• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

C. Saran

2. IKM

Governance.

b. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada IKM yang

tergabung dalam Koperasi Industri Batur Jaya berdasarkan setiap prinsip dan setiap item pernyataan

Berikut ini adalah hasil analisis dan pembahasan mengenai penerpaan prinsip Good Corporate Governance berdasarkan pada setiap prinsip dan setiap item pernyataan.

49 1) Prinsip Transparansi

Berikut adalah tabel penerapan Good Corporate Governance pada prinsip transparansi Tabel 5.7

Penerapan Good Corporate Governance Pada Prinsip Transparansi

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah

2 Laporan keuangan yang dibuat dalam bentuk laba rugi, neraca, perubahan modal, dan arus kas

6 1 6 15 2 30 3 3 9 45 Menerapkan

sebagian

50 Lanjutan Tabel 5.7

Penerapan Good Corporate Governance Pada Prinsip Transparansi

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah

4 Menjelaskan pola penggajian atau

Rata-rata skor penerapan prinsip transparansi

46 Menerapkan Sebagian

Berdasarkan tabel 5.7 skor rata-rata penerapan Good Corporate Governance pada prinsip transparansi sebesar 46 yang berarti IKM dikategorikan menerapkan sebagian. Kontribusi kesimpulan ini disebabkan adanya dua item pernyataan yang masuk kategori belum menerapkan, satu item yang dikategorikan menerapkan sebagian dan satu item permyataan yang masuk kategori sudah menerapkan. Secara lebih rinci prinsip transparansi akan dibahas dan dianalisis berdasarkan item pernyataan nomor 1 sampai dengan nomor 4, yaitu:

a) Item Pernyataan 1: Penyampaian laporan keuangan dan non keuangan kepada pemberi modal

Skor item pernyataan 1 pada prinsip transparansi sebesar 36 dan dikategorikan belum menerapkan yang bermakna bahwa IKM belum bersikap transparan dalam hal penyampaian laporan keuangan dan non keuangan. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 14 dari 24 responden memilih jawaban belum menerapkan. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya laporan keuangan dan non keuangan yang dilaporkan oleh pihak IKM kepada pemberi modal (Bank). Hal ini disebabkan karena tidak adanya tuntutan dari pemberi modal (bank) kepada IKM untuk melaporkan laporan keuangan dan non keuangan Selain itu, modal sebagian besar berasal dari pemilik.

Proses peminjaman yang dilakukan pemilik kepada pemberi modal hanya bersifat insidental yaitu hanya ketika IKM tersebut mengalami jumlah permintaan barang yang tinggi sehingga pemilik memutuskan untuk melakukan peminjaman dari pemberi modal (bank). Menurut pemilik IKM, hal terpenting bagi pemberi modal (bank) bukanlah melaporkan laporan keuangan dan non keuangan, melainkan

kemampuan IKM dalam mengembalikan pinjaman kepada pemberi modal secara tepat waktu sesuai dengan perjanjian yang dilakukan. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM belum memiliki kesadaran untuk bersikap transparan dalam hal melaporkan laporan keuangan dan non keuangan kepada publik atau pemberi modal (Bank).

b) Item Pernyataan 2: Laporan Keuangan yang dibuat dalam bentuk laba rugi, neraca, perubahan modal, arus kas

Berdasarkan tabel 5.7 skor untuk item pernyataan 2 pada prinsip transparansi sebesar 45 dan dikategorikan menerapkan sebagian yang berarti bahwa IKM baru menerapkan sebagian prinsip transparansi untuk item pernyataan 2. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 15 dari 24 responden memilih jawaban menerapkan sebagian karena laporan keuangan yang dibuat oleh IKM hanya bersifat sederhana dengan alasan laporan tersebut hanya dapat diakses oleh pihak internal saja, sehingga IKM tidak perlu lagi membuat laporan keuangan secara baku, lengkap dan laporan tersebut hanya dapat dimengerti oleh pihak internal IKM saja. Selain itu, alasan lainnya karena IKM tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam membuat laporan keuangan. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM belum memiliki sikap transparan kepada publik karena laporan keuangan yang dibuat hanya dimengerti dan digunakan oleh pihak internal IKM saja.

c) Item Pernyataan 3: Menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan kepada Koperasi Industri Batur Jaya

Berdasarkan tabel 5.7 skor yang diperoleh untuk item pernyataan 3 pada prinsip transparansi sebesar 34 dan dikategorikan belum menerapkan yang bermakna bahwa IKM belum menerapkan prinsip

transparansi untuk item pernyataan 3. Pernyataan tersebut didukung oleh jumlah responden yang sebagian besar yaitu 16 dari 24 responden yang menjawab belum menerapkan karena IKM tidak menyampaikan rencana pelaksanaan kepada pihak Koperasi (sebagai pemberi order).

