• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011) TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "(Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011) TESIS"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user i

MATEMATIK DAN GAYA BELAJAR SISWA

(Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011)

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Sains

Minat Utama: Kimia

Oleh:

SEPTI APRILIA S831008052

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2011

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user ii

MATEMATIK DAN GAYA BELAJAR SISWA

(Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011)

Disusun oleh : SEPTI APRILIA

(S831008052)

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing

Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal

Pembimbing I Prof.Dr.H.Widha Sunarno, M.Pd.

NIP. 195201161980031001 ……… ………

Pembimbing II Prof. Dr. H. Ashadi

NIP. 195101021975011001 ………. ………

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan Sains,

Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd.

NIP. 195201161980031001

(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user iii

MATEMATIK DAN GAYA BELAJAR SISWA

(Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011)

Disusun oleh : SEPTI APRILIA

(S831008052)

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Penguji :

Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal

Ketua Dra. Suparmi, M.A., Ph.D.

NIP. 195209151976032001 Sekretaris Dr. M. Masykuri, M.Si.

NIP. 196811241994031001 Anggota Penguji :

1. Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd.

NIP. 195201161980031001 2. Prof. Dr. H. Ashadi

NIP 195101021975011001

Surakarta, Oktober 2011 Mengetahui,

Direktur Program Pascasarjana, Ketua Program Studi Pendidikan Sains,

Prof. Drs. Suranto, M.Sc.,Ph.D. Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd.

NIP. 195708201985031004 NIP. 195201161980031001

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user iv Nama : Septi Aprilia

NIM : S831008052

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul Pembelajaran Kimia Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dengan Menggunakan Laboratorium Real dan Laboratorium Virtual ditinjau dari Kemampuan Matematik dan Gaya Belajar Siswa (Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011) adalah betul-betul karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam tesis ini diberi citasi dan ditunjukan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademis berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

Surakarta, Oktober 2011 Yang membuat pernyataan,

Septi Aprilia NIM. S831008052

(5)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user v

cita-cita yang indah dan sekarang adalah kenyataan yang sedang terjadi”

(Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni)

Yakinlah bahwa segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik.

(Septi Aprilia)

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user vi

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya.

Dengan kerendahan hati kupersembahkan lembaran-lembaran sederhana ini kepada:

à Teristimewa untuk papa dan mamaku tercinta, terimakasih yang telah membesarkanku, mendidikku, mendoakanku, memberiku semangat, cinta dan kasih sayang, serta mengajariku arti hidup. Segala perjuangan dan pengorbanan yang telah kalian lakukan tak akan terlupakan dan semoga Allah SWT membalas semua jasamu.

à Kedua Adikku Tersayang, Lita Andes Clara dan Adi Guna Aji W yang selalu memberikanku keceriaan dan semangat.

à Guru-guruku yang telah membimbingku, mengajariku dan memberikanku ilmu yang insya Allah sangat bermanfaat.

à Seluruh keluarga besar yang turut membantu keberhasilanku.

Almamaterku tercinta...

(7)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user vii

rahmat dan karunia–Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul : Pembelajaran Kimia Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dengan Menggunakan Laboratorium Real dan Laboratorium Virtual ditinjau dari Kemampuan Matematik dan Gaya Belajar Siswa (Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011) dengan baik.

Dalam penyusunan tesis ini penulis menyadari tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang terkait, maka tidaklah mungkin tesis ini dapat terselesaikan.

Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S. selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan kesempatan untuk menimba ilmu pada Program Pascasarjana UNS ini.

2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan fasilitas dan dukungannya dalam menempuh pendidikan pada Program Pascasarjana.

3. Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd. selaku ketua Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Selaku Pembimbing I yang telah memberikan arahan selama penulis menyelesaikan pendidikan dan tesis ini.

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user viii telah mencurahkan segala ilmunya.

6. Kepala SMAN 1 Boja, guru beserta karyawan yang telah memberikan ijin tempat dalam penelitian ini.

7. Dinas Pendidkan Kabupaten Boja, yang telah memberikan rekomendasi penelitian.

8. Kepala SMAN 1 Limbangan, yang telah memberikan tempat untuk melaksanakan uji coba instrumen penelitian.

9. Teman-teman mahasiswa Pascasarjana Program Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan semangat dan kerjasamanya dalam menghadapi perkuliahan dan penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari, bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan. Maka demi sempurnanya penyusunan tesis ini kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Surakarta, Oktober 2011 Penulis

