• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1.6 Press Release

Press release adalahkumpulan informasi yang berbentuk sebuah berita yang disusun oleh sebuah instansi atau organisasi melalui tim humas yang menggambarkan kegiatannya, yang kemudian dikirimkan kepada media massa untuk dapat dipublikasikan melalui media massa tersebut. Mediamassa yang dimaksud dalam kegiatan press release meliputi media massa cetak, yaitu surat kabar dan majalah, serta media massa noncetak yang meliputi TV, radio dan film dokumenter. Kepada redaksi media-media massa tersebut press release dikirim oleh praktisi humas yang mewakili suatu instansi atau organisasi, untuk dapat dimuat di dalamnya.

Pada pelaksanaannya, press release dibagi kedalam dua kategori, yaitu : a. Press release pra kegiatan

Press release pra kegiatan bisa bersifat informatif atau pemberitahuan tentang akan datangnya sebuah kegiatan. Dipandang dari sisi kehumasan pemuatan press release pra kegiatan sangat besar manfaatnya karena sifatnya informatif, sehingga dapat menjadi wahana publikasi sebuah kegiatan, baik itu kepanitiaan maupun kegiatan lembaga dan individu.

b. Press release pasca kegiatan

Press release pun penting setelah kegiatan telah usai berlangsung.Artinya setelah kegiatan berlangsung ini bukan berarti bisa dikirim kapan saja, tetapi tetap mengacu pada aktualisasi waktu.Karena itulah, disarankan bagi para pembuat press release untuk menyebarkan

press release-nyapada hari itu juga, tidak keesokannya. Jadi, peristiwa hari ini harus dikirimkan hari ini juga (Abdullah, 2004 : 82).

Ada beberapa hal yang penting yang harus diperhatikan dalam penulisan suatu press release, antara lain:

a. Tulislah press release dengan ringkas dan padat. Jangan memanjangkan isi press release. Dan sebaiknya jangan terlalu pendek (Misal dengan setengah halaman).

b. Usahakan press release mengandung unsur 5W+1H, artinya apa, kapan, dan dimana kegIatan yang dilakukan itu. Siapa yang hadir atau sasaran kegiatan. Mengapa kegiatan itu dilakukan. Dan bagaimana pelaksanaannya.

c. Jika diperlukan, sertakan pula ilustrasi foto, gambar, tabel, data atau grafik.

d. Tulislah press release pada kertas yang ber-kop surat sehingga press release pun benar-benar resmi.

e. Cantumkan nama pejabat yang paling berwenang untuk menyiarkan

press release.

f. Jika press release berasal dari individu, misalnya seorang artis, pakar, anggota legislatif, atlet, maka lampirkan foto kopi identitas dan menandatangani press release tadi.

g. Untuk memperkaya kedalaman data dan kedalaman press release, lampirkan pula bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah atau kegiatan yang di informasikan. Misalnya naskah pidato, makalah, atau data tertulis lainnya (Abdullah, 2004 :83).

Dan ada beberapa hal juga yang harus diperhatikan saat mengirimkan

press release, yaitu :

a. Kirimkan secepat mungkin. Artinya, jika kegiatan berlangsung hari itu, kirimkan hari itu juga. Jangan menunda-nunda keesokan harinya, kecuali jika pelaksanaannya malam hari.

b. Jika pengirim press release sudah mengenal nama wartawan sesuai dengan bidangnya, tunjuklah wartawan tadi.

c. Pengiriman bisa pula melalui faximile.

d. Jika melampirkan foto atau cetakan-cetakan berwarna atau contoh produk, lebih baik melalui kurir.

e. Konfirmasikan kembali lewat telepon, apakah press release tadi sudah diterima atau belum. Sebab, adakalanya tidak sampai kepada alamat yang dituju, atau cetakan pada faximile ternyata sangat sulit dibaca (Abdullah, 2004 : 84).

Press release yang lebih banyak dibuat oleh staf Humasy Setda Kota Medan adalah press release pasca kegiatan.Namun, tidak menutup kemungkinan

press release pra kegiatan juga pernah dibuat, tetapi tidak terlalu sering seperti

press release pasca kegiatan.Press release di buat oleh Humasy Setda Kota Medan sesuai dengan tupoksi kerjanya yakni bagian publikasi pemberitaan. Setelah press release dibuat, lalu akan langsung dikirim ke media massa melalui email, dan keesokan harinya press release tersebut sudah menjadi berita yang termuat dalam media massa.

