BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Variabel Penelitian
3. Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah prestasi (hasil) belajar kimia untuk materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Prestasi belajar yang dimaksud disini adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat dari proses pembelajaran dikelas pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, yang mengakibatkan perubahan diri siswa yang disimbolkan dalam bentuk nilai. Prestasi belajar dalam penelitian ini
commit to user
meliputi dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif adalah domain belajar yang dapat dilihat melalui kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, dan mengaplikasi. Sementara, aspek afektif adalah perilaku yang tercermin dalam bentuk bahasa tubuh yang merupakan aktualisasi pengalaman, perasaan, minat, sikap, dan emosi seseorang yang muncul saat terjadi proses interaksi.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Instrumen pelaksanaan pembelajaran
Pada penelitian ini penulis menggunakan silabus Silabus, Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa.
2. Instrumen Pengambilan Data
Dalam pengambilan data instrumen yang digunakan adalah tes prestasi belajar kognitif dan angket prestasi belajar afektif, tes kemampuan matematik siswa, dan angket gaya belajar.
F. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penilitian ini adalah tes dan angket.
1. Metode tes
Metode tes digunakan untuk mendapatkan data nilai prestasi belajar kognitif siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dan data kemampuan
commit to user
matematik siswa, pada kelas XI IPA Semester 1 SMA Negeri 1 Boja tahun pelajaran 2010/2011.
2. Metode Angket
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis angket langsung dan tertutup, karena daftar pertanyaan diberikan langsung kepada responden dan jawabannya sudah disediakan, sehingga responden tinggal memilih jawaban yang ada. Metode angket ini digunakan untuk mendapatkan data gaya belajar siswa dan nilai prestasi belajar afektif pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
G. Uji Coba Instrumen Penelitian 1. Uji Coba Instrumen Tes
a. Validitas Butir Soal
Penghitungan validitas tes dimaksudkan untuk mengetahui keabsahan atau ketepatan suatu tes. Menurut Suharsimi (2001: 65), sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur sesuatu yang hendak diukur. Validitas yang diuji dalam penelitian ini adalah validitas butir soal/item. Pada validitas item sebuah soal dikatakan valid bila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total (Suharsimi, 2001: 76). Validitas butir soal dicari dengan mengkorelasikan skor masing-masing butir soal dengan skor total. Rumus yang digunakan adalah korelasi product moment Pearson, sebagai berikut:
¢⫨Ƽ ∑ ∑ ∑
∑ 2 ∑ 2 ∑ 2 ∑ 2
commit to user Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan
N = jumlah soal
X = skor tiap butir soal Y = skor total
Koefisien korelasi product momen pearson menunjukkan validitas item dari tes bentuk pilihan ganda yang selanjutnya disebut rhitung. Selanjutnya hasil perhitungan dengan korelasi product momen pearson dapat dikonsultasikan ke Tabel r Tabel. Item dikatakan valid bila harga rhitung ≥ rTabel.
Kategori interpretasi derajat validitas berdasarkan interpretasi yang dikemukakan Suharsimi Arikunto (1999 : 75) adalah :
Tabel 3.4. Kategori Validitas Butir Soal
Nilai Kategori
0,80< r11≤ 1,00 sangat tinggi 0,60<r11 ≤ 0,80 tinggi
0,40< r11≤ 0,60 cukup 0,20< r11≤ 0,40 rendah
r11≤ 0,20 sangat rendah
Untuk menghitung validitas butir soal tes kemampuan matematik dan tes prestasi kognitif dilakukan dengan menggunakan software program ANATES pilihan ganda Versi 4.0.9. Berikut ini hasil uji coba instrumen untuk mengetahui validitas butir soal yang disajikan dalam Tabel 3.5.