(9)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user ix

LEMBAR JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

PERNYATAAN... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

ABSTRAK ... xix

ABSTRACT ... xx

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Pembatasan Masalah ... 9

D. Perumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Manfaat Penelitian ... 12

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user x

2. Teori Belajar ... 15

3. Problem Based Learning (PBL) ... 21

4. Media Pembelajaran ... 28

5. Laboratorium Real ... 30

6. Laboratorium Virtual ... 31

7. Kemampuan Matematik ... 33

8. Gaya Belajar ... 34

9. Prestasi Belajar Kimia ... 37

10. Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan ... 40

B. Penelitian yang Relevan ... 48

C. Kerangka Berpikir ... 52

D. Hipotesis ... 61

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 62

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 62

B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 63

C. Metode Penelitian ... 65

D. Variabel Penelitian ... 67

1. Variabel Bebas ... 67

2. Variabel Moderator ... 68

3. Variabel Terikat ... 68

(11)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xi

1. Uji Coba Instrumen Tes ... 70

2. Uji Coba Instrumen Angket ... 79

H. Teknik Analisis Data ... 82

1. Uji Prasarat Analisis... 82

2. Uji Hipotesis ... 84

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 92

A. Deskripsi Data ... 92

1. Data Kemampuan Matematik Siswa ... 92

2. Data Gaya Belajar Siswa ... 96

3. Data Prestasi ... 101

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 108

1. Uji Normalitas ... 108

2. Uji Homogenitas ... 111

C. Pengujian Hipotesis ... 113

1. Uji Anava ... 113

2. Uji Lanjut Anava ... 116

D. Pembahasan ... 122

E. Keterbatasan Penelitian ... 136

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 138

A. Kesimpulan ... 138

(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xii

C. Saran ... 143 DAFTAR PUSTAKA ... 145 LAMPIRAN-LAMPIRAN... 149

(13)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xiii

Tabel 1.1 Daftar Nilai Prestasi Siswa Tahun 2009-2010 ... 2

Tabel 2.1 Bentuk Masalah PBL ... 23

Tabel 2.2 Sintak untuk PBL ... 24

Tabel 2.3 Tahapan Problem Based Learning ... 25

Tabel 3.1 Jadual Penelitian ... 62

Tabel 3.2 Hasil Uji Kesamaan Rerata ... 65

Tabel 3.3. Tata Letak Rancangan Data Penelitian ... 66

Tabel 3.4 Kategori Validitas Butir Soal ... 71

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrument Tes ... 72

Tabel 3.6 Kategori Reliabilitas Butir Soal ... 74

Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Instrument Tes ... 74

Tabel 3.8 Kategori Indeks Kesukaran ... 75

Tabel 3.9 Hasil Uji Taraf Kesukaran Instrumen Tes ... 76

Tabel 3.10 Kategori Indeks Daya Pembeda ... 78

Tabel 3.11 Hasil Uji Coba Indeks Daya Beda Instrument Tes ... 78

Tabel 3.12 Hasil Uji Coba Validitas Instrumen Angket ... 80

Tabel 3.13 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Angket ... 82

Tabel 3.14 Desain Data Prestasi Kognitif ... 84

Tabel 3.15 Desain Data Prestasi Afektif ... .86

Tabel 4.1 Deskripsi Data Kemampuan Matematik Siswa ... 93

Tabel 4.2 Distribusi Data Kemampuan Matematik Tinggi dan Rendah ... 93

(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xiv

Menggunkan Laboratoium Virtual ... 95 Tabel 4.5 Deskripsi Data Gaya Belajar Siswa ... 96 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Gaya Belajar Kelas Media Laboratorium Real .. 97 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Gaya Belajar Kelas Media Laboratorium Virtual 98 Tabel 4.8 Deskripsi Data Prestasi Kognitif ... 101 Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Prestasi Kognitif pada Kelas Laboratorium

Real ... .101 Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Prestasi Kognitif pada Kelas

Laboratorium Virtual ... .102 Tabel 4.11 Deskripsi Data Prestasi Kognitif ditinjau dari Media dan

Kemampuan Matematik ... 103 Tabel 4.12 Deskripsi Data Prestasi Kognitif ditinjau dari Media dan Gaya

Belajar Siswa ... 103 Tabel 4.13 Deskripsi Data Prestasi Kognitif ditinjau dari Kemampuan Matematik

dan Gaya Belajar Siswa ... 104 Tabel 4.14 Deskripsi Data Prestasi Kognitif ditinjau dari Media, Kemampuan

Matematik dan Gaya Belajar Siswa ... 104 Tabel 4.15 Deskripsi Data Prestasi Afektif ... 105 Tabel 4.16 Distribusi Frekuensi Prestasi Afektif pada Kelas Laboratorium

Real ... 105

(15)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xv

Matematik ... 107

Tabel 4.19 Deskripsi Data Prestasi Afektif ditinjau dari Media dan Gaya Belajar Siswa ... 107

Tabel 4.20 Deskripsi Data Prestasi Afektif ditinjau dari Kemampuan Matematik dan Gaya Belajar Siswa ... 107

Tabel 4.21 Deskripsi Data Prestasi Afektif ditinjau dari Media, Kemampuan Matematik dan Gaya Belajar Siswa ... 108

Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Prestasi Kognitif ... 109

Tabel 4.23 Hasil Uji Normalitas Prestasi Afektif ... 110

Tabel 4.24 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Kognitif ... 112

Tabel 4.25 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Afektif ... 112

Tabel 4.26 Rangkuman ANAVA untuk Data Prestasi Kognitif ... 113

Tabel 4.27 Rangkuman ANAVA untuk Data Prestasi Afektif ... 115

Tabel 4.28 Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 1 ... 117

Tabel 4.29 Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 2 ... 118

Tabel 4.30 Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 3 pada Prestasi Kognitif ... 118

Tabel 4.31 Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 3 pada Prestasi Afektif ... 119

Tabel 4.32 Tabel Hasil Uji Lanjut Anava Scheffe Prestasi Kognitif ... 120

Tabel 4.33 Tabel Hasil Uji Rata-Rata Hipotesis 5 ... 121

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xvi

Gambar 2.1 Larutan Jenuh Basa ... 41

Gambar 4.1 Histogram Kemampuan Matematik pada Kelas Laboratorium Real 94 Gambar 4.2.Histogram Kemampuan Matematik pada Kelas Laboratorium Virtual ... 95

Gambar 4.3. Histogram Distribusi Skor Gaya Belajar Visual Kelas Laboratorium Real ... 99

Gambar 4.4. Histogram Distribusi Skor Gaya Belajar Kinestetik Kelas Laboratorium Real ... 99

Gambar 4.5 Histogram Distribusi Skor Gaya Belajar Visual Kelas Laboratorium Virtual ... 100

Gambar 4.6 Histogram Distribusi Skor Gaya Belajar Kinestetik Kelas Laboratorium Virtual ... 100

Gambar 4.7 Histogram Prestasi Kognitif Kelas Laboratorium Real ... 102

Gambar 4.8 Histogram Prestasi Kognitif Kelas Laboratorium Virtual ... 103

Gambar 4.9 Histogram Prestasi Afektif Kelas Laboratorium Real ... 105

Gambar 4.10 Histogram Prestasi Kognitif Kelas Laboratorium Virtual ... 106

(17)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xvii

Lampiran 1 Silabus………. 150

Lampiran 2 Rpp Laboratorium Real………. 152

Lampiran 3 Rpp Laboratorium Virtual………. 172

Lampiran 4 Lks Laboratorium Real………. 192

Lampiran 5 Lks Laboratorium Virtual……… 215

Lampiran 6 Kunci Jawaban Evaluasi Lks………. 235

Lampiran 7 Kisi-Kisi Tes Prestasi Kognitif………... 244

Lampiran 8 Lambar Soal Tes Prestasi Kognitif……….. 249

Lampiran 9 Kunci Jawaban Soal Tes Kognitif………... 256

Lampiran 10 Kisi-Kisi Penyusunan Angket Afektif………. 257

Lampiran 11 Pedoman Penskoran Penilaian Afektif ………... 259

Lampiran 12 Angket Penilaian Aspek Afektif………. 260

Lampiran 13 Kisi-Kisi Kemampuan Matematik Siswa……… 264

Lampiran 14 Petunjuk Penilaian Kemampuan Matematik Siswa……… 266

Lampiran 15 Lembar Tes Kemampuan Matematik Siswa………... 267

Lampiran 16 Kunci Jawaban Kemampuan Matematik Siswa………….. 271

Lampiran 17 Kisi-Kisi Uji Coba Angket Gaya Belajar……… 272

Lampiran 18 Pedoman Penskoran Angket Gaya Belajar………. 274

Lampiran 19 Angket Gaya Belajar………... 275

Lampiran 20 Analisis Hasil Uji Coba Tes Kognitif………. 281

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xviii

Lampiran 35 Surat Keterangan Uji Coba Instrumen ... 322

Lampiran 36 Surat Keterangan Penelitian ... 323

Lampiran 24 Uji T (Kesamaan Rerata)………. 289

Lampiran 25 Data Induk Penelitian……….. 292

Lampiran 26 Uji Normalitas Prestasi Kognitif………. 296

Lampiran 27 Uji Normalitas Prestasi Afektif………... 299

Lampiran 28 Uji Homogenitas Prestasi Kognitif………. 302

Lampiran 29 Uji Homogenitas Prestasi Afektif………... 305

Lampiran 30 Hasil Pengujian Hipotesis………... 308

Lampiran 31 Uji lanjut ANAVA……….. 310 Lampiran 32

Lampiran 33 Lampiran 34

Foto Penelitian……….

