• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PENDIDIKAN TINGGI TAHUN 2012/2013 PROVINSI SULAWESI BARAT

Dalam dokumen PROFIL PENDIDIKAN TINGGI TAHUN 2013 (BUKU III) (Halaman 187-200)

A. Pendahuluan

Profil Pendidikan Tinggi (Profil PT) disusun berdasarkan pada Statistik Perguruan Tinggi Tahun 2012/2013 yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Sesuai dengan Statistik Perguruan Tinggi maka Profil PT juga menyajikan data pada tahun akademik 2012/2013.

Profil PT mengacu pada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) 2014. Berdasarkan visi tersebut terdapat layanan prima pendidikan nasional yang dijabarkan menjadi misi pendidikan 5K. Visi Kemdikbud 2014 adalah terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional. Indikator pendidikan yang dimaksud disesuaikan dengan Rencana Strategi (Renstra) Kemdikbud dalam rangka Pembangunan Pendidikan 2010-2014 yang terdiri dari tiga pilar kebijakan dan dijabarkan dalam misi pendidikan 5K. Misi pendidikan 5K terdiri atas 1) misi K-1 meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan, 2) misi K-2 memperluas keterjangkauan layanan pendidikan, 3) misi K-3 meningkatkan kualitas dan relevansi layanan pendidikan, 4) misi K-4 mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan, dan 5) misi K-5 menjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan.

Profil PT terdiri atas data dan indikator pendidikan. Data pendidikan dirinci

menjadi lima variabel, yaitu 1) lembaga pendidikan, 2) mahasiswa baru, 3) mahasiswa, 4) lulusan, dan 5) dosen. Kelima variabel data tersebut dirinci

menurut jenis lembaga dan status lembaga. Pendidikan tinggi terdiri dari lima

jenis lembaga PT, yaitu 1) universitas, 2) institut, 3) sekolah tinggi (ST), 4) akademi, dan 5) politeknik. Pendidikan tinggi dirinci menurut status lembaga,

yaitu negeri dan swasta.

Indikator pendidikan dirinci berdasarkan misi pendidikan 5K. Untuk misi K-1 adalah rasio mahasiswa per lembaga yang dirinci menurut jenis dan status lembaga PT. Untuk misi K-2 adalah daerah terjangkau yang dihitung dari daerah terjangkau mahasiswa dibagi dengan daerah terjangkau lembaga. Daerah yang bisa dijangkau oleh mahasiswa dalam jarak 25 km2. Oleh karena itu, daerah terjangkau lembaga adalah jari-jari dikalikan 25 km dan dikalikan dengan

kepadatan lembaga sedangkan daerah terjangkau mahasiswa adalah jari-jari dikalikan 25 km dan dikalikan dengan kepadatan penduduk 19-23 tahun. Untuk misi K-3 terdiri dari empat jenis, yaitu rasio mahasiswa per dosen, rasio dosen per lembaga, dan angka produktivitas menurut status jenis dan status, sedangkan kelayakan mengajar dosen menurut status lembaga. Untuk misi K-4 terdiri dari tiga jenis, yaitu perbedaan gender APK, indeks paritas gender APK, dan persentase mahasiswa swasta menurut jenis lembaga. Untuk misi K-5 terdiri dari dua jenis, yaitu APK dan AM ke PT menurut jenis lembaga. Dengan demikian, jumlah indikator yang digunakan untuk menilai kinerja pendidikan tinggi sebanyak 11 jenis indikator pendidikan.

Tabel 1

Standar untuk Melakukan Konversi

Oleh karena 11 indikator tersebut memiliki satuan yang berbeda maka diperlukan standar untuk menyatukan nilainya seperti disajikan pada Tabel 1. Hanya ada empat indikator yang menggunakan ideal, yaitu %DL, PG APK, IPG APK, dan AM PT. Berdasarkan perhitungan kinerja maka nilai kinerja menurut jenis disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Jenis Kinerja

B. Data Pendidikan

Gambaran umum pendidikan tinggi disajikan pada Tabel 3 yang dirinci menurut variabel pendidikan, status lembaga, dan jenis lembaga.

