• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

DESKRIPSI WILAYAH DAN INTREPETASI DATA PENELITIAN

B. Profil Informan Calon Kepala Desa yang Kalah

1. Nama : Agus Harianto Purba Jenis kelamin : laki-laki

Status : menikah

Umur : 40 tahun

Agama : Kristen protestan Pekerjaan : pengusaha

Pendidikan : SMA

Bapa Tongah (nama panggilan pada orang tua dalam adat simalungun) Agus Harianto Purba merupakan salah satu orang terpandang dan terkaya yang ada di Desa Bahapal Raya. Terlihat dari sekilas kekayaan yang dimilikinya dengan rumah yang cukup besar untuk ukuran kampung dan mobil Avanza serta mobil truk yang terparkir di samping rumahnya. Beliau merupakan pengusaha yang tergolong cukup sukses di Kecamatan Raya, beliau memiliki bisnis sebagai tokeh kerbau. Cara tokeh kerbau di Raya cukup unik karena beliau memberikan kerbaunya kepada masyarakat untuk dibesarkan dan setelah besar maka keuntungan penjualan dibagi sesuai kesepakatan antara tokeh kerbau dan orang yang membesarkan kerbau tersebut. Beliau tidak hanya memberikan kerbaunya untuk dibesarkan oleh warga yang mau membesarkanya kepada masyarakat yang ada di Kecamatan Raya saja tetapi sampai ke Saribu Dolok, Kecamatan Purba. Beliau juga menjual dan membeli kerbau

masyarakat untuk dijual kembali ke rumah potong yang ada di Kota Siantar dan Kisaran.

Saya berjumpa dengan bapa tongah Agus Harianto Purba di jalan, ternyata setelah saya menyapa dan memperkenalkan diri saya menanyakan pulang dari mana. Ternyata beliau baru transaksi bisnisnya dengan tokeh lain di Kota Kecamatan Raya. Setelah selesai sedikit berbasa-basi dengan beliau, saya mulai mengutarakan maksud kedatangan saya ke rumah beliau. Sesaat setelah mendengar penjelasan saya maka raut wajah beliau sedikit agak kurang nyaman dengan topik penelitian saya tetapi saya terus mencoba untuk membuat nyaman percakapan di dalam wawancara dengan bapak tersebut. Selang beberapa menit wawancara istri beliau datang membawa teh manis untuk minum. Istri beliau merupakan Bidan Desa. Melewati sekitar beberapa pertanyaan Tongah Agus Harianto Purba mulai terbuka dan mau untuk bercanda kepada saya. Beliau menceritakan bagaimana perjalanan beliau saat periode perebutan kursi Kepala Desa pada waktu itu.

Menurut penuturan beliau, sebenarnya beliau punya kesempatan untuk menang dalam pemilihan PILKADES karena beliau cukup dermawan di desa itu dan semua orang mengenalinya. Dalam perebutan kursi tersebut beliau mengatakan bahwa hanya mengandalkan pergaulannya saja di kehidupan sehari-hari. Kekalahan yang didapatkan pada saat perebutan kursi Kepala Desa itu tidak langsung menjadikannya memusuhi warga desa karena tidak memilihnya pada saat PILKADES. Beliau mengatakan bahwa semua warga desa bebas memilih calon Kepala Desa yang di sukainya dan tidak mau memaksa kehendaknya. Hubungan yang terus dijaga dengan baik ini juga diharapkan oleh Tongah Agus Harianto Purba dapat membantunya lagi memenangkannya lagi di pemilihan calon Kepala Desa

selanjutnya. Harapan besar yang dimiliki oleh Bapa Tongah Agus Harianto Purba inilah yang menjadi bahan evaluasi dalam pertarungan perebutan Kursi Kepala Desa selanjutnya. Beliau mengatakan akan ada pematangan rencana dan lebih aktif lagi ikut kegiatan masyarakat desa.

2. Nama : Jonni Purba Jenis kelamin : laki-laki

Status : duda/single parent

Umur : 50 tahun

Agama : Kristen protestan Pekerjaan : petani

Pendidikan : SMA

Bapa Tongah Jhoni Purba berada di Desa Juma Palia, berjarak sekitar 1 km dari Nagori Bahapal Raya. Saya sebelum tiba di rumah beliau harus bertanya dulu kepada beberapa warga letak tepat dari rumahnya di Desa Juma Palia karena ini juga pertama kali saya datang ke desa ini. Setelah mengetahui letak tepat rumah beliau saya langsung bergegas ke rumah beliau karena kebiasaan di kampung ini kalau sudah jam 9 ke atas maka banyak penduduk yang tidak berada di rumah lagi. Setelah berselang beberapa menit akhirnya saya sampai ke rumah beliau dengan melalui jalan bebatuan dan agak berlumpur karena pada saat itu lagi musim hujan di Kecamatan Raya.

