• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produsen Menurut Ekonomi Islam

Dalam dokumen Oleh: MAIMUNAH (Halaman 22-29)

LANDASAN TEORITIS

A. Produsen Menurut Ekonomi Islam

Produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian di manfaatkan oleh konsumen. Kegiatan produksi dalam perspektif ekonomi islam pada akhirnya mengerucut pada manusia dan eksistensinya, yaitu mengutamakan harkat kemuliaan manusia.

Pada prinsipnya Islam lebih menekankan berproduksi demi untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, bukan hanya sekedar memenuhi segelintir orang yang memiliki uang, sehingga memiliki daya beli yang lebih baik. Karena itu bagi Islam, produksi yang surplus dan berkembang baik secara kuantitatif maupun kualitatif tidak dengan sendirinya mengindikasikan kesejahteraan bagi masyarakat.8

Kegiatan produksi dan konsumsi merupakan sebuah mata rantai yang saling berkait satu dengan lainnya. 9Kegiatan produksi harus sepenuhnya sejalan dengan kegiatan konsumsi. Tujuan kegiatan produksi adalah menyediakan barang dan jasa yang memberikan mashlahah maksimum bagi

8 Muhammad Muflih, Prilaku Produsen Dalam Ekonomi Islam, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 112

9 Sofyan Assuri, Manajement Produksi, ( Jakarta: Rineke Cipta) hal.190

konsumen yang diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia pada tingkatan moderat, menemukan kebutuhan masyarakat dan pemenuhannya, menyediakan persediaan barang/jasa di masa depan. Serta memenuhi sarana bagi kegiatan sosial dan ibadah kepada Allah SWT.

Kegiatan produksi dan konsumsi merupakan satu kesatuan yang saling berkait satu dengan lainnya. Kegiatan produksi harus sepenuhnya sejalan dengan kegiatan konsumsi. Tujuan kegiatan produksi adalah menyediakan barang dan jasa yang memberikan mashlahah bagi konsumen yang di wujudkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Produksi dalam arti sederhana bukanlah sesuatu yang dicetuskan oleh kapitalis. Produksi telah terjadi semenjak manusia bergelut dengan bumi karena ia merupakan suatu hal primer dalam kehidupan. Seseorang mukmin akan menikmati kehidupan ini dengan ketenangan jiwa, kedamain batin, dan kelapangan dada. Tidak diragukan, ketenangan jiwa seperti ini mempunyai dampak positif bagi produktivitas. Sesungguhnya manusia yang bingung, dengki, dan iri kepada sesama manusia jarang menghasilkan produk yang memuaskan.10

Berikut ini beberapa pengertian produksi menurut para ekonomi muslim kontemporer :11

1. Kahf (1992) mendefenisikan kegitan produksi dalam perspektif islam sebagai usaha manusia untuk memperbaiki tidak hanya kondisi fisik materialnya, tetapi juga moralitas, sebagai sarana untuk mencapai tujuan

10 Adiwarman, Karim. Ekonomi Mikro Islami, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal.

102

11 Suherman, Pengantar Teori Ekonomi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal 11

hidup sebagaimana di gariskan dalam agama islam, yaitu kebahagiaan dunia akhirat.

2. Rahman (1995) menekankan pentingnya keadilan dan kemerataan produksi (distribusi secara merata).

3. UI Haq (1996) menyatakan bahwa tujuan dari produksi adalah memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang merupakan fardu kifayah, yaitu kebutuhan yang bagi banyak orang pemenuhannya bersifat wajib.

4. Siddiqi (1992) mendefenisikan kegiatan produksi sebagai penyediaan barang dan jasa dengan memerhatikan nilai keadilan dan kebajikan/kemanfaatan (mashlahah) bagi masyarakat. Dalam pandangannya, sepanjang produsen telah berindak adil dan membawa

kebajikan bagi masyarakat maka ia telah bertindak Islami.12 13 Dalam Ekonomi konvensional, motivasi utama bagi produsen adalah

mencari keuntungan material (uang) secara maksimal sangat dominan, meskipun saat ini sudah berkembang bahwasanya produsen tidak hanya bertujuan mencari keuntungan maksimal semata. Produsen adalah seorang profit seeker sekaligus profit maximize.

