• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan CD Worker dalam Pendampingan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indocement Tunggal Prakarsa,Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan CD Worker dalam Pendampingan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indocement Tunggal Prakarsa,Tbk"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN CD

WORKER

DALAM PENDAMPINGAN

PROGRAM

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

(CSR)

PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA TBK

SISKA ERMA LIA

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Peranan CD Worker dalam Pendampingan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2015

(4)
(5)

ABSTRAK

SISKA ERMA LIA. Peranan CD Worker dalam Pendampingan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT ITP Tbk Tungal Prakarsa Tbk. Dibimbing oleh HADIYANTO.

Peranan CD worker perusahaan merupakan faktor yang dapat mendorong

partisipasi masyarakat dalam kegiatan CSR yang dijalankan perusahaan. Partisipasi masyarakat yang tercipta akan meningkatkan kemandirian material, intelektual dan manajemen. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat peranan CD

worker, partisipasi dan kemandirian, menganalisis hubungan tingkat peranan CD worker dengan partisipasi dan menganalisis hubungan tingkat partisipasi dengan

kemandirian. Penelitian ini dilakukan di Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dan didukung pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat peranan CD worker dalam pendampingan tergolong tinggi, tingkat partisipasi dalam KUB

Rancage cenderung tinggi dan tingkat kemandirian tergolong tinggi. Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman, antara tingkat peranan CD worker tidak memiliki

hubungan dengan semua tahapan partisipasi, sedangkan antara tingkat partisipasi memiliki hubungan positif yang sangat kuat dengan tingkat partisipasi.

Kata kunci: peranan CD worker, partisipasi, kemandirian, CSR

ABSTRACT

SISKA ERMA LIA. The Role of CD Worker in Assistance Program of Corporate Social Responsibility (CSR) of PT ITP Tbk Tungal Prakarsa Tbk. Supervised by

HADIYANTO.

The role of the CD worker in a company is the factor that can encourage

community participation in the csr run. The participation of the community will increase independence of material one and intellectual and management. The aim of this research is describe the level of CD worker’s role, participation and

independence, analyzing the relationship between the level of CD worker’s role and

participation and analyze the relationship between the level of participation with independence. The study is done in Desa Pasir Mukti , Kecamatan Citeureup , Bogor districts. Research method used is the approach supported by quantitative and qualitative approach. The result showed the level of cd worker’s role in assistance to

csr is considered to be higher , their level of participation members in KUB Rancage tended to be higher and the level of a member of independence is considered to be higher. Based on the results of a test of Rank Spearman correlation , between the

level of cd worker’s role had no relationship with all phases of participation , while

between the level of participation have a positive relationship which is very strong with their level of participation.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

pada

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

PERANAN CD

WORKER

DALAM PENDAMPINGAN

PROGRAM

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

(CSR)

PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA TBK

SISKA ERMA LIA

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi : Peranan CD Worker dalam Pendampingan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indocement Tunggal Prakarsa,Tbk Nama : Siska Erma Lia

NIM : I34110017

Disetujui oleh

Ir Hadiyanto, MSi Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Siti Amanah, MSc Ketua Departemen

(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis ucapkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Peranan CD Worker dalam Pendampingan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT ITP Tbk. Penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2014 ini mengangkat tema pengembangan masyarakat dengan lokasi di Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Hadiyanto, MSi sebagai pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses penulisan. Penulis juga meyampaikan hormat dan terimakasih kepada Bapak Sudarmo dan Ibu Siti Musrifah, orang tua tercinta, serta Mas Benny Haristanto, kakak tersayang, yang selalu berdoa dan senantiasa melimpahkan kasih sayangnya untuk penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman seperjuangan Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat angkatan 48, sahabat penulis yaitu Fitri Rabbani, Radha Santunnia, Soraya Feruzia, Afiefah Muthahharah, Dwi Setyaningsih, Triana Winni Asuty, Nanda Karlita, Dinda Wahyuni, Iva Ayu FN, Fadilla RA, Andrian Hermawan dan Deni Rahmawati. Kemudian Husnul Khatim, Ksatria Jakpus, BEM FEMA Mozaik Tosca, Jejak Sepatu, dan teman-teman akselerasi SKPM 48. Tidak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atas kesediannya memberikan informasi kepada penulis.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Januari 2015

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xiv

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 4

Manfaat Penelitian 4

PENDEKATAN TEORITIS 5

Tinjauan Pustaka 5

Kerangka Pemikiran 10

Hipotesis Penelitian 11

Definisi Operasional 11

PENDEKATAN LAPANG 17

Metode Penelitian 17

Lokasi dan Waktu Penelitian 17

Teknik Pengambilan Responden dan Informan 17

Teknik Pengumpulan Data 18

Teknik Pengolahan dan Analisis Data 18

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN, PROGRAM CSR DAN

KUB RANCAGE 19

Profil Desa Pasir Mukti 19

Program CSR PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk 21

Profil Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rancage 25

TINGKAT PERANAN CD WORKER, PARTISIPASI DAN

KEMANDIRIAN ANGGOTA KUB RANCAGE 29

Peranan CD Worker dalam Pendampingan KUB Rancage 29

Partisipasi Anggota KUB Rancage 33

Kemandirian Anggota KUB Rancage 41

Ikhtisar 48

(14)

Hubungan antara Tingkat Peranan CD Worker dengan Tingkat Partisipasi

KUB Rancage 49

Hubungan antara Tingkat Partisipasi dengan Tingkat Kemandirian

Anggota KUB Rancage 53

Ikhtisar 56

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERANAN CD WORKER, PARTISIPASI DAN KEMANDIRIAN ANGGOTA KUB RANCAGE 59

SIMPULAN DAN SARAN 63

Simpulan 63

Saran 64

DAFTAR PUSTAKA 65

(15)

DAFTAR TABEL

1 Indikator pengukuran tingkat partisipasi Arnstein (1969) melalui

tahapan partisipasi Uphoff et al. (1979) 13

2 Jumlah dan persentase penduduk menurut kelompok umur dan jenis

kelamin di Desa Pasir Mukti 2011-2013 20

3 Jumlah dan persentase penduduk menurut mata pencaharian penduduk

Desa Pasir Mukti tahun 2013 20

4 Jumlah dan persentase penduduk menurut tingkat pendidikan Desa

Pasir Mukti tahun 2013 21

5 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat peranan CD worker dalam mendampingi anggota KUB Rancage Desa Pasir Mukti tahun

2014 29

6 Jumlah dan persentase tingkat peranan CD worker dalam memfasilitasi (Facilitative Roles) kub Rancage Desa Pasir Mukti tahun 2014 30 7 Jumlah dan persentase tingkat peranan CD worker dalam mendidik

(Educational Roles) KUB Rancage Desa Pasir Mukti tahun 2014 31 8 Jumlah dan persentase tingkat peranan CD worker dalam representasi

(Representational Roles) KUB Rancage tahun 2014 32 9 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat partisipasi anggota

KUB Rancage tahun 2014 33

10 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat partisipasi dalam

perencanaan KUB Rancage tahun 2014 34

11 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat partisipasi dalam

pelaksanaan KUB Rancage tahun 2014 35

12 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat pasrtisipasi dalam

menikmati hasil KUB Rancage tahun 2014 38

13 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat pasrtisipasi dalam

tahap evaluasi KUB Rancage tahun 2014 40

14 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kemandirian KUB

Rancage Desa Pasir Mukti tahun 2014 42

15 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kemandirian

material KUB Rancage tahun 2014 42

16 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kemandirian

intelektual KUB Rancage tahun 2014 45

17 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat partisipasi kemandirian manajemen anggota KUB Rancage tahun 2014 46 18 Jumlah dan persentase sebaran tingkat partisipasi responden menurut

tingkat persanan CD worker dalam pendampingan program CSR PT

ITP tahun 2014 49

19 Hubungan antara tingkat peranan CD worker dengan tingkat

partisipasi 50

(16)

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran 11

2 Persentase partisipasi anggota dalam tahap pelaksanaan KUB Rancage 36 3 Persentase partisipasi anggota dalam tahap menikmati hasil KUB

Rancage 38

4 Persentase partisipasi anggota dalam tahap evaluasi KUB Rancage 40 5 Persentase kemandirian melalui anggota KUB Rancage 43 6 Persentase kemandirian intelektual anggota KUB Rancage 45 7 Persentase kemandirian manajemen anggota KUB Rancage 46

