Tabel 7-11Usulan dan Prioritas Sub Bidang Pengembangan Kawasan Permuki
C. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Persampahan
7.4.2.4 Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Sistem Persampahan
1. Rencana pengembangan prasarana persampahan di Kabupaten Lampung Timur adalah sebagai berikut :
a. Strategi Pengembangan
Sebagai salah satu langkah antisipatif dalam masalah penanganan sampah ini, maka perlu diketahui perkiraan jumlah produksi sampah di Kabupaten Lampung Timur. Tempat pembuangan sampah bagi Kabupaten Lampung Timur diletakan di kawsasan rawan sampah seperti pasar, perkantoran, perdagangan dan jasa serta kawasan padat permukiman.
b. Rencana Struktur Sistem Persampahan
Dalam suatu kota seperti halnya Kabupaten Lampung Timur, masalah persampahan merupakan sesuatu yang rutin dan sudah barang tentu membutuhkan perhatian serius. Hal ini dikarenakan sebagian besar sampah yang biasanya bahan organik dapat membusuk, sehingga menjadi masalah yang besar bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk itu perlu penanganan yang terorganisir agar tidak menimbulkan masalah yang membahayakan terutama untuk kesehatan.
c. Rencana Pengembangan Sistem Persampahan
Rencana pengelolaan sampah di Kabupaten Lampung Timur dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu untuk jangka pendek-menengah dan jangka panjang. Rencana jangka pendek-menengah yaitu untuk lima tahun pertama pengelolaan sistem persampahan dilakukan dengan menerapkan sistem pembuangan yang berlangsung selama ini. Sistem tersebut adalah sebagai berikut :
Sistem pengumpulan sampah dari rumah tangga ke TPS dilakukan dengan
menggunakan gerobak sampah. Sistem pengelolaan ini diharapkan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.
Sistem pengangkutan sampah dari TPS ke TPA dilakukan dengan
agar sampah tidak berhamburan dan gas H2S tidak tercium masyarakat pemakai jalan yang dilalui rute angkutan sampah tersebut.
Tempat Pembuangan Akhir Sampah diatur lokasinya yaitu < 5 km dari pusat
kota atau >1 km dari permukiman.
Untuk saat ini diperlukan Mobil pembakar sampah (incenarator)
Pada kawasan-kawasan tertentu, seperti pusat kota perlu sistem
pengambilan dari pintu ke pintu (door to door) maka dibutuhkan pengadaan
motor sampah dengan kapasitas 1,5 m3.
2. Untuk rencana jangka panjang dari pengelolaan sampah dilakukan dengan
menerapkan sistem pemisahan sampah untuk sampah biodegradable (basah) dan non biodegradable. Pemisahan ini dilakukan dari mulai di rumah tangga sehingga akan lebih mudah untuk membedakan pada proses pengolahannya. Untuk mengenalkan sistem ini maka perlu disosialisasikan kepada masyarakat untuk memisahkan sampahnya. Sosialisasi ini diperkirakan akan memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar hingga 5 tahun.
Pemisahan sampah dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke TPA sehingga dapat menghemat lahan TPA dan juga dapat memanfaatkan sampah basah yang selama ini dibuang ke TPA menjadi kompos. Sistem pengelolaan ini akan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA sekitar 40% - 60%. Pengelolaan sistem pembuangan sampah ini dilakukan dengan menerapkan pembuangan sampah basah oleh rumah tangga minimal 2 hari sekali sementara untuk sampah kering pembuangan dilakukan seminggu sekali atau seminggu dua kali. Pembuangan sampah basah setiap dua hari sekali diupayakan untuk mencegah bau yang ditimbulkan oleh sampah ini. Berbeda dengan sampah basah maka sampah kering dapat bertahan lenbih lama sehingga frekuensi pengangkatannya dapart dilakukan lebih sedikit.Pengelolaan sampah basah dilakukan secara tersebar tidak terpusat. Diupayakan pengelolaan ini dilakukan oleh setiap kecamatan. Sampah basah yang diukumpulkan akan diproses menjadi kompos di minimal tiap-tiap
kebutuhan lahan yang cukup luas jika dilakukan secara terpusat dalam satu kota. Selain itu juga dengan sistem terpusat satu kota maka proses perjalanan dari sampah akan menjadi lebih lama.
