KONSEP STEREOTIP KONSTRUKSI PRIA DALAM PANDANGAN PRIA METROSEKSUAL
(
Studi Kasus di Kota Medan)S K R I P S I
DISUSUN OLEH:
RIZAL ARDIAN NIM: 150901071
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
KONSEP STEREOTIP KONSTRUKSI PRIA DALAM PANDANGAN PRIA METROSEKSUAL
(
Studi Kasus di Kota Medan)S K R I P S I
DISUSUN OLEH:
RIZAL ARDIAN NIM: 150901071
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
Konsep Stereotip Konstruksi Pria Dalam Pandangan Pria Metroseksual ABSTRAK
Penulisan skripsi yang berjudul “Konsep Stereotip Konstruksi Pria Dalam Pandangan Pria Metroseksual”, dengan studi kasus di Kota Medan, Sumatra Utara. Berawal dari ketertarikan penulis terhadap konsep maskulinitas serta fenomena pria metroseksual yang ada dan minimnya kajian-kajian sosiologi yang membahas tentang laki-laki. Dalam penelitian ini penulis ingin mengkaji bagaimana pandangan pria metroseksual terhadap maskulinitas dan stereotip nya.
Serta bagaimana pandangan pria metroseksual terhadap stereotip pria feminin yang di labelkan kepada metroseksual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara serta dengan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pria metroseksual yang berjumlah sepuluh orang yang telah sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pandangan Informan pria metroseksual terhadap konsep maskulinitas tradisional yang selama ini dijadikan standarisasi untuk mendefinisikan seseorang sebagai laki-laki yang ideal dan agar sesuai dengan ekspektasi masyarakat, masih sangat bersifat kaku dan masih berpatokan terhadap nilai-nilai kejantanan dan kekuatan dan adanya pandangan tersebut mengisyaratkan bahwa pria metroseksual memiliki pandangan yang lebih cair dalam menjelaskan konsep maskulinitas. Serta juga adanya pandangan yang menjelaskan bahwa laki-laki bebas membentuk maskulinitasnya sendiri. Pada pandangan informan metroseksual, mengenai sifat maskulinitas sebelum era tahun 1980-an. Bahwasanya informan memiliki pandangan yang sebagian tidak menyetujui sebagian sifat-sifat maskulin tersebut. Seperti tidak setuju bahwa laki-laki tidak boleh melakukan hal yang diidentikkan dengan wanita seperti melakukan perawatan, menangis, berani mengambil resiko atau juga sifat agresif. Terdapat juga stereotip yang bernada negatif atau juga stigma negatif antara lain seperti dikatai tidak jantan, tidak macho, takut panas, feminin, mirip perempuan, pretty boy, serta adanya stereotip terhadap disorientasi seksual tertentu. Informan tidak menyetujui adanya stereotip seperti adanya disorientasi, pretty boy yang menurut informan tidak Ada penolakan stereotip yang didasarkan kepada disorientasi seksual tertentu seperti dikatai sebagai homoseksual atau biseksual dan adanya juga penolakan stereotip pretty boy yang memiliki kesan banci, mengisyaratkan bahwa informan dalam penelitian memiliki kekhawatiran atas tuduhan-tuduhan tersebut.
Kata kunci : Maskulinitas, Metroseksual dan Stereotip
The Stereotypical Concept of Male Construction in the View Metrosexual Men
ABSTRACT
Writing a scription titled "The Stereotypical Concept of Male Construction In the View of Metrosexual Men". With case studies in Medan, North Sumatra. It stems from the author's interest in the concept of masculinity as well as the phenomenon of metrosexual men and the lack of sociological studies discussing men. In this study the authors wanted to examine how metrosexual men view masculinity and stereotypes. As well as how metrosexual men view stereotypes of feminine men labeled metrosexual. The method used in this study is a descriptive method with a qualitative approach. Data collection techniques performed by conducting observations, interviews as well as with literature studies. As for the informants in this study are metrosexual men who number ten who have conformed to the criteria that have been determined. The results showed that the views of metrosexual male informants towards the concept of traditional masculinity that has been standardized to define a person as an ideal man and to conform to the expectations of society, are still very rigid and still based on the values of masculinity and strength and the existence of such views suggests that metrosexual men have a more fluid view in explaining the concept of masculinity.
In the view of metrosexual informants, about the nature of masculinity before the 1980s. That informants have a view that some disapprove of some of these masculine traits. Such as disagreeing that men should not do things identified with women such as doing treatment, crying, daring to take risks or also aggressiveness. There are also stereotypes that are negative or negative stigmas such as being said to be unmanly, not macho, afraid of heat, feminine, similar to women, pretty boy, kemayu, as well as stereotypes against certain sexual disorientation. Informants do not approve of stereotypes such as disorientation, pretty boy that according to the informant there is no rejection of stereotypes based on certain sexual disorientation such as being said to be homosexual or bisexual and there is also a rejection of stereotypes of pretty boy who have a sissy impression, hinting that the informant in the study has concerns over the allegations
KATA PENGANTAR
Ucapan rasa syukur saya sampaikan Allah Subhanahu wa ta’ala tuhan yang maha Esa. Atas izin dan rahmat-nya sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul “ Konsep Stereotip Konstruksi Pria Dalam Pandangan Pria Metroseksual ”. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai Sarjana S1 Sosiologi di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan dan nasehat baik moril maupun material dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Harmona Daulay, M.Si selaku ketua jurusan Departemen Sosiologi. Fakultas ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, selaku dosen pembimbing skripsi saya selama kuliah yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran dan masukan kepada penulis, dalam menyusun skripsi ini.
2. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, M.SP selaku dosen penguji, yang telah meluangkan waktu dan banyak memberikan saran dan kritikan kepada penulis, serta telah memberikan ilmu yang bermanfaat.
3. Ibu Dr. Hadriana Marhaeni, M.Si selaku ketua penguji dalam sidang skripsi saya. Serta telah meluangkan waktu dan memberi masukan serta saran untuk kesempurnaan dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh dosen dan staf dan pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara.
5. Saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta Slamat Raharjo dan Zaidar atas kasih sayang dan juga selalu mendoakan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan perkuliahan dan juga menyelesaikan skripsi ini dan juga terima masih kepada kakak dan adik saya, Elvira arda dan trika hartanti yang memotivasi saya dalam menyelesaikan penelitian ini.
6. Terimakasih kepada kesepuluh informan yang bersedia untuk diwawancarai dalam menyelesaikan penelitian ini.
7. Terimakasih juga kepada seluruh sahabat-sahabat baik dan hebat yang sedang berada di Universitas Sumatra Utara, Universitas Negeri Medan, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Universitas Medan Area dll.
8. Terimakasih juga kepada semua teman-teman sosiologi 2015 atas semua kebersamaan dan pengalaman-pengalaman selama perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata kesempurnaan.
Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari para pembaca. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama bagi penulis sendiri.
