• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Tumor Jaringan Lunak

2.2.6 Prognosis

Hasil akhir dan prognosis tumor jaringan lunak bergantung pada beberapa, seringnya faktor-faktor yang saling terkait, adapun diantaranya : ukuran tumor, kedalaman letak tumor, tipe histologist, tingkatan klinis, ploidi (genom) DNA, proliferasi sel, mutasi gen kanker. (Shidham & Hackbarth, 2017)

Letak tumor sangat berpengaruh dalam menentukan strategi pengobatan dan prognosis. Ketika letaknya berada di ekstremitas yang lebih proksimal, prognosisnya akan makin buruk. Biasanya, lesi tumor pada ekstremitas bagian distal bisa lebih mudah diobat dari lesi pada bagian proksimal. Pengobatan tersebut dapat dilakukan pada stage awal karena lesi distal cenderung berukuran lebih kecil dari tumor yang berada di ekstremitas proksimal. (Lawrence et al., 1983)

Secara umum, pasien dengan rhabdomiosarkoma dan sarkoma sinovial memiliki prognosis lebih buruk dari pasien dengan fibrosarkoma dan liposarkoma. Akan tetapi, fibrosarkoma yang berdiferensiasi baik (grade 1) memiliki prognosis yang sama dengan tumor-tumor lain dengan grade yang lebih buruk, seperti rhabdomiosarkoma, sarkoma sinovial, dan angiosarkoma. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa tipe histologis lebih tepat digunakan untuk menentukan tingkat diferensiasi daripada untuk menentukan prognosis.

(Lawrence et al., 1983)

Dalam penentuan prognosis tumor jaringan lunak, dapat dikatakan bahwa usia tidak menjadi faktor besar. Beberapa studi menuliskan bahwa pasien penderita fibrosarkoma yang berusia sangat muda memiliki prognosis yang lebih baik dari yang lebih tua. Bila ditinjau dalam kelompok usia pediatri sendiri, hal ini tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi bila sarcoma pada anak-anak dibandingkan dengan pasien yang berusia diatas dua puluh, dapat dilihat jelas perbedaan, yaitu prognosis pada usia pediatri lebih baik dari usia dewasa.

(Lawrence et al., 1983)

21

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang

Terdapat berbagai prosedur diagnostik yang dapat digunakan para ahli bedah dan ahli klinis untuk mengevaluasi tumor jaringan lunak. Sampling tumor ini ditentukan dari gambaran klinis dan karakteristik imaging-nya. Tumor yang terlihat jinak biasanya langsung dieksisi, namun pada tumor yang terlihat memiliki potensial menjadi ganas biasanya diperiksa lebih lanjut sebelum dioperasi. Pemeriksaan penunjang yang utamanya digunakan adalah core needle biopsy dan fine needle aspiration (FNA). (Lindberg, 2019)

Apabila hasil pemeriksaan penunjang tidak dapat di tentukan, maka pemeriksaan dilanjutkan pada biopsi open surgical dengan frozen section evaluation atau bahkan resection menyeluruh. Sebaliknya, bila hasil diagnosis dapat ditentukan, tindakan akan dilanjutkan dengan eksisi lokal, resection luas, atau kemoterapi adjuvant dengan/tanpa radiasi yang diberikan sebelum operasi.

(Lindberg, 2019)

Adapun untuk mendiagnosis tumor jaringan lunak, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut (Shidham, 2017):

(a) Pemeriksaan laboratorium

Spesifik untuk tumor jaringan ikat, ada analisis sitogenetik dan histologi.

(b) Pemeriksaan imaging

Selama lebih dari dua decade terakhir, pemeriksaan imaging (contoh, plain radiography, computed tomography [CT], magnetic resonance imaging [MRI], bone scintigraphy, and positron emission tomography [PET]) telah banyak berkontribusi dalam manajemen tumor jaringan lunak. Meski tidak bisa memberi diagnosis spesifik (kecuali lipoma atau liposarkoma), pemeriksaan-pemeriksaan ini sangat berguna untuk menentukan letak anatomis, luas penyebaran tumor, dan keterlibatan struktur-struktur penting.

