• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pemberdayaan Sosial

Dalam dokumen RENCANA STRATEGIS (Halaman 42-50)

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

1. Program Pemberdayaan Sosial

a. Pemberdayaan Fakir Miskin

Kemiskinan telah menjadi fenomena sosial yang menarik perhatian semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Kemiskinan pada dasarnya berkisar pada kurang terpenuhinya kebutuhan dasar manusia seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan interaksi sosial. Masalah kemiskinan dapat memunculkan berbagai dimensi seperti ; ketergantungan, ketunaan sosial, kecacatan, keterlantaran, serta keresahan sosial, yang pada umumnya berkaitan dengan keterbatasan kemampuan mengakses berbagai pelayanan sosial dasar.

Masalah kemiskinan masih sulit ditanggulangi karena mayoritas termasuk kategori kemiskinan kronis (chronic proverty) yang terjadi terus menerus atau disebut juga kemiskinan struktural sehingga membutuhkan penanganan yang sungguh-sungguh, terpadu secara lintas sektor dan berkelanjutan. Selain itu terdapat sejumlah penduduk yang dikategorikan mengalami kemiskinan sementara (transient poverty) yang ditandai dengan menurunnya pendapatan

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 41

dan kesejahteraan masyarakat secara sementara sebagai akibat dari perubahan kondisi normal menjadi kondisi kritis, bencana alam dan bencana sosial. Kemiskinan sementara jika tidak ditangani dapat menjadi kemiskinan kronis.

Tujuan :

1) Meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga fakir miskin

2) Mewujudkan kemandirian usaha sosial ekonomi keluarga miskin 3) Meningkatkan aksesibilitas keluarga fakir miskin terhadap

pelayanan sosial dasar

4) Meningkatkan kualitas kondisi perumahan keluarga fakir miskin 5) Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab sosial masyarakat

dalam pennggulangan kemiskinan.

Sasaran :

1) Keluarga fakir miskin yang tidak mempunyai sumber mata pencaharian atau mempunyai mata pencaharian namun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar serta tinggal di daerah hutan kemasyarakatan, perdesaaan, perkotaan, pesisir/pantai, kepulauan terpencil dan perbatasan antar negara. 2) Keluarga fakir miskin yang mengalami penurunan pendapatan

dan kesejahteraan secara sementara sebagai akibat dari perubahan kondisi normal menjadi kondisi kritis, seperti korban bencana alam, korban bencana sosial/konflik, terkena PHK, dan masalah lainnya yang menyebabkan terhentinya penghasilan keluarga.

Komponen kegiatan :

1) Bimbingan sosial dan pemberian bantuan stimulan UEP melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

2) Rehabilitasi sosial daerah kumuh, untuk mendorong partisipasi sosial masyarakat agar peduli dan tetap memelihara kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial terhadap keluarga-keluarga miskin dilingkungannya.

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 42

1) Pemberdayaan, mengandung makna adanya partisipasi seluruh sasaran pelayanan dan komunitas serta masyarakat pada umumnya. Pemberdayaan dapat dilakukan dengan menggali kemampuan sasaran pelayanan, mendayagunakan potensi dan sumber yang tersedia dimasyarakat dengan memberikan pelatihan keterampilan, pendampingan dan bimbingan sosial serta pengembangan UEP dan usaha kesejahteraan sosial.

2) Kemitraan, dilaksanakan karena adanya visi dan misi dalam penyelenggaraan program pemberdayaan fakir miskin, sehingga potensi dan sumber sosial yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan penanggulangan kemiskinan. Kemitraan dapat dilaksanakan melalui pembentukan jaringan kerja usaha kesejahteraan sosial yang memiliki hubungan fungsional satu sama lain.

3) Pengembangan budaya kewirausahaan, mengandung makna adanya sikap mental mau maju semaksimal mungkin dalam melakukan usaha ekonomi produktif. Strategi kewirausahaan ini dilaksanakan untuk mengantisipasi dampak negatif dari bantuan sosial kepada keluarga miskin agar tidak memiliki ketergantungan terus menerus menyadari bahwa bantuan yang diterima merupakan stimulan untuk modal usaha untuk selanjutnya harus mampu dikembangkan atas dasar kekuatan sendiri atau potensi kelompok usaha bersama.

4) Penguatan kapasitas SDM dan kelembagaan, mengandung makna peningkatan profesionalisme dan kinerja pelaku program

pemberdayaan fakir miskin. Hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan program pemberdayaan fakir miskin dapat dilaksanakan secara profesional sesuai dengan prinsip-prinsip akuntabilitas, efisiensi, efektifitas dan kesinambungan program.

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 43

Indikator kinerja :

1) Meningkatnya taraf kesejahteraan keluarga fakir miskin.

