• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Modal Sosial Dalam Meningkatkan Efektivitas Program Corporate Social Responsibility Dan Taraf Hidup Masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Modal Sosial Dalam Meningkatkan Efektivitas Program Corporate Social Responsibility Dan Taraf Hidup Masyarakat"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN MODAL SOSIAL DALAM MENINGKATKAN

EFEKTIVITAS PROGRAM

CORPORATE SOCIAL

RESPONSIBILITY

DAN TARAF HIDUP MASYARAKAT

GINA NEFSTIA SHABRINA

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Peranan Modal Sosial dalam Meningkatkan Efektivitas Program Corporate Social Responsibility dan Taraf Hidup Masyarakat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Mei 2015

(3)

ABSTRAK

Gina Nefstia Shabrina. Peranan Modal Sosial dalam Meningkatkan Efektivitas Program Corporate Social Responsibility dan Taraf Hidup Masyarakat. Dibimbing oleh FREDIAN TONNY NASDIAN dan MAHMUDI SIWI

Corporate Social Responsibility merupakan bentuk tanggung jawab yang mutlak dilakukan oleh perusahaan sebagai kewajiban terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Program CSR menjadi sebuah solusi dalam pemecahan masalah di tengah masyarakat terkait dengan dampak operasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan modal sosial, efektivitas Program Kemitraan, dan taraf hidup masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan didukung oleh data kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kekuatan modal sosial masyarakat yang tergolong cukup kuat, efektivitas Program Kemitraan tergolong cukup tinggi dan taraf hidup mayoritas pada tingkat sedang. Pada penelitian ini modal sosial dapat meningkatkan efektivitas Program Kemitraan dan taraf hidup masyarakat. Selain itu, terdapat hubungan antara modal sosial dengan efektivitas program dan taraf hidup masyarakat.

Kata kunci : CSR, efektivitas program, modal sosial, taraf hidup. ABSTRACT

Gina Nefstia Shabrina. Role of Social Capital to Improve Program Effectiveness of Corporate Social Responsibility and Community’s Standard of Living. Supervised by FREDIAN TONNY NASDIAN and MAHMUDI SIWI

Corporate social responsibility is a form of responsibility which is to be conducted by the company as an obligation towards community. CSR programs become a solution in solving problems in the community related to the impact of operations. This study aimed to analyze the strength of social capital, the effectiveness of the kemitraan program, and community’s standard of living. This study use quantitative methods supported by qualitative data. Quantitative data were collected through a structured interview using a questionnaire. While the qualitative data were collected through interviews and documents. Results of this study showed the power of community social capital is quite strong, the effectiveness of the kemitraan program is quite high and the standard of living of the majority at a medium level. In this study social capital can improve the effectiveness of the kemitraan program and community’s standard of living. In addition, there is also a relationship between capital social with the effectiveness of program and community’s standard of living.

(4)

PERANAN MODAL SOSIAL DALAM MENINGKATKAN

EFEKTIVITAS PROGRAM

CORPORATE SOCIAL

RESPONSIBILITY

DAN TARAF HIDUP MASYARAKAT

GINA NEFSTIA SHABRINA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

pada

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(5)

Judul Skripsi : Peranan Modal Sosial dalam Meningkatkan Efektivitas Program Corporate Social Responsibility dan Taraf Hidup Masyarakat

Nama : Gina Nefstia Shabrina

NIM : I34110097

Disetujui oleh

Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS Pembimbing I

Mahmudi Siwi, SP, MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Siti Amanah, MSc Ketua Departemen

(6)
(7)

PRAKATA

Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan yang maha Esa yang kebenaran dan keberadaan-Nya tidak dapat diragukan oleh siapapun. Berkat rahmat nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah berjudul

“Peranan Modal Sosial dalam Meningkatkan Efektivitas Program Corporate Social Responsibility dan Taraf Hidup Masyarakat” dengan baik. Penelitian ini dilakukan sejak Februari 2014 di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Selain itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran modal sosial masyarakat sekitar perusahaan terhadap berkembangnya program CSR ANTAM Pongkor. Kemudian menganalisis hubungan modal sosial terhadap efektivitas program CSR ANTAM Pongkor dan menganalisis hubungan efektivitas program CSR ANTAM Pongkor dengan taraf hidup masyarakat sekitar perusahaan.

Ucapan terimakasih dan rasa hormat yang mendalam penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS dan Bapak Mahmudi Siwi, SP, MSi selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses penulisan hingga penyelesaian karya ilmiah ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang paling dalam untuk kedua orang tua yang telah memberikan semangat lahir dan batin Ibunda Hesti dan Ayahanda Conefi Antono yang telah memberikan motivasi dan doa yang tidak pernah ada habisnya, dan juga kepada Adikku Muhammad Irsyadh Pribadi yang juga selalu memberikan doa dan semangat dalam kehidupan penulis. Selain itu, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar SKPM 48 dan teman-teman sebimbingan. Terima kasih kepada sahabat dalam suka duka yaitu Novia, Cynda, Amel, Hafid, Kiki, Pingkan, Tara, Dhira, Lingga, Wenny, dan Ami sebagai teman berdiskusi, saling bertukar pikiran, membantu dan memberikan semangat. Terimakasih pun tidak lupa penulis sampaikan kepada Farhat Zhilal yang memberikan semangat dan menemani dalam pengumpulan data di lapangan.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Mei 2015

(8)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN x

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Masalah Penelitian 3

Tujuan Penelitian 4

Kegunaan Penelitian 5

PENDEKATAN TEORITIS 7

Tinjauan Pustaka 7

Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) 7

Konsep Modal Sosial 9

Komponen Modal Sosial 9

Dimensi Modal Sosial 10

Konsep Efektivitas 11

Konsep Taraf Hidup 12

Kerangka Penelitian 12

Hipotesis Penelitian 13

Hipotesisi Uji 13

Definisi Operasional 14

PENDEKATAN LAPANGAN 21

Lokasi dan Waktu Penelitian 21

Teknik Pemilihan Informan dan Responden 21

Teknik Pengumpulan Data 22

Teknik Pengolahan dan Analisis Data 23

PROFIL KOMUNITAS DESA BANTARKARET 25

Kondisi Geografis 25

Struktur Sosial 26

Kondisi Sarana dan Prasarana 28

Pola Kebudayaaan 29

Pola Adaptasi Ekologis 30

Karakteristik Responden 30

Ikhtisar 32

SEJARAH DAN PROGRAM KEMITRAAN CSR ANTAM 33

Sejarah Perusahaan 33

Struktur Organisasi Departemen CSR 33

Visi dan Misi Departemen CSR 34

Program CSR ANTAM 35

Program Kemitraan CSR ANTAM 37

Awal Pelaksanaan Program 38

Implementasi Program 39

(9)

Ikhtisar 41 MODAL SOSIAL, EFEKTIVITAS PROGRAM KEMITRAAN DAN TARAF

HIDUP 43

Modal Sosial 43

Tingkat Jaringan 43

Tingkat Kepercayaan 44

Hubungan Sosial 46

Kekuatan Modal Sosial 47

Efektivitas Program 49

Tingkat Manfaat 49

Tingkat Partisipasi 50

Tingkat Keberlanjutan 50

Tingkat Keberdayaan 51

Tingkat Dampak 52

Tingkat Kesesuaian 52

Tingkat Efektivitas Program Kemitraan 53

Taraf Hidup 54

Ikhtisar 60

HUBUNGAN MODAL SOSIAL, EFEKTIVITAS PROGRAM KEMITRAAN

DAN TARAF HIDUP 61

Hubungan Modal Sosial dengan Efektivitas Program Kemitraan 61 Hubungan Efektivitas Program Kemitraan dengan Taraf Hidup Masyarakat

Desa Bantarkaret 62

Hubungan Modal Sosial dengan Taraf Hidup Masyarakat Desa Bantarkaret 63

Ikhtisar 64

PENUTUP 65

Simpulan 65

Saran 66

DAFTAR PUSTAKA 67

(10)

DAFTAR TABEL

1 Karakteristik tahap-tahap kedermawanan sosial 8

2 Definisi operasional kekuatan modal sosial 14

3 Definisi operasional tingkat efektivitas program 15

4 Definisi operasional perubahan taraf hidup 17

5 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian 22 6 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan agama 27 7 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan tingkat

pendidikan 27

8 Jumlah penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan mata pencaharian 28 9 Jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bantarkaret 28 10 Jumlah sarana keagamaan di Desa Bantarkaret 29 11 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan 31

