KOORDINATOR I dr Yeremia H Sirait
Tahap 3: Implementasi/observas
5.1 Proses Pelaksanaan Action Research
Pembentukan family centered care di Puskesmas Simalingkar dimulai dari tahap reconnaisssance dan dilanjutkan dengan satu siklus family centered care yang terdiri dari planning, action, observing, dan reflection. Penelitian dengan metodologi action research sangat baik dilakukan untuk mengembangkan pengkajian dan panduan latihan menelan pada pasien stroke, karena dapat memberdayakan partisipan, menghasilkan pengetahuan baru, sehingga akan terjadi perubahan kearah yang lebih baik. Hal in sesuai dengan yang dijabarkan oleh Polit dan Beck (2008), penelitian ini tidak hanya menghasilkan pengetahuan tetapi juga ada tindakan dan peningkatan kesadaran untuk merubah. Menurut Lesha (2014), penelitian action research sangat tepat sekali bagi orang-orang yang ingin meningkatkan kinerja, atau juga bagi suatu organisasi yang mengharapkan peningkatan kinerja secara bersama-sama.
Metode action research sangat baik dilakukan untuk mengembangkan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan karena dapat memberdayakan partisipan, menghasilkan pengetahuan baru. Implikasi dari penelitian action research akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk praktik klinik berbasis temuan, yang merefleksikan kenyataan dari praktik klinik yang dilakukan oleh peneliti bersama dengan lingkungan klinik (Karim, 2001).
Pengembangan model family centered care yang menghasilkan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan dilakukan peneliti di Puskesmas Simalingkar Medan, bentuk action research yang dilakukan oleh peneliti dari lingkungan tersebut (insider action research) dapat dengan mudah mempengaruhi terjadinya perubahan (Hotler & Barcott, 1993). Hal ini sesuai dengan penelitian Mitchell, Conlon, Amstrong, dan Ryan (2005) yang melakukan rehabilitasi pada pasien stroke dengan menerapkan prinsip caring.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan di Puskesmas Simalingkar. Serangkaian kegiatan action research 3 siklus dalam 8 tahapan dilakukan untuk menghasilkan outcome dalam penelitian ini. Pelaksanaan action research untuk mengembangkan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan berlangsung selam 20 minggu yang terdiri dari 3 siklus dan 8 tahapan di Puskesmas Simalingkar Medan. Lamanya waktu untuk action research bervariasi antara 1 hingga 48 bulan (Waterman, 2001). Action research memiliki kelemahan dan sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang cukup lama (Karim, 2001). Menurut Kemmis dan Mctaggart (1998) bagi peneliti action research pemula ada baiknya tidak
melukan siklus yang terlalu lama karena akan sulit untuk mempertahankan komitmen dan mengkaji kemajuan penelitian. Penelitian pengembangan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan.
Sebelum siklus action research dilakukan terlebih dahulu Peneliti melakukan tahap reconnaissance, bertujuan melakukan pendekatan dengan tempat peneliti untuk mencari permasalahan penelitian yang tepat. Pendekatan peneliti kepada lahan sangat menentukan ditemukannya masalah penelitian yang tepat. Kepercayaan partisipan dipertahankan peneliti melalui teknik prolonged engagament yaitu, peneliti melakukan pendekatan dalam waktu sekitar 6 tahun dengan partisipan. Lamanya rentang waktu melakukan pendekatan akan memperoleh kepercayaan yang tinggi antara peneliti dan partisipan sehingga antara peneliti dan pasrtisipan memiliki keterkaitan yang lama menjadi semakin akrab, semakin terbuka, dan saling mempercayai. Menurut Lincon dan Guba (1994 dalam Polit & Beck, 2012), teknik prolonged engagement menunjukkan bahwa penelitian tersebut memenuhi kriteria credibility yang mengacu pada keyakinan kebenaran data dan interpretasi data. Peneliti kualitatif harus berusaha untuk membangun kepercayaan dalam kebenaran temuan bagi peserta dan konteks penelitian.