commit to user
Tabel 3.5. Hasil Uji Validitas Instrumen Tes
Instrumen Jumlah Valid Tidak
valid No item tidak valid Tes prestasi kognitif 30 21 9 7,9,14,17,19,20,24,25,28
Tes Kemampuan Matematik
30 23 7 1,3,12,18,22,24,28
Dari Tabel 3.5 terlihat bahwa pada prestasi belajar kognitif, terdapat 9 soal yang tidak valid. Soal-soal yang tidak valid tersebut tidak dipakai dalam penelitian, sedangakan soal yang valid ada 21 butir soal. Jumlah soal yang dipakai untuk pengambilan data penelitian sebanyak 20 soal, jadi terdapat 1 butir soal yang valid tidak digunakan dalam penelitian, dengan asumsi bahwa sudah ada indikator soal yang mewakili, yaitu soal nomor 13. Hasil uji validitas instrumen penilaian kognitif secara rinci dapat dilihat pada lampiran 20.
Pada tes kemampuan matematik, ada 7 item soal yang tidak valid dan soal yang valid ada 23 soal. Soal-soal yang tidak valid tersebut tidak dipakai dalam penelitian. Jumlah soal tes kemampuan matematik yang dipakai pada saat penelitian adalah 20 soal, sehingga terdapat 3 item soal yang valid juga didrop yaitu dengan nomor soal 10,19,dan 29. Hasil uji validitas tes kemampuan matematik secara lebih rinci terdapat pada lampiran 22.
c. Uji Reliabilitas
Reliabilitas instrumen menggambarkan pada kemantapan dan keajegan alat ukur yang digunakan. Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas atau keajegan yang tinggi jika dapat diandalkan (dependability) dan dapat digunakan
commit to user
untuk meramalkan (predictability). Dengan demikian, alat ukur tersebut akan memberikan hasil pengukuran yang tidak berubah-ubah dan akan memberikan hasil yang serupa apabila digunakan berkali-kali. Suatu alat ukur atau instrumen dikatakan memiliki reliabilitas yang baik apabila alat ukur tersebut selalu memberikan hasil yang sama meskipun digunakan berkali-kali, baik oleh peneliti yang sama maupun oleh peneliti yang berbeda. Oleh karena itu, pengujian reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana konsistensi atau keajegan hasil pengukuran yang digunakan.
Pengukuran reliabilitas butir soal dilakukan dengan menggunakan rumus KR-20.
¢
ژژ ژ ǴKeterangan :
r11 = koefisien reliabilitas n = banyaknya soal S = simpangan baku
p = proporsi subjek yang menjawab benar q = proporsi subjek yang menjawab salah pq = jumlah hasil pekalian antara p dan q
(Suharsimi Arikunto, 1999: 102) Kategori interpretasi derajat reliabilitas terdapat pada Tabel 3.6 sebagai berikut:
commit to user
Tabel 3.6. Kategori Reliabilitas Butir Soal
Batasan Kategori
0,80< r11≤ 1,00 sangat tinggi (sangat baik) 0,60<r11 ≤ 0,80 tinggi (baik)
0,40< r11≤ 0,60 cukup(sedang) 0,20< r11≤ 0,40 rendah (kurang)
r11≤ 0,20 sangat rendah (sangat kurang) Dibawah ini merupakan Tabel uji reliabilitas instrumen secara keseluruhan.
Tabel 3.7. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes
No. Instrumen Reliabilitas Kriteria
1. Prestasi Kognitif 0,79 tinggi
2. Kemampuan Matematika 0,83 sangat Tinggi
Tabel 3.7. menunjukkan bahwa instrumen Prestasi kognitif memiliki kriteria uji reliabilitas tinggi, sedangkan kemampuan matematika memiliki kriteria uji reliabilitas sangat tinggi. Dengan demikian, kedua instrumen pengambilan data tersebut memenuhi syarat uji coba reliabilitas instrumen sehingga dapat digunakan untuk mengambil data penelitian.
C. Uji Taraf Kesukaran Butir Soal
Soal yang baik untuk digunakan sebagai alat ukur adalah soal yang mempunyai derajat kesukaran yang memadai, dalam arti soal tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah. Derajat kesukaran soal dapat ditunjukkan dengan indeks
commit to user
kesukaran, yaitu bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal.
