BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif.
1. Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama, “Apakah IKM yang tergabung dalam Koperasi Industri Batur Jaya sudah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance?” yaitu dengan langkah-langkah seperti berikut:
a. Menentukan rentang skor tertinggi dan terendah penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance untuk setiap IKM dengan rumus:
Skor terendah = Jumlah item pernyataan (22) x bobot nilai terendah (1) Skor tertinggi = Jumlah item pernyataan (22) x bobot nilai tertinggi (3) Jadi, dalam penelitian ini skor tertinggi adalah 66 dan skor terendah adalah 22.
b. Menentukan rentang skala penerapan prinsip Good Corporate Governance untuk setiap IKM dengan rumus:
Rentang Skala = Skor tertinggi−Skor terendah 3
Rentang Skala =66−22 3
Rentang Skala = 44
3
=
14,67c. Menentukan rentang skor penerapan prinsip GCG untuk setiap IKM Tabel 3.2
Skor Penerapan Prinsip-prinsip GCG untuk setiap IKM
Skor Kategori
51,34-66 Sudah Menerapkan
36,67-51,33 Menerapkan Sebagian
22-36,66 Belum Menerapkan
d. Menghitung skor penerapan prinsip-prinsip GCG untuk setiap IKM yang diperoleh melalui kuesioner dengan pilihan jawaban belum menerapkan diberikan skor 1, menerapkan sebagian diberi skor 2, sudah menerapkan diberi skor 3.
e. Menghitung skor rata-rata jawaban penerapan prinsip-prinsip GCG secara keseluruhan untuk setiap IKM, dengan rumus:
Jumlah masing − masing skor setiap IKM Jumlah IKM
f. Melakukan analisis dengan melihat rata-rata jawaban dan skor penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance untuk setiap IKM yang akan disesuaikan atau dicocokkan dengan kategori penerapan prinsip-prinsip GCG (lihat tabel 3.2).
g. Setelah melakukan analisis dan penghitungan skor untuk setiap IKM maka langkah selanjutnya adalah menentukan rentang skala
penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance untuk setiap item pernyataan dengan rumus :
Rentang Skala = n(m−1)
m (Umar, Husein, 2007:164) Dimana:
n = jumlah sampel
dalam penelitian ini diketahui jumlah sampel (n) = 24 dan jumlah alternatif jawaban tiap item (m) = 3 maka rentang skala yang digunakan adalah:
Rentang Skala = 24(3−1)
3 = 16
h. Menentukan skor tertinggi dan terendah penerapan Good Corporate Governance untuk setiap item pernyataan dengan rumus :
Skor terendah = Jumlah sampel (24) x bobot nilai terendah (1) Skor tertinggi = Jumlah sampel (24) x bobot nilai tertinggi (3)
Jadi, dalam penelitian ini skor terendah adalah 24 dan skor tertinggi adalah 72.
i. Menentukan rentang skor penerapan setiap item pernyataan prinsip-prinsip GCG.
Tabel 3.3
Skor Penerapan Setiap Item Pernyataan Prinsip-prinsip GCG
Skor Kategori
56,01-72 Sudah Menerapkan Sebagian Besar
40,01-56,00 Menerapkan Sebagian
24- 40,00 Belum Menerapkan
j. Menghitung total skor penerapan GCG untuk setiap alternatif jawaban dengan rumus:
Total skor untuk setiap alternatif jawaban = Jumlah responden x Bobot nilai untuk masing-masing alternatif jawaban.