Medan, 2021 Penulis
Rizal Ardian NIM. 150901071
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah... 7
1.3 Tujuan penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 8
1.4.2 Manfaat Praktis ... 8
1.5 Definisi Konsep ... 9
1.5.1 Stereotip ... 10
1.5.2 Metroseksual ... 10
BAB II ... 12
2.1 Stereotip ... 12
2.2 Maskulinitas... 14
2.2.1 Sifat – Sifat Maskulinitas ... 16
2.3 Metroseksual ... 17
2.4 Penelitian Terdahulu ... 19
3 BAB III... 27
METODE PENELITIAN... 27
3.1 Jenis Penelitian ... 27
3.2 Unit Analisis ... 27
3.3 Lokasi Penelitian ... 28
3.4 Informan ... 28
3.4.1 Informan Kunci ... 29
3.4.2 Informan Tambahan ... 29
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 30
3.5.1 Data Primer ... 30
3.5.2 Data Sekunder ... 33
3.6 Interpretasi Data ... 33
3.7 Keterbatasan Penelitian ... 34
4 BAB IV ... 36
4.1 Profil Kota Medan ... 36
4.1.1 Kota Medan secara Demografis ... 36
4.1.2 Gambaran Umum Kota Medan ... 37
4.1.3 Metroseksual di Kota Medan ... 40
4.2 Profil Informan ... 41
4.2.1 IN, pria metroseksual yang hobi sebagai vloger ... 41
4.2.2 AR, pria metroseksual yang berprofesi sebagai Advokad ... 43
4.2.3 RN, pria metroseksual yang hobby travelling... 46
4.2.4 RP, pria metroseksual yang hobby club malam ... 47
4.2.5 MR, pria metroseksual yang hobby fashion ... 49
4.2.6 RY, pria metroseksual yang suka mengikuti fashion show... 50
4.2.7 IR, pria metroseksual yang hobby traveling ... 52
4.2.8 NT, pria metroseksual yang hobby fotografi ... 53
4.2.9 AL, pria metroseksual yang ahli dalam perawatan ... 54
4.2.10 MP, pria metroseksual yang hobby gym ... 55
4.3 Pandangan Metroseksual Terhadap Konsep Maskulinitas ... 57
4.3.1 Maskulinitas dan Pilihan Identitas Diri ... 62
4.3.2 Representasi atau Bentuk Stereotip Maskulinitas di Etnis, Agama dan Masyarakat ... 67
4.4 Sifat – Sifat Maskulinitas ... 73
4.4.1 No Sissy Stuff ... 76
4.4.2 Be a Big Wheel ... 81
4.4.3 Be a Sturdy Oak ... 84
4.4.4 Give Em Hell ... 88
4.5 Stereotip Pria Metroseksual ... 91
4.5.1 Stereotip Negatif ... 96
4.5.2 Sikap Pria Metroseksual Terhadap Stereotip Feminin ... 99
4.6 Konsep Stereotip konstruksi Pria Dalam pandangan Pria Metroseksual . 105 4.6.1 Pandangan Terhadap Stereotip Pria Metroseksual ... 109
BAB V ... 113
5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 113
5.1 Kesimpulan ... 113
5.2 Saran ... 116
DAFTAR PUSTAKA ... 118
DAFTAR TABEL Tabel 2.4 Penelitian Terdahulu ... 20
Tabel 4.1 Daftar Etnis Penduduk Kota Medan ... 38
Tabel 4.2 Tabel Profil Informan... 56
Tabel 4.4.2 Wawancara Mengenai Maskulinitas ... 60
Tabel 4.4.3 Wawancara Maskulinitas dan Identitas Diri ... 65
Tabel 4.4.5 Wawancara Refresentasi Maskulinitas ... 71
Tabel 4.5.1 Wawancara No Sissy Stup ... 78
Tabel 4.5.2 Wawancara Be a Big Whell ... 83
Tabel 4.5.3 Wawancara Be a Sturdy Oak ... 86
Tabel 4.6 Wawancara Stereotip Metroseksual ... 95 Tabel. 4.6.1 Wawancara Bentuk Stereotip Negatif. ... 97 Tabel. 4.6.2 Wawancara Sikap Pria Metroseksual Terhadap Stereotip. ... 104
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Artikel gaya hidup pria metroseksual... 3 Gambar 2 Peta Kota Medan ... 36
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pria metroseksual menjadi sebuah fenomena yang menunjukkan tentang perubahan pemikiran manusia pada suatu nilai yang sudah lama ada. Seperti yang telah kita ketahui bahwa masyarakat pada umumnya, telah merekonstruksikan pemikiran mereka tentang seorang pria. Namun karena terjadi perubahan pemikiran manusia tentang beberapa hal, maka apa yang telah tertanam di dalam pikiran manusia dapat berubah. Ada beberapa faktor yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku manusia antara lain: kondisi ekonomi, kemajuan teknologi, keadaan geografis, sosial, maupun budaya. Hal inilah kemudian yang mendorong munculnya pemikiran dan pola tingkah laku manusia yang baru seperti pria metroseksual.
Pria metroseksual lebih dari sekedar fakta melainkan juga sebuah fenomena yang kian menggejala di hampir semua Kota besar di Indonesia.
Metroseksual sebuah kata untuk sebagian masyarakat awam dinilai cukup asing, namun sebagian besar pun tidak memahami makna dari metroseksual tersebut.
Metroseksual adalah pria yang memiliki kecenderungan untuk merawat diri serta penampilannya secara telaten bagi sosok pria muda yang memiliki uang untuk di belanjakan dan tinggal di kota metropolis. Fenomena ini disebut juga dengan istilah women-oriented men dan tidak sedikit di antara mereka para metroseksual
Fenomena pria bergaya dan berperilaku seperti wanita telah ada ber abad - abad yang lampau. Raja-raja Mesir dikenal sebagai pesolek. Modernisasi dan globalisasi telah mengkonstruksikan laki-laki yang dahulunya sebagai sosok yang dianggap macho lalu berubah menjadi tren laki-laki dandy yang selalu memperhatikan penampilannya. Hadirnya laki-laki dandy tentu menyebabkan berbagai perdebatan tentang feminization of men. Laki-laki seolah-olah telah menelanjangi diri dengan melepaskan atribut kelelakian. Istilah laki-laki dandy bergeser menjadi pria metroseksual dengan tujuan menghilangkan stigma bahwa laki-laki yang suka merawat tubuh dan selalu memperhatikan penampilan ataupun berdandan adalah gay.
Metroseksual dan “dandy” tidak dapat disamakan karena, “dandy” adalah gaya bangsawan pada abad ke 18. Kaum “dandy” sama juga dalam hal memperhatikan penampilannya yang rapi dan gemar berdandan namun gaya busana pria “dandy” cenderung konservatif dan mengikuti pakem, sementara kaum metroseksual justru dicirikan dengan keberaniannya untuk ber-eksperimen dengan fashion.
Istilah metroseksual pertama kali muncul Pada tahun 1990-an muncul istilah yang disebut dengan metroseksual yang dikemukakan oleh seseorang jurnalis yang menulis sebuah artikel yang berjudul “ Here come the mirror men ’’
pada tanggal 15 November 1994 yang bernama Mark Simpson. Jurnalis tersebut mendefinisikan metroseksual dengan cara yang sederhana yaitu “a dandy ish narcissist in love with not only himself, but his uban lifestyle” atau metroseksual sebagai sosok pria dandy yang mencintai dirinya sendiri dan bersifat gaya hidup
yang urban atau tipikal laki-laki yang tidak hanya mencintai dirinya sendiri melainkan juga mencintai gaya hidup kota besar yang ia jalani. Secara tidak langsung metroseksual tidak canggung menampilkan sisi feminin nya seperti melakukan perawatan diri di salon, mengecat kuku, memakai lip gloss, memiliki waktu dan anggaran khusus untuk melakukan perawatan dirinya tersebut.
Gambar 1 Artikel gaya hidup pria metroseksual Sumber. https://psyline.id/gaya-hidup-pria-metroseksual/
diakses pada tanggal 1 November 2019
Sampai saat ini pria metroseksual memiliki icon yaitu David Backham, David Backham adalah pemain sepak bola asal Inggris yang selalu tampil klimis, wangi bahkan cenderung terlihat cantik meski tak bisa dikatakan kewanitaan.
David Bechkam selalu tampil dengan kuku yang di poles merah jambu, rambutnya selalu ganti model dan warna setiap kali muncul. Bahkan waktu yang di butuhkan Bechkam dalam berdandan setengah jam lebih lama di bandingkan dengan sang istri Victoria Adam, mantan penyanyi Spice Girls. Bechkam tidak pernah ragu memakai baju istrinya atau bahkan memakai sarung hal yang tabu di barat sana. (Kartajaya: suara merdeka online Juli 2004).
Pria sudah melampaui batas-batas gender dengan melakukan suatu ritual dalam hal ini perawatan tubuh, yang selama ini lebih banyak dilakukan oleh
wanita pada umumnya. Pria menurut pandangan umum yang berlaku adalah sosok yang jantan, kekar, untuk menggambarkan dominasi nya akan kekuasaan dan kelebihannya dibandingkan perempuan. Sosok yang semula dipandang kuat untuk melindungi bergeser menjadi lebih sensitif akan penampilannya.
