• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Perbankan Yang Sehat

Dalam dokumen PT BANK PUNDI INDONESIA TBK (Halaman 42-49)

J. Arus Kas

3. Prinsip-Prinsip Perbankan Yang Sehat

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, kondisi kesehatan perbankan selalu dimonitor oleh Bank Indonesia. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan oleh manajemen bank adalah CAMELS yang terdiri dari Capital Adequacy, Asset Quality, Management, Earnings Sustainability, Liquidity dan Sensitivity to Market Risk.

a. Kecukupan Modal (Capital Adequacy)

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.10/15/PBI/2008 tanggal 24 September 2008 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, bank-bank diwajibkan untuk memenuhi rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar minimum 8%. Posisi CAR Perseroan pada tanggal-tanggal 31 Maret 2012, 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing adalah sebagai berikut:

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

CAR setelah memperhitungkan risiko kredit dan risiko operasional 10,67% 12,02% 41,42% CAR setelah memperhitungkan risiko kredit, risiko pasar, dan operasional 10,67% 12,02% 41,42% Jika mengikuti PBI di atas, maka Perseroan telah dapat memenuhi kewajiban rasio kecukupan modal (CAR) yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia selama ini.

Perseroan selalu memenuhi ketentuan Bank Indonesia termasuk dalam bidang permodalan, sehingga apabila terdapat perubahan ketentuan dalam perbankan Indonesia, manajemen akan segera menyusun perencanaan untuk memenuhi ketentuan tersebut serta memperhatikan peraturan Pasar Modal. Peningkatan CAR di tahun 2010 disebabkan karena adanya tambahan modal saham dari Penawaran Umum Terbatas I yang dilakukan Perseroan pada tahun 2010. Kemampuan Perseroan dalam

Proses Pengukuran Risiko

Penerapan manajemen risiko dilakukan Perseroan berdasarkan pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 dan PBI No.11/25/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009 tentang Penyempurnaan atas Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, serta Surat Edaran Bank Indonesia No.13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 5/21/DPNP perihal Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, dimana penerapan manajemen risiko mencakup 4 (empat) pilar, yaitu : (1) pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi, (2) kebijakan, prosedur, dan penetapan limit, (3) proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko serta system informasi manajemen risiko, dan (4) sistem pengendalian intern yang menyeluruh

Proses pengukuran risiko dilakukan Perseroan dengan membuat Profil Risiko yang dibuat untuk mengetahui seberapa besar risiko yang melekat pada aktivitas Perseroan yang mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 13/1/PBI/2011 tanggal 5 Januari 2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, serta Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Penilaian Profil Risiko merupakan kombinasi dari risiko-risiko yang melekat pada setiap aktivitas fungsional (inherent risk) dan kualitas penerapan manajemen risiko. Penilaian Profil Risiko dilakukan oleh Perseroan terhadap 8 (delapan) risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik dan risiko kepatuhan yang terdapat pada aktivitas fungsional Perseroan yang memiliki potensi kerugian.

Profil Risiko dibuat setiap triwulan dan dilaporkan kepada Bank Indonesia. Berdasarkan hasil Profil Risiko tersebut, Perseroan dapat melakukan mitigasi terhadap risiko dengan cara meningkatkan sistem pengendalian risiko khususnya pada risiko dan aktivitas fungsional yang memiliki peringkat risiko mulai dari Moderate sampai dengan High.

Penetapan peringkat Profil Risiko terdiri dari 5 (lima) peringkat yaitu Peringkat 1 (Low), Peringkat 2 (Low to Moderate), Peringkat 3 (Moderate), Peringkat 4 (Moderate to High), dan Peringkat 5 (High).