12 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur 31

13 Jumlah responden berdasarkan jenis mata pencaharian 31

14 Persentase RKA dan realisasi CSR 2014 36

15 Persentase RKA dan realisasi Program Community Development 36 16 Persentase RKA dan realisasi Program Kemitraan 37 17 Persentase RKA dan realisasi Program Bina Lingkungan 37 18 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat jaringan 43 19 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat kepercayaan 45 20 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan hubungan sosial 46 21 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan modal sosial 47 22 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat manfaat 49 23 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat partisipasi 50 24 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat keberlanjutan 51 25 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat keberdayaan 51 26 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat dampak 52 27 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat kesesuaian 53 28 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan efektivitas Program

Kemitraan 53

29 Taraf hidup berdasarkan pengeluaran masyarakat Desa Bantarkaret 55 30 Taraf hidup berdasarkan pendapatan masyarakat Desa Bantarkaret 55 31 Taraf hidup berdasarkan tabungan masyarakat Desa Bantarkaret 56 32 Taraf hidup berdasarkan luas rumah masyarakat Desa Bantarkaret 56 33 Taraf hidup berdasarkan jenis lantai bangunan masyarakat Desa

Bantarkaret 56

34 Taraf hidup berdasarkan jenis dinding bangunan masyarakat Desa

Bantarkaret 57

35 Taraf hidup berdasarkan fasilitas buang air besar masyarakat Desa

Bantarkaret 57

36 Taraf hidup berdasarkan sumber penerangan masyarakat Desa Bantarkaret

57 37 Taraf hidup berdasarkan sumber air minum masyarakat Desa

Bantarkaret

58 38 Taraf hidup berdasarkan bahan bakar memasak masyarakat Desa

Bantarkaret

(11)

39 Taraf hidup berdasarkan transportasi masyarakat Desa Bantarkaret 58 40 Taraf hidup berdasarkan tempat berobat masyarakat Desa Bantarkaret 59 41 Skor taraf hidup dan kategori masyarakat berdasarkan tahun mengikuti

Program Kemitraan 59

42 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan taraf hidup 59 43 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan kekuatan modal sosial

dengan tingkat efektivitas Program Kemitraan 61 44 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat efektivitas

Program Kemitraan dengan taraf hidup 62

45 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan kekuatan modal sosial

dengan taraf hidup 63

DAFTAR GAMBAR

1 Konsep Triple Bottom Line 7

2 Kerangka pemikiran peranan modal sosial dalam meningkatkan efektivitas program corporate social responsibility dan taraf hidup

masyarakat 13

3 Piramida penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan kelompok umur dan

jenis kelamin 26

4 Bagan dari struktur organisasi CSR PT. ANTAM (Persero) Tbk, UPBE

Pongkor 34

5 Persentase masyarakat berdasarkan jaringan masyarakat Desa

Bantarkaret Tahun 2015 44

6 Persentase masyarakat berdasarkan kepercayan masyarakat Desa

Bantarkaret Tahun 2015 45

7 Persentase masyarakat berdasarkan hubungan sosial masyarakat Desa

Bantarkaret Tahun 2015 47

8 Persentase masyarakat berdasarkan modal sosial masyarakat Desa

Bantarkaret Tahun 2015 48

9 Persentase masyarakat berdasarkan efektivitas Program Kemitraan

Desa Bantarkaret Tahun 2015 54

DAFTAR LAMPIRAN

1 Rencana jadwal penelitian 72

2 Peta Desa Bantarkaret 73

3 Desa Bantarkaret berdasarkan RW, RT dan kampung 74

4 Hasil uji kolerasi rank spearman 75

5 Indeks komposit 77

6 Dokumentasi penelitian 78

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Kekayaan sumberdaya alam tersebut salah satunya terlihat pada sumberdaya pertambangan. Berdasarkan data Indonesia mining asosiation, Indonesia menduduki peringkat ke-6 terbesar untuk negara yang kaya akan sumberdaya tambang. Cadangan emas Indonesia berkisar 2.3% dari cadangan emas dunia dan menduduki peringkat ke-7 yang memiliki potensi terbesar di dunia (Dahlius [tidak ada tahun]). Sehubungan dengan sumberdaya alam yang melimpah, berkembang perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan sumberdaya alam tersebut. Dampak yang ditimbulkan oleh suatu perusahaan tidak selamanya baik, ada pula dampak buruk yang ditimbulkan terhadap masyarakat akibat usaha yang dilakukan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat serta menjalankan visi perusahaan. Pada kenyataannya masih banyak diantara perusahaan-perusahaan yang mengabaikan isu-isu seperti kerusakan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat terutama di sekitar perusahaan.

Permasalahan tersebut diatur oleh pemerintah dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 1 Butir 3. Peraturan tersebut mengharuskan tiap perusahaan melakukan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagai komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Serupa dengan konsep Corporate Social Responsibility, yang dikenal dengan sebutan CSR. Definisi CSR menurut ISO 26000 (Jalal 2011) adalah bentuk tanggung jawab organisasi terhadap dampak dari keputusan dan aktivitas organisasi terhadap masyarakat serta lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis yang memberikan kontribusi untuk pembangunan berkelanjutan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; turut mempertimbangkan harapan dari pemangku kepentingan; sejalan dengan hukum yang berlaku dan sesuai dengan norma-norma universal; dan terintegrasi di seluruh organisasi dan dipraktikkan dalam hubungan-hubungannya. Aturan ini sebagai standar pentingnya perusahaan melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan. CSR menjalankan kegiatan yang menitikberatkan pada aspek sosial, ekonomi dan lingkungan seperti mengacu pada konsep Triple Bottom Line (People, Profit, Planet). Didukung pernyataan Bowen (1985) dalam Solihin (2009), bahwa para pelaku bisnis memiliki kewajiban untuk mengupayakan suatu kebijakan serta membuat keputusan atau melaksanakan berbagai tindakan yang sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Setiap perusahaan tidak bisa hanya mengeruk laba sebanyak-banyaknya namun juga tetap memperhitungkan dampak operasi perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.

(13)

kepercayaan (trust), pertukaran timbal balik (reciprocity), pertukaran ekonomi dan informasi (informational and economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal-modal lainnya (fisik, manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan (Colleta dan Cullen 2000 dalam Nasdian 2014). Dalam suatu pembangunan, modal sosial (social capital) adalah salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pembentukan modal sosial dapat menyumbang pada pembangunan ekonomi karena adanya jaringan (networks), norma (norms), dan kepercayaan (trust) didalamnya yang menjadi kolaborasi (koodinasi dan kooperasi) sosial untuk kepentingan bersama (Daryanto 2004). Berdasarkan definisi tersebut menggambarkan hubungan modal sosial dan perilaku masyarakat dengan sesamanya dilihat dari hubungan timbal balik dan solidaritasnya. Modal sosial merupakan faktor pendukung yang dapat mempermudah membangun masyarakat. Peran modal sosial sangat penting untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Hal ini berkaitan dengan timbulnya unsur jaringan, kepercayaan, hubungan sosial didalam modal sosial untuk mendukung keberlanjutan program CSR.

Penerapan atau implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) dalam masyarakat/komunitas tidak selalu berjalan dengan baik. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus memiliki indikator keberhasilan program CSR. Indikator ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui keberhasilan pelaksanaan CSR. Keberhasilan program dapat diukur dengan indikator efektivitas program. Menurut Supriadinata dan Goestaman (2013), Efektivitas program harus sesuai dengan kebutuhan dan diimbangi dengan peran masyarakat sekitar sehingga menghasilkan program yang memiliki dampak positif dalam menyelesaikan masalah lingkungan sosial. Efektivitas program CSR bermanfaat bagi perusahaan program CSR dalam meningkatkan citra perusahaan, selanjutnya dapat meningkatkan keuntungan bagi masyarakat melalui program CSR diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan, dan bagi pemerintah melalui program CSR dapat meminimalisir bahkan menyelesaikan masalah sosial yang ada. Oleh karena itu, pencapaian program CSR ini sangat berkaitan dengan perilaku dan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan.

