3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Prosedur penelitian di lapangan
(1) Mengkaji tingkah laku ikan dan pengaruh rumpon terhadap zone of
influence dari alat tangkap bubu.
Dalam mencapai tujuan penelitian ini, maka data diambil
menggunakan metode sensus visual. Pengambilan data di bagi dalam dua
tahapan sebagai berikut :
i) Pengamatan tingkah laku ikan di sekitar rumpon dan bubu
Prosedur pengambilan data di lapangan sebagai berikut :
(i) Sebelum bubu dan rumpon di pasang di lokasi penelitian, terlebih
dahulu di lakukan survei lokasi untuk menentukan lokasi penelitian dengan cara menyelam menggunakan SCUBA mengitari areal terumbu karang di perairan setempat.
(ii) Data survei tersebut, kemudian dibuat denah lokasi penelitian.
Penentuan posisi penempatan bubu bersama rumpon menggunakan GPS. Lokasi penelitian rumpon dan bubu dapat dilihat pada Gambar 3.
(iii) Rumpon di pasang di perairan pada substrat didominasi karang keras (lokasi L1) dan karang lunak (lokasi L2) dengan jarak antara kedua lokasi tersebut sekitar 100 m. Jarak penempatan rumpon dan bubu dengan substrat karang keras disesuaikan dengan kondisi terumbu karang di lokasi penelitian. Ada dua ukuran modul rumpon yang digunakan dalam penelitian yakni modul ukuran kecil panjang : 1,25 m, lebar : 1,00 m dan tinggi: 1,25 m) dan ukuran besar panjang : 1,75 m, lebar : 1,50 m dan tinggi: 1,75 m). Setiap kelompok modul rumpon berjumlah 3 unit untuk ukuran kecil ada 2 kelompok, dan kelompok modul rumpon ukuran besar ada 2 kelompok. Bubu dipasang di antara kelompok modul rumpon. Jarak antara bubu dengan masing-masing modul rumpon pada setiap kelompok 5 m. Selain itu, dipasang juga bubu tanpa rumpon dengan jarak 25 m dari bubu yang dipasang bersama rumpon. Sketsa penempatan rumpon dan bubu di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 3 Peta lokasi penempatan rumpon dan bubu di perairan Hansisi, Semau, Kupang.
(iv) Pengamatan awal dilakukan dengan mengamati kondisi karang serta ikan-ikan yang berada di sekitar terumbu karang.
(v) Pengamatan berikutnya dilakukan 30 menit setelah rumpon terpasang
di perairan. Pengamatan terhadap jenis-jenis ikan karang yang hadir di
sekitar zone of influence alat tangkap bubu dioperasikan bersama
rumpon maupun tanpa rumpon menggunakan metode sensus visual (visual census method).
Ilustrasi tentang zona pengaruh alat tangkap (zone of influence/field of
influence) bubu yang dioperasikan bersama rumpon dan tanpa rumpon dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Ilustrasi ini dikembangkan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Nikonorov, 1975, disajikan pada Gambar 5.
Gambar 4 Sketsa penempatan rumpon dan bubu di lokasi penelitian.
BRK BRB
Keterangan : BRK : Bubu rumpon kecil, BRB : Bubu rumpon besar, BTR :Bubu tanpa rumpon, RG: Rumpon gewang.
BTR
field of influence alat tangkap bubu
3
zona of influence
alat tangkap bubu
2 1
R1
zona of influence alat
tangkapbubu
R1 R2 2
zona of influence alat tangkap bubu 1 R1 R2 2 3
zona of influence alat tangkap bubu 2 1 R1 1a. 1b.
field of influence alat tangkap bubu
(vi) Pengamatan berikut dilakukan seminggu sekali pada jam 08.00, jam
12.00, dan jam 16.00.
Pengamatan dilakukan terhadap tingkah laku ikan karang yang hadir di rumpon dan bubu meliputi jenis dan jumlah ikan yang hadir, jarak (radius) ikan terhadap rumpon dan bubu, lama waktu ikan berada di rumpon dan bubu, pola renang (soliter, bergerombol, dan berpasangan), serta pola gerak seperti cara datang dari arah depan dengan membuat gerak melingkar melawan arus, bergerak naik turun, maupun membuat gerakan searah jarum jam serta jumlah ikan yang hadir di rumpon dan bubu. Untuk menentukan jenis ikan karang yang hadir di sekitar rumpon dan bubu mengikuti petunjuk Gloerfelt dan
Gambar 5 Zona pengaruh (zone of influence/field of influence) alat tangkap bubu
yang dioperasikan bersama rumpon.
2b.
2a
Keterangan :Jarak (radius) area pengaruh (zone of
influence) alat tangkap bubu; 1. Zone of influence;
2. Zone of action; 3. Zone of retention
Keterangan : 1,2 : Zone of influence/field of influence, R1: jarak zona pengaruh alat tangkap bubu, R2 : jarak zona pengaruh alat tangkap bubu yang diperbesar dengan menambahkan rumpon
Kailola, 1984, Isa et al. 1998; Kuiter, 1992 dan Allen dan Stenee, 2002.
(vii) Untuk pengamatan tingkah laku ikan menggunakan video bawah air,
camera digital, SCUBA, papan tulis bawah air (sabak/slate), pensil 2B, counter dan stopwatch.