Untuk pilihan jawaban belum menerapkan memiliki bobot nilai 1, menerapkan sebagian memiliki bobot nilai 2, sudah menerapkan memiliki bobot nilai 3.
k. Menghitung total skor untuk setiap item pernyataan dengan cara menjumlahkan total skor yang didapatkan berdasarkan tiap alternatif jawaban
l. Menghitung rata-rata skor penerapan setiap prinsip GCG dengan rumus:
Total Skor Setiap Item Pernyataan Jumlah Pernyataan Pada Setiap Prinsip GCG
m. Melakukan analisis untuk setiap item pernyataan penerapan GCG dengan cara melihat total skor setiap item pernyataan kemudian dicocokkan dengan kategori penerapan setiap item pernyataan prinsip-prinsip GCG (lihat tabel 3.3)
n. Mendeskripsikan hasil analisis dari perhitungan skor dan kategori penerepan setiap item pernyataan prinsip GCGuntuk seluruh responden yang diperoleh dari hasil perhitungan kuesioner dan data hasil wawancara.
o. Melakukan penilaian secara keseluruhan penerapan prinsip-prinsip GCG berdasarkan hasil rata-rata skor yang sudah diperoleh setiap prinsip.
p. Menganalisis dan mendeskripsikan kategori penerapan GCG yang diperoleh dari rata-rata skor penerapan kelima prinsip GCG.
q. Melakukan penarikan kesimpulan dengan melihat skor tertinggi dan terendah berdasarkan rata –rata skor yang sudah diperoleh setiap prinsip.
2. Untuk menjawab permasalahan kedua “Apakah prinsip Good Corporate Governance mendukung keberlangsungan usaha pada IKM yang tergabung dalam Koperasi Industri Batur Jaya?” yaitu dengan langkah-langkah seperti berikut:
a. Melakukan wawancara dengan karyawan atau pemilik IKM di Batur, Klaten. Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah penerapan GCG mendukung keberlangsungan usaha pada IKM yang tergabung dalam Koperasi Industri Batur Jaya.
Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan prinsip-prinsip GCG (transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, keadilan dan kesetaraan) yang mendukung keberlangsungan usaha (permodalan, sumber daya manusia, dan produksi).
b. Melakukan analisis dengan menilai hasil wawancara terkait prinsip GCG dengan keberlangsungan usaha dan kuesioner penerapan prinsip GCG yang sudah didapatkan. Analisis dilakukan dengan mengambil 1 contoh item pernyataan dari masing-masing prinsip GCG dalam kuesioner yang berhubungan dengan aspek keberlangsungan usaha. Data hasil
wawancara dipergunakan untuk melihat apakah dengan prinsip GCG mendukung keberlangsungan usaha pada IKM dan data kuesioner digunakan untuk melihat kategori penerapan GCG.
c. Melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis dengan judgement mendukung dan tidak mendukung keberlangsungan usaha.
Prinsip Good Corporate Governance dikatakan mendukung keberlangsu ngan usaha jika memiliki hubungan yang searah yaitu ketika tingkat penerapan GCG tinggi dan keberlangsungan usaha tinggi, tingkat penerapan GCG rendah dan keberlangsungan usaha juga rendah. Prinsip GCG dikatakan tidak mendukung keberlangsungan ketika tingkat penerapan GCG tinggi dan keberlangsungan usaha rendah begitupun sebaliknya.
37 BAB IV
GAMBARAN UMUM INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH
A. Latar Belakang Berdirinya Industri Kecil dan Menengah yang diteliti Berdirinya puluhan Industri Kecil dan Menengah dalam dunia bisnis dikarenakan pengaruh lingkungan yang merupakan kawasan industri pengecoran logam. Bisnis pengecoran logam merupakan bisnis yang menjanjikan karena memberikan keuntungan yang besar. Selain itu, keluarga juga dapat berpengaruh dalam kehadiran Industri Kecil dan Menengah dikarenakan oleh adanya pendidikan dini mengenai dunia industri pengecoran logam yang merupakan usaha turun temurun keluarganya kepada anak dan cucunya, sehingga dapat memperluas kawasan industri pengecoran logam.