(c) Diagnosis jaringan

Mendiagnosis jaringan sedari awal adalah komponen paling penting dalam pengobatan tumor jaringan lunak. Semua tumor jaringan yang lebih besar dari 5 cm, termasuk pembesaran atau lesi gejala tumor, harus

dibiopsi. Beberapa teknik biopsi yang ada, antara lain: fine needle aspiration biopsy (FNAB), core needle biopsy, incisional biopsy, dan excisional biopsy.

(d) Gambaran histologi

Penentuan tingkatan klinis tumor berdasarkan gambaran histologinya menjadi salah satu langkah penting dalam menyusun strategi pengobatan. Ada macam-macam sistem tingkatan; mereka umumnya berdasarikan evaluasi karakteristik histomorfologi, termasuk cellularity, cellular pleomorphism, aktivitas mitosis, dan nekrosis, serta kategori histologinya. Adapun tingkatan yang lebih sederhana, yaitu sistem tiga tingkatan (grade 1, 2, 3) yang ditentukan berdasarkan diferensiasi sel tumor.

2.2.7.1 Core Needle Biopsy

Pada core needle biopsy, sampel tumor yang dibutuhkan dalam pemeriksaan cukup sedikit saja, sama seperti FNAB, namun lebih populer karena memiliki risiko morbiditas rendah terhadap pasien. Sangat baik dilakukan pada kasus lesi superficial atau lesi visceral yang dalam dengan bantuan CT. (Lindberg, 2019)

2.2.7.2 Fine-Needle Aspiration Biopsy

Pemeriksaan fine needle aspiration biopsy (FNAB) memiliki keunggulan yang sama dengan core needle biopsy, hanya saja hasil aspirasi sampel, terlepas dari keberhasilannya menentukan diagnosis, dapat digunakan selanjutnya menjadi bahan untuk evaluasi histologist dan immunohistochemical tumor jaringan lunak. (Lindberg, 2019)

23

Gambar 2.4 (a) Mengambil jaringan dengan core needle biopsy (gambar low magnification) menjadi populer dikarenakan metodenya mudah dan memiliki morbiditas rendah bila dibanding dengan open surgical biopsy. (b) Gambaran sel yang diambil melalui fine-needle aspiration biopsy (FNAB) yang juga dapat digunakan untuk penegakan diagnosis. Akan tetapi, jaringan sering terlihat pecah dan sedikit, seperti yang terlihat pada gambar (high magnification).

Sumber: buku ajar Diagnostic Pathology: Soft Tissue Tumors, edisi ke-3, hal. 20, oleh M. R.

Lindberg.

2.2.7.3 Open Surgical Biopsy

Sampel kecil dari tumor atau lesi cukup untuk melakukan open surgical biopsy, tapi umumnya dapat menghasilkan jaringan yang lebih utuh dari core needle biopsy ataupun FNAB. Jaringan dapat dipakai untuk konsultasi frozen section lebih lanjut. Open surgical biopsy memiliki risiko lebih kecil mengalami kesalahan diagnosis disbanding dengan core needle biopsy dan FNAB.

(Lindberg, 2019)

2.2.7.4 Local Excision

Local excision berfokus pada pengangkatan tumor dan tidak menyentuh jaringan lunak yang sehat disekelilingnya. Metode ini menghasilkan keseluruh tumor dapat digunakan untuk evaluasi histologist. Local excision adalah

a b

penanganan standar untuk tumor jinak superficial yang tidak memiliki potensial menjadi agresif. (Lindberg, 2019)

2.2.7.5 Resection with Margins

Resection with margins diperlukan sebagai standar pemeriksaan untuk tumor jinak yang agresif secara lokal, seperti fibromatosis, tumor-tumor subfasial, dan sarkoma. Terdapat dua cara dalam metode ini, yaitu wide resection dan radical resection. (Lindberg, 2019)

Gambar 2.5 (atas) menunjukkan perbedaan porsi pengambilan resection antara metode wide dan radical.

