HUBUNGAN MODAL SOSIAL, EFEKTIVITAS PROGRAM KEMITRAAN, DAN TARAF HIDUP
Total 10 22.2 18 40.0 17 37.8 45 100 Tabel 43 memperlihatkan hubungan antara kekuatan modal sosial
masyarakat Desa Bantarkaret dengan tingkat efektivitas Program Kemitraan. Berdasarkan data pada kolom tingkat efektivitas tinggi berjumlah 17 orang. Pada kolom tingkat efektivitas tinggi menunjukkan meningkatnya persentase kekuatan modal sosial. Persentase meningkat sebanyak 0.0%, 42.1% dan 52.9%. Hal ini
menunjukkan semakin kuat modal sosial masyarakat Desa Bantarkaret maka semakin tinggi tingkat efektivitas Program Kemitraan.
Terdapat hubungan diantara kedua variabel ini juga didukung oleh uji korelasi rank spearman. Hasil uji korelasi rank spearman dengan SPSS v.20.0 didapatkan hubungan positif yang kuat diantara variabel kekuatan modal sosial dengan tingkat efektivitas Program Kemitraan (lihat Lampiran 4). Berdasarkan hasil wawancara RDN dan istri banyak memiliki jaringan pengusaha karena mereka dulu sering diminta membantu berjualan sehingga berjalannya usaha mereka juga tidak lepas dari peran dan masukan dari teman-teman pengusahanya. RDN juga menjadikan pelatihan sebagai ajang memperluas jaringan sehingga dapat saling bertukar pikiran bersama dengan pengusaha lainnya. RDN yang aktif dalam kelompok masyarakat juga memberikan dampak terhadap lingkungannya. Berikut penyataan tambahan RDN:
“Karena saya termasuk kelompok masyarakat mungkin, jadi kalau usaha lancar ya peduli sama lingkungan sih udah pasti kaya kemarin bikin peralon di depan tuh” RDN, 38 tahun
Pengalaman RDN menunjukkan modal sosial yang dimiliki berhubungan nyata dengan efektivitas Program Kemitraan.
Hubungan Efektivitas Program Kemitraan dengan Taraf Hidup Masyarakat Bantarkaret
Berdasarkan konsep CSR yang dikemukakan oleh Anatan (2008), maka tujuan CSR sendiri merupakan suatu perkembangan dari tiga konsep yaitu social sustainability, economic sustainability dan environmental sustainability dalam melaksanakan tanggung jawab sosial. Pada penelitian ini, ANTAM harus memberikan suatu kontribusi positif bagi masyarakat melalui program CSR-nya. Tingkat efektivitas Program Kemitraan menunjukkan seberapa besar keberhasilan ANTAM dalam melakukan pencapaian target-target pada program. Sedangkan tingkat taraf hidup merupakan salah satu tolak ukur kesejahteraan warga Desa Bantarkaret. Keberhasilan program berdasarkan konsep CSR yang telah dijabarkan dapat berhubungan dengan tingkat taraf hidup masyarakat. Berikut hasil tabulasi silang antara tingkat efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup masyarakat Desa Bantarkaret dapat dilihat pada Tabel 44.
Tabel 44 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan tingkat efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup
No
Tingkat Efektivitas
Program
Taraf Hidup Total
Rendah Sedang Tinggi
∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1. Rendah 4 40.0 6 60.0 0 0.0 10 100
2. Sedang 0 0.0 17 94.4 1 5.6 18 100
3. Tinggi 1 5.9 7 41.2 9 52.9 17 100
Pada Tabel 44 menunjukkan hubungan antara tingkat efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup masyarakat. Berdasarkan data pada kolom taraf hidup tinggi berjumlah 10 orang. Pada kolom taraf hidup tinggi terdapat persentase yang meningkatnya tingkat efektivitas Program Kemitraan. Persentase meningkat sebesar 0.0%, 5.6% dan 52.9%. Hal ini memperlihatkan jelas terdapat hubungan positif yaitu semakin tinggi efektivitas Program Kemitraan maka semakin tinggi taraf hidup masyarakat.
Terdapat hubungan diantara kedua variabel ini juga didukung oleh uji korelasi rank spearman. Hasil uji korelasi rank spearman dengan SPSS v.20.0 didapatkan hubungan positif yang kuat diantara tingkat efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup masyarakat (Lampiran 4). Berdasarkan hasil wawancara mendalam RDN yang memiliki efektivitas program cukup tinggi dengan niat dan kegigihan, RDN dapat mengembangkan usahanya dari mulai 2010 berjualan buah-buahan kemudian merambah berjualan ayam potong. Usaha RDN juga memberikan peningkatan taraf hidup karena dapat memperluas cabang usahanya. Pada kasus yang berbeda yaitu MRY yang memiliki efektivitas cenderung rendah dan taraf hidupnya pun tergolong cukup rendah karena hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, MRY tidak dapat menyekolah kedua anaknya ke jenjang SMA. Menurut MRY hasil berjualan kelilingnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu dapat disimpulkan efektivitas program berhubungan nyata dengan taraf hidup masyarakat.
