4.1.1 Kota Medan secara Demografis
Gambar 2 Peta Kota Medan
Sumber : https://peta-hd.com/peta-kota-medan/
Diakses pada 4 April 2020
Kota Medan merupakan salah satu dari 17 daerah tingkat II di daerah Sumatera Utara, yang terletak di bagian timur Propinsi Sumatera Utara dan berada di antara 3º 30' 3º 43' LU dan 98º 35'- 98º 44' BT. Permukaan tanahnya cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5-37,5 m diatas permukaan laut. Luas Kota Medan saat ini 265.10 km. Sebelumnya hingga tahun
1972 Medan hanya mempunyai luas sebesar 51.32 km, namun kemudian di edarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1973 yang memperluas wilayah Kota Medan dengan mengintegrasikan sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Kota Medan merupakan pusat pemerintahan tingkat I Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk berdasarkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan pada tahun 2018 sekitar 2.264.145 jiwa. Secara geografis kota Medan berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Percut Sei Tuan dan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
4.1.2 Gambaran Umum Kota Medan
Perkembangan Kota Medan tidak terlepas dari dimensi historis, ekonomi dan karakteristik Kota Medan itu sendiri, yakni sebagai kota yang mengemban fungsi yang luas dan besar (METRO), serta sebagai salah satu dari 3 (tiga) kota metropolitan terbesar di Indonesia. Realitasnya, Kota Medan kini berfungsi:
1. Sebagai pusat pemerintahan daerah, baik pemerintahan Propinsi Sumatera
konsultan negara-negara sahabat, serta wilayah kedudukan berbagai perwakilan perusahaan, bisnis, keuangan di Sumatera Utara.
2. Sebagai pusat pelayanan kebutuhan sosial, ekonomi masyarakat Sumatera Utara seperti: Rumah sakit, Perguruan Tinggi, Stasiun TVRI, RRI, dan lain-lain, termasuk berbagai fasilitas yang dikembangkan swasta, khususnya pusat-pusat perdagangan.
3. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, keuangan, dan jasa secara regional maupun Internasional dan sebagai pintu gerbang regional / Internasional / Kepariwisataan untuk kawasan Indonesia bagian
Penduduk asli Kota Medan ini adalah orang Karo dan Melayu, tetapi saat ini Kota Medan merupakan Kota multi etnis yang menarik. Mayoritas penduduk Kota Medan sekarang adalah suku Jawa dan Batak. Namun di Kota Medan juga terdapat etnis penduduk lain antara lain jika di presentasikan sebagai berikut :
Tabel 4.1.1 Etnis di Kota Medan
Etnis Persentase
Suku Batak 35.39 %
Jawa 33.03 %
Tionghoa 10. 65%
Minangkabau 8.60%
Melayu 6.59%
Aceh 2.79%
Tamil dan lainnya 2.95 %
Total 100 %
Sumber: Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kota Medan di akses pada tanggal 19 juli 2020
Selain keanekaragaman etnis yang ada di Kota Medan. Medan juga memiliki keanekaragaman pemeluk agama masing-masing antara lain sebagai berikut :
Tabel 4.1.2 Agama di Kota Medan
Agama Persentase
Islam 64.53%
Kristen 26.10%
Buddha 8.28%
Hindu 1.04%
Konghucu 0.06%
Jumlah 100 %
Sumber : Wikipedia, daftar Agama di Kota Medan Diakses pada tanggal 9 Agustus 2020
Kota Medan ada banyak bangunan-bangunan tua, di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: gedung balai Kota lama, kantor Pos Medan, menara air (yang merupakan ikon Kota Medan) dan titi gantung sebuah jembatan di atas rel kereta api. Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana Maimun, mesjid Raya Medan dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan). Daerah Kesawan yang menyisakan bangunan-bangunan tua (misalnya bangunan PT. London Sumatra)
dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makanan yang ramai pada malam harinya.
Beberapa Kota di Asia telah mendorong pembentukan Persatuan Kota Kembar, antara Kota Medan dengan: Penang, Malaysia (1984), Ichikawa, Jepang (1989), Kwangju, Korea Selatan (1997), Chengdu, Republik Rakyat Tiongkok dan Milwaukee, Wilconsin, Amerika Serikat (2014)
4.1.3 Metroseksual di Kota Medan
Memasuki pusat-pusat perbelanjaan dapat kita jumpai sejumlah gerai yang menyediakan pakaian khusus pria dalam berbagai model serta produk-produk perawatan tubuh bagi pria (yang umumnya diberi label for men). Produk-produk perawatan dan pelengkap penampilan bagi pria pun kita sudah tidak kalah lengkapnya dengan produk untuk wanita. Ini adalah sebagian dari observasi yang dapat kita saksikan dalam keseharian kita untuk menangkap keberadaan kalangan pria yang sangat memperhatikan penampilannya. Berikut daftar pusat-pusat perbelanjaan atau mall yang ada di Kota Medan.
1. Deli Park Mall Podomoro City, terletak di Medan Barat 2. Center Point Medan, terletak di Medan Timur
3. Sun Plaza, terletak di Medan Polonia
4. Manhattan Times Square, terletak di Medan Sunggal 5. Cambridge Citi Sqquare, terletak di Medan Petisah 6. Ring Road City Walks, terletak di Medan Selayang 7. Medan Focal Point Mall, terletak di Medan Selayang
Pria metroseksual pun dinyatakan telah menunjukkan keberadaannya di Medan. Harian Kompas mengulas mereka dalam tiga artikel terpisah yang berjudul “Spa Pun Mulai Menjamur” (2005), “Fitness, Menangkap Tren Pria Metroseksual” (2007), dan “Pria Metroseksual dari Esensi Ke Eksistensi” (2005).
Kehadiran spa yang menjamur di Medan turut menjaring konsumen pria yang tidak sedikit. Hal yang sama berlaku pada pusat kebugaran tubuh (fitness center) yang dipenuhi oleh anak muda yang ingin memiliki penampilan fisik yang menarik. Kemunculan metroseksual pun tampak dalam media massa, dimana sejak tahun 2003 bermunculan majalah-majalah pria dengan porsi iklan produk perawatan tubuh pria dan berbagai tips memperhatikan penampilan bagi mereka yang cukup dominan. Beberapa dari mereka yang terkenal adalah FHM, Men’s Health, dan Popular (Kartajaya et al., 2004).
Temuan dalam keseharian tersebut menunjukkan bahwa kalangan metroseksual ini telah tampak keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Medan. Akan tetapi, budaya yang dominan di Medan adalah budaya patriarki yang menempatkan nilai-nilai kemaskulinitasan yang melekat pada laki-laki sebagai hal yang lebih superior. Hal ini menekankan adanya ketidaksinambungan antara budaya tersebut dengan fenomena pria metroseksual, dimana kalangan pria tersebut melakukan aktivitas bersolek yang identik dengan wanita. Sehingga para metroseksual juga tidak terlepas dari stereotip masyarakat terhadap dirinya.