Pada tahap reconnaissance peneliti melakukan FGD terhadap pihak perawat dan caregiver dengan perspektif partisipan terhadap family centered care di Puskesmas Simalingkar, diperoleh hasil bahwa pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan belum ada. Peneliti juga menyebarkan kuesioner pengkajian status menelan dan family centered care kepada caregiver dan pasien
stroke di rumah, untuk melihat sejauh mana perawat melaksanakan family centered care. Menurut Sullivan, Hegney, dan Francis (2013) sumber data dapat dikumpulkan melalui kombinasi focus group discussion, catatan pasien. Informasi yang didapatkan dari FGD akan dibandingkan dengan sumber data lain yaitu survey pelaksanaan family centered care, sehingga akan diperoleh sudut pandang yang berbeda dan dapat mengidentifikasi strategi yang diperlukan untuk memperkaya budaya setting penelitian.
Pada tahap planning peneliti melakukan beberapa kegiatan diantaranya merencanakan sosialisasi program penelitian dan hasil pengumpulan data reconnaissance kepada perawat dan caregiver, merencanakan pertemuan rutin sebanyak 3 kali dengan tim pengembangan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan dan melakukan preconference. Hal ini sesuai dengan pendapat Davison, Martinson, dan Kock (2004) yang menjelaskan peneliti perlu membuat kerja sama dengan anggota organisasi dalam kegiatan ini, pelaporan secara rutin mengenai jalannya kegiatan dapat mencerminkan ciri khusus dari kesepakatan ini. Baik peneliti maupun partisipan dapat memiliki peran dan tanggungjawab ganda, meskipun ini dapat berubah selama perjalanan kegiatan berlangsung, tetapi penting untuk menentukan aturan awal pada bagian luar proyek agar dapat mencegah konflik kepentingan dan menghindari ancaman terhadap hak prerogatif pribadi atau jabatan, kemudian dapat dilakukan perbaikan yang diperlukkan. Kemmis dan Mctaggart (1988) menerangkan bahwa pada tahap planning peneliti merencanakan tindakan yang bersifat tentatif atau sementara serta fleksibel terhadap perubahan sesuai dengan kondisi partisipan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hegney dan Francis (2015), faktor yang menentukan kesuksesan penelitian action research yaitu terbinanya komitmen antara peneliti dan orang lain, agenda rutin pelaporan jalanya kegiatan, harapan, dan integritas dari metodologi penelitian.
Tahap acting dan observing, peneliti melaksanakan semua perencanaan yang telah direncankan, seperti yang dinyatakan oleh Kemmis dan McTaggart (1998) bahwa pada tahap acting peneliti melakukan kegiatan yang sudah direncanakan pada tahap planning. Diawali bertemu dengan pihak Kepala Puskesmas. Banyak hal yang dibicarakan terkait dengan rencana penelitian dan langkah-langkah konkrit yang harus dilaksanakan untuk mendukung kegiatan penelitian yang akan dilakukan, diantaranya menyusun tim perumusan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan. Format pengkajian disusun berdasarkan kombinasi Nursing Intervention Classification (NIC) dan kriteria hasil Nursing Outcome Classification (NOC) yang telah memiliki standar yang baku dalam perencanan keperawatan (Bulechek, Butcher, Dochterman, Wagner, 2013).
Untuk melengkapi format pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan di Puskesmas Simalingkar, Tim penyusun juga menggunakan teori kebutuhan dasar menurut Maslow, sehingga lima tingkat kebutuhan dasar manusia dapat dijabarkan dalam konsep pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan. Kontribusi Maslow sangat berharga untuk mengembangkan strategi kebutuhan dasar manusia yang bermanfaat dan efektif. Kebutuhan dasar manusia menurut Maslow diterapkan dalam proses keperawatan baik itu dalam pengkajian,
perencanaan, implementasi dan evaluasi. Dengan adanya hirarki Maslow membantu dalam memahami hubungan di antara kebutuhan dasar manusia dan menentukan prioritas diantara kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut.
Hirarki Maslow menggambarkan lima tingkat kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan mencintai dan memiliki, kebutuhan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri. Kelima kebutuhan hirarki Maslow dikombinasikan sesuai dengan konsep pengkajian status menelan dan intervensi status menelan. Sebelum finalisasi untuk role play kan format pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan mengalami dua kali revisi, terutama mengenai redaksi tata bahasa yang tidak dipahami dengan jelas oleh partisipan.
Langkah observasi dilakukan bersamaan saat format diimplementasikan atau di role play kan oleh partisipan. Untuk membantu observasi, peneliti menggunakan format chek list sehingga akan lebih objektif dalam menilai partisipan dalam menggunakan pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan saat melakukan perawatan pada pasien stroke. Hal ini sesuai dengan responsive, kritis dan peka terhadap hal-hal tak terduga.