PT ANTAM (Persero), Tbk Unit Pertambangan Bisnis Emas Pongkor yang selanjutnya akan disingkat ANTAM Pongkor atau ANTAM menjadikan salah satu fokus perhatian melalui program CSR. Dikutip dari PT. Aneka Tambang (2013), ANTAM Pongkor adalah salah satu bisnis yang dimiliki oleh PT. ANTAM (Persero), Tbk. ANTAM Pongkor merupakan Badan Usaha Milik Negara yang beroperasi tahun 1994, bergerak di bidang pengelolaan sumber daya alam yakni emas dan perak. Corporate Social Responsibility menurut ANTAM Pongkor dimaknai sebagai suatu komitmen usaha untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik.

(14)

yakni; Community Development (Pengembangan masyarakat), Program Kemitraan (PK) dan Bina Lingkungan (BL).

Kegiatan CSR ANTAM Pongkor menghasilkan perubahan penting bagi masyarakat. Salah satunya desa ring 1 yang berbatasan langsung dengan ANTAM yaitu Desa Bantarkaret. Desa Bantarkaret merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Nanggung. Berdasarkan monografi desa, Desa Bantarkaret memiliki luas lahan total sebesar 841.04. Pada tahun 1990 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kecamatan Nanggung menempati urutan terbawah. Kondisi daerahnya masih terisolir dan terburuk dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi serta infrastruktur. Kemudian dikutip dari PT. Aneka Tambang (2013), hadirnya ANTAM menjadikan IPM pada tahun 2000 naik dua tingkat menjadi tingkat middle. Hadirnya ANTAM ditengah-tengah masyarakat Desa Bantarkaret memperhatikan MDGs (Millenium Development Goals) dalam perumusan progam/kegiatan CSR yaitu tentang IPM yang sudah dirintis sejak 1990-an yaitu untuk menguak isolasi daerah baik isolasi fisik (geografis) maupun isolasi sosiologis. Peranan modal sosial dalam pembangunan sangat erat kaitannya, dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dimensi kultural dan pendayagunaan peran lembaga-lembaga yang tumbuh dalam masyarakat untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses-proses pembangunan (Inayah 2012). Oleh karena itu, pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana peran modal sosial dalam meningkatkan efektivitas program CSR dan taraf hidup masyarakat?

Masalah Penelitian

Brehm dan Rahn (1997) dalam Daryanto (2004), berpendapat bahwa modal sosial adalah jaringan kerjasama diantara warga masyarakat yang memfasilitasi pencarian solusi dari permasalahan yang dihadapi mereka. Sebelum melihat implementasi program CSR, maka penting untuk dikaji jaringan kerjasama antar stakeholder, kepercayaan antar masyarakat dan hubungan sosial antar masyarakat dengan perusahaan. Svendsen (1998) dalam Rahardja et al. (2011), modal sosial yang dibangun oleh perusahaan memberikan kontribusi nyata terhadap capaian kinerja sosial perusahaan. Modal sosial juga sebagai salah satu modal korporat yang strategis berpengaruh signifikan terhadap keuntungan yang dicapai dan salah satu representasi kinerja finansial perusahaan. Pentingnya mengembangkan jejaring sosial yang kuat dan memanfaatkan sumberdaya sosial dalam memberikan kontribusi terhadap capaian kinerja finansial perusahaan. Artinya kinerja finansial perusahaan masih dapat ditingkatkan apabila dua indikator dalam variabel modal sosial tersebut semakin dikuatkan. Dalam hal ini, yang menjadi bahan kajian adalah kekuatan modal sosial yang terbentuk antara masyarakat sekitar dengan perusahaan. Oleh karena itu, salah satu rumusan masalah yang dilihat yakni bagaimana peran modal sosial masyarakat sekitar perusahaan terhadap program CSR ANTAM Pongkor?

(15)

kerja sama seperti dalam organisasi perusahaan atau lembaga pemerintahan, yaitu efektivitas merupakan bentuk kerjasama sebagai usaha yang berhubungan dengan pemenuhan tujuan dari sistem sebagai bentuk persyaratan sistem. Pada implementasi CSR, apakah ada keterkaitan antara modal sosial masyarakat dengan pencapaian tujuan program. Adakah unsur-unsur modal sosial yang berperan penting bagi keefektifan program atau tidak sama sekali? Menarik untuk selanjutnya membahas keterkaitan antara modal sosial dan efektivitas program. Oleh karena itu pertanyaan penelitian selanjutnya adalah bagaimana hubungan modal sosial terhadap efektivitas program CSR ANTAM Pongkor?

Efektivitas menurut Hadayaningrat (1995) dalam Yulianti (2012) merupakan sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Salah satu capaian pada implementasi CSR dapat memberikan peningkatan pada kondisi ekonomi dan kondisi sosial. Menurut Supriadinata dan Goestaman (2013), efektivitas program harus sesuai dengan kebutuhan dan diimbangi dengan peran masyarakat sekitar sehingga menghasilkan program yang memiliki dampak positif dalam menyelesaikan masalah lingkungan sosial. Hal ini berkaitan dengan keberhasilan suatu program dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat dapat diukur dengan indikator taraf hidup. Oleh karena itu, menjadi penting bagi peneliti untuk menganalisis hubungan efektivitas program CSR ANTAM Pongkor dengan taraf hidup masyarakat desa sekitar perusahaan?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disampaikan sebelumnya, maka secara umum penelitian ini dilakukan untuk menganalisis peran modal sosial dalam meningkatkan efektivitas program CSR dan taraf hidup masyarakat. Setelah itu tujuan khusus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan peran modal sosial masyarakat sekitar perusahaan terhadap berkembangnya program CSR ANTAM Pongkor.

2. Menganalisis hubungan modal sosial terhadap efektivitas program CSR ANTAM Pongkor.

(16)

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut:

1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan kajian untuk penelitian selanjutnya serta menambah khasanah penelitian mengenai Analisis Modal Sosial Masyarakat dalam Pelaksanaan Program CSR.

2. Bagi masyarakat, dapat memberikan pemahaman tentang bagaimana peran yang dilakukan oleh PT ANTAM Pongkor dalam aktivitas CSR sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan serta memberi manfaat bagi masyarakat dalam mengoptimalkan peranan program CSR perusahaan.

3. Bagi perusahaan, sebagai sarana membentuk strategi baru terhadap apa dan bagaimana seharusnya bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat.

(17)
(18)

PENDEKATAN TEORITIS

Tinjauan Pustaka

Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Konsep corporate social responsibility (CSR) merupakan perkembangan dari ketiga konsep yaitu konsep social sustainability, economic sustainability dan environmental sustainability dalam melaksanakan tanggung jawab sosial (Anatan 2008). Johnson (2006) dalam Hadi (2011), mendefinisikan tanggungjawab perusahaan (CSR) adalah bagaimana perusahaan mengelola proses bisnis untuk menghasilkan dampak positif secara keseluruhan terhadap masyarakat. John Elkington memandang bahwa inti dari CSR yaitu pembangunan berkelanjutan, yang digambarkan sebagai triple bottom line sebagai pertemuan tiga pilar

pembangunan yaitu “sosial, lingkungan, dan keuntungan” yang merupakan tujuan pembangunan (Rachman, Efendi, dan Wicaksana 2011 dalam Irawan 2013).

3P

Sumber: Hadi (2011)

Gambar 1 Konsep Triple Bottom Line

Menurut Wibisono (2007) dalam Rosyida dan Nasdian (2011), Elkington

mengemukakan konsep “3P” (profit, people, dan planet) yang menerangkan bahwa dalam menjalankan operasional perusahaan, selain mengejar keuntungan (profit) ekonomis sebuah korporasi harus dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat (people) dan berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). CSR juga merupakan salah satu wujud partisipasi dunia usaha dalam pembangunan berkelanjutan untuk mengembangkan program kepedulian perusahaan kepada masyarakat sekitar melalui penciptaan dan pemeliharaan keseimbangan antara mencetak keuntungan, fungsi-fungsi sosial, dan pemeliharaan lingkungan hidup (Anatan 2008).