Indeks kesukaran soal dihitung dengan menggunakan persamaan :
%
Untuk menghitung daya pembeda atau indeks kesukaran tes prestasi kognitif dan tes kemampuan matematik dilakukan dengan menggunakan software program ANATES pilihan ganda Versi 4.0.9. Kategori interpretasi nilai indeks kesukaran menurut Karno To adalah:
Tabel 3.8. Kategori Indeks Kesukaran karena instrumen tes ini akan digunakan untuk mengukur kemampuan siswa.
Dengan demikian, perlu adanya gambaran dari hasil uji taraf kesukaran ini untuk mengetahui distribusi tingkat kesukaran soal. Suatu instrumen tes dikatakan
commit to user
memiliki distribusi tingkat kesukaran soal yang baik jika soal dengan kategori sedang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan soal kategori sulit dan mudah. Hasil Uji Taraf Kesukaran Soal Instrumen Kognitif dan Kemampuan Matematik terangkum dalam Tabel 3.9 dibawah ini :
Tabel 3.9. Hasil Uji Taraf Kesukaran Instrumen tes No. Instrumen Tes Tingkat
Kesukaran Nomor Soal Jumlah
1. Prestasi Kognitif Sukar 7,9,15,28 4
Pada instrument tes kognitif diatas yang mempunyai tingkat kesukaran sukar terdapat pada nomor 7,9 dan 8, dari ketiga soal diatas tidak valid, tetapi pada soal nomor 15 valid sehingga digunakan untuk penelitian, sedangkan nomor soal dengan kategori soal sedang yang tidak valid berdasarkan Tabel diatas adalah soal nomor 13,14,17,19,20,24,25 soal tersebut tidak dipakai untuk penelitian, dan nomor soal dengan kategori mudah semuanya valid sehingga digunakan pada saat penelitian.
Pada instrument tes kemampuan matematik diatas yang mempunyai tingkat kesukaran sukar terdapat pada nomor 12,22 dan 28, dari ketiga soal diatas tidak valid sehingga soal tersebut tidak digunakan untuk penelitian, sedangkan nomor soal dengan kategori soal sedang yang tidak valid berdasarkan Tabel diatas adalah
commit to user
soal nomor 18, dan nomor soal dengan kategori soal mudah yang tidak valid berdasarkan Tabel diatas nomor 1,3,24, soal yang tidak valid tersebut tidak digunakan untuk penelitian, tetapi pada soal nomor 10,15,29 valid tetapi tidak digunakan pada saat penelitian.
Berdasarkan hasil uji instrumen kognitif dan kemampuan matematik diatas menunjukkan hasil instrumen tes yang memiliki distribusi tingkat kesukaran soal yang baik, karena kategori sedang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan soal kategori sulit dan mudah. Hasil uji taraf kesukaran soal instrumen penilaian kognitif secara rinci dapat dilihat pada lampiran 20.
d. Uji Daya Pembeda Butir Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah.
Untuk menghitung daya pembeda atau indeks diskriminan dilakukan dengan membagi tiga subjek menjadi 27% kelompok atas, 46% kelompok sedang dan 27% kelompok bawah. Pembagian kelompok ini dengan cara mengurutkan nilai siswa dari yang tertinggi sampai yang terendah. Dalam menentukan daya pembeda tiap butir soal digunakan rumus berikut:
%
IA = Jumlah Skor Ideal salah satu kelompok pada butir soal yang diolah
commit to user
Kategori Indeks daya pembeda soal menurut Suharsimi Arikunto dapat diklasifikasikan pada Tabel 3.10. sebagai berikut :
Tabel 3.10. Kategori Indeks Daya Pembeda Indeks Daya Pembeda Kriteria
negatif – 20 % Jelek
21 % – 40 % Cukup
41 % – 70 % Baik
71% - keatas Sangat baik
Penghitungan daya pembeda atau indeks diskriminan tes kemampuan awal dan prestasi kognitif dilakukan dengan menggunakan software program ANATES pilihan ganda Versi 4.0.9. Berikut ini rangkuman hasil uji coba instrumen untuk mengetahui indeks daya beda butir soal yang disajikan dalam Tabel 3.11. dibawah ini :
Tabel 3.11. Hasil Uji Coba Indeks Daya Beda Instrumen Tes No. Instrumen 16,67% dari keseluruhan soal tes prestasi kognitif yang ada, yang mana soal yang mempunyai daya beda jelek terdapat pada soal 7,17,19,20,24,25,28, keseluruhan soal tersebut tidak valid dan tidak digunkan dalam penelitian. Sementara itu,
commit to user
instrumen tes kemampuan matematik dengan kualifikasi daya beda jelek hanya berjumlah lima soal atau sebesar 13,33% dari keseluruhan soal kemampuan matematik yang ada, terdapat pada nomor soal 1,3,18,24,28. Sementara itu untuk instrument tes prestasi kognitif yang mempunyai daya beda cukup dan tidak valid terdapat pada nomor 9,14 dan pada instrumen tes kemampuan matematik terdapat pada nomor 12,22, keseluruhan soal tersebut tidak digunkan dalam penelitian.
