• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.3. Proses Hirarki Analitik (PHA)

Ketepatan menganalisis masalah dan kemudian menetapkan prioritas adalah suatu hal yang sangat mutlak. Dalam sistem perusahaan yang kompleks, pemi mpin dihadapkan banyak hal, mulai dari perencanaan produksi hingga pemasaran, sedangkan kemampuan yang dimiliki sangat terbatas. Guna menangani persoalan-persoalan tersebut diatas diperlukan penyusunan

30

peringkat/prioritas bagi tiap persoalan yang ada. Sehi ngga dalam jangka pendek, permasalahan yang utama atau yang menduduki prioritas tertinggi akan terpecahkan terlebih dahulu.

Proses pemikiran intuitif dituntut dalam menangani permasalahan diatas. Selain menggunakan kemampuan logika yang tepat. Untuk mendukung dalam pemecahan masalah bagi pengambil keputusan, banyak alternatif alat analisis yang dapat digunakan, dengan kekuatan dan kelemahannya.

Proses Hirarki Analitik (PHA) yang diuraikan disini, mencoba menjadikan permasalahan yang kompleks dan saling bergantung antara faktor ke dalam kerangka terstruktur yang lebih sederhana. Kerangka ini akan mempermudah dalam menstratifikasikan permasalahan dan informasi yang tersedia.

Hasil yang diharapkan akan lebih mencerminkan efisiensi, baik itu efisiensi waktu dan tenaga dalam pengambilan keputusan nantinya. Menurut Saaty (1993), ada dua fokus untuk memecahkan permasalahan :

1) Ancangan deduktif, memfokuskan pada bagian-bagian.

2) Ancangan sistem yang memutuskan pada bekerjanya sistem secara keseluruhan.

Kedua fokus tersebut tergabung dalam Proses Hirarki Analitik.

Proses Hirarki Analitik pertama kali dikenalkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970. Proses Hirarki Analitik adalah suatu model yang luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan/kelompok untuk membangun gagasan- gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi mereka masing-masing dan memperoleh pemecahan yang diinginkan dirinya. Proses

Hirarki Analitik memasukkan pertimbangan-petimbangan untuk menghasilkan skala prioritas relatif.

Keuntungan menggunakan Proses Hirarki Analitik adalah :

1. Memberi suatu model tunggal yang sangat mudah untuk dimengerti dan luwes terhadap segala permasalahan.

2. Memadukan ancangan deduktif dan ancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan permasalahan yang ko mpleks.

3. Dapat menangani saling ketergantungan antar faktor dalam suatu sistem. 4. Melacak konsistensi logis dari berbagai pertimbangan yang digunakan

dalam menetapkan berbagai prioritas.

5. Menuntun ke arah suatu taksiran menyeluruh terhadap kebaikan setiap alternatif.

6. Mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan pemilihan alternatif terbaik berdasarkan tujuan utama yang ingin dicapai.

7. Mensintesis suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.

Permasalahan yang kompleks hanya akan terpecahkan apabila terlebih dahulu dipecahkan menjadi elemen-elemen yang kecil dan kemudian masing- masing elemen disusun berdasarkan pertimbangan dari yang tertinggi sampai yang terendah untuk menghasilkan skala prioritas relatif. Hirarki merupakan alat yang mendasar yang digunakan untuk mengelompokkan berbagai elemen yang homogen ke dalam tingkatan tertentu.

32

Dalam menyusun suatu hirarki, tidak ada batasan/prosedur untuk menempatkan tujuan, kriteria dan kegiatan yang terdapat dalam hirarki. Semuanya bergantung pada tujuan apa yang hendak dicapai dalam menghadapi kompleksnya permasalahan tersebut. Setiap permasalahan, baik itu sosial, ekonomi maupun manajemen, dalam penyusunan hirarki tidak harus sama strukturnya, tetapi dilihat dulu faktor-faktor pendukungnya.

Prinsip dasar Proses Hirarki Analitik, yaitu :

1. Penyusunan hirarki (menggambarkan dan menguraikan secara hirarki), yaitu memecah persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah.

2. Penetapan prioritas (pembedaan prioritas), yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatif pentingnya.

3. Konsistensi logis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis.

Kelemahan metode Proses Hirarki Analitik, yaitu :

1. Jika rasio inkonsistensi lebih besar dari 10 persen, maka mutu informasi harus diperbaiki dengan memperbaiki penggunaan pertanyaan ketika membuat perbandingan berpasangan dan atau melakukan pengisian ulang kuisioner.

2. Responden adalah yang benar-benar menguasai, mempengaruhi pengambilan kebijakan perusahaan atau mengetahui informasi yang dibutuhkan.