2) Berkurangnya jumlah pemukiman fakir miskin yang tidak layak huni

3) Meningkatnya aksesibilitas keluarga fakir miskin terhadap pelayanan sosial dasar.

4) Meningkatnya KUBE dengan kategori mandiri sebanyak 10 % 5) Meningkatnya kepedulian masyarakat (orsos/LSM dan dunia

usaha) dalam program penanggulangan kemiskinan.

b. Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT)

Komunitas Adat Terpencil (KAT) merupakan kelompok sosial budaya dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik (Keppres Nomor 111/1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil). Kriteria KAT pada umumnya adalah berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen; pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan; pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi sub sistem; terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau; peralatan dan teknologinya sederhana; ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat relatif tinggi; terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik.

Permasalahan KAT meliputi kesenjangan sistem sosial budaya dengan masyarakat pada umumnya; ketertinggalan dalam sistem sosial, teknologi dan ideologi; sangat kurang memadainya pemenuhan kebutuhan dasar; belum atau sangat sedikit menerima pelayanan pembangunan; belum efektifnya pemanfaatan waktu dalam kehidupan sehari-hari; belum mantapnya integrasi sosial KAT kedalam sistem institusi kemasyarakatan disekitarnya; serta mengurang citra bangsa , karena dibalik laju pembangunan disegala bidang dalam kenyataan masih ada kelompok masyarakat yang hidup tertinggal.

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 44

Komunitas Adat Terpencil yang merupakan bagian dari masyarakat mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk hidup sejahtera dan maju serta meningkatkan taraf kesejahteraan kearah terwujudnya integrasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keterasingan dan keterpencilan yang ketertinggalan yang berakibat lebih lanjut pada kerawanan mereka terhadap berbagai eksploitasi sehingga issue KAT terkait pula dengan issue HAM, lingkungan dan integrasi sosial.

Tujuan :

Meningkatnya kualitas hidup dan kesejahteraan warga KAT

Sasaran :

Komunitas Adat Terpencil pada umumnya dengan prioritas KAT yangberada di daerah perbatasan antar negara, rawan bencana, kawasan industri dan pemekaran wilayah.

Komponen kegiatan :

1) Persiapan pemberdayaan (melalui kegiatan pemetaan sosial, penjajagan awal, study kelayakan dan pemantapan kesiapan masyarakat).

2) Pelaksanaan pemberdayaan (Tahun I, II, dan III) baik secara insitu maupun eksitu.

3) Stimulus pengembangan masyarakat (insitu) bagi KAT yang sudah b ertempat tinggal menetap dan memiliki mata pencaharian. 4) Pemantapan kelompok kerja (pokja) dan forum konsultasi

pemberdayaan KAT.

5) Penempatan petugas lapangan ( pendamping sosial).

6) Pengembangan sumber daya manusia (SDM) baik pengelola, pendamping sosial maupun warga dampingan sosial.

7) Perlindungan dan advokasi sosial KAT. 8) Monitoring dan evaluasi.

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 45

Strategi :

1) Membuka dan meningkatkan akses komunikasi dan pelayanan sosial dasar warga KAT; mengandung makna bahwa KAT dapat menjalin hubungan dengan komunitas atau lingkungan luar, dan memperoleh berbagai pelayanan sosial dasar antara lain pelayanan kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi

2) Pemberdayaan sosial; mengandung makna adanya partisipasi seluruh sasaran pemberdayaan KAT, lingkungan sekitarnya dan masyarakat umum; adanya peningkatan kemampuan KAT dan penguatan kemampuan manajemen pengelolaan sumber daya yang tersedia baik sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya sosial.

3) Kemitraan dan keterpaduan mengandung makna adanya kerjasama kepedulian, kesbersamaan dan jaringan kerja yang saling menguntungkan dalam pemberdayaan KAT antara pemerintah baik dengan Orsos/LSM, dunia usaha maupun perguruan tinggi

4) Perlindungan dan advokasi sosial, mengandung makna adanya upaya memberikan pendampingan sosial, perlidungan sosial dan pembelaan terhadap hak-hak KAT, termasuk akses terhadap pelayanan sosial dasar guna peningkatan kualitas hidup.

5) Mengembangkan pendekatan partisipatif dengan pola pengelolaan sumber-sumber komunitas (communty based resources management); mengandung makna bahwa pemeberdayaan KAT dilakukan melalui optimalisasi sumber daya lokal sesuai dengan karakteristik sosial budaya setempat, pemberdayaan dengan sistem stimulus, keterpaduan lintas sektor/program dan peran aktif masyarakat.