Bowen dikutip Solihin (2009), berpendapat bahwa pelaku bisnis memiliki kewajiban untuk mengupayakan suatu kebijakan untuk mengupayakan suatu kebijakan serta membuat keputusan atau melaksanakan berbagai tindakan yang sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Seperti yang telah ditekankan oleh Bowen, kewajiban atau tanggung jawab sosial perusahaan bersandar kepada keselarasan dengan tujuan (objectives) dan nilai-nilai (values) dari suatu

Sosial (people)

Keuntungan (profit) Lingkungan (planet)

(19)

masyarakat. dua premis dasar tanggung jawab sosial: (1) perusahaan bisa mewujud dalam masyarakat karena adanya dukungan dari masyarakat, dalam hal ini perusahaan memiliki kontrak sosial (social contract) yang berisi sejumlah hak dan kewajiban yang akan mengalami perubahan sejalan dengan perubahan masyarakat; (2) pelaku bisnis bertindak sebagai agen moral (moral agent) dalam masyarakat. Perusahaan harus berperilaku sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Premis kedua ini memuat dimensi etika dan tanggung jawab sosial (Solihin 2009). Dalam aktualisasinya, kontribusi dunia usaha untuk turut serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus mengalami metamorfosis, dari yang bersifat charity menjadi aktivitas yang menekankan pada penciptaan kemandirian masyarakat yaitu program pemberdayaan. Metamorfosis tersebut dikutip Ambadar (2008):

Tabel 1 Karakteristik tahap-tahap kedermawanan sosial

Paradigma Charity Philanthropy Good Corporate

Citizenship (GCC)

Misi Mengatasi masalah

setempat

Pengorganisasian Kepanitiaan Yayasan / dana abadi

/ profesionalitas

Keterlibatan baik dana maupun sumberdaya lain Penerima

Manfaat Orang miskin Masyarakat luas

Masyarakat luas dan perusahaan

Kontribusi Hibah sosial Hibah pembangunan

Hibah (sosial & pembangunan serta keterlibatan sosial)

Inspirasi Kewajiban Kepentingan bersama

Sumber: Za’im Zaidi (2003) dalam Ambadar (2008)

Berbeda dengan aktivitas charity, pada Tabel 1 terlihat jelas bahwa dalam aktivitas philanthropy, aktivitas lebih didorong oleh norma, etika dan hukum, bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban, inspirasi aktivitas adalah untuk memenuhi kepentingan semua pihak. Tampak bahwa Community Development (Comdev) merupakan ruh pelaksanaan aktivitas CSR perusahaan. CSR yang berbasiskan Comdev dapat mencapai tujuan strategis perusahaan, selain untuk mencapai keuntungan optimum juga bermanfaat bagi komunitas (Ambadar 2008).

(20)

-nya, (5) meningkatkan penjualan, (6) inisiatif-inisiatif lain-nya, seperti inisiatif pajak dan berbagai perlakuan khusus lainnya.

Konsep Modal Sosial

Modal sosial adalah sebagai suatu sistem yang mengacu kepada atau hasil dari organisasi sosial dan ekonomi, seperti pandangan umum (world-view), kepercayaan (trust), pertukaran timbal balik (reciprocity), pertukaran ekonomi dan informasi (informational and economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal-modal lainnya (fisik, manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan (Colleta dan Cullen 2000 dalam Nasdian 2014). Sementara menurut Suharto (2006), modal sosial dapat diartikan sebagai sumber (resource) yang timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam komunitas. Pengukuran modal sosial sering dilakukan melalui hasil interaksi tersebut, seperti: terpeliharanya kepercayaan antar warga masyarakat. Dalam suatu pembangunan, modal sosial (social capital) adalah salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Pembentukan modal sosial dapat menyumbang pada pembangunan ekonomi karena adanya jaringan (networks), norma (noms), dan kepercayaan (trust) didalamnya yang menjadi kolaborasi (koordinasi dan kooperasi) sosial untuk kepentingan bersama (Daryanto 2004).

Definisi modal sosial menurut beberapa ahli dikutip Inayah (2012) yaitu: 1. Putnam et al. menyatakan modal sosial adalah penampilan organisasi sosial,

seperti kepercayaan, norma-norma (atau hal timbal balik), dan jaringan (dari ikatan-ikatan masyarakat), yang dapat memperbaiki efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama.

2. Fukuyama menyatakan modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan (trust) dalam sebuah komunitas.

3. Eva Cox menyatakan modal sosial adalah suatu rangkaian proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma dan kepercayaan sosial yang memungkinkan efisien dan efektifnya koordinasi.

Komponen Modal Sosial

BPS (2013), menyajikan ukuran modal sosial dalam masyarakat dengan membaginya menjadi:

1. Tingkat jaringan adalah kemudahan dalam memperoleh/mengakses pendidikan, kesehatan, serta pelayanan masyarakat lainnya

2. Tingkat kepercayaan adalah keadaan mempercayai atau meyakini keberadaan orang lain untuk membantu/menolong

3. Hubungan sosial adalah kemampuan untuk berinteraksi antar manusia satu dengan lainnya sehingga kehidupan lebih baik

(21)

1. Kepercayaan

Kepercayaan adalah harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Kepercayaan sosial merupakan penerapan terhadap pemahaman ini. Cox (1995) menyebutkan bahwa dalam masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, aturan-aturan sosial cenderung bersifat positif, hubungan-hubungan juga bersifat kerjasama. Adanya kapital sosial yang baik ditandai oleh adanya lembaga-lembaga sosial yang kokoh. Kapital sosial melahirkan kehidupan sosial yang harmonis (Putnam 1995). Rasa percaya diri (trust) adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya Robert (2002).

2. Norma

Norma-norma terdiri dari pemahaman-pemahaman, nilai-nilai, harapan-harapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat bersumber dari agama, panduan moral, maupun standar-standar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma-norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan untuk mendukung iklim kerja sama (Putnam 1993 dalam Fukuyama 1995). Norma-norma dapat merupakan pra-kondisi maupun produk dari kepercayaan sosial. 3. Jaringan

Infrastruktur dinamis dari kapital sosial berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia Putnam (1993). Jaringan tersebut memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama. Masyarakat yang sehat cenderung memiliki jaringan-jaringan sosial yang kokoh. Putnam (1995) mengemukakan argumennya bahwa jaringan-jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerjasama para anggotanya serta manfaat-manfaat dari partisipasinya.

Dimensi Modal Sosial

Dimensi-dimensi yang terkandung dalam modal sosial meliputi:

1. Integrasi (integration), yaitu ikatan yang kuat antara anggota keluarga, dan keluarga dengan tetangga sekitarnya. Contohnya ikatan berdasarkan kekerabatan, etnik dan agama.

2. Pertalian (linkage), yaitu ikatan dengan komunitas lain diluar komunitas asal, berupa jejaring (network), dan asosiasi-asosiasi yang bersifat kewarganegaraan (civil associations) yang menembus perbedaan kekerabatan, etnik dan agama.

(22)

4. Sinergi (synergy), yaitu relasi antara pemimpin dan institusi pemerintah dengan komunitas (state-community relations). Fokus dalam perhatian sinergi ini adalah apakah negara memberikan ruang yang luas atau tidak bagi partisipasi warga negaranya.

Dimensi pertama dan kedua berada pada tingkat horizontal, sedangkan dimensi ketiga dan keempat ditambah dengan pasar berada pada tingkat vertical (Woolcock dalam Nasdian 2014).

Konsep Efektivitas

Menurut Barnard (Nurudin 2007 dalam Yulianti 2012), pengertian efektif adalah efisien dikaitkan dengan sistem kerja sama seperti dalam organisasi perusahaan atau lembaga pemerintahan, yaitu efektivitas merupakan bentuk kerjasama sebagai usaha yang berhubungan dengan pemenuhan tujuan dari sistem sebagai bentuk persyaratan sistem. Sementara efisiensi dalam hubungan kerjasama suatu sistem merupakan hasil gabungan efisiensi dari upaya yang dipilih masing-masing individu. Efektivitas program harus sesuai dengan kebutuhan dan diimbangi dengan peran masyarakat sekitar sehingga menghasilkan program yang memiliki dampak positif dalam menyelesaikan masalah lingkungan sosial (Supriadinata dan Goestaman 2013).