Istilah metroseksual mengalami pergeseran makna dari definisi sebenarnya. Pada awalnya metroseksual tidak hanya sekedar didefinisikan sebagai gaya hidup pria yang urban, cosmopolitan, konsumtif dan narsistik. Metroseksual awalnya didefinisikan sebagai bentuk maskulinitas baru bagi para laki-laki. Jika dulu maskulinitas diidentikkan dengan kegagahan, kegarangan, tubuh yang besar, pekerja keras dan berkepribadian keras, maka metroseksual mendefinisikan maskulinitas sebagai orang yang tidak malu menunjukan sisi feminitasnya.
Artinya tidak hanya diidentikkan dengan kegagahan, kegarangan dan kekerasan.
Maskulinitas baru diartikan sebagai laki-laki antara lainnya yang mampu menunjukan sisi emosional nya secara positif, kasih sayangnya, sensitifitasnya, romantic, empati dan lembut. Pria dengan maskulinitas versi baru ini tidak ragu untuk menemani istrinya berbelanja, mengasuh dan menggendong anaknya, memasak, mengurus rumah, menonton film drama, curhat dan lainnya yang selama ini diidentikkan dengan feminitas perempuan.
Tumbuhnya kecenderungan metroseksual di kehidupan masyarakat di lihat dari wacana budaya populer merupakan suatu cerminan dari perubahan sosial yang diakibatkan oleh globalisasi ekonomi dan informasi yang melenyapkan batas-batas teritorial misalnya negara, bangsa, kesukuan, kepercayaan, politik, dan budaya. Batasan-batasan ini juga berimbas secara signifikan pada pola berfikir
dan stereotip yang dibentuk oleh pola pemikiran modern tentang maskulinitas.
Seperti halnya pria sudah melampaui batas-batas gender dengan melakukan suatu ritual dalam hal ini perawatan tubuh, yang selama ini lebih banyak dilakukan oleh wanita pada umumnya.
Fenomena pria metroseksual kini berada di Kota Medan, hal tersebut ditunjukkan dengan maraknya pria yang berpenampilan rapi dan klimis hasil observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 18 November 2019. Kota Medan adalah kota yang perkembangan infrastruktur yang maju jika dibandingkan dengan kota lainnya terutama di wilayah Sumatra Utara. Sehingga dari gaya hidup serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menimbulkan dampak adanya pria metroseksual.
Fenomena pria metroseksual yang ada di Kota Medan adalah pria metroseksual yang gaya hidupnya adalah gaya berlebihan dalam mengeluarkan uang, kesenangan sebagai tujuan utama dalam hidup, memiliki kebiasaan mengunjungi salon, mengunjungi klinik kecantikan untuk melakukan perawatan wajah, berbelanja baju, gemar melakukan kegiatan jalan-jalan seperti (traveling), dan juga termasuk sering mengunjungi tempat-tempat kebugaran tubuh seperti tempat gym, yang dimana tempat-tempat kebugaran merupakan sebuah sarana yang sangat sering didatangi oleh pria metroseksual, untuk merilekskan atau menjaga tubuhnya agar tetap bugar dan sehat.
Hasil riset dari Tirto.Id, mengenai pria metroseksual di kota-kota besar Indonesia, termasuk Kota Medan bahwasanya 1 dari 4 pria metroseksual merasa lebih menarik menggunakan kemeja berwarna pink dan sebanyak 42% lebih
memilih menyetrika bajunya sendiri, 13% disetrika ibunya, 25% disetrika istrinya dan 20 % menggunakan jasa setrika.
Keberadaan pria metroseksual di Medan menimbulkan kesan tersendiri bagi masyarakat. Berbagai macam kesan didapatkan oleh peneliti. Kesan-kesan tersebut memiliki makna yang bermacam-macam, baik yang memiliki makna negatif maupun positif. Ada yang beranggapan dan menilai bahwa pria metroseksual terkesan seperti gay atau pria yang menyukai sesama jenis karena menurut mereka, pria metroseksual terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi dirinya dalam hal berdandan selalu ingin tampil sempurna layaknya seorang wanita.
Tidak sesuai nya dengan konstruksi maskulin yang selama ini berkembangan dalam masyarakat, stereotip pria yang selama ini konstruksi kan dan kontrol sosial yang bersifat menentukan preferensi sikap maupun perilaku terhadap laki-laki yang dianggap ideal dan dapat diterima masyarakat dan disertai dengan konsekuensi tertentu jika seseorang bersikap atau berperilaku di luar preferensi maka akan menimbulkan stereotip baru dan melahirkan stigma-stigma negatif. Tetapi ada masyarakat yang memberikan kesan positif atas keberadaan pria metroseksual ini, karena mereka beranggapan bahwa pria yang tampil sempurna lebih enak dipandang dari pada pria lainnya dan sah-sah saja seorang pria merawat dirinya sedemikian rupa.
Berdasarkan argumentasi di depan penulis ingin meneliti pria yang dimana pada umumnya di stereotipkan sebagai sosok yang jantan, kekar, untuk menggambarkan dominasi nya akan kekuasaan dan kelebihannya dibandingkan
perempuan. Sosok yang semula dipandang kuat untuk melindungi bergeser menjadi lebih sensitif akan penampilannya dan menampilkan sisi feminitasnya.
Begitu pula yang terjadi pada pria metroseksual pada informan pria metroseksual di Kota Medan. Karena itu yang membuat penulis memilih informan pria metroseksual di Kota Medan untuk diteliti oleh penulis. Dari penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana konsep stereotip pria (maskulinitas) dalam pandangan metroseksual itu sendiri dan stereotip pria feminin yang dilabel kan kepada diri mereka.
1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah adalah usaha-usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan peneliti apa saja yang perlu dijawab atau dicari jalan pemecahannya.
Dengan kata lain, perumusan masalah merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti. Berdasarkan latar belakang masalah, yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pandangan pria metroseksual terhadap stereotip maskulinitas?
2. Bagaimana pandangan pria metroseksual terhadap stereotip sebagai pria feminin?
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ialah pernyataan mengenai apa saja hendak yang ingin dicapai (Usman dan Purnomo,2009:30) menyatakan bahwa tujuan penelitian dicantumkan dengan maksud agar kita maupun pihak lain yang membaca dapat
berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, sekaligus agar penelitian ini terarah dan terfokus dalam pengumpulan data, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana pandangan pria metroseksual terhadap gender stereotip maskulinitas.
2. Untuk mengetahui bagaimana pandangan pria metroseksual terhadap gender stereotip sebagai pria feminin.
3. Sebagai syarat utama dalam menyelesaikan masa studi di jurusan Sosiologi, di Universitas Sumatra Utara.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengembangan Ilmu Sosiologi dan diharapkan sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya apabila ingin meneliti secara lebih mendalam terkait fenomena pria metroseksual dan memberikan jawaban terhadap permasalahan yang di teliti.
1.4.2 Manfaat Praktis 1. Untuk Peneliti
Kegunaan penelitian ini untuk peneliti adalah memberikan pengetahuan lebih mendalam tentang keberadaan pria metroseksual yang selama ini menjadi fenomena yang terdapat di dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan wawasan baru bagi peneliti akan berbagai macam stereotip pria yang berkembang di dalam masyarakat. Penelitian ini juga memberikan kesempatan yang baik bagi peneliti untuk mempraktekkan berbagai teori atau
konsep dalam sosiologi di dalam bentuk nyata dan membandingkan dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan.
2. Untuk Akademisi
Penelitian ini berguna bagi mahasiswa Universitas Sumatra Utara secara umum, program ilmu Sosiologi secara khusus sebagai literature atau untuk sumber tambahan dalam memperoleh informasi bagi peneliti yang akan melaksanakan penelitian pada kajian yang sama.
