• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Pria Metroseksual Terhadap Stereotip Feminin

Dalam dokumen (Studi Kasus di Kota Medan) (Halaman 112-118)

4.5 Stereotip Pria Metroseksual

4.5.2 Sikap Pria Metroseksual Terhadap Stereotip Feminin

Fenomena laki-laki metroseksual kian berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Kesehatan, fashion dan kosmetik merupakan hal yang sangat penting bagi para pria metroseksual. Memiliki sisi feminin dan sangat peduli terhadap penampilan luar seperti perawatan tubuh, sampai dengan berbagai macam kosmetik mulai untuk rambut, kulit, muka sampai dengan parfum merupakan hal yang sangat berbeda dengan pandangan mengenai citra laki-laki yang di yakini oleh masyarakat.

Adanya penilaian yang beranggapan bahwa kehadiran pria metroseksual menyalahi konstruksi maskulinitas yang mendefinisikan laki-laki secara ideal.

Perbedaan tersebut melahirkan stereotip atau pelabelan-pelabelan tertentu yang diperuntukkan untuk menjelaskan pria metroseksual. Dengan demikian, masyarakat tidak menyetujui bila para pria merawat diri dengan pergi ke salon dengan melakukan perawatan kuku, tangan, dan kaki, melakukan luluran, spa dan

Selain itu stereotip metroseksual juga didasarkan oleh pria metroseksual yang hobi memilih tempat untuk bersantai atau berkumpul dengan teman-temannya seperti kafé atau mall. Masyarakat tidak menyetujui bila para pria lebih suka menghabiskan waktunya di mall atau kafe. Pria diharapkan untuk bekerja dari pada menghabiskan waktu di mall atau kafe. Hal tersebut didasarkan pada harapan-harapan budaya pada diri pria.

Pada temuan data dalam penelitian ini, pria metroseksual memiliki pandangan yang tidak setuju atau menolak stereotip yang berdasarkan stigma yang dilabelkan kepada pria metroseksual, seperti ungkapan dikatai sebagai pria yang berkelainan atau memiliki disorientasi seksual tertentu. Bagi pria metroseksual stereotip atau juga stigma tersebut tidaklah bisa menjelaskan atau mendefinisikan pria metroseksual itu sendiri. Disorientasi seksual seperti homoseksual atau juga biseksual bagi pria metroseksual pada penelitian ini merupakan hal yang juga bertolak belakang dengan nilai-nilai yang berkembang di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh MR (25) kepada peneliti sebagai berikut:

“…Tidak lah, Stereotip itu saya rasa tidak mendasar. Pria metroseksual itu saya rasa tidak ada kaitan dengan orientasi seksual tertentu, karena bagi saya menjadi metroseksual, berarti kamu lebih peduli dengan kesehatan, kebersihan, perawatan, yang dimana itu bagus bagi diri ku. Hal disorientasi seksual juga bertentangan dengan nilai-nilai yang berkembang di Indonesia..”

(wawancara 22 juni 2020)

Hal yang lain juga diungkapkan oleh AL (32) kepada peneliti sebagai berikut:

“..Saya tidak sepaham dengan stereotip itu, kita bisa membuktikan kita pria yang normal tapi memiliki hasrat untuk memiliki penampilan yang bagus dengan semaksimal mungkin. Sehingga walaupun ada pria metroseksual yang ke gitu, saya rasa tidak bisa

di general kan, sehingga melahirkan tuduhan yang mendiskriminasi pria metroseksual..”(wawancara 20 maret 2020)

Selain stereotip diatas juga terdapat stereotip yang melabelkan pria metroseksual dengan sebutan pretty boy, yang dimana di gambarkan sebagai pria berpenampilan bersih, memiliki keinginan untuk terlihat sempurna dari kepala sehingga ujung kaki, dan sangat memperhatikan gaya hidup, pakaian, kulit dan wangi tubuh. Istilah pretty boy juga diartikan dengan laki-laki yang tampan (pesolek) dan memiliki karakteristik sifat yang lembut. Para informan sebagian memandang tidak setuju dengan adanya stereotip pretty boy, yang diarahkan kepada pria metroseksual. Hasil ini didasarkan bahwa pandangan mengenai stereotip pretty boy menurut informan memiliki kesan banci, yang dimana banyak diremehkan oleh sebagian masyarakat dan dianggap sebagai penyimpangan terhadap pria ideal (maskulinitas) yang dipercayai. Hal ini diungkapkan oleh AR (24) kepada peneliti sebagai berikut:

“.. Pandangan saya, tidak setuju dengan adanya stereotip pretty boy kepada pria metroseksual seperti saya, stereotip itu memiliki kesan seperti banci, itu saya rasa banyak dipahami masyarakat..”