Hubungan Modal Sosial dengan Taraf Hidup Masyarakat Desa Bantarkaret Menurut Daryanto (2004), modal sosial adalah salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Modal sosial dan taraf hidup masyarakat di Desa Bantarkaret masing-masing telah dibahas pada bagian sebelumnya. Pembahasan ini mengenai hubungan antara modal sosial dengan taraf hidup masyarakat di Desa Bantarkaret. Berikut Tabel 45 merupakan hasil tabulasi silang antara modal sosial dengan taraf hidup masyarakat Desa Bantarkaret.
Tabel 45 Jumlah dan persentase masyarakat berdasarkan kekuatan modal sosial dengan taraf hidup
No
Kekuatan Modal Sosial
Taraf Hidup Total
Rendah Sedang Tinggi
∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1. Lemah 2 22.2 7 77.8 0 0.0 9 100
2. Sedang 3 15.8 10 52.6 6 31.6 19 100
3. Kuat 0 0.0 13 76.5 4 23.5 17 100
Total 5 11.1 30 66.7 10 22.2 45 100
Pada Tabel 45 menunjukkan hubungan antara kekuatan modal sosial dengan taraf hidup masyarakat. Berdasarkan data pada kolom taraf hidup tinggi berjumlah 10 orang dan persentase taraf hidup tinggi tidak menunjukkan semakin
kuat modal sosial semakin besar persentase kekuatan modal sosial. Terdapat persentase 0.0%, 31.6% dan 23,5% pada kolom taraf hidup tinggi.
Berdasarkan hasil uji korelasi rank spearman dengan SPSS v.20.0 didapatkan hubungan positif yang cukup kuat diantara modal sosial dengan taraf hidup masyarakat (Lampiran 4). Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan modal sosial dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat namun, tidak cukup kuat hubungannya. Berdasarkan hasil obeservasi, beberapa responden yang memiliki modal sosial kuat belum tentu tinggi pula taraf. Pada kasus UJG unsur modal sosial yang dimiliki lemah dalam hubungan sosial karena mereka tinggal di kampung pinggir jalan. Mayoritas masyarakat disekitar tempat tinggalnya sudah tidak lagi mementingkan gotong-royong dan kebersamaan. Pada UJG modal sosial yang lemah tidak behubungan dengan taraf hidupnya. Berbeda dengan kasus RDN dan istri yang banyak memiliki jaringan pengusaha karena mereka dulunya sering diminta membantu berjualan sehingga berjalannya usaha mereka juga tidak lepas dari peran dan masukan dari teman-teman pengusahanya. Hal ini menyebabkan taraf hidup RDN meningkat. Berikut pernyataan RDN:
“Kemajuan usaha kita juga karena dibantu masukan dari temen-temen seprofesi Bapak” RDN, 38 tahun
Ikhtisar
Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel modal sosial, efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup masyarakat. Adanya hubungan tersebut di uji korelasi rank spearman melalui SPSS v 20.0 dan pengolahan data dengan menggunakan tabulasi silang. Berdasarkan tabulasi silang menunjukkan hubungan antara modal sosial kuat dengan semakin tinggi efektivitas Program Kemitraan. Hal ini dikuatkan dengan uji korelasi rank spearman yang menunjukkan hubungan positif yang kuat. Hal ini dibuktikan oleh RDN yang memiliki modal sosial tinggi yaitu dengan banyak memperluas jaringan pengusaha sehingga dapat saling bertukar pikiran agar usahanya tetap berkelanjutan.