Berdasarkan Tabel 3, pada tahun 2012/2013 jumlah lembaga PT di provinsi Sulawesi Barat adalah 13 dengan rincian 2 universitas (15,38%), 8 sekolah tinggi (61,54%), dan 3 akademi (23,08%). Dengan demikian, jenis lembaga terbesar

No. Misi Indikator Standar Penjelasan

1 Misi K-1 Ketersediaan Rasio M/L 2.000 Asumsi

2 Mis K-2 Keterjangkauan DT 8.500 Asumsi

3 Misi K-3 Kualitas R-M/D 25 Asumsi

R-D/L 100 Asumsi

Aproduk 25 Asumsi

%DL 100 Ideal

4 Misi K-4 Kesetaraan PG APK 0 Ideal

IPG APK 1 Ideal

%MhsSwt 75 Asumsi

5 Misi K-5 Kepastian APK 30 Asumsi

AM PT 100 Ideal

No. Jenis Kinerja 1 Paripurna 2 Utama 3 Madya 4 Pratama 5 Kurang 80.00-84.99 kurang dari 80.00 Nilai 95.00 ke atas 90.00-94.99 85.00-89.99

adalah sekolah tinggi dan terkecil adalah akademi. Untuk status lembaga di provinsi Sulawesi Barat belum ada lembaga negeri hanya ada lembaga swasta dengan jumlah 2 universitas, 8 sekolah tinggi, dan 3 akademi. Dengan demikian, jenis status lembaga swasta terbesar adalah sekolah tinggi dan terkecil adalah universitas.

Tabel 3

Gambaran Umum Pendidikan Tinggi Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Sumber: Statistik PT 2012/2013, PDSP

Grafik 1

Jumlah Lembaga Menurut Jenis dan Status Lembaga Perguruan Tinggi Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Jumlah mahasiswa baru PT di provinsi Sulawesi Barat sebesar 3.236 orang semua berada di swasta. Bila dilihat menurut jenis lembaga, jumlah mahasiswa baru universitas yang terbesar sebesar 2.026 orang atau 62,61% dan terkecil pada akademi sebesar 216 orang atau 6,67% semua ada di lembaga swasta. Dengan demikian, dominasi mahasiswa baru, dapat dikatakan bahwa universitas masih menjadi idola banyak orang ketika melanjutkan ke PT.

Grafik 2

Jumlah Mahasiswa Baru dan Mahasiswa PT Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Jumlah mahasiswa PT provinsi Sulawesi Barat sebanyak 17.982 orang semua berada di PT swasta. Bila dilihat menurut jenis lembaga, jumlah mahasiswa terbesar di universitas sebanyak 10.285 orang atau 57,20% dan terkecil di akademi sebanyak 521 orang atau 2,90%. Dengan demikian, dominasi mahasiswa pada universitas.

Grafik 3

Jumlah Lulusan dan Dosen PT Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Jumlah lulusan PT provinsi Sulawesi Barat sebanyak 2.085 orang semua berada pada PT swasta. Bila dilihat per jenis lembaga maka lulusan terbanyak juga pada universitas sebesar 1.305 orang atau 62,59% dan terkecil pada akademi sebesar 140 orang atau 6,71%. Dengan demikian, dominasi lulusan juga pada universitas.

Jumlah dosen PT provinsi Sulawesi Barat sebanyak 580 orang semua berada pada PT swasta. Bila dilihat per jenis lembaga, jumlah dosen terbanyak juga pada universitas sebesar 340 orang atau 58,62% dan terkecil pada akademi sebesar 53 orang atau 9,14%. Dengan demikian, dominasi dosen terdapat juga pada universitas.

Secara rinci, pembangunan pendidikan di setiap jenis dan status lembaga PT tidak sama. Oleh karena itu, dilakukan penjabaran pada setiap jenis variabel pendidikan, seperti lembaga, mahasiswa baru, mahasiswa, lulusan, dan dosen. 1. Lembaga

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lembaga adalah sekolah atau tempat belajar pada tingkat pendidikan tinggi.