Secara umum dapat disimpulkan kedua instrumen tes tersebut telah memenuhi uji daya beda sehingga cukup untuk dapat membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai.
2. Uji Coba Instrumen Angket
Validasi tidak hanya dilakukan pada instrumen tes, instrumen yang berupa angketpun harus divalidasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Analisis instrumen angket sebagai berikut:
a. Validitas angket
Validasi terhadap butir-butir soal dicari dengan mengkorelasikan skor masing-masing butir soal dengan skor total. Validasi terhadap butir-butir soal angket dicari dengan mengkorelasikan skor masing-masing butir soal dengan skor total. Rumus yang digunakan adalah korelasi product moment Pearson, sebagai berikut:
¢ ∑ ∑ ∑
∑ ∑ ∑ ∑
commit to user Koefisien korelasi product momen pearson menunjukkan validitas item angket yang selanjutnya disebut rhitung. Selanjutnya hasil perhitungan dengan korelasi product momen pearson dapat dikonsultasikan ke tabel r tabel. Item dikatakan valid bila harga rhitung ≥ rTabel. Penghitungan validitas item angket dilakukan dengan menggunakan software program ANATES Uraian Versi 4.0.5. Kategori validitas instrumen angket sama halnya dengan kategori validitas instrumen tes pada Tabel 3.4. Berikut ini hasil uji coba instrumen untuk mengetahui validitas angket yang disajikan dalam Tabel 3.12.
Tabel 3.12. Hasil Uji Validitas Instrumen Angket
No
commit to user
Pada angket gaya belajar visual , ada 4 item soal yang tidak valid, yaitu soal nomor 3,5,8 dan 15. Untuk soal nomor 5 dan 15 tidak dipakai dalam penelitian, sedangkan pada soal nomor 3 dan 8 direvisi dengan cara memperbaiki atau mengubah redaksi kalimat soal. Sedangkan untuk angket kinestetik terdapat 5 butir soal yang tidak valid, yaitu soal nomor 1,9,14,19,24. Untuk soal nomor 14 dan 24 tidak dipakai dalam penelitian, sedangkan pada soal nomor 1,9 dan 19 direvisi dengan cara memperbaiki atau mengubah redaksi kalimat soal. Soal- soal tersebut direvisi untuk memenuhi kebutuhan indikator soal karena hanya terdapat satu soal pada indikator. Hasil uji validitas angket gaya belajar secara lebih rinci terdapat pada lampiran 23.
Pada angket prestasi afektif terdapat 14 soal yang tidak valid, dan soal-soal yang tidak valid tersebut didrop selebihnya soal yang valid dipakai pada saat penelitian. Hasil uji validitas prestasi afektif secara lebih rinci terdapat pada lampiran 21.
b. Reliabilitas instrumen angket
Reliabilitas berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Pengukuran reliabilitas angket dilakukan dengan menggunakan rumus Alpha.