Definisi efektivitas yang dikutip oleh Yulianti (2012) yaitu:

1. Menurut Hadayaningrat (1995), efektivitas merupakan sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan. 2. Menurut Susanto (1975), efektivitas merupakan daya pesan untuk

mempengaruhi atau tingkat kemampuan pesan-pesan untuk mempengaruhi. Dengan demikian efektivitas diartikan sebagai suatu pengukuran akan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya secara matang. Dalam Prayogo dan Hilarius (2012), tingkat keberhasilan program CSR dapat mempengaruhi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Indikator dalam mengukur efektivitas program dibagi menjadi enam yaitu:

1. Efectivity dimaksudkan sebagai tingkat manfaat program terhadap pemenuhan kebutuhan dan peningkatan akses pelayanan para penerima (beneficiaries) berdasarkan jenis dan tingkat kebutuhannya,

2. Relevance dimaksudkan sebagai tingkat kesesuaian program terhadap pemenuhan kebutuhan dan peningkatan akses pelayanan bagi penerima berdasarkan kemampuan dan potensi lokal,

3. Sustainability dimaksudkan sebagai tingkat keberlanjutan program dapat dilakukan oleh penerima jika bantuan selesai/dihentikan, baik keberlanjutan secara substansial (program) maupun secara manajemen,

4. Impact dimaksudkan seberapa besar (substansial) dan luasan (geografis) akibat positif dari program,

5. Empowerment dimaksudkan sebagai seberapa signifikan tingkat keberdayaan dirasakan penerima akibat program, baik dari segi keahlian maupun organisasi/manajemen,

(23)

Konsep Taraf Hidup

Taraf hidup adalah tingkat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Owolabi dan Olu-Owolabi yang dikutip oleh Azimi (2013) menjelaskan mengenai kriteria yang digunakan untuk mengukur kualitas taraf hidup manusia. Kriteria tersebut yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati. Kebutuhan dasar ini bersifat mutlak, harus dilaksanakan dan dipenuhi sehingga akan mendorong keinginan seluruh manusia dalam menjaga kelangsungan hidup.

Menurut Badan Pusat Statistik (2005) dalam Sugiharto (2007), indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan ada depalan yaitu pendapatan, konsumsi atau pengeluaran keluarga, keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal, kesehatan anggota keluarga, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan, kemudahan masuk jenjang pendidikan, kemudahaan mendapatkan fasilitas transportasi. Sementara, taraf hidup dari BPS dalam Rahman (2009) yaitu variabel kemiskinan yaitu luas lantai bangunaan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis dinding bangunan tempat tinggal, fasilitas tempat buang air besar, sumber penerangan rumah tangga, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak, konsumsi daging/ayam/susu per minggu, pembeliaan pakaian baru setiap anggota rumah tangga setiap tahun, frekuensi makan dalam sehari, kemampuan membayar untuk berobat ke puskesmas atau dokter, lapangan pekerjaan kepala rumah tangga, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga dan kepemilikan asset/harta bergerak maupun tidak bergerak. Taraf hidup menjadi penting untuk diperhatikan, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh berbagai definisi CSR bahwa salah satu tujuan diadakannya program adalah adanya peningkatan taraf hidup. Beberapa indikator taraf hidup hanya melihat taraf hidup masyarakat sesuai dengan keadaan sekitar.

Kerangka Penelitian

Perusahaan memiliki strategi dan kebijakan tersendiri dalam menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR). Menurut Rahardja et al. (2011), modal sosial menjadi faktor pendorong kegiatan CSR. Modal sosial yang dibangun oleh perusahaan memberikan kontribusi nyata terhadap capaian kinerja sosial perusahaan. Modal sosial juga sebagai salah satu modal korporat yang strategis berpengaruh signifikan terhadap keuntungan yang dicapai dan salah satu representasi kinerja finansial perusahaan.

Modal sosial yang terdapat dalam masyarakat akan diidentifikasi terkait hubungan antar masyarakat. Terdapat tiga parameter kapital sosial yaitu jaringan, kepercayaan, hubungan sosial. Komponen modal sosial tersebut kemudian akan diteliti hubungannya dengan efektivitas program CSR.

(24)

Tingkat efektivitas program CSR dapat mendorong perubahan tingkat taraf hidup masyarakat sekitar perusahaan.

Gambar 2 Kerangka pemikiran peranan modal sosial dalam meningkatkan efektivitas program corporate social responsibility dan taraf hidup masyarakat

Hipotesis Penelitian

Dari kerangka penelitian yang telah dibahas dapat dirumuskan hipotesis, yaitu:

1. Semakin kuat modal sosial, maka semakin tinggi efektivitas program CSR.

2. Semakin tinggi efektivitas program CSR, maka semakin tinggi taraf hidup masyarakat.

3. Semakin kuat modal sosial, maka semakin tinggi taraf hidup masyarakat.

Hipotesis Uji

1. Terdapat hubungan antara modal sosial dengan efektivitas program CSR;

2. Terdapat hubungan antara efektivitas program CSR dengan tingkat taraf hidup; dan

3. Terdapat hubungan antara modal sosial dengan taraf hidup masyarakat Keterangan:

Hubungan Kekuatan Modal Sosial

- Tingkat Kepercayaan - Tingkat Jaringan - Hubungan Sosial

- Tingkat Manfaat - Tingkat Kesesuaian - Tingkat Keberlanjutan - Tingkat Dampak - Tingkat Keberdayaan - Tingkat Partisipasi

Efektivitas Program (Prayogo dan Hilarius 2012)

Taraf Hidup

- Luas lantai - Jenis lantai - Jenis dinding

- Fasilitas buang air besar - Sumber penerangan - Sumber air minum - Bahan bakar - Pendapatan - Pengeluaran - Tabungan

(25)

Definisi Operasional

Kekuatan Modal Sosial

Menurut BPS (2013) penyajian ukuran modal sosial dalam masyarakat dengan membaginya menjadi tingkat kepercayaan, tingkat jaringan dan hubungan sosial. Pada penelitian ini setiap aspek pernyataan memiliki 4 variasi jawaban yang terdiri dari “sangat tidak setuju” dengan skor 1, “tidak setuju” dengan skor 2,

“setuju” dengan skor 3, dan “sangat setuju” dengan skor 4. Jika keseluruhan pada

aspek modal sosial memiliki total skor terendah kurang dari 56 dan total skor tertinggi lebih dari 89. Setelah itu, penilaian dikategorikan sesuai dengan kategori lemah (skor 1), sedang (skor 2) dan kuat (skor 3).

Tabel 2 Definisi operasional kekuatan modal sosial

No Variabel Definisi Operasional Indikator Jenis

Data

(26)

keberlanjutan, tingkat dampak, tingkat keberdayaan, dan tingkat partisipasi. Pada penelitian ini setiap aspek penilaiannya terdapat 5 pernyataan dan masing-masing pernyataan memiliki 2 variasi jawaban yang terdiri dari “tidak” dengan skor 1, dan “ya” dengan skor 2 sehingga pada setiap aspek akan memiliki total skor terendah 5 dan total skor tertinggi 10. Setelah setiap aspek penilaian dikategorikan sesuai dengan kategori rendah (skor 1), sedang (skor 2) dan tinggi (skor 3), selanjutnya dikategorikan menjadi efektivitas program secara keseluruhan.

Tabel 3 Definisi operasional tingkat efektivitas program

No Variabel Definisi Opersional Indikator Jenis

Data

Sumber Rujukan 1 Tingkat manfaat Tingkat manfaat

program

(27)

No Variabel Definisi Opersional Indikator Jenis

Perubahan yang dirasakan dan diperoleh oleh anggota masyarakat penerima program CSR setelah terlibat dalam program CSR dengan mengacu pada variabel-variabel taraf hidup menurut BPS (2005) dalam Sugiharto (2007). Pada penelitian ini variabel pengeluaran, pendapatan, tabungan dan luas rumah terlebih dahulu dilakukan standar deviasi sehingga dapat mengetahui rentan pada kategori rendah, sedang dan tinggi. Selanjutnya taraf hidup diukur menggunakan indeks komposit.