Jumlah PT provinsi Sulawesi Barat sebanyak 13 lembaga dengan rincian semua dengan status lembaga, bila dirinci menurut jenis lembaga maka terdapat 2 universitas atau 15,38%, 8 sekolah tinggi atau 61,54%, 3 akademi atau 23,08%. 2. Mahasiswa Baru

Mahasiswa baru adalah pendaftar pada pendidikan tinggi yang telah lulus dalam seleksi ujian masuk ke perguruan tinggi. Mahasiswa baru dirinci menurut tiga jenis program, yaitu S-0 atau diploma, S-1 atau sarjana, S-2 dan S-3 atau pascasarjana. Mahasiswa baru juga dirinci menurut jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan.

Tabel 4

Jumlah Mahasiswa Baru menurut Jenjang Program, Status Lembaga, dan Jenis Kelamin, Perguruan Tinggi

Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Sumber: Statistik PT 2012/2013, PDSP

Tabel 4 merupakan jumlah mahasiswa baru PT provinsi Sulawesi Barat sebanyak 3.236 orang, bila dirinci menurut lima jenjang program tersebut yang terbanyak diterima menjadi mahasiswa baru pada program S-1 sebesar 2.661 orang atau 82,23%, sebaliknya, yang masuk program profesi yang terkecil sebesar 14 orang atau 0,43% Hal ini menunjukkan minat untuk masuk ke program profesi masih sangat kecil jika dibandingkan dengan program lainnya.

No. Jenjang Program Laki2 % Perempuan % Jumlah %

1 S-0 59 10,52 502 89,48 561 17,41 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 59 10,52 502 89,48 561 17,41 2 S-1 1.403 52,72 1.258 47,28 2.661 82,59 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 1.403 52,72 1.258 47,28 2.661 82,59 3 S-2 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -4 S-3 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -5 Profesi 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -6 Jumlah 1.462 45,38 1.760 54,62 3.222 100,00 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 1.462 45,38 1.760 54,62 3.222 100,00

Berdasarkan jenis kelamin, proporsi mahasiswa baru laki-laki terbesar pada program S-1 sebesar 52,72% atau 1.403 orang, jika dibandingkan dengan perempuan sebesar 47,28% atau 1.258 orang. Jumlah mahasiswa baru laki-laki terkecil pada program S-0 sebesar 10,52% atau 59 orang jika dibandingkan dengan perempuan sebesar 89,48% atau 502 orang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa makin tinggi jenjang pendidikan laki-laki ternyata makin banyak bersekolah di PT. Sebaliknya, makin rendah jenjang pendidikan makin banyak perempuan bersekolah di PT. Hal ini berarti minat perempuan melanjutkan ke jenjang yang paling tinggi ternyata lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki.

3. Mahasiswa

Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar pada jenjang pendidikan tinggi. Mahasiswa dirinci menurut empat jenis program, yaitu S-0 atau diploma, S-1 atau sarjana, S-2 dan S-3 atau pascasarjana. Mahasiswa juga dirinci menurut jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan.

Tabel 5 menunjukkan jumlah mahasiswa PT provinsi Sulawesi Barat sebesar 17.982 orang, bila dirinci menurut lima jenjang program, mahasiswa yang terbanyak pada jenjang S-1 sebesar 14.789 orang atau 82,24% yang semuanya berada di PT swasta. Jumlah mahasiswa terkecil adalah pada jenjang profesi sebanyak 74 orang atau 0,41% dengan rincian di laki-laki sebesar 30 orang atau 40,54% dan perempuan sebesar 44 orang atau 59,46%. Hal ini berarti minat melanjutkan ke jenjang yang paling tinggi atau S-3 ternyata masih sangat kecil.