Risiko Inheren

Kualitas Penerapan Manajemen Risiko

Strong Satisfactory Fair Marginal Unsastifactory

Low 1 1 2 3 3 Low to Moderate 1 2 2 3 4 Moderate 2 2 3 4 4 Moderate to High 2 3 4 4 5 High 3 3 4 5 5 PERINGKAT SKOR LOW 80<Skor< 100

LOW TO MODERATE 60<Skor< 80

MODERATE 40<Skor< 60

MODERATE TO HIGH 20<Skor< 40

HIGH 0≤Skor< 20

Hasil self-assessment terhadap penilaian Profil Risiko posisi 31 Maret 2012 secara komposit memiliki peringkat Low to Moderate yang merupakan kombinasi dari Risiko Inheren Low to Moderate dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko Fair.

Secara rinci penilaian Profil Risiko 31 Maret 2012 adalah sebagai berikut: PROFIL RISIKO

RISIKO SISTEM

RISIKO INHEREN KUALITAS PENERAPAN PERINGKAT

MANAJEMEN RISIKO

Kredit Low to Moderate Fair Low to Moderate

Pasar Low Fair Low to Moderate

Likuiditas Low toModerate Fair Low to Moderate

Operasional Low toModerate Fair Low to Moderate

Hukum Low Fair Low to Moderate

Reputasi Low Fair Low to Moderate

Strategik Low Fair Low to Moderate

Kepatuhan Low Fair Low to Moderate

Komposit Low to Moderate Fair Low to Moderate

Atas setiap produk dan aktivitas baru, Perseroan terlebih dahulu melakukan identifikasi risiko yang melekat pada produk dan aktivitas baru tersebut sebelum produk dan aktivitas baru tersebut diluncurkan. Dari hasil identifikasi risiko tersebut, Perseroan melakukan pengendalian terhadap risiko yang timbul baik dengan membuat kebijakan dan prosedur, sistem akuntansi, aspek hukum serta transparansi mengenai risiko yang melekat pada produk dan aktivitas baru tersebut kepada nasabah.

b. Kualitas Aset Keuangan (Asset Quality)

Dalam menjaga kualitas asetnya, bank diwajibkan melakukan pencadangan (reserve) sejumlah tertentu yang besarnya ditentukan oleh kualitas aset yang bersangkutan sesuai Peraturan Bank Indonesia. Rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2012, dan periode 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar 4,23%, 4,37% dan 33,78%. Pencadangan tersebut dimaksudkan sebagai antisipasi kemungkinan risiko memburuknya kualitas aset bank.

CKPN aset keuangan yang dibentuk Perseroan per 31 Maret 2012, dan periode 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 248.169 juta, Rp 216.543 juta dan Rp 291.508 juta. Perseroan telah memenuhi ketentuan Bank Indonesia terkait kewajiban pembentukan CKPN minimum per 31 Maret 2012, dan periode 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar yaitu Rp 227.276 juta, Rp 197.654 juta dan Rp 229.175 juta. Persentase pemenuhan CKPN yang wajib dibentuk adalah sebesar 109%, 110% dan 127% masing-masing untuk periode 31 Maret 2012, dan periode 31 Desember 2011 dan 2010. Berikut ini adalah rincian dari CKPN untuk aset keuangan :

(dalam jutaan rupiah)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

Giro pada bank lain - - -

Penempatan Pada Bank Indonesia dan Bank Lain 100 100 100

Kredit yang diberikan 248.069 216.443 291.408

Total CKPN aset keuangan 248.169 216.543 291.508

Total Aset Produktif 5.864.999 4.959.359 862.960 Persentase CKPN aset keuangan terhadap aset produktif 4,23% 4,37% 33,78%

Kredit yang Diberikan

Tabel berikut ini menunjukkan komposisi kredit yang diberikan Perseroan berdasarkan kolektibilitas:

(dalam jutaan rupiah)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 % 2011 % 2010 %

Lancar 3.781.538 86,59 3.132.574 88,13 259.980 42,43

-/- CKPN (1.918) (31.721) (2.511)