Perhitungan taraf hidup menggunakan indeks komposit dimulai dengan membagi masyarakat berdasarkan kategori tahun mengikuti program Kemitraan. Selanjutnya memilih salah satu pilihan jawaban dari setiap variabel yang memiliki skor tertinggi dalam kuesioner. Kemudian menghitung persentase masyarakat dari masing-masing kategori tahun yang memiliki jawaban skor tertinggi tersebut, dan membaginya dengan rata-rata persentase dari kedua lapisan sosial lalu dikali 100. Berikut rumus perhitungan:

Skor taraf hidup =

\ Keterangan:

: Persentase masyarakat yang memiliki jawaban terpilih (jawaban skor tertinggi) pada tiap kategori

(28)

Tabel 4 Definisi operasional perubahan taraf hidup

No Variabel Definisi Opersional Indikator Jenis

(29)
(30)

No Variabel Definisi Opersional Indikator Jenis Data

Sumber Rujukan kebutuhan pangan,

pendidikan dan kesehatan (non-pangan). Pengukuran tingkat pengeluaran didasarkan pada pengeluaran rumah tangga responden untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan pendidikan dan jasa (non-pangan).

Sugiharto (2007)

10 Tingkat tabungan

Jumlah pendapatan yang disimpan dalam bentuk uang. Dalam hal ini tingkat investasi diukur dengan jumlah pendapatan yang dialokasikan untuk investasi dalam bentuk uang. Tingkat

tabungan dikategorikan

berdasarkan nilai rata-rata (X) dari

keseluruhan.

< X : Rendah = X : Sedang > X : Tinggi

Ordinal BPS (2005)

(31)
(32)

PENDEKATAN LAPANGAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai analisis hubungan modal sosial, efektivitas progran CSR ANTAM dan taraf hidup masyarakat ini dilaksanakan di Desa Bantarkaret Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor selama tiga bulan terhitung mulai Bulan Februari-April 2015. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan berbagai pertimbangan, yaitu:

1. Berdasarkan hasil membaca literatur dan informasi terkait dengan keberadaan perusahaan ANTAM Pongkor yang merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Aneka Tambang (Persero), Tbk yang bergerak di bidang pengelolaan emas dan perak. Perusahaan telah memanfaatkan sumberdaya alam untuk produksi tambang yang mereka jalankan. Keberadaan perusahaan ditengah-tengah masyarakat mempunyai tanggung jawab sosial kepada lingkungan dan masyarakat sekitar perusahaan, sehingga menjadi relevan terhadap penelitian efektivitas program CSR khususnya dalam bentuk pemberdayaan terhadap kelompok masyarakat sekitar perusahaan.

2. Berdasarkan hasil observasi, Desa Bantarkaret merupakan daerah Ring 1 karena lokasi kantor administrasi ANTAM berada di desa ini. Daerah ring 1 merupakan penerima manfaat terbesar yaitu sekitar 50%.

3. Terdapat hubungan efektivitas program CSR dengan taraf hidup masyarakat karena masyarakat Desa Bantarkaret adalah penerima manfaat terbesar. Jadwal pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

Teknik Pemilihan Informan dan Responden

(33)

Sementara data kualitatif dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam kepada informan. Pemilihan informan, sebagai sumber informasi primer untuk memperoleh data kualitatif, dengan menggunakan Teknik bola salju (snowball samping) dipilih dalam pengumpulan data dari infoman. Pengumpulan data dari informan melalui teknik ini digambarkan dengan perolehan dari satu informan ke informan lain. Pengumpulan data berhenti ketika informan lain tidak lagi menghasilkan pengetahuan dan informasi baru, sehingga dikatakan data berada pada titik jenuh. Dalam penelitian ini, informan yang diperlukan dalam pengumpulan infomasi adalah aparat desa, tokoh masyarakat, pihak CSR ANTAM Pongkor dan juga masyarakat penerima program CSR ANTAM Pongkor. Jika memungkinkan, beberapa responden yang telah mengisi kuesioner juga akan di wawancara lebih lanjut.

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Berikut teknik pengumpulan data disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

No. Data Metode

(34)

Data primer kuantitatif dikumpulkan melalui wawancara terstruktur kepada 45 responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Sedangkan data primer kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam (indepth interview) kepada sejumlah informan yang diarahkan dengan panduan pertanyaan wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan dengan cara

“direkam” dalam suatu manuskrip catatan harian menurut tematik. Setelah pengumpulan data primer kualitatif selesai kemudian, dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner kepada 45 responden.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan jenis datanya, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel 2010 dan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 20.0 dalam bentuk tabel frekuensi, grafik, serta tabel tabulasi silang untuk melihat data dari masing-masing variabel dan hubungan antar variabel. Berdasarkan uji reliabilitas pada seluruh pertanyaan dalam kuesioner dihasilkan Cronbach's Alpha sebesar 0.8 dalam 64 pertanyaan total (lihat Lampiran 4). Menurut standar statistika ditetapkan Cronbach's Alpha >0.5 berarti reliabel.

Taraf nyata yang digunakan dalam pengolahan data kuantitatif adalah 95%

atau nilai α sebesar 5%. Kemudian untuk melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antar dua variabel, digunakan pendapat dari Sarwono (2009) dalam Rahmah (2014) dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:

a. 0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel b. > 0 – 0.25 : Korelasi sangat lemah c. > 0.25 – 0.5 : Korelasi cukup kuat d. > 0.5 – 0.75 : Korelasi kuat

e. > 0.75 – 0.99 : Korelasi sangat kuat f. 1 : Korelasi sempurna

(35)
(36)

PROFIL KOMUNITAS DESA BANTARKARET

Secara administratif Desa Bantarkaret berada di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Batas wilayah Desa Bantarkaret dapat dilihat dari:

1. Sebelah utara : Desa Pangkal Jaya 2. Sebelah timur : Kecamatan Leuwiliang 3. Sebelah selatan : Kabupaten Sukabumi 4. Sebelah barat : Desa Curugbitung.

Jarak Desa Bantarkaret dari Ibu Kota Kecamatan sekitar 15 km sedangkan jarak dari Pemerintahan Kabupaten Bogor sekitar 70 km. Terdapat angkutan umum yang melewati Desa Bantarkaret. Sarana transportasi yang menghubungkan desa dengan wilayah sekitarnya termasuk lancar. Hal ini dibuktikan dengan ketersediaan angkutan umum maupun ojeg yang memungkinkan akses masyarakat terhadap fasilitas publik seperti pendidikan, perdagangan, dan rekreasi berlangsung cepat.

Kelembagaan yang ada di Desa Bantarkaret di antaranya adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dengan jumlah pengurus sebanyak 11 orang, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan jumlah pengurus sebanyak 50 orang, Dewan Keluarga Masjid (DKM) dengan jumlah pengurus sebanyak 15 orang dan Perlindungan Masyarakat atau disebut Linmas dengan jumlah anggota sebanyak 40 orang. Desa Bantarkaret memiliki kelembagaan kemasyarakatan dengan perangkat desa yang terdiri dari:

1. Sekretaris Desa : 2 orang

2. Kepala Urusan : 5 orang

3. Kepala Dusun : 7 orang

4. Bendahara Desa : 1 orang

5. Staf : 3 orang

6. Badan Permusyawaratan Desa : 11 orang

Desa Bantarkaret terdiri dari tujuh Dusun, 13 Rukun Warga (RW) dan 38 Rukun Tetangga (RT). Masing-masing RW terdiri dari dua sampai lima RT yang terdapat pada Lampiran 3.

Kondisi Geografis

Desa Bantarkaret adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 841.04 ha. Desa Bantarkaret memiliki bentuk wilayah berbukit dan bergunung dengan kemiringan 21-40o. Ketinggian desa ini adalah sekitar 700 mdpl dengan curah hujan 400-800 mm/tahun dan kelembaban dengan suhu rata-rata 26-34o C. Sehingga Desa Bantarkaret cocok sebagai wilayah pertanian dan perkebunan.

(37)

biasanya menggarap lahan milik sendiri, sedangkan sisanya menggarap lahan milik orang lain.

Secara umum, kondisi jalan di Desa Bantarkaret cukup baik namun, masih banyak jalan yang berlubang dan berbatuan menuju kampung ke kampung. Hal ini membuat beberapa warga asli Bantarkaret pun ada yang belum pernah mengunjungi kampung-kampung yang jauh karena sulitnya akses jalan. Kemudian, terdapat sungai yang melintasi Desa Bantarkaret yaitu Sungai Cikaniki. Menurut warga dahulu sungai tersebut biasa digunakan untuk mencuci, memancing dan air minum. Saat ini Sungai Cikaniki sangat keruh dan tidak dapat lagi dimanfaatkan karena sudah tercemar oleh limbah pengolahan emas.