Surat Ijin Uji Coba Instrumen……….

Surat Ijin Penelitian……….

313 320 321

[

(19)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xix

Virtual ditinjau dari Kemampuan Matematik dan Gaya Belajar Siswa” (Studi Kasus Pembelajaran Kimia Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Kelas XI IPA Semester II SMA N 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011). Pembimbing I:

Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd, Pembimbing II: Prof. Dr. H. Ashadi. Tesis, Surakarta: Program Studi Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode Problem Based Learning dengan menggunakan media laboratorium real dan virtual, kemampuan matematik, gaya belajar siswa dan interaksinya terhadap prestasi belajar siswa.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2010/2011. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling sejumlah 2 kelas, kelas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2 yang diberi pembelajaran dengan media laboratorium virtual dan real. Data dikumpulkan dengan metode tes untuk prestasi belajar kognitif dan kemampuan matematik siswa, sedangkan angket untuk prestasi belajar afektif dan gaya belajar siswa. Pengujian hipotesis menggunakan Anova tiga jalan sel tak sama dengan desain faktorial 2x2x2.

Dari hasil olah data disimpulkan: 1) ada pengaruh penggunaan media laboratorium real dan virtual terhadap prestasi belajar kognitif siswa, tetapi tidak ada pengaruh penggunaan media laboratorium real dan virtual terhadap prestasi belajar afektif siswa, 2) ada pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif siswa, tetapi tidak ada pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi belajar afektif siswa, 3) ada pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa, 4) tidak ada interaksi antara media dan kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa, 5) ada interaksi antara media dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif siswa, tetapi tidak ada interaksi antara media dan gaya belajar terhadap prestasi belajar afektif siswa, 6) tidak ada interaksi antara kemampuan matematik dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa, 7) tidak ada interaksi antara media, kemampuan matematik dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa.

Kata Kunci :Metode PBL dengan Media Lab. Real dan Virtual, Kemampuan Matematik, Gaya Belajar, Prestasi Belajar Kognitif dan Afektif, Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan.

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user xx

Learning Styles" (Case Study on Solubilities and Solubility Products of Chemical- Learning in the class of XI IPA of Semester II State of Senior High School 1 Boja Academic Year 2010/2011). Advisor 1: Prof. Dr. H. Widha Sunarno,M.Pd., Advisor 2 : Prof. Dr. H. Ashadi. Thesis: Science Education Program, Postgraduate program, Surakarta Sebelas Maret University.

The purposes of the research were to know the effect of Problem Based Learning method using real and virtual laboratory, mathematical ability, student learning styles and their interaction toward student achievement.

The research used experimental method. The population was all of the students in grade XI IPA, SMAN 1 Boja Academic Year 2010/2011. The Sample was

obtained by cluster random sampling and consisting of two classes, XI IPA 1 and XI IPA 2, which used virtual and real media respectively. The data of students’

cognitive achievement and mathematical ability were collected using achievement tests method. The data of affective students’ achievement and student learning style were collected using questionnaire. The data was analyzed using three ways Anova with 2x2x2 factorial design.

Based on the results of data analysis can be concluded that: 1) there was an effect of real and virtual laboratory toward students’ cognitive achievement but there was not effect of real and virtual laboratoty toward students’ affective achievement, 2) there was an effect of mathematics ability toward students’ cognitive achievement but there was no effect of mathematical ability toward students’ affective achievement, 3) there was the effect of learning style toward students’ cognitive and affective achievement, 4) there was no interaction between media and mathematical ability toward student’s cognitive and affective achievement, 5) there was an interaction between media and learning styles toward students' cognitive achievement but there was no interaction between media and learning styles toward students' affective achievement, 6) there was no interaction between mathematical

ability and learning style toward students’ cognitive and affective achievement, 7) there was no interaction among media, mathematical ability, and learning styles

toward students’ cognitive and affective achievement.

Keywords: Problem Based Learning with Real and Virtual Laboratory, Mathematical Ability, Learning Styles, Cognitive and Affective Achievement, Solubilities and Solubility Products.

(21)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan proses aktualisasi peserta didik melalui berbagai pengalaman belajar yang telah mereka dapatkan. Di dalamnya terdapat kegiatan pembelajaran yang merupakan kegiatan pokok dari seluruh rangkaian proses pendidikan di sekolah. Menurut Syaiful Sagala (2008:3) ” Pendidikan ialah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup, dan umumnya pengajaran dilakukan disekolah sebagai lembaga formal”.

Jadi, kualitas pendidikan sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas dan terampil agar bisa bersaing secara terbuka di era global.

Pendidikan menuntut adanya pembenahan dan penyempurnaan terhadap aspek subtansif yang mendukungnya, yaitu kurikulum dan tenaga profesional yang melaksanakan kurikulum tersebut yaitu guru.

Kurikulum pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan.

Kurikulum yang digunakan untuk saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau biasa disebut dengan KTSP. Dengan sistem ini diharapkan penilaian dapat menyeluruh dan berkesinambungan. Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif tetapi juga mancakup ranah afektif dan psikomotor. Berdasarkan KTSP, siswa harus memiliki kompetensi dalam semua mata pelajaran setelah proses pembelajaran.

