• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prioritas Strategi Harmonisasi Pengembangan Perikanan Panta

Bobot x Rating Kekuatan ( Strength )

6.2 Merumuskan Strategi Untuk Harmonisasi Pengembangan Perikanan Pantai Di Kota Tegal

6.2.3. Prioritas Strategi Harmonisasi Pengembangan Perikanan Panta

Mengacu kepada Gambar 6.7, faktor yang menjadi pembatas penting dalam komponen perbekalan penangkapan ikan adalah migrasi nelayan skala kecil (RK = 0.363) dan pendidikan nelayan skala kecil (RK = 0.247). Hal ini dapat dipercaya karena mempunyai IR 0.07.

6.2.3. Prioritas Strategi Harmonisasi Pengembangan Perikanan Pantai

Gambar 6.8 Prioritas stategi harmonisasi pengembangan perikanan pantai Dari beberapa pilihan/alternatif strategi pengembangan perikanan pantai tersusun urutan prioritas pilihan berdasarkan analisis menggunakan metode AHP. Berdasarkan Gambar 6.8, pengembangan alat tangkap secara mandiri (PATSM) mempunyai rasio kepentingan (RI) paling besar, yaitu 0.299. Hal ini dapat dipercaya karena mempunyai inconsistency ratio (IR) 0.04 (masuk persyaratan AHP IR < 0.10). Terkait dengan ini, maka strategi PATSM menjadi prioritas pertama yang dianggap penting untuk mendukung harmonisasi perikanan pantai di Kota Tegal. Strategi pengawasan bersama keamanan alat tangkap (PBKAT) menjadi strategi prioritas kedua untuk mendukung harmonisasi perikanan pantai di Kota Tegal (RK = 0.264). Strategi pengawasan ini dapat menjadi back-up bila secara teknis di lapangan, strategi pengembangan alat tangkap secara mandiri (PATSM) tidak bisa dilaksanakan, misal karena keterbatasan modal, keterampilan nelayan skala kecil, atau perubahan program pemerintah terkait prioritas pengembangan komponen perikanan pantai. Optimalisasi penangkapan ikan pada saat harga jual ikan naik (OPIHJN) dengan RK = 0.210 diikuti pemanfaatan alat tangkap bantuan untuk optimalisasi hasil tangkapan (PATBOHT) dengan RK = 0.130, dan pemanfaatan dana bergulir untuk pengadaan mesin baru (PDBPM) dengan RK = 0.97.

Hasil perhitungan antara pilihan strategi PATSM dengan pilihan strategi lainnya dianalisis lebih lanjut untuk menentukan bobot kepentingannya. Pilihan strategi PATSM, pengembangan alat tangkap secara mandiri - bila dibandingkan

93 dengan pilihan alternatif strategi lainnya mempunyai bobot kepentingan paling besar seperti ditunjukan pada Lampiran 22 sampai dengan Lampiran 25.

Pembahasan

Dari analisis faktor eksternal terlihat prospek perikanan tangkap skala kecil berkembang baik, dan hal ini sejalan dengan peluang yang tertuang dalam Renstra Dislantan Kota Tegal tahun 2014-2019 yang menyatakan potensi sumberdaya kelautan yang ada di Kota Tegal belum dioptimalkan pemanfaatannya (Dislantan Kota Tegal 2014b). Begitu pula dengan peluang pasar produk perikanan tersedia dan terbuka lebar, peluang/ ini sama dengan yang dikemukakan pihak Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal (Dislantan Kota Tegal 2014b) yaitu mendorong para pemangku kepentingan di Kota Tegal untuk menciptakan suasana dan kondisi yang kondusif agar komoditas kelautan dan perikanan dapat diterima oleh pasar. Utamanya para pedagang dan calon pembeli baik dari dalam atau luar Kota Tegal. Kondisi ini juga di perkuat dengan posisi Kota Tegal yang strategis, dan menjanjikan kemudahan akses untuk para investor atau calon pembeli datang secara langsung melakukan transaksi atas komoditas perikanan hasil tangkapan para nelayan. Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan dalam skala mikro terutama memberdayakan usaha kecil menengah juga perlu diperkuat untuk lebih menggerakkan roda perekonomian terutama bagi nelayan dan penduduk setempat, yang mana ujungnya adalah kesejahteraan masyarakat.