3. Untuk Masyarakat
Kegunaan penelitian ini bagi masyarakat umum adalah untuk mengetahui tentang keberadaan pria metroseksual di kota-kota besar, Kota Medan khususnya terutama pada bagaimana pandangan pria metroseksual mengenai stereotip pria feminin.
1.5 Definisi Konsep
Dalam sebuah penelitian ilmiah, definisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep adalah definisi abstrak mengenai gejala atau realita atau suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Suyanto & Sutinah,2005:49). Konsep juga berfungsi sebagai panduan bagi peneliti untuk menindak lanjuti penelitian tersebut serta menghindari timbulnya kekacauan akibat kesalahan tafsir dalam penelitian.
Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian adalah sebagai berikut:
1.5.1 Stereotip
Menurut peneliti stereotip adalah stigma atau kepercayaan yang dianut mengenai kelompok atau individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk. Keyakinan ini menimbulkan penilaian yang cenderung negatif, bahkan merendahkan orang lain. Ada kecenderungan memberikan label tertentu pada kelompok tertentu dan termasuk problem yang perlu diatasi adalah stereotip negatif atau merendahkan orang lain. Stereotip didasarkan pada penafsiran yang kita hasilkan atas dasar cara pandangan dan latar belakang budaya dalam masyarakat. Stereotip juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumber langsung. Stereotip seringkali diasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciri yang kita identifikasi sering kali kita seleksi tanpa alasan apapun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain (dalam Mulyana, 2000:218). Stereotip merupakan generalisasi dari kelompok kepada orang-orang di dalam kelompok tersebut. Stereotip yang dimaksudkan dari penelitian ini adalah label yang dilekatkan kepada pria metroseksual yang dimana dianggap tidak cocok atau tidak sesuai dengan kebudayaan dalam masyarakat. Stereotip yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pandangan metroseksual terhadap stereotip konstruksi pria dan pelabelan sebagai pria feminin yang dilekatkan oleh masyarakat.
1.5.2 Metroseksual
Metroseksual adalah sosok pria muda yang memiliki uang untuk dibelanjakan dan mereka pada umumnya tinggal di kota-kota besar, karena disitulah banyak tersedia pusat perbelanjaan, klub, gym, para penata rambut
terbaik dan menampilkan atau menonjolkan sisi feminin nya. Sedangkan Sumardi (dalam Kurniawan, 2009) berpandangan bahwa pria metroseksual merupakan pria yang selalu mengikuti perkembangan fashion dan selalu menginginkan produk- produk terbaru dan senang bersosialisasi. Meskipun tergolong pria yang sangat memanjakan dirinya, pria metroseksual termasuk pria yang sangat menghormati persamaan gender.
Banyak orang yang menilai dan mengartikan bahwa pria metroseksual adalah seorang yang gay. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar, pernyataan yang sama juga diutarakan oleh Ekopriyono yang mengatakan. Pria metroseksual bukanlah seorang laki-laki yang keperempuan-perempuanan, bukan banci dan bukan waria. Mereka pada dasarnya merupakan laki-laki yang normal, hanya saja mereka memiliki sikap untuk berpenampilan seperti perempuan (Ekopriyono, 2005:54). Metroseksual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pria metroseksual, mulai dari trend pakaian, model rambut, kebersihan wajah, kemulusan kulit hingga warna kuku tangan dan kaki. Para pria metroseksual ini tidak menunjukan rasa malu saat mereka menggunakan produk yang merupakan dominan wanita. Hal tersebut membuat banyaknya perusahaan melahirkan produk baru yang di segmentasi kan untuk (khusus) pria seperti parfum, lotion, sabun pencuci muka dan pernah mengunjungi tempat pusat kebugaran, tempat perawatan kecantikan tubuh khusus pria yang berada di Kota Medan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Stereotip
Stereotip adalah pelabelan terhadap suatu kelompok atau jenis pekerjaan tertentu. Stereotip adalah bentuk ketidakadilan. Secara umum stereotip merupakan pelabelan seseorang atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu berdasarkan persepsi dan biasanya pelabelan ini selalu berkaitan pada ketidakadilan, sehingga dinamakan pelabelan negatif, hal ini disebabkan pelabelan yang sudah melekat pada laki-laki, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sedangkan perempuan adalah makhluk yang lembut, cantik, emosional, atau keibuan (Handayani & Sugiarti, 2008 : 16).
Hal semacam ini menyebabkan pembentukan stereotip atau pelabelan tas dasar jenis kelamin laki-laki. Secara umum stereotip adalah pelabelan atau penandaan yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan (Fakih,2012:16).
Stereotip menimbulkan adanya anggapan tentang bagaimana memperlakukan jenis kelamin tertentu, namun belum tentu sesuai dengan yang sesungguhnya.
Kata stereotip berasal dari gabungan dua kata Yunani, yaitu stereos yang berarti padat-kaku dan typos yang bermakna model (Schneider, 2004 : 14).
Sedangkan Miller dalam (Haslam, 1994) menyatakan bahwa stereotip memiliki dua macam konotasi yaitu, rigiditas dan duplikasi atau kesamaan, ketika dikaitkan dengan sikap dan perilaku manusia. Dengan demikian stereotip merupakan sesuatu yang rigid yang merangkum keragaman sikap dan perilaku tersebut ke
dalam sebuah karakteristik yang sama atas dasar etnisitas, nasionalistis maupun gender. Sedangkan menurut Tajfel dalam (Haslam, 1994), stereotip diartikan sebagai proses ascribing terhadap individu atas dasar keanggotaan kelompok.
Stereotip adalah sebuah hasil dari proses adanya prasangka. Ktaz & Barly (1933) menyatakan bahwa prasangka (prejudice) dan pelabelan (stereotip) tidak dapat dipisahkan keterkaitan nya. David dalam (Haslam, 1994) menyatakan bahwa prasangka merupakan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain.
Prasangka (prejudice) merupakan persepsi (dalam tataran kognitif), sedang stereotip lebih kepada arti pelabelan (sudah dalam tataran afektif, dan psiko motorik). Dari penjelasan tersebut maka benarlah jika ada pernyataan bahwa prasangka dalam kajian psikologi mengawali adanya stereotip. Sedangkan prasangka menurut Brown (2005:14) merupakan tiga hal yang saling berkaitan diantaranya: Pertama, prasangka merupakan orientasi ke arah seluruh kategori orang-orang dan bukan ke arah individu orang per-orang. Bahkan bila targetnya secara konkrit adalah individu tunggal, karakteristik individual orang itu dianggap jauh kurang penting dibandingkan cap yang digunakan untuk mengalokasikan nya ke dalam kelompok tertentu dan bukan kelompok lainnya, berdasarkan aksen, nama, warna kulit dan lain-lainnya. Kedua, mengapa prasangka dianggap sebagai sebuah proses kelompok karena prasangka paling sering berupa orientasi yang secara sosial sama. Artinya sejumlah besar orang yang di segmen masyarakat tertentu dan akan bertindak dengan cara yang sama terhadap mereka. Ketiga, sejauh ini prasangka biasanya di arahkan pada kelompok tertentu oleh kelompok lain.
Stereotip memiliki tiga macam karakteristik yaitu pengkategorian atau pengelompokan orang ke dalam ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang bersifat relasional-perseptual, konsensus terhadap ciri atau sifat relasional-perseptual tersebut, adanya perbedaan atau ketidakcocokan antara ciri atau sifat-sifat relasional-perseptual dengan sifat atau ciri-ciri actual (Secord&
Beckman,1964:66). Dari informasi diatas dapat kita simpulkan bahwa stereotip itu sendiri adalah berbagai macam ciri dan sifat-sifat personal yang melekat (seakan permanen) pada sekelompok orang.
2.2 Maskulinitas
Maskulinitas merupakan konsep tentang peran sosial, perilaku dan makna- makna tertentu yang dilekatkan pada laki-laki di waktu tertentu. (Kimmel dan Aronson, 2002). Connell (2005) mengatakan bahwa maskulinitas diletakkan pada relasi gender, yaitu praktik yang melibatkan laki-laki dan perempuan serta berimplikasi pada pengalaman jasmaniah, sifat, dan budaya. Maskulinitas adalah kejantanan seorang laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual (Sastriani, 2007).