Sumber:https://boneandspine.com/wp-content/uploads/2017/05/surgical-excision1.jpg

Tujuan ahli bedah saat operasi adalah mengangkat keseluruhan sel-sel kanker beserta jaringan sehat yang mengelilinginya. Pada kasus tumor intraabdominal, intratorakal, atau retroperitoneal, pengangkatan dapat merangkup seluruh organ atau otot yang mengandung tumor. (Lindberg, 2019) Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh sel kanker telah diangkat. Selama operasi, atau sesudahnya, ahli patologis akan memeriksa jaringan sehat yang ikut diambil ini; proses inilah yang disebut dengan resection of margins. Apabila sel kanker ditemukan dalam jaringan sehat atau normal ini, maka hal ini akan memengaruhi keputusan dalam penanganan selanjutnya, termasuk pembedahan tambahan atau terapi radiasi.

Resections of margins sendiri adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan setelah kemoterapi dan/atau terapi radiasi. (Breastcancer.org, 2018)

25

Gambar 2.6 (atas) menunjukan hasil wide resection.

Sumber:https://www.breastcancer.org/Images/BCO_Pathology_Pg12_A_Image_tcm8-334308.jpg

2.2.7.6 Frozen Section

Konsultasi frozen section sebelum tindakan operatif diperlukan untuk penegakan diagnosis yang lebih jelas agar bisa menentukan langkah penanganan selanjutnya atau malah menghentikan terapi neoadjuvant lainnya. Akan tetapi, diagnosis spesifik tumor jaringan lunak tidak dapat ditentukan dengan evaluasi frozen section. Informasi paling membantu dari pemeriksaan ini adalah menentukan kualitas tumor, apakah jinak (benign), low-grade malignant, atau high-grade malignant. Penggunaan jinak dalam identifikasi frozen section hanya dipakai apabila kejinakan sudah dipastikan benar, karena banyak low-grade sarcomas salah dimengerti dengan tumor jinak. Bila diagnosis tidak bisa diambil setelah frozen section, dan interpretasi tidak dapat disediakan oleh ahli patologis, maka metode paraffin-embedded (permanent) sections dapat menjadi pilihan selanjutnya. (Lindberg, 2019)

2.2.7.7 Immunohistochemistry (IHC)

Merupakan test tambahan menggunakan antibodi. Direkomendasi sebagai cara penegakan diagnosis (mendukung maupun menyingkirkan diagnosis pembanding). Panel skrining 5-stain yang umum digunakan : Keratin, S100 protein, SMA, desmin, CD34. Pada sampel jaringan yang sedikit, hasil negative

belum tentu merefleksikan status keseluruhan tumor. Contoh : myogenin pada rhabdomyosarkoma embrional dapat terwarna hanya setengahnya. (Lindberg, 2019)

Gambar 2.7 (atas) Imunohistokemistri harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada sampel yang sedikit karena dapat menyebkan ekpresi antigen tidak lengkap. (contoh: myogenin, yang dipanah pada gambar, tidak terlihat pada biopsi).

Sumber: buku ajar Diagnostic Pathology: Soft Tissue Tumors, edisi ke-3, hal. 23, oleh M. R.

Lindberg.

2.2.8 Tata Laksana

Operasi pengangkatan lokal adalah penatalaksanaan yang tepat untuk tumor jaringan lunak yang jinak. Meskipun begitu, ada berbagai macam pilihan pengobatan, termasuk operasi itu sendiri, atau dikombinasi dengan terapi radiasi atau kemoterapi, yang dapat dipertimbangkan untuk menata laksana tumor primer jaringan lunak yang sifatnya ganas, maupun pengulangannya. (Shidham, 2017)

Dalam pengambilan terapi pembedahan, garis pembeda antara sarkoma yang tidak dapat dioperasi dan yang dapat diangkat terkadang dapat terlihat kabur.