Tabel 5

Jumlah Mahasiswa menurut Jenjang Program, Status Lembaga, dan Jenis Kelamin serta Penduduk Usia 19-23 tahun menurut Jenis Kelamin

Perguruan Tinggi, Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Sumber: Statistik PT 2012/2013, PDSP dan Proyeksi BPS

No. Jenjang Program Laki2 % Perempuan % Jumlah %

1 S-0 330 10,58 2.789 89,42 3.119 17,42 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 330 10,58 2.789 89,42 3.119 17,42 2 S-1 7.801 52,75 6.988 47,25 14.789 82,58 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 7.801 52,75 6.988 47,25 14.789 82,58 3 S-2 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -4 S-3 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -5 Profesi 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -6 Jumlah 8.131 45,40 9.777 54,60 17.908 100,00 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 8.131 45,40 9.777 54,60 17.908 100,00 7 Penduduk 19-23 th 49.483 49,40 50.687 50,60 100.170

Berdasarkan jenis kelamin, proporsi mahasiswa laki-laki terbesar pada jenjang S-1 sebanyak 52,75% atau 7.801 orang jika dibandingkan dengan perempuan sebanyak 47,25% atau 6.988 orang. Proporsi mahasiswa laki-laki terkecil pada jenjang S-0 sebanyak 10,58% atau 330 orang dan lebih kecil jika dibandingkan dengan perempuan sebanyak 89,42% atau 2.789 orang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa makin tinggi jenjang pendidikan laki-laki ternyata makin banyak bersekolah di PT. Sebaliknya, makin rendah jenjang pendidikan makin banyak perempuan bersekolah di PT. Hal ini berarti kesempatan perempuan bersekolah di jenjang yang paling tinggi ternyata lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki.

Dilihat dari penduduk usia PT maka penduduk usia 19-23 tahun provinsi Sulawesi Barat sebesar 100.170 orang dengan rincian laki-laki sebesar 49.483 atau 49,40 % lebih kecil daripada perempuan sebesar 50.687 orang atau 50,60 %. 4. Lulusan

Lulusan adalah mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliahnya berdasarkan pada hasil ujian dan paper/tesis/disertasi yang disiapkan pada suatu jenjang pendidikan tinggi. Lulusan dapat dirinci menurut empat program, yaitu S-0, S-1, S-2, dan S-3. Lulusan S-0 juga dirinci menurut Diploma 1, Diploma 2, Diploma 3, dan Diploma 4. Lulusan Diploma 1 dengan masa kuliah selama 1 tahun, Diploma 2 selama 2 tahun, Diploma 3 selama 3 tahun, dan Diploma 4 selama 4 tahun. Lulusan S-1 dengan masa kuliah selama 4 tahun sedangkan lulusan S-2 dan S-3 selama 2 tahun.

Tabel 6

Jumlah Lulusan menurut Jenjang Program, Status Lembaga, dan Jenis Kelamin Perguruan Tinggi, Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Sumber: Statistik PT 2012/2013, PDSP

No. Jenjang Program Laki2 % Perempuan % Jumlah %

1 S-0 38 10,50 324 89,50 362 17,43 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 38 10,50 324 89,50 362 17,43 2 S-1 905 52,77 810 47,23 1.715 82,57 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 905 52,77 810 47,23 1.715 82,57 3 S-2 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -4 S-3 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -5 Profesi 0 - 0 - 0 -a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 0 - 0 -6 Jumlah 943 45,40 1.134 54,60 2.077 100,00 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 943 45,40 1.134 54,60 2.077 100,00

Tabel 6 merupakan jumlah lulusan PT provinsi Sulawesi Barat sebanyak 2.085 orang, dari kelima jenjang program tersebut, jumlah lulusan yang terbanyak pada jenjang S-1 sebesar 1.715 orang atau 82,25%. Jumlah lulusan terkecil adalah pada jenjang profesi pada PT sebanyak 8 orang atau 0,38%. Hal ini berarti sejalan dengan jumlah mahasiswa maka lulusan di jenjang yang paling tinggi ternyata masih sangat kecil.