Hal ini disebabkan karena tidak adanya tuntutan untuk anggota koperasi (IKM) untuk menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan. Laporan perencanaan kegiatan akan disampaikan ke Koperasi Industri Batur Jaya hanya ketika IKM mendapatkan job dari Koperasi. Kurangnya ke transparansian IKM kepada Koperasi menyebabkan Koperasi tidak memperoleh informasi mengenai rencana kegiatan yang sedang dijalankan oleh IKM. Dari pernyataan tersebut bisa disimpulkan bahwa IKM belum memiliki sikap transparan kepada koperasi karena tidak adanya job yang diberikan kepada IKM dan tidak adanya tuntutan dari Koperasi untuk melaporkan rencana pelaksanaan kegiatan.

d) Item Pernyataan 4: Menjelaskan pola penggajian atau pemberian honor kepada pegawai

Berdasarkan tabel 5.7 untuk item pernyataan 4 dikategorikan sudah menerapkan dengan skor 69. Hal ini berarti bahwa penerapan prinsip transparansi sudah diterapkan untuk item ini. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 21 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan. IKM sudah menganggap pentingnya transparansi dalam hal penyampaian informasi penggajian kepada karyawan, hal ini bertujuan agar karyawan bisa memperoleh informasi dengan jelas dan merasa nyaman dalam bekerja sehinga karyawan memiliki loyalitas yang tinggi. Keterbukaan informasi mengenai penggajian dalam IKM sangat beragam, salah satu contohnya adalah adanya informasi mengenai slip gaji yang terdiri dari

gaji pokok saja dan gaji pokok beserta tunjangan, pinjaman, dan potongan gaji. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM sudah memiliki kesadaran untuk bersikap terbuka atau transparan dalam hal penyampaian informasi penggajian kepada karyawan.

55 2) Prinsip Akuntabilitas

Berikut adalah tabel penerapan Good Corporate Governance pada prinsip akuntabilitas.

Tabel 5.8

Penerapan Good Corporate Governance pada Prinsip Akuntabilitas

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah 1 Terdapat Pemisahan

fungsi dalam

2 Terdapat rincian tugas dan

tanggungjawab bagi pegawai

16 1 16 1 2 2 7 3 21 39 Belum

Menerapkan

56 Lanjutan Tabel 5.8

Penerapan Good Corporate Governance pada Prinsip Akuntabilitas

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah 3 Terdapat Standard

Operating

4 Terdapat pedoman

perilaku dalam IKM 4 1 4 14 2 28 6 3 18 50 Menerapkan

Sebagian 5 Terdapat sistem

bonus dan sanksi bagi pegawai

3 1 3 9 2 18 12 3 36 57 Sudah

Menerapkan

Total Skor 250

Rata-rata skor penerapan prinsip akuntabilitas

50 Menerapkan Sebagian

Berdasarkan tabel 5.8 skor rata-rata penerapan Good Corporate Governance pada prinsip akuntabilitas sebesar 50. Hal ini memiliki makna bahwa IKM dikategorikan telah menerapkan sebagian prinsip akuntabilitas. Kontribusi kesimpulan ini disebabkan adanya dua item yang masuk kategori menerapkan sebagian, dua item pernyataan yang masuk kategori sudah menerapkan dan satu item pernyataan masuk kategori belum menerapkan. Secara lebih rinci prinsip akuntabilitas akan dibahas dan dianalisis berdasarkan item pernyataan nomor 1 sampai dengan nomor 5, yaitu:

a) Item pernyataan 1: Terdapat pemisahan fungsi dalam IKM

Skor yang diperoleh untuk item pernyataan 1 sebesar 47 dan dikategorikan menerapkan sebagian. Hal ini berarti bahwa prinsip akuntabilitas baru diterapkan sebagian kecil pada item pernyataan ini.

Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 13 dari 24 responden memilih jawaban menerapkan sebagian dikarenakan pemisahan fungsi tugas hanya untuk tukang bubut dan tukang cor yang membutuhkan skill atau keahlian khusus. Selain tukang cor dan bubut, karyawan bekerja secara fleksibel. Pemilik IKM menganggap bahwa dengan melakukan pemisahan fungsi tugas seperti bagian keuangan dan sekretaris akan menambah biaya. Selain itu IKM belum membutuhkan karyawan khusus untuk menangani bagian keuangan dan pemasaran karena pemilik merasa masih bisa menghandle pekerjaan tersebut.

Pernyataan ini didukung dengan hasil wawancara dengan Bpk Mustofa Fanani, pemilik Adi Jaya Mandiri

“Di sini tidak ada bagian keuangan dan pemasaran mbak, ya disini saya dan istri yang menghandle bagian pemasaran dan bagian keuangan, ya usaha saya masih kecil-kecilan jadi saya rasa belum membutuhkan bagian keuangan dan pemasaran dan jika menambah bagian keuangan dan pemasaran akan menambah biaya yang banyak juga. Kalau untuk pemisahan bagian produksi saya hanya melakukan pemisahan fungsi untuk tukang bubut dan tukang cor karena mereka harus memiliki keahlian atau skill dalam menggunakan mesin tersebut dan pemisahan fungsi tugas ini bersifat tidak tertulis,”

Dapat disimpulkan bahwa IKM tidak sepenuhnya memiliki kesadaran mengenai kejelasan dalam pemisahan fungsi tugas karena bersifat tidak tertulis dan hanya berlaku untuk job tertentu.

b) Item pernyataan 2: Rincian tugas dan tanggungjawab pegawai Berdasarkan tabel 5.8 untuk item pernyataan 2 dikategorikan menerapkan sebagian kecil dengan skor sebesar 39 dan dikategorikan belum menerapkan. Hal ini berarti bahwa prinsip akuntabilitas belum diterapkan untuk item pernyataan ini. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 16 dari 24 responsen memilih jawaban belum menerapkan. Hal tersebut dikarenakan rincian tugas dan tanggungjawab bagi pegawai bersifat tidak tertulis dan hanya berupa arahan dan perintah dari pemilik IKM.

Pemilik IKM berpendapat bahwa tanpa adanya rincian tugas dan tanggungjawab secara tertulis karyawan sudah memahami dan mengerti tugas dan tanggungjawabnya. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM belum sepenuhnya memiliki kesadaran

dalam kejelasan rincian fungsi tugas karena pemisahan rincian tugas dan tanggung awab bersifat tidak tertulis.

c) Item pernyataan 3: Terdapat Standard Operating Procedure (SOP) atau tata cara pelaksanaan kegiatan dalam IKM.

Berdasarkan tabel 5.8 skor untuk item pernyataan 3 pada prinsip akuntabilitas sebesar 57 yang dikategorikan sudah menerapkan. Hal ini berarti bahwa penerapan prinsip akuntabilitas untuk item pernyataan ini sudah diterapkan. Pernyataan ini didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa sebanyak 14 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan. Hal tersebut disebabkan sudah adanya SOP (Standard Operating Procedure) tetapi bersifat tidak tertulis dan hanya didasarkan pada contoh dan arahan dari pemilik dan bukan berdasarkan ketentuan yang dibuat dan ditetapkan secara formal pada unit usaha. Berdasarkan pada pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa IKM belum memiliki kejelasan secara penuh mengenai adanya SOP (Standard Operating Procedure) pada IKM d) Item pernyataan 4: Terdapat pedoman perilaku bagi pegawai

Pada tabel 5.8 perolehan skor untuk item pernyataan 4 sebesar 50 dan dikategorikan menerapkan sebagian. Hal ini berarti bahwa penerapan prinsip akuntabilitas untuk item pernyataan 4 baru diterapkan sebagian. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa sebanyak 14 dari 24 responden memilih jawaban menerapkan sebagian. Hal tersebut dikarenakan

pedoman perilaku bagi karyawan bersifat tidak tertulis dan hanya bersifat lisan dari pemilik salah satu contohnya adalah aturan mengenai jam kerja karyawan. Alasan IKM tidak membuat prdoman perilaku secara tertulis karena pemilik IKM menganggap karyawan sudah memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi sehingga pemilik tidak perlu membuat pedoman perilaku secara tertulis. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan, bahwa IKM belum sepenuhnya memiliki kesadaran dalam hal kejelasan pedoman perilaku bagi pegawai karena pedoman tersebut bersifat tidak tertulis.