DAFTAR LAMPIRAN

1 Sketsa Lokasi Penelitian 68

2 Daftar nama responden 69

3 Jadwal Penelitian tahun 2014-2015 70

4 Kuesioner Penelitian 71

5 Dokumentasi 81

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Pasal 74 mewajibkan perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Peraturan tersebut berbunyi bahwa perusahaan yang menjalankan usahanya di bidang atau sumberdaya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang anggarannya diperhitungkan sebagai biaya perseroan. Bagi perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana tercantum di dalam peraturan akan dikenai sanksi dengan ketentuan yang berlaku. Menurut hasil program penilaian peringkat perusahaan (PROPER) tahun 2012-2013 Kementerian Negara Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa dari total 1812 perusahaan yang dipantau yaitu sejumlah 12 perusahaan (0.67 persen) perusahaan yang mendapatkan peringkat emas, sejumlah 113 perusahaan (6.31 persen) mendapatkan peringkat hijau, sejumlah 1039 perusahaan (57.98 persen) mendapatkan peringkat biru, sejumlah 611 perusahaan (34.1 persen) mendapatkan peringkat merah, serta sejumlah 17 perusahaan (0.95 persen) mendapatkan peringkat hitam. Dari data tersebut terlihat bahwa hanya 0.67 persen perusahaan yang menjalankan tanggung jawab di bidang lingkungan dan sosial yang sesuai dengan kriteria penilaian PROPER. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa dari sekian perusahaan yang dinilai belum semua perusahaan melakukan tanggung jawab sosial perusahaan baik secara sosial maupun lingkungan meskipun sudah lama ditetapkannya perundang-undangan tersebut.

Menurut Indonesia Business Links (2001) seperti yang dikutip oleh Kartini (2009) menyatakan CSR merupakan komitmen bisnis untuk meminimalkan dampak negatif perusahaan dan memaksimalkan kontribusi positif terhadap seluruh stakeholder sehubungan dengan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai pembngunan berkelanjutan. Tujuan dilaksanakannya program CSR oleh perusahaan adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perusahaan. Perhatian pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan lebih dikenal sebagai konsep 3P (people, planet and profit) atau triple bottom line yaitu merupakan kunci pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan ini kemudian diwujudkan dalam program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan dalam hal ini adalah praktek CSR yang dijalankan oleh perusahaan. Rahadhini (2010) menyatakan dalam kenyataannya, praktek CSR di Indonesia kebanyakan masih sekedar membangun citra perusahaan dari pada memberdayakan masyarakat. Perusahaan dalam melaksanakan CSR akan mengeluarkan sejumlah biaya yang akan mengurangi pendapatan sehingga tingkat profit perusahaan akan menurun. Pelaksanan CSR tersebut dapat meningkatkan citra baik perusahaan sehingga loyalitas konsumen makin tinggi tanpa memperhatikan aspek pemberdayan masyarakat.

(18)

2

(facilitative roles), mendidik (educational roles), representasi (representational roles) dan teknis (technical roles) (Ife dan Tesoriero 2008). Peranan dan keterampilan diharapkan akan mendorong terciptanya partisipasi masyarakat. Kekurangan program CSR yang sering ditemukan di lapangan adalah kurangnya tenaga pendamping dan tidak adanya CD worker yang memiliki peranan dan keterampilan yang cukup dalam melakukan pendampingan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program CSR. CD worker dalam mendampingi masyarakat hanya berorientasi pada tugas sebagai seorang CSR bukan karena kesadaran dalam membantu masyarakat sekitar. Kesadaran palsu yang ada pada CD worker menyebabkan tidak terciptanya kedekatan antara pendamping dan masyarakat (kesenjangan sosial). Hal inilah yang menjadi penyebab gagalnya pendampingan program yang dilakukan oleh perusahaan karena masih ada gap antara perusahaan dengan masyarakat dampingan. Selama ini masih belum banyak penelitian yang mengakaji mengenai peranan CD worker perusahaan dalam mendampingi program CSR.

Partisipasi masyarakat merupakan faktor penting bagi keberlanjutan program CSR karena masyarakat yang akan menjalankan dan menerima manfaat dari program tersebut. Nasdian (2014) menyatakan partisipasi dalam program CSR adalah suatu proses aktif dan inisiatif yang diambil oleh warga komunitas itu sendiri, dibimbing melalui cara mereka sendiri dengan menggunakan sarana dan proses (kelembagaan dan mekanisme) dimana mereka dapat menegaskan kontrol secara efektif. Tahapan partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil serta evaluasi (Uphoff et al. 1979). Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dan stakeholder menurut delapan tangga partisipasi Arnstein (1969) antara lain manipulation (manipulasi), therapy (terapi), informing (menginformasikan), consultation (konsultasi), placation (menenangkan), partnership (kemitraan), delegated power (kekuasaan) didelegasikan dan citizen control (kontrol warga negara). Selama ini, peran serta masyarakat dalam program pemberdayaan masyarakat masih tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Nuryanti (2013) tingkat partisipasi masyarakat dalam program posdaya tergolong rendahnya pada tahapan perencanaan dan evaluasi hasil karena adanya faktor penghambat dalam partisipasi yaitu masalah struktural dan budaya. Penelitian Febriana (2008) menyatakan partisipasi masyarakat dalam program CSR kampung siaga indosat tergolong rendah pada setiap tahapan partisipasi yaitu perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi hal ini karena kendala dalam hal waktu. Partisipasi masyarakat yang tercipta nantinya akan mendorong terciptanya kemandirian masyarakat disekitar perusahaan. Kemandirian masyarakat dapat berupa kemandirian material, intelektual dan manajerial.

(19)

3 di masyarakat sekitar. Dalam melaksanakan program CSR PT ITP Tbk memiliki koordinator desa untuk 12 desa binaan yang berfungsi sebagai pendamping program. Kordinator desa ini bertanggung jawab terhadap semua program yang ada pada masing-masing desa, mereka berlomba-lomba dalam mengunggulkan potensi yang ada di desanya masing-masing. Oleh karena itu, penting bagi peneliti untuk menganalisis peranan CD worker dalam pendampingan program CSR PT ITP Tbk.

Perumusan Masalah

Program CSR yang dijalankan oleh perusahaan memiliki tujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya. Pemberdayaan masyarakat tidak akan tercipta jika tidak ada partisipasi aktif dari penerima program. Menurut beberapa penelitian sebelumnya partisipasi masyarakat dalam bidang pemberdayaan masyarakat tergolong rendah. Partisipasi masyarakat dilihat dari beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi. Hasil penelitian dari Febriana (2008) menyatakan partisipasi masyarakat dalam program CSR kampung siaga indosat tergolong rendah pada setiap tahapan partisipasi yaitu perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi hal ini karena terbatasnya waktu yang dimiliki oleh masyarakat dalam mengikuti kegiatan. Diperkuat juga dengan hasil penelitian Nuryanti (2013) menyatakan partisipasi masyarakat dalam program posdaya masih tergolong rendah pada tahapan perencanaan dan evaluasi, namun tinggi pada tahapan pelaksanaan. Pada tahapan perencanaan dan evaluasi masyarakat dituntut aktif dalam berpikir sehingga masyarakat terhambat pada masalah struktural hal ini berbeda dengan tahapan pelaksanan yang dapat dilakukan tanpa pertimbangan berpikir sebelumnya.

Selama ini proses pemberdayaan masyarakat tidak terlepas dari peranan CD worker atau pendamping. Kajian yang ada selama ini terfokus pada pendamping yang berasal dari luar masyarakat (pemerintah/penyuluh) dan dalam masyarakat (local hero) sendiri. Menurut penelitian Nuryanti (2013) peranan pendamping dalam posdaya tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan semua tahapan partisipasi yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh perusahaan yang kita kenal dengan CSR, idealnya juga memiliki tenaga pendamping dalam mendampingi jalannya program agar tercapai tujuan dari pemberdayaan masyarakat itu sendiri. CD worker yang berasal dari perusahaan diharapkan juga memiliki kesamaan peranan dengan pendamping sosial yang berasal dari pemerintah maupun dari masyarakat. Peranan yang dijalankan oleh CD worker juga diharapkan mampu mendorong terciptanya partisipasi masyarakat sebagai penerima program.

(20)

4

Dari uraian diatas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat peranan CD worker dalam pendampingan program,

partisipasi dan kemandirian anggota KUB Rancage ?

2. Sejauhmana hubungan tingkat peranan CD worker dalam pendampingan program CSR dengan partisipasi anggota KUB Rancage ?

3. Sejauhmana hubungan tingkat partisipasi dengan kemandirian anggota KUB Rancage ?

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan tingkat peranan CD worker dalam pendampingan program CSR, partisipasi anggota dalam setiap tahapan partisipasi dan kemandirian anggota KUB Rancage.

