• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM TENTANG PERKAWINAN DAN PERAN ISTRI DALAM RUMAH TANGGA

C. Keadilan Gender dalam Rumah Tangga 1 Sekilas Tentang Gender

3. Prinsip-Prinsip Kesetaraan Gender Dalam Islam

a. Laki-laki dan Perempuan Sama-sama sebagai Hamba

Salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan. Dalam kapasitas manusia sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam Al-Qur‟an biasa diistilahkan dengan orang-orang yang bertaqwa (muttaqin) dan untuk mencapai derajat

muttaqin ini tidak dikenal adanaya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu.

Kekhususan-kekhususan yang diperuntukkan kepada laki- laki, seperti seorang suami setingkat lebih tinggi di atas isteri, laki- laki pelindung bagi perempuan, memperoleh bagian warisan lebih banyak, menjadi saksi yang efektif, dan diperkenankan berpoligami bagi mereka yang memenuhi syarat, tetapi ini semua tidak menyebabkan laki-laki menjadi hamba-hamba utama.

43

Kelebihan-kelebihan tersebut diberikan kepada laki-laki dalam kapasitasnya sebagai anggota masyarakat yang memiliki peran publikm dan sosial lebih ketika ayat-ayat Al-Qur‟an diturunkan.

Dalam kapasitasnya sebagai hamba, laki-laki dan perempuan masing-masing akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai dengan kadar pengabdiannya.

b. Laki-laki dan Perempuan sebagai Khalifah di Bumi

Maksud dan tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini adalah, di samping untuk menjadi hamba yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah Swt, juga untuk menjadi khlifah di bumi. Kapasitas manusia sebagai khlifah di bumi ditegaskan di dalam Q.S Al-An‟am ayat 165 :

َفِئَٰلَخ ْمُكَلَعَج ْيِذَّلا َوُهَو

ٍتاَجَرَد ٍضْعَ ب َقْوَ ف ْمُكَضْعَ ب َعَفَرَو ِضْرَْلْا

َكَّبَر َّنِإ ْمُكاَتآ اَم يِف ْمُكَوُلْ بَيِل

ٌميِحَر ٌروُفَغَل ُهَّنِإَو ِباَقِعْلا ُعيِرَس

﴿

٢٦١

Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat lain disebutkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30:

ُلَعْجَتَأ اوُلاَق ًةَفيِلَخ ِضْرلْا يِف ٌلِعاَج يِّنِإ ِةَكِئلََمْلِل َكُّبَر َلاَق ْذِإَو

اَهيِف

يِّنِإ َلاَق َكَل ُسِّدَقُ نَو َكِدْمَحِب ُحِّبَسُن ُنْحَنَو َءاَمِّدلا ُكِفْسَيَو اَهيِف ُدِسْفُ ي ْنَم

نوُمَلْعَ ت لِ اَم ُمَلْعَأ

(

١٣

َ)

44

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Q.S Al Baqarah : 30)

Kata khalifah dalam kedua ayat di atas tidak menunjuk kepada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu. Laki- laki dan perempuan mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi, sebagaimana halnya mereka harus bertanggung jawab sebagai hamba Tuhan.

c. Laki-laki dan Perempuan Menerima Perjanjian Primordial Laki-laki dan perempuan sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. Seperti diketahui, menjelang seorang anak manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlebih dahulu harus menerima perjanjian dengan Tuhannya, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-A‟raf ayat 172:

ىَلَع ْمُهَدَهْشَأَو ْمُهَ تَّ يِّرُذ ْمِهِروُهُظ ْنِم َمَدآ يِنَب ْنِم َكُّبَر َذَخَأ ْذِإَو

اَذَه ْنَع اَّنُك اَّنِإ ِةَماَيِقْلا َمْوَ ي اوُلوُقَ ت ْنَأ اَنْدِهَش ىَلَ ب اوُلاَق ْمُكِّبَرِب ُتْسَلَأ ْمِهِسُفْ نَأ

َنيِلِفاَغ

(

٢٧١

)

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu)

45

agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika

itu kami lengah terhadap ini.”