Berdasarkan jenis kelamin, proporsi lulusan laki-laki terbesar pada jenjang S-1 sebesar 52,77 % atau 905 orang, jika dibandingkan dengan perempuan sebesar 47,23% atau 810 orang. Proporsi lulusan laki-laki terkecil pada program S-0 sebesar 10,50% atau 38 orang, jika dibandingkan dengan lulusan perempuan sebesar 89,50% atau 324 orang. Hal ini berarti seperti halnya mahasiswa maka lulusan perempuan di jenjang yang paling tinggi ternyata juga lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki.

5. Dosen

Dosen adalah tenaga pengajar pada perguruan tinggi. Dosen dapat dikategorikan sebagai dosen tetap dan tidak tetap. Dosen juga dirinci menurut enam tingkat pendidikan yang pernah diikuti, yaitu <S-1, S-1/D-4, S-2, S-3, spesialis, dan profesi menurut status kepegawaian.

Berdasarkan Tabel 7, jumlah dosen PT di provinsi Sulawesi Barat sebanyak 580 orang, dari keenam tingkat pendidikan tersebut, dosen yang terbanyak adalah lulusan S-1/D-4 sebesar 389 orang atau 67,07% semuanya berada di Pt Swasta, Proporsi dosen terkecil adalah lulusan profesi sebanyak 0,17% atau 1 orang. Dengan demikian, sebagian besar dosen belum memiliki ijazah sesuai dengan ketentuan kelayakan mengajar, yaitu S-2 dan yang lebih tinggi.

Tabel 7

Jumlah Dosen menurut Pendidikan Tertinggi, Status Lembaga, dan Status Kepegawaian Perguruan Tinggi, Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Sumber: Statistik PT 2012/2013, PDSP 1 < S-1 0 - 6 100,00 6 1,03 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 6 100,00 6 1,03 2 S-1/D-4 245 62,98 144 37,02 389 67,07 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 245 62,98 144 37,02 389 67,07 3 S-2 138 80,70 33 19,30 171 29,48 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 138 80,70 33 19,30 171 29,48 4 S-3 1 100,00 0 0,00 1 0,17 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 1 100,00 0 0,00 1 0,17 5 Spesialis 2 16,67 10 83,33 12 2,07 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 2 16,67 10 83,33 12 2,07 6 Profesi 0 - 1 100,00 1 0,17 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 0 - 1 100,00 1 0,17 7 Jumlah 386 66,55 194 33,45 580 100,00 a. Negeri 0 - 0 - 0 -b. Swasta 386 66,55 194 33,45 580 100,00 Jumlah %

No. Pendidikan Tertinggi Tetap

L+P %

Tidak Tetap

Dosen layak mengajar adalah tenaga pengajar yang memiliki ijazah tertinggi S-2 dan yang lebih tinggi. Dosen layak mengajar di program diploma dan S-1 adalah dosen lulusan S-2 dan yang lebih tinggi sedangkan dosen layak mengajar di program pascasarjana adalah dosen lulusan S-3. Oleh karena keterbatasan data yang dimiliki maka dosen layak dimaksud adalah dosen yang memiliki ijazah S-2 dan yang lebih tinggi. Dosen dirinci menurut layak mengajar dan tidak layak mengajar serta menurut status kepegawaian.

Tabel 8

Jumlah Dosen menurut Jenis Kelayakan Mengajar, Status Lembaga, dan Status Kepegawaian Perguruan Tinggi, Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Sumber: Statistik PT 2012/2013, PDSP

Tabel 8 menunjukan jumlah dosen layak mengajar sebesar 185 orang atau 31,90% lebih kecil jika dibandingkan dengan tidak layak mengajar sebesar 395 orang atau 68,10%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dosen layak di provinsi sulawesi barat sangat rendah terutama untuk dosen tetap. Oleh karena itu, peningkatan kelayakan dosen mengajar di provinsi tersebut sangat diperlukan. C. Analisis Indikator Pendidikan Tinggi

Indikator pendidikan merupakan salah satu dari sejumlah faktor yang sangat penting dalam upaya mengetahui tercapainya tujuan sistem pendidikan nasional. Indikator pendidikan dapat digunakan sebagai peringatan awal terhadap permasalahan pendidikan yang ada di lapangan.