¢
ژژ ژ1
∑Keterangan :
n = jumlah soal
∑ 2 = jumlah varians skor tiap-tiap item
2 = varians total
.
commit to user
Tabel 3.13. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Angket No. Instrumen Reliabilitas Kriteria
1. Gaya Belajar Visual 0,85 Sangat tinggi Gaya Belajar Kinestetik 0,76 Tinggi
2. Prestasi Afektif 0,92 Sangat tinggi
H. Teknik Analisis Data 1. Uji Prasyarat Analisis
Dalam penelitian ini untuk menganalisa data digunakan analisis varian (anava) tiga jalan. Namun sebelum dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Teknik analisis data menggunakan Analisis Varians (Anava) tiga jalan 2 x 2 x 2 dengan variabel bebas, media , kemampuan matematik dan gaya belajar.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data prestasi belajar, kemampuan matematikdan gaya belajar berdistribusi normal atau tidak.
Adapun prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Menentukan hipotesis
Hipotesis nol (H0) adalah sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal, dan hipotesis alternatif (H1) adalah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2) Menetapkan uji statistik
Uji normalitas terhadap prestasi belajar dilakukan dengan menggunakan program SPSS 15,0.
commit to user 3) Menentukan taraf signifikansi α
Taraf signifikansi merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Pada uji normalitas ini taraf signifikansi (α) ditetapkan = 0,05 atau 5%.
4) Menetapkan keputusan uji
Keputusan uji normalitas ditentukan dengan kriteria uji: tolak hipotesis nol, jika p value > 0,05.
b. Uji Homogenitas
Untuk mengetahui bahwa sampel berasal dari populasi yang homogen atau tidak maka dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dihitung menggunakan software program SPSS 15. Adapun langkah-langkah uji homogenitas sebagai berikut:
1) Penentuan Hipotesis
H0 = sampel berasal dari populasi tidak homogen H1 = sampel berasal dari populasi homogen
2) Uji Statistik
Keputusan uji homogenitas ditentukan dengan kriteria uji: tolak hipotesis nol, jika p value > 0,05.
commit to user 2. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji anava tiga jalan dan uji lanjut anava jika antar metode pembelajaran, kemampuan matematik, dan gaya belajar terdapat pengaruh yang signifikan.
a. Uji Anava
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis yang telah diajukan ditolak atau diterima. Rancangan uji hipotesis ini terdiri dari tiga variabel bebas yang meliputi metode pembelajaran, kemampuan matematika dan gaya belajar. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode Problem Based Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real (A1) dan menggunakan laboratorium virtual (A2). Kemampuan matematik dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu kategori tinggi (B1) dan kategori rendah (B2). Gaya belajar siswa dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu kategori visual (C1) dan kategori kinestetik (C2). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar kimia siswa pada aspek kognitif dan afektif. Desain data prestasi kognitif dengan uji anava 3 jalan 2x2x2 terdistribusi seperti pada Tabel 3.14. dibawah ini :
Tabel 3.14 Desain Data Prestasi Kognitif
commit to user Keterangan :
A = Metode pembelajaran A1 = Laboratorium real A2 = Laboratorium virtual B = Kemampuan matematik B1 = Kemampuan matematik tinggi B2 = Kemampuan matematik rendah C = Gaya belajar
C1 = Gaya belajar visual C2 = Gaya belajar kinestetik
Desain penelitian tersebut terbentuk matrik yang terdiri dari 8 sel. Secara umum setiap selnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
A1B1C1 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi dan gaya belajar visual yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real.
A1B1C2 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi dan gaya belajar kinestetik yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real.
A1B2C1 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah dan gaya belajar visual yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real.
commit to user
A1B2C2 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah dan gaya belajar kinestetik yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real.
A2B1C1 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi dan gaya belajar visual yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium virtual.
A2B1C2 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi dan gaya belajar kinestetik yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium virtual.
A2B2C1 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah dan gaya belajar visual yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium virtual.
A2B2C2 = kelompok siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah dan gaya belajar kinestetik yang diperlakukan dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium virtual.