(wawancara 25 maret 2020)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh MP (29) kepada peneliti sebagai berikut:

“…ya saya rasa tidak setuju jika dilabelkan seperti itu, pretty boy memiiki arti yang saya rasa kalau masyarakat memahaminya seperti ungkapan pria banci, saya rasa pria metroseksual bukanlah menggambarkan pria yang banci..”(wawancara 24 juli 2020)

Stereotip pretty boy, juga ada yang ditanggapi oleh sebagian informan yang memilih tidak masalah dengan adanya stereotip tersebut. Dari hasil penelitian, menurut informan bahwa bagi dirinya stereotip tersebut tidaklah akan

mengganggu dirinya untuk tetap tampil bening, bersih dalam hal perawatan dan penampilan. Seperti yang diungkapkan oleh RN (28) kepada peneliti sebagai berikut:

“.. emm mungkin tidak masalah bagi saya ya adanya stereotip tersebut, pemaknaan pretty boy mungkin dipahami masyarakat berbeda, saya malah melihat itu sebagai laki-laki yang sangat peduli dengan perawatan…”(wawancara 5 maret 2020)

Hal yang lain juga diungkapkan oleh NT (27) kepada peneliti sebagai berikut:

“.. Menurut saya, stereotip tersebut tidaklah mengganggu saya, karena laki-laki boleh saja menentukan model maskulinitas dia.

Stereotip itu bagi saya tidak merendahkan laki-laki dan tidak mengganggu saya untuk tetap tampil bening…”(wawancara 25 juni 2020)

Sikap pria metroseksual yang terakhir yaitu adanya stereotip pria feminin yang dilabelkan masyarakat kepada informan pada penelitian ini. Stereotip pria yang feminin ini tidak terlepas dari pria metroseksual yang mengadopsi nilai-nilai feminin dalam keseharian dirinya seperti melakukan perawatan, peduli dengan fashion, bersifat lembut, dan ada juga anggapan lebih sensitif dan perhatian.

Pria metroseksual yang menjadi informan keseluruhan memiliki sikap atau pandangan bahwa stereotip feminin yang terjadi bukanlah suatu hal yang berarti atau membawa dampak buruk bagi diri mereka. Pria metroseksual menganggap bahwa sikap yang mengadopsi nilai-nilai yang feminin yang merupakan ranah karakteristik perempuan bukanlah tidak sepenuhnya laki-laki untuk tidak boleh melakukannya. Seperti yang diungkapkan oleh informan IN (24) kepada peneliti sebagai berikut:

“.. Tidak ada yang salah jika melakukan perawatan dilabelkan sebagai laki-laki feminin, nilai-nilai feminin juga harus dimiliki oleh laki-laki seperti tadi kan merawat, bersikap lembut, ramah apalagi di dunia kerja itu diperlukan..”(wawancara 17 maret 2020)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh RY (24) kepada peneliti sebagai berikut:

“..Teman saya ada yang bilang gini, tapi bagi saya tidaklah masalah jika seorang laki-laki mengutamakan penampilan dalam kehidupannya. Bagi saya laki-laki juga harus sensitif, yang

mungkin banyak dibilang itu hanya dimiliki wanita..”(wawancara 24 juli 2020)

Sikap informan pria metroseksual terhadap stereotip seperti adanya anggapan yang menduga pria metroseksual memiliki disorientasi seksual atau perbedaan terhadap seksual, adanya stereotip yang dilabelkan sebagai pretty boy serta stereotip yang dilabelkan sebagai pria yang feminin. Dari hasil penelitian ini, bahwa sikap atau pandangan yang diungkapkan oleh informan, memiliki keanekaragaman yang dimana dapat diartikan bahwa pria metroseksual memiliki pandangan yang lebih cair dalam melihat stereotip yang disematkan kepada diri mereka.

Tabel 4.5.3

Hasil Wawancara Sikap Pria Metroseksual No. Nama

(Inisial)

Sikap Pria Metroseksual Terhadap Stereotip Pria Feminin

1. IN

“..Tidak ada yang salah jika melakukan perawatan dilabelkan sebagai laki-laki feminin, nilai-nilai feminin juga harus dimiliki oleh laki-laki seperti tadi kan merawat, bersikap lembut, ramah apalagi di dunia kerja itu diperlukan..”

2. AR

“.. Pandangan saya, tidak setuju dengan adanya stereotip pretty boy kepada pria metroseksual seperti saya, stereotip itu memiliki kesan seperti banci, itu saya rasa banyak dipahami masyarakat..”

3. RN

“.. emm mungkin tidak masalah bagi saya ya adanya stereotip tersebut, pemaknaan pretty boy mungkin dipahami masyarakat berbeda, saya malah melihat itu sebagai laki-laki yang sangat peduli dengan perawatan…”

4. RP “… Stereotip yang ada kalau dibilang pretty boy saya rasa, memiliki makna sangat negative ya jika masyarakat memiliki maksud yang berbeda, jadi saya tidak setuju dengan hal ini..”

5. MR

“… Tidak lah, Stereotip itu saya rasa tidak mendasar. Pria metroseksual itu saya rasa tidak ada kaitan dengan orientasi seksual tertentu, karena bagi saya menjadi metroseksual, berarti kamu lebih peduli dengan kesehatan, kebersihan, perawatan, yang dimana itu bagus bagi diri ku. Hal disorientasi seksual juga bertentangan dengan nilai-nilai

yang berkembang di Indonesia..”

6. RY

“.. Teman saya ada yang bilang gini, tapi bagi saya tidaklah masalah jika seorang laki-laki mengutamakan penampilan dalam kehidupannya. Bagi saya laki-laki juga harus sensitif, yang mungkin banyak dibilang itu hanya dimiliki wanita..”

7. IR “.. yaaa stereotip itu bisa kita sikapi lebih bijak aja,

Dalam dokumen (Studi Kasus di Kota Medan) (Halaman 112-118)