Struktur Sosial

Desa Bantarkaret dengan luas wilayah 841.04 ha memiliki jumlah penduduk sebanyak 10 329 jiwa. Penduduk Desa Bantarkaret sangat beragam. Keberagaman ini dapat dilihat dari kelompok umur, jenis kelamin, mata pencaharian, stastus kewarganegaraan, agama hingga tingkat pendidikan. Berikut piramida penduduk Desa Batar Karet:

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Gambar 3 Piramida Penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin

Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa penduduk berjenis kelamin laki-laki jumlah terbanyak ada pada kelompok umur 20-24 tahun. Pada penduduk berjenis kelamin perempuan jumlah terbanyak ada pada kelompok umur 60-64

15% 10% 5% % 5% 10% 15%

0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 – 69 70 Keatas

Laki-Laki

(38)

tahun. Berdasarkan jumlah penduduk gabungan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak ada pada kelompok umur 20-24. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Bantarkaret berusia produktif. Selain itu bila dianalisis menggunakan tipe-tipe piramida penduduk menurut Thompson dan Lewis (1995) dalam Rusli (2012), Gambar 3 termasuk dalam tipe 4. Tipe ini mempunyai kecenderungan menurunnya umur median dan meningkatnya angka rasio beban tanggungan umur muda serta angka rasio beban tanggungan total (Thompson dan Lewis 1995 dalam Rusli 2012). Selanjutnya, jumlah penduduk berdasarkan agama dan aliran kepercayaan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan agama

Agama ∑ (Orang) %

Islam 10 323 99.94

Khatolik 6 0.06

Total 10 329 100.0

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Tabel 6 menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat Desa Bantarkaret beragama Islam. Hanya enam orang yang beragama Khatolik dan statusnya merupakan pendatang yang menetap di Desa Bantarkaret.

Sebaran penduduk Desa Bantarkaret juga dapat dilihat berdasarkan tingkat pendidikan. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan ini dapat dilihat mulai dari penguasaan terhadap baca tulis hingga perguruan tinggi. Berikut jumlah penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan tingkat pendidikan:

Tabel 7 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan ∑ (Orang) %

Buta huruf 83 0.80

Belum Sekolah 1 061 10.27

Tidak Tamat SD/Sederajat 3 572 34.58

Tamat SD/Sederajat 4 106 39.75

Tamat SLTP/Sederajat 1 017 9.85

Tamat SMU/Sederajat 473 4.58

Tamat D1 2 0.02

Tamat D2 5 0.05

Tamat D3 4 0.04

Tamat D4 0 0.00

Tamat S1 6 0.06

Total 10 329 100.00

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Pada Tabel 7 terlihat mayoritas tingkat pendidikan masyarakat Desa Bantarkaret yaitu tamat SD. Selain itu, tamat D1 persentase terkecil yang ditemukan di Desa Bantarkaret.

(39)

Tabel 8 Jumlah penduduk Desa Bantarkaret berdasarkan mata pencaharian

Jenis Mata Pencaharian ∑ (Orang) %

Petani 3 873 91.69

Pengusaha 3 0.07

Pengrajin 12 0.28

Buruh 90 2.13

Pedagang 200 4.73

Pengemudi 21 0.50

Pegawai Negeri Sipil 25 0.59

Total 4 224 100.00

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Pada Tabel 8 menunjukkan bahwa mata pencaharian terbanyak yaitu sebagai petani. Hal ini didukung oleh kondisi geografis desa yang sebagian besar lahannya merupakan lahan persawahan. Mata pencaharian terbesar kedua adalah pedagang.

Kondisi Sarana dan Prasarana

Terdapat beberapa sarana dan prasarana penunjang kehidupan di Desa Bantarkaret. Jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bantarkaret dapat dilihat melalui Tabel 9.

Tabel 9 Jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bantarkaret

Jenjang ∑ (Buah) %

TK 4 30.8

SD 5 38.5

SD/MI 3 23.1

SLTP 1 7.7

Total 13 100.0

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Tabel 9 menunjukkan bahwa telah terdapat beberapa bangunan sekolah. Sarana pendidikan yang ada di Desa Bantarkaret telah mencapai jenjang SLTP. Belum terdapat sarana dan prasarana untuk jenjang di atas SLTP, seperti SMA atau Perguruan Tinggi. Sarana dan prasarana pendidikan terbanyak dimiliki oleh jenjang SD yang terdapat di lima lokasi, sedangkan sarana dan prasarana yang paling sedikit dimiliki oleh jenjang SLTP yang terdapat di satu lokasi. Selain dari bidang pendidikan, terdapat juga sarana dan prasarana untuk bidang keagamaan yang dapat dilihat dari Tabel 10.

(40)

Tabel 10 Jumlah sarana keagamaan di Desa Bantarkaret

Sarana Keagamaan ∑ (Buah) %

Mesjid Agung 2 2.8

Mesjid Jami 15 21.1

Mushola 37 52.1

Langgar 12 16.9

Majelis Ta’lim 5 7.0

Total 71 100.0

Sumber: Monografi Desa Bantarkaret Tahun 2015 (sudah diolah)

Pola Kebudayaaan

Secara umum, kebudayaan di Desa Bantarkaret merupakan budaya pada etnis Sunda. Hal ini karena struktur penduduk desa yang didominasi oleh etnis Sunda. Agama yang dianut oleh penduduk asli pun turut dipengaruhi oleh budaya sunda ini, yaitu agama Islam. Budaya Sunda sendiri memang sangat lekat dengan agama Islam, hal ini dapat dilihat dari kegiatan kebudayaan yang tidak lepas dari ritual keagamaan seperti syukuran, atau sunatan.

Semakin maraknya penambang liar membuat Desa Bantarkaret didatangi beragam suku dan etnis. Oleh karena itu, masyarakat Desa Bantarkaret yang seluruhnya merupakan etnis Sunda, saat ini sudah banyak mengalami percampuran etnis akibat adanya pernikahan. Sebagian warga mengeluhkan banyaknya pendatang karena mengurangi keamanan desa. Kebanyakan pendatang yang tidak berhasil dalam “usaha” atau gurandil, biasanya mencuri dan membobol usaha di desa.

Menurut pemaparan warga desa, keamanan saat ini di desa pun terbilang kurang aman. Kebiasaan ronda atau piket jaga lingkungan sudah tidak ada. Menurut warga, jika ada pencurian atau kejahatan, maka ronda baru dijalankan selama dua sampai tiga hari saja. Kurangnya keamanan di desa juga disebabkan oleh lunturnya kebiasaan gotong royong dalam masyarakat. Gaya hidup modern membuat masyarakat hanya memikirkan uang daripada lingkungannya sehingga munculnya penambang liar karena tuntutan gaya gidup. Menurut ASP, ANTAM juga menarik para pendatang dari berbagai tempat seperti Cianjur, Sukabumi dan lainnya, sehingga persentase pendatang setiap tahunnya semakin tinggi. Budaya gotong royong ditengah masyarakat semakin memudar karena banyaknya benturan-benturan budaya antara pendatang dan warga asli. Hal ini juga ditunjukan dengan sulit dikumpulkannya masyarakat.

Budaya gotong royong sih alhamdulilah, sekalipun hanya berlaku dibeberapa titik. Bahkan untuk mengumpulkan warga di beberapa titik sudah

sulit dilakukan.” ASP, 32 tahun

(41)

Pola Adaptasi Ekologis

Berdasarkan wawancara dari beberapa warga dan aparatur desa, ketika ANTAM Pongkor berdiri di Desa Bantarkaret, terdapat sebagian lahan milik warga yang dibeli dengan harga murah oleh perusahaan. Sebagian dari lahan yang dibeli oleh ANTAM merupakan lahan pertanian seperti lahan sawah atau kebun. Hal ini menyebabkan adanya perubahan kondisi ekologi Desa Bantarkaret. Menurut informasi yang didapat dari beberapa informan, untuk menghadapi perubahan kondisi ekologi ini, banyak warga desa yang beralih profesi menjadi penambang emas liar atau pedagang. Dana pembebasan lahan yang diberikan oleh PT. ANTAM kepada warga digunakan sebagai modal untuk berdagang atau menambang emas secara ilegal.