Kamla Bashin (2004) secara sederhana mendefinisikan maskulinitas sebagai definisi sosial yang diberikan masyarakat kepada laki-laki. Bagi Bhasin maskulinitas mengarahkan laki-laki harus berperilaku, berpakaian dan berpenampilan serta menetapkan sikap dan kualitas apa yang harus dimiliki laki- laki. Mengacu pada definisi ini maka maskulinitas tidak hanya menjadi standar atau rujukan bagi laki-laki dalam mendefinisikan diri mereka akan tetapi juga
mengandung norma (masculinity norm) yang harus diikuti laki-laki dengan konsekuensi inklusi.
Dalam kehidupan sosial, dengan tradisi maskulin yang semacam ini, laki- laki dianggap gagal jika dirinya tidak maskulin. Hal-hal sepele yang terjadi sehari- hari selama puluhan tahun yang bersumber dari norma-norma budaya telah membentuk suatu pencitraan diri dalam kehidupan seorang laki-laki. Kondisi ini dapat dilihat dari selera dan cara berpakaian, penampilan, bentuk aktivitas, cara bergaul, cara penyelesaian masalah, ekspresi verbal maupun nonverbal hingga jenis aksesoris yang dipakai (Vigorito & Curry, 1998:1). Pencitraan diri tersebut telah diturunkan dari generasi ke generasi, melalui mekanisme pewarisan budaya hingga menjadi suatu kewajiban yang harus dijalani jika ingin dianggap sebagai laki-laki sejati. Aturan umum yang tidak tertulis yang mengatakan bahwa laki-laki sejati pantang untuk menangis, harus tampak tegar, kuat, pemberani, garang, serta berotot (Donaldson, 1993:1). Dengan citra kemudian maka masyarakat menciptakan maskulin-maskulin baru dalam keluarga sebagai semacam prestise yang seolah-olah dimiliki secara genetis laki-laki.
Beynon (2007) mendefinisikan maskulin merupakan laki-laki yang terlihat sangat “kebapakan”, sebagai penguasa dalam keluarga, dan sosok yang mampu memimpin perempuan serta membuat keputusan yang utama. Connell (2000) mendefinisikan maskulinitas sebagai bentuk praktik gender yang merupakan konstruksi sosial, maskulinitas mengacu pada tubuh laki-laki secara langsung maupun simbolis yang bukan ditentukan oleh biologis laki-laki. mengungkapkan bahwa maskulinitas dipahami dalam arena reproduktif untuk menjelaskan bahwa
tubuh bukanlah sesuatu yang tetap dan ditentukan secara biologis namun melewati suatu proses historis.
Menurut Kimmell (2005) maskulinitas adalah sekumpulan makna yang selalu berubah tentang hal-hal yang berhubungan dengan laki-laki sehingga memiliki definisi yang berbeda pada setiap individu dan waktu yang berbeda.
Sedangkan Morgan (dalam Beynon, 2007) mengatakan bahwa “what is masculinity is what men and woman do rather than what they are” yang artinya maskulinitas adalah apa yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Dari beberapa definisi maskulinitas yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh, peneliti memilih menggunakan landasan teori maskulinitas tradisional dari Barker (2001) yaitu maskulinitas adalah peran gender, kedudukan, perilaku, dan bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual kemudian dibentuk oleh kebudayaan.
2.2.1 Sifat – Sifat Maskulinitas
Sifat-sifat maskulinitas yang di kemukakan oleh David dan Brannon (dalam Demartoto, 2010) adalah sebagai berikut:
a) No Sissy Stuff (tidak menggunakan barang-barang perempuan): seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau karakteristik yang berhubungan dengan perempuan.
b) Be a Big Wheel (menjadi tokoh atau seseorang yang penting): maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan pengaguman dari orang lain.
Seseorang harus memiliki kekayaan, ketenaran, dan status yang sangat
“lelaki”.
c) Be a Sturdy Oak (menjadi seseorang yang memiliki kekuatan): pria membutuhkan rasionalitas, kekuatan, dan kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya.
d) Give em Hell (menunjukkan keberanian): laki-laki harus memiliki aura keberanian dan agresi, serta mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya.
2.3 Metroseksual
Metroseksual berasal dari kata metropolis yang memiliki arti ibu kota, dan seksual. Jadi, metroseksual merupakan sosok narsistik dengan penampilan
“dandy” yang jatuh cinta hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada gaya hidup urban (Mulyana, 2015). Sedangkan definisi metroseksual yang dicetuskan oleh Mark Simpson di Majalah Salon edisi Juli 2002. Pria metroseksual adalah sosok dengan penampilan yang terawat meniru dari penampilan gaya dandan pria di media masa. Pria metroseksual bukanlah pria yang hanya berdandan dalam penampilan namun juga tipe-tipe pria yang memiliki uang banyak, dengan pola hidup kota-kota metropolitan yang menyediakan segala hal yang terbaik seperti klub, spa, salon, butik, penata rambut, restoran, dan toko (Handoko, 2004).
Pria metroseksual bukanlah suatu konsep tunggal dari pembicaraan maskulinitas, mengacu konsep teoritis mengenai pria metroseksual dari Simpson (dalam Kunto) yang menegaskan ada lima pondasi dari ciri-ciri pria metroseksual:
1. Pria metroseksual adalah pria berpenampilan cantik yang narsis, mencintai dirinya sendiri dan gaya hidup perkotaan.
2. Mereka harus memiliki uang untuk dibelanjakan demi penampilannya.
3. Mereka hidup di perkotaan karena akses ke berbagai fasilitas yang menunjang penampilannya.
4. Pria metroseksual adalah bentuk identitas sosial yang meliputi semua aspek seksualitas termasuk orientasi seksual, prefensi seksual dan kenikmatan seksual yang didapatnya yang kesemuanya terpusat pada dirinya sendiri.
5. Pria metroseksual berprofesi sebagai apapun dengan akses yang mencukupi untuk mempercantik dirinya dan mengonsumsi produk-produk mahal (Mulyana, 2015).
Sedangkan ciri-ciri pria metroseksual yang lain dikemukakan oleh Kartajaya dkk (2004), yaitu:
1. Pada umumnya tinggal di kota besar di mana hal ini tentu saja berkaitan dengan kesempatan akses informasi, pergaulan, dan gaya hidup yang dijalani.
2. Berasal dari kalangan berada dan memiliki banyak uang karena banyaknya materi yang dibutuhkan sebagai penunjang gaya hidup yang dijalani.
3. Memilih gaya hidup urban.
4. Secara intens mengikuti perkembangan fashion di majalah-majalah mode pria agar dapat mengetahui perkembangan fashion terakhir yang mudah diikuti.
5. Umumnya memiliki penampilan yang klimis, dandy dan sangat memperhatikan penampilan serta perawatan tubuh.
2.4 Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian terdahulu sebagai perbandingan dan tolak ukur serta mempermudah peneliti untuk menyusun penelitian ini. Peneliti harus belajar dari peneliti lain, untuk menghindari duplikasi dan pengulangan penelitian atau kesalahan yang sama seperti yang dibuat oleh peneliti sebelumnya. Penelitian terlebih dahulu dalam tinjauan pustaka memudahkan penulis dalam menentukan langkah-langkah yang sistematis dari teori maupun konseptual. Berikut ini adalah penelitian terlebih dahulu yang menjadi acuan dan bahan referensi yang menunjang peneliti untuk melakukan penelitian.
Tabel 2.4 Penelitian Terdahulu
1
Nama Adindya Kusuma Wardani Judul
Penelitian
Metrosexual Masculinity Performance in Jordan Belfort’s The Wolf of Wall Street.