2.1.7 Citra Perusahaan

Menurut Bill Canton dalam Sukatendel (1990) mengatakan bahwa citra adalah “image: the impression, the feeling, the conception which the public has of a company: a concioussly created impression of an object, person or organization” (Citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan: kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi) (Soemirat dan Ardianto, 2004:112). Untuk mengetahui nilai citra perlu menelaah persepsi dan sikap seseorang terhadap citra organisasi tersebut. Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif, pada informasi dan pengetahuan yang

kita miliki. Citra terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima seseorang.

Dan berikut bagan dari orientasi public relations, yakni dalam membangun citra (image building) dapat dilihat sebagai model komunikasi dalam Public Relations(Soemirat dan Ardianto, 2004:115).

Gambar 2.2

Model Komunikasi dalam Public Relations

.

Menurut Frank Jefkins, dalam bukunya Hubungan Mayarakat (1992) ada beberapa jenis citra/(image) yang dikenal didunia aktivitas public relations, yakni:

1. Citra Cermin (mirror image)

Citra yang diyakini oleh perusahaan bersangkutan, terutama para pimpinannya yang tidak percaya terhadap kesan orang luar terhadap perusahaan yang dipimpinnya itu tidak selamanya selalu dalam posisi baik.Ada perbedaan antara citra yang diharapkan dan citra yang ada di lapangan.

2. Citra Kini (current image)

Citra merupakan kesan yang baikdiperoleh dari orang lain tentang perusahaan/organisasi atau hal yang lain berkaitan dengan produknya. Kemudian ada kemungkinan berdasarkan pada pengalaman dan informasi diterima yang kurang baik: sehingga dalam posisi tersebut pihak Humas/PRs akan menghadapi risiko yang sifatnya permusuhan, kecurigaan, prasangka buruk (prejudice), dan hingga muncul Sumber Komunikator Pesan Komunikan Efek

Perusahaan Lembaga Organisasi Bidang/Divi si Public Relations (PRs) Kegiatan- kegiatan Publik- publik PRs Citra publik terhadap perusahaan /lembaga/ organisasi

kesalahpahaman (misunderstanding) yang menyebabkan citra kini yang ditanggapi secara tidak adil atau bahkan kesan yang negatif diperolehnya.

3. Citra Keinginan (wish image)

Citra keinginan adalah seperti apa yang ingin dan dicapai oleh pihak manajemen terhadap lembaga/perusahaan, atau produk yang ditampilkan tersebut lebih dikenal (good awareness), menyenangkan dan diterima dengan kesan yang selalu positif diberikan (take and give) oleh publiknya atau masyarakat umum.

4. Citra Perusahaan (corporate image)

Citra ini berkaitan dengan sosok perusahaan sebagai tujuan utamanya, bagaimana menciptakan citra perusahaan (corporate image) yang positif, lebih dikenal serta diterima oleh publiknya mungkin tentang sejarahnya, kualitas pelayanan prima, keberhasilan dalam bidang marketing dan hingga berkaitan dengan tanggung jawab sosial (social care).

5. Citra Serbaneka (multiple image)

Citra ini merupakan pelengkap dari citra perusahaan diatas, misalnya bagaimana pihak Humas/PRs akan menampilkan pengenalan

(awareness) terhadap identitas, atribut logo, brand’s name, seragam

(uniform) para front liner, sosok gedung, dekorasi lobby kantor dan penampilan para profesionalnya, kemudian diunifikasikan atau diidentikan ke dalam suatu citra serbaneka (multiple image) yang diintegrasikan terhadap citra perusahaan (corporate image).

6. Citra Penampilan (performance image)

Citra penampilan ini lebih ditujukan kepada subyeknya, bagaimana kinerja atau penampilan diri (performance image) para profesional pada perusahaan bersangkutan, misalnya dalam memberikan berbagai bentuk dan kualitas pelayanannya, bagaimana pelaksanaan etika menyambut telepon, tamu, dan pelanggan serta publiknya, serba menyenangkan serta memberikan kesan yang selalu baik (Ruslan, 2001:72-75).

Dan landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pembentukan citra dari Nimpoena.Model pembentukan citra ini menunjukkan bagaimana stimulus yang berasal dari luar organisasi dan mempengaruhi respon stimulus atau rangsang yang diberikan pada individu dapat diterima atau ditolak (Soemirat dan Ardianto, 2004:115).

Gambar 2.3

Model pembentukan Citra Pengalaman Mengenai Stimulus

Stimulus Respon Rangsangan Perilaku

a. Persepsi adalah hasil pengamatan terhadap unsur lingkungan yang langsung dikaitkan dengan suatu proses pemahaman, pembentukan makna pada stimulus indrawi.

b. Kognisi adalah suatu keyakinan diri dari individu terhadap stimulus. Keyakinan ini akan timbul apabila individu telah mengerti rangsang tersebut, sehingga individu harus diberikan informasi-informasi yang cukup dapat mempengaruhi perkembangan kognisinya.

c. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.

d. Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai.