Sementara itu sistem pembuangan sampah kering dapat dilakukan dengan sistem yang selama ini telah diterapkan yaitu dengan pengumpulan dari setiap rumah oleh para warga menuju ke tempat pembuangan sementara yang kemudian diangkut dari tempat pembuangan sementara ke TPA. Proses pengolahan sampah di TPA dilakukan dengan proses open dumping. Hal ini dapat dilakukan mengingat sampah
yang dibuang adalah sampah kering yang tidak menimbulkan bau busuk dan lecheat.
Di TPA juga sampah kering dapat diproses dengan segregasi sampah sehingga untuk
sampah-sampah yang dapat di recycling seperti kertas, botol minuman, besi dan
sebagainya dapat dimanfaatkan kembali sedang sisanya dapat dibuang. Proses pemilihan di TPA ini dapat dilakukan secara mekanis atau dilakukan secara sederhana oleh pemulung. Lokasi TPA Rantau Jaya berada di Desa Rantau Jaya, Kecamatan Sukadana dengan sistem Open Dumping.
Kelayakan TPA ini perlu ada pembenahan. Untuk kebutuhan pengembangannya
yaitu dengan penambahan alat berat, dan pengembangan ke sistem control land
fillatau sanitary land fill. Untuk lebih jelas mengenai rencana persampahan di
7.5 Drainase
Semua program/kegiatan dalam Sub Bidang Drainase bertujuan untuk mencapai masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari genangan. Pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk di perkotaan yang cepat menimbulkan tekanan terhadap ruang dan lingkungan untuk kebutuhan perumahan, kawasan jasa perdagangan, industri yang selanjutnya menjadi kawasan terbangun. Kawasan perkotaan yang terbangun memerlukan adanya dukungan prasarana dan sarana perkotaan yang baik dan menjangkau kepada masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah.
Dalam penyusunan rencana program investasi infrastruktur Sub Bidang drainase ini mengacu pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum nomor: 239/KPTS/1987 tentang Fungsi Utama Saluran Drainase sebagai drainase kota dan fungsi utama sebagai pengendalian banjir. Selain itu harus memperhatikan keterpaduan pelaksanaannya dengan prasarana dan sarana kota lainnya (persampahan, air limbah, perumahan dan tata bangunan serta jalan kota), sehingga dapat meminimalkan biaya pelaksanaan, biaya operasional dan pemeliharaan.
Beberapa ketentuan umum yang harus dipenuhi dalam penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) drainase perkotaan adalah sebagai berikut:
1) RPIJM disusun dengan mengacu kepada Kepmen PU No. 235/KPTS/1987 tentang
fungsi utama saluran sebagai drainase kota dan sebagai pengendali banjir
2) RPIJM disusun dengan memperhatikan rencana pengembangan kota dan
rencana prasarana dan sarana kota lainnya
3) Drainase harus dikelola melalui kelembagaan di daerah yang memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
Institusi pengelola drainase harus memiliki kejelasan atas tugas, wewenang dan tanggung jawabnya
Usulan program penyuluhan harus jelas agar peran serta masyarakat dalam kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase dapat lebih ditingkatkan.
4) RPIJM disusun dengan memperhatikan keterpaduan pelaksanaannya dengan prasarana dan sarana kota lainnya (persampahan, air limbah, perumahan dan tata bangunan serta jalan kota), sehingga dapat meminimalkan biaya pelaksanaan, biaya operasional dan pemeliharaan.
5) RPIJM disusun berdasarkan kebijakan dan Strategi serta tujuan yang ingin dicapai
oleh daerah.
Maksud dari penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah Sub Bidang Drainase ini adalah:
1) Rencana program investasi infrastruktur sub bidang drainase di Kabupaten
Lampung Timur adalah sebagai pedoman/ panduan dalam penanganan drainase perkotaan sehingga dapat melindungi kawasan Kota di Kabupaten Lampung Timur seperti Sukadana, Way Jepara, Bandar Sribawono, Labuhan Maringgai kerusakan lingkungan yang merugikan, seperti: banjir/ genangan air, limpasan air hujan dari kawasan yang lebih tinggi dll.
2) Penyiapan program penanganan drainase dengan sasaran
individu/kelompok/institusi dari berbagai stakeholder yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan drainase yaitu institusi pengelola sistem dan jaringan drainase (Dinas Pekerjaan Umum Bidang Permukiman dan Penyehatan Lingkungan Kabupaten Lampung Timur) dan kawasan tertentu oleh swasta (developer)