(22)

commit to user

Materi kimia merupakan materi yang dianggap sulit bagi siswa, terutama materi kimia yang bersifat hitungan seperti : termokimia, laju reaksi, kesetimbangan kimia, materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, akan tetapi diantara prestasi yang didapatkan tersebut yang paling dianggap sulit adalah materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Hal tersebut terbukti dari prestasi belajar siswa yang masih rendah, salah satunya terjadi di SMAN 1 Boja. Prestasi belajar siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan tahun pelajaran 2008- 2009 masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu siswa mencapai nilai ≥ 70, yang ditunjukkan pada tabel. 1.1. di bawah ini :

Tabel 1.1. Daftar Nilai Prestasi Siswa pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan di SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2008-2009

No Kelas Nilai rata-rata nilai ≤ KKM (%)

1. XI IPA 1 67,24 47,62

2. XI IPA 2 68,47 52,38

3. XI IPA 3 61,02 90,24

Salah satu penyebab belum tercapainya ketuntasan belajar pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, dikarenakan kegiatan pembelajaran kimia yang berlangsung di kelas masih menitikberatkan kepada guru sebagai pemeran utama dalam pembelajaran. Guru lebih banyak menjelaskan dan memberi informasi, sedangkan peserta didik hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan dari guru

(23)

commit to user

saja. Hal ini sesuai dengan pendapat Sofan Amri (2010:139) :

Salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi pendidikan Indonesia saat ini adalah berkenaan dengan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang dipandang masih belum efektif, guru masih terjebak dalam praktik mengajar yang cenderung membosankan. Dalam berinteraksi dengan siswa, posisi guru terasa masih sangat dominan, sementara siswa berada pada posisi yang tidak berdaya, pendekatan dan metode yang digunakan tampak kurang bervariasi, biasanya hanya mengandalkan bentuk ceramah.

Metode yang seperti ini, dapat mengakibatkan siswa cenderung malas dan tidak aktif dalam kegiatan pembelajaran, mereka lebih terbiasa menerima informasi tanpa berusaha untuk mengembangkan potensi diri yang mereka miliki.

Sementara, orientasi pembelajaran kimia perlu lebih ditujukan kepada peran aktif siswa untuk belajar dan guru hanya sebagai fasilitator pembelajaran. Hal ini berarti harus ada perubahan dalam proses pembelajaran kimia, yakni dari yang semula guru menetapkan apa yang akan dipelajari (teacher centered) menjadi bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman siswa (student centered).

Selain itu, di SMAN 1 Boja sudah memiliki laboratorium yang lengkap, seperti laboratorium kimia, fisika, biologi, bahasa, dan lain-lain. Namun, laboratorium tersebut khususnya laboratorium kimia jarang dipergunakan dalam proses pembelajaran, dengan alasan alat dan bahan yang dipergunakan untuk media pembelajaran tidak lengkap, bahkan banyak alat-alat yang sudah rusak karena usia yang sudah terlalu tua atau kurangnya perawatan. Oleh karena itu, perlu diadakan penanganan secara nyata dari guru agar laboratorium yang ada dapat dimanfaatkan dan dipergunakan dengan baik, karena kegiatan pembelajaran di laboratorium memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran kimia. Dengan proses belajar yang dilakukan di laboratorium, siswa dapat

(24)

commit to user

melakukan dan mengamati percobaan secara langsung sehingga diharapkan siswa akan aktif dalam proses pembelajaran dan dapat menemukan sendiri konsep- konsep materi yang sedang mereka pelajari. Di samping pemanfaatan laboratorium IPA yang kurang maksimal disekolah, fasilitas lain seperti laboratorium komputer (labkom) juga belum dipergunakan secara maksimal dalam proses pembelajaran. Fasilitas elektronik canggih ini kebanyakan baru dipergunakan sebagai media pembelajaran salah satu mata pelajaran tertentu seperti Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saja. Jika kita lihat faktanya, ilmu pengetahuan dan teknologi itu mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin lama semakin maju, untuk itu siswa perlu dibekali kompetensi yang memadai supaya siswa dapat menyesuaikan diri dengan perubahan atau inovasi dalam memasuki dunia teknologi.

Pada beberapa tahun terakhir, tidak sedikit materi pembelajaran yang dapat disampaikan dengan menggunakan media komputer. Menurut Azhar Arysad (2006:15) ”pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa”. Dengan menggunakan komputer siswa menjadi lebih termotivasi karena penggunaan komputer mempunyai tampilan yang menarik seperti gambar, warna, dan musik. Selain itu, media komputer dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru. Penggunaan media komputer dalam proses pembelajaran mengajarkan tentang konsep-konsep yang

(25)

commit to user

abstrak yang kemudian dikonkretkan dalam bentuk audio dan visual, dan pada akhirnya penggunaan komputer dapat menjadi pilihan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif dikelas untuk menunjang keberhasilan dalam pembelajaran kimia.

Berdasarkan beberapa uraian permasalahan di atas, dalam proses pembelajaran strategi maupun metode pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam memilih metode pembelajaran yang tepat, guru harus memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, dan fasilitas-media yang tersedia, karena memang dalam membelajarkan konsep kimia yang kompleks, sangat penting bagi guru untuk memperhatikan sifat dan karakteristik materi bahan ajar yang akan disampaikan kepada siswa. Ada banyak pilihan metode pembelajaran kimia inovatif untuk membelajarkan konsep kimia yang bersifat abstrak, namun belum banyak dipraktikkan oleh para guru di kelas, antara lain:

metode eksperimen, demonstrasi, Problem Based Learning (PBL) Inkuiri, CTL, peer tutoring (tutor sebaya), jigsaw, STAD, TGT, dan lain-lain.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan sesuai dengan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan adalah dengan menggunaan metode Problem Based Learning (PBL). PBL merupakan salah satu pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. Melalui PBL diharapkan prestasi belajar kimia siswa dapat lebih baik dan meningkat. Hal tersebut mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Johannes Strobel &

Angela van Barneveld (2009: 53-55) yang menyatakan bahwa siswa yang diajar dengan PBL mengungguli siswa yang diajarkan dengan cara tradisional. Hasil

(26)

commit to user

penelitian tersebut menunjukkan prestasi belajar siswa lebih baik apabila menggunakan metode PBL. Selain penggunaan metode, agar lebih efektif dan menarik perhatian siswa dapat menggunakan berbagai media antara lain animasi, modul, peta konsep, komik, laboratorium real, laboratorium virtual dan lain-lain.

Media pembelajaran yang digunakan tentu saja harus memperhatikan kondisi siswa dan kondisi sekolah. Guru sebagai fasilitator harus dapat menentukan media pembelajaran apa yang sesuai.

Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah media laboratorium real dan laboratorium virtual. Dengan menggunakan kedua media ini maka fasilitas laboratorium seperti laboratorium IPA dan laboratorium komputer dapat dimanfaatkan dengan baik dan prestasi siswa akan lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi siswa yang pembelajarannya menggunakan metode ceramah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Cengiz Tuysuz (2010:37- 53), yaitu menyebutkan bahwa “dengan menggunakan laboratorium virtual mengakibatkan dampak positif terhadap prestasi dan sikap siswa dibandingkan dengan menggunakan metode tradisional”.