Pada saat stimulus (rangsangan) diberikan, khalayak akan lanjut ke tahap selanjutnya yakni melakukan persepsi dimana persepsi ini memberikan makna terhadap rangsang berdasarkan pengalamannya mengenai objek. Selanjutnya akan

Kognisi

Persepsi Sikap

dilakukan kognisi, dimana ia mengerti akan rangsangan yang diberikan. Setelah itu muncul dorongan untuk melakukan suatu kegiatan tertentu atau biasa disebut dengan motif atau motivasi. Setelah itu munculah sikap, yang merupakan kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan terdapat perasaan mendalam menghadapi objek, ide, situasi, dan nilai.

“….proses-proses psikoanalisis yang berlangsung pada individu konsumen berkisar antara komponen-komponen persepsi-kognisi-motivasi-sikap konsumen terhadap produk. Keempat komponen itu diartikan sebagai mental representations

citra dari stimulus” (Nimpoena, dalam Danasaputra, 1995:36) (Soemirat dan Ardianto, 2004:115).

Dalam penelitian ini, kegiatan press release yang dilakukan bagian Humasy Setda Kota Medan merupakan stimulus dan respon yang diharapkan adalah citra pemerintah Kota Medan. Pentingnya penelitian citra seperti yang diungkapkan H. Frazier Moore dalam Danasaputra yang dikutip oleh Soemirat dan Ardianto dalam buku Dasar-dasar Public Relations adalah: “penelitian citra menentukan sosok institusional dan citra perusahaan dalam pikiran publik dengan mengetahui secara pasti sikap masyarakat terhadap sebuah organisasi, bagaimana mereka memahami dengan baik, dan apa yang mereka sukai dan tidak sukai tentang organisasi tersebut” (Soemirat dan Ardianto, 2004:115)

2.2 KERANGKA KONSEP

Burhan Bungin mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Bungin, 2001 : 73).

Menurut Kerlinger, konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan mengeneralisasikan hal-hal khusus. Jadi, kerangka konsep adalah hasil pemikiran rasional yang merupakan uraian bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dapat dicapai dan menghantarkan penelitian pada rumusan hipotesa (Nawawi, 2004:40).

Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel. Adapun variabel- variabel dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel bebas (X), yaitu variabel yang diduga sebagai penyebab variabel yang lain (Rakhmat, 2004:12). Variabel bebas (x) dalam penelitian ini adalah press release Humasy Setda Kota Medan.

b. Variabel terikat (Y), yaitu variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya (Rakhmat, 2004:12). Maka variabel (Y) dalam penelitian ini adalah citra pemerintah Kota Medan. c. Variabel antara (Z) atau intervening variable adalah sejumlah gejala

dengan berbagai unsur atau faktor didalamnya yang tidak dapat dikontrol, akan tetapi dapat diperhitungkan pengaruhnya pada variabel bebas (Nawawi, 2004:44). Variabel antara (Z) dalam penelitian ini adalah karakteristik responden.

2.3 VARIABEL OPERASIONAL

Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan diatas, maka konsep operasional tersebut dijadikan acuan untuk memecahkan masalah. Agar konsep operasional tersebut dapat membentuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, maka dioperasionalkan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Variabel Operasional

No. Variabel Teoritis Variabel Operasional 1. Press release HumasySetda

Kota Medan (Variabel X)

a. Humasy Setda Kota Medan 1. Kredibilitas a. Kompeten b. Kejujuran 2. Kapabilitas a. Pengalaman b. Press release 1. 5W+1H a. What

b. Who c. When d. Where e. Why f. How 2. Singkat 3. Jelas 4. Bahasa 5. Foto 6. Topik 2. Citra Pemerintah Kota Medan

(Variabel Y) 1. Persepsi a. Pengetahuan b. Pemahaman 2. Kognisi a. Kepercayaan b. Keyakinan 3. Motivasi Masyarakat a. Kepuasan b. Harapan 4. Sikap a. Pandangan b. Penilaian

3. Karakteristik Responden 1. Frekuensi mengkonsumsi berita Pemko Medan melalui media massa (surat kabar)

2. Pekerjaan 3. Usia

4. Jenis Kelamin 5. Pendidikan

2.4 DEFENISI OPERASIONAL

Defenisi operasional merupakan penjabaran lebih lanjut tentang konsep yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep.Defenisi operasional adalah suatu petunjuk pelaksanaan mengenai cara-cara mengukur variabel. Defenisi operasional juga merupakan suatu informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang akan menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 1995 : 46).