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 46

Indikator kinerja :

1) Meningkatnya prosentase jumlah KAT yang ditangani melalui program Pemberdayaan KAT

2) Meningkatnya kualitas hidup KAT

3) Meningkatnya aksesibilitas KAT terhadap pelayanan sosial dasar 4) Meningkatnya peran aktif perguruan tinggi, orsos/LSM dan dunia

usaha dalam pemberdayaan KAT

c. Pemberdayaan Keluarga

Permasalahan utama keluarga adalah kemiskinan, kerentanan dan kerawanan sosial sebagai akibat negatif dari modernisasi. Ketidakberdayaan keluarga akan berdampak pada ketidakmampuan keluarga melaksanakan fungsi sosial yang dialaminya dan menjadi bagian masyarakat sejahtera.

Tujuan :

Meningkatnya motivasi kemampuan keluarga dalam melaksanakan fungsi dan peran keluarga sehingga secara bertahap dapat mencegah, mengerangi, dan menangani masalahnya sendiri dan masalah dilingkungannya.

Sasaran :

Keluarga pada umumnya, dengan prioritas pada keluarga miskin, rentan/rawan masalah sosial, ekonomi dan sosial psikologis.

Komponen kegiatan :

1) Konsultasi dan perlindungan kesejahteraan keluarga melalui LK3 2) Peringatan hari keluarga nasional (HARGANAS)

Strategi :

1) Meningkatkan kemampuan advokasi dan kampanye sosial keluarga sebagai sebuah gerakan

2) Meningkatkan kemampuan dan kapasitas keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar dan mendayagunakan sumber (partisipasi sosial) 3) Kemitraan dilaksanakan melalui jaringan kerja (kemitraan)

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 47

Indikator kinerja :

1) Meningkatkan keluarga yang bermasalah sosial, keluarga rentan/rawan masalah dan keluarga bermasalah sosial psikologis yang memperoleh akses terhadap program pemberdayaan

2) Meningkatnya lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3) yang berperan dalam mengatasi masalah sosial psikologis

3) Meningkatnya keluarga yang berperan aktif dalam menangani masalah sosial.

d. Pelestarian Nilai Kepahlawanan, Keperintisan, Kejuangan dan Kesetiakawanan Sosial

Permasalahan yang dihadapi sehubungan dengan nilai-nilai kepahlawanan adalah kecenderungan semakin melemahnya pemahaman dan penghayatan nilai K3KS, menurunnya kondisi sosial ekonomi dan kesejahteraan para perintis kemerdekaan/Janda perintis kemerdekaan dan pejuang serta kondisi Taman Makam Pahlawan dan Makam Pahlawan Nasional yang kurang terawat. Upaya penanganan diarahkan untuk tetap terpeliharanya nilai keteladanan dan jiwa kejuangan dikalangan generasi muda.

Tujuan :

Tertanam, terpelihara, terlestarikan dan diamalkannya nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, kejuangan dan kesetiakawanan sosial dalam sikap dan perilaku keseharian segenap warga masyarakat, terjaganya harkat dan martabat keluarga pahlawan, perintis kemerdekaan dan keluarga pejuang serta terawatnya TMP/MPN sebagaimana wahana pelestarian nilai K3KS.

Sasaran :

1) Keluarga pahlawan, perintis kemerdekaan/janda perintis kemerdekaan dan pejuang.

2) TMP/MPN dengan prioritas yang kondisinya tidak memenuhi standar dan kurang terawat.

Rencana Strategis Dinas Sosial 2012-2017 48

Strategi :

1) Peningkatan peran aktif masyarakat dan lembaga pendidikan dalam pelestarian dan pengembangan nilai K3KS sejak usia dini.

2) Peningkatan kesejahteraan keluarga pahlawan, perintis kemerdekaan/janda perintis kemerdekaan dan pejuang.

3) Memelihara TMP/MPN sebagai penghargaan dan sekaligus wahana pelestarian nilai K3KS.

Komponen kegiatan :

1) Pengenalan, penanaman dan penghayatan nilai K3KS (ziarah wisata, saresehan kepahlawanan dan napak tilas)

2) Bantuan perbaikan rumah keluarga pahlawan, perintis kemerdekaan/janda perintis kemerdekaan.

3) Bimbingan pelestarian K3KS kepada guru, tokoh masyarakat dan agama.

4) Pemugaran dan pemeliharaan TMP/MPN.

Indikator kinerja :

1) Meningkatnya cakupan layanan terhadap keluarga pahlawan, perintis kemerdekaan/janda perintis kemerdekaan dan pejuang.

2) Meningkatnya intensitas kegiatan pelestarian dan pengembangan nilai K3KS.

3) Terpeliharanya TMP/MPN.

Dalam dokumen RENCANA STRATEGIS (Halaman 42-50)

Dokumen terkait