• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Bank Rakyat Indonesia

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 41-46)

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) merupakan bank komersial tertua di Indonesia yang didirikan pada 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah. Berawal dari sebuah badan pengelola dana masjid di Purwokerto yang bertugas mengelola dan menyalurkan dana kepada masyarakat dengan skema yang sederhana. Raden Aria Wiriatmaja mendirikan lembaga dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden. Lembaga ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi perekonomian masyarakat. Pada tahun selanjutnya lembaga ini mengalami beberapa kali perubahan nama, seperti Hulp-en Spaarbank der Inlandshe Bestuurs Ambtenareen (1895), De Poerwokertosche Hulp Spaar-en

Landbouw Credietbank atau Volksbank (1912). Pada tahun 1912 kembali mengalami perubahan nama menjadi Centrale Kas Voor Volkscredietwezen Algemene dan berubah menjadi Algemene Volkscredietbank (AVB) pada tahun 1934. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, AVB berganti menjadi Syomin Ginko (1942-1945) (BRI, 2011).

Pada tanggal 22 Februari 1946, Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946, mengubah nama Syomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Saat itu BRI, sebagai bank Pemerintah, menjadi ujung tombak dalam pembangunan perekonomian nasional. Pada tahun 1960, Nama BRI kemudian diubah lagi oleh Pemerintah menjadi Bank Koperasi Tani Nelayan (BKTN). Dan berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 1968, pada tanggal 18 Desember 1968 BRI secara resmi ditetapkan sebagai bank umum pemerintah. Berdasarkan Undang-Undang Perbankan No.7 Tahun 1992, BRI berubah status badan hukum menjadi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero). Pada tanggal 10 November 2003, BRI menjadi Perseroan Terbuka dan mencatatkan sahamnya pada Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia / BEI) dengan ticker “BBRI”. Saat ini, saham BRI tergabung dalam indeks saham LQ-45 dan menjadi salah satu saham unggulan di BEI.

Pemerintah Republik Indonesia merupakan pemilik mayoritas saham BRI, yaitu sebesar 56,75% dan sisanya sebesar 43,25% dimiliki oleh pemegang saham publik. Dengan dukungan pengalaman dan kemampuan yang matang di dalam memberikan layanan perbankan, terutama pada segmen UMKM, BRI selama 7 tahun berturut-turut mampu mempertahankan prestasinya sebagai bank dengan laba terbesar dan berhasil menduduki peringkat kedua dalam hal aset di antara industri perbankan Indonesia.

BRI fokus pada segmen usaha mikro, kecil dan menengah yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dengan potensi pangsa pasar sebanyak 55,21 juta usaha UMKM. Dari jumlah tersebut, sekitar dua-pertiga belum terjangkau oleh layanan perbankan.

BRI mengoperasikan jaringan kantor pelayanan terbesar di Indonesia. Sebanyak 7.975 unit kerja hadir melayani masyarakat hingga ke pelosok nusantara dan seluruhnya telah terhubung secara real-time online. BRI hadir dari Sabang hingga Merauke, dari desa hingga kota, dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern.

BRI terus mengembangkan layanan e-channel. ATM bertambah dari 1.262 unit pada tahun 2007 menjadi 7.292 unit pada tahun 2011. Perkembangan e-channel tersebut diikuti pula dengan penambahan fitur dari 155 fitur pada tahun 2007 menjadi 742 fitur pada tahun 2011.

BRI memiliki basis nasabah terbesar di Indonesia, yaitu lebih dari 36 juta rekening nasabah hingga akhir tahun 2011, dengan simpanan masyarakat yang didominasi oleh dana murah. Pada tahun 2011, porsi dana murah terhadap dana pihak ketiga mencapai lebih dari 60%, dengan pertumbuhan tertinggi pada produk tabungan.

Ditopang oleh SDM prima, sistem teknologi yang handal, jaringan kerja yang luas, basis nasabah yang besar, strategi bisnis yang tepat serta efisiensi yang terjaga, BRI berhasil menjaga profitabilitasnya. Laba bersih BRI pada 2011 tercatat sebesar Rp15,08 triliun atau meningkat 31,47% dari Rp11,47 triliun di tahun 2010 (BRI, 2011).

3.4.1 Divisi Pendidikan dan Pelatihan BRI

Divisi Pendidikan dan Pelatihan merupakan suatu divisi yang memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi sumber daya manusia BRI. Saat ini BRI memiliki 7 unit kerja yang berfungsi sebagai penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. 1 pusat pendidikan dan pelatihan (Pusdiklat) yang berlokasi di Jakarta dan 6 sentra pendidikan (Sendik) yang masing-masing berlokasi di Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Sendik Padang adalah penyelenggara pendidikan untuk wilayah Sumatera, kecuali Sumatera Selatan dan Lampung, sendik Jakarta untuk

wilayah DKI, Sumatera Selatan dan Lampung, sendik Bandung untuk Jawa Barat, sendik Yogyakarta untuk DIY dan Jawa Tengah, sendik Surabaya untuk Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, serta sendik Makasar untuk wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Adapun jenis pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh BRI saat ini diantaranya (BRI P. , 2011):

1. Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Rekrutmen, terdiri dari:

a. Pendidikan kaderisasi pimpinan Program Pengembangan Staff (PPS) b. Pelatihan Associate Auditor

c. Pelatihan Residence Auditor d. Pelatihan Account Officer e. Pelatihan Funding Officer f. Pelatihan Front Liners

2. Pendidikan dan Pelatihan Aplikasi, bertujuan untuk meberikan penyegaran kembali bagi pegawai sesuai dengan tugas dan jabatan yang sedang dijalankannya, terdiri dari :

a. Pelatihan untuk Pimpinan Cabang Pembantu b. Pelatihan untuk Pimpinan Cabang

c. Pelatihan untuk Mantri d. Pelatihan untuk Kepala Unit

3. Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan, bertujuan membekali pegawai yang berpotensi untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi, terdiri dari :

a. Pelatihan Management Development Program b. Pelatihan Supervisor Development Program

c. Pelatihan Assistant Manager Development Program d. Pelatihan Assistant Vice President Development Program

e. Pelatihan Vice President Development Program

3.4.2 Struktur Organisasi Divisi Pendidikan dan Pelatihan BRI

Divisi Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) dikepalai oleh seorang Kepala Divisi dan membawahi beberapa bagian beserta 6 sentra pendidikan yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Struktur organisasi Pusdiklat dapat dilihat pada Gambar 3.3 (BRI P. , 2011).

Gambar 3.3 Struktur Organisasi Divisi Diklat BRI Kadiv

--- Wakadiv

Instruktur

Sendik :

1. Sendik Padang 4. Sendik Bandung 2. Sendik Surabaya 5. Sendik Jakarta 3. Sendik Yogyakarta 6. Sendik Makassar

Akademik Operasional Seksi Pemasaran Jasa & Pelayanan

Keuangan Logistik E-Education

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai analisa studi kasus, identifikasi potensi manfaat dengan Rantis’s Generic IS/IT Business Value, pemodelan hubungan sebab akibat manfaat bisnis dengan System Dinamics, kuantifikasi manfaat bisnis, perhitungan total manfaat dan perhitungan nilai Economic Value Added (EVA) yang akan dijadikan sebagai acuan oleh pihak manajemen BRI untuk memutuskan apakah proyek sistem online training ini berpotensi untuk dijalankan atau tidak.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 41-46)

Dokumen terkait