Tahap 4 (reflecting) siklus 1 penelitian action research pengembangan model family centered care melakukan kegiatan yaitu evaluasi siklus 1 yang sudah terlaksana, melaksanakan preconference, dan melaksanakan kegiatan sosialiasi family centered care bagi caregiver yang merawat pasien stroke di rumahdi Puskesmas Simalingkar Medan. Pada tahapan reflection sejalan dengan Kemmis dan McTaggart (1998), reflection merupakan berusaha memahami
proses, masalah, issue, dan hambatan yang dimanifestasikan dalam suatu tindakan strategis, yang memperhitungkan berbagai aspek perspektif situasi yang akan muncul. Reflection mempunyai aspek evaluative dalam mempertimbangkan pengalaman seseorang dan untuk menilai tindakan yang akan dilakukan.
Siklus 2 tahap 5 adalah perencanaan (planning) penelitian action research family centered care bagi caregiver yang merawat pasien stroke di rumah dan kegiatan yang dilakukan adalah melakukan feed back dari siklus 1, dan melakukan pelatihan bagi caregiver untuk mengaplikasikan fcc di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar. Perawat memainkan peran penting pada pendidikan pasien dan rehabilitasi pasien. Perawat dapat membantu pasien untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam melakukan kegiatan setiap hari dengan mendidik, mengubah prilaku dan berfokus pada kemampuan dari pasien (Aslani, Alimohammadi, Taleghani, & Khorasani, 2016)
Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti pada siklus 2 tahap 6 adalah melakukan acting dan observing, kegiatannya terdiri dari mengaplikasikan model siklus 2, dan mengobservasi untuk mengevaluasi aplikasi model siklus 2. Partisipasi yang terlibat dalam penelitian ini adalah 31 orang caregiver di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar, ini sejalan dengan hasil penelitian Hsiao, Tzu, Mei, dan Hsi (2012), bahwa partisipan yang terlibat sejumlah 31 orang partisipan. Dalam penelitian action research peneliti memiliki peran yang sangat kompleks dan sulit. Dimana peneliti harus mampu memfasilitasi setiap terjadinya perubahan dan juga memberikan masukan dalam pengembangan family centered care bagi caregiver yang merawat pasien stroke di rumah. Hal ini sejalan dengan penelitian
Lutz, Young, Cox, Martz, dan Creasy (2011), dimana caregiver pasien stroke memiliki pemahaman yang baik tentang peran yang dilakukan dan tugas-tugas dasar untuk memenuhi kebutuhan dalam merawat dan memandirikan pasien stroke.
Tahapan observation dilakukan selama proses penelitian dengan menggunakan lembar observasi pengkajian status menelan dan lembar observasi panduan latihan menelan. Pada saat aplikasi family centered care, peneliti membuat catatan lapangan (field note) dan menemukan bahwa ada beberapa pasien masih kaku dan belum terbiasa dalam melakukan latihan menelan, hal ini dikarenakan partisipan masih belum terbiasa mengaplikasikan latihan menelan. Pengarahan yang dilakukan peneliti melalui diskusi, role play dan bimbingan membantu meningkatkan kemampuan partisipan dalam mengajarkan latihan menelan pada pasien stroke. Hal ini terlihat dari observasi partisipan setiap melakukan latihan menelan, semakin hari partisipan semakin percaya diri dalam melakukan latihan menelan. Sesuai dengan pernyatan Marquist dan Houston (2000), menyatakan bahwa pengarahan didefinisikan sebagai cara memotivasi dan memimpin sekelompok orang untuk mengerjakan tugas yang ditentukan.
Tahapan observasi dilakukan selama proses penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa item kegiatan tidak dilakukan oleh caregiver yaitu point 5, 6, 15, dan 18 hal ini disebabkan karena tubuh pasien mengalami kelemahan sehingga tidak mampu untuk menopang tubuhnya untuk duduk tegak.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Kemmis dan McTaggart (1998) bahwa tahapan observation mengamati proses action, efek dari action keadaan dan
hambatan action dan masalah yang timbul. Observation harus direncanakan, responsive, kritis dan harus peka terhadap hal-hal yang tidak terduga.
Tahapan akhir dari 3 siklus penelitian action research yaitu reflection peneliti melakukan evaluasi kegiatan penelitian terhadap enam orang partisipan yang terdiri dari tiga orang perawat Puskesmas dan tiga orang caregiver terkait kelemahan, kelebihan, manfaat dan kendala