Keberhasilan dalam pembelajaran kimia, selain dipengaruhi metode dan media pembelajaran, juga dapat dipengaruhi oleh faktor internal yang mempunyai pengaruh dalam proses belajar mengajar. Faktor internal siswa antara lain adalah kreativitas, kemampuan matematik, sikap ilmiah, gaya belajar, motivasi belajar, dan lain-lain. Dalam hal ini peneliti mencoba untuk melihat dari kemampuan matematik siswa, karena kemampuan matematik sangat diperlukan dalam mempelajari kimia terutama pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang

(27)

commit to user

kebanyakan bersifat hitungan. Namun, sejauh ini guru sangat jarang memperhatikan aspek-aspek tersebut. Guru hanya fokus pada penyampaian materi tanpa memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa dalam menguasai materi kimia.

Selain kemampuan matematik, tingkatan daya serap siswa dalam menerima pembelajaran sudah pasti berbeda-beda, ada siswa yang menerima pelajaran dengan cepat, sedang dan ada yang lambat. Sebagian siswa dapat menerima pelajaran dengan mudah ketika guru menulis dipapan tulis dengan demikian siswa dapat membaca dan memahaminya, tetapi ada siswa yang lebih suka guru mereka dengan lisan, karena mereka dapat mendengarkan untuk bisa memahaminya, tetapi ada pula siswa yang cenderung melakukan gerakan pada saat guru memberikan pelajaran. Dengan kata lain, setiap siswa memiliki gaya belajar tertentu dalam menerima dan menyerap informasi pelajaran hingga menghasilkan suatu bentuk pengetahuan. Gaya belajar tersebut berupa gaya belajar visual, gaya belajar audio dan gaya belajar taktual atau kinestetik, dan selama ini guru kurang memperhatikan gaya belajar siswa yang berbeda-beda.

Bertolak dari uraian di atas maka penulis ingin mengadakan penelitian tentang pengaruh pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan menggunakan media laboratorium real dan virtual terhadap prestasi belajar kimia siswa baik aspek kognitif, maupun aspek afektif bagi siswa yang mempunyai kemampuan matematik dan gaya belajar yang berbeda-beda.

(28)

commit to user B. Identifikasi masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan merupakan materi yang dianggap sulit oleh siswa, hal itu ditunjukkan dengan rata-rata nilai prestasi belajar siswa yang rendah, dan masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu siswa mendapat nilai ≥ 70.

2. Prestasi belajar kimia siswa yang belum optimal, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

3. Proses pembelajaran kimia yang berlangsung di kelas saat ini masih menitik beratkan kepada guru sebagai pemeran utama dalam pembelajaran.

4. Pada proses pembelajaran di kelas guru masih menggunakan metode yang konvensional (metode ceramah).

5. Pada faktanya banyak sekolah yang mempunyai fasilitas laboratorium lengkap terutama laboratorium IPA, namun laboratorium tersebut masih jarang dipergunakan pada proses pembelajaran.

6. Pemanfaatan fasilitas lain seperti laboratorium komputer juga belum dipergunakan secara maksimal pada proses pembelajaran terutama pembelajaran kimia.

7. Pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran kimia yang belum tepat, inovatif, dan kreatif.

8. Ada banyak pilihan metode pembelajaran kimia inovatif untuk membelajarkan konsep kimia namun belum banyak dipraktikkan oleh para guru di kelas, antara

(29)

commit to user

lain: metode eksperimen, demonstrasi, Problem Based Learning (PBL), inkuiri, CTL, peer tutoring (tutor sebaya), jigsaw, STAD, TGT, dan lain-lain.

9. Metode pembelajaran yang baik adalah metode yang memberikan peluang yang luas kepada siswanya, sehingga siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan guru hanyalah sebagai fasilitator. Metode pembelajaran tersebut adalah metode Problem Based Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real dan laboratorium virtual, tetapi guru kurang memperhatikan pemilihan metode yang tepat dan masih menggunakan metode konvensional.

10. Keberhasilan dalam pembelajaran kimia, selain ditentukan oleh metode dan media pembelajaran juga ditentukan oleh kemampuan matematik yang dimiliki siswa, namun guru kurang dalam mengembangkan sikap tersebut.

11. Selain kemampuan matematik, guru belum memperhatikan gaya belajar siswa yang berbeda-beda.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka agar lebih jelas dan terarah pembahasan dibatasi pada hal-hal berikut:

1. Penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode Problem Based Learning (PBL).

2. Proses pembelajaran dibatasi pada pengamatan langsung (laboratorium real) dan pengamatan melalui komputer (laboratorium virtual) yang sudah dipersiapkan oleh guru disertai lembar kerja siswa.

3. Kemampuan matematik siswa dibatasi pada kemampuan matematik tinggi,

(30)

commit to user

dan rendah yang diperoleh dengan pemberian tes sebelum proses belajar mengajar berlangsung.

4. Gaya belajar siswa dalam menerima informasi pelajaran dibatasi pada gaya belajar visual dan kinestetik, gaya belajar audiotorial tidak dilibatkan dalam penelitian ini karena metode eksperimen dengan menggunakan laboratorium real dan laboratorium virtual, siswa tidak banyak mendengar informasi dari pendengaran.

5. Prestasi belajar berupa tes hasil belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, prestasi belajar yang diukur adalah aspek kognitif dan aspek afektif.

6. Pembelajaran kimia dibatasi pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

\

D. Perumusan Masalah

Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini, dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Adakah pengaruh penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan lab real dan lab virtual terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

2. Adakah pengaruh kemampuan matematik tinggi dan rendah siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

3. Adakah pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

(31)

commit to user

4. Adakah interaksi metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan lab real dan lab virtual dengan kemampuan matematik siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

5. Adakah interaksi metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan lab real dan lab virtual dengan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

6. Adakah interaksi antara kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

7. Adakah interaksi antara metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan lab real dan lab virtual, kemampuan matematik dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan?

E. Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Pengaruh penggunaan Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real dan virtual terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

2. Pengaruh kemampuan matematik tinggi dan rendah siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

3. Pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

(32)

commit to user

4. Interaksi metode Problem Based Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real dan laboratorium virtual dengan sikap ilmiah siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

5. Interaksi metode Problem Based Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real dan laboratorium virtual dengan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

6. Interaksi antara sikap ilmiah dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan..

7. Interaksi antara metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real dan laboratorium virtual, kemampuan matematik dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

F. Manfaat Penelitian

[[[[[[[[[

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini ada dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai guru: Sebagai bahan pertimbangan untuk memilih metode dan pembelajaran yang sesuai dengan siswanya.

b. Bagi sekolah: Sebagai referensi untuk dapat meningkatkan hasil pembelajaran khususnya kimia.

(33)

commit to user

c. Bagi perkembangan pembelajaran kimia: Sebagai bahan kajian bagi penelitian lain yang menggunakan pembelajaran dengan metode Problem Based Learning (PBL) dengan menggunakan laboratorium real dan virtual.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa: memberikan pengalaman kepada siswa tentang pembelajaran dengan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan laboratorium real dan virtual.

b. Bagi guru :

1. Memberikan pengalaman kepada guru tentang pelaksanaan metode Problem Based Learning (PBL) menggunakan media laboratorim real dan virtual

2. Sebagai masukan bagi guru dalam mendesain model pembelajaran yang berorentasi pada guru sebagai fasilitator.

3. Sebagai bahan masukan guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media komputer.

4. Sebagai bahan masukan bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar agar memperhatikan kemampun matematik yang berbeda pada siswanya.

5. Sebagai bahan masukan bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar agar memperhatikan gaya belajar yang berbeda pada siswanya.

c. Bagi Sekolah : Memaksimalkan fasilitas pembelajaran kimia sehingga pembelajaran dapat berjalan lebih optimal.

(34)

commit to user

14 BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS

A/A. Kajian Teori

1. Pembelajaran Kimia

Menurut Gagne dalam Ratna Wilis Dahar (1989:11) belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Menurut Slameto (2003:2) “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil dari pengalamannya sendiri melalui pemecahan masalah serta dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Seseorang dikatakan belajar jika telah mengalami perubahan tingkah laku.

Perubahan tingkah laku tersebut meliputi pengetahuan atau pemahaman (kognitif), sikap atau nilai (afektif) dan keterampilan (psikomotorik). Oleh karena

itu, kegiatan pembelajaran perlu: (1). berpusat pada peserta didik;

(2). mengembangkan kreativitas peserta didik; (3). menciptakan kondisi menyenangkan, (4). menyediakan pengalaman belajar yang beragam.

Kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science.

Menurut Sastrawijaya (1988:33),”Pembelajaran kimia harus memberikan wawasan mengenai cara berpikir ilmiah dan memberikan pengalaman kerja kimia

(35)

commit to user

nyata dan merangsang siswa berpikir ilmiah melalui kerja praktek di laboratorium”. Berati dalam proses pembelajaran kimia tidak cukup hanya dengan menghafal materi saja, tetapi lebih menekankan keterampilan dan teknik pemecahan masalah dengan cara melakukan praktek di laboratorium, sehingga siswa akan mendapatkan pengalaman secara langsung, dan siswa akan lebih mengerti tetang materi yang sedang dipelajari.

2. Teori Belajar

Teori belajar yang relevan dengan penelitian ada beberapa teori belajar,antara lain :

a. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori konstruktivisme sangat berpengaruh dalam pembelajaran kimia.

Teori belajar menurut pandangan Konstruktivisme menyatakan bahwa anak tidak menerima begitu saja pengetahuan dari orang lain, tetapi anak secara aktif membangun pengetahuannya. Menurut Slavin dalam Trianto (2007:13) Teori belajar konstruktivis ini menyatakan bahwa “siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasi informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan- aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai”. Jadi, dalam proses belajar seorang siswa harus berusaha mendapatkan pengetahuan sendiri.

Menurut teori kontruktivis untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan informasi baru atau pengalaman yang

(36)

commit to user

dimilikinya melalui interaksi dengan peserta didik lain atau dengan gurunya.

Melalui metode PBL dengan menggunakan laboratorium real dan virtual siswa belajar secara berkelompok dan berdiskusi untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi melalui proses praktikum sehingga siswa dapat membangun konsep sendiri berdasarkan pada pembelajaran yang mereka lakukan.

b. Teori belajar kognitif menurut Piaget

Jean Piaget adalah seorang psikolog Swiss (1896-1980) yang dikenal sebagai pelopor aliran kontruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang perkembangan individu. Menurut Jean Piaget dalam Syaiful Sagala (2008 : 24) terdapat dua proses yang terjadi dalam perkembangan dan pertumbuhan kognitif anak yaitu: (1). proses assimilation dimana dalam proses ini menyesuaikan atau mencocokkan informasi yang baru dengan apa yang telah ia ketahui dengan mengubahnya bila perlu; (2). proses accomodation yaitu anak menyusun dan membangun kembali atau mengubah apa yang telah diketahui sebelumnya sehingga informasi yang baru itu dapat disesuaikan dengan lebih baik.

Pemikiran lain dari Jean Piget dalam Ratna Wilis (1989:152) menemukakan bahwa perkembangan individu meliputi empat tahap, yaitu (1).

sensory motor (0-2 tahun) yaitu anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan; (2). pre operational (2-7 tahun), pada tahap ini anak belum mampu melakukan

operasi matematika seperti menambah mengurangi dan lain sebagainya.

(37)

commit to user

(3). concrete operational (7-11 tahun) tahap ini merupakan permulaan anak mulai berfikir secara rasional, akan tetapi belum dapat berurusan dengan materi- materi abstrak seperti hipotesis. Pada periode ini sifat egosentris berubah menjadi sensioenris; dan (4). formal operational (11 tahun keatas) anak pada periode ini dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya, untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak selama periode ini ialah ia tidak perlu berfikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa- peristiwa yang konkret, ia mempunyai kemampuan untuk berfikir abstrak.

Kaitan teori belajar Piaget dengan penelitian ini adalah dalam sampel, metode dan media pembelajaran yang digunakan, dimana sampel yang digunakan adalah siswa kelas XI dengan rata-rata berumur 15-17 tahun. Pada usia ini anak mengalami tahapan perkembangan operasional formal, dimana siswa sudah mampu bekerja secara sistematis, menganalisis hasil, dan menarik kesimpulan.

Sementara metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode berbasis masalah dengan laboratorium real dan virtual, dimana siswa dapat bekerjasama secara efektif dan sistematis, serta dapat menganalisis dan membuat kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan secara berkelompok.

Berdasarkan uraian tersebut, maka metode PBL sesuai dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Laboratorium real dan virtual yang digunakan dapat membantu siswa dalam proses menemukan konsep dan informasi yang sesuai dengan pola berfikir anak yang sudah mampu berfikir abstrak.

(38)

commit to user c. Teori Belajar Menurut Gagne

Robert M. Gagne adalah seorang ahli psikologi yang telah mengembangkan suatu pendekatan perilaku yang elektik mengenai psikologi belajar. Menurut Gagne dalam Syaiful Sagala (1998:17) “belajar merupakan

kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas disebabkan : (1). stimulus yang berasal dari lingkungan; (2). proses kognitif yang dilakukan

oleh pelajar”. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Dengan demikian belajar merupakan seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan yang telah melewati proses informasi dan menghasilkan sesuatu yang baru.

Menurut Gagne terdapat tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu: (1). motivasi; (2). pengenalan ; (3). pemerolehan; (4). penyimpanan;

(5). ingatan kembali; (6). generalisasi; (7). perlakuan dan (8). umpan balik (Ratna Wilis,1989:134) . Pembelajaran kimia materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dalam penelitian ini dimulai dengan menganalisa tujuan instruksional pembelajaran, pada setiap pembelajaran siswa harus aktif. Metode pembelajaran yang digunakan adalah PBL menggunakan laboratorium real dan virtual dengan harapan siswa dapat mengerti tentang konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dipelajari secara langsung melalui langkah demi langkah proses pembelajaran dengan bimbingan lembar kegiatan siswa, sehingga siswa dapat menghubungkan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang dipelajari sebagai hasil belajar pada kemampuan kognitif siswa.

(39)

commit to user d. Teori Belajar David Ausubel

Ratna Wilis Dahar (1989: 112) menyatakan bahwa “Inti dari teori Ausubel tentang belajar ialah belajar bermakna (Ausubel, 1968)”. Bagi Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep- konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Menurut Ausubel dan juga Novak (1977) dalam Ratna Wilis Dahar (1989: 115), ada tiga kebaikan dari belajar bermakna, antara lain: a) informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat; b) informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsumer-subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip; c) informasi yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif, meninggalkan efek residual pada subsumer, sehingga mempermudah belajar hal-hal yang mirip, walaupun telah terjadi “lupa”.

Selanjutnya, dalam Ratna Wilis Dahar (1989: 116) dikemukakan bahwa

“Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel (1963), ialah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu”. Prasyarat-prasyarat dari belajar bermakna adalah materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial dan anak yang akan belajar atau siswa harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna (meaningful learning set). Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung pada dua faktor, yaitu materi itu harus memiliki kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa. Materi yang memiliki kebermaknaan logis merupakan

(40)

commit to user

materi yang nonarbitrer dan substantif. Yang dimaksud dengan materi yang nonarbitrer ialah materi yang ajek (konsisten) dengan apa yang telah diketahui.

Sedangkan yang dimaksud dengan materi tersebut harus substantif berarti materi itu dapat dinyatakan dalam berbagai cara, tanpa mengubah arti.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna jika guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa. Pada penelitian ini menggunakan metode PBL dengan media real dimana dengan media yang digunakan tersebut siswa dapat mengenal obyek yang diamati secara langsung dalam mendapatkan konsep yang bermakna. Jika dilihat dari karateristiknya, materi kelarutan dan hasil kali kelarutan merupakan materi yang bersifat hitungan, sehingga guru dalam menyajikan materi pelajaran tentang kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat menghubungkannya dengan konsep kemampuan matematik yang relevan dalam struktur kognitif siswa.

e. Teori Belajar Sosial

Teori Belajar sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku, Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1969). Teori ini menerima sebagian besar prinsip-prinsip teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses- proses mental internal. Jadi dalam teori belajar sosial kita dapat memahami

bagaimana kita dapat belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial

“ manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam, tetapi jjuga tidak

(41)

commit to user

“dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang continue dan timbal balik dari determinan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan” (Bandura dalam Ratna Wilis (1989:27).

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa implikasi dari teori Bandura dalam pembelajaran adalah upaya menciptakan tatanan pembelajaran dengan dibentuk kelompok-kelompok belajar dengan tingkat kemampuan berbeda.

Fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam kerjasama antar individu.

3. Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata, Salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa adalah model Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah. Dutch dalam Taufiq Amir (2010 : 21) memberi definisi bahwa “PBL merupakan metode instruksional yang menantang siswa agar belajar untuk belajar, bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata”. Masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis siswa. Sementara pengertian metode PBL menurut Arends (2008 : 41) adalah “Suatu metode yang memiliki esensi yang melibatkan presentasi situasi-situasi yang autentik dan bermakna, yang berfungsi sebagai landasan bagi investogasi dan penyelidikan siswa”.

(42)

commit to user

Dari kedua pengertian di atas, Problem Based Learning (PBL) dapat didefinisikan sebagai suatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal untuk memperoleh pengetahuan baru. Dalam metode Problem Based Learning (PBL), fokus pembelajaran terletak pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut.

Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah.

a. Hakikat Masalah dalam PBL

Masalah dalam PBL adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya, jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru, dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, PBL memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Disamping itu, tingkat kesukaran masalah juga harus disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh David H. Jonassen &

Woei Hung (2008: 21-22), menyatakan bahwa “tingkat kesukaran masalah memainkan peran penting dalam efektivitas hasil pembelajaran siswa di semua jenis metode pembelajaran yang menggunakan masalah”. Masalah dengan tingkat kesulitan yang tepat pada peserta didik akan sesuai dengan kesiapan kognitifnya, sementara tingkat kesukaran masalah yang tidak tepat dapat melebihi kesiapan

(43)

commit to user

pembelajar dan menyebabkan kegagalan. Tujuan dari menilai tingkat kesukaran masalah adalah untuk membantu peneliti mengidentifikasi jenis masalah yang paling efektif digunakan dalam PBL.

Metode PBL dalam penelitian ini menekankan siswa untuk dapat memecahkan masalah yang dimunculkan oleh guru pada awal pembelajaran.

Media pembelajaran yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut antara lain dengan laboratorium real dan virtual. Masalah yang diangkat juga disesuaikan dengan pokok bahasan yang sedang dipelajari, yakni tentang kelarutan dan hasil kali kelarutan.

Menurut Taufik Amir ( 2010 : 34) mengemukakan bentuk masalah dalam PBL, antara lain terdapat pada Tabel 2.1 dibawah ini :

Tabel 2.1. Bentuk masalah dalam PBL Fitur dari masalah Hal-hal yang perlu diperhatikan Karakteristik · Seperti apa relevansinya terhadap siswa?

· Seperti apa relevansinya terhadap dunia nyata?

· Seperti apa tingkat kompleksivitas dan kesulitannya?

· Apakah penyelesaiannya hanya menurut pemahan satu topik, atau penyelesaiannya menurut integrasi multitopik atau bahkan multidisiplin ilmu?

· Seberapa terbuka solusi masalahnya?

· Apakah masalah cukup “mengembang” (ill- structured)?

· Apakah cukup mengundang rasa ingin tahu?

· Apakah cukup menantang dan menciptakan motivasi?

· Apakah cukup membuat pemelajar harus memanfaatkan pengetahuan terdahulunya dan mendapatkan informasi baru?

Lingkungan belajar dan sumber materi

· Sejauh mana masalah yang dapat menstimulasi kerjasama kelompok?

· Apakah perlu tuntutan mendapatkan sumber materi?

· Data/ informasi seperti apa yang dituntut dari sumber materi?

Pelaporan dan presentasi

· Adakah sekenario dari penyelesian masalah?

· Sejauh mana rincian laporan dan presentasi yang harus dibuat?

(44)

commit to user b. Tahapan-tahapan PBL

Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan PBL. Arends (2008: 57) menjelaskan sintak PBL yang tersaji / dapat dilihat pada Tabel 2.2. dibawah ini :

Tabel 2.2. Sintak untuk PBL Fase

Perilaku Guru Fase 1 Memberikan orientasi

tentang permasalahannya kepada siswa

Guru membahas tujuan pelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan untuk mengatasi masalah.

Fase 2 Mengorganisasikan siswa untuk meneliti

Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahannya.

Fase 3 Membantu investigasi mandiri dan kelompok

Guru mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen dan mencari penjelasan dan solusi.

Fase 4 Mengembangkan dan mempresentasikan

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan seperti laporan, dan model-model dan

membantu mereka untuk

menyampaikannya kepada orang lain.

Fase 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap proses-proses yang mereka gunakan.

(45)

commit to user

Tabel 2.2 menjelaskan tahapan PBL melalui lima sintak atau langkah.

Masing-masing langkah dijabarkan sesuai dengan pengertiannya. Sementara itu, Tabel 2.3 berikut ini menjelaskan tahapan PBL melalui enam langkah menurut pendapat John Dewey dalam Wina Sanjaya (2007: 217) menjelaskan 6 langkah PBL, yaitu:

Tabel 2.3 Tahapan Problem Based Learning Tahapan

Keterangan

1. Merumuskan masalah Langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.

2. Menganalisis masalah Langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.

3. Merumuskan hipotesis Langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

4. Mengumpulkan data Langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.

5. Pengujian hipotesis Langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.

6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah

Langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Secara umum, kedua pendapat tersebut tidak jauh berbeda atau hampir sama. Pada penelitian ini, tahapan PBL yang digunakan disarikan dengan

(46)

commit to user

menggabungkan kedua pendapat yang ada. Dari kedua pendapat ahli mengenai langkah-langkah PBL tersebut maka secara umum PBL dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini : (1). memberikan orientasi tentang permasalahan kepada siswa, guru menyajikan tujuan pembelajaran dalam bentuk masalah atau

pertanyaan, siswa mengemukakan pendapat atau opini dari masalah itu;

(2). mengorganisasikan siwa untuk meneliti permasalahan, Guru membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahannya; (3). mengumpulkan data dan menganalisisnya, Guru mengarahkan siswa untuk melakukan pengumpulan data dari eksperimen/

pekerjaan siswa untuk mencari penjelasan dan solusi dari permasalahan, kemudian data yang didapatkan tersebut di Tabelkan; (4). mengembangkan dan menyajikan hasil penyelesaian masalah, data yang didapatkan tersebut dianalisis dengan mengacu pada tujuan penyelesaian masalah, lalu mengambil kesimpulan dan melakukan presentasi dari hasil penyelesaian masalah; (5). melakukan evaluasi, guru melakukan evaluasi hasil dari suatu proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan oleh siswa.

c. Keunggulan dan kelemahan PBL

Sebagai suatu strategi pembelajaran, PBL memiliki beberapa keunggulan, antara lain: (1). pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran; (2). pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa; (3). pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa; (4). pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana

(47)

commit to user

mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata; (5). pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah tersebut juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya;

(6). melalui pemecahan masalah dapat memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja; (7). pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa; (8). pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru; (9). pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk

mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata;

(10). pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus- menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Disamping keunggulan, PBL juga memiliki kelemahan, antara lain:

(1). manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba; (2). keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan; (3). tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

(48)

commit to user

Kelemahan pembelajaran berbasis masalah tersebut dapat diatasi dengan cara selalu membangkitkan semangat, minat, dan motivasi siswa pada awal pembelajaran. Guru perlu menekankan kepada siswa bahwa setiap masalah yang ada, pasti ada jalan keluarnya dan dapat dipecahkan bersama-sama dengan kelompoknya. Untuk itu, perlu adanya variasi kegiatan awal pembelajaran yang menarik bagi siswa. Disamping itu, agar PBL dapat berjalan dengan baik maka perlu persiapan yang cukup oleh guru.

4. Media Pembelajaran

Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode dan media pembelajaran, kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode pembelajaran tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai. Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.

Menurut Shofyan, “ media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna”, (http://forum.upi.edu, diakses tanggal 31 Oktober 2010). Maka dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan pengertian media adalah komponen

(49)

commit to user

sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Adapun ciri-ciri umum media pembelajaran adalah : (1). media pembelajaran memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera; (2). media pembelajaran memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam

perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa;

(3). penekanan media pembelajaran terdapat pada visual dan audio;

(4). media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas; (5). media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran; (6). media pembelajaran dapat digunakan secara massal (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP) atau perongan (misalnya: modul, komputer, radio tape/kaset, video, recorder); (7). sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manjemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.

Manfaat positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pengajaran di kelas adalah sebagai berikut: (1). penyampaian pelajaran menjadi lebih baku.

Setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan yang sama; (2). proses pembelajaran menjadi lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan; (3). pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya

Gambar

Tabel 1.1. Daftar Nilai Prestasi Siswa pada Materi Kelarutan dan  Hasil Kali  Kelarutan di SMAN 1 Boja Tahun Pelajaran 2008-2009
Tabel 2.1. Bentuk masalah dalam PBL  Fitur dari masalah  Hal-hal yang perlu diperhatikan  Karakteristik  ·  Seperti apa relevansinya terhadap siswa?
Tabel 2.2. Sintak untuk PBL  Fase
Tabel  2.2  menjelaskan  tahapan  PBL  melalui  lima  sintak  atau  langkah.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi dan intensitas sakit perut berulang pada anak usia sekolah dengan intelligence.

l ' Online Job Market (BKO) needs to socialize to public because it is the main job vacancy advertisement especially for job applicant who looks for a job by.. Deparftnent of

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Hikmawati (2008) yang menunjukkan hasil bahwa pendapatan bukan merupakan faktor risiko kegagalan pemberian ASI

Tain. Penerapan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Self Management Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Sholat Fardhu Siswa MTs. Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan

Dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa metode Visual Auditory Kinestethic (VAK) efektif terhadap peningkatan kemandirian siswa autis kelas IV di SLB

B erdas arkan pendapat beberapa ahli di atas , maka dapat ditarik kes impulan bahwa dis iplin kerja adalah s uatu bentuk perilaku karyawan yang menunjukkan

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah

Setelah itu Allah Ta’ala menerangkan kebodohan orang-orang musyrik dalam pendapat mereka yang salah, yang menghalalkan bangkai-bangkai dan binatang-binatang yang disembelih