• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kita telah belajar bahwa doa membawa kuasa ke dalam hidup kita karena doa adalah kuasa. Tidak ada orang Kristen yang lebih besar dari kehidupan doanya. Jika hal ini benar, dan kita mempercayainya, kehidupan doa dari seorang pengikut Kristus dapat menjadi aspek yang paling penting dari kehidupan seseorang. Untuk alasan inilah sekolah doa kita akan mempertimbangkan beberapa prinsip dasar yang menyediakan pandangan dasar dari sebuah kehidupan doa yang dipraktekkan, dimulai dengan beberapa hal dasar yang paling jelas.

1. Kita harus mengenali kebutuhan untuk kehidupan doa.

Kelihatannya tidak biasa untuk memulai dengan suatu pernyataan yang sudah sangat biasa, tetapi adalah suatu fakta bahwa terlalu banyak orang Kristen tidak menyadari perlunya sebuah kehidupan doa. Sehingga, kita mulai dengan menekankan bahwa doa harus menjadi bisnis serius untuk orang percaya. Spurgeon berkhotbah, “Terdapat sebuah pernyataan vulgar bahwa doa adalah hal yang sangat mudah, sejenis bisnis biasa yang dapat dilakukan dengan cara bagaimanapun, tanpa usaha dan tanpa perhatian. Beberapa orang berpikir bahwa anda hanya perlu membaca sebuah buku doa dan mengucapkan kata-kata yang indah-indah, dan anda sudah berdoa dan setelah itu menaruh buku tersebut.” (34/3)

Karena itu, hal ini menyajikan pertanyaan dasar untuk kita: “Apakah saya benar-benar memiliki sebuah kehidupan doa?” Jika jawaban kita hanya “Kadang-kadang”, “Saya tidak yakin.” Atau “Tidak” dapat disimpulkan bahwa kita tidak yakin akan pentingnya doa dalam hidup kita. Sampai sikap ini berubah, membangun sebuah kehidupan doa yang efektif adalah mustahil.

2. Kita harus mengakui sebuah fakta yang tak terbantahkan – Allah menjawab doa!

Mudah untuk menyimpulkan bahwa seseorang yang meragukan bahwa Allah menjawab doa akan memberikan sedikit waktunya untuk berdoa. Spurgeon dengan gamblang mengingatkan kita, “Kita tidak boleh memberikan toleransi sedikitpun untuk pikiran negatif dan mengerikan bahwa Allah tidak menjawab doa. Natur Allah, seperti yang termanifestasi dalam Yesus Kristus, adalah menjawab doa.” (34/10)

Sayangnya, akan selalu ada beberapa orang yang menganggap jawaban doa sebagai kebetulan semata. Archbishop Temple memiliki jawaban yang bagus untuk para kritikus itu : “Ketika saya berdoa, hal-hal yang kebetulan terjadi. Ketika saya tidak berdoa, hal-hal itu tidak terjadi. Jadi, saya akan tetap berdoa dan melihat hal-hal yang kebetulan itu terjadi terus.”

Kebenaran lain yang harus dipelajari orang Kristen mengenai kebenaran ini adalah doa yang dijawab adalah suatu hukum Allah. John Bisagno dalam bukunya Kuasa Doa yang Positif berbicara mengenai hukum Alkitabiah ini. Ia mengingatkan kita bahwa dalam mengubah temperatur menjadi 32 derajat, es akan terbentuk sebagai hasil dari fenomena sains. Kita sama sekali tidak terkejut karena ini adalah sebagai hasil dari hukum alam yang sedang beroperasi. Para ilmuan tidak berkata, “Mari kita membuat perjanjian. Turunkan suhu hingga 32 derajat , dan saya berjanji, sebagai balasannya, akan ada es.” Ia hanya dengan sederhana berkata bahwa akan ada es. Itu tidaklah dalam

53

bentuk penawaran atau janji, seperti yang ditekankan oleh Bisagno; itu adalah merupakan hukum alam. Hal yang sama terjadi ketika kita berdoa. Penulis menyimpulkan, “Ketika kita menyebut mengenai hukum-hukum Alkitab sebenarnya kita tidak sedang menyebut sebuah janji sama sekali. Hukum itu adalah Hukum yang tak berubah dan tak terbantahkan.” (33/11)