Strategi, konsep dan teknik berproduksi semuanya diarahkan untuk mencapai keuntungan maksimum, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Milton Friedman menunjukkan bahwa satu-satunya fungsi bisnis adalah untuk melakukan aktivitas yang ditunjukkan dalam rangka meningkatkan keuntungan. Isu yang kemudian berkembang menyertai

12 Edwin,dkk,Pengenalapan eksekutif ekonomi islam, (jakarta, kencana, 2007), hal 74.

13 Suherman, Pengantar Teori Ekonomi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal 54

motivasi produsen ini adalah masalah etika dan tanggung jawab sosial produsen. Keuntungan maksimal telah menjadi sebuah insentif yang teramat kuat bagi produsen untuk melaksanakan produksi.

Akibatnya untuk mencari keuntungan maksimal seringkali menyebabkan produsen mengabaikan etika dan tanggung jawab sosialnya, meskipun mungkin tidak melakukan pelanggaran hukum formal, misalnya dalam rangka menekan biaya dalam pengolahan limbahnya, suatu pabrik membuang sisa hasil produksinya ke sungai. Atau seorang pengusaha di bidang perhutanan yang menebang pohon-pohon tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap kelestarian hutan terutama hutan sebagai penampung air yang pada jangka panjang dapat menyebabkan bencana bagi manusia.

Dalam pandangan ekonomi Islam, produsen semestinya sejalan dengan tujuan produksi dan tujuan kehidupan produsen itu sendiri. Jika tujuan produksi adalah menyediakan kebutuhan material dan spiritual untuk menciptakan maslahah, maka motivasi produsen tentu saja juga mencari maslahah, dimana hal ini juga sejalan dengan tujuan kehidupan seorang muslim. Produsen dalam pandangan ekonomi Islam adalah mashlahah maximizer, mencari keuntungan melalui produksi dan kegiatan bisnis lain tidak dilarang sepanjang berada dalam bingkai tujuan dan hukum Islam, hal ini telah tercantum dalam rancang bangun ekonomi Islam dimana salah satunya adalah ma’ad atau return. Prinsip etika dalam produksi yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim baik induvidu ataupun komunitas adalah berpegang pada semua yang dihalalkan Allah SWT dan tidak melewati batas.

Benar bahwa daerah halal itu luas, tetapi mayoritas jiwa manusia yang ambiritus merasa kurang puas dengan hal itu walaupun banyak jumlahnya.

Maka temukan jiwa manusia tergiur kepada sesuatu yang haram dengan melanggar hukum-hukum Allah SWT.14

Pada dasarnya, produsen pada catatan ekonomi konvensional tidak mengenal istilah halal dan haram. Yang menjadi prioritas kerja mereka adalah memenuhi keinginan pribadi dengan mengumpulkan laba, harta, dan uang. Ia tidak mementingkan apakah yang diproduksinya itu bermanfaat atau berbahaya, baik atau buruk, etis atau tidak etis. Ekonomi Islam sangat menganjurkan dilaksanakannyaaktivitas produksi dan mengembangkannya, baik segi kuantitas maupun kualitas. Ekonomi Islam tidak rela jika tenaga manusia atau komiditi terlantar begitu saja. Islam menghendaki semua tenaga dikerahkan untuk meningkatkan produktivitas lewat itqan (ketekunan) yang diridhoi oleh Allah SWT atas segala sesuatu. Terkait dengan hal ini, seseutu bangsa harus berproduksi untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Produksi harus dilakukan dalm apapun, oleh pemerintah maupun oleh swasta. Bahkan tidak perlu diragukan lagi bahwa hubungan antar bangsa- bangsa di dunia yang sedemikian mesranya dewasa ini, salah-satu diantaran penunjang-penunjangnya adalah produksi barang dan jasa antar bangsa itu.15

Akan tetapi, produksi tentu saja tidak akan dapat dilakukan kalau tidak ada bahan-bahan yang memungkinkan dilakukannya proses produksi itu

14 Yusuf Qardahawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, ( Jakarta: Gema insani press, 1997) hal. 104

15 Hulwati, Ekonomi Islam, ( Ciputat: Press Group, 2006), hal 120

sendiri. Untuk bisa melakukan produksi, orang memerlukan tenaga manusia, sumber-sumber alam, modal dalam segala bentuknya, serta kecakapan.