Pada saat saya datang kerumahnya, beliau sedikit bingung dengan kedatangan saya dengan pakaian mahasiswa kebanyakan karena melihat wajah saya yang tidak terlihat familiar baginya. Sesampainya saya memarkirkan sepeda motor saya dan

mengucapkan salam kepada beliau. Beliau dengan masih sedikit bingung membalas salam saya. Kemudian saya memperkenalkan diri saya kepada beliau dengan mengatakan asal-usul saya dengan bahasa simalungun beliau mulai agak menyiratkan senyum di wajahnya karena merasa masih menganggap orang sesama Suku Simalungun.

Selesai setelah saya memperkenalkan diri saya, maka mulai saya mengungkapkan maksud kedatangan saya kepada beliau, bahwa saya ingin melakukan penelitian di desa ini guna memenuhi penelitian skripsi saya. Beliau menanggapi maksud kedatangan saya dengan cukup positip dan bersedia untuk melakukan wawancara dengan saya walau terlihat mukanya terlihat seperti ingin segera pergi ke suatu tempat. Dalam melakukan wawancara dengan beliau maka saya sempatkan menanyakan beliau ingin pergi kemana. Beliau mengatakan bahwa sudah memiliki janji dengan kelompok tani yang di bentuknya di desa itu. Setelah mengetahui hal tersebut beliau mengatakan masih bisa menunda dan mengabari teman kelompok taninya akan datang agak terlambat.

Beliau mulai menceritakan bahwa motivasi beliau mencalon sebagai calon Kepala Desa pada waktu itu adalah guna mengembangkan program kelompok tani yang sudah di bentuknya dan sedang di kembangkannya. Beliau juga menuturkan kalau beliau dalam kampanye hanya kepada keluarga dekatnya dan di desanya saja. Di setiap kampanye yang dilakukan beliau selalu membahas tentang program kelompok tani yang ingin di kembangkannya dan kurang memperhatikan tentang hal politiknya.

Beliau bukan tokoh yang memiliki kekayaan yang melimpah atau kedudukan sosial tinggi seperti calon kandidat Kepala Desa yang lain. Terlihat dari rumah yang

umumnya dimiliki oleh penduduk desa. keinginannya yang kuat tentang pengembangan program kelompok tani sajalah yang membuatnya ikut dalam perebutan kursi Kepala Desa. Dalam pikiran beliau dengan bisa menang menjadi Kepala Desa maka bisa memudahkan pengembangan kelompok tani dan anggaran serta hubungan dengan pemerintah daerah bisa diakses lebih mudah.

3. Nama : Jalesman Sinaga Jenis kelamin : laki-laki

Status : menikah

Umur : 62 tahun

Agama : Kristen Protestan Pekerjaan : petani

Pendidikan : SMP

Rumah kediaman dari bapa tongah Jalesman Sinaga berada di Desa Raya Humala tepatnya berjarak sekitar 3 km dari Desa Bahapal Raya. Ini juga merupakan pertama kalinya saya datang ke kampung ini sehingga perlu untuk menanyakan beberapa warga desa yang saya jumpai untuk mengetahui letak tepatnya Desa Raya Humala dan rumah beliau. Setelah melewati Desa Juma Palia maka baru saya menemukan Desa Raya Humala. Saat saya tiba di desa ini maka saya langsung menanyakan rumah kediaman bapa tongah Jalesman Sinaga, tak selang berapa lama saya sudah mengetahui letak rumah beliau dan langsung menuju kesana.

Sampai di depan rumah bapa tongah Jalesman Sinaga, saya berjumpa dengan wanita paruh baya yang sedang menjemur biji kakao di depan rumahnya yang cukup luas. Dari depan pagar rumah beliau saya mengucapkan salam dan bertanya kepada

ibu tersebut apakah benar ini merupakan rumah kediaman Jalesman Sinaga. Ibu tersebut menjawab dengan senyum di wajahnya dan berkata iya, lalu ibu tersebut menanyakan maksud kedatangan saya kerumah beliau. Saya terlebih dahulu memperkenalkan diri kepada ibu tersebut dan kemudian memperkenalkan maksud kedatangan saya kepada ibu tersebut. Setelah tahu bahwa saya mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di desa tersebut maka ibu tersebut menanggapinya dengan cukup antusias dan senang. Lalu saat saya menanyakan apakah bapak Jalesman Sinaga ada di rumah maka ibu mengatakan bahwa beliau sudah pergi keladang untuk menyemprot ladang jeruk mereka. Ibu itu menjelaskan kalaui ingin menemui beliau boleh ke ladangnya langsung karena berada tepat di pinggir jalan dan hanya berjaraka 200 meter dari rumahnya.