Dalam Perhatian Khusus 228.595 5,23 97.663 2,75 40.539 6,62

-/- CKPN (9.597) (1.518) (1.351) Kurang Lancar 17.469 0,40 11.641 0,33 3.521 0,57 -/- CKPN (15.947) (574) (3.521) Diragukan 25.709 0,59 15.795 0,44 14.133 2,31 -/- CKPN (22.808) (2.309) (10.189) Macet 313.866 7,19 296.663 8,35 294.578 48,07 -/- CKPN (197.799) (180.321) (273.836) Jumlah Kredit yang Diberikan – gross 4.367.177 100,00 3.554.336 100,00 612.751 100,00 -/- Jumlah CKPN (248.069) (216.443) (291.408) Jumlah Kredit yang Diberikan - Bersih 4.119.108 3.337.893 321.343 NPL - gross 8,18 9,12 50,96 NPL - netto 2,76 3,95 4,03 Cadangan Kerugian Penurunan Nilai – Kredit yang Diberikan

Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas kredit yang diberikan adalah sebagai berikut:

(dalam jutaan rupiah)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

Saldo awal tahun 216.443 291.408 106.747

Dampak atas penerapan awal PSAK 50&55 (revisi 2006) - - 111.756

Penurunan nilai tahun berjalan 41.774 - 82.733

Penghasilan bunga atas kredit yang mengalami penurunan nilai individual (4.153) (5.876) (2.328)

Pemulihan (5.899) (66.108) -

Penghapusan kredit (96) (2.981) (7.500)

Saldo akhir tahun 248.069 216.443 291.408

Jumlah kredit bermasalah (gross) per 31 Maret 2012 adalah Rp 357.044 juta. Manajemen Perseroan berpendapat bahwa jumlah Cadangan Kerugian Penurunan Nilai yang dibentuk untuk kredit yang diberikan telah memadai.

Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain

(dalam jutaan rupiah)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

Fasilitas Simpanan Bank Indonesia - bersih 772.420 770.227 248.541

Call Money 100 100 100

Deposito 75 74 69

Tabungan 14 20 28

Kredit yang diberikan - -

-Jumlah 772.609 770.421 248.738

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (100) (100) (100)

Bersih 772.509 770.321 248.638

Suku bunga atas penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain berkisar antara 3,75%-6,25% pada kuartal pertama tahun 2012.

(dalam jutaan rupiah)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

Saldo awal tahun 100 100 102

Dampak atas penerapan awal PSAK 50 & 55 (revisi 2006) - - (2)

Pembentukan CKPN tahun berjalan - - -

Saldo akhir tahun 100 100 100

Klasifikasi kolektibilitas penempatan pada Bank Indonesia dan Bank lain pada tanggal 31 Maret 2012 adalah Lancar kecuali untuk penempatan call money pada Bank Asiatic yang berkolektibilitas macet dan telah dicadangkan seluruhnya. Manajemen Perseroan berpendapat bahwa jumlah Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain adalah memadai.

Efek-Efek

Efek-efek yang dimiliki Perseroan diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual dan diperdagangkan sebagai berikut:

(dalam jutaan rupiah)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

Tersedia untuk Dijual

Obligasi Pemerintah Republik Indonesia

FR0045 26.600 25.800 67.843 FR0047 26.160 25.750 32.957 FR0054 - - 96.444 FR0056 23.380 - -FR0058 131.520 113.831 -FR0059 100.933 168.566 -FR0061 86.680 107.000 -FR0062 121.506 -

-Obligasi Pemerintah Syariah

IFR 006 19.940 - 47.752

IFR 010 7.189 -

-PBS 003 43.157 -

-SR 003 5.275 5.225

-Obligasi Korporasi

PT Aetra Air Jakarta (TPJ) Seri C 11.000 10.445

-Diperdagangkan

Sertifikat Bank Indonesia – setelah dikurangi bunga yang belum

diamortisasi sebesar Rp 982 pada tahun 2009 - -

-Obligasi Pemerintah Republik Indonesia

FR0044 - -

-FR0047 - -

-Bersih 711.346 499.360 244.996

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai yang dibentuk untuk efek-efek per 31 Maret 2012 adalah nihil. Sesuai yang disyaratkan dalam PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI 2008, evaluasi penurunan nilai untuk aset keuangan yang dikelompokkan dalam tersedia untuk dijual ditandai dengan penurunan nilai wajar yang signifikan dan berkelanjutan dibawah biaya perolehannya. Dalam evaluasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai kualitas aset keuangan, Perseroan mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006