2. Menganalisis hubungan peranan CD worker dalam pendampingan program CSR dengan tingkat partisipasi anggota KUB Rancage.

3. Menganalisis hubungan tingkat partisipasi dengan tingkat kemandirian anggota KUB Rancage.

Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut:

1. Bagi akademisi: penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan kajian untuk penelitian selanjutnya serta menambah khasanah penelitian mengenai peranan CD worker dalam pendampingan program CSR. 2. Bagi pemerintah: dapat memberikan masukan dalam penyusunan

pedoman implementasi program CSR yang wajib diksanakan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

3. Bagi perusahaan: dapat memberikan pemahaman mengenai pentingnya peranan CD worker dalam mendampingi masyarakat dalam program CSR yang dilakukannya.

(21)

5

PENDEKATAN TEORITIS

Tinjauan Pustaka Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Definisi mengenai CSR menurut World Business Council for Sustainable Development (1998) seperti dikutip yang oleh Sukada et al. (2007) komitmen yang berkelanjutan dari bisnis untuk bertindak etis dan berkontribusi pengembangan ekonomi sehingga meningkatkan kualitas hidup dari pekerja dan keluarganya seperti halnya dengan komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan. Menurut Indonesia Business Links (2001) seperti yang dikutip oleh Kartini (2009) menyatakan CSR merupakan komitmen bisnis untuk meminimalkan dampak negatif perusahaan dan memaksimalkan kontribusi positif terhadap seluruh stakeholder sehubungan dengan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai pembngunan berkelanjutan. Menurut pengertian dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah komitmen dari perusahaan kepada masyarakat dan lingkungannya, akibat dari aktivitas yang dilakukan perusahaan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

Perhatian pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan yang dikenal sebagai konsep 3P (people, planet and profit) yang diungkapkan oleh John Elkington (1997) seperti yang dikutip oleh Solihin (2008) the three lines of triple bottom line represent society, the economy and the environment. Society depend on the global ecosystem, whose health represent the ultimate bottom line. The three lines are not stabl; they are in constant flux, due to social, political, economic, and environmental pressures, cycle and conflicts. Dalam pernyataannya tersebut bermakna CSR harus memperhatikan aspek people (masyarakat), profit (ekonomi) and planet (lingkungan), ketiga apek tersebut saling berkesinambungan yaitu masyarakat tergantung pada ekosistem yang ada disekitar begitu pula sebaliknya. Ketiga aspek tersebut sifatnya tidak stabil, ketika satu komponen berubah maka komponen yang lain juga akan berubah. Mulyadi et al. (2012) menyatakan wujud nyata dari program corporate social responsibility ini berupa program lingkungan, kesehatan, pendidikan, program infrastruktur dan pemberdayaan. Implementasi program corporate social responsibility ini membawa manfaat bagi perusahaan maupun masyarakat sekitar.

Konsep Partisipasi

(22)

6

Dengan partisipasi, tanggung jawab sosial perusahaan yang dilaksanakan akan lebih berkelanjutan karena disusun berdasarkan kebutuhan dasar yang sesungguhnya dari masyrakat setempat (local community).

Menurut Uphoff et al. (1979) mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara kerjanya. Keterlibatan masyarakat dalam keterlibatan program dan pengambilan keputusan yang telah ditetapkan melalui sumbangan sumber daya atau bekerja sama dalam suatu organisasi. Keterlibatan masyarakat menikmati hasil dan pembangunan, serta dalam evaluasi pada pelaksanaan program. Partisipasi tersebut dibagi ke dalam beberapa jenis tahapan. Tahap perencanaan, ditandai dengan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang merencanakan program pembangunan yang akan dilaksanakan di desa, serta menyusun rencana kerjanya. Tahap Pelaksanaan, yang merupakan tahap terpenting dalam pembangunan, sebab inti dari pembangunan adalah pelaksaannya. Wujud nyata partisipasi pada tahap ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu partisipasi dalam bentuk sumbangan pemikiran, bentuk sumbangan materi dan bentuk keterlibatan sebagai anggota proyek. Tahapan menikmati hasil, yang dapat dijadikan indikator keberhasilan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dan pelaksanaan proyek. Selain itu, dengan melihat posisi masyarakat sebagai subyek pembangunan, maka semakin besar manfaat proyek dirasakan, berarti proyek tersebut berhasil mengenai sasaran. Tahap evaluasi, dianggap penting sebab partisipasi masyarakat pada tahap ini dianggap sebagai umpan balik yang dapat memberikan masukan demi perbaikan pelaksanaan proyek selanjutnya.

Merujuk pada konsep Arnstein (1967) bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dan stakeholders mengenai “A Ladder of Citizen Participation” dengan delapan tangga atau tingkatan partisipasi:

1. Manipulation (manipulasi): atas nama partisipasi, masyarakat ditempatkan sebagai “stempel karet” dalam komite penasihat. Tujuannya adalah untuk dipakai sebagai formalitas semata serta mendapatkan dukungan atas suatu program. Pada tingkatan ini terjadi penyelewengan makna dari partisipasi sebagai alat publikasi oleh penguasa.

2. Therapy (terapi) : pada tahap ini, para pemegang kekuasaan sama dengan ahli kesehatan jiwa (psikiater). Mereka memandang bahwa masyarakat yang tidak berdaya sebagai penyakit jiwa (mental). Pada asumsi ini dengan berpura-pura masyarakat dilibatkan dalam perencanaan, mereka menganggap bahwa masyarakat sebagai orang yang membutuhkan pengobatan. Tahap terapi ini, berfokus pada penyembuhan penyakit namun tidak berorientasi pada penemuan penyebab dari suatu penyakit.

(23)

7 4. Consultation (konsultasi): meminta pendapat masyarakat merupakan salah satu jalan untuk menuju partisipasi penuh. Pada tahap konsultasi ini merupakan partisipasi semu karena tidak ada jaminan bahwa pendapat mereka akan diperhatikan. Hal yang sering dilakukan pada tahapan ini adalah jajak pendapat, temu warga dan dengar pendapat. Jika pemegang kekuasaan membatasi saran dari masyarakat, maka kegiatan ini hanya partisipasi palsu. Masyarakat dianggap sebagai abstraksi statistik, karena partisipasi mereka diukur dari frekuensi kehadiran dalam pertemuan, seberapa banyak brosur yang dibawa pulang dan kuisoner yang diisi olehnya. Dengan hal tersebut, pemegang kekuasaan telah memiliki bukti atas keterlibatan masyarakat. 5. Placation (menenangkan): pada tahap ini masyarakat sudah memiliki

beberapa pengaruh meskipun dalam beberapa hal pengaruh tersebut tidak ada jaminan akan diperhatikan. Masyarakat diperbolehkan untuk memberikan usulan rencana namun pemegang kekuasaanlah yang berwenang untuk menentukan. Strateginya dengan cara memasukkan masyarakat miskin yang layak dimasukkan ke dalam suatu lembaga. Jika mereka tidak bertanggung jawab dan pemegang kekuasaan memiliki kekuasaan dominan, maka masyarakat akan akan mudah diakali.

6. Partnership (kemitraan): tahapan ini kekuasaan disalurkan melalui negosiasi antara pemegang kekuasaan dan masyarakat. mereka sepakat bersama-sama untuk memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Aturan ditentukan melalui mekanisme take and give, sehingga diharapkan tidak ada perubahan yang sepihak. Kemitraan dapat berjalan efektif jika dalam masyarakat ada kekuasaan yang terorganisir, pemimpin bertanggung jawab, masyarakat mampu secara finansial untuk membayar honor bagi pemimpinnya.

7. Delegated power (kekuasaan didelegasikan): negosiasi antara masyarakat dengan pejabat pemerintah dapat mengakibatkan dominasi kewenangan pada masyarakat terhadap rencana atau program tertentu. Masyarakat menduduki kekuasaan dalam menentukan suatu keputusan. Untuk mengatasi perbedaan, pemegang kekuasaan tidak perlu meresponnya akan tetapi dengan mengadakan proses tawar menawar.

8. Citizen control (kontrol warga negara):pada tingkatan ini masyarakat menginginkan adanya jaminan bahwa kewenangan untuk mengatur program atau kelembagaan diberikan kepada mereka, bertanggung jawab penuh terhadap kebijakan dan aspek manajerial dan bisa mengadakan negosiasi apabila pihak ketiga yang mengadakan perubahan. Dengan demikian, masyarakat dapat berhubungan langsung dengan sumber-sumber dana untuk memperoleh bantuan atau pinjaman tanpa melewati pihak ketiga.