Teori yang digunakan
Maskulinitas dan konsep metroseksual
Metode yang digunakan
Dekonstruksi teks
Hasil Penelitian
Dalam novel, The Wolf of Wall Street, Jordan Belfort sebagai karakter utama telah melakukan sisi maskulinitas nya. Ia mengikuti jenis maskulinitas terbaru yaitu maskulinitas metroseksual. Dia jelas melakukan itu melalui beberapa cara. Penampilan pertama adalah dengan menunjukkan kepedulian nya terhadap penampilannya. Apa yang dia lakukan menyebutkan apa yang dia kenakan dari pakaian, sepatu, dan kemudian aksesoris. Jelas bahwa dia mencoba untuk mencocokkan mereka semua untuk menunjukkan bahwa dia memiliki penampilan yang baik. Meskipun begitu, ia juga memilih produk dengan merek tersebut dan ia melakukan perawatan tubuh. Penampilan kedua adalah dia tahu mode. Dia menunjukkannya melalui beberapa poin, yaitu menyebutkan merek produk, bahan dari produk tertentu, dan bahkan harga. Tindakan lain yang dia lakukan adalah mencetak penampilan rekannya dan mengetahui gaya busana terbaru. Kinerja terakhir adalah memenuhi karakteristik pendukung lainnya yang sedikit-sedikit rasa feminin. Mereka sensitif, melihat pernikahan sebagai hal yang romantis, hubungan heteroseksual adalah sumber
dukungan, dan kaya. Pertunjukan ini adalah bukti bahwa Jordan Belfort adalah pria metroseksual
Selain metroseksualitas, Jordan juga masih melakukan perilaku pria maskulin tradisional. Hal ini ditunjukkan melalui beberapa poin, yaitu agresif, menikmati kebersamaan manusia, berstatus, berkuasa, dan memiliki sisi kepahlawanan. Kelima karakteristik ini adalah normal untuk pria maskulin meskipun pria metroseksual memiliki karakteristik yang berbeda. Pernyataan ini terjadi karena metroseksualitas adalah bagian dari maskulinitas dan aksi maskulinitas terkadang muncul secara alami.
Kontribusi terhadap
peneliti
Penelitian ini memberi kontribusi terhadap peneliti mengenai pria metroseksual dan menjadi referensi bagi penelitian serta membantu penulis dalam proses penyusunan penelitian.
Perbedaan penelitian
Perbedaan penelitian ini terletak pada metode dan fokus penelitian yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode dekonstruksi teks yang bersumber pada sebuah novel yang berjudul the wolf of wall street dan fokus penelitian bersumber pada tokoh Jordan berlfort yang merupakan pria metroseksual. Sedangkan penulis meneliti konsep stereotip pria dalam pandangan pria Metroseksual dengan studi kasus di Kota Medan.
2
Nama Marza Aprilia
Judul Penelitian
Konsep diri pria metroseksual kota Surabaya ( studi deskriptif tentang konsep diri dan stigma masyarakat terhadap pria metroseksual di Kota Surabaya ).
Teori yang digunakan
Stigma Erving Goffman
Metode yang digunakan
Kualitatif
Hasil Penelitian
Pria metroseksual yang bekerja di sektor formal mengonsepsikan dirinya sebagai pria metroseksual yang tidak hanya berpenampilan menarik namun juga sukses dalam mengejar karir nya. Hal tersebut karena menjadi pria metroseksual membutuhkan modal yang tidak sedikit sehingga tidak semua pria mampu menjadi sosok pria metroseksual. Sedangkan pria yang bekerja di sektor informal mengonsepsikan dirinya sebagai pria normal seperti pada umumnya. Hal tersebut karena penghasilan yang tergolong sedikit dan masih menggantungkan hidupnya dengan orang tua.
Sedangkan pria metroseksual yang masih berstatus sebagai pelajar menganggap bahwa konsep dirinya sebagai pria metroseksual hanya sebatas kesenangan saja. Alasannya karena aktivitas yang dilakukan oleh pria metroseksual yakni belanja dan perawatan merupakan aktivitas untuk memenuhi kesenangan pribadi. Stigma yang diberikan masyarakat terhadap pria metroseksual juga bermacam-macam. Pria
metroseksual sempat mendapat stigma sebagai pria yang penampilannya tidak maskulin atau dianggap sebagai pria feminin. Stigma tersebut didapat akibat kebiasaan mereka dalam merawat diri dan juga belanja yang dianggap tidak sepatutnya dilakukan oleh laki- laki. Selain itu pria metroseksual juga mendapat stigma sebagai pria yang mengalami disorientasi seksual.
Stigma tersebut didapat karena penampilannya yang dianggap terlalu modis dan terkesan berlebihan dibandingkan dengan pria pada umumnya.
Kontribusi terhadap peneliti
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada peneliti tentang pria metroseksual dan menjadi referensi bagi penelitian serta membantu penulis dalam proses penyusunan penelitian.
Perbedaan penelitian
Perbedaan penelitian ini terletak pada fokus penelitian.
Penelitian ini membahas mengenai konsep diri pria metroseksual dan stigma masyarakat yang disematkan terhadap pria metroseksual. Sedangkan penulis membahas bagaimana pandangan pria metroseksual di Kota Medan terhadap stereotip sebagai pria feminism.
3
Nama Harmona Daulay
Judul Penelitian
Konstruksi maskulinitas global pada majalah pria dalam persepsi pria metroseksual; (studi kasus di kota Medan).
Teori yang digunakan
Maskulinitas
Metode yang digunakan
Kualitatif
Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini bahwa konstruksi maskulinitas yang terbangun dan tampil di majalah pria warabala di Indonesia masih penuh didominasi maskulinitas dari barat. Konstruksi maskulinitas yang terbangun secara umum sangat mengarah pada gaya hidup pria dan konstruksi modern dari pencitraan pria metroseksual. Eksistensi pria metroseksual bukanlah suatu perilaku sosial yang mandiri. Berbagai fasilitas perkotaan memberikan fasilitas dalam konsumsi dan melakukan gaya hidup yang mengukuhkan kehidupan pria metroseksual. Persepsi pria metroseksual Kota Medan terhadap maskulinitas global yang muncul di majalah pria waralaba masih sangat memberikan pengaruh dan nilai social mengenai maskulinitas.
Persepsi informan sangat dominan melihat bahwa maskulinitas dari barat masih menjadi suatu acuan karena lebih banyak konsep yang mengarah kepada gentleman, lebih kompleks dalam mengelola relasi gender dan lebih menjadi trend setter dalam menampilkan relasi sosial. Dalam konteks ini kontribusi majalah pria waralaba masih sangat signifikan dalam memberi wacana maskulinitas global dan menuntun pada maskulinitas yang aktual dalam konteks baik wacana global maupun lokal.
Dari temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya maskulinitas global yang muncul dalam konstruksi pria metroseksual, memang merupakan suatu konsep new man, pria dalam konteks
penampilan fisik yang baru. Konteks penampilan ini tidak serta merta merombak struktur sosial dari nilai dan norma maskulinitas sistem patriarki yang selama ini ada, terbukti pria metroseksual Kota Medan mengakui, bahwa maskulinitas tidak semata penampilan saja tetapi banyak aspek lain. Intinya, walaupun secara sosiologis terjadi perubahan dalam atribut sosial dan penampilan baru pria metroseksual yang banyak ter warnai nilai feminitas, tetapi dari sisi psikologis dengan nilai maskulinitas yang ada, seperti bertanggung jawab, melindungi, memimpin.
Kontribusi terhadap peneliti
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada peneliti tentang pria metroseksual dan menjadi referensi bagi penelitian serta membantu penulis dalam proses penyusunan penelitian.
Perbedaan penelitian
Perbedaan penelitian ini terletak pada fokus penelitian, dimana, penelitian ini meneliti persepsi pria metroseksual terhadap konstruksi maskulinitas global yang terdapat di majalah pria. Sedangkan penulis ingin meneliti konsep stereotip pria dalam pandangan pria Metroseksual, dengan studi kasus Kota Medan
Dari uraian di atas mengenai penelitian dan kajian terdahulu mengenai pria Metroseksual. Perbedaan penelitian ini terletak pada subjek dan objek penelitian. Subjek penelitian ini bersumber pada informan pria metroseksual yang di kota Medan. Sedangkan objek atau permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dimana penulis ingin meneliti pria yang dimana pada umumnya di stereotip kan sebagai sosok yang jantan, kekar, untuk menggambarkan dominasi
nya akan kekuasaan dan kelebihannya dibandingkan perempuan. Sosok yang semula dipandang kuat untuk melindungi bergeser menjadi lebih sensitif akan penampilannya dan menampilkan sisi feminitasnya dan bagaimana pandangan pria metroseksual tersebut terhadap pelabelan yang timbul dalam pandangan masyarakat mengenai stereotip pria feminin.