Indikator pendidikan disusun untuk mengetahui kinerja suatu daerah dengan mendasarkan pada data kuantitatif pendidikan. Kinerja pendidikan diukur dengan menggunakan misi pendidikan 5K. Misi pendidikan 5K terdiri dari 1) misi K-1 meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan, 2) misi K-2 memperluas keterjangkauan layanan pendidikan, 3) misi K-3 meningkatkan kualitas dan relevansi layanan pendidikan, 4) misi K-4 mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan, dan 5) misi K-5 menjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan. Penggabungan kelima misi pendidikan tersebut menghasilkan kinerja program pendidikan.

Berdasarkan kelima misi pendidikan tersebut, disusun enam jenis komposit indikator, yaitu 1) ketersediaan layanan, 2) keterjangkauan layanan, 3) kualitas

layanan, 4) kesetaraan layanan, 5) kepastian layanan, dan 6) kinerja program pendidikan. Analisis misi K-1 digunakan untuk mengukur ketersediaan layanan pendidikan pada suatu daerah. Analisis misi K-2 digunakan untuk mengukur keterjangkauan layanan pendidikan pada suatu daerah. Analisis misi K-3 digunakan untuk mengukur kualitas layanan pendidikan pada suatu daerah. Analisis misi K-4 digunakan untuk mengukur kesetaraan layanan pendidikan. Analisis misi K-5 digunakan untuk mengukur kepastian memperoleh layanan pendidikan. Kinerja program pendidikan untuk mengukur sejauh mana ketercapaian program pembangunan yang telah dilakukan pada tahun berjalan. 1. Ketersediaan Layanan Pendidikan: Misi K-1

Berdasarkan Rencana Strategi Pembangunan Pendidikan tahun 2010-2014, diperlukan indikator pendidikan yang dapat menilai kemajuan pendidikan, termasuk kemajuan program pembangunan PT. Indikator ketersediaan layanan PT digunakan rasio mahasiswa per lembaga. Indikator keterjangkauan layanan PT digunakan daerah terjangkau. Indikator kualitas layanan PT digunakan empat jenis indikator, yaitu rasio mahasiswa per dosen, rasio dosen per lembaga, angka produktivitas, dan kelayakan dosen mengajar. Indikator kesetaraan layanan Pendidikan digunakan tiga jenis indikator, yaitu PG APK, IPG APK, dan persentase mahasiswa swasta. Indikator kepastian layanan pendidikan digunakan dua jenis indikator, yaitu APK dan AM ke PT.

Tabel 9

Indikator Ketersediaan Layanan Pendidikan Misi K-1 Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Rasio mahasiswa per lembaga menggambarkan kepadatan mahasiswa pada suatu lembaga baik untuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, maupun politeknik. Semakin besar nilainya berarti semakin padat mahasiswa yang ada pada lembaga tersebut. Berdasarkan Tabel 9 dan Grafik 4, rasio mahasiswa per lembaga sebesar 1.383 yang semuanya berada di lembaga swasta. Bila dirinci menurut jenis lembaga maka PT terpadat pada universitas sebesar 5.143 dan terjarang pada akademi sebesar 174.

Grafik 4

Ketersediaan Layanan Pendidikan Misi K-1 Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

2. Keterjangkauan Layanan Pendidikan: Misi K-2

Untuk melihat keterjangkauan layanan maka digunakan indikator kepadatan lembaga dan kepadatan penduduk usia PT dengan daerah terjangkau lembaga dan mahasiswa. Daerah terjangkau dihitung dari jarak 25 km2 dengan rincian daerah terjangkau mahasiswa dibagi dengan daerah terjangkau lembaga. Bila nilainya tinggi maka keterjangkauan makin luas, bila nilainya rendah maka keterjangkauannya makin kecil. Oleh karena itu, makin tinggi nilainya berarti makin baik karena jangkauannya makin luas.