3. Kita harus mengerti teologi doa.

Akan menjadi akurat untuk mengatakan bahwa ketika kita “mencoba” mengerti teologi doa. Para prajurit doa jelas tidak harus menjadi seorang teolog untuk berdoa. Di sisi lain, ia harus mengerti prinsip-prinsip dasar doa yang akan menolongnya menjadi lebih efektif dalam kehidupan doanya. Sebagai contoh, adalah penting untuk mengenali bahwa doa akan membawa kita ke dalam persekutuan yang unik dengan anggota dari Kepala. Seperti yang ditulis oleh seorang penulis dengan bijaksana, “Anda sedang berdoa dalam nama Yesus. Anda sedang berdoa melalui Roh Kudus.” (9/26)

Untuk mengerti doa, kemudian kita harus mengetahui dan mengerti natur dan karakter Allah. Sebuah kisah humor diceritakan oleh seorang ibu muda menggambarkan pemikiran ini. Ia menemukan anak laki-laki kecilnya dengan hati-hati menggambar sesuatu dan ibunya kemudian bertanya tentang apa yang ia gambar. “Oh, itu adalah gambar Tuhan,” jawab anak laki-laki itu. “Tetapi tidak ada yang tahu Tuhan itu seperti apa.” Protes ibunya. “Ya, mereka akan tahu Tuhan itu seperti apa ketika melihat gambar ini!” jawab si anak dengan polos.

Hanya sedikit orang Kristen yang memiliki keberanian seperti anak kecil ini, setidaknya dalam sikap mereka, ketika masuk dalam pengertian tentang Allah. Sebuah pengertian yang jelas tentang natur Allah, bagaimanapun juga, adalah penting untuk doa. Terdapat mereka yang, sebagai contoh, mengalami kesulitan besar ketika berdoa karena mereka merasa bahwa doa hanya jarang menghasilkan jawaban. Mereka bertanya, “bagaimana seorang manusia yang fana memberitahu Allah yang tidak terbatas bagaimana cara mengelola alam semesta-Nya?” Ralph Herring menawarkan jawaban ini, “Doa adalah satu hal yang membuat Allah kelihatan setidaknya mengubah pikiran-Nya tanpa kelihatan tidak konsisten. Doa adalah metode favorit-Nya untuk menang dalam situasi yang menekan dan membuat stres. Hanya Allah yang Maha Kuasa dapat menginspirasi dan hanya Allah yang berdaulat yang dapat menjawabnya. Konsep manusia tentang Allah, karena itu, menentukan kedalaman dari kehidupan doanya. Doa yang sejati dimulai dan diakhiri dengan Allah bertahta.” (16/16)

Sebuah aspek vital dari teologi doa berkaitan dengan tempat yang ditempati Anak Allah. Alkitab mendeklarasikan Kristus sebagai “Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan.” (1 Tim 6:13-15). Jika kita tidak mengerti ini, kita tidak akan mengerti doa. Berikutnya dalam bab ini kita akan melihat lebih dekat mengenai pentingnya nama Yesus dalam doa.

Untuk mengerti teologi doa, kita tidak membutuhkan daftar panjang dari fakta-fakta teologi ditempelkan ke dinding kamar doa kita atau dilipat baik-baik dalam Alkitab kita. Ketika kehidupan doa kita berkembang, aspek-aspek ini akan menjadi alami dalam doa kita. Sir Arthur Eddington mengingatkan kita akan lingkup hukum alam dalam bentuk hukum fisika yang luar biasa luas terjadi ketika seseorang melangkah keluar dari pintu. Ketika seseorang tidak akan pernah mengerti sepenuhnya keseluruhan hukum fisika yang terlibat, Eddington menjelaskan bahwa tidaklah masuk akal untuk mengerti dulu semua hukum alam yang terlibat dan setelah itu baru melangkah keluar

54

pintu. Prinsip yang sama adalah benar mengenai masalah doa. Hanya ketika kita menghabiskan waktu dalam doa baru kita mengerti doa itu sendiri.