B. Lokasi Usaha
Lokasi Industri Kecil dan Menengah yang diteliti tersebar pada satu kecamatan dan beberapa desa. Berikut adalah tabel alamat lokasi usaha Industri Kecil dan Menengah yang diteliti:
Tabel 4.1 Alamat Lokasi Industri Kecil dan Menengah
No Nama IKM Alamat
1 UD.Tridodo Jaya Jl. Raya Batur, Tegalrejo, Kec. Ceper, Klaten 2 CV.Aneka Metal
Industri Jl. Infitex No 11 Bakalan, Ceper, Klaten 3 PT.Bahama Lasakka Batur, Tegalrejo, Ceper, Klaten
4 CV.Putra Sari Logam Batur Baru RT 01/ RW 01 Tegalrejo,Ceper, Klaten
5 Indah Karya Jl. Raya Batur, Tegalrejo, Kec. Ceper, Klaten 6 CV.Okabawes Jl. Raya Jeblogan-Infitex Ceper,Klaten 7 Adi Jaya Mandiri Jl. Raya Batur, Tegalrejo, Kec. Ceper, Klaten 8 UD.Multi Karya
Logam Jl. Raya Batur, Tegalrejo, Kec. Ceper, Klaten
Lanjutan Tabel 4.1 Alamat Lokasi Industri Kecil dan Menengah
No Nama IKM Alamat
9 Makmur Batur, Tegalrejo, Ceper, Klaten 10 Sinar Baja Bakalan, Ceper, Klaten
11 Sahabat Teknik Jl. Raya Batur, Tegalrejo, Kec. Ceper, Klaten 12 Tosana Karya Batur, Tegalrejo, Ceper, Klaten
13 Wijaya Makmur Tegalsari, RT 39/ RW. 16, Ngawonggo, Ceper, Klaten
14 CV.Dlimas Logam
Jaya Jl. Karangwuni-Pedan KM 2, Dlimas, Ceper, Klaten
15 Pasir Emas Bakalan, Ceper, Klaten
16 Tunas Logam Jaya Batur Ceper, Tegalrejo, Ceper, Klaten 17 CV.Sudirman Batur Ceper, Tegalrejo, Ceper, Klaten
18 Adhi Mulya Jl. Raya Batur, Tegalrejo, Kec. Ceper, Klaten 19 CV.Jaya Warsa Gebang, Lemahireng, Pedan, Klaten
20 Bintang Jaya
Utama Jl. Raya Batur, Jeblogan, Ceper, Klaten 21 CV.Sinar Abadi
Logam Bakalan, Ceper, Klaten 22 CV.Mitra Karya
Utama Jl.Raya Batur, Jeblogan, Ceper, Klaten 23 PT.Aneka Adhi
Karya Logam
Jl. Raya Batur Ceper, Batur, Tegalrejo, Ceper, Klaten
24 Munaborru Batur, Tegalrejo, Ceper, Klaten Sumber: Data Diolah, 2019
C. Struktur Organisasi
Sebagian besar IKM yang diteliti tidak memiliki struktur organisasi secara resmi dan tertulis. Akan tetapi, struktur organisasi dalam IKM hanya bersifat sederhana. Bagian-bagian tersebut, yaitu pemilik dan/atau manager yang membawahi semua karyawan yang bekerja pada IKM tersebut.
D. Proses Pengecoran Logam pada IKM 1. Persiapan awal
Proses persiapan awal untuk melakukan pengecoran logam adalah mempersiapkan media untuk membuat cetakan yaitu pasir, tidak semua pasir bisa digunakan untuk membuat cetakan, hanya pasir yang memiliki kriteria-kriteria khusus yang dapat digunakan untuk membuat cetakan.
Adapun kriteria-kriteria khusus pasir yang dapat digunakan untuk membuat cetakan dalam pengecoran logam adalah:
a. Memiliki sifat mampu membuat bentuk sehingga mudah dalam pembuatan cetakan dengan kekuatan yang cocok sehingga tidak rusak jika dipindah-pindah letaknya dan mampu menahan logam cair saat di tuang ke rongga cetak.
b. Permeabilitas pasir yang cocok. permeabilitas berhubungan erat dengan keadaan permukaan coran. Pada prinsipnya, permeabilitas akan menentukan seberapa besar gas-gas dari cetakan atau logam cair mampu melepaskan diri selama waktu penuangan. Nilai permeabilitas yang rendah menyebabkan kulit coran lebih halus dan terjadilah gelembung udara terperangkap di dalam cetakan yang akan menghasilkan cacat permukaan pada coran.
c. Tahan terhadap temperatur logam cair selama penuangan, pasir dan bahan pengikat harus tahan api sehingga dinding dalam cetakan tidak rontok selama penuangan logam cair.
d. Memiliki kemampuan hancur yang baik, pada saat pembongkaran cetakan lebih mudah pasir tersebut hancur. Ketika media untuk percetakan sudah siap masukkan cetakan atau matress kedalam pasir lalu timbun matres tersebut kedalam pasir lalu dibuat rongga pada pasir tersebut, tujuan pembuatan rongga tersebut untuk memasukkan cairan logam kedalam cetakan.