Semua unsur itu disebut faktor-faktor produksi. Semua unsur yang meopang usaha penciptaan nilai atau usaha memperbesar nilai barang disebut sebagai faktor-faktor produksi. Didalam produksi juga terdapat beberapa ketentuan diantaranya ialah biaya produksi yang mana biaya produksi ini adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan output.

Biaya produksi tidak lebih tidak lebih dan tidak kurang dari pada penjumlahan harga-harga faktor produksi atau input itu. Sekalipun besarnya biaya produksi untuk setiap output tidak semata-semata hanya tergantung pada harga pembelian input. Biaya produksi adalah nilai semua faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan (memproduksi) output.

Oleh karena itu, biaya produksi setiap output itu tergantung sepenuhnya pada dua hal, yaitu sebagai berikut:

Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan input yakni harga input

1. Efisiensi perusahaan yang bersangkutan dalam mempergunakan inputnya. Dua perusahaan yang memiliki input yang persis sama, tetapi yang satu bekerja dengan lebih efisien ( dengan efisiensi yang lebih besar) dari yang lain, maka sudah barang tentu bahwa perusahaan yang bekerja dengan lebih efisien itulah yang dapat lebih menekan biaya produksinya. Telah sejak semula para ahli ekonomi memandang penting persoalan biaya produksi ini. Alasannya adalah karena jasa-jasa faktor

produksi langka adanya sehingga menjadi bernilai. Dengan mempergunakan faktor-faktor produksi itu, perusahaan yang bersangkutan telah mempergunakan benda-benda yang bernilai. Karena tujuan utama sesuatu perusahaan atau firm adalah untuk mendpatkan laba semaksimal mungkin, persoalan biaya produksi ini sangat dirasakan karena laba merupakan selisih antara penerimaan dan biaya. Pengetahuan akan besarnya biaya-biaya produksi lalu merupakan prakondisi untuk mengetahui besarnya laba atau keuntungan. Pengetahuan akan biaya-biaya produksi perlu:16

a. Untuk melukiskan tingkah laku aktual perusahaan.

b. Untuk dapat meramalkan bagaimana tingkah laku perusahaan dalam menghadapi perubahan-perubahan kondisi yang dihadapinya.

c. Untuk membantu perusahaan yang bersangkutan dal menententukan kebijaksanaan yang terbaik yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuannya (yakni mencapai laba maksimum)

d. Untuk dapat memberikan penilain betapakah caranya perusahaan mengelola sumber-sumber faktor produksi.

Sementara itu, sumber-sumber yang dipergunakan didalam produksi itu dapatlah dibagi menjadi dua kategori utama. Kategori utama adalah sumber-sumber atau input yang jumlahnya tetap saja sekalipun jumlah output yang dihasilkan itu bertambah ataupun berkurang. Sumber-sumber demikian ini disebut sebagai sumber-sumber tetap (fixed resources). Sumber-sumber atau

16 Adiwarman, Karim, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 23

input yang dimiliki sifat seperti dapat sebutkan disini antara lain adalah tanah, bangunan, mesin dan sebagainya. Kategori kedua adalah sumber-sumber atau input yang jumlahnya senantiasa berubah-ubah sering dengan berubahnya output yang dihasilkan. Artinya, input jenis kedua ini akan bertambah jika output yang dihasilkan sedemikian ini disebut sebagai sumber-sumber variabel (variable resources). Sumber yang dimiliki sifat seperti ini dapat disebutkan contohnya disini antara lain adalah bahan mentah ( bahan baku dan bahan penolong) jam kerja, dan sebagainya.17

Konsep produksi menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang teresdia dan harganya terjangkau. Oleh karena itu, manajemen harus berfokus pada peningkatan efisiensi produksi dan distribusi. Konsep ini merupakan salah satu orientasi tertua yang memandu penjual. Konsep produksi masih nerupakan filosofi yang bermanfaat dalam beberapa situasi.

Konsep produksi bisa menyebabkan rabun jauh pemasaran. Perusahaan yang mennerapkan orientasi ini menjalani resiko besar karena terlalu memfokuskan diri pada operasi mereka sendiri dan kehilangan pandangan terhadap tujuan yang sebenarnya-memuaskan kebutuhan dan membangun hubungan pelanggan.

Dalam dokumen Oleh: MAIMUNAH (Halaman 22-29)

Dokumen terkait