Perseroan telah membentuk komite dan satuan kerja untuk menjalankan fungsi sebagai Komite Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Manajemen Risiko sesuai dengan arahan Bank Indonesia melalui PBI No.5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum jo. PBI No. 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan Atas PBI No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. Wewenang dan tanggung jawab Komite Manajemen Risiko, sesuai dengan arahan Bank Indonesia melalui PBI No.5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum jo. PBI No. 11/25/ PBI/2009 tentang Perubahan Atas PBI No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum adalah :

• Penyusunan kebijakan, strategi dan pedoman penerapan manajemen risiko;

• Perbaikan atau penyempurnaan pelaksanaan manajemen risiko berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan dimaksud;

Penetapan (justification) hal-hal yang terkait dengan keputusan bisnis yang menyimpang dari prosedur normal (irregularities).

Wewenang dan tanggungjawab Satuan Kerja Manajemen Risiko, sesuai dengan arahan Bank Indonesia melalui PBI No.5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum jo. PBI No. 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan Atas PBI No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum adalah :

• Pemantauan pelaksanaan strategi manajemen risiko yang telah disetujui oleh Direksi;

Pemantauan posisi risiko secara keseluruhan (composite), per jenis risiko dan per jenis aktivitas fungsional serta melakukan stress testing;

• Kaji ulang secara berkala terhadap proses Manajemen Risiko; • Pengkajian usulan aktivitas dan atau produk baru;

• Evaluasi terhadap akurasi model dan validitas data yang digunakan untuk mengukur risiko, bagi Bank yang menggunakan model untuk keperluan intern (internal model);

Memberikan rekomendasi kepada satuan kerja operasional (risk taking unit) dan/atau kepada Komite Manajemen Risiko, sesuai kewenangan yang dimiliki;

• Menyusun dan menyampaikan laporan profil/komposisi risiko kepada Direktur Utama atau Direktur yang ditugaskan secara khusus dan Komite Manajemen Risiko secara berkala.

d. Rentabilitas (Earnings Sustainability)

Laba bersih Perseroan untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2012 adalah Rp 13.932 juta. Rugi bersih Perseroan tahun 2011 adalah sebesar Rp 147.253 juta, menunjukkan penurunan hasil dibandingkan dengan kerugian tahun 2010 sebesar Rp 88.646 juta.

Keterangan 31 Maret 31 Desember

(3 Bulan) (1 Tahun)

2012 2011 2010

Return On Asset (ROA) 1,44 -4,75 -12,90

Return On Equity (ROE) 13,26 -50,55 -84,44

Net Interest Margin (NIM) 14,93 8,20 3,51 Beban Operasional terhadap Penghasilan Operasional (BOPO) 96,71 118,69 157,50 Perseroan telah membukukan keuntungan per periode 31 Maret 2012, hal ini terlihat dari ROA Perseroan yang positif sebesar 1,44% dibandingkan dengan ROA periode sebelumnya yaitu ROA pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 yang menunjukkan persentase masing-masing -4,75% dan -12,90%. Begitu pula dengan rasio imbal hasil ekuitas atau ROE Perseroan yang telah menunjukkan hasil positif 13,26%, meningkat dibandingkan dengan ROE periode sebelumnya yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011, dan 2010 yang menunjukkan persentase masing-masing -50,55% dan 84,44%. ROA dan ROE yang negatif pada periode 31 Desember 2011 dan 2010 disebabkan kredit keloaan yang macet dari bisnis lama Perseroan. Hal ini telah berhasil diperbaiki oleh manajemen baru Perseroan dengan strategi bisnis yang fokus pada segmentasi ritel khususnya kredit UMKM. Perseroan telah melakukan perbaikan kinerja yang dapat dilihat dari rasio ROA, ROE dan NIM yang meningkat dan BOPO yang

e. Likuiditas (Liquidity)