2. Proses Pengecoran
Siapkan tungku dan bahan baku untuk pengecoran, peroses pemanasan tungku kurang lebih 3 jam, setelah tungku panas masukkan bahan baku kedalam tungku. Proses peleburan bahan baku kurang lebih 5 jam tergantung dari keras atau lunaknya bahan baku.
3. Proses Pencetakan
Setalah logam leleh secara sempurna langkah selanjutnya adalah penuangan logam cair kedalam cetakan dengan cara memasukkan logam cair ke dalam rongga atau lubang pada pasir tersebut.
4. Proses Pembongkaran Cetakan
Setelah logam cair dituang kedalam cetakan proses selanjutnya adalah pembongkaran cetakan. Proses pembongkaran cetakan dilakukan 1 hari setelah proses penuangan, hal ini bertujuan agar proses pemadatan sempurna.
5. Proses Pembersihan atau Shot Blast
Shot blast merupakan metode yang digunakan untuk membersihkan, memperkuat dan memoles logam, metode shot blas digunakan untuk
membersihkan pasir yang menempel pada benda cor.
6. Proses Pembubutan
Proses pembubutan adalah proses penyesuaian hasil cor dengan ukuran atau standar dari sebuah produk menggunakan mesin bubut. Proses pembubutan ini bertujuan untuk membuang kelebihan logam seperti sirip stau bagian yang menonjol pada bagian luar maupun di dalam rongga.
7. Proses Gerinda
Proses pengerindaan dilakuan ketika tidak ada mesin bubut yang cocok dengan bentuk coran, proses pengerindaan memiliki tujuan yang sama dengan proses pembubutan. Proses gerinda mengarah ke proses menghaluskan permukaan logam.
8. Proses Pengeboran
Untuk menghasilkan motif tertentu atau lubang maka dibutuhkan proses pengeboran, proses pengeboran ini dilakukan berdasarkan jenis produk yang dipesan.
9. Proses Pengelasan
Pengelasan dilakukam untuk menambal logam yang berlubang, cacat dan menyambung bagian yang patah.
10. Proses Pendempulan
Proses pendempulan bertujuan untuk memperbaiki bagian yang berongga-rongga kecil, yang nantinya bisa tertutupi agar permukaanya halus.
11. Proses Pengecatan
Proses pengecatan biasaya digunakan untuk memperbaiki atau melapisi benda
coran dari karat atau korosi.
12. Proses Pengepakan Barang
Ketika produk sudah jadi maka produk tersebut dapat dikirim ke konsumen.
43 BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Profil Responden
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 24 responden dari 30 responden yang dikirimi kuesioner dikarenakan tidak bersedia untuk menjadi responden. Pemilihan populasi sasaran IKM ditentukan oleh Koperasi Industri Batur Jaya, karena pihak Koperasi lebih mengetahui IKM yang memiliki potensi dalam memberikan kemudahan dalam memberikan informasi penelitian ini. Responden yang dipilih adalah pemilik IKM atau karyawan dalam IKM. Profil responden akan dipaparkan ke dalam beberapa poin, yaitu:
1. Nama responden, jabatan dan nama IKM
Berikut adalah tabel nama responden, jabatan dan nama IKM Tabel 5.1
Nama responden, jabatan dan nama IKM
Lanjutan Tabel 5.1
Nama responden, jabatan dan nama IKM
No Nama Responden Jabatan Nama IKM
1 Gian Gusdiyansyah Ramadani Manager CV. Mitra Karya Utama 2 Angga Pradifta pemilik CV. Sinar Abadi Logam
3 Didik Ahmadi Pemilik UD.Bintang Jaya Utama
Logam
4 Sumiyat Syamsyudin Pemilik Pasir Emas
5 Sri Hartuti Pemilik Tunas Logam Jaya
6 H.Sudirman Pemilik CV.Sudirman
7 Muh.Sangidu Pemilik Adhi Mulya
8 Hartanto Muslim Pemilik Sinar Baja
9 H.Muqorobin Pemilik Makmur
10 M.Zainal Pemilik UD.Multi Karya Logam
11 Agus Mustofa Fanani Pemilik Adi Jaya Mandiri 12 Desy Ita Suryani Marketing CV.Okabawes
13 H.A.Y. Sugiyono Pemilik Indah Karya
Sumber: Data diolah, 2019
Dari tabel 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian memiliki jabatan sebagai pemilik dan/atau direktur yakni sebanyak 15 responden. Selain itu, sebanyak 4 karyawan memiliki jabatan sebagai manager, administrasi, personalia, dan marketing.