Niat saya yang ingin mewawancarai beliau hari itu juga maka saya jumpai bapak itu keladangnya dengan tidak mengetahui pasti dimana tepatnya ladang jeruknya. Di sepanjang jalan banyak sekali terlihat ladang jeruk yang menjadikan bingung saya sehingga saat ada orang di salah satu kebun jeruk warga maka saya langsung menanyakannya saja kepada warga tersebut. Setelah bertanya kepada warga yang berada di salah satu ladang jeruk tersebut ternyata jaraknya masih agak jauh lagi dan saya teruskan pencarian saya dan setelah melewati hampir 80 meter maka saya melihat ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di pondok-pondok ladang jeruknya. Saya memasuki ladang tersebut dan menanyakan apakah beliau bapak Jalesman Sinaga. Beliau dengan wajag bingung dan agak waspada tetap menjawab saya dengan cukup tenang. Lalu saya memperkenalkan diri saya dengan bahasa simalungun supaya bisa lebih akrab.

Setelah memperkenalkan diri saya pada beliau dan saya teruskan dengan mengatakan maksud kedatangan saya menjumpai bapak tersebut di ladang jeruknya. Pertama mengetahui kalau saya datang untuk melakukan penelitian di desa itu dengan beliau sebagai informan saya maka beliau masih menanggapinya dengan agak kebingungan kemudian saya menjelaskan lagi secara lebih terperinci maka beliau baru bisa mengerti dan mengetahui cara kerja wawancara.

Saya memulai proses wawancara saya kepada bapak tersebut dan terlihat beliau masih agak kebingugan menjawabnya tetapi dengan sedikit penjelasan lebih terperinci maka bapak tersebut dapat menjawabnya dan untuk pertanyaan-pertanyaan berikutnya sudah jadi lebih terbiasa dan wawancara dapat berjalan lebih lancar. Beliau menceritakan bahwa beliau sebelumnya adalah pengantar jemaat/pemimpin gereja dan baru 2 tahun ini pensiun karena usia yang sudah lanjut. Beliau mengatakan ikut bertarung dalam perebutan kursi Kepala Desa beberapa tahun yang lalu dengan lebih banyak mempengaruhi masyarakat melalui wadah kegiatan agama ataupun kegiaatan gereja. Beliau merupakan salah satu tokoh masyarakat yang cukup sukses di desa itu karena melihat rumahnya yang cukup besar untuk ukuran desa dan mobil avanza serta mobil pick up yang terparkir di sampan rumahnya dan banyaknya kebun jeruk yang dimilikinya. Semua tersebut tentu yang memotivasi beliau untuk mencalon sebagai Kepala Desa. karena keinginan untuk mencalon sebagai Kepala Desa tersebut tidak murni karena keinginannya sendiri tapi dorongan dari keluarga dan tetangga dekatnya. Berpijak dari itu maka bapa tongah Jalesman Sinaga ikut bertarung dalam pertarungan Kepala Desa.

Jenis kelamin : laki-laki Status : menikah

Umur : 39 tahun

Agama : Kristen protestan Pekerjaan : wiraswasta Pendidikan : gelar sarjana S1

Pagi hari jam 06.30 wib pagi saya telah berangkat dari rumah menuju Desa Raya Humala. Saya telah mengetahui letak rumah dari bapak Jan Nofri Saragih sebelumnya saat wawancara dengan bapa tongah Jalesman Sinaga. Setibanya saya di depan rumah beliau, saya melihat rumah beliau masih tertutup dan di samping rumahnya saya melihat seorang ibu rumah tangga sedang membersihkan rumput yang ada di depan rumahnya. Kemudian saya menanyakan lagi kepada ibu tersebut apakah rumah itu kediaman dari tulang Jan Nofri Saragih maka ibu tersebut membenarkannya. Setelah saya ingin permisi untuk pergi kerumah tulang Jan Nofri Sinaga maka saya melihat rumah beliau sudah terbuka dan beliau sedang berdiri di depan rumahnya.