Tabel 10

Indikator Keterjangkauan Layanan Pendidikan Misi K-2 Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Berdasarkan Tabel 10, kepadatan lembaga hanya sebesar 0,0008 lembaga per km2 sedangkan kepadatan penduduk usia 19-23 sebesar 5,97 orang per km2.

Daerah terjangkau lembaga dalam radius 25 km2 sebesar 2,00 lembaga per km2

sedangkan daerah terjangkau mahasiswa sebesar 11.721 mahasiswa per km2.

Dengan demikian, daerah terjangkau sebesar 5.861 mahasiswa per km2.

3. Kualitas Layanan Pendidikan: Misi K-3

Analisis indikator peningkatan mutu dan relevansi pendidikan digunakan untuk mengukur mutu pendidikan suatu daerah. Peningkatan mutu bisa dilakukan melalui proses belajar mengajar yang efektif dan ditunjang oleh sumber daya, sarana/prasarana serta biaya yang memadai. Proses belajar yang bermutu akan menghasilkan lulusan yang mampu mengikuti perkembangan ilmu

dan teknologi. Sejalan dengan ketersediaan layanan maka peningkatan mutu untuk semua program pendidikan tinggi juga dilaksanakan.

Berdasarkan Rencana Strategi Pembangunan Pendidikan 2010-2014 dan kualitas layanan pendidikan maka indikator pendidikan yang digunakan untuk pendidikan tinggi dapat dilihat dari tiga jenis, yaitu mahasiswa, dosen, dan lembaga. Berdasarkan ketiga jenis strategi tersebut maka dijabarkan menjadi empat indikator, yaitu 1) rasio mahasiswa per dosen (R-M/D), 2) rasio dosen per lembaga (R-D/L), 3) angka produktivitas (APro), dan 4) persentase dosen layak (%DL). Indikator 1, 2, dan 4 dilihat dosen, dan indikator 3 dilihat dari mahasiswa.

Tabel 11

Indikator Kualitas Layanan Pendidikan Misi K-3 Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Tabel 11 (lanjutan)

Indikator Kualitas Layanan Pendidikan Misi K-3 Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Grafik 5

Rasio Mahasiswa per Dosen menurut Jenis Lembaga Perguruan Tinggi Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

No. Indikator Universitas Institut ST Akademi Politeknik Rata2

1 Rasio Mahasiswa per Dosen 30 - 38 10 - 31

a. Negeri - - - - -

-b. Swasta 30 - 38 10 - 31

2 Rasio Dosen per Lembaga 170 - 23 18 - 45

a. Negeri - - - - -

-b. Swasta 170 - 23 18 - 45

3 Angka Produktivitas 12,69 - 8,92 26,87 - 11,59 a. Negeri - - - - -

-b. Swasta 12,69 - 8,92 26,87 - 11,59 No. Indikator Laki2 Perempuan Rata2 PG IPG 4 Angka Produktivitas 11,60 11,60 11,59 0,00 1,00 a. S-0 11,52 11,62 11,61 -0,10 1,01 b. S-1 11,60 11,59 11,60 0,01 1,00 c. S-2 - - - - -d. S-3 - - - - -e. Negeri - - - - -f. Swasta 11,60 11,60 11,59 0,00 1,00 5 Kelayakan Mengajar Dosen Rata-rata Rata-rata 141 36,53 44 22,68 31,90 a. Negeri 0 - 13,06 -b. Swasta 141 36,53 44 22,68 31,90

Rasio mahasiswa per dosen menggambarkan layanan dosen terhadap mahasiswa baik untuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, maupun politeknik. Rasio ini diperlukan untuk mengetahui efektivitas belajar mengajar. Semakin tinggi nilainya berarti semakin banyak mahasiswa yang dilayani oleh dosen atau dosen makin kurang. Berdasarkan Tabel 11 dan Grafik 5 dapat diketahui efektivitas belajar mengajar di PT provinsi Sulawesi Barat di mana rata-rata seorang dosen melayani 31 mahasiswa, setelah dirinci menurut lembaga ternyata sekolah tinggi yang terbesar yaitu melayani 38 mahasiswa jauh lebih tinggi dibanding dengan akademi dan universitas.