2. Jenis Kelamin
Berikut adalah tabel jenis kelamin responden Tabel 5.2
Sumber: Data diolah, 2019
Dari tabel 5.2 diperoleh informasi bahwa sebanyak 20 responden yang menjadi objek penelitian ini sebagian besar memiliki jenis kelamin pria.
Selain itu, hanya terdapat 4 responden yang memiliki jenis kelamin wanita.
No Nama Responden Jabatan Nama IKM
14 Widodo Pemilik Wijaya Makmur
15 Rustami Mahmudi Pemilik Tosana Karya
16 Andi Yunanto Direktur
sekaligus pemilik CV. Jaya Warsa 17 Bayu Prasetyo Direktur
sekaligus pemilik CV. Putra Sari Logam 18 Erwan Heri Kusnadi Direktur
sekaligus pemilik
CV. Aneka Metal Industri
19 Widodo Miftah Pemilik UD. Tridodo Jaya
20 Nurul Rochmawati Administrasi CV. Dlimas Logam Jays
21 Asnawi Latif Direktur
sekaligus pemilik PT. Bahama Lasakka
22 Hartanto Muslim Pemilik Sinar Baja
23 Muhammad Najib Pemilik Munaborru
24 Rina Husniati Personalia PT. Aneka Adhilogam Karya
3. Usia
Berikut adalah tabel usia responden Tabel 5.3
Usia responden
No Usia Jumlah Responden
1 30-40 8
2 41-50 4
3 51-60 6
4 ≥ 61 6
Jumlah 24
Sumber: Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 5.3 bahwa sebanyak 8 responden yang menjadi objek penelitian ini sebagian besar berusia 30-40 tahun. Selain itu, hanya terdapat 4 responden yang berusia 41-50 tahun.
4. Pendidikan terakhir
Berikut adalah tabel pendidikan terakhir responden Tabel 5.4
Pendidikan terakhir responden
No Pendidikan Terakhir Jumlah Responden
1 SD 0
2 SMP 1
3 SMA 8
4 Diploma/ Sarjana 15
Jumlah 24
Sumber: Data diolah, 2019
Dari tabel 5.3 diperoleh informasi bahwa sebanyak 15 responden, sebagian besar memiliki jenjang pendidikan terakhir diploma/ sarjana. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki jenjang prndidikan yang tinggi.
B. Analisis Data dan Pembahasan
1. Rumusan masalah pertama “ Apakah IKM yang tergabung dengan Koperasi Industri Batur Jaya sudah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance?”
