• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara administratif Desa Bantarkaret berada di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Batas wilayah Desa Bantarkaret dapat dilihat dari:

1. Sebelah utara : Desa Pangkal Jaya 2. Sebelah timur : Kecamatan Leuwiliang 3. Sebelah selatan : Kabupaten Sukabumi 4. Sebelah barat : Desa Curugbitung.

Jarak Desa Bantarkaret dari Ibu Kota Kecamatan sekitar 15 km sedangkan jarak dari Pemerintahan Kabupaten Bogor sekitar 70 km. Terdapat angkutan umum yang melewati Desa Bantarkaret. Sarana transportasi yang menghubungkan desa dengan wilayah sekitarnya termasuk lancar. Hal ini dibuktikan dengan ketersediaan angkutan umum maupun ojeg yang memungkinkan akses masyarakat terhadap fasilitas publik seperti pendidikan, perdagangan, dan rekreasi berlangsung cepat.

Kelembagaan yang ada di Desa Bantarkaret di antaranya adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dengan jumlah pengurus sebanyak 11 orang, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan jumlah pengurus sebanyak 50 orang, Dewan Keluarga Masjid (DKM) dengan jumlah pengurus sebanyak 15 orang dan Perlindungan Masyarakat atau disebut Linmas dengan jumlah anggota sebanyak 40 orang. Desa Bantarkaret memiliki kelembagaan kemasyarakatan dengan perangkat desa yang terdiri dari:

1. Sekretaris Desa : 2 orang

2. Kepala Urusan : 5 orang

3. Kepala Dusun : 7 orang

4. Bendahara Desa : 1 orang

5. Staf : 3 orang

6. Badan Permusyawaratan Desa : 11 orang

Desa Bantarkaret terdiri dari tujuh Dusun, 13 Rukun Warga (RW) dan 38 Rukun Tetangga (RT). Masing-masing RW terdiri dari dua sampai lima RT yang terdapat pada Lampiran 3.

Kondisi Geografis

Desa Bantarkaret adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 841.04 ha. Desa Bantarkaret memiliki bentuk wilayah berbukit dan bergunung dengan kemiringan 21-40o. Ketinggian desa ini adalah sekitar 700 mdpl dengan curah hujan 400-800 mm/tahun dan kelembaban dengan suhu rata-rata 26-34o C. Sehingga Desa Bantarkaret cocok sebagai wilayah pertanian dan perkebunan.

Lahan persawahan Desa Bantarkaret sebagian besar merupakan sawah tadah hujan, sedangkan dibeberapa kampung menggunakan irigasi tradisional. Mayoritas warga Desa Bantarkaret yang bermata pencaharian sebagai petani,

biasanya menggarap lahan milik sendiri, sedangkan sisanya menggarap lahan milik orang lain.

Secara umum, kondisi jalan di Desa Bantarkaret cukup baik namun, masih banyak jalan yang berlubang dan berbatuan menuju kampung ke kampung. Hal ini membuat beberapa warga asli Bantarkaret pun ada yang belum pernah mengunjungi kampung-kampung yang jauh karena sulitnya akses jalan. Kemudian, terdapat sungai yang melintasi Desa Bantarkaret yaitu Sungai Cikaniki. Menurut warga dahulu sungai tersebut biasa digunakan untuk mencuci, memancing dan air minum. Saat ini Sungai Cikaniki sangat keruh dan tidak dapat lagi dimanfaatkan karena sudah tercemar oleh limbah pengolahan emas.

Struktur Sosial

Desa Bantarkaret dengan luas wilayah 841.04 ha memiliki jumlah penduduk sebanyak 10 329 jiwa. Penduduk Desa Bantarkaret sangat beragam. Keberagaman ini dapat dilihat dari kelompok umur, jenis kelamin, mata pencaharian, stastus kewarganegaraan, agama hingga tingkat pendidikan. Berikut piramida penduduk Desa Batar Karet:

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Gambar 3 Piramida Penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin

Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa penduduk berjenis kelamin laki-laki jumlah terbanyak ada pada kelompok umur 20-24 tahun. Pada penduduk berjenis kelamin perempuan jumlah terbanyak ada pada kelompok umur 60-64

15% 10% 5% % 5% 10% 15% 0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 – 69 70 Keatas Laki-Laki Perempuan

tahun. Berdasarkan jumlah penduduk gabungan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak ada pada kelompok umur 20-24. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Bantarkaret berusia produktif. Selain itu bila dianalisis menggunakan tipe-tipe piramida penduduk menurut Thompson dan Lewis (1995) dalam Rusli (2012), Gambar 3 termasuk dalam tipe 4. Tipe ini mempunyai kecenderungan menurunnya umur median dan meningkatnya angka rasio beban tanggungan umur muda serta angka rasio beban tanggungan total (Thompson dan Lewis 1995 dalam Rusli 2012). Selanjutnya, jumlah penduduk berdasarkan agama dan aliran kepercayaan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan agama

Agama ∑ (Orang) %

Islam 10 323 99.94

Khatolik 6 0.06

Total 10 329 100.0

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Tabel 6 menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat Desa Bantarkaret beragama Islam. Hanya enam orang yang beragama Khatolik dan statusnya merupakan pendatang yang menetap di Desa Bantarkaret.