3 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Suyanto & Sutinah (2005:166), Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan oleh sejumlah individu atau kelompok orang. Sedangkan menurut sugiyono (2009:15), pengertian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan kualitas atau keistemewaan dari pengaruh sosial yang dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kualitatif.
Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan tri-anggulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif atau kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
3.2 Unit Analisis
Unit analisis adalah keseluruhan unsur yang menjadi focus penelitian (Bungin, 2008:266). Dalam pengertian yang lain unit analisis diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan focus atau komponen yang diteliti. Unit analisis ini dilakukan oleh peneliti agar validitas dan reliabilitas peneliti dapat terjaga. Karena terkadang peneliti masing bingung membedakan antara objek penelitian, subjek
penelitian dan sumber data. Unit analisis suatu peneliti dapat berupa individu, kelompok, benda, wilayah dan waktu sesuai dengan fokus permasalahan. Yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah pria eksekutif muda yang berkunjung ke tempat perawatan tubuh dan café-café di mall maupun plaza di kota Medan.
3.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Medan. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena Medan adalah Kota terbesar nomor tiga di Indonesia.
Medan termasuk Kota metropolitan dan Kota Medan terdapat banyak saranan dan prasarana pendukung keberadaan pria metroseksual. Sehingga penelitian ini akan dikhususkan pada tempat-tempat yang potensial untuk berkumpulnya para pria metroseksual seperti kafe-kafe, restoran, salon khusus pria dan tempat-tempat hiburan yang terdapat di mall-mall Kota Medan.
3.4 Informan
Informan penelitian dalam penelitian kualitatif berkaitan dengan bagaimana langkah yang ditempuh peneliti agar data atau informasi dapat diperoleh. Informan merupakan subjek yang memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami permasalahan penelitian (Bungin, 2014:78) Untuk menentukan informan penelitian, peneliti akan menggunakan prosedur purposive. Prosedur ini merupakan pemilihan siapa subjek yang ada dalam posisi terbaik untuk memberikan informasi yang dibutuhkan.
Pada penelitian ini peneliti mencoba menentukan informan berdasarkan kriteria- kriteria yang menurut peneliti cocok untuk dijadikan informan dalam penggalian data yang diinginkan. Selain itu peneliti juga menggunakan media massa seperti
instagram sebagai sarana dalam mencari informan yang sebagai subjek dalam penelitian.
3.4.1 Informan Kunci
Penentuan Informan Kunci didasarkan pada kriteria berikut ini:
1. Pria berumur 22-40 tahun.
2. Berbagai macam etnis
3. Pekerjaan di sektor perbankan, bisnis, event organizer, pegawai Pemerintahan, tenaga ahli, pemasaran dan wiraswasta.
4. Berpenghasilan diatas Rp. 4000.000,- per bulan.
5. Tertarik atau suka mengunjungi tempat kebugaran tubuh atau Fitness center.
6. Tertarik pada perawatan tubuh.
7. Mengikuti trend dan perkembangan fashion, serta memperhatikan apa yang dikenakan orang lain.
8. Umumnya memiliki penampilan yang klimis dan dandy.
Adapun kriteria informan kunci dalam penelitian ini adalah pria metroseksual yang berada di Kota Medan.
3.4.2 Informan Tambahan
Adapun Informan tambahan antara lain:
1. pengelolaan pusat kebugaran atau fitness center.
2. Jasa tempat perawatan tubuh yang dikunjungi informan kunci.
3. Barbershop (jasa cukur dan pangkas rambut) yang dikunjungi informan
4. Masyarakat umum di Kota Medan. Masyarakat sekitar yang ada dalam penelitian ini tidak hanya dipilih berdasarkan berbagai macam etnis dan masyarakat yang bertempat tinggal di Kota Medan, namun juga orang-orang yang mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh pria metroseksual dan baik yang pernah berinteraksi secara langsung atau tidak kepada pria metroseksual.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data penelitian akan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar mendapatkan kesesuaian penelitian dengan fokus dan kebutuhan penelitian dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh nantinya. Adapun teknik pengumpulan data ini adalah :
3.5.1 Data Primer
Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi benda kejadian atau kegiatan.
1. Observasi
Penelitian kualitatif, penelitian merupakan alat (instrument) pengumpulan data utama, karena penelitian adalah manusia dan hanya manusia yang dapat berhubungan dengan informan nya atau objek lainnya, serta mampu memahami kaitan kenyataan-kenyataan di lapangan. Metode yang diterapkan dalam penelitian adalah menggunakan metode observasi. Dimana metode observasi merupakan suatu pencatatan hasil penelitian yang bukan hanya
mencatat tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat menuju penelitian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan pertama kali adalah pra- observasi. Teknik pra-observasi merupakan kegiatan yang pertama sekali dilakukan dari semua peneliti. Pra-observasi telah dilakukan sebelum penelitian terjun langsung ke lapangan. Setelah melakukan pra-observasi dan observasi di lapangan peneliti melakukan teknik pra-penelitian berikutnya yaitu mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dalam penelitian seperti catatan, alat tulis, kamera, maupun literature yang berhubungan dengan kajian penelitian ini. Kemudian setelah mempersiapkan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan peneliti melakukan teknik pengumpulan data selanjutnya yaitu melakukan wawancara. Observasi yang peneliti lakukan dari hasil penelitian ini, menggunakan teknis observasi non partisipasi, observasi dilakukan di tempat-tempat yang memungkinkan adanya pria metroseksual, seperti peneliti lakukan di cat cafe, barbershop atau juga klinik kecantikan atau salon kecantikan.
2. Wawancara
Teknik selanjutnya adalah teknik wawancara mendalam. Teknik wawancara adalah teknik yang dilakukan dengan percakapan dengan maksud untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pernyataan dan yang diwawancarai (interviewer) yang memberikan jawaban atas pernyataan itu (Maleong,2000). Wawancara dalam satu penelitian yang
bertujuan mengumpulkan keterangan tentang berbagai informasi. Wawancara merupakan suatu proses yang dibutuhkan dalam proses penelitian.
Teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah teknik wawancara yang bersifat semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur adalah proses wawancara yang menggunakan panduan wawancara yang berasal dari pengembangan topik dan mengajukan pertanyaan dan penggunaan lebih fleksibel pada saat wawancara. Wawancara dilakukan dengan bertanya langsung kepada informan untuk menggali dan mendapatkan data informasi yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan.
Proses wawancara diawali dengan membuat kesepakatan kepada informan terlebih dahulu, mengenai waktu, tempat dan hari dimana wawancara akan dilaksanakan. Wawancara dilakukan dengan menyampaikan pertanyaan- pertanyaan yang terdapat dalam pedoman wawancara serta juga menambahkan pertanyaan di luar pedoman wawancara dengan tujuan untuk semakin memperdalam penelitian. Wawancara yang dihasilkan sebelumnya telah digunakan alat untuk merekam suara dalam hal ini ponsel dan juga melakukan pencatatan hal-hal yang dianggap penting, yang disampaikan oleh informan. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan ada yang satu kali wawancara dan ada yang lebih dari satu kali wawancara.
3. Dokumentasi
Dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan metode dokumentasi.
Metode dokumentasi merupakan metode untuk menelusuri data historis.
Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian,
laporan dan sebagainya. Dalam penelitian ini dokumentasi diperoleh dari foto dan gambar mengenai pria metroseksual. Metode dokumentasi adalah informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun dari perorangan. Dokumentasi penelitian ini merupakan pengambilan gambar oleh peneliti untuk memperkuat hasil penelitian (Hamidi 2004:72).