Tujuan dari eksisi bedah kuratif adalah eksisi en bloc tumor dan setiap saluran biopsi dengan margin negatif dari jaringan normal sedalam 1-2 cm. Eksisi lokal luas dengan margin jaringan normal di sekitar tumor adalah tujuan bedah saat ini.

Kelayakan reseksi ekstremitas tergantung pada morbiditas yang terkait dengan menghilangkan struktur di sekitarnya. Ini dapat mempertimbangkan bahwa

27

margin 1 sampai 2 mm fasia, tendon, atau tulang berbeda dari margin serupa dari jaringan lemak atau jaringan ikat yang serupa. Reseksi dan rekonstruksi arteri besar dapat dilakukan dengan hasil onkologis yang serupa, dan reseksi dan rekonstruksi tulang utama dapat dilakukan dengan endoprosthes yang dapat ditanam. Reseksi saraf mayor seperti siatik dapat diatasi hingga pasien dapat belajar berjalan secara mandiri dengan menggunakan orthosis kaki pergelangan kaki dan transfer tendon. Tumor residual mikroskopis kadang-kadang dapat dibiarkan di sepanjang pembuluh darah besar, saraf, atau tulang ketika reseksi tambahan dapat mengakibatkan hilangnya fungsi ekstremitas yang signifikan.

(Steen & Stephenson, 2008)

Kemoterapi memiliki hasil yang tidak cukup baik dalam mengobati sarkoma.

Peran kemoterapi adjuvan masih kontroversial karena tidak adanya bukti tingkat 1 yang meyakinkan bahwa kemoterapi dapat meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan. Berkenaan dengan kemoterapi, keputusan paling penting yang dihadapi ahli bedah yang mencoba reseksi kuratif sarkoma jaringan lunak primer adalah penggunaan terapi neoadjuvant. Para pendukung kemoterapi neoadjuvant merasa bahwa respons sarkoma terhadap terapi neoadjuvan kadang-kadang dapat digunakan untuk memandu pengobatan lebih lanjut atau untuk prognosis. Tumor yang lebih kecil memiliki fraksi pertumbuhan yang lebih tinggi dan berpotensi lebih kemosensitif. Semakin besar tumor, semakin besar kemungkinan klon chemoresistant akan muncul secara spontan. (Steen &

Stephenson, 2008)

Radiasi dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk mengurangi kekambuhan sarkoma jaringan lunak. Dalam percobaan acak oleh National Cancer Institute, operasi ekstremitas saja memiliki tingkat kekambuhan 22%

dibandingkan dengan tingkat kekambuhan <5% pada pasien yang menerima radioterapi adjuvan. Radioterapi ajuvan belum terbukti meningkatkan OS atau mengurangi kejadian metastasis jauh. Pedoman National Comprehensive Cancer Network saat ini merekomendasikan terapi radiasi untuk sarkoma ekstremitas untuk lesi tingkat tinggi, lesi tingkat rendah> 5 cm, atau margin positif. Pasien dengan reexcisions juga harus menerima radioterapi adjuvan. Sarkoma tingkat

rendah superfisial <5 cm yang direseksi dengan margin lebar tidak memerlukan radioterapi adjuvan. (Steen & Stephenson, 2008)

Secara historis, pembedahan dan radiasi untuk sarkoma jaringan lunak telah dilaporkan memiliki 5-tahun survival bebas penyakit (DFS/disease-free survival) sebesar 45% dan overall survival (OS) selama 5 tahun sebesar 60%. Beberapa penelitian telah menunjukkan kecenderungan peningkatan DFS dan OS dengan penggunaan kemoterapi dan radiasi neoadjuvant. (Steen & Stephenson, 2008)

29

2.3 KERANGKA TEORI

Gambar 2.8 Kerangka teori

TUMOR

Struktur tumor terdiri dari dari sel neoplastik dan stroma.