Ancaman dari luar yang dirasa perlu ditangani secara serius adalah pasokan BBM yang kurang lancar di samping harga BBM yang cenderung fluktuatif (Dislantan Kota Tegal 2014b). Isu lingkungan hidup juga menjadi masalah yang perlu penanganan cukup serius yaitu menurunnya kualitas dan kuantitas sumberdaya alam, termasuk di dalamnya tekanan pada sumberdaya perikanan tangkap (Dislantan Kota Tegal 2014b). Kondisi ini memang menjadi perhatian serius yang perlu ditangani pihak terkait dalam mengatasi persoalan degradasi lingkungan yang mengancam wilayah pesisir Kota Tegal.

Harga bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi sangat menganggu kegiatan perikanan pantai yang dilakukan oleh nelayan skala kecil di Kota Tegal. Sekitar 60-70% biaya operasional yang dikeluarkan oleh nelayan adalah untuk pengadaan BBM (Nurani 2010, Purba 2009), sehingga bila harga BBM naik menjadi ancaman terbesar kelangsungan kegiatan penangkapan ikan (bobot = 0.07). Namun dalam hal ini dampaknya di Kota Tegal, masih termasuk biasa (rating = 1) dan belum menyeluruh, karena beberapa alat tangkap yang dioperasikan nelayan skala kecil seperti bundes, trammel net, umumnya berukuran kecil dan dioperasikan tidak jauh dari pantai dan kapal yang digunakan berukuran kecil. Ancaman yang cukup serius dirasakan oleh nelayan adalah pencurian alat tangkap dan adanya ancaman dari pesaing yang menggunakan alat tangkap yang lebih besar dan modern. Lemahnya penegakkan hukum menimbulkan rawan konflik kepentingan (Dislantan Kota Tegal 2014b), untuk menanggulanginya maka perlu ada sosialisasi Undang-Undang kelautan dan perikanan ke masyarakat dan nelayan.

Hasil analisis menunjukkan terdapat beberapa peluang di mana nelayan skala kecil Kota Tegal mendapat alokasi bantuan program-program yang

94

diinisiasi pemerintah seperti Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Tangkap (PUMP Perikanan Tangkap) yang digalakkan oleh Pemerintah sangat membantu nelayan skala kecil. Program PUMP ini merupakan aspirasi dewan yang realisasinya dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan dinas terkait di daerah. Program ini telah disusun dengan konsep yang jelas terutama terkait dengan besaran nilai, nelayan sasaran, dan waktu realisasinya, sehingga keberadaan lebih terasa dibandingkan program lainnya (bobot = 0.05). Dari survai yang dilakukan, lebih dari 75.00 % nelayan telah mendapat manfaat dari program PUMP tersebut baik untuk pengadaan alat tangkap, perbaikan kapal, maupun untuk bantuan operasional penangkapan ikan (rating = 4).

Program lainnya yang digagas atau diinisiasi oleh pemerintah adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dalam hal memberdayakan masyarakat agar dapat memandirikan masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan. Kota Tegal mendapatkan dana PMPM Perkotaan alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 4,250,000,000 yang didistribusikan pada 4 kecamatan di kota Tegal meliputi Kecamatan Margadana, Tegal Barat, Tegal Selatan, Tegal Timur pada tahun 2014 (Menko Kesra gelontorkan BLM PNPM 2014).

Berdasarkan dan mengacu kepada hasil analisis faktor internal dan eksternal yang berpengaruh, dapat diketahui posisi pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal, Jawa Tengah. Hasil matriks IFAS dan matriks EFAS merupakan gambaran dari kegiatan pengelolaan perikanan pantai yang melibatkan nelayan skala kecil jika dilihat dari dalam dan luar sistem perikanan pantai yang ada di Kota Tegal. Hasil plotting atau pemetaan total skor faktor internal (IFAS) dan total skor faktor eksternal (EFAS) menggambarkan posisi pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal yang ada pada saat ini berada pada kondisi pertumbuhan / stabilitas sedang. Jika keadaan ini dibandingkan dengan kondisi di lapangan ternyata hal ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Kegiatan perikanan pantai yang dilakukan oleh nelayan skala kecil di Kota Tegal cukup baik dan tidak mengalami stagnasi atau kemunduran. Hal ini bisa dilihat dari jumlah hasil produksi perikanan tangkap mengalami kenaikan secara keseluruhan dari tahun ke tahun (Tabel 4.3).

Ukuran penilaian dalam pengelolaan pengembangan perikanan pantai di Kota Tegal menunjukkan bahwa keberlanjutan sumberdaya ikan dan lingkungan dan lingkungan perairan mempunyai nilai tertinggi, diikuti dengan alat tangkap dan alat pendukung penangkapan ikan, kapal perikanan, dan perbekalan penangkapan ikan. Komponen utama dalam pengelolaan perikanan tangkap yaitu ketersediaan sumberdaya ikan yang berkelanjutan. Ketersediaan sumber daya ikan dan lingkungan perairan merupakan prasyarat dalam suatu kegiatan penangkapan ikan.