Rasio dosen per lembaga menggambarkan ketersediaan dosen pada setiap lembaga dan diterapkan baik di universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, maupun politeknik. Semakin banyak jumlah dosen di setiap lembaga maka diharapkan proses belajar mengajar akan makin meningkat dan pada akhirnya peningkatan mutu pendidikan bisa tercapai.

Berdasarkan Tabel 11 dan Grafik 6 rasio dosen per lembaga PT provinsi Sulawesi Barat sebesar 45 dengan rincian dengan jenis lembaga maka universitas yang tertinggi sebesar 170 dan terkecil pada akademi sebesar 18. Besarnya rasio ini menunjukkan banyaknya dosen di suatu lembaga.

Grafik 6

Rasio Dosen per Lembaga menurut Jenis Lembaga Perguruan Tinggi Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Berdasarkan data yang terjaring dari kuesioner pendataan PT, bisa diketahui bagaimana kondisi mutu PT. Indikator mutu mahasiswa ditunjukkan dari angka produktivitas mahasiswa yang telah lulus setelah menempuhkan mata kuliah sesuai dengan kredit semester yang harus ditempuh. Angka produktivitas bervariasi untuk setiap program, misalnya untuk S-0 sekitar 30% karena tiga tahun sedangkan S-1 sekitar 25% karena selama 4 tahun.

Berdasarkan Tabel 11 dan Grafik 7, angka produktivitas PT sebesar 11,59% yang hanya ada di swasta karena di provinsi ini belum ada PT negeri. Bila dilihat menurut jenis lembaga maka universitas yang terbesar sebesar 12,69 dan terkecil pada ST sebesar 8,92.

Grafik 7

Angka Produktivitas menurut Status Lembaga dan Jenis Program Perguruan Tinggi, Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

Bila dibandingkan antara laki-laki dan perempuan pada Tabel 11 lanjutan maka angka produktivitas laki-laki sebesar 11,59% lebih kecil daripada perempuan sebesar 11,60%. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan gender sebesar -0,01% dengan indeks paritas gender 1,0 yang berarti setara. Angka produktivitas antara S-0, S-1, S-2, dan S-3 cukup bervariasi, yang tertinggi pada program S-0 sebesar 11,62% namun yang terendah pada S-1 sebesar 11,59%. Perbedaan gender program S-0 sebesar -0,10% dengan indeks paritas gender sebesar 1,01 berarti mendekati setara sedangkan program S-1 dengan perbedaan gender sebesar 0,01% dan indeks paritas gender sebesar 1,00 berarti setara.

Indikator mutu lainnya adalah persentase dosen PT layak mengajar. Ketentuan dosen PT yang layak mengajar adalah lulusan S-2 ke atas dan diterapkan baik di universitas, institut, sekolah tinggi, akademi maupun di politeknik. Persentase dosen layak mengajar idealnya 100% berarti tidak ada dosen yang berijazah kurang dari S-1.

Berdasarkan Tabel 11 lanjutan dan Grafik 8, persentase dosen layak mengajar PT sebesar 31,90%. Dosen tetap layak mengajar sebesar 36,53% lebih baik jika dibandingkan dengan dosen tidak tetap sebesar 22,68%.

Grafik 8

Persentase Dosen Layak menurut Status Kepegawaian dan Status Lembaga Perguruan Tinggi, Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012/2013

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00

Rata2 Negeri Swasta S-0 S-1 S-2 S-3

11,60 0,00 11,60 11,52 11,60 0,00 0,00 11,60 0,00 11,60 11,62 11,59 0,00 0,00 11,59 0,00 11,59 11,61 11,60 0,00 0,00

Dalam dokumen PROFIL PENDIDIKAN TINGGI TAHUN 2013 (BUKU III) (Halaman 187-200)