Sebaran penduduk Desa Bantarkaret juga dapat dilihat berdasarkan tingkat pendidikan. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan ini dapat dilihat mulai dari penguasaan terhadap baca tulis hingga perguruan tinggi. Berikut jumlah penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan tingkat pendidikan:

Tabel 7 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan ∑ (Orang) %

Buta huruf 83 0.80

Belum Sekolah 1 061 10.27

Tidak Tamat SD/Sederajat 3 572 34.58

Tamat SD/Sederajat 4 106 39.75 Tamat SLTP/Sederajat 1 017 9.85 Tamat SMU/Sederajat 473 4.58 Tamat D1 2 0.02 Tamat D2 5 0.05 Tamat D3 4 0.04 Tamat D4 0 0.00 Tamat S1 6 0.06 Total 10 329 100.00

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Pada Tabel 7 terlihat mayoritas tingkat pendidikan masyarakat Desa Bantarkaret yaitu tamat SD. Selain itu, tamat D1 persentase terkecil yang ditemukan di Desa Bantarkaret.

Sebaran mata pencaharian masyarakat Desa Bantarkaret dapat dilihat melalui jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian pada Tabel 8.

Tabel 8 Jumlah penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan mata pencaharian

Jenis Mata Pencaharian ∑ (Orang) %

Petani 3 873 91.69 Pengusaha 3 0.07 Pengrajin 12 0.28 Buruh 90 2.13 Pedagang 200 4.73 Pengemudi 21 0.50

Pegawai Negeri Sipil 25 0.59

Total 4 224 100.00

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Pada Tabel 8 menunjukkan bahwa mata pencaharian terbanyak yaitu sebagai petani. Hal ini didukung oleh kondisi geografis desa yang sebagian besar lahannya merupakan lahan persawahan. Mata pencaharian terbesar kedua adalah pedagang.

Kondisi Sarana dan Prasarana

Terdapat beberapa sarana dan prasarana penunjang kehidupan di Desa Bantarkaret. Jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bantarkaret dapat dilihat melalui Tabel 9.

Tabel 9 Jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bantarkaret

Jenjang ∑ (Buah) % TK 4 30.8 SD 5 38.5 SD/MI 3 23.1 SLTP 1 7.7 Total 13 100.0

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Tabel 9 menunjukkan bahwa telah terdapat beberapa bangunan sekolah. Sarana pendidikan yang ada di Desa Bantarkaret telah mencapai jenjang SLTP. Belum terdapat sarana dan prasarana untuk jenjang di atas SLTP, seperti SMA atau Perguruan Tinggi. Sarana dan prasarana pendidikan terbanyak dimiliki oleh jenjang SD yang terdapat di lima lokasi, sedangkan sarana dan prasarana yang paling sedikit dimiliki oleh jenjang SLTP yang terdapat di satu lokasi. Selain dari bidang pendidikan, terdapat juga sarana dan prasarana untuk bidang keagamaan yang dapat dilihat dari Tabel 10.

Tabel 10 menunjukkan bahwa hanya terdapat sarana keagamaan untuk agama Islam di Desa Bantarkaret. Hal ini didukung dari persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan agama, bahwa hanya terdapat enam warga non- Islam dari seluruh penduduk desa.

Tabel 10 Jumlah sarana keagamaan di Desa Bantarkaret

Sarana Keagamaan ∑ (Buah) %

Mesjid Agung 2 2.8 Mesjid Jami 15 21.1 Mushola 37 52.1 Langgar 12 16.9 Majelis Ta’lim 5 7.0 Total 71 100.0

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Pola Kebudayaaan

Secara umum, kebudayaan di Desa Bantarkaret merupakan budaya pada etnis Sunda. Hal ini karena struktur penduduk desa yang didominasi oleh etnis Sunda. Agama yang dianut oleh penduduk asli pun turut dipengaruhi oleh budaya sunda ini, yaitu agama Islam. Budaya Sunda sendiri memang sangat lekat dengan agama Islam, hal ini dapat dilihat dari kegiatan kebudayaan yang tidak lepas dari ritual keagamaan seperti syukuran, atau sunatan.