e) Item pernyataan 5: Terdapat sistem bonus dan sanksi bagi pegawai Skor untuk item pernyataan 5 yang ditunjukkan pada tabel 5.8 sebesar 57 dan dikategorikan sudah menerapkan yang diartikan bahwa penerapan prinsip akuntabiilitas sudah diterapkan untuk item pernyataan ini. Pada item pernyataan ini terdapat 2 pilihan jawaban yang berkontribusi dalam kategori penerapan prinsip akuntabilitas yaitu menerapkan sebagian besar dan sudah menerapkan. Pernyataan ini didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa sebanyak 2 dari 24 responden memilih jawaban menerapkan sebagian besar dan sebanyak 12 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan.

Hal tersebut dikarenakan sistem bonus yang diterapkan oleh IKM hanya berlaku untuk saat tertentu, misalnya pada saat hari raya, dan ketika IKM mengalami jumlah order yang banyak. Sanksi yang terdapat dalam IKM bersifat tidak tertulis, sanksi yang diberikan

hanya berupa teguran dari pemilik kepada karyawan, dengan alasan pegawai akan merasa tertekan dan terbebani jika terdapat sanksi secara tertulis sehingga menyebabkan pegawai tersebut keluar atau resign. Selanjutnya, jika karyawan keluar atau resign maka pemilik IKM mengalami kesulitan dalam mencari karyawan baru. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM belum memiliki kejelasan secara penuh terhadap asas akuntabilitas dalam hal pemberian bonus dan sanksi bagi pegawai.

62 3) Prinsip Responsibilitas

Berikut adalah tabel penerapan Good Corporate Governance pada prinsip responsibilitas.

Tabel 5.9

Penerapan Good Corporate Governance Pada Prinsip Responsibilitas

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah 1 Pelaksanaan kegiatan

usaha sesuai dengan

63 Lanjutan Tabel 5.9

Penerapan Good Corporate Governance Pada Prinsip Responsibilitas

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah

4 Penyetoran pajak sudah dilakukan tepat waktu

4 1 4 1 2 2 19 3 57 63 Sudah

Menerapkan 5 Ter Penyampaian SPT

sudah dilakukan

Rata-rata skor penerapan prinsip responsibilitas

48,2 Menerapkan Sebagian

Berdasarkan tabel 5.9 skor rata-rata penerapan Good Corporate Governance prinsip responsibilitas sebesar 48,2 yang berarti IKM dapat dikategorikan baru menerapkan sebagian. Kontribusi kesimpulan ini disebabkan dua item pernyataan yang masuk kategori belum menerapkan, satu item pernyataan yang masuk kategori menerapkan sebagian dan dua pernyataan masuk kategori sudah menerapkan. Secara lebih rinci prinsip responsibilitas akan dibahas dan dianalisis berdasarkan item pernyataan nomor 1 sampai dengan nomor 5, yaitu:

a) Item pernyataan 1: Pelaksanaan kegiatan usaha sesuai dengan rencana yang telah disetujui oleh Koperasi Industri Batur Jaya.

Skor untuk item pernyataan 1 sebesar 36 dan dikategorikan belum menerapkan yang berarti bahwa penerapan prinsip responsibilitas untuk item pernyataan ini belum diterapkan. Pernyataan tersebut didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 16 dari 24 responden memilih jawaban belum menerapkan dikarenakan tidak adanya persetujuan antara pihak IKM dan koperasi mengenai pelaporan pelaksanaan kegiatan dalam IKM. Hal tersebut juga disebabkan IKM dalam proses pendiriannya didirikan secara mandiri oleh pemilik tanpa adanya bantuan dari pihak Koperasi sehingga tidak adanya kewajiban bagi IKM untuk melakukan persetujuan mengenai pelaksanaan kegiatan usaha. Selain itu, Koperasi Industri Batur Jaya juga tidak menuntut para anggotanya (IKM) untuk melakukan persetujuan terlebih dahulu perihal pelaksanaan kegiatan usaha. Dapat

disimpulkan bahwa IKM memiliki sikap tanggungjawab dan tingkat kepedulian yang sangat rendah pada Koperasi karena IKM menganggap bahwa Koperasi tidak berperan dalam proses pendirian sehingga IKM tidak memiliki kewajiban untuk meminta persetujuan dengan Koperasi.