Saya mendatangi rumah beliau sambil mengucapkan salam dalam bahasa simalungun dan tulang Jan Nofri Sinaga juga menyambut saya dengan senyuman. Setelah saling berbalik salam beliau mulai menanyakan saya dari mana, lalu saya memperkenalkan diri saya pada beliau dengan bahasa Simalungun agar bisa terlihat lebih akrab. Perkenalan yang berlangsung secara beberapa menit diiringi beberapa candaan maka bapak itu mempersilahkan saya masuk kerumahnya. Beliau sibuk membersihkan meja dan kursi yang agak berantakan agar bisa duduk dengan nyaman. Di dalam rumah saya melihat istri beliau sedang memberi makan anak

mereka yang masih balita. Istri beliau melemparkan senyum dan mempersilahkan saya masuk ke rumahnya.

Tulang Jan Nofri Saragih mulai duduk dan mempersilahkan saya untuk duduk juga. Saya mulai duduk dan mengatakan maksud kedatangan saya kepada beliau bahwa saya mahasiswa yang ingin melakukan penelitian di desa ini. Setelah mengatakan maksud kedatangan saya, terlihat jelas muka beliau sangat senang karena ternyata beliau juga lulusan sarjana juga. Secara kebetulan beliau merupakan alumni FISIP USU jurusan Antropologi stambuk 95. Saya pun langsung merasa nyaman dengan keadaan itu karena yang saya wawancarai adalah alumni senioran saya. Sebelum melakukan proses wawancara kepada beliau maka saya terlebih dahulu untuk menanyakan masa-masa beliau mahasisiwa dulu. Beliau mulai menceritakan kalau beliau merupakan salah satu mahasiswa aktivis dan tergabung di organisasi GMNI. Beliau menceritakan sering melakukan aksi pada saat itu dan masih merasakan peristiwa tahun 1998 dimana itu merupakan terjadinya reformasi dan turunnya rezim Soeharto.

Selesai menceritakan masa-masa perkuiahanya dulu di FISIP USU maka saya mulai melakukan wawancara dengan beliau. Saat sedang melakukan wawancara istri beliau datang membawakan kopi hitam untuk kami berdua. Proses wawancara dengan beliau berjalan sangat lancar karena beliau walaupun tidak lagi mahasiswa aktivis tetapi masih bergulat pada dunia itu juga. Beliau sudah membentuk program kelompok tani juga dan sering berkunjung ke kantor bupati baik itu untuk mengajukan proposal untuk alat pertanian maupun administrasi desa lainnya. Beliau juga mengatakan beberapa kerja kerasnya sudah berhasil, dimana mesin bajak, mesin pompa semprot dan beberapa alat pertanian lainnya sudah diberikan pemerintah pada

desa itu serta jalan untuk keladang juga mengalami perbaikan karena kerjasama dengan PEMDA juga.

Bicara tentang pertarungan beliau untuk perebutan kursi Kepala Desa maka beliau mulai mencritakan bahwa beliau ikut mencalon karena dicalonkan oleh keluarganya yang ada di desa tersebut. Sebelum mencalon beliau sebenarnya tinggal di dumai mengurus sawit tulangnya yang masih baru di tanam Karena pada saat itu beliau masih baru berumah tangga. Beliau juga datang ke Desa Raya Humala tiga bulan sebelum pemilihan Kepala Desa. Beliau juga datang ke desa ini tujuan awalnya untuk ikut ke acara pembaptisan anaknya yang pertama ternyata pada saat itu juga akan diadakan pemilihan Kepala Desa. Sebagai lulusan sarjana fakultas FISIP maka maka keluarga besar beliau mendukungnya untuk ikut PILKADES. Beliau juga berpikir untuk perlu ikut terjun ke dunia politik demi pengaplikasian ilmu beliau.

Selama 3 bulan tersebut beliau berusaha terus bergaul dengan seluruh desa yang ada di Nagori Bahapal Raya karena beliau belum terlalu familiar bagi masyarakat dan perlu untuk perkenalan juga dengan seluruh masyarakat desa. Beliau dalam bergaul tersebut tidak hanya berjalan sendiri tetapi ada orang yang membantunya termasuk keluarga dan beberapa orang di desanya yang juga membawa ke desa lain agar dibawakan dalam memperkenalkan beliau dalam pergaulan itu. Usaha beliau terus dilakukan terus menerus sampai hari pendaftaran dan pemilhan Kepala Desa tiba. Beliau kalah dengan selisih suara yang tidak terlalu banyak dengan Kepala Desa yang terpilih. Beliau berada pada posisi kedua suara terbanyak dan beliau mengatakan bahwa beliau mengatakan akan ikut kembali dalam pemilihan Kepala Desa selanjutnya.