Klasifikasi :

a. Berdasarkan sifat : jinak dan ganas b. Berdasarkan asal sel : epitel,

jaringan ikat, organ limfoid dan homopoietik paling umum adalah rhabdomyosarcoma (17,9%).

Faktor Risiko :

genetic, radiasi, limfedema kronis, bahan karsinogen dari lingkungan, infeksi, dan trauma.

bergantung pada ukuran, kedalaman, tipe histologi, tingkatan klinis, ploidi DNA, proliferasi sel, dan mutasi gen kanker.

Tata laksana :

tindakan operatif, dapat dikombinasi dengan terapi radiasi atau kemoterapi.

2.4 KERANGKA KONSEP

Gambar 2.9 Kerangka konsep

Karakteristik Pasien:

1. Umur

2. Jenis kelamin 3. Lokasi tumor

 Jinak

 Ganas

Gambaran Histologis WHO:

a. Adipocytic tumours b. Fibroblastic/myofib roblastic tumours c. So called

fibrohistiocytic tumours d. Smooth muscle

tumours e. Pericytic

(perivascular) tumours f. Skeletal muscle

tumours

g. Vascular tumours h. Chondro-osseus

tumours i. Tumours of

uncertain differentiations

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang bersifat deskriptif observasional untuk mengetahui karakteristik penderita tumor jaringan lunak di Rumah Sakit Advent Medan.

3.2 LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium patologi Rumah Sakit Umum Advent, Jl. Gatot Subroto Km 4.5, Medan.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh rekam medik dari pasien yang didiagnosis dengan Tumor Jaringan Lunak periode Januari 2016-Desember 2017.

3.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah diambil dari seluruh jumlah kasus soft tissue tumor pada laboratorium patologi

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling, yaitu sampel diambil dari seluruh populasi. Data penelitian ini diambil dari rekam medik, kemudian pasien-pasien yang sesuai dengan penelitian ini dikumpulkan, yaitu seluruh pasien yang didiagnosis menderita tumor jaringan lunak dari Januari 2016 hingga Desember 2017. Selanjutnya, kumpulan data tersebut ditabulasi, kemudian diklasifikasi sesuai dengan kerangka konsep.

3.5 DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional

Variabel Alat Ukur Cara Ukur Skala Ukur Hasil Ukur Tumor

Jaringan Ikat

Rekam medik Observasi Nominal -Jinak (Benign) -Ganas (Malignant) Umur Rekam medik Pencatatan Rasio

Jenis kelamin Rekam medik Pencatatan Nominal -Laki-laki -Perempuan Gambaran

Histologis

Rekam medik Observasi Nominal -adipocytic tumor -fibroblastic/ myofibroblastic

Peneliti melakukan pengolahan data pada penelitian ini dengan menggunakan statistik deskriptif. Maka dalam metode ini, pengolahan data dilakukan dengan cara menguraikan data dalam bentuk tabel sehingga memudahkan pemahaman dan interpretasi data. (Dahlan, 2014)

Adapun proses pengolahan akan melalui tahapan : pemeriksaan data (editing), klasifikasi (classifying), verifikasi (verifying), analisis (analyzing), dan pembuatan kesimpulan (concluding). Penguraian metode pengolahan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

33

1) Pemeriksaan Data (Editing)

Editing adalah meneliti data-data yang telah diperoleh, terutama dari kelengkapan jawaban, keterbacaan tulisan, kejelasan makna, kesesuaian dan relevansinya dengan data yang lain. (Achmadi & Narkubo, 2005) Dalam penelitian ini, peneliti melakukan proses pemeriksaan (editing) terhadap kelengkapan dan kebenaran data isian rekam medis yang diperoleh dari laboratorium histopatologi Rumah Sakit Advent Medan.