Sumberdaya perikanan di lokasi penelitian masih cukup stabil. Hasil diskusi dengan kelompok nelayan skala kecil menunjukkan bahwa potensi ikan yang di tangkap di lingkungan perairan wilayah Kota Tegal cenderung tetap tidak mengalami penurunan. Nelayan dapat melaut dan mendapatkan ikan hasil tangkapan yang kemudian dijual di tempat pelelangan ikan. Keberlanjutan sumberdaya perikanan tangkap dapat dipertahankan dengan upaya (Sondita 2010) antara lain: tersedianya perangkat peraturan yang terkait/menjamin kelangsungan perkembangbiakan siklus hidup ikan, menetapkan kawasan konservasi demi

95 terwujudnya kelestarian sumberdaya ikan, pelaksanaan sistem monitoring dan evaluasi terhadap sumberdaya perikanan.

Salah satu faktor penentu keberhasilan usaha perikanan tangkap adalah teknologi penangkapan ikan atau alat penangkapan ikan dalam operasi penangkapan ikan. Nelayan skala kecil yang ada di Kota Tegal masih menggunakan alat tangkap yang bersifat tradisional menyebabkan adanya keterbatasan daerah / lokasi penangkapan ikan. Siklus rantai suplai mulai dari produksi, sarana produksi, pasca produksi, dan pemasaran sangat penting untuk diperbaiki dan ditingkatkan. Hal ini perlu didukung akses terhadap penyediaan faktor produksi seperti modal, teknologi, dan bahan-bahan untuk operasi penangkapan ikan (Sondita 2010).

Kapal perikanan dan bahan perbekalan juga diperlukan sebagai sarana dalam kegiatan penangkapan ikan. Pengembangan perikanan pantai tidak terlepas dari keberlanjutan usaha perikanan tangkap skala kecil. Keberlanjutan usaha perikanan tangkap terkait dengan terpenuhinya kebutuhan nelayan seperti stok sumberdaya ikan yang selalu tersedia, ketersediaan sarana, perbekalan mudah didapat, pembinaan manajemen dan teknologi. Kesemuanya itu merupakan kebutuhan dasar nelayan untuk terus menggantungkan hidupnya di sektor perikanan. Produk perikanan sebagai hasil output pasca produksi/pasca panen memerlukan penanganan yang cepat dan tepat karena mudah rusak dan tidak tahan lama (high perishable). Resiko ketidakpastian selalu menghantui pelaku usaha perikanan tangkap skala kecil, selain kegiatan menangkap ikan di laut juga merupakan usaha yang penuh ketidakpastian apakah akan mendapat ikan atau tidak. Hal ini mengakibatkan nelayan selalu dalam posisi tawar yang dilematis dan mudah dipermainkan oleh kondisi pasar maupun pemodal kuat.

Perbandingan tingkat kepentingan faktor pembatas dalam pengembangan perikanan pantai di Kota Tegal berdasar komponen sumberdaya ikan dan lingkungan perairan menunjukkan bahwa migrasi memiliki rasio tertinggi (0.294) pada inconsistency ratio sebesar 0.07. Pada perbandingan tingkat kepentingan faktor pembatas berdasar kapal perikanan, alat tangkap dan alat pendukung penangkapan ikan, dan perbekalan memiliki rasio kepentingan tertinggi berturut- turut 0.380; 0.327; 0.383 pada inconsistency 0.08; 0.05 dan 0.07.

Migrasi merupakan pembatas terkait komponen sumberdaya ikan dan lingkungan perairan. Nelayan yang hidupnya suka berpindah-pindah (migrasi) cenderung tidak mengetahui permasalahan penangkapan ikan yang ada di lokasi yang baru termasuk kondisi sumber daya ikan dan lingkungannya. Begitu juga bila tingkat pendidikan yang rendah, nelayan tersebut menjadi kurang paham upaya dan program pemerintah yang dapat menjaga kelangsungan sumberdaya ikan dan lingkungan perairan di lokasinya. Oleh karenanya, kedua faktor pembatas tersebut harus diperhatikan dan dioptimalkan pembenahannya supaya mendukung pelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan perairan (SDIL) di Kota Tegal. Nelayan skala kecil di Kota Tegal sebagian besar (86.00%) tidak pernah bermigrasi ke tempat lain karena mereka adalah penduduk asli/lokal setempat.