Keterangan 31 Maret 31 Desember

2012 2011 2010

Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana Pihak Ketiga (LDR) 69,10% 66,78% 52,83%

Rasio GWM Primer 8,26% 8,27% 25,47%

Rasio GWM LDR *) 0,68% 1,03%

-Rasio GWM Sekunder 11,85% 12,59% 32,93%

*) Persyaratan GWM LDR diterapkan sejak 1 Maret 2011 sesuai PBI No. 12/19/PBI/2010.

Likuiditas merupakan kemampuan Perseroan untuk memenuhi kewajibannya yang diukur berdasarkan tingkat Giro Wajib Minimum (GWM) yang dipertahankan Perseroan, Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana Pihak Ketiga (LDR) dan Maturity Gap.

Sejak November 2010, persyaratan minimum GWM Primer adalah 8% dan GWM Sekunder adalah 2.5%. Perhitungan pemenuhan minimum GWM LDR mulai dipersyaratkan semenjak tanggal 1 Maret 2011 dimana Perseroan dikenakan disinsentif yang disebabkan oleh rasio LDR nya masih dibawah 78% per 31 Maret 2012.

Nilai LDR Perseroan per tanggal 31 Maret 2012, 31 Desember 2011 dan 2010 adalah 69,10%, 66,78% dan 52,83%. Bank Indonesia menetapkan nilai moderat untuk LDR adalah berkisar antara 85% sampai dengan 100% atau rasio kurang dari 50%. Dalam usahanya untuk memaksimalkan posisi LDR, Perseroan akan meningkatkan pinjaman yang diberikan melalui realisasi pemberian pinjaman baru dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip prudent banking serta menerapkan manajemen risiko.

Komposisi pendanaan Perseroan masih bergantung kepada produk deposito. Per 31 Maret 2012, komposisi produk deposito, tabungan, dan giro masing-masing sebesar 92,42%, 6,48%, dan 1,10%. Ketergantungan terhadap deposan inti cukup tersebar dengan baik, hal ini terbukti melalui rasio ketergantungan terhadap deposan inti yang tidak terlalu tinggi. Ketergantungan terhadap deposan inti per 31 Maret 2012 adalah 11,27% dan per 30 Juni 2012 menurun menjadi 8,85%. Seperti diketahui bahwa Bank Indonesia menetapkan batas maksimum rasio deposan inti sebagai salah satu parameter untuk mengukur risiko likuiditas pada tingkat moderate sebesar 20%. Dengan demikian menurut parameter Profil Risiko, tingkat risiko likuiditas Perseroan adalah Low to Moderate.

Upaya untuk mengatasi masalah ini secara terus menerus dilakukan antara lain dengan cara memperluas cakupan nasabah Perseroan untuk sumber dana dari deposan baru, dengan tetap memelihara hubungan baik dengan deposan atau sumber dana yang lama sehingga meningkatkan tingkat loyalitas nasabah. Per 30 Juni 2012, Perseroan memiliki deposan loyal yaitu deposan yang memperpanjang terus menerus depositonya selama 12 bulan sebesar Rp 1,14 Triliun.

f. Sensitivitas (Sensitivity to Market Risk)

Risiko pasar adalah potensi timbulnya kerugian bagi Perseroan karena adanya perubahan yang tidak menguntungkan dalam tingkat bunga dan nilai tukar valas di pasar uang dimana Perseroan beroperasi. Namun mengingat bahwa Perseroan adalah bank non devisa, maka risiko pasar tidak terekspos risiko perubahan nilai tukar valas, sedangkan risiko pasar karena adanya perubahan tingkat suku bunga adalah nihil, hal ini dikarenakan Perseroan tidak mempunyai eksposur yang tercatat dalam trading book. Sesuai PBI No. 10/15/PBI/2008 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dan

Dalam dokumen PT BANK PUNDI INDONESIA TBK (Halaman 42-49)