2) Klasifikasi (Classifying)

Classifying adalah proses pengelompokan semua data baik yang berasal dari hasil wawancara dengan subjek penelitian, pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan atau observasi. Seluruh data yang didapat tersebut dibaca dan ditelaah secara mendalam, kemudian digolongkan sesuai kebutuhan. (Moleong, 1993)

Pada penelitian yang peneliti lakukan, agar data yang diperoleh menjadi mudah dibaca dan dipahami, serta memberikan informasi objektif yang diperlukan, maka data-data tersebut akan diklasifikasi sesuai dengan klasifikasi tumor jaringan lunak (soft tissue tumor) menurut WHO 2017.

3) Verifikasi (Verifying)

Verifying adalah proses memeriksa data dan informasi yang telah didapat dari lapangan agar validitas data dapat diakui dan digunakan dalam penelitian. (Saudjana & Kusuma, 2002)

Kelanjutan dari penelitian ini adalah dilakukan pengonfirmasian data yang sudah diklasifikasi dengan data sumber rekam medis. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa data yang diperoleh benar-benar valid, tidak ada manipulasi, dan tidak ada kesalahan dalam pengumpulan data.

4) Analisis (Analyzing)

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data univariat. Analisis univariat (analisis deskriptif) bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian.

(Dahlan, 2014)

Data yang diperoleh setelah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program komputer sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita tumor jaringan lunak di laboratorium patologi Rumah Sakit Umum Advent Medan.

5) Kesimpulan (Concluding)

Kesimpulan sebagai langkah terakhir dalam proses pengolahan data nantinya akan menjadi sebuah data terkait dengan objek penelitian peneliti. Hal ini disebut dengan istilah concluding, yaitu kesimpulan atas proses pengolahan data yang terdiri dari empat proses sebelumnya:

pemeriksaan data (editing), klasifikasi (classifying), verifikasi (verifying), dan analisis (analyzing).

Pada bagian concluding inilah akan dapat peneliti paparkan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Data hasil akan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase karakteristik yang ditemukan selama penelitian tumor jaringan lunak pada laboratorium patologi Rumah Sakit Advent Medan periode Januari 2016 – Desember 2017.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

Pada penelitian ini, diperoleh 117 orang penderita tumor jaringan lunak yang didiagnosis secara histopatologi dari Laboratorium Patologi Anatomi Rumah Sakit Umum Advent Medan.

Penelitian ini menggunakan data rekam medik selama periode 1 Januari 2016 sampai 31 Desember 2017 dengan tujuan untuk mengetahui profil penderita tumor jaringan lunak. Hasil penelitian tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis tumor, lokasi tumor, dan tingkat keganasan tumor.

4.1.1. Distribusi tumor jaringan lunak berdasarkan jenis kelamin penderita Pada penelitian ini diketahui jumlah penderita tumor jaringan lunak lebih banyak berjenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 68 orang (58%). Sisanya berjenis kelamin pria, yaitu 49 orang (42%). Berikut adalah tabel distribusi penderita tumor jaringan lunak berdasarkan jenis kelamin penderita (Tabel 4.1):

Tabel 4.1 Distribusi Tumor Jaringan Lunak Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

Laki-Laki 49 41.88

Perempuan 68 58.12

Total 117 100

4.1.2. Distribusi tumor jaringan lunak berdasarkan usia penderita

Penelitian ini menggunakan pembagian usia menurut Depkes RI 2009 dan diperoleh hasil bahwa tumor jaringan lunak paling banyak ditemukan pada kelompok usia lansia awal (46-55 tahun), yaitu sebanyak 30 orang (25%). Diikuti terbanyak kedua dan ketiga oleh kelompok usia dewasa akhir (19%) dan dewasa awal (16%). Sebaliknya, tumor jaringan lunak paling sedikit ditemukan pada

kelompok usia balita, anak-anak, dan lansia akhir. Untuk data yang lebih mendetail, dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel 4.2):