Komponen pembatas bagi kapal perikanan adalah migrasi dan pendidikan. Kapal bagi nelayan adalah alat pendukung yang sangat diperlukan dalam kegiatan penangkapan ikan. Nelayan skala kecil di Kota Tegal dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan tidak bermigrasi ke tempat lain. Selain karena bobot kapal yang digunakan berukuran kecil, terbuat dari kayu dengan bobot kurang dari 5

96

GT, di mana kemampuan daya jelajahnya pun tidak bisa jauh dari pantai. Pendidikan nelayan yang rendah tidak bisa dipisahkan dari komponen pembatas kapal. Di mana pengoperasian kapal yang digunakan nelayan skala kecil tersebut tidak memerlukan keahlian atau pelatihan / sekolah khusus. Jika kebijakan pemerintah pusat dalam hal pengentasan kemiskinan dan perbaikan standar kehidupan masyarakat nelayan dilakukan dengan memodernisasi kapal/armada perikanan, maka hal tersebut bukan merupakan pilihan yang tepat (Stanford et al. 2013). Kebijakan ini tidak berhasil jika masih ada disparitas pendapatan antara pemilik kapal dan anak buah kapal (ABK). Bantuan sarana penangkapan ikan haruslah memenuhi kriteria mudah dioperasikan, ukuran kapal disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan perairan, daya jelajahnya maupun skala usahanya.

Pembatas terkait komponen alat tangkap dan alat pendukung penangkapan ikan (ATP) yang memiliki rasio tertinggi adalah migrasi diikuti pendidikan. Pengembangan perikanan pantai dapat dilakukan menggunakan jenis teknologi unit penangkapan yang sifatnya dapat menyerap banyak tenaga kerja di suatu wilayah perairan. Hal ini berdampak positif pada perluasan lapangan pekerjaan, di mana masyarakat nelayan akan menerima pendapatan yang memadai (Monintja 1987). Jika di sekitar wilayah tempat tinggal nelayan ada pekerjaan yang pendapatannya memadai maka kecil kemungkinan terjadi migrasi nelayan mencari penghidupan yang lebih baik (Jones et al. 2010).

Migrasi merupakan faktor pembatas penting terkait komponen perbekalan penangkapan ikan (perbekalan). Hal ini dapat dipahami jika perbekalan untuk melaut sukar didapat, maka nelayan tersebut akan pindah ke tempat lain yang mudah untuk mendapatkan pasokan perbekalan. Bagi nelayan skala kecil di Kota Tegal pasokan perbekalan mudah di dapat, karena di sekitar daerah tempat tinggal nelayan terdapat toko, atau penyuplai kebutuhan nelayan. Hal ini dikaitkan dengan letak Kota Tegal yang sangat strategis karena berada di jalur lintas perekonomian nasional yang menghubungkan kota-kota di pantai utara Jawa seperti Cirebon dan Semarang maupun kota-kota di bagian selatan seperti Purwokerto dan Jogyakarta.

Secara umum capaian tingkat pendidikan formal nelayan skala di Kota Tegal mayoritas berpendidikan sekolah dasar (SD). Kualitas sumber daya manusia (SDM) seseorang dapat diperoleh melalui jalur formal (jalur pendidikan umum) maupun non formal (pelatihan maupun kursus). Kunci keberhasilan pembangunan di suatu wilayah ataupun pengelolaan perikanan ditentukan oleh kualitas SDM yang ada di daerah tersebut. Walupun nelayan skala kecil di Kota Tegal pendidikannya rendah tetapi dari dalam diri mereka sendiri tertanam kemauan untuk bekerja keras (etos kerja yang kuat). Melaut bagi mereka sudah merupakan way of life (Trimble and Johnson 2013) Modal dasar inilah yang menjadikan mereka tetap tangguh dan setia dalam pekerjaannya dan mereka mempunyai kemampuan beradaptasi mengatasi berbagai persoalan baik persoalan yang berhubungan dengan penangkapan ikan maupun ekonomi.

Keterampilan yang dikuasai oleh hampir 80% responden nelayan yaitu mempunyai dua atau tiga jenis keterampilan lain selain keterampilan utama menangkap ikan. Seperti diketahui keterampilan yang berhubungan dengan sektor perikanan dapat membantu nelayan menyelamatkan kondisi keuangan pada saat nelayan tidak dapat melaut (musim paceklik). Pada musim barat kondisi cuaca kurang bagus, ombak besar dan tinggi maka nelayan tidak dapat melaut.