Kerangka Pemikiran Operasional

Ketepatan menganalisis masalah dan kemudian menetapkan prioritas adalah suatu hal yang sangat mutlak. Dalam sistem perusahaan yang kompleks, pemimpin dihadapkan pada banyak hal, mulai dari pengadaan produk/bahan baku

hingga pemasaran. Sedangkan kema mpuan yang dimiliki sangat terbatas. Guna menangani persoalan-persoalan tersebut, diperlukan penyusunan peringkat (prioritas) bagi setiap perusahaan, sehingga dalam jangka pendek, permasalahan yang utama (prioritas) tertinggi akan terpecahkan terlebih dahulu.

Persaingan pada industri pariwisata di daerah Bogor semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dengan semakin bertambahnya tempat-tempat objek wisata yang dapat dikunjungi. Tahun 2002 jumlah objek wisata yang terdaftar di Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor sebanyak 22 objek wisata dan pada tahun 2004 berkembang menjadi 29 objek wisata, secara lengkap dapat dilihat di Tabel 2. Persaingan pada industri wisata berpengaruh pada strategi pemasaran perusahaan.

Dukungan pemerintah terhadap kegiatan konservasi merupakan suatu pendorong bagi Taman Safari Indonesia untuk tetap beroperasi. Terdapat seperangkat peraturan pemerintah yang dituangkan dalam bentuk undang-undang yang mengatur sesuatu mengenai konservasi satwa khususnya konservasi ex-situ. Diantaranya Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 479/ Kpts- 11/1998, Peraturan Pemerintah No. 7/1999. Disamping itu pula pemerintah menyiapkan seperangkat peraturan dalam rangka menjaga keseimbangan kawasan Bopunjur (Bogor, Puncak dan Cianjur) yaitu Kepres RI No. 114/1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bopunjur. Peraturan Pemerintah No. 18/1994 tentang pengusahaan pariwisata alam di zona pemanfaatan Taman Nasional, taman hutan raya dan taman wisata . Peraturan dan kebijakan ini juga dapat mempengaruhi strategi pemasaran perusahaan.

Dalam merencanakan strategi bauran pemasaran perlu diketahui faktor- faktor apa saja yang perlu dipertimbangkan perusahaan dalam menyusun strategi

34

pemasaran. Hal ini sangat penting untuk melihat faktor apa saja yang paling dominan agar perusahaan dapat mengetahui sejauh mana faktor tersebut berperan dalam penyusunan strategi pemasaran, maka digunakan metode Proses Hirarki Analitik (PHA) dengan menyusun suatu str uktur hirarkinya.

Tujuan jangka pendek Taman Safari Indonesia adalah menjadi model bagi taman satwa dan taman rekreasi lainnya, model disini bermaksud menjadi suatu tempat wisata yang menjadi contoh baik pengelolaan maupun manajemennya. Sebagai perusahaan swasta yang bergerak dibidang pariwisata Taman Safari Indonesia, memiliki tujuan yang paling utama adalah untuk mendapatkan keuntungan, sehingga perusahaan perlu membuat suatu strategi, salah satunya adalah melalui strategi bauran pemasaran yang tepat.

Strategi pemasaran yang dijalankan PT Taman Safari Indonesia yang terdiri dari bauran pemasaran yaitu produk/jasa, harga, promosi, tempat, people, proses dan bukti fisik dianalisis kembali dengan mempertimbangkan persepsi dari konsumen berupa proses pengambilan keputusan dari konsumen/pengunjung. Hal ini penting agar alternatif strategi pemasaran yang akan diperoleh tidak hanya bersumber dari kondisi internal PT. Taman Safari Indonesia saja, namun perlu juga mempertimbangkan faktor eksternal yaitu konsumen. Bauran pemasaran yang ada di Taman Safari Indonesia dianalisis memakai alat analisis PHA sehingga diperoleh alternatif prioritas strategi pemasaran yang paling tepat bagi PT. Taman Safari Indoesia.

Hasil penentuan alternatif strategi pemasaran yang paling tepat nantinya akan disampaikan kepada perusahaan sebagai suatu rekomendasi bagi perusahaan. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam

menjalankan perusahannya. Kerangka pemikiran operasional dalam penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar 9. Kerangka Pemikiran Operasional Proses Pengambilan

Keputusan Konsumen (Deskriptif)

Peraturan dan Kebijakan Pemerintah

PT. Taman Safari Indonesia

Strategi Pemasaran Perusahaan

Alternatif Strategi Pemasaran Perusahaan Proses Hirarki Analitik Persaingan dalam