Tabel 4.2 Distribusi Tumor Jaringan Lunak Berdasarkan Usia (Depkes RI 2009) Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)

Balita 0-5 2 1.70

Anak-Anak 5-11 4 3.41

Remaja Awal 12-16 11 9.41

Remaja Akhir 17-25 15 12.83

Dewasa Awal 26-35 19 16.23

Dewasa Akhir 36-45 23 19.66

Lansia Awal 46-55 30 25.65

Lansia Akhir 56-65 5 4.27

Manula >65 8 6.84

Total 117 100

4.1.3. Distribusi tumor jaringan lunak berdasarkan jenis tumor

Dari 117 sampel yang telah diteliti, ditemukan sebanyak 23 jenis tumor jaringan lunak di Laboratorium Patologi Anatomi Rumah Sakit Advent Medan.

Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 150 jenis tumor jaringan lunak yang telah diklasifikasi berdasarkan tipe histologinya (WHO 2017), yang kemudian untuk memudahkan, tumor-tumor tersebut dimasukkan ke dalam 9 grup besar, yaitu;

tumor adiposa, tumor vaskular, tumor perivaskular, tumor fibroblastik, tumor ototskeletal, tumor otot polos, tumor fibrohystiocytic, tumor chondro-osseous, dan tumor berdiferensiasi tidak jelas.

Pada penelitian kali ini, jenis tumor paling banyak ditemukan adalah Lipoma (grup tumor jinak adiposa), yakni sebanyak 46 orang (39%). Peringkat kedua diduduki oleh Fibrolipoma (tumor adiposa) dan Hemangioma (tumor vaskular), keduanya memiliki sama jumlah 10 orang (8.5%). Di tempat ketiga adalah Fibrosis Keloidal dengan penderita sebanyak 9 orang (7.7%). Data distribusi tumor jaringan lunak berdasarkan jenisnya dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel 4.3):

37

Tabel 4.3 Distribusi Tumor Jaringan Lunak Berdasarkan Jenis Tumor (WHO 2017)

Jenis Tumor Jumlah (n) Persentase (%)

Angiofribroma 1 0.85

Angiolipoma 1 0.85

Basosquamous Carcinoma 1 0.85

Dermatofibrosarcoma -Protuberans

6 5.13

Echondromatosis 1 0.85

Fibrolipoma 10 8.55

Myxofibrosarcoma 1 0.85

Neurofibroma 7 5.98

Non-Ossifying Fibroma 1 0.85

Osteochondroma 1 0.85

Papillary Intralymphatic -Angioendotheloma

1 0.85

Schwanomma Tumor 1 0.85

Tenosynovial G-Cell Tumor 2 1.70

Undifferentiated Sarcoma 1 0.85

Undiferrentiated Pleomorphic Sarcoma

1 0.85

Total 117 100

* Kasus terbanyak adalah Lipoma

4.1.4. Distribusi tumor jaringan lunak berdasarkan lokasi tumor

Penyebaran letak tumor pada tubuh penderita ditemukan hampir merata ke seluruh tubuh. Lokasi kepala & leher dan ekstremitas superior berjumlah sama, yaitu 31 orang (26.5%). Selanjutnya ada 29 orang (24.8%) pada batang tubuh dan sebanyak 26 orang (22%) pada ekstremitas inferior.