Tabel 3.15. Desain Data Prestasi Afektif Kemampuan Matematik ( B )
commit to user
Seperti pada Tabel 3.14, masing-masing sel atau kotak pada Tabel 3.15.
juga berisi lambang yang berbeda-beda. Lambang-lambang tersebut menunjukkan interaksi antar ketiga variabel terhadap prestasi afektif. Sel pertama dengan lambang A1 B1 C1 menunjukkan interaksi antar metode pembelajaran PBL, kemampuan matematik, dan gaya belajar terhadap prestasi afektifnya. Artinya, pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang dibelajarkan dengan metode PBL dengan menggunakan laboratorium real (A1), memiliki kemampuan matematika kategori tinggi (B1), dan gaya belajar visual (C1). Sel kedua dengan lambang A2
B1 C1 mengandung pengertian bahwa pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang dibelajarkan dengan metode PBL dengan menggunakan laboratorium virtual (A2), memiliki kemampuan matematika kategori tinggi (B1), dan gaya belajar visual (C1). Begitu pula dengan sel-sel yang lainnya.
Pengujian hipotesis prestasi kognitif dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1) Menentukan hipotesis
Dari analisis data penelitian, dapat ditentukan H0 sebagai berikut :
a) H0A : Tidak ada pengaruh penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual terhadap prestasi belajar siswa.
H1A : Ada pengaruh penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual terhadap prestasi belajar siswa.
b) H0A : Tidak ada pengaruh kemampuan matematik siswa yang tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa.
commit to user
H1A : Ada pengaruh kemampuan matematik siswa yang tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa.
c) H0A :Tidak ada pengaruh gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik terhadap prestasi belajar siswa.
H1A : Ada pengaruh gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik terhadap prestasi belajar siswa.
d) H0A : Tidak ada interaksi antara penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar siswa.
H1A : Ada interaksi antara penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual dengan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar siswa.
e) H0A : Tidak ada interaksi antara penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa.
H1A : Ada interaksi antara penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa.
f) H0A : Tidak ada interaksi antara kemampuan matematik dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa.
H1A : Ada interaksi antara kemampuan matematik dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa.
commit to user
g) H0A : Tidak ada interaksi antara penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual , kemampuan matematik dan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa.
H1A : Ada interaksi antara penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab. real dan virtual , kemampuan matematik dan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa.
2) Menentukan statistik uji
Statistik uji menggunakan Tests of Between-Subjects Effects atau uji F. Ketentuan pengambilan kesimpulan, H0 ditolak ketika P-value < 0,05. Tingkat signifikansi (a) yang digunakan 0,05.
3) Uji lanjut Anava
Uji lanjut anava atau uji komparasi ganda dilakukan apabila terdapat Ho yang ditolak. Uji lanjut yang dilakukan menggunakan Uji mean dan Uji Scheefe.
Uji mean (uji rata-rata) dilakukan untuk mengetahui perbedaan mana yang lebih baik dari suatu variabel, sedangkan hipotesis Uji Scheefe digunakan untuk pengujian hipotesis interaksi dari suatu variabel. Apabila terdapat perbedaan maka setelah dilakukan uji scheffe dilanjutkan dengan uji mean agar mengetahui bentuk interaksinya.
b. Uji Prestasi Afektif
Pengujian hipotesis prestasi afektif dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
commit to user 1) Menentukan hipotesis
a) Hipotesis nol (H0)
H01: Tidak ada pengaruh penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) dengan lab real dan virtual terhadap prestasi afektif siswa.
H02: Tidak ada pengaruh kemampuan matematik kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi afektif siswa.
H03: Tidak ada pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi afektif siswa.
b) Hipotesis alternatif (H1)
H11: Ada pengaruh penggunaan pendekatan Problem Based Learning (PBL) dengan lab real dan virtual terhadap prestasi afektif siswa.
H12: Ada pengaruh kemampuan matematik tinggi dan kemampuan matematik rendah terhadap prestasi afektif siswa.
H12: Ada pengaruh kemampuan matematik tinggi dan kemampuan matematik rendah terhadap prestasi afektif siswa.