b) Item Pernyataan 2: Pengembalian pinjaman dilakukan secara tepat waktu sesuai dengan perijinan yang telah disepakati

Tabel 5.9 menunjukkan bahwa skor untuk item pernyataan 2 sebesar 51 dan dikategorikan menerapkan sebagian. Dapat diartikan bahwa prinsip responsibilitas untuk item pernyataan ini baru diterapkan sebagian. Dalam item pernyataan ini terdapat 2 pilihan jawaban yang berkontribusi yaitu menerapkan sebagian dan sudah menerapkan. Pernyataan ini didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa sebanyak 3 dari 24 responden memilih jawaban menerapkan sebagian dan sebanyak 12 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan. Hal tersebut, dikarenakan IKM sudah melakukan pengembalian pinjaman secara tepat waktu kepada pemberi modal (bank). Hal ini bertujuan agar hubungan kerjasama antara pemberi modal (bank) dan IKM dapat terjalin dengan baik.

Selain itu, agar IKM terhindar dari denda berupa bunga pinjaman yang dibebankan kepada IKM ketika mengalami keterlambatan pengembalian pinjaman. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa IKM sudah memiliki sikap tanggungjawab dan kepedulian

secara penuh kepada pemberi modal untuk melakukan pengembalian pinjam tepat waktu.

c) Item pernyataan 3: Laporan perkembangan usaha sudah disampaikan ke Koperasi Industri Batur Jaya .

Skor penerapan prinsip responsibilitas untuk item pernyataan 3 sebesar 28 dan dikategorikan belum menerapkan. Hal ini bermakna bahwa IKM belum menerapkan prinsip responsibilitas untuk item pernyataan ini. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 21 dari 24 responden memilih jawaban belum menerapkan. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya laporan perkembangan usaha yang disampaikan kepada Koperasi Industri Batur Jaya (sebagai wadah IKM). Pemilik IKM menganggap bahwa Koperasi Industri Batur Jaya tidak ikut berperan dalam proses pendirian IKM sehingga tidak adanya kewajiban bagi IKM untuk melakukan pelaporan mengenai perkembangan usaha. Selain itu, Koperasi Industri Batur Jaya tidak menuntut para anggotanya (IKM) untuk melakukan pelaporan perkembangan usaha. Dari pernyataan diatas bisa disimpulkan bahwa IKM memiliki sikap tanggungjawab dan tingkat kepedulian yang sangat rendah karena IKM menganggap bahwa Koperasi tidak berperan dalam proses pendirian sehingga IKM tidak memiliki kewajiban untuk memberikan laporan perkembangan usaha kepada Koperasi Industri Batur Jaya.

d) Item pernyataan 4: Penyetoran pajak sudah dilakukan tepat waktu Tabel 5.9 menunjukkan bahwa skor untuk item pernyataan ini sebesar 63 dan dikategorikan sudah menerapkan. Hal ini dapat dimaknai bahwa IKM sudah menerapkan prinsip responsibilitas dalam hal penyetoran pajak. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 19 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan. Hal tersebut dikarenakan IKM sudah melaporkan pajak secara tepat waktu. Pemilik IKM menyadari bahwa membayar pajak merupakan sebuah kontribusi wajib kepada negara. Dengan melakukan pembayaran pajak berarti Wajib Pajak (WP) memiliki kesadaran dan tanggungjawab untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Selanjutnya, pembayaran pajak harus dilakukan secara tepat waktu karena bagi Wajib Pajak (WP) yang terlambat membayar pajak akan dikenai denda administrasi bunga 2%. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa IKM sudah memiliki tanggungjawab sosial kepada negara dengan melakukan penyetoran pajak secara tepat waktu.