(24)

8

pengambilan keputusan dan kekuatan pengelolaan. Tiga level terakhir termasuk ke dalam level kekuatan warga negara (citizen power) (Arnstein 1967).

Menurut hasil penelitian Irawan (2013) partisipasi masyarakat dalam program CSR terbagi kedalam tiga kategori yaitu partisipasi tinggi, masyarakat aktif dalam mengelola program, partisipasi sedang masyarakat ikut memilah, mengirim, dan memanfaatkan hasil sampah tanpa ikut terlibat dalam pengolahan dan partisipasi rendah dimana masyarakat tidak terlibat sama sekali dalam program tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori partisipasi rendah yang masih dominan.

Menurut hasil penelitian Rosyida dan Nasdian (2011) mengenai partisipasi masyarakat dan stakeholder dalam penyelenggaraan program CSR dan dampaknya

terhadap komunitas pedesaan, terdapat empat golongan masyarakat yaitu

farm/pengusaha, non-farm/pengusaha, farm/buruh, dan non-farm/buruh. Responden non-farm/buruh memiliki keterlibatan yang paling tinggi, sedangkan pada farm/buruh

memiliki keterlibatan yang rendah. Pengukuran tingkat partisipasi responden dilakukan dengan konsep Uphoff dan Arenstein. Hasil penelitian tingkat partisipasi menurut Uphoff responden tergolong pada tingkat partisipasi sedang, sedangkan menurut konsep Arnstein responden tergolong ke dalam tipe konsultasi.

Bentuk partisipasi masyarakat diberikan dalam bentuk sumbangan pikiran dalam bentuk saran, usulan maupun kritik dalam pertemuan/rapat yang diadakan untuk membicarakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada tahap pelaksanaan terlihat sekali partisipasi masyarakat terutama pada kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama melalui gotong royong. Pada penelitian ini pada saat pelaksanaan masyarakat menyumbang apa saja yang ada pada mereka baik berupa tenaga, uang, material maupun ide-ide untuk kelancaran berjalannya program (Yulianti 2012).

Menurut hasil penelitian Itta et.al (2009) mengenai faktor-faktor yang

berhubungan dengan tingkat partisipasi dalam program CSR PT. Arutmin Indonesia menyatakan bahwa tingkat partisipasi masyarakat sekitar tambang dalam program CSR tergolong tinggi, tidak terdapat hubungan nyata antara faktor sosial ekonomi yang meliputi pendidikan, pendapatan, dan faktor budaya (etos kerja) dengan tingkat partisipasi masyarakat.

Konsep Pendamping/CD Worker

Menurut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (2013) pendampingan adalah interaksi yang intensif antara pendamping dengan kelompok masyarakat sehingga terjadi proses perubahan kreatif yang diprakarsai oleh para anggota kelompok untuk tujuan peningkatan kualitas hidup dan kemandirian kelompok dampingan. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Susanto (2010) yang menyatakan pendamping pengembangan masyarakat adalah orang yang terkategorikan sebagai pengantar perubahan (agent of change), baik yang berada di dalam sistem sosial masyarakat (insider change agents) maupun yang berada di luar sistem sosial masyarakat bersangkutan (outsider change agents). Terdapat dua jenis golongan dari pendamping pengembangan masyarakat yaitu penyuluh di berbagai instansi pemerintah, swasta (CSR) dan mereka yang sedang dalam proses belajar formal di berbagai institusi pendidikan.

(25)

9 A. Facilitative roles (fasilitator)

Dalam proses memfasilitasi, peranan yang dapat dilakukan oleh pekeja pengembangan masyarakat antara lain sebagai: (a) orang yang mampu membantu anggota komunitas agar mereka berpartisipasi dalam program pengembangan masyarakat, dengan memberikan inspirasi, semangat, rangsangan, inisiatif, energi dan motivasi sehingga mampu bertindak. Animator yang berhasil memiliki ciri-ciri: bersemangat, memiliki komitmen, memiliki integritas, mampu berkomunikasi dengan berbagai kalangan, mampu menganalisis dan mengambil langkah yang tepat dan mudah bergaul dan terbuka (animator), (b) orang yang mampu mendengar dan memahami aspirasi anggota komunitas, bersikap netral, mampu mencari jalan keluar, dan mampu bernegosiasi (negosiator), (c) orang yang mampu memberikan dukungan kepada orang-orang yang terlibat dalam struktur dan kegiatan komunitas (suporter), (d) orang yang mampu membantu anggota komunitas untuk mencari konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak, (e) orang yang mampu memberikan fasilitas kepada anggota komunitas (fasilitator), (f) orang yang mampu memanfaatkan sumber daya dan keahlian yang ada dalam suatu komunitas. B. Educational roles (Pendidik)

Pengembangan masyarakat adalah suatu proses belajar yang terus-menerus, yang berusaha menumbuhkan kesadaran, menyampaikan informasi kepada anggota komunitas, menciptakan konfrontasi antar kelompok-kelompok dalam suatu komunitas untuk menciptakan dinamika internal dari suatu komunitas, dan memberikan pelatihan berdasarkan topik yang sesuai dengan kebutuhan anggota pengembangan masyarakat. C. Representational roles (Utusan atau wakil)

Peranan ini berkaitan dengan interaksi pekerja pengembangan masyarakat dengan lembaga-lembaga ekternal yang memberi keuntungan pada komunitas melalui: obtaining resources, advocacy, penggunaan media, hubungan masyarakat, jaringan antara pekerja pengembangan masyarakat dan pekerja yang relevan, dan sharing pengalaman dan pengetahuan secara formal maupun informal antara pekerja pengembangan masyarakat dan anggota pengembangan masyarakat.

D. Technical roles (Teknikal)

Dalam proses pengembangan masyarakat perlu melibatkan keahlian dan teknik-teknik yang khas, terutama untuk melakukan need assesment seperti: penguasaan beragam metode penelitian, penguasaan komputer, kemampuan menyampaikan informasi dan data, kemampuan mengelola program, dan pengawasan keuangan program pengembangan masyarakat. Konsep Kemandirian

(26)

10

yang dihadapi, merumuskan serta menetapkan prioritasnya, mampu merumuskan alternatif untuk menyelesaikan permasalahan, mampu mengorganisir diri, sebagai salah satu cara penanggulangan secara bersama, mampu mengembangkan aturan main, nilai, norma yang disusun, disepakati serta dipatuhi bersama, dan memperluas kerjasama serta kemitraan yang setara (termasuk dalam kewirausahaan).

Menurut Verhagen (1996) seperti yang dikutip oleh Hikmat (2004) mengemukakan bahwa swadaya adalah suatu sarana untuk mencapai kemandirian dan kemandirian adalah suatu suasana atau kondisi tertentu membuat seseorang individu atau sekelompok manusia yang telah mencapai kondisi itu tidak lagi tergantung pada bantuan atau kedermawanan pihak ketiga untuk mengamankan kepentingan-kepentingan individu atau kelompok. Suatu kelompok yang mandiri berarti kelompok tersebut telah mengembangkan kemampuan organisasional, produktif dan analitik yang memadai sehingga mampu merancang dan melaksanakan suatu strategi yang dapat memberikan sumbangan secara efektif.

Menurut Sumodiningrat (1999) menyatakan kemandirian dapat diartikan sebagai proses pambangunan diciptakan dari, oleh dan untuk setiap anggota masyarakat. Kemandirian dalam hal ini menyangkut tiga segi, yaitu kemandirian material (tidak selalu berarti sanggup mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan dasar serta cadangan dan mekanisme bertahan pada saat krisis), kemandirian intelektual (pembentukan dasar yang memungkinkan masyarakat menghindari dominasi pihak luar) dan kemandirian manajemen (kemampuan otonom untuk membina diri sendiri, menjalani serta mengelola kegiatan kolektif agar ada perubahan dalam/situasi kehidupan).