Berikut adalah hasil analisis dan pembahasan untuk menjawab rumusan masalah pertama yaitu:
a. Skor Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance untuk setiap IKM yang tergabung dengan Koperasi Industri Batur Jaya
Berikut ini adalah tabel skor penerapan prinsip good corporate governance pada IKM yang tergabung dengan Koperasi Industri Batur Jaya :
Tabel 5.5
Skor Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Pada IKM yang tergabung dengan Koperasi Industri Batur Jaya
No Nama IKM Skor Kategori
1 UD. Tridodo Jaya 44 Menerapkan Sebagian 2 CV. Aneka Metal Industri 50 Menerapkan Sebagian 3 PT. Bahama Lasakka 41 Menerapkan Sebagian 4 CV. Putra Sari Logam 52 Sudah Menerapkan
11 Sahabat Teknik 49 Menerapkan Sebagian
12 Munaborru 44 Menerapkan Sebagian
13 Tosana Karya 41 Menerapkan Sebagian
14 Wijaya Makmur 41 Merapkan Sebagian
15 CV. Dlimas Logam Jaya 50 Menerapkan Sebagian
16 Pasir Emas 47 Menerapkan Sebagian
Lanjutan Tabel 5.5
Skor Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Pada
IKM yang tergabung dengan Koperasi Industri Batur Jaya
No Nama IKM Skor Kategori
17 Tunas Logam Jaya 45 Menerapkan Sebagian
18 CV.Sudirman 40 Menerapkan Sebagian
19 Adhi Mulya 44 Menerapkan Sebagian
20 CV. Jaya Warsa 48 Menerapkan Sebagian 21 Bintang Jaya Utama 45 Menerapkan Sebagian 22 CV. Sinar Abadi Logam 47 Menerapkan Sebagian 23 CV. Mitra Karya Logam 41 Menerapkan Sebagian 24 PT. Aneka Adhi Karya
Logam 52 Sudah Menerapkan
Total 1087
Rata-rata skor 45,29 Menerapkan Sebagian Sumber: Data diolah, 2019
Berdasarkan pada tabel 5.5 rata-rata skor penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada 24 IKM adalah sebesar 45,29 yang berarti secara rata-rata 24 IKM yang tergabung dengan Koperasi Industri Batur Jaya baru menerapkan sebagian. Berikut adalah tabel persentase jumlah IKM dalam penerapan prinsip – prinsip Good Corporate Governance
Tabel 5.6
Persentase Jumlah IKM dalam Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Kategori Jumlah IKM %
Belum Menerapkan 0 0
Menerapkan Sebagian 22 92
Sudah Menerapkan 2 8
Berdasarkan tabel 5.6 sebanyak 22 IKM (92%) menerapkan sebagian dan terdapat 2 IKM (8%) yang belum menerapkan prinsip Good Corporate Governance.
b. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada IKM yang
tergabung dalam Koperasi Industri Batur Jaya berdasarkan setiap prinsip dan setiap item pernyataan
Berikut ini adalah hasil analisis dan pembahasan mengenai penerpaan prinsip Good Corporate Governance berdasarkan pada setiap prinsip dan setiap item pernyataan.
49 1) Prinsip Transparansi
Berikut adalah tabel penerapan Good Corporate Governance pada prinsip transparansi Tabel 5.7
Penerapan Good Corporate Governance Pada Prinsip Transparansi
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
Total Skor
(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan
Jumlah
2 Laporan keuangan yang dibuat dalam bentuk laba rugi, neraca, perubahan modal, dan arus kas
6 1 6 15 2 30 3 3 9 45 Menerapkan
sebagian
50 Lanjutan Tabel 5.7
Penerapan Good Corporate Governance Pada Prinsip Transparansi
No Pernyataan
Pilihan Jawaban
Total Skor
(C1+C2+C3) Kategori Belum Menerapkan Menerapkan Sebagian Sudah Menerapkan
Jumlah
4 Menjelaskan pola penggajian atau
Rata-rata skor penerapan prinsip transparansi
46 Menerapkan Sebagian
Berdasarkan tabel 5.7 skor rata-rata penerapan Good Corporate Governance pada prinsip transparansi sebesar 46 yang berarti IKM dikategorikan menerapkan sebagian. Kontribusi kesimpulan ini disebabkan adanya dua item pernyataan yang masuk kategori belum menerapkan, satu item yang dikategorikan menerapkan sebagian dan satu item permyataan yang masuk kategori sudah menerapkan. Secara lebih rinci prinsip transparansi akan dibahas dan dianalisis berdasarkan item pernyataan nomor 1 sampai dengan nomor 4, yaitu:
a) Item Pernyataan 1: Penyampaian laporan keuangan dan non keuangan kepada pemberi modal
Skor item pernyataan 1 pada prinsip transparansi sebesar 36 dan dikategorikan belum menerapkan yang bermakna bahwa IKM belum bersikap transparan dalam hal penyampaian laporan keuangan dan non keuangan. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 14 dari 24 responden memilih jawaban belum menerapkan. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya laporan keuangan dan non keuangan yang dilaporkan oleh pihak IKM kepada pemberi modal (Bank). Hal ini disebabkan karena tidak adanya tuntutan dari pemberi modal (bank) kepada IKM untuk melaporkan laporan keuangan dan non keuangan Selain itu, modal sebagian besar berasal dari pemilik.