Semakin maraknya penambang liar membuat Desa Bantarkaret didatangi beragam suku dan etnis. Oleh karena itu, masyarakat Desa Bantarkaret yang seluruhnya merupakan etnis Sunda, saat ini sudah banyak mengalami percampuran etnis akibat adanya pernikahan. Sebagian warga mengeluhkan banyaknya pendatang karena mengurangi keamanan desa. Kebanyakan pendatang yang tidak berhasil dalam “usaha” atau gurandil, biasanya mencuri dan membobol usaha di desa.

Menurut pemaparan warga desa, keamanan saat ini di desa pun terbilang kurang aman. Kebiasaan ronda atau piket jaga lingkungan sudah tidak ada. Menurut warga, jika ada pencurian atau kejahatan, maka ronda baru dijalankan selama dua sampai tiga hari saja. Kurangnya keamanan di desa juga disebabkan oleh lunturnya kebiasaan gotong royong dalam masyarakat. Gaya hidup modern membuat masyarakat hanya memikirkan uang daripada lingkungannya sehingga munculnya penambang liar karena tuntutan gaya gidup. Menurut ASP, ANTAM juga menarik para pendatang dari berbagai tempat seperti Cianjur, Sukabumi dan lainnya, sehingga persentase pendatang setiap tahunnya semakin tinggi. Budaya gotong royong ditengah masyarakat semakin memudar karena banyaknya benturan-benturan budaya antara pendatang dan warga asli. Hal ini juga ditunjukan dengan sulit dikumpulkannya masyarakat.

Budaya gotong royong sih alhamdulilah, sekalipun hanya berlaku dibeberapa titik. Bahkan untuk mengumpulkan warga di beberapa titik sudah

sulit dilakukan.” ASP, 32 tahun

Hal ini menunjukkan bahwa dibeberapa wilayah di Desa Bantarkaret sudah mengalami kelunturan budaya sehingga menimbulkan berkurangnya kekompakan, gotong-royong antar masyarakat.

Pola Adaptasi Ekologis

Berdasarkan wawancara dari beberapa warga dan aparatur desa, ketika ANTAM Pongkor berdiri di Desa Bantarkaret, terdapat sebagian lahan milik warga yang dibeli dengan harga murah oleh perusahaan. Sebagian dari lahan yang dibeli oleh ANTAM merupakan lahan pertanian seperti lahan sawah atau kebun. Hal ini menyebabkan adanya perubahan kondisi ekologi Desa Bantarkaret. Menurut informasi yang didapat dari beberapa informan, untuk menghadapi perubahan kondisi ekologi ini, banyak warga desa yang beralih profesi menjadi penambang emas liar atau pedagang. Dana pembebasan lahan yang diberikan oleh PT. ANTAM kepada warga digunakan sebagai modal untuk berdagang atau menambang emas secara ilegal.

Semakin menyempitnya lahan pertanian akibat keperluan lahan untuk perusahaan dan pemukiman membuat semakin sedikitnya mata pencaharian petani di desa ini. Sebagian besar warga yang masih memiliki lahan persawahan memilih untuk tidak menjual hasil pertaniannya. Menurut warga, hasil pertanian hanya untuk konsumsi keluarga karena sehubungan dengan semakin mahalnya beras. Namun berdasarkan penuturan beberapa informan, warga desa Bantarkaret memang menggunakan hasil pertanian secara subsisten sejak dahulu. Hal ini karena pada waktu sebelum datangnya ANTAM, akses menuju pasar terdekat sangatlah sulit. Belum adanya jalanan aspal serta alat transportasi umum membuat masyarakat sulit mencapai pasar untuk menjual hasil pertaniannya.

Ditegaskan oleh pernyataan Pak PRN, sebelum adanya ANTAM warga sekitar bermata pencaharian sebagai petani. Lahan pertanian warga sebagian besar tadah hujan dan penggarapan masih menggunakan teknik tradisional, sehingga hasilnya pun “pas-pas an”. Semenjak adanya PT. ANTAM, warga mulai mengetahui bahwa di Desa Bantarkaret kaya akan sumberdaya alam emas. Hal ini menyebabkan warga banyak beralih profesi menjadi penambang emas liar atau sering disebut warga sekitar sebagai gurandil. Ada pula petani yang juga mengerjakan pekerjaan membantu gurandil seperti memikul tanah saja atau menumbuk tanah saja. Hasil dari memikul tanah saja 3 ribu rupiah/kilo dan menumbuk tanah saja 40 ribu rupiah/karung. Hal ini sudah sangat menguntungkan untuk para petani yang menunggu panen sehingga, masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-harinya. Lahan pertanian juga banyak beralih fungsi menjadi wilayah ANTAM dan pemukiman tapi tetap masih cukup banyak lahan pertanian. Menurut PRN, hal ini merubah gaya hidup masyarakat, masyarakat

berfikir “instan”, dibuktikan dengan banyaknya gurandil.