Menurut Fakhr al-Razi dalam buku Nasaruddin Umar, diuraikan tidak ada seorang pun anak manusia lahir di muka bumi ini yang tidak berikrar akan keberadaan Tuhan, dan ikrar mereka disaksikan oleh para malaikat. Dalam Islam, tanggung jawab individual dan kemandirian berlangsung sejak dini, yaitu semenjak dalam kandungan. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrara ketuhanan yang sama.

Di dalam tradisi Islam, perempuan mukallaf dapat melakukan berbagai perjanjian, sumpah, dan nazar, baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan. Tidak ada suatu kekuatan yang dapat menggugurkan janji, sumpah, atau nazar mereka, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur‟an Surat Al- Maidah ayat 89:

َناَمْيلْا ُمُتْدَّقَع اَمِب ْمُكُذِخاَؤُ ي ْنِكَلَو ْمُكِناَمْيَأ يِف ِوْغَّللاِب ُهَّللا ُمُكُذِخاَؤُ ي لِ

ُهُتَراَّفَكَف

ْوَأ ْمُهُ تَوْسِك ْوَأ ْمُكيِلْهَأ َنوُمِعْطُت اَم ِطَسْوَأ ْنِم َنيِكاَسَم ِةَرَشَع ُماَعْطِإ

ْمُتْفَلَح اَذِإ ْمُكِناَمْيَأ ُةَراَّفَك َكِلَذ ٍماَّيَأ ِةَثلََث ُماَيِصَف ْدِجَي ْمَل ْنَمَف ٍةَبَ قَر ُريِرْحَت

ُنِّيَ بُ ي َكِلَذَك ْمُكَناَمْيَأ اوُظَفْحاَو

( َنوُرُكْشَت ْمُكَّلَعَل ِهِتاَيآ ْمُكَل ُهَّللا

٨٩

)

Artinya: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah- sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi

46

Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (Qs. Al-Maidah (5) : 89-90). d. Adam dan Hawa, Terlibat secara Aktif dalam Drama Kosmis

Semua ayat yang menceritakan tentang drama kosmis, yakni cerita tentang keadaan Adam dan pasangannya di surga sampai keluar ke bumi, selalu menekankan kedua belah pihak secara aktif, seperti dapat dilihat dalam beberapa kasus berikut, yang mana keduanya diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga, keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari syaitan, sama- sama memakan buah khuldi dan keduanya menerima akibat jatuh ke bumi, sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan, setelah di bumi, keduanya mengembangkan keturunan dan saling melengkapi serta saling membutuhkan.

e. Laki-laki dan Perempuan Berpotensi Meraih Prestasi

Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan, ditegaskan dalam Q,S. An-Nisa‟ ayat 124:

َكِئَٰ َلوُبَف ٌنِمْؤُم َوُهَو ٰ َثَْهُأ ْوَأ ٍرَلَذ ْنِم ِتاَحِلا َّصلا َنِم ْلَمْعَي ْنَمَو

اًيرِقَه َنوُمَل ْظُي َلََو َةَّنَجْلا َنوُلُخْدَي

(

421

)

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka

47

mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Penjelasan ayat tersebut di atas mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spritual maupun urusan karier profesional, tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan yang sama meraih prestasi optimal.

Salah satu obsesi Al-Qur‟an ialah terwujudnya keadilan di dalam masyarakat. Keadilan dalam Al-Qur‟an mencakup segala segi kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Karena itu Al-Qur‟an tidak mentolerir segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa, dan kepercayaan, maupun yang berdasarkan jenis kelamin (Nasaruddin, 1999 : 248-265)

48

BAB III

GAMBARAN SINGKAT TENTANG DAERAH PENELITIAN DAN