97 Keragaman sumber-sumber pendapatan sangat membantu kemampuan nelayan dalam mengatasi persoalan ekonomi keluarga (Kusnadi 2003). Kusnadi (2003) menyatakan umumnya nelayan cenderung tidak melakukan kegiatan diversifikasi penangkapan dan mempunyai keterikatan yang kuat terhadap pengoperasian satu jenis alat tangkap disebabkan karena rendahnya ketrampilan yang dipunyai nelayan. Hal ini yang menjadi penyebab terganggunya pendapatan nelayan jika terjadi fluktuasi musim penangkapan.

Umur produktif adalah usia di mana seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu. Seperti diketahui pekerjaan sebagai nelayan menangkap ikan di laut merupakan pekerjaan fisik yang mengandalkan kekuatan, stamina yang tinggi dan cukup menguras tenaga. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang mempunyai kekuatan tenaga dan kesehatan yang prima. Umumnya makin bertambah usia seseorang, maka ketahanan fisik dan tenaga seseorang juga tidak sekuat pada masa mudanya. Responden yang mempunyai kisaran umur 31-50 tahun ada 42 nelayan (65.63%), di mana kisaran umur ini dapat dikatakan seseorang masih dalam kondisi kesehatan yang prima.

Pendapatan nelayan skala kecil berasal dari hasil produksi yaitu penjualan ikan hasil tangkapan di laut. Kualitas ikan, ukuran, jenis, jumlah produksi akan menentukan harga ikan. Pada saat ikan dibawa ke tempat pelelangan ikan maka ikan akan ditaksir oleh juru lelang dan ditentukan harganya. Peningkatan harga jual ikan dapat dicapai jika penanganan pasca panen dilakukan dengan seksama. Alternatif pekerjaan di lokasi penelitian hampir sebagian besar berhubungan dengan sektor perikanan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Sifat sumber daya perikanan yang bersifat sebagai milik umum dan bergerak dinamis (Bryant and Bailey 2001, Kusnadi 2003) juga akan mempengaruhi konsistensi pendapatan nelayan (Kusnadi 2003)

Strategi prioritas pengembangan perikanan pantai di Kota Tegal yaitu pengembangan alat tangkap secara mandiri mempunyai rasio kepentingan (RK) paling besar yaitu 0.299 diantara strategi-strategi lainnya. Alat tangkap merupakan sarana penangkapan ikan yang penting, pengembangan alat tangkap secara mandiri menjadikan nelayan mandiri / tidak tergantung pihak lain dalam hal pengadaan alat tangkap. Nelayan mempunyai alat tangkap cadangan / lainnya disamping alat tangkap utama. Kriteria alat tangkap yang baik dapat dinilai dari aspek lingkungan, teknis, ekonomis. Aspek teknologi alat tersebut dapat mempertahankan kelestarian sumberdaya dan habitatnya, segi operasional pembuatan dan pengoperasiannya, serta manfaat ekonomis yang dapat diberikan kepada pengguna teknologi tersebut (Abdullah-Bin-Farid et al. 2013). Inovasi yang dilakukan oleh nelayan umumnya disesuaikan dengan kondisi perairan dan lingkungan di mana alat tangkap tersebut akan digunakan. Sebagai contoh alat tangkap Arad yang digunakan oleh nelayan di Kota Tegal merupakan hasil modifikasi alat tangkap pukat harimau / jaring trawl. Jaring trawl ini telah dilarang pengoperasiannya oleh pemerintah, berdasarkan Keppres No.39/1980 yaitu merupakan pukat hela yang dianggap merusak lingkungan.

98

Simpulan

Hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Total skor faktor internal (IFAS) dan total skor faktor eksternal (EFAS) dari pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal berada pada kisaran 2 – 3 (masing-masing 2.53 dan 3.09), sehingga kondisi pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal saat ini termasuk kategori ”cukup baik”, dan masih dalam pertumbuhan yang stabil.

2. Beberapa strategi prioritas pengembangan perikanan pantai di Kota diurutkan mulai dari tingkat urutan terpentingnya sebagai berikut:

1. Pengembangan alat tangkap secara mandiri (PATSM).

2. Strategi pengawasan bersama keamanan alat tangkap (PBKAT). 3. Optimalisasi penangkapan ikan pada saat harga jual ikan naik

(OPIHJN).

4. Pemanfaatan alat tangkap bantuan untuk optimalisasi hasil tangkapan (PATBOHT).

5. Pemanfaatan dana bergulir untuk pengadaan mesin baru (PDBPM).