Karakteristik Responden

Berdasarkan data primer yang telah dikumpulkan, didapatkan karakteristik responden. Karakteristik resonden dilihat dari tingkat pendidikan, kelompok umur dan mata pencaharian utama. Berikut jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan.

Tabel 11 menunjukkan mayoritas tingkat pendidikan responden yaitu tamat SD. Hal ini juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan mayoritas responden di Bantarkaret yang merupakan tamat SD.

Tabel 11 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan ∑ (Orang) %

SD - tidak tamat 3 6.7 SD – tamat 33 73.3 SMP – tamat 6 13.3 SMA – tamat 2 4.4 Perguruan Tinggi 1 2.2 Total 45 100.0

Selanjutnya sebaran responden berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12 menunjukkan jumlah terbanyak responden pada kelompok umur 46-52 tahun. Berdasarkan piramida penduduk kelompok umur 46-52 tahun bukan merupakan kelompok umur terbanyak di Desa Bantarkaret. Namun, sebaran responden terbanyak menurut kelompok umur terdapat pada 46- 52 tahun.

Tabel 12 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur

Kelompok Umur ∑ (Orang) %

30-34 2 4.4 35-39 6 13.3 40-44 9 20.0 45-49 11 24.4 50-54 6 13.3 55-59 7 15.6 60-64 1 2.2 65-69 2 4.4 70 Keatas 1 2.2 Total 45 100.0

Selain kelompok umur, karakteristik responden juga dapat dilihat dari jenis mata pencaharian utamanya. Berikut jumlah responden berdasarkan jenis mata pencaharian.

Tabel 13 Jumlah responden berdasarkan jenis mata pencaharian

Jenis Mata Pencaharian ∑ (Orang) %

Pedagang 31 68.9 Buruh 6 13.3 Petani 3 6.7 Karyawan 2 4.4 Pengusaha 1 2.2 Pengemudi 1 2.2 PNS 1 2.2 Total 45 100.0

Berdasarkan Tabel 13 memperlihatkan jumlah responden berdasarkan jenis mata pencaharian terbanyak yaitu pedagang. Mayoritas mata pencaharian utama responden sebagai pedagang sesuai dengan penelitian yang berhubungan dengan program pinjaman untuk usaha masyarakat sekitar perusahaan. Selain itu berdasarkan pengamatan beberapa responden lainnya memilih berdagang hanya

sebagai mata pencaharian tambahan atau sebagai pekerjaan tambahan istri mereka.

Ikhtisar

Desa Bantarkaret merupakan desa ring 1 yang berbatasan langsung dengan ANTAM dengan luas wilayah 841.04 ha. Desa Bantarkaret menjadi salah satu desa binaan ANTAM dari 11 desa lainnya. Wilayah Desa Bantarkaret sebagian besar merupakan sawah tadah hujan, sedangkan dibeberapa kampung terdapat sawah menggunakan irigasi tradisional. Berdasarkan jumlah penduduk gabungan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak ada pada kelompok umur 20-24. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Bantarkaret berusia produktif. Namun, sebaran responden terbanyak menurut kelompok umur terdapat pada 46-52 tahun. Mayoritas masyarakat Bantarkaret beragama Islam dan etnis Sunda walaupun sudah banyak pendatang yang menetap di desa ini. Sampai saat ini tingkat pendidikan mayoritas di Desa Bantarkaret, yaitu tamat SD. Hal ini juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan mayoritas responden di Bantarkaret yang merupakan tamat SD.

Desa Bantarkaret mengalami kelunturan budaya dalam hal kebersamaan dan kekeluargaan akibat hadirnya pertambangan. Hadirnya tambang membuat masyarakat mengalami pergeseran pola pikir dan gaya hidup. Masyarakat tidak lagi mengutamakan gotong-royong dan tolong-menolong dan hanya berpikir instan dalam mendapatkan penghasilan. Pertambangan juga mengakibatkan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perusahaan dan pemukinan karena pertambahan penduduk. Masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian petani, kini sebagian besar beralih profesi menjadi penambang liar (gurandil) sehingga hanya sedikit yang masih bekerja di bidang pertanian.