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya.
Pengumpulan data dengan cara dokumentasi merupakan suatu hal yang dilakukan oleh peneliti guna mengumpulkan data dari berbagai hal media yang membahas mengenai narasumber yang akan diteliti (Arikunto 2006:231).
Dokumen yang berhasil peneliti peroleh antara lain yaitu foto informan.
3.5.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diambil secara tidak langsung atau menggunakan media perantara misalnya data yang diperoleh dari buku-buku, jurnal, laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan berhubungan dengan keabsahan masalah yang diteliti, dan lain sebagainya.
3.6 Interpretasi Data
Interpretasi data atau penafsiran data merupakan sesuatu kegiatan menggabungkan antara hasil analisis dengan permasalahan penelitian untuk menemukan makna yang ada dalam permasalahan. Interpretasi data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia yang didapat memalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah itu, kemudian data akan
dipelajari dan ditelaah kembali menggunakan teori yang digunakan dan diinterpretasikan secara kualitatif untuk menganalisis permasalahan tersebut.
Interpretasi data dimulai dengan seluruh data-data yang telah diperoleh dalam penelitian ini baik melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan yang akan diinterpretasikan berdasarkan teori dalam kajian pustaka.
Kemudian data tersebut akan diatur, diurutkan, dikelompokkan, ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu dan diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik dan sampai pada akhirnya menjadi laporan penelitian.
Dalam penelitian ini, penelitian dapat mengumpulkan data melalui hasil wawancara, observasi dan observasi partisipatif pasif. Semua data yang diperoleh pada umumnya masih dalam bentuk catatan lapangan, dokumentasi resmi dalam bentuk foto, maupun rekaman. Setelah data tersebut di baca, dipelajari dan ditelaah, maka langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman yang terperinci dan merujuk pada inti temuan data dengan cara menelaah pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan agar tetap berada pada fokus penelitian. Setelah itu data disusun dan dikategorikan serta diinterpretasikan secara kualitatif sesuai dengan metode penelitian yang telah ditetapkan.
3.7 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini adalah hambatan-hambatan yang dihadapi peneliti dalam melakukan penelitian pada saat di lapangan. Dalam hal ini peneliti mengalami hambatan antara lain: dalam melakukan wawancara mendalam keterbatasan terhadap informan, adanya keterbatasan waktu yang dimiliki
informan dalam melakukan proses wawancara dikarenakan adanya kesibukan- kesibukan informan sehari-hari, selain itu pada saat melakukan wawancara waktu yang digunakan sangat terbatas.
4 BAB IV
INTERPETASI DATA DAN HASIL PENELITIAN
4.1 Profil Kota Medan
4.1.1 Kota Medan secara Demografis
Gambar 2 Peta Kota Medan
Sumber : https://peta-hd.com/peta-kota-medan/
Diakses pada 4 April 2020
Kota Medan merupakan salah satu dari 17 daerah tingkat II di daerah Sumatera Utara, yang terletak di bagian timur Propinsi Sumatera Utara dan berada di antara 3º 30' 3º 43' LU dan 98º 35'- 98º 44' BT. Permukaan tanahnya cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5-37,5 m diatas permukaan laut. Luas Kota Medan saat ini 265.10 km. Sebelumnya hingga tahun
1972 Medan hanya mempunyai luas sebesar 51.32 km, namun kemudian di edarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1973 yang memperluas wilayah Kota Medan dengan mengintegrasikan sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Kota Medan merupakan pusat pemerintahan tingkat I Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk berdasarkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan pada tahun 2018 sekitar 2.264.145 jiwa. Secara geografis kota Medan berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Percut Sei Tuan dan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
4.1.2 Gambaran Umum Kota Medan
Perkembangan Kota Medan tidak terlepas dari dimensi historis, ekonomi dan karakteristik Kota Medan itu sendiri, yakni sebagai kota yang mengemban fungsi yang luas dan besar (METRO), serta sebagai salah satu dari 3 (tiga) kota metropolitan terbesar di Indonesia. Realitasnya, Kota Medan kini berfungsi:
1. Sebagai pusat pemerintahan daerah, baik pemerintahan Propinsi Sumatera
konsultan negara-negara sahabat, serta wilayah kedudukan berbagai perwakilan perusahaan, bisnis, keuangan di Sumatera Utara.
2. Sebagai pusat pelayanan kebutuhan sosial, ekonomi masyarakat Sumatera Utara seperti: Rumah sakit, Perguruan Tinggi, Stasiun TVRI, RRI, dan lain-lain, termasuk berbagai fasilitas yang dikembangkan swasta, khususnya pusat-pusat perdagangan.
3. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, keuangan, dan jasa secara regional maupun Internasional dan sebagai pintu gerbang regional / Internasional / Kepariwisataan untuk kawasan Indonesia bagian
Penduduk asli Kota Medan ini adalah orang Karo dan Melayu, tetapi saat ini Kota Medan merupakan Kota multi etnis yang menarik. Mayoritas penduduk Kota Medan sekarang adalah suku Jawa dan Batak. Namun di Kota Medan juga terdapat etnis penduduk lain antara lain jika di presentasikan sebagai berikut :
Tabel 4.1.1 Etnis di Kota Medan
Etnis Persentase
Suku Batak 35.39 %
Jawa 33.03 %
Tionghoa 10. 65%
Minangkabau 8.60%
Melayu 6.59%
Aceh 2.79%
Tamil dan lainnya 2.95 %
Total 100 %
Sumber: Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kota Medan di akses pada tanggal 19 juli 2020
Selain keanekaragaman etnis yang ada di Kota Medan. Medan juga memiliki keanekaragaman pemeluk agama masing-masing antara lain sebagai berikut :
Tabel 4.1.2 Agama di Kota Medan
Agama Persentase
Islam 64.53%
Kristen 26.10%
Buddha 8.28%
Hindu 1.04%
Konghucu 0.06%
Jumlah 100 %
Sumber : Wikipedia, daftar Agama di Kota Medan Diakses pada tanggal 9 Agustus 2020
Kota Medan ada banyak bangunan-bangunan tua, di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: gedung balai Kota lama, kantor Pos Medan, menara air (yang merupakan ikon Kota Medan) dan titi gantung sebuah jembatan di atas rel kereta api. Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana Maimun, mesjid Raya Medan dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan). Daerah Kesawan yang menyisakan bangunan-bangunan tua (misalnya bangunan PT. London Sumatra)
dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makanan yang ramai pada malam harinya.
Beberapa Kota di Asia telah mendorong pembentukan Persatuan Kota Kembar, antara Kota Medan dengan: Penang, Malaysia (1984), Ichikawa, Jepang (1989), Kwangju, Korea Selatan (1997), Chengdu, Republik Rakyat Tiongkok dan Milwaukee, Wilconsin, Amerika Serikat (2014)
4.1.3 Metroseksual di Kota Medan
Memasuki pusat-pusat perbelanjaan dapat kita jumpai sejumlah gerai yang menyediakan pakaian khusus pria dalam berbagai model serta produk-produk perawatan tubuh bagi pria (yang umumnya diberi label for men). Produk-produk perawatan dan pelengkap penampilan bagi pria pun kita sudah tidak kalah lengkapnya dengan produk untuk wanita. Ini adalah sebagian dari observasi yang dapat kita saksikan dalam keseharian kita untuk menangkap keberadaan kalangan pria yang sangat memperhatikan penampilannya. Berikut daftar pusat-pusat perbelanjaan atau mall yang ada di Kota Medan.
1. Deli Park Mall Podomoro City, terletak di Medan Barat 2. Center Point Medan, terletak di Medan Timur
3. Sun Plaza, terletak di Medan Polonia
4. Manhattan Times Square, terletak di Medan Sunggal 5. Cambridge Citi Sqquare, terletak di Medan Petisah 6. Ring Road City Walks, terletak di Medan Selayang 7. Medan Focal Point Mall, terletak di Medan Selayang