Selanjutnya terdapat hubungan antara efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup masyarakat. Dibuktikan dengan tabulasi silang, semakin tinggi efektivitas program maka semakin tinggi taraf hidupnya. Dikuatkan dengan uji korelasi rank spearman yang menunjukkan hubungan positif yang kuat. Selain itu hasil wawancara menunujukkan hubungan nyata seperti MRY yang memiliki efektivitas program yang cenderung rendah dan taraf hidupnya pun cukup rendah karena hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Selain itu terdapat hubungan antara modal sosial dengan taraf hidup masyarakat dibuktikan oleh hasil uju korelasi rank spearman yang menunjukkan hubungan positif yang cukup kuat. Pada hasil tabulasi silang tidak menunjukkan semakin kuat modal sosial maka semakin tingginya taraf hidup masyarakat. Berdasarkan observasi, beberapa responden yang memiliki modal sosial tinggi belum tentu tinggi pula taraf hidupnya. Berbeda dengan kasus RDN bahwa modal sosial yang cukup kuat dapat meningkatkan taraf hidupnya.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil deskripsi mengenai kekuatan modal sosial, tingkat efektivitas Program Kemitraan, dan taraf hidup masyarakat. Modal sosial dapat meningkatkan efektivitas Program Kemitraan CSR ANTAM Pongkor. Terdapat hubungan positif kuat antara modal sosial dengan efektivitas Program Kemitraan. Selain itu juga terdapat hubungan positif kuat antara efektivitas Program Kemitraan dengan taraf hidup. Kemudian pada modal sosial dengan taraf hidup masyarakat Desa Bantarkaret terdapat hubungan cukup kuat. Komponen modal sosial seperti jaringan, kepercayaan dan hubungan sosial dapat mendorong efektivitas program sehingga memudahkan terjadinya peningkatan taraf hidup masyarakat. Selanjutnya dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1. Modal sosial masyarakat Desa Bantarkaret dilihat dari terpeliharanya kepercayaan antar masyarakat dengan aparatur desa yang cenderung kuat, hubungan sosial masyarakat yang cenderung lemah dan jaringan yang terbentuk dalam masyarakat yang juga cenderung kuat sehingga masyarakat tergolong mudah dalam mendapatkan pekerjaan formal, pendidikan maupun fasilitas kesehatan. Secara keseluruhan warga Desa Bantarkaret memiliki kekuatan modal sosial cenderung kuat. Namun hubungan masyarakat dengan ANTAM yang lemah disebabkan menurunnya kondisi keuangan ANTAM dinilai tidak ada keterbukaan kepada apatur desa maupun masyarakat mengenai alokasi dana CSR. Hal tersebut kemungkinan besar berdampak pada renggangnya hubungan yang terjadi antara ANTAM dengan warga Desa Bantarkaret 2. Unsur modal sosial mampu meningkatkan efektivitas Program Kemitraan yang diukur
melalui tingkat manfaat, kesesuaian, dampak, keberlanjutan, pemberdayaan, serta partisipasi. Tingkat efektivitas Program Kemitraan di Desa Bantarkaret cenderung tinggi.
3. Selanjutnya, peningkatan efektivitas program dapat mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat. Pengukuran taraf hidup dikategorikan berdasarkan lama masyarakat bermitra dengan ANTAM menunjukkan bahwa semakin lama masyarakat bermitra dengan ANTAM, maka taraf hidup yang dimilikinya pun semakin tinggi. Sedangkan secara umum, taraf hidup masyarakat tergolong sedang. Hal ini disebabkan karena usaha yang banyak digeluti oleh masyarakat adalah warung. Berdasarkan temuan lapang, keuntungan yang diperoleh warung tidak begitu besar. Namun, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai modal sosial, efektivitas Program Kemitaan dengan taraf hidup, terdapat hal yang dapat menjadi masukan atau saran diantaranya sebagai berikut:
1. Akademisi, sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam mengenai modal sosial dengan taraf hidup masyarakat Desa Bantarkaret
2. Masyarakat, sebaiknya masyarakat lebih aktif dalam memberikan kritik dan saran serta mencari informasi mengenai Program Kemitraan.
3. Perusahaan, sebaiknya pihak CSR ANTAM meningkatkan sosialisasi mengenai program. Rincian penggunaan dana CSR ANTAM pun sebaiknya dapat diakses oleh
masyarakat luas sehingga masyarakat mengetahui rincian dana yang telah ANTAM keluarkan untuk desa.
4. Perusahaan, sebaiknya meningkatkan pelatihan secara spesifik mengenai usaha dalam sektor perikanan. Hal tersebut didasarkan atas penemuan-penemuan di lapang bahwa sebagian besar usaha perikanan yang ada di Desa Bantarkaret dapat dikatakan hampir bangkrut. Pelatihan yang diadakan dapat menambah pengetahuan pengusaha perikanan dalam mengembangkan usahanya sekaligus mencegahnya dari kebangkrutan.
5. Perusahaan, sebaiknya meningkatkan modal sosial dan efektivitas Program Kemitraan. Hal ini berdasarkan hasil penelitian, taraf hidup masyarakat berhubungan kuat dengan efektivitas program dan modal sosial juga berhubungan kuat dengan efektivitas program. Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan taraf hidup diperlukan efektivitas Program Kemitraan yang tinggi.
6. Perusahaan, sebaikan ditinjau kembali sasaran dari Program Kemitraan ini. Penting untuk lebih difokuskan kepada masyarakat ekonomi lemah agar manfaatnya bisa lebih besar dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat kecil. Masyarakat ekonomi lemah merupakan masyarakat yang rentan terkena dampak operasi secara langsung. Hal ini perlu dijadikan pertimbangan agar Program Kemitraan ini lebih tepat sasaran.
7. Pemerintah, sebaiknya pemerintah juga turut serta dalam mengawasi jalannya pelaksanaan program CSR secara langsung.