4. Kita harus belajar bagaimana melayani dalam karunia doa yang indah ini.

Bertahun-tahun yang lalu pena seorang penulis yang menginspirasi dari Rosalind Rinker memproduksi sebuah masterpiece dalam topik doa – Doa : Berbicara dengan Allah. Buku tersebut baru-baru ini dihargai oleh Christianity Today sebagai satu dari 100 buku Kristen berpengaruh yang diterbitkan di abad terakhir ini. Penulis Rinker mengingatkan kita sudah terlalu terbiasa untuk berdoa untuk pertobatan orang yang kita kasihi dan tidak menerima jawabannya. Penulis tersebut menyimpulkan bahwa bukanlah karena Allah tidak ingin menyelamatkan orang yang kita kasihi. Itu adalah karena kita tidak berdoa dengan benar dan dengan iman. Hal ini seperti mencoba mengambil sebuah lompatan raksasa dari dasar tangga ke anak tangga teratas. Kita ingin sampai ke atas, Kita berbicara dan berbicara tentang melangkah ke anak tangga berikutnya namun kita tidak melakukan apa-apa. Alasannya adalah, mustahil untuk sampai ke puncak dari anak tangga terbawah hanya dengan sekali lompat. Anak tangga dibuat untuk dilangkahi dan digunakan, tetapi harus dilangkahi satu demi satu!” (38/81,82)

Jelaslah, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai kehidupan doa dan kita harus melangkahi satu persatu anak tangga tersebut. Hanya dengan cara ini kita benar-benar dapat belajar untuk melayani dengan efektif dalam karunia doa.

5. Kita harus mengenali tujuan dari doa yang sebenarnya.

Semua doa yang sejati harus memiliki tiga tujuan utama. Pertama, doa harus memuliakan Allah. Kedua, doa harus membawa orang yang didoakan lebih dekat kepada Allah dalam persekutuan. Ketiga, doa harus berfokus kepada jiwa-jiwa.

Mengenai tujuan pertama, Donald Demaray berkata, “Tujuan dari doa bukanlah untuk memberikan seseorang kehidupan yang mudah, namun untuk memuliakan Allah.” (26/128) Demaray kemudian mengutip kata-kata pemazmur “Bukan untuk kami ya Allah, bukan untuk kami, tetapi untuk nama-Mu kami memberikan kemuliaan, karena kasih karunia-Mu, karena kebenaran-Mu.” (Maz 115:1)

Tujuan yang kedua hanya berfokus kepada persekutuan dengan Allah. Walaupun terdapat banyak tujuan doa, membawa kemuliaan untuk Allah dan bersekutu dengan-Nya adalah yang paling penting. Mengenai yang terakhir, kita diingatkan tentang seorang ibu yang mendengar doa anakNya yang memohon dan menasehati, “Anak, janganlah berpikir untuk memberi instruksi kepada Allah, hanya bersiaplah untuk siap bertugas.” Penginjil yang berapi-api Leonard Ravenhill menyimpulkan, “Banyak dari doa kita hanyalah menasehati Allah! Doa kita dilumpuhkan oleh ambisi, baik untuk diri kita maupun untuk denominasi kita. Hilangkan pikiran tersebut! Tujuan dari doa kita haruslah Allah sendiri.” (1/116)

Tujuan ketiga dari doa yang sejati berfokus kepada jiwa-jiwa yang menunggu mendengar kabar baik. Ketika Kristus berkata, “Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Tuhan kita sedang berkata-kata mengenai perjanjian dunia. (Lihat Matius 9:38). Dalam kesempatan lain Yesus mengingatkan, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi aku berkata kepadamu: Lihatlah

55

sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (Yohanes 4:35) Untuk “melihat ke sekeliling” di ladang mengimplikasikan “Perenungan yang penuh doa” mengenai penting nya berdoa untuk kebutuhan jiwa-jiwa. Tuaian adalah inti dari kebutuhan tersebut. Tujuan utama doa, adalah, tuaian jiwa-jiwa – tuaian Allah!

56

Respon Siswa

Pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dari Ruang Kuliah Satu

__________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________ __________________________________________________________________________________

57

Ruang Kuliah Dua