Kerangka Pemikiran

Masyarakat merupakan kunci penting bagi keberlanjutan operasional perusahaan, hal ini dibuktikan dengan program CSR PT ITP, Tbk yang tidak dapat berjalan tanpa adanya partisipasi dari masyarakat sekitar perusahaan. Selanjutnya, program CSR yang dimaksud adalah pembinaan UMKM di Desa Binaan yaitu kelompok usaha bersama Rancage (KUB Rancage). Partisipasi anggota KUB Rancage dipengaruhi tingkat peranan CD worker. Peranan CD worker dapat diukur melalui peranannya dalam mendampingi anggota kelompok KUB Rancage antara lain sebagai facilitative roles (fasilitator), educational roles (pendidik), representasional roles (utusan atau wakil) (Ife dan Tesoriero 2008). Partisipasi anggota KUB Rancage yang akan diukur dalam penelitian ini merupakan partisipasi dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi (Uphoff et al. 1979). Tingkat partisipasi anggota KUB Rancage diukur melalui delapan tangga partisipasi Arnstein (1969) yaitu pada level non-partisipasi (manipulasi dan terapi), level tokenisme (informasi, konsultasi dan placation) serta level kekuasaan citizen power (kemitraan, delegasi kewenangan dan kontrol warga negara). Delapan tangga partisipasi ini nantinya akan disederhanakan menjadi tiga tangga yaitu non-partisipasi, tokenisme dan kekuasaan citizen power.

(27)

11 akan berjalan tanpa adanya partisipasi dari masyarakat sekitar. Begitu pula dengan KUB Rancage didirikan untuk memandirikan anggota kelompok. Sehingga, dapat diduga bahwa partisipasi anggota dalam KUB Rancage berpengaruh terhadap kemandirian anggotanya. Kemandirian masyarakat terdiri dari kemandirian material (tidak selalu berarti sanggup mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan dasar serta cadangan dan mekanisme bertahan pada saat krisis), kemandirian intelektual (pembentukan dasar yang memungkinkan masyarakat menghindari dominasi pihak luar) dan kemandirian manajemen (kemampuan otonom untuk membina diri sendiri, menjalani serta mengelola kegiatan kolektif agar ada perubahan dalam situasi kehidupan). Alur kerangka pemikiran dalam penelitian ini tersaji pada Gambar 1.

Keterangan:

: berhubungan

Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian ini disajikan sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara tingkat peranan CD worker (facilitative roles, educational roles dan representatif roles) dengan tingkat partisipasi (tahap perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi).

2. Terdapat hubungan tingkat partisipasi (tahap perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi) dengan tingkat kemandirian (material, intelektual dan manajemen).

Definisi Operasional

Definisi operasional untuk masing-masing variabel sebagai berikut:

1. Tingkat Peranan CD worker adalah peranan dan keterampilan yang dimiliki oleh seorang CD worker dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat dalam program CSR PT ITP,Tbk diukur melalui tingkat keterampilan dalam memfasilitasi, mendidik, dan representasi.

(28)

12

Tingkat peranan CD worker tinggi: (58-95) Tingkat peranan CD worker rendah: (19-57)

2. Tingkat keterampilan dalam memfasilitasi (facilitative roles) adalah keterampilan CD worker dalam memberikan semangat sosial, negosiasi, memberikan dukungan, membangun konsensus, memfasilitasi kelompok, memanfaatkan sumber daya dan keahlian yang ada dalam suatu komunitas, mengorganisasi kelompok dan komunikasi personal.

Total item pernyataan :14

3. Tingkat keterampilan dalam mendidik (educational roles) adalah keterampilan CD worker dalam melakukan proses pembelajaran yang terus menerus dengan meningkatkan kesadaran, memberikan informasi dan memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Total item pertanyaan: 3

4. Tingkat keterampilan representasi (representational roles) adalah keterampilan CD worker dalam berinteraksi dengan pihak luar demi kepentingan masyarakat atau kelompok dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

(29)

13 yang dicapai masyarakat dalam tangga partisipasi Arnstein (1969). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1 Indikator pengukuran tingkat partisipasi Arnstein (1969) melalui tahapan partisipasi Uphoff et al. (1979)

Tahapan Definisi Operasional Pengukuran

Perencanaan Keikutsertaan responden dalam mengikuti kegiatan perencanaan pendirian KUB Rancage antara lain menyampaikan permasalahan yang dihadapinya, ikut mengajak orang untuk bergabung dalam kelompok, mengemukakan pendapat dalam rapat penyusunan struktur, penyusunan jadwal rapat bulanan, dan ikut mengusulkan nama kelompok pada pertama kali.

Non-partisipasi: anggota tidak berpartisipasi

Tokenisme: anggota berpartipasi namun masih ada campur tangan PT ITP Tbk

Citizen power: anggota

berpartipasi penuh tanpa dibatasi oleh PT ITP Tbk

Pelaksanaan Keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanan kegiatan program. Tahapan pelaksanaan diukur melalui pengambilan peranan, sumbangan materi, sumbangan tenaga.

Non-partisipasi: anggota tidak berpartisipasi

Tokenisme: anggota berpartipasi namun masih ada campur tangan PT ITP Tbk

Citizen power: anggota

berpartipasi aktif tanpa dibatasi oleh PT ITP Tbk

Menikmati

Hasil Keikutsertaan masyarakat dalam memanfaatkan dan menikmati hasil dari kegiatan program CSR PT ITP Tbk. Diukur melalui pemanfaatan sarana dan prasaran, hasil, pengalaman baru dalam kegiatan.

Non-partisipasi: anggota tidak berpartisipasi

Tokenisme: anggota berpartipasi namun masih ada campur tangan PT ITP Tbk

Citizen power: anggota

berpartipasi aktif tanpa dibatasi oleh PT ITP Tbk

Evaluasi Keikutsertaan masyarakat dalam memantau setiap kegiatan CSR PT ITP Tbk. Diukur melalui keiukutsertaan dalam penyampaian kendala, kritik, saran, pembuatan laporan tentang kegiatan CSR PT ITP Tbk.

Non-partisipasi: anggota tidak berpartisipasi

Tokenisme: anggota berpartipasi namun masih ada campur tangan PT ITP Tbk

Citizen power: anggota

(30)

14

Tingkat partisipasi tahap menikmati hasil: Total item pertanyaan: 3

6. Kemandirian masyarakat adalah suatun kondisi dimana masyarakat dapat merencanakan, memutuskan dan melaksanakan suatu kegiatan tanpa bantuan dari orang lain. Dalam hal ini kemandirian masyarakat diukur dari kemandirian material, intelektual, dan manajemen.

Kemandirian masyarakat tinggi (31-39) Kemandirian masyarakat rendah (13-21)

7. Kemandirian material adalah tingkat kemampuan masyarakat untuk menyediakan bahan, modal, peralatan yang akan digunakan pada kegiatan serta kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui kegiatan CSR PT ITP Tbk. Jenis data yang akan digunakan adalah data ordinal.

(31)

15 baru diluar kegiatan CSR PT ITP Tbk, berpikir mandiri mengenai kegiatan apa yang akan dilakukan tanpa instruksi dari CD worker. Jenis data yang akan digunakan adalah data ordinal.

Total item pertanyaan: 6 1: tidak pernah 2: jarang

3: kadang-kadang 4: sering

5: selalu

Kemandirian intelektual tinggi (19-30) Kemandirian intelektual rendah (6-18)

9. Kemandirian manajemen adalah tingkat kemampuan masyarakat untuk mengatur dirinya sendiri dan kegiatan kolektif di dalam program CSR PT ITP Tbk. Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. Jenis data yang akan digunakan adalah data ordinal.

Total item pertanyaan: 4 1: tidak pernah 2: jarang

3: kadang-kadang 4: sering

5: selalu

(32)
(33)

17

PENDEKATAN LAPANG

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Pendekatan kuantitatif dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner kepada responden penelitian. Pendekatan kuantitatif ini diharapkan dapat menjawab pernyataan mengenai tingkat peranan CD worker dalam mendampingi program CSR, tingkat partisipasi anggota KUB Rancage, dan tingkat kemandirian anggota KUB Rancage. Data-data kualitatif diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kampung Dukuh Desa Pasir Mukti Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor (Lampiran 1). Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan: (1) PT ITP Tbk adalah perusahaan yang menjalankan usaha di bidang pemanfaatan sumber daya alam sehingga sangat relevan untuk mengkaji pelaksanaan program tanggung jawab sosial, (2) mempertimbangkan adanya CD worker dalam program CSR PT ITP Tbk sebagai topik yang diteliti oleh peneliti, (3) merupakan salah satu desa binaan PT ITP Tbk. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015. Kegiatan dalam penelitian ini meliputi penyusunan proposal skripsi, pengambilan data lapang, pengolahan dan analisis data, penulisan draft skripsi, uji petik, sidang skripsi dan perbaikan laporan skripsi (Lampiran 2).