(viii) Sebagai data pendukung diamati juga perifiton yang menempel pada setiap jenis daun atraktor. Daun atraktor yang digunakan untuk
penempelan perifiton adalah daun lontar (Borrasus flabellifer), dan
daun gewang/gebang (Corypha gebanga). Untuk mengetahui
perifiton yang menempel pada setiap daun digunting salah satu helai yang diambil secara acak dengan ukuran panjang: 10 cm dan lebar: 5 cm. (Gambar 6) Kemudian permukaan daun di mana perifiton menempel dikeruk dengan pisau dan dimasukkan ke dalam botol sampel berisi larutan formalin 4 % untuk dianalisis di laboratorium.
ii) Pengamatan tingkah laku ikan di sekitar dan di dalam bubu
Pengamatan tingkah laku ikan karang di luar dan di dalam bubu melalui simulasi yang dilakukan di dalam keramba. Pengamatan tidak dapat dilakukan di lokasi penelitian karena kondisi perairan saat itu dalam keadaan bergelombang dan arusnya kuat. Pada kondisi ini keadaan perairan menjadi tidak stabil dan tingkat kekeruhannya tinggi sehingga sulit untuk melakukan pengamatan bawah air karena batas
pandang (visibilitas) rendah dan sulit untuk mengamati jenis ikan yang
hadir di rumpon dan bubu.
b. Daun gewang yang dipotong untuk pengambilan sampel a. Daun lontar yang dipotong untuk
pengambilan sampel perifiton P = 10 cm
L = 5 cm
P=10 cm
L=5 cm
Gambar 6 Daun lontar dan daun gewang sebagai tempat penempelan perifiton.
Kondisi ini mulai terjadi pada saat siang sampai sore hari. Keadaan perairan mulai berubah diatas jam 10.00 WITA sampai sore hari. Perubahan ini terjadi disebabkan karena pada jam 10.00 WITA keatas permukaan perairan menjadi panas dan angin mulai bertiup menyebabkan terjadi pengaliran massa air (arus). Adanya proses pengaliran massa air ini menyebabkan terjadinya pengadukan massa air sehingga perairan menjadi keruh. Selain itu, olah gerak dalam pengamatan bawah air juga sulit dilakukan dan pada kondisi ini ikan- ikan karang lebih banyak mencari lokasi persembunyian baik di celah- celah karang maupun di rumpon dan bubu sehingga ikan yang hadir di rumpon dan bubu konsentrasinya menjadi berkurang atau sedikit.
Pengamatan dilakukan di dalam keramba berukuran panjang: 2 m, lebar: 1.5 m dan tinggi: 2 m (Lampiran 4). Kemudian ikan hasil tangkapan bubu baik menggunakan rumpon maupun tanpa rumpon dimasukkan ke dalam keramba. Pengamatan dilakukan dari jam 11.00 – 17.00 WITA. Ikan yang dimasukkan ke dalam keramba untuk diamati sebanyak 17 spesies dengan pola tingkah laku berbeda-beda. Tingkah laku ikan karang di luar dan di dalam bubu diamati secara visual meliputi pola renang dan pola gerak ikan karang di luar maupun di dalam bubu serta cara ikan masuk dan meloloskan diri dari dalam bubu.
Penelitian tingkah laku ikan karang dalam keramba hanya dilakukan pada 17 spesies ikan karang. Informasi yang diperoleh masih sangat terbatas sehingga diharapkan perlu mengkaji lebih lanjut tingkah laku ikan dari jenis-jenis ikan karang lainnya.
(2) Mengkaji pengaruh rumpon terhadap ikan hasil tangkapan bubu baik jenis,
jumlah, maupun ukuran.
Dalam mencapai tujuan penelitian ini, maka untuk mendapatkan data dilakukan proses penangkapan ikan. Penangkapan ikan dilakukan pada dua lokasi penelitian dengan prosedur kerja sebagai berikut:
(i) Penangkapan ikan menggunakan alat tangkap bubu dioperasikan bersama rumpon ukuran kecil dan besar menggunakan atraktor daun lontar saja dan juga menggunakan bubu tanpa rumpon.
(ii) Penangkapan dilakukan setelah rumpon berumur satu bulan di perairan.
Operasi penangkapan dilakukan 2 kali pada jam yang berbeda yaitu penangkapan pertama (siang) dilakukan pada jam 07.00 dan pengangkatan bubu dilakukan sore hari jam 17.00, kemudian penangkapan kedua (malam) dilakukan pada jam 18.00 dan pengangkatan bubu dilakukan pada jam 07.00 pagi hari berikutnya. Proses penangkapan dilakukan setiap hari selama sebulan (30 hari).
(iii) Ikan hasil tangkap bubu bersama rumpon dan tanpa rumpon di pisahkan
menurut jenis ikan, jumlah masing-masing jenis (individu), dan
mengukur panjang total (total length).
(iv) Ikan hasil tangkapan yang sudah diamati, kemudian untuk keperluan
identifikasi diambil setiap jenis satu individu. Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk identifikasi ikan adalah plastik sampel, botol sampel, aquades dan larutan formalin 10 %, tissue roll, alat tulis menulis. Untuk penentuan jenis ikan mengikuti petunjuk Gloerfelt dan Kailola, 1984, Isa et al. 1998; Kuiter, 1992 dan Allen dan Stenee, 2002.
(v) Sisa hasil tangkapan yang belum layak ditangkap di lepaskan kembali ke
perairan melalui celah pelolosan.
(vi) Sebagai data pendukung dilakukan pengukuran parameter lingkungan
lokasi penelitian seperti DO, pH, suhu, salinitas, kecepatan dan arah arus serta kecerahan perairan. Pengukuran data oseanografi menggunakan alat Water Checker merk HORIBA dilengkapi dengan DO, pH, suhu, salinitas, dan kecerahan, sedangkan untuk mengukur arah dan kecepatan arus menggunakan gabus yang diikat dengan tali nylon dan stopwatch.