1. . Variabel bebas X ( Press release Humasy Setda Kota Medan)

A. Humasy Setda Kota Medan adalah salah satu divisi yang ada di Pemerintah Kota Medan dengan tupoksi (pembagian kerja).

1. Kredibilitas, yaitu kualitas yang dimilikiHumasy Setda Kota Medan sebagai narasumber sesuai dengan bidang/profesinya sehingga dapat menimbulkan kepercayaan.

a. Kompeten adalah ketrampilan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam menyampaikan informasi tentang Pemerintah Kota Medan sehingga dapat dipercaya dalam menyampaikan informasi.

b. Kejujuran adalah keterbukaan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam menyampaikan informasi tentang Pemerintah Kota Medan berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan.

2. Kapabilitas, yaitu kemampuan dalam bidang akademis maupun pengalaman yang dimiliki Humasy Setda Kota Medan sebagai narasumber.

a. Pengalaman adalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam menyampaikan informasi dinilai dari lamanya ia bekerja.

B. Press release adalah informasi tentang Pemerintah Kota Medan yang dibuat oleh Humasy Setda Kota Medan.

1. 5W+1H adalah unsur yang harus terkandung dalam sebuah informasi. a. What adalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan

dalam menjelaskan informasi tentang peristiwaapa yang sebenarnya terjadi.

b. Whoadalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam menjelaskan informasi tentang siapa yang ikut serta dalam peristiwa yang terjadi.

c. Whenadalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam menjelaskan informasi tentang kapan peristiwa itu terjadi.

d. Whereadalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam menjelaskan informasi tentang dimana peristiwa itu terjadi. e. Whyadalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam

menjelaskan informasi tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. f. Howadalah kemampuan Bagian Humasy Setda Kota Medan dalam

menjelaskan informasi tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. 2. Singkat yaitutidak mengurangi intisari yang terkandung dalam

penyampaian informasi.

3. Jelas yaitu isi informasi tidak berbelit sehingga mudah dipahami. 4. Bahasa yaitupenggunaan kata-kata dan kalimat yang baik dalam

menyampaikan informasi sehingga mudah dipahami dan dimengerti. 5. Foto adalah gambar untuk membantu memperjelas isi informasi yang

dibuat sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

6. Topik adalah inti utama dari seluruh isi informasi yang disampaikan.

2. Variabel terikat Y (Citra Pemerintah Kota Medan)

a. Persepsi adalah pengamatan terhadap suatu halyang dikaitkan dengan proses pemahaman dan pembentukan makna.

1. Pengetahuan adalah mengerti atas sesuatu hal yang pernah dialami atau pun dilihat secara langsung.

2. Pemahaman adalah kemampuan sesorang dalam mencerna suatu informasi.

b. Kognisi adalah proses pencapaian pengetahuan yang dipengaruhi oleh suatu keyakinan terhadap sesuatu.

1. Kepercayaan adalah seseorang mengakui suatu hal itu benar adanya. 2. Keyakinan adalah seseorang tidak hanya mengakui, tetapi mengerti

dan memahami akan kebenaran suatu hal itu.

c. Motivasi adalah dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai suatu tujuan.

1. Kepuasan adalah perasaan atau keadaan dimana rasa keinginan terhadap sesuatu terpenuhi.

d. Sikap adalah respon yang dipengaruhi oleh tindakan, perasaan, dan persepsi terhadap sesuatu.

1. Pandangan adalah pendapat seseorang terhadap suatu hal dengan ukuran baik atau buruk.

2. Penilaian adalah pengambilan suatu keputusan akan suatu hal dengan ukuran baik atau buruk.

3. Karakteristik Responden

a. Frekuensi mengkonsumsi berita Pemko Medan melalui media massa adalah seberapa sering responden mengkonsumsi berita Pemko Medan dalam perminggunya.

b. Pekerjaan adalah sumber mata pencaharian si responden.

c. Usia adalah jumlah tahun mulai responden dilahirkan sampai hari ini. d. Jenis Kelamin adalah Wanita/Pria.

e. Pendidikan adalah tingkat proses pembelajaran si responden.

2.5 HIPOTESIS

Berdasarkan paparan diatas, peneliti menentukan hipotesis mengenai Pengaruh Press Release Humasy Setda Kota Medan terhadap Citra Pemerintah Kota Medan di Masyarakat Kota Medan sebagai berikut :

1. Ha : Ada pengaruh press release Humasy Setda kota Medan terhadap citra pemerintah Kota Medan di masyarakat Kota Medan.

2. Ho: Tidak ada pengaruh press release Humasy Setda Kota Medan terhadap citra pemerintah Kota Medan di masyarakat Kota Medan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait