BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pengujian Persyaratan Analisis
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui sampel berdistribusi homogen atau tidak. Uji homogenitas menggunakan SPSS 15. Selengkapnya mengenai uji homogenitas terdapat pada lampiran 28 dan 29. Berikut adalah rangkuman hasil uji homogenitas yang ditunjukkan oleh Tabel 4.24.
commit to user
Tabel 4.24 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Kognitif
No Variabel Terikat P-value Keputusan Kesimpulan
1 Media 0,405 > 0,05 H0 ditolak Homogen
2 Kemampuan Matematik 0,768 > 0,05 H0 ditolak Homogen 3 Gaya Belajar 0,078 > 0,05 H0 ditolak Homogen 4 Media * KM 0,427 > 0,05 H0 ditolak Homogen 5 Media * GB 0,831 > 0,05 H0 ditolak Homogen
6 KM * GB 0,157 > 0,05 H0 ditolak Homogen
7 Media* KM* GB 0,794 > 0,05 H0 ditolak Homogen Tabel 4.24. menunjukkan bahwa pengujian homogentitas pada data prestasi kognitif mendapatkan P-value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan H0
ditolak, dengan kata lain bahwa sampel mempunyai varians yang sama atau homogen.
Tabel 4.25 Hasil Uji Homogenitas Prestasi Afektif
No Variabel Terikat P-value Keputusan Kesimpulan
1 Media 0,718 > 0,05 H0 ditolak Homogen
2 Kemampuan Matematik 0,142 > 0,05 H0 ditolak Homogen 3 Gaya Belajar 0,731 > 0,05 H0 ditolak Homogen 4 Media * KM 0,357 > 0,05 H0 ditolak Homogen 5 Media * GB 0,815 > 0,05 H0 ditolak Homogen
6 KM * GB 0,147 > 0,05 H0 ditolak Homogen
7 Media* KM* GB 0,051 > 0,05 H0 ditolak Homogen Tabel 4.25. menunjukkan bahwa pengujian homogentitas pada data prestasi afektif mendapatkan P-value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dengan kata lain bahwa sampel mempunyai varians yang sama atau homogen.
commit to user C. Pengujian Hipotesis
1. Uji Anava
Pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama (Uji ANAVA). Pengujiian dilakukan menggunakan program SPSS 15 dan analsisis komputasinya dapat dilihat pada lampiran. Rangkuman hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama yang ditunjukkan oleh Tabel 4.26. dibawah ini :
Tabel 4.26 Rangkuman ANAVA untuk Data Prestasi Kognitif
No Terhadap prestasi kognitif P-value Sig. Keputusan
1 Media 0,000 < 0,05 H0 ditolak
2 Kemampuan Matematik 0,005 < 0,05 H0 ditolak 3 Gaya Belajar Siswa 0,007 < 0,05 H0 ditolak 4 Media*Kemampuan Matematik 0,170 > 0,05 H0 diterima 5 Media* Gaya Belajar 0,005 < 0,05 H0 ditolak 6 Kemampuan Matematik * Gaya Belajar 0,948 > 0,05 H0 diterima 7 Media* Kemampuan Matematik*GB 0,416 > 0,05 H0 diterima
Kesimpulan :
1. P-value media = 0,000 < 0,05 maka H0 (Tidak ada pengaruh penggunaan media terhadap prestasi belajar siswa) ditolak, berarti terdapat pengaruh media terhadap prestasi kognitif.
2. P-value kemampuan matematik = 0,005 < 0,05 maka H0 (tidak terdapat pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif) ditolak, berarti terdapat pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif.
commit to user
3. P-value aktivitas siswa = 0,007 < 0,05 maka H0 (tidak terdapat pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif) ditolak, berarti terdapat pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif.
4. P-value interaksi media dan kemampuan matematik = 0,170 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi media dan kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi media dan kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif.
5. P-value interaksi metode dan aktivitas siswa = 0,005 < 0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi media dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif) ditolak, berarti terdapat interaksi media dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif.
6. P-value interaksi kemampuan matematik dan gaya belajar siswa = 0,948 >
0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif.
7. P-value interaksi media, kemampuan matematik dan gaya belajar siswa = 0,416 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi media, kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi media, kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif.
commit to user
Tabel 4.27 Rangkuman ANAVA Data Prestasi Afektif
No Terhadap prestasi afektif P-value Sig. Keputusan
1 Media 0,213 > 0,05 H0 diterima
2 Kemampuan Matematik 0,439 >0,05 H0 diterima 3 Gaya Belajar Siswa 0,046 < 0,05 H0 ditolak 4 Media*Kemampuan Matematik 0,881 > 0,05 H0 diterima 5 Media* Gaya Belajar 0,479 > 0,05 H0 diterima 6 Kemampuan Matematik * Gaya Belajar 0,889 > 0,05 H0 diterima 7 Media* Kemampuan Matematik*Gaya
Belajar
0,778 > 0,05 H0 diterima
Kesimpulan :
1. P-value media = 0,213 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat pengaruh media terhadap prestasi afektif) diterima, berarti tidak terdapat pengaruh media terhadap prestasi afektif
2. P-value kemampuan matematik = 0,439 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi afektif) diterima, berarti tidak terdapat pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi afektif 3. P-value aktivitas siswa = 0,046 < 0,05 maka H0 (tidak terdapat pengaruh gaya
belajar siswa terhadap prestasi afektif) ditolak, berarti terdapat pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif
4. P-value interaksi metode dan kemampuan awal = 0,881 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi media dan kemampuan matematik terhadap prestasi afektif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi media dan kemampuan matematik terhadap prestasi afektif
commit to user
5. P-value interaksi media dan gaya belajar siswa = 0,479 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi media dan gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi media dan gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif
6. P-value interaksi kemampuan matematik dan gaya belajar siswa = 0,889 >
0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif
7. P-value interaksi media, kemampuan matematik dan gaya belajar siswa = 0,778 > 0,05 maka H0 (tidak terdapat interaksi media, kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif) diterima, berarti tidak terdapat interaksi media, kemampuan matematik dan gaya belajar siswa terhadap prestasi afektif.
2. Uji Lanjut Anava
Setelah uji Anava diatas, maka untuk hipotesis yang diterima, baik prestasi kognitif dan afektif dilakukan uji lanjut dengan uji compare means (uji rata-rata) dengan menggunakan SPSS 15, tetapi untuk uji lanjut pada hipotesis kelima dimana terdapat interaksi antara media pembelajaran dengan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar kognitif dilakukan uji scheffe, untuk uji lanjut yang dilakukan secara rinci dijelaskan pada Tabel dibawah ini :
commit to user a. Uji lanjut hipotesis 1
Bunyi hipotesis 1 adalah terdapat pengaruh media terhadap prestasi kognitif, untuk mengetahui media mana yang lebih baik maka dilakukan uji lanjut dan hasil uji lanjut untuk hipotesis 1 ditunjukkan pada Tabel 4.28. dibawah ini :
Tabel 4.28. Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 1 media
Rata-rata N Std.
Deviation
real 58,75 36 9,440
virtual 71,39 36 8,160
Total 65,07 72 10,828
Berdasarkan Tabel 4.28. diatas dapat diketahui bahwa rata-rata prestasi kognitif siswa dengan menggunakan media laboratorium real = 58,75 lebih kecil dari pada rata-rata prestasi kognitif siswa yang menggunakan media laboratorium virtual = 71,25. Dari rata-rata kedua media diatas dapat disimpulkan bahwa siswa menggunakan media laboratorium virtual lebih baik memiliki prestasi kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan siswa menggunakan media laboratorium real.
b. Hasil uji lanjut hipotesis 2
Bunyi hipotesis 2 adalah terdapat pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif, untuk mengetahui kemampuan matematik mana yang lebih baik maka dilakukan uji lanjut dan hasil uji lanjut untuk hipotesis 2 ditunjukkan pada Tabel 4.29. dibawah ini :
commit to user
Tabel 4.29. Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 2 kemmpuan
Berdasarkan Tabel diatas, rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi = 67,64 lebih besar dari pada rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah = 62,5.
Hal tersebut berarti siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi lebih baik prestasi kognitifnya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah.
c. Uji lanjut hipotesis 3 pada prestasi kognitif
Bunyi hipotesis 3 adalah terdapat pengaruh gaya belajar terhadap prestasi kognitif, untuk mengetahui gaya belajar mana yang lebih baik maka dilakukan uji lanjut dan hasil uji lanjut untuk hipotesis 3 ditunjukkan pada Tabel 4.30. dibawah ini :
Berdasarkan hasil uji lanjut pada Tabel 4.30, rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai gaya belajar visual = 63,02 lebih kecil dari pada rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik = 68,10. Hal
commit to user
tersebut berarti siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih baik prestasi kognitif dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar visual.
d. Hasil uji lanjut hipotesis 3 pada prestasi afektif
Bunyi hipotesis 3 adalah terdapat pengaruh gaya belajar terhadap prestasi afektif, untuk mengetahui gaya belajar mana yang lebih baik maka dilakukan uji lanjut dan hasil uji lanjut untuk hipotesis 3 ditunjukkan pada Tabel 4.31. dibawah ini :
Tabel 4.31. Tabel Hasil Uji Lanjut Hipotesis 3 pada Prestasi Afektif
Berdasarkan hasil uji lanjut pada Tabel 4.31, rata-rata prastasi afektif siswa yang mempunyai gaya belajar visual = 100,53 untuk siswa yang memiliki gaya belajar visual dan 105,28 untuk siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik.
Hal tersebut berarti siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih baik prestasi afektifnya dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar visual.
e. Hasil uji lanjut hipotesis 5
Bunyi hipotesis 4 adalah terdapat interaksi antara media dan gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif. Uji lanjut ini dilakukan untuk mengetahui media pembelajaran dan gaya belajar manakah yang memiliki perbedaan rerata dan memberikan pengaruh yang signifikan. Dengan bantuan SPSS 15, dengan menggunakan Uji Scheffe diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.32.
gaya belajar
Rata-rata N Std.
Deviation
Visual 100,53 43 9,728
kinestetik 105,28 29 8,689
Total 102,44 72 9,552
commit to user
Tabel 4.32. Tabel Hasil Uji Lanjut ANOVA Scheffe Prestasi Kognitif
Interaksi Media-GB Siswa Sig. Kesimpulan
Media Real-Gaya Belajar Visual
Real- Gaya Belajar Kinestetik 0,001 Ada perbedaan Virtual -Gaya Belajar Visual 0,000 Ada perbedaan Virtual - Gaya Belajar Kinestetik 0,000 Ada perbedaan Media Real-Gaya
Belajar Kinestetik
Real- Gaya Belajar Visual 0,001 Ada perbedaan Virtual- Gaya Belajar Visual 0,149 Tidak ada perbedaan Virtual -Gaya Belajar Kinestetik 0,155 Tidak ada perbedaan Media Virtual-Gaya
Belajar Visual
Real- Gaya Belajar Visual 0,000 Ada perbedaan Real- Gaya Belajar Kinestetik 0,149 Tidak ada perbedaan Virtual- Gaya Belajar Kinestetik 0,993 Tidak ada perbedaan Media Virtual-Gaya
Belajar Kinestetik
Real- Gaya Belajar Visual 0,000 Ada perbedaan Real- Gaya Belajar Kinestetik 0,155 Tidak ada perbedaan
Virtual- Gaya Belajar Visual 0,993 Tidak ada perbedaan
Berdasarkan hasil uji lanjut scheffe pada Tabel 4.32 di atas, didapatkan hasil bahwa pada media real dengan gaya belajar kinestetik dengan gaya belajar visual terdapat perbedaan prestasi belajar. Hal serupa juga terjadi pada media virtual dengan gaya belajar visual dan gaya belajar kinestetik. Siswa yang mempunyai gaya belajar visual dengan media laboratorium real memiliki perbedaan prestasi belajar dengan siswa yang menggunakan laboratorium virtual, sedangkan siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik dengan media laboratorium real memiliki perbedaan prestasi belajar dengan siswa yang menggunakan laboratorium virtual. Karena terdapat perbedaan prestasi belajar
commit to user
berdasarkan hasil uji scheffe, maka dilakukan uji rata-rata untuk mengetahui bentuk interaksinya, hasil uji rata-rata terdapat pada Tabel 4.33 dibawah ini :
Tabel 4.33. Data Hasil Uji Rata-rata Hipotesis 5
interaksi 2
Rata-rata N Std.
Deviation
real-GB V 53,75 20 7,926
real-GB K 65,00 16 7,303
virtual-GB V 71,09 23 8,112 virtual-GB K 71,92 13 8,549
Total 65,07 72 10,828
Berdasarkan hasil uji lanjut rata-rata pada Tabel 4.33 di atas, didapatkan hasil bahwa siswa yang mempunyai gaya belajar visual dan kinestetik selalu mendapatkan prestasi yang lebih baik ketika diberikan perlakuan dengan menggunakan media laboratorium virtual jika dibandingkan dengan prestasi siswa yang menggunakan media laboratorium real. Sedangkan siswa yang menggunakan media laboratorium real dengan gaya belajar kinestetik memiliki prestasi belajar yang lebih baik dengan nilai rata-rata 65,00 dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar visual dengan rata-rata 53,75, Sedangkan tidak ada perbedaan rata-rata prestasi siswa antara siswa yang menggunakan media virtual dengan gaya belajar visual dan kinestetik yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata 71,09 dan 71,92. Hal inilah yang menunjukkan adanya interaksi antara media dengan gaya belajar siswa.
commit to user D. Pembahasan
1. Hipotesis Pertama
Pengujian hipotesis pertama mengenai pengaruh media terhadap prestasi kognitif menunjukkan P-value bernilai 0,000, pada prestasi afektif menunjukan P-value bernilai 0,213,. Berdasarkan keputusan uji maka Ho ditolak pada prestasi kognitif, sedangkan Ho diterima pada prestasi afektif. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh penggunaan media Laboratorium real dan laboratorium virtual terhadap prestasi kognitif, dan tidak terdapat pengaruh penggunaan media Laboratorium real dan laboratorium virtual terhadap prestasi afektif.
Berdasarkan Hasil Uji lanjut Tabel 4.24, rata-rata prestasi kognitif siswa dengan menggunakan media laboratorium real = 58,75 lebih kecil dari pada rata-rata prestasi kognitif siswa yang menggunakan media laboratorium virtual = 71,25. Dari rata-rata kedua media diatas dapat disimpulkan bahwa siswa menggunakan media laboratorium virtual lebih baik memiliki prestasi kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan siswa menggunakan media laboratorium real. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zeynep Tatli dan Alipasa Ayas pada tahun 2010 yang berjudul “Virtual Laboratory Aplications in Chemistry Education”, Kesimpulan dari hasil penelitiannya adalah bahwa pada saat pelaksanaan praktikum dengan menggunakan virtual lab lebih efektif, menarik dan lebih bermanfaat serta dapat memungkinkan siswa untuk mengulang percobaan. Sementara pada real lab tidak semua siswa aktif dalam proses eksperimen di laboratorium nyata.
commit to user
Penyebab keadaan ini adalah pada pembelajaran dengan menggunakan laboratorium virtual menggunakan media berbentuk simulasi praktikum dan animasi yang dijalankan sendiri oleh siswa sehingga memungkinkan siswa lebih aktif dan kreatif dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu dengan media laboratorium virtual dapat dilakukan secara berulang-ulang tanpa menghabiskan waktu untuk mempersiapkan pengulangan sehingga siswa dapat mengulang praktikum hingga mereka merasa paham.
Media yang efektif adalah media yang dapat mengakomodasi siswa mencapai tujuan pembelajaran, sesuai dengan materi, dan disukai oleh siswa. Pada saat proses pembelajaran siswa yang menggunakan media laboratorium virtual lebih antusias dan bersemangat dibandingkan siswa yang menggunakan laboratorium real, hal ini ditandai dengan lebih banyak pertanyaan yang muncul ketika diskusi setelah melakukan praktikum di laboratorium yang menandakan bahwa siswa berada dalam proses memahami materi yang disampaikan.
Program komputer yang digunakan merupakan bentuk simulasi dari laboratorium real yang dapat menampilkan konsep secara visual dengan gerakan dan gambar, dan dapat menampilakan proses secara nyata sehingga siswa merasa melakukan praktikum yang sebenarnya. Media laboratorium virtual dapat menyesuaikan dengan tingkat kecepatan belajar siswa sehingga dapat mengakomodasi siswa yang lamban belajar. Dengan laboratorium virtual dapat menghindarkan dari kegagalan percobaan dan kesalahan konsep.
Berbeda dengan siswa yang melakukan pembelajaran dengan menggunakan media laboratorium real rata-rata nilai prestasinya lebih rendah
commit to user
dibanding kelas dengan Siswa yang menggunakan media laboratorium virtual dikarenakan siswa dalam melakukan praktikum masih banyak bermain-main sehingga ada bagian tahapan tetentu yang terlewatkan dan mereka tidak memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari, dan pada saat pelaksanaan praktikum di laboratorium tidak semua siswa dapat berpartisipasi aktif untuk proses eksperimen di laboratorium.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukuan, pada saat proses pembelajaran dilaboratorium masih banyak sekali siswa yang belum paham cara menimbang NaCl dan CaCO3 dengan menggunakan neraca Ohauss dan mereka masih binggung menentukan garam yang sukar larut berdasarkan hasil percobaan dan pada saat diskusi tidak banyak pertanyaan yang muncul. Selain itu, praktikum secara nyata di laboratorium memerlukan waktu yang lama sehingga dengan alokasi waktu yang sama dengan laboratorium virtual mereka tidak dapat mengulangi percobaan yang telah dilakukan. Oleh karena itu kegagalan praktikum mungkin saja terjadi dan data-data yang diperoleh belum pasti sesuai dengan teori.
Guru dalam hal ini harus mengerti dan paham serta memiliki kemampuan yang cukup agar tidak terjadi kesalahan konsep dalam proses belajarnya.
Dari Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media laboratorium virtual lebih efektif dibandingkan laboratorium real, hal ini dapat dilihat dari proses dan hasil pembelajaran siswa.
Pada prestasi afektif, siswa yang menggunakan media laboratorium real dan virtual memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi afektif.
Kesimpulan ini diperkuat oleh data Tabel 4.13 yang menunjukkan bahwa rata-rata
commit to user
siswa yang menggunakan media laboratorium real relatif sama dengan siswa yang menggunakan media laboratorium virtual yaitu 104,25 untuk siswa yang menggunakan media laboratorium real dan 100,64 untuk siswa yang menggunakan media laboratorium virtual. Siswa yang menggunakan media laboratorium real senang saat mempelajari materi kelarutan dan hasil kali kelarutan karena mereka dapat melakukan percobaan secara langsung, sehingga akan lebih mudah membentuk pemahaman. Sementara itu pada siswa dengan menggunakan media laboratorium virtual mereka juga dapat melakukan percobaan secara langsung dengan menggunakan computer yang telah didesain menggunakan software khusus, dimana percobaan yang dilakukan sama dengan percobaan pada laboratorium real. Sehingga baik siswa yang menggunakan media laboratorium real maupun siswa yang menggunakan media laboratorium virtual memiliki prestasi afektif yang relatif sama.
Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yang menyebutkan ada pengaruh penggunaan metode Problem Based Learning (PBL) baik dengan laboratorium real maupun virtual terhadap prestasi belajar siswa, pengaruh yang sama terhadap prestasi afektif disebabkan karena siswa sama-sama senang dalam melakukan pembelajaran baik dengan laboratorium real maupun virtual, penyebab lain mungkin disebabkan karena keterbatasan pengukuran prestasi afektif dengan menggunakan angket, peneliti tidak bisa menjamin jawaban siswa benar-benar jujur seperti apa yang ada dalam pertanyaan dan pernyataan angket.
commit to user 2. Hipotesis Kedua
Pengujian hipotesis kedua mengenai pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif menunjukkan P-value bernilai 0,005 dan pada prestasi afektif menunjukan P-value bernilai 0,439. Berdasarkan keputusan uji maka Ho ditolak pada prestasi kognitif. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh kemampuan matematik tinggi dan rendah terhadap prestasi kognitif. Namun berdasarkan keputusan uji pada aspek prestasi afektif maka Ho diterima. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat pengaruh kemampuan matematik tinggi dan rendah terhadap prestasi afektif.
Berdasarkan hasil uji lanjut pada Tabel 4.25, rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi = 67,64 lebih besar dari pada rata-rata prestasi kognitif siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah = 62,5. Hal tersebut berarti siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi lebih baik prestasi kognitifnya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kemampuan matematik rendah.
Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan merupakan materi yang bersifat hitungan. Pada saat proses pembelajaran, siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi melakukan perhitungan matematik dengan lebih cepat dan tepat, karena dengan kemampuan matematik yang tinggi memungkinkan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soal hitungan yang ada dalam materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, sehingga siswa mendapat prestasi kognitif yang lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah.
commit to user
Pada prestasi afektif, kemampuan matematik siswa baik tinggi maupun rendah memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi afektif. Kesimpulan ini diperkuat oleh data Tabel 4.13 yang menunjukkan bahwa rata-rata siswa yang mempunyai kemampuan matematik tinggi relatif sama dengan siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah yaitu 102,72 untuk siswa yang memiliki kemampuan matematik tinggi dan 102,17 untuk siswa yang memiliki kemampuan matematik rendah. Siswa dengan kemampuan matematik tinggi menjadi senang saat mempelajari materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang bersifat hitungan karena mereka merasa telah mempunyai kemampuan dasar yang cukup yaitu keterampilan dalam mengoperasikan angka-angka, sehingga akan lebih mudah membentuk pemahaman. Sementara itu pada siswa dengan kemampuan matematik rendah yang terjadi adalah kemauan yang keras dalam belajar untuk mengejar keterbatasan mereka dalam hal penguasaan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Sehingga baik siswa dengan kemampuan matematik tinggi maupun rendah memiliki prestasi afektif yang relatif sama.
Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yang menyebutkan ada pengaruh kemampuan matematik terhadap prestasi belajar kimia. Pengaruh yang sama terhadap prestasi afektif disebabkan karena siswa dengan kemampuan matematik apapun sama-sama senang dalam melakukan pembelajaran dikelas, penyebab lain mungkin disebabkan karena pada penelitian ini kemampuan matematik siswa hanya dikategorikan ke dalam dua kelompok saja, yaitu tinggi dan rendah, peneliti tidak melibatkan kategori sedang, hal ini mungkin sedikit berpengaruh terhadap hasil penelitian. Selain itu penyebab lainnya mungkin
commit to user
karena terdapat keterbatasan pada pengukuran prestasi afektif dengan menggunakan angket, peneliti tidak bisa menjamin jawaban siswa benar-benar jujur seperti apa yang ada dalam pertanyaan dan pernyataan angket.
3. Hipotesis Ketiga
Pengujian hipotesis ketiga mengenai pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi kognitif menunjukkan P-value bernilai 0,007, pada prestasi afektif menunjukan P-value bernilai 0,046. Berdasarkan keputusan uji maka Ho ditolak pada prestasi kognitif dan prestasi afektif. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi kognitif dan prestasi afektif.
Menurut Murat Peker & Seref Mirasyedioglu (2008) dalam penelitiannya yang berjudul ”Pree-Service Elementary School Teacher’s Learning Style and Attitudes Toward Mathematics”, hasil penelitiannya menyebutkan bahwa gaya belajar berpengaruh dalam proses pembelajaran. Maka dapat disimpulakan bahwa dengan guru memperhatikan gaya belajar siswa pada saat proses pembelajaran, dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar sehingga prestasi belajar siswa
Menurut Murat Peker & Seref Mirasyedioglu (2008) dalam penelitiannya yang berjudul ”Pree-Service Elementary School Teacher’s Learning Style and Attitudes Toward Mathematics”, hasil penelitiannya menyebutkan bahwa gaya belajar berpengaruh dalam proses pembelajaran. Maka dapat disimpulakan bahwa dengan guru memperhatikan gaya belajar siswa pada saat proses pembelajaran, dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar sehingga prestasi belajar siswa