B. Tinjauan Teori dan Konsep
4. Prinsip Kerja Sama Grice
Dalam komunikasi yang wajar agaknya dapat diasumsikan bahwa seorang penutur mengartikulasikan ujaran dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan tutur, dan berharap lawan tutur dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan tersebut. Untuk itu penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, mudah dipahami, padat dan ringkas (concise), serta selalu
pada persoalan (straight forward), sehingga tidak menghabiskan waktu lawan tuturnya.
Bila dalam suatu percakapan terjadi penyimpangan, ada implikasi-implikasi tertentu yang hendak dicapai oleh penuturnya. Bila implikasi-implikasi itu tidak ada, maka penutur yang bersangkutan tidak melaksanakan kerjasama atau tidak bersifat kooperatif. Jadi, secara ringkas dapat diasumsikan bahwa ada berupa prinsip kerja sama yang harus dilakukan penutur dan lawan tutur agar proses komunikasi itu berjalan lancar.
Grice (1975: 45) yang dinyatakan kembali oleh Baryadi (2015: 88-89) menyatakan prinsip kerja sama sebagai berikut. “Buatlah percakapan Anda sebagaimana yang diminta, sesuai dengan taraf percakapan itu terjadi, dengan tujuan dan arah yang dapat diterima dalam pertukaran percakapan yang Anda terlibat di dalamnya‟.
Lebih lanjut Grice (1975: 47) menjelaskan bahwa dengan memperhatikan dan menaati prinsip kerjasama tersebut, tuturan yang diungkapkan dapat diterima secara efektif dan efisien oleh lawan bicara.
Grice berpendapat bahwa di dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip kerja sama itu, setiap penutur harus mematuhi empat maksim percakapan (conversational maxim), yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).
a. Maksim Kuantitas (The Maxim of Quantity)
Menurut Grice (1975: 45), yang diperjelas oleh Baryadi (2015: 89), ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk menegakkan maksim kuantitas,
yaitu: (1) “Sampaikan informasi seinformatif mungkin (sesuai dengan tujuan percakapan)’’. (2) “Jangan menyampaikan informasi yang berlebihan yang melebihi yang dibutuhkan‟. Tuturan yang tidak sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dianggap tidak mematuhi maksim kuantitas.
Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relative memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi yang demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh mitra tutur. Tuturan yang mengandung informasi yang tidak sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur, dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam Prinsip Kerja Sama Grice.
Demikian sebaliknya, apabila tuturan itu mengandung informasi yang berlebihan akan dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas. Perhatikan contoh berikut.
Contoh:
1) “Lihat itu Ibu Munirah memasuki ruang kuliah.”
2) “Lihat itu Ibu Munirah, dosen mata kuliah Pragmatik yang menjabat sebagai ketua prodi PBSI Unismuh Makassar memasuki ruangan kuliah.”
Tuturan (1) merupakan tuturan yang sudah jelas dan sangat informatif isinya. Penambahan informasi seperti yang ditunjukan pada tuturan (2) justru akan menyebabkan tuturan menjadi berlebihan dan terlalu panjang. Tuturan (2) tidak sesuai dengan prinsip kerja sama Grice, yaitu meanggar maksim kuantitas.
b. Maksim Kualitas (The Maxim of Quality)
Grice (1975: 46) yang dijelaskan kembali oleh Baryadi (2015: 89) menjelaskan bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam menegakkan maksim kualitas, yaitu: (1) “Jangan mengatakan sesuatu yang tidak benar atau mengatakan sesuatu yang diyakini salah”; (2)
“Jangan mengatakan sesuatu yang kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara memadai”. Tuturan yang tidak mematuhi ketentuan tersebut maka dianggap tidak mematuhi maksim kualitas.
Dengan maksim kualitas, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Fakta itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas.
Contoh:
1) Ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta 2) Ibu kota negara Indonesia adalah Dompu
Tuturan (1) secara kualitatif benar kerena penutur meyakini dan memiliki bukti-bukti yang memadai seperti istana negara, kantor-kantor kementrian, gedung DPR/MPR semuanya berada di Jakarta. Dengan demikian tuturan (1) memenuhi prinsip kerja sama maksim kualitas.