Proses peminjaman yang dilakukan pemilik kepada pemberi modal hanya bersifat insidental yaitu hanya ketika IKM tersebut mengalami jumlah permintaan barang yang tinggi sehingga pemilik memutuskan untuk melakukan peminjaman dari pemberi modal (bank). Menurut pemilik IKM, hal terpenting bagi pemberi modal (bank) bukanlah melaporkan laporan keuangan dan non keuangan, melainkan
kemampuan IKM dalam mengembalikan pinjaman kepada pemberi modal secara tepat waktu sesuai dengan perjanjian yang dilakukan. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM belum memiliki kesadaran untuk bersikap transparan dalam hal melaporkan laporan keuangan dan non keuangan kepada publik atau pemberi modal (Bank).
b) Item Pernyataan 2: Laporan Keuangan yang dibuat dalam bentuk laba rugi, neraca, perubahan modal, arus kas
Berdasarkan tabel 5.7 skor untuk item pernyataan 2 pada prinsip transparansi sebesar 45 dan dikategorikan menerapkan sebagian yang berarti bahwa IKM baru menerapkan sebagian prinsip transparansi untuk item pernyataan 2. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil kuesioner yang menunjukkan bahwa 15 dari 24 responden memilih jawaban menerapkan sebagian karena laporan keuangan yang dibuat oleh IKM hanya bersifat sederhana dengan alasan laporan tersebut hanya dapat diakses oleh pihak internal saja, sehingga IKM tidak perlu lagi membuat laporan keuangan secara baku, lengkap dan laporan tersebut hanya dapat dimengerti oleh pihak internal IKM saja. Selain itu, alasan lainnya karena IKM tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam membuat laporan keuangan. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa IKM belum memiliki sikap transparan kepada publik karena laporan keuangan yang dibuat hanya dimengerti dan digunakan oleh pihak internal IKM saja.
c) Item Pernyataan 3: Menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan kepada Koperasi Industri Batur Jaya
Berdasarkan tabel 5.7 skor yang diperoleh untuk item pernyataan 3 pada prinsip transparansi sebesar 34 dan dikategorikan belum menerapkan yang bermakna bahwa IKM belum menerapkan prinsip
transparansi untuk item pernyataan 3. Pernyataan tersebut didukung oleh jumlah responden yang sebagian besar yaitu 16 dari 24 responden yang menjawab belum menerapkan karena IKM tidak menyampaikan rencana pelaksanaan kepada pihak Koperasi (sebagai pemberi order).
Hal ini disebabkan karena tidak adanya tuntutan untuk anggota koperasi (IKM) untuk menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan. Laporan perencanaan kegiatan akan disampaikan ke Koperasi Industri Batur Jaya hanya ketika IKM mendapatkan job dari Koperasi. Kurangnya ke transparansian IKM kepada Koperasi menyebabkan Koperasi tidak memperoleh informasi mengenai rencana kegiatan yang sedang dijalankan oleh IKM. Dari pernyataan tersebut bisa disimpulkan bahwa IKM belum memiliki sikap transparan kepada koperasi karena tidak adanya job yang diberikan kepada IKM dan tidak adanya tuntutan dari Koperasi untuk melaporkan rencana pelaksanaan kegiatan.
d) Item Pernyataan 4: Menjelaskan pola penggajian atau pemberian honor
d) Item Pernyataan 4: Menjelaskan pola penggajian atau pemberian honor