 2006). Local endemic,

jenis yang mempunyai sebaran luasan sekitar 10-100 km2, yang biasanya

mencakup dua atau lebih kawasan kars yang terpisah secara geologis dan tergabung dalam satu deretan pegunungan. Contohnya kepiting goa, isopoda,

ditemukan di Gunung Sewu dan bukit kapur selatan. Regional endemic,

mempunyai sebaran 10.000 km2 sampai 1 juta km2 atau dalam satu pulau.

Contohnya Xeniaria jacobsoni (Burr) merupakan jenis dermaptera yang

melimpah di guano kelelawar.

Kondisi sosial ekonomi kawasan Wediombo sama dengan kawasan kars lain yang berada di kawasan Pegunungan Seribu. Sebagian besar kegiatan industri masih sangat terbatas pada industri kecil dan menengah sebanyak 96% (catatan desa), pola industri ini baik untuk pemerataan penghasilan bagi masyarakat, tetapi tidak strategis untuk pengembangan kegiatan perekonomian secara makro.

Pertanian lebih mengarah kepada pertanian lahan kering karena kawasannya merupakan kawasan marginal yang sulit air, maka pola penanaman sistem tanam pertanian dengan cara tumpang sari. Kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dasar merupakan sumber pendapatan petani dan tersedianya tenaga untuk menentukan penggarapan lahan. Petani dengan beberapa pilihan berusaha untuk menghasilkan panen untuk memenuhi kebutuhan pokok dari sedikit tanah yang tersedia, mengolah lahan di sekitar tempat tinggal banyak dilakukan di kawasan kars (Soemarwoto dan Conway, 1992).

Untuk bisa bertahan, masyarakat kawasan kars pada umumnya mengembangkan dasar bekerja secara sosial antar masyarakat, dengan filosofi menghindari konflik (rukun) dan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lain saling menghormati (hormat), serta sifat kegotongroyongan sangat tinggi. Kawasan Gunung Sewu yang bekerja di ladang sebagian besar orang tua, kondisi ini disebabkan oleh anaknya yang belajar di sekolah dan meninggalkan aktivitas

pertanian, maupun kampung halaman (Collier et al., 1996).