Sedangkan tuturan (2) tidak benar dan tidak bisa di buktikan. Dengan demikian tuturan (2) melanggar prinsip kerja sama Grice, yaitu maksim kualits.
c. Maksim Relevansi (The Maxim of Relevance)
Grice (1975: 46) yang diklarifikasi kembali oleh Baryadi (2015: 89) tentang maksim relevansi. Di bawah kategori hubungan, saya menempatkan maksim tunggal, "Jaga agar tetap relevan". Maksim ini menekankan kewajiban setiap peserta tutur untuk memberikan kontribusi yang relevan dengan isu yang dibicarakan.
Di dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan (sesuai) tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan tersebut. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama.
Contoh yang sesuai:
Najam : “Aduh, aku haus sekali, Dek.”
Alam : “Aku belikan es cendol ya, Kak.”
Apa yang diutarakan oleh Alam tersebut relevan dengan masalah yang dihadapi di dalam pembicaraan. Tuturan Najam berisi keluhan bahwa dia kehausan. Tuturan tersebut menyebabkan Alam mengekspresikan tuturan yang sesuai atau terkait dengan pokok persoalan yang diutaran.
Contoh yang tidak sesuai:
Najam : “Aduh, aku haus sekali, Dek.”
Alam : “Aku baru saja minum es cendol, Kak.”
Dengan demikian, tuturan Alam pada contoh tersebut tidak sesuai dengan maksim relevansi dalam prinsip kerja sama.
d. Maksim Pelaksanaan (The Maxim of Manner) atau Maksim Cara Menurut Grice (1975: 46) yang dijelaskan kembali oleh Baryadi (2015: 90), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar maksim pelaksanaan dapat terlaksana secara optimal. “akhirnya, dalam kategori cara, dalam hal ini saya memahami bukan sebagai apa yang dikatakan (seperti kategori sebelumnya), tetapi tentang bagaimana yang dikatakan harus diungkapkan, saya merumuskan supermaksim “ungkapan yang tepat” dan berbagai macam maksim sebagai berikut.
1) Hindari ungkapan yang kabur.
2) Hindari ketaksaan.
3) Buatlah ringkas (hindari ungkapan yang berkepanjangan).
4) Ungkapkanlah sesuatu itu secara runtut atau teratur.
Maksim cara berkaitan dengan bagaimana cara mengungkapkan makna. Intensi mengungkapkan maksud tuturan dilakukan dengan berbicara secara langsung, menghindari tuturan yang tidak jelas,
menyampaikanutan yang tidak taksa, berbicara singkat (tidak berlebihan), dan runtut (berbicara secara teratur, tidak dengan cara yang rumit).
Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas dan tidak kabur. Orang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar Prinsip Kerja Sama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan atau cara.
Contoh:
A: Mau yang mana, komedi atau horor?
B: Yang komedi saja. Gambarnya juga lebih bagus.
C: Mau yang mana, komedi atau horor?
D: Sebenarnya yang drama yang bagus sekali. Apalagi pemainnya aku suka semua. Tapi ceritanya tidak jelas arahnya. Action bagus juga, tapi ceritanya aku tidak mengerti
E: Jadi kamu pilih yang mana?
Kedua penggalan percakapan tersebut, dapat dilihat bahwa jawaban B adalah jawaban yang lugas tidak berlebihan. Pelanggaran terhadap maksim dapat dilihat dari jawaban D.
Untuk memenuhi maksim cara atau maksim pelaksanaan, adakalanya kelugasan tidak selalu bermanfaat di dalam interaksi verbal.
Sebagai pembatas dari maksim cara atau pelaksanaan, pembicara dapat menyatakan ungkapan seperti, bagaimana kalau, menurut saya, dan sebagainya. Dengan demikian, prinsip kerja sama dalam berkomunikasi harus ditaati agar komunikasi yang disampaikan dapat diterima oleh lawan tutur. Namun, tidak tertutup kemungkinan PKS dapat dilanggar dengan tujuan tertentu.
5. Makna Pesan