Data hasil dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel 4.4):

Tabel 4.4 Distribusi Tumor Jaringan Lunak Berdasarkan Lokasi Tumor

Lokasi Massa Tumor Jumlah (n) Persentase (%)

Kepala & Leher 31 26.50

Batang Tubuh 29 24.78

Ekstremitas Superior 31 26.50

Ekstremitas Inferior 26 22.22

Total 117 100

4.1.5. Distribusi tumor jaringan lunak berdasarkan tingkat keganasan Diteliti sesuai dengan klasifikasi WHO 2017, ditemukan bahwa tumor jinak memiliki persentase jauh lebih tinggi yaitu 89.7% dengan jumlah angka 105 penderita. Satu orang (0.85%) menderita papillary intralymphatic angioendothelioma, yang merupakan tumor yang berada pada tingkat intermediate. Sebelas orang (9.4%) memiliki tumor yang tergolong malignant/ganas. Berikut tabel distribusinya (Tabel 4.5):

Tabel 4.5 Distribusi Tumor Jaringan Lunak Bersadarkan Tingkat Keganasan

Tingkat Keganasan Jumlah (n) Persentase (%)

Benign 105 89.74

Intermediate 1 0.85

Malignant 11 9.41

Total 117 100

4.1.6. Distribusi tumor jinak jaringan lunak (benign)

Sebanyak 105 dari 117 sampel merupakan tumor jinak jaringan lunak, yang telah diidentifikasi ke dalam 16 jenis tumor. Dari keseluruhan sampel tumor jinak, tumor Lipoma adalah yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 46 orang (43.8%). Penjabarannya dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel 4.6):

39

Tabel 4.6 Distribusi Tumor Jinak Jaringan Lunak (Benign)

Jenis Tumor Jumlah (n) Persentase (%)

Angiofribroma 1 0.95

Angiolipoma 1 0.95

Echondromatosis 1 0.95

Fibrolipoma 10 9.52

Non-Ossifying Fibroma 1 0.95

Osteochondroma 1 0.95

Schwanomma Tumor 1 0.95

Tenosynovial G-Cell Tumor 2 1.90

Total 105 100

* Kasus terbanyak adalah Lipoma

4.1.7. Distribusi frekuensi Lipoma berdasarkan jenis kelamin penderita Jumlah penderita Lipoma pada sampel ada sebanyak 46 orang. Dari jumlah tersebut, penderita perempuan berjumlah 29 orang (63%) dan penderita laki-laki berjumlah 17 orang (37%). Tabel dapat dilihat sebagai berikut (Tabel 4.7):

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Lipoma Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

Laki-Laki 17 36.96

Perempuan 29 63.04

Total 46 100

4.1.8 Distribusi frekuensi Lipoma berdasarkan usia penderita

Dari seluruh sampel, terdapat 46 orang yang didiagnosis dengan Lipoma.

Sebanyak 15 orang (32.6%) ditemukan pada kelompok usia lansia awal (46-55).

Persentase yang cukup tinggi juga ditemukan pada usia dewasa awal (23.9%)

maupun dewasa akhir (23.9%). Untuk lebih jelas, hasil dapat diamati pada tabel berikut (Tabel 4.8):

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Lipoma Berdasarkan Usia (Depkes RI 2009) Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)

Balita 0-5 - -

Anak-Anak 5-11 - -

Remaja Awal 12-16 1 2.17

Remaja Akhir 17-25 2 4.35

Dewasa Awal 26-35 11 23.91

Dewasa Akhir 36-45 11 23.91

Lansia Awal 46-55 15 32.61*

Lansia Akhir 56-65 1 2.17

Manula >65 5 10.88

Total 46 100

* Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia lansia awal

4.1.9 Distribusi frekuensi Lipoma berdasarkan lokasi tumor

Pada penelitian ini, dari 46 orang penderita Lipoma; terdapat 16 orang (34.8%) yang tumornya berlokasi pada bagian batang tubuh, 12 orang pada kepala &

Pada penelitian ini, dari 46 orang penderita Lipoma; terdapat 16 orang (34.8%) yang tumornya berlokasi pada bagian batang tubuh, 12 orang pada kepala &

Dokumen terkait