Semakin menyempitnya lahan pertanian akibat keperluan lahan untuk perusahaan dan pemukiman membuat semakin sedikitnya mata pencaharian petani di desa ini. Sebagian besar warga yang masih memiliki lahan persawahan memilih untuk tidak menjual hasil pertaniannya. Menurut warga, hasil pertanian hanya untuk konsumsi keluarga karena sehubungan dengan semakin mahalnya beras. Namun berdasarkan penuturan beberapa informan, warga desa Bantarkaret memang menggunakan hasil pertanian secara subsisten sejak dahulu. Hal ini karena pada waktu sebelum datangnya ANTAM, akses menuju pasar terdekat sangatlah sulit. Belum adanya jalanan aspal serta alat transportasi umum membuat masyarakat sulit mencapai pasar untuk menjual hasil pertaniannya.

Ditegaskan oleh pernyataan Pak PRN, sebelum adanya ANTAM warga sekitar bermata pencaharian sebagai petani. Lahan pertanian warga sebagian besar tadah hujan dan penggarapan masih menggunakan teknik tradisional, sehingga hasilnya pun “pas-pas an”. Semenjak adanya PT. ANTAM, warga mulai mengetahui bahwa di Desa Bantarkaret kaya akan sumberdaya alam emas. Hal ini menyebabkan warga banyak beralih profesi menjadi penambang emas liar atau sering disebut warga sekitar sebagai gurandil. Ada pula petani yang juga mengerjakan pekerjaan membantu gurandil seperti memikul tanah saja atau menumbuk tanah saja. Hasil dari memikul tanah saja 3 ribu rupiah/kilo dan menumbuk tanah saja 40 ribu rupiah/karung. Hal ini sudah sangat menguntungkan untuk para petani yang menunggu panen sehingga, masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-harinya. Lahan pertanian juga banyak beralih fungsi menjadi wilayah ANTAM dan pemukiman tapi tetap masih cukup banyak lahan pertanian. Menurut PRN, hal ini merubah gaya hidup masyarakat, masyarakat

berfikir “instan”, dibuktikan dengan banyaknya gurandil.

Karakteristik Responden

Berdasarkan data primer yang telah dikumpulkan, didapatkan karakteristik responden. Karakteristik resonden dilihat dari tingkat pendidikan, kelompok umur dan mata pencaharian utama. Berikut jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan.

(42)

Tabel 11 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan

Selanjutnya sebaran responden berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12 menunjukkan jumlah terbanyak responden pada kelompok umur 46-52 tahun. Berdasarkan piramida penduduk kelompok umur 46-52 tahun bukan merupakan kelompok umur terbanyak di Desa Bantarkaret. Namun, sebaran responden terbanyak menurut kelompok umur terdapat pada 46-52 tahun.

Tabel 12 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur

Kelompok Umur ∑ (Orang) %

Selain kelompok umur, karakteristik responden juga dapat dilihat dari jenis mata pencaharian utamanya. Berikut jumlah responden berdasarkan jenis mata pencaharian.

Tabel 13 Jumlah responden berdasarkan jenis mata pencaharian

Jenis Mata Pencaharian ∑ (Orang) %

(43)

sebagai mata pencaharian tambahan atau sebagai pekerjaan tambahan istri mereka.

Ikhtisar

Desa Bantarkaret merupakan desa ring 1 yang berbatasan langsung dengan ANTAM dengan luas wilayah 841.04 ha. Desa Bantarkaret menjadi salah satu desa binaan ANTAM dari 11 desa lainnya. Wilayah Desa Bantarkaret sebagian besar merupakan sawah tadah hujan, sedangkan dibeberapa kampung terdapat sawah menggunakan irigasi tradisional. Berdasarkan jumlah penduduk gabungan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak ada pada kelompok umur 20-24. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Bantarkaret berusia produktif. Namun, sebaran responden terbanyak menurut kelompok umur terdapat pada 46-52 tahun. Mayoritas masyarakat Bantarkaret beragama Islam dan etnis Sunda walaupun sudah banyak pendatang yang menetap di desa ini. Sampai saat ini tingkat pendidikan mayoritas di Desa Bantarkaret, yaitu tamat SD. Hal ini juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan mayoritas responden di Bantarkaret yang merupakan tamat SD.

(44)

SEJARAH DAN PROGRAM KEMITRAAN CSR ANTAM

Sejarah Perusahaan

Dikutip dari data ANTAM Pongkor, awal mula ANTAM menambang emas di Cikotok pada tahun 1988. Menipisnya cadangan emas di Cikotok membuat ekplorasi Pongkor diintensifkan ke daerah Gunung Limbung, Cibugis dan sekitarnya yaitu sebelah Utara-Timur Gung Pongkor. Penemuan tambang emas Pongkor bermula dari kebijakan penting yang mengantarkan dibentuknya Tim Eksplorasi Jawa Barat di tahun 1987. Salah satu pekerjaan yang ditangani tim saat itu adalah evaluasi kuasa-kuasa pertambangan Jawa Barat berdasarkan sumber-sumber informasi yang dihimpun para geologis Belanda. Penemuan tambang emas Pongkor merupakan penemuan tim geologi ANTAM tanpa campur tangan pihak manapun. Tujuan utamanya adalah mencari cebakan bijih logam dasar (base metal) yang saat itu permintaan pasaran masih tinggi. Pada akhir Tahun 1979, saat eksplorasi di daerah Gunung Limbung, juga diperoleh informasi adanya mineralisasi sulfida pirit di daerah sekitar Gunung Pongkor. Selanjutnya pada tahun 1981, tim unit geologi melakukan reconnaissance (survei tinjau) ke daerah Gunung Pongkor dan menemukan urat kwarsa dengan kandungan logam Au = 4 ppm dan logam Ag = 126 ppm di lokasi Pasir Jawa. Berdasarkan hasil tinjauan tersebut direncanakan untuk mengambil kuasa pertambangan (KP), didapatkan KP Eksplorasi seluas 4 339 ha (KP DU 562/Jabar).

Berdasarkan wilayah, daerah operasional ANTAM Pongkor berada di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor dengan luas ijin usaha pertambangan seluas 6.047 ha. Pabrik Pongkor I mulai dibangun tahun 1993. Ketika mulai berdiri, tambang emas Pongkor didukung oleh 660 karyawan tetap. Tenaga kerja tambang bawah tanah (underground miner) sebagian besar berasal dari tambang emas Cikotok. Karena sulit mencari tenaga kerja tambang bawah tanah, maka ditempuh rekrutmen tenaga kerja untuk dididik oleh ANTAM sendiri (in-house training) dengan mengutamakan penduduk setempat. Pabrik Pongkor II dibangun perluasaan pada tahun 1995 karena kapasitas produksi pengolahan emas yang dirasa kurang cukup. Setelah memperluas Tambang Emas Pongkor, ANTAM memperluas wilayah eksplorasinya di kawasan lain Jawa Barat yang mengandung emas, perak, tembaga, antara lain di Cirotan, Cipiru, Cibugis, Pangleseran dan Cikidang yang ditaksir mengandung cadangan geologi sebesar 400.000 ton.

Struktur Organisasi Departemen CSR

Gambar

Tabel 1  Karakteristik tahap-tahap kedermawanan sosial
Gambar 2  Kerangka pemikiran peranan modal sosial dalam meningkatkan
Tabel 2  Definisi operasional kekuatan modal sosial
Tabel 3  Definisi operasional tingkat efektivitas program
+7

Referensi

Dokumen terkait

Korelasi antara ekonomi dan sosial terlihat jelas dalam melihat detail hubungannya, apabila masyarakat sekita perusahaan sudah sejahtera terutama dalam hal perekonomian

Ungkapan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang memberikan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Keefektifan Implementasi Program

Namun, jika dilihat secara ekonomi dan sosial, belum ada dampak yang massif terhadap perkembangan perekonomian.Hal ini disebabkan oleh program pemberian pinjaman modal usaha

Pertama, sesuai dengan karakteristiknya melalui program community development dapat dikembangkan dan dimanfaatkan unsur modal sosial baik yang dimiliki dunia usaha

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa program kemitraan CSR merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada mitra usaha yaitu perusahaan

Efektivitas kegiatan CSR Adaro Group pada Program Adaro Santri Sejahtera PASS yang dijalankan oleh Yayasan Adaro Bangun Negeri YABN, mampu memberikan manfaat yang besar kepada penerima