e) Item pernyataan 5: Penyetoran Pajak sudah dilakukan tepat waktu Skor untuk item pernyataan 5 pada prinsip responsibilitas sebesar 63 dan dikategorikan sudah menerapkan yang berarti responden sudah menerapkan prinsip responsibilitas untuk pernyataan ini. Hal ini juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 19 dari 24

responden memilih jawaban sudah menerapkan. Hal tersebut dikarenakan IKM sudah melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan) dengan tepat waktu. Disamping itu, SPT merupakan surat yang oleh Wajib Pajak (WP) digunakan untuk melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajak, jika Wajib Pajak tidak melakukan pelaporan SPT makan proses pembayaran pajak tidak dapat berjalan dengan semestinya. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM sudah memiliki sikap tanggungjawab kepada negara yaitu dalam hal melaporkan SPT tepat waktu.

69 4) Prinsip Independensi

Berikut adalah tabel penerapan Good Corporate Governance pada prinsip independensi.

Tabel 5.10

Penerapan Good Corporate Governance pada Prinsip Independensi

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah

70 Lanjutan Tabel 5.10

Penerapan Good Corporate Governance pada Prinsip Independensi

No Pernyataan

Pilihan Jawaban

Total Skor

(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan

Jumlah

Rata-rata skor penerapan prinsip independensi

67,25 Sudah Menerapkan

Berdasarkan tabel 5.10 skor rata-rata penerapan Good Corporate Governance pada prinsip independensi sebesar 67,25 yang berarti IKM dikategorikan sudah menerapkan prinsip independensi. Kontribusi kesimpulan ini disebabkan adanya empat pernyataan yang masuk kategori sudah menerapkan. Secara lebih rinci prinsip independensi akan dibahas dan dianalisis berdasarkan item pernyataan nomor 1 sampai dengan nomor 4, yaitu:

a) Item pernyataan 1: Terdapat ketentuan mengenai pemilihan pemasok atau distributor dalam IKM

Berdasarkan pada tabel 5.10, skor untuk item pernyataan 1 memperoleh skor tertinggi dari jumlah skor keempat item pernyataan yang ada dengan jumlah skor sebesar 71 dan dikategorikan sudah menerapkan. Hal ini membuktikan bahwa responden sudah menerapkan prinsip independensi dalam hal pemilihan pemasok dan distributor. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 23 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan Hal tersebut disebabkan responden sudah memiliki ketentuan mengenai pemilihan pemasok bahan baku. Ketentuan tersebut dinilai sangat penting karena menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Pemilihan pemasok bahan baku dalam IKM dipilih oleh pemilik melalui survei secara langsung pada pemasok bahan baku, hal ini disebabkan pemilik tidak ingin adanya campur tangan dari pihak manapun dalam menentukan bahan baku. Berdasarkan

hasil wawancara dan kuesioner dapat disimpulkan bahwa IKM sudah memiliki sikap independensi yang tinggi karena tidak adanya campur tangan dan pengaruh dari pihak manapun, Hal ini juga didukung oleh hasil wawancara dengan Ibu Desy, Marketing dari CV.Okabawes:

“Pemilihan pemasok bahan baku ditentukan oleh pak Arif (pemilik) sendiri mbak karena beliau ingin memastikan bahwa bahan baku yang digunakan memiliki kualitas yang baik dan nggak mau ada orang yang menangani proses pemilihan bahan baku.

Disini pak arif (pemilik) juga mencari bahan baku sampai luar kota , apa-apa dikerjakan sendiri oleh beliau”

b) Item pernyataan 2: Terdapat ketentuan mengenai pemilihan tenaga kerja dalam IKM

Tabel 5.10 menunjukkan skor untuk item pernyataan 2 sebesar 62 dan dikategorikan sudah menerapkan. Hal ini berarti bahwa, penerapan prinsip independensi untuk item pernyataan ini sudah diterapkan. Pernyataan ini didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 16 dari 24 responden memilih jawaban sudah menerapkan. Hal ini disebabkan sudah adanya ketentuan mengenai pemilihan tenaga kerja. Namun, beberapa responden dalam membuat ketentuan tersebut ada yang bersifat tertulis dan tidak tertulis.

Ketentuan tersebut digunakan dalam proses pemilihan tenaga kerja.

Pemilihan dan seleksi karyawan dilakukan secara langsung oleh

Pemilihan dan seleksi karyawan dilakukan secara langsung oleh

Dokumen terkait