Teknik Pengambilan Responden dan Informan

(34)

18

Teknik Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dan data sekunder adalah data yang sudah tersedia dikumpulkan oleh pihak lain dan kemudian dihimpun oleh peneliti sebagai data pendukung. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner berupa daftar pernyataan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden (Lampiran 4). Pengumpulan data penelitian ini juga menggunakan pengamatan langsung yang dilakukan oleh peneliti di rumah produksi masing-masing pengrajin. Untuk data sekunder berupa dokumentasi tertulis mengenai kegiatan KUB Rancage, data profil Desa Pasir Mukti, profil perusahaan PT ITP Tbk.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data lapang yang diperoleh melalui wawancara terstruktur (kuesioner) dianalisis secara kuantitatif. Data dimasukkan kedalam microsoft excel 2010 kemudian dilakukan pengkodean data. Setelah pengkodean, selanjutnya data diolah dengan menggunakan software ((Statistical Program for Social Sciences) for Windows versi 22.0 dan Microsoft Exel 2010. Software SPSS selain digunakan untuk menguji hubungan antar variabel juga untuk membuat cross tabulation.

(35)

19

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN, PROGRAM CSR

DAN KUB RANCAGE

Profil Desa Pasir Mukti Letak Geografis Desa Pasir Mukti

Desa Pasir Mukti merupakan salah satu Desa di Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 194 211 Ha yang terdiri dari 6 rukun wilayah/RW dan 26 rukun tetangga/RT. Pasir Mukti memiliki ketinggian 196 m diatas permukaan laut, curah hujan 213 mm/tahun dan termasuk ke dalam topografi dataran tinggi dengan suhu rata-rata 12 derajat celcius. Desa ini merupakan salah satu dari 12 desa binaan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk pabrik Citeureup.

Desa Pasir Mukti memiliki batas-batas wilayah yaitu: Sebelah utara : Desa Gunungsari

Sebelah Selatan : Desa Sukahati Sebelah Timur : Desa Tajur Sebelah Barat : Desa Tarikolot

Desa yang dilalui oleh sabuk conveyor PT ITP Tbk ini, memiliki posisi yang cukup strategis. Jarak kantor desa Pasir Mukti dengan Kantor Kecamatan Citeureup adalah 4 km, akses ke kantor Bupati Kabupaten Bogor sejauh 15 km, sedangkan ke kantor Gubernur Provinsi Jawa Barat sejuah 128 km dan jarak dengan Ibu Kota Negara sejauah 55 km. Masyarakat dapat dengan mudah melakukan mobilisasi karena akses terhadap transportasi umum tersedia berupa angkutan kota.

Wilayah Desa Pasir Mukti seluas 194 211 Ha digunakan sebagai pemukiman/perumahan dan pekarang seluas 109 316 Ha, area sawah seluas 68 811 Ha, area lading/huma seluas 16 010 Ha, untuk jalanan desa seluas 2 km, area pemakaman seluas 6.3 Ha, area perkantoran seluas 0.05 Ha, area lapangan olah raga seluas 1 Ha, area untuk fasilitas pendidikan seluas 0.39 Ha, area tanah dan bangunan pribadatan seluas 0.45 Ha, dan untuk perkebunan swasta 0 Ha. Sebagian lainnya merupakan tanah kas desa seluas 87 355 m2.

Kondisi Demografi

(36)

20

Tabel 2 Jumlah dan persentase penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin di Desa Pasir Mukti 2011-2013

Kelompok Umur Jumlah

Sumber: Data Profil Desa Pasir Mukti Tahun 2013

Tabel 2 menunjukkan jumlah penduduk Desa Pasir Mukti pada tahun 2011-2013 yang paling besar terdapat pada kelompok umur 5-9 tahun hal ini berarti mayoritas penduduk Desa Pasir Mukti adalah anak-anak. Pada kelompok umur 60 tahun ke atas, jumlah penduduk diketahui 0, hal ini membuktikan bahwa struktur penduduk Desa Pasir Mukti tergolong piramida tipe 1 yang memiliki sisi lebar pada bagian bawah. Penduduk Desa Pasir Mukti tergolong memiliki tingkat kelahiran yang cukup tinggi karena pada kelompok umur 0-4 tahun terjadi pembengkakan.

Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk menurut mata pencaharian penduduk Desa Pasir Mukti tahun 2013

Mata Pencaharian Jumlah Persentase

Pertanian 153 5.44

Perdagangan 485 17.25

Pegawai Negeri 34 1.20

(37)

21 Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Pasir Mukti memiliki keberagaman dalam pola nafkah. Desa Pasir Mukti memiliki letak yang sangat strategis bagi pengembangan industri/pabrik sehingga memberikan peluang bagi masyarakat untuk membuka usaha perdagangan. Skala industri/pabrik yang cukup besar dengan kapasitas pekerja yang cukup banyak pula mendorong masyarakat untuk membuka warung baik warung makan, toko, dll guna memenuhi kehidupan pekerja pendatang. Masyarakat yang bekerja pada sektor perdagangan sebanyak 17.25 persen. Industrialisasi yang terjadi di Desa Pasir Mukti selain membawa manfaat bagi sektor perdagangan juga memberikan manfaat bagi profesi tukang ojek. Masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek sebanyak 26.15 persen yang merupakan profesi mayoritas di kalangan masyarakat Desa Pasir Mukti. Desa Pasir Mukti merupakan desa bagi lahirnya para pengrajin kaleng, bahkan ada salah satu kampung yang mendapatkan sebutan sebagai kampung kaleng yaitu Kampung Dukuh. Hal ini ditunjukkan dengan 7.58 persen penduduknya bermata pencaharian sebagai pengrajin. Mata pecaharian penduduk tidak hanya berkutat pada dua sektor tersebut, namun juga banyak sektor usaha lainnya. Sektor usaha lainnya antara lain pertanian, pegawai negeri, ABRI, pensiunan, pegawai swasta, pengrajin, tukang bangunan, penjahit, tukang las, bengkel, dan sopir angkot. Tabel 4 Jumlah dan persentase penduduk menurut tingkat pendidikan Desa Pasir

Mukti tahun 2013

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

Tamat SD 2 482 46.86

Tamat SLTP 1 731 32.68

Tamat SLTA 976 18.42

Akademi/Perguruan 97 1.83 PerguruanTinggi/Sarjana 10 0.21

Total 5 296 100.00

Sumber: Data Profil Desa Pasir Mukti Tahun 2013

Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Pasir Mukti tergolong memiliki tingkat pendidikan yang rendah yakni sejumlah 46.86 persen penduduknya tamat SD. Menurut hasil wawancara dengan responden yaitu pengrajin kaleng di Kampung Dukuh, sebanyak 0.61 persen menyatakan pendidikan terakhirnya sekolah dasar.

Program CSR PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Sejarah Program CSR Unit Citeureup

Pada tahun 1974-1990 PT IPB Tbk belum memiliki program pembinaan lingkungan, program yang dijalankan berupa bantuan donasi/charity tidak ada pelatihan dan pembinaan yang dilaksanakan oleh HR-GAD pada awal berdirinya ITP pada tahun 1974. Bentuk bantuan tersebut berupa bantuan pada saat perayaan 17 Agustus 2014. Kemudian dibentuklah Bilik (Bina Lingkungan) pada tahun 1990 di bawah Sub Security Departement baru dilakukan pembinaan. Tugas dari Bilik adalah membina masyarakat bersama dengan keamanan hal inilah yang mendorong digabungnya Bilik kedalam Security Department agar lingkungan sekitar perusahan menjadi aman.

(38)

22

sinilah muncul program pengembangan masyarakat. Kemudian pada tahun 2006-2008 CDO bahkan menjadi sub departemen terpisah dari SSCD. Terakhir, departemen yang mengurusi tanggung jawab sosial ini berubah menjadi departemen CSR pada tahun 2009. Akhirnya pada tahun 2009 menjadi CSR Department pertanggung jawaban langsung ke Direksi dari sinilah mulai ada program community development (CD) dan sustainable development program (SDP).

Hal yang mendasari kegiatan CSR PT ITP Tbk adalah filosofi dari CSR itu sendiri. Filosofi CSR sebagai sebuah perusahaan yang berorientasi lingkungan, PT ITP Tbk mempunyai tanggung jawab moral dan sosial sesuai kemampuan perusahaan dalam mendukung kualitas kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat merasakan manfaatnya dari kehadiran perusahaan di lingkungan.

Misi dari CSR PT ITP Tbk adalah menjalankan seluruh kegiatan usaha dengan tetap memperhatikan kesejahteraan komunitas dan dengan menerapkan konsep ramah lingkungan dengan tetap memperhatikan pengembangan perusahaan yang berkelanjutan. sedangkan visi CSR adalah menjalin hubungan saling mendukung antara perusahaan dan masyarakat khususnya masyarakat dimana unit operasioanl perusahaan berdiri melalui keterlibatan yang intens dalam peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat, secara khusus masyarakat lokal dapat menjadi masyarakat yang mandiri sehingga dapat tercipta hubungan yang harmonis.

PT ITP Tbk unit Citeureup memiliki 12 desa binaan sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan. Kedua belas desa binaan PT Indocement Tunggal Prakarsa tersebut antara lain:

1. Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup 2. Desa Puspanegara, Kecamatan Citeureup 3. Desa Pasirmukti, Kecamatan Citeureup 4. Desa Tajur, Kecamatan Citeureup 5. Desa Lulut, Kecamatan Citeureup 6. Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal 7. Desa Bantarjati, Kecamatan Klapanunggal 8. Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungputri 9. Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup 10. Desa Leuwikaret, Kecamatan Citeureup 11. Desa Gunungputri, Kecamatan Gunungputri 12. Desa Citeureup,Kecamatan Citeureup

Program Corporate Social Reponsibility PT Indocement Tunggal Prakarsa Unit Citeureup

(39)

23 1. Pilar Pendidikan

Pilar ini merupakan program untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia di desa-desa binaan sekitar wilayah operasi perusahaan. Jenis program pendidikan yang dijalanankan yaitu bantuan pembangunan sekolah (PAUD, SD, SMP dan SMA), program anak asuh dan beasiswa, bantuan sarana pendidikan, pendidikan ketrampilan praktis untuk usaha kecil melalui Sekolah Magang PT ITP Tbk (SMI), perpustakaan mandiri dan fasilitasi serta perlengkapan lainnya beruapa buku-buku, bangku dan meja. Selain yang telah disebutkan di atas, terdapat juga porgram pendidikan operator truk dan alat berat sebagai salah satu wujud kepedulian perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia desa binaan. Program ini bersifat on the job training. Pelaksanaan program dilakukan di Pabrik Citeureup. Selama tahun 2011 sudah tercatat 49 lulusan.

2. Pilar kesehatan

Pilar ini merupakan program untuk menyediakan fasilitas untuk meningkatkan kesehatan masyarakat desa setempat, dan secara umum juga merupakan partisipasi PT ITP Tbk dalam program pemerintah. Jenis program kesehatan yang dijalankan yaitu puskesmas keliling dan penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan (PMT), operasi katarak, khitanan massal, pembangunan sarana air bersih (SAB), sarana MCK, dan kampanye berupa seminar HIV/AIDS dan narkoba.

3. Piliar ekonomi

Pilar ini merupakan program untuk membangun usaha kecil dan menengah yang disesuaikan dengan potensi masyarakat di dua belas desa binaan. Jenis program ekonomi yang dijalankan yaitu program pemberian modal kerja bergulir, pemberdayaan tenaga kerja/kontraktor lokal, pemberdayaan UMKM desa binaan melalui program local purchase, dan PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan) kerjasama dengan Bank Mandiri. Program pengembangan UMKM (PKBL) membantu UMKM desa binaan untuk semakin maju dengan bantuan kredit mikro dimana perusahaan memfasilitasinya dengan perbankan nasional.

4. Pilar sosial, budaya, dan agama (Sosbudagar)

(40)

24

5. Pilar Keamanan

Pilar ini merupakan program yang dijalankan untuk membina hubungan baik antar perusahan dan aparat keamanan desa binaan sehingga tercipta keamanan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan. Jenis program keamanan yang dijalankan yaitu program pembinaan SDM keamanan lingkungan, program pembangunan pos keamanan lingkungan, dan program bantuan seragam dan kelengkapan SDM keamanan lingkungan.

Program Sustainable Development Program merupakan program yang dijalankan oleh CSR Department yang khusus menganangi proyek-proyek yang berkelanjutan. Berikut ini merupakan deskripsi dari masing-masing program SDP: Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) didirikan di Citeureup, Cirebon dan Tarjun dengan tujuan untuk mengembangkan masyarakat sehingga masyarakat menjadi berdaya dalam bidang pertanian, perikanan dan peternakan. Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat yang selanjutnya disebut P3M dibangun di atas lahan pasca tambang dan lahan lainnya yang berada di area perusahaan. P3M dijalankan perusahaan dengan bekerja sama dengan instansi pendidikan dan dinas pemerintahan terkait.

Program P3M yang berada di unit Citeureup antara lain perikanan darat (lele, nila, dan lain-lain), budidaya ikan hias, pertanian, peternakan, pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas. P3M juga memiliki fasilitas yang cukup lengkap yaitu demplot pertanian dan perikanan, greenhouse, gudang dan peralatan, biogas dan sarana pelatihan.

Program pemanfaatan kotoran sapi menjadi energi biogas memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari karena melonjaknya harga minyak tanah. Jumlah instalasi biogas di lokasi Citeureup adalah sebanyak 17 unit. Dari pengembangan program biogas dapat menciptakan linkages biogas dengan usaha UKM dan memasok penerangan di wilayah P3M.

Program Flora Energy Crops merupakan program yang dilakukan di lahan marginal bekas tambang yang sudah tidak dapat digunakan kembali. Fungsi dari tanaman tersebut antara lain sebagai peningkat kualitas tanah, peningkat area resapan air, energy crops (alternatif fuels), buffer zone (zona penyeimbang), serta mendukung bio-diversity. Di P3M Citeureup dari luasnya lahan ditanami tanaman jarak pagar sebanyak 72.45 Ha, Nyamplung (0.25 Ha), Trembesi (1 Ha), Kemiri Sunan (0.2 Ha), Besi Pantai (0.5 Ha), Jati (3 Ha), King Grass (1.5 Ha). Menurut Penuturan dari petugas pemiliharan P3M ketika awal menanam tanaman di lahan bekas tambang bukan menggali tanah namun memahat batu karena lahan untuk menanam masih berupa batuan kapur. Tanaman tersebut dapat tumbuh karena di atas batuan kapur tersebut ditutup dengan top soil dengan ketebalan kurang lebih satu jengkal jari.

(41)

25 berkapasitas olahan adalah sebanyak 10 ton/hari. Pengembangan produk UPK kedepannya adalah implementasi sampah plastik menjadi BBM.

Program bengkel terpadu adalah program pelatihan yang bersifat on the job training bagi masyarakat untuk menciptakan tenaga handal dalam bidang perbengkelan sehingga dapat diserap oleh usaha bengkel yang ada atau mendirikan usaha perbengkelan sendiri.

Program rumah seni dan budaya (RSB) merupakan komitmen dari PT ITP Tbk untuk ikut melestarikan budaya setempat. Seiring dengan arus globalisasi yang semakin deras, maka perlu adanya pelestarian budaya tradisional Indonesia menjadi sangat penting. Dengan adanya Rumah Seni Budaya (RSB) ini, masyarakat sangat terdukung untuk melestarikan budaya tradisional setempat dan melakukan berbagai aktivitas sosial lainnya. Beberapa program yang ada di rumah seni dan budaya antara lain program budaya lokal, buaday pop, drama, dan dangdut, senam kesehatan, minat baca masyarakat, partisipasi HUT ITP dan program-program lainnya.

Profil Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rancage Sejarah KUB Rancage

Kelompok usaha bersama (KUB) Rancage merupakan salah satu program binaan dari CSR PT ITP Tbk Unit Citeureup program ekonomi pembinaan UMKM. Pada saat awal pembentukan KUB Rancage belum masuk pendampingan dari PT ITP Tbk. Pada waktu itu PT ITP Tbk berfokus pada pendampingan UMKM Sarah Mandiri di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti. UMKM Sarah Mandiri merupakan salah satu usaha kerajinan kaleng di Desa Pasir Mukti. Pendampingan yang dilakukan oleh PT ITP Tbk telah memunculkan kesadaran kritis dari Pak Dedi Ahmadi (Pemilik UMKM Sarah Mandiri) untuk mengajak pengrajin yang lainnya sukses bersama dengan membentuk suatu forum pengrajin. Forum pengrajin ini bermula dari perkumpulan beberapa orang pengrajin untuk menyelesaikan permasalahan terkait pengrajin.

Desa Pasir Mukti yang terkenal dengan julukan Kampung Kaleng karena warganya merupakan pengrajin produk bernilai tinggi dari bahan plat besi dan kaleng dengan alat yang sederhana secara turun temurun. Di kampung kaleng ini terdapat 135 pengrajin yang memproduksi perabotan rumah tangga. Setiap pengrajin rata-rata memiliki empat anak buah dengan produktivitas 30 buah/bulannya untuk open gas. Harga jual satu juta/produk sehingga omset perbulan sekitar 30 juta/pengrajin. Omset yang cukup besar ini, memicu adanya persaingan yang tidak sehat diantara pengrajin.

Melihat kondisi yang tidak nyaman tersebut, Pak Dedi dan teman-temannya merasa prihatin karena yang mendapatkan untung banyak adalah para pengepul/penjual di luar sana. Berbekal keprihatinan tersebut Pak Dedi dan rekannya mencari solusi dengan cara membentuk Kelompok Usaha Bersama yang bertujuan mempersatukan para pengrajin dan memperkuat harga pasar khususnya kerajinan kaleng ini. Merekapun secara door to door mulai meyakinkan dan memberikan pemahaman kepada pengrajin ketika berkelompok maka pengrajin semakin kuat menghadapi derasnya harga di pasaran.

(42)

26

diambil dari bahasa Sunda yang artinya mengajak bersama-sama kepada semua orang untuk berusaha atau bekerja lebih maju/gesit. Mereka memiliki keyakinan ketika berkelompok maka akan diberi kemudahan dalam mengakses bantuan dan pembinaan dari Diskoperindag dibandingkan dengan usaha individu. Dari situlah mereka termotivasi untuk bekerja lebih baik dan buah dari hasil kerjanya adalah baik pihak swasta maupun dinas mulai memberikan perhatian pada Rancage ini. Baru enam bulan terbentuk sudah mulai terlihat hasil yang positif antara lain KUB “Rancage” ini mendapatkan bantuan tiga unit alat kerja modern dari Kementerian Perindustrian melalui Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor, pelatihan dan pameran untuk memperkenalkan produk kampung kaleng ke luar melalui pameran UMKM yang digelar pihak swasta maupun pemerintah. Sampai saat ini terdapat 30 pengrajin yang bergabung dan mulai merasakan hasilnya.

Saat ini pengrajin yang tergabung dalam KUB Rancage, tidak hanya memproduksi alat perabot rumah tangga tapi sudah bisa memproduksi peralatan pabirik yaitu Trailing Antrian di Pabrik dan cerobong asap/ducting. Produk yang dihasilkan antara lain toples stainless, lampu taman, dandang, tong sampah, “oven gas”, bakaran sate, cetakan kue/loyang, kaleng krupuk mini, “oven kompor”, cetakan kue porsil, ducting, asesoris mobil, grill difuser, kaleng krupuk, tungku kompor, hexsospen dan tong air. Rancage memberikan pelatihan kepada anak-anak dan remaja yang ada di kampung mereka dengan tujuan anak-anak-anak-anak muda dapat meneruskan usaha yang mereka rintis. KUB Rancage ini berhasil membuktikan suatu persatuan kelompok usaha dapat memudahkan dan mengembangkan usaha serta mampu mendongkrak perekonomi para pengrajin.

Pak Dedi sebagai pemilik UMKM Sarah Mandiri dan juga pelopor terbentuknya KUB Rancage maka ditunjuklah beliau menjadi ketua KUB Rancage. Pak Dedi yang sebelumnya telah memiliki kerjasama dengan PT ITP Tbk melalui UMKM Sarah Mandiri, beliau mencoba untuk membuka jaringan antara KUB Rancage dengan PT ITP Tbk. Diperlukan usaha yang cukup keras bagi beliau untuk memperkenalkan KUB Rancage kepada Divisi CSR PT ITP. Pada dasarnya, CSR PT ITP Tbk belum bersedia untuk melakukan pendampingan terhadap Rancage karena belum ada bukti nyata dari keberhasilannya. Berkat kerja keras dari pendiri KUB Rancage yaitu Pak Dedi beserta rekan-rekannya, pada bulan Agustus 2014 kampung kaleng ini diresmikan sebagai “Pusat Kerajinan Kaleng” oleh Direktur SDM PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Agenda selanjutnya dari kelompok ini adalah membentuk koperasi agar mempunyai legalitas dan badan hukum yang jelas serta konsep kampung kaleng menjadi pusat wisata kerajinan kaleng, sehingga produknya lebih dikenal ke luar daerah bahkan sampai mancanegara.

(43)
(44)
(45)

29

TINGKAT PERANAN CD

WORKER

, PARTISIPASI DAN

KEMANDIRIAN ANGGOTA KUB RANCAGE

Peranan CD Worker dalam Pendampingan KUB Rancage

CD worker atau pendamping adalah seseorang yang berasal dari perusahaan yang bertanggung jawab dalam mendampingi program yang dijalankan oleh Departemen CSR PT ITP Tbk. Menurut Susanto (2010) pendamping pengembangan masyarakat (CD worker) orang yang terkategorikan sebagai pengantar perubahan (agent of change), baik yang berada di dalam sistem sosial masyarakat (insider change agents) maupun yang beada di luar sistem sosial masyarakat bersangkutan (outsider change agents). Pendamping pengembangan masyarakat digolongkan menjadi penyuluh di berbagai instansi pemerintah, swasta (CSR) dan mereka yang sedang dalam proses belajar formal di berbagai institusi pendidikan. Pendampingan adalah interaksi intensif antara pendamping dengan kelompok masyarakat sehingga terjadi proses perubahan kreatif yang diprakarsai oleh para anggota kelompok untuk tujuan peningkatan kualitas hidup dan kemandirian kelompok dampingan.

PT ITP Tbk juga terlibat dalam mendampingi masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian kelompok melalui program CSR. Salah satu program CSR yang dijalankan adalah program pilar ekonomi dalam mendampingi UMKM di masing-masing desa binaannya. Kelompok usaha bersama Rancage (KUB Rancage) merupakan salah satu program lima pilar dalam bidang ekonomi yang berada di Kampung Dukuh Desa Pasir Mukti. KUB Rancage mendapatkan pendampingan dari CD worker baik itu dari koordinator desa maupun penanggung jawab dari program tersebut.

Tabel 5 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat peranan CD worker dalam mendampingi anggota KUB Rancage Desa Pasir Mukti tahun 2014

Tingkat Peranan Pendamping Jumlah Persentase

Tinggi 18 85.7

Rendah 3 14.3

Jumlah 21 100.0

Tabel 5 menunjukkan bahwa peranan CD worker dalam mendampingi anggota KUB Rancage tergolong tinggi hal ini terlihat dari komitmen CD worker yang tinggi dalam mendampingi anggota. Berikut merupakan penuturan dari salah satu responden:

Pak Yadi, Pak Bangbang pasti menyempatkan hadir jika ada rapat bulanan rutin. Orang kadang sehari-hari juga kalo dateng, ya berkunjung juga ke pengrajin ya walaupun cuma sebentar nanya-nanya perkembangan atau sekedar ngopi bareng. Orangnya baik teh” (AWN, 44 Tahun).

Peranan CD Worker dalam Memfasilitasi (Facilitative Roles)

Gambar

Gambar 1 Kerangka pemikiran
Tabel 1  Indikator pengukuran tingkat partisipasi Arnstein (1969) melalui tahapan partisipasi Uphoff et al
Tabel 3  Jumlah dan persentase penduduk menurut mata pencaharian penduduk
Tabel 9 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat partisipasi dalam
+6

Referensi

Dokumen terkait

Berikut hasil tabulasi silang antara kekuatan modal sosial masyarakat Desa Bantarkaret dengan tingkat efektivitas Program Kemitraan ANTAM dapat dilihat pada Tabel 43.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 70.6% variabel Corporate Socia l Responsibility (CSR) dengan indikaor partisipasi publik, bantuan modal UKM, bantuan

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Efektivitas Komunikasi Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Melalui Bina Lingkungan Komunikasi terhadap Tokoh Masyarakat

Hijau Untuk usaha dan/atau kegiatan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance) melalui pelaksanaan sistem

Hasil uji hipotesis menunjukkan t hitung > t tabel (10,087 > 1,661), maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya bahwa program Jamsostek mempunyai hubungan nyata dan

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam implementasi CSR sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dan bertujuan khusus untuk mengetahui gambaran umum PT Indocement

Dari kutipan – kutipan wawancara kepada pihak – pihak yang terkait dalam kegiatan monitoring tersebut dapat ditarik benang merah permasalahan yang terjadi pada tahap

Dalam Laporan Tahunan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2007, disebutkan bahwa PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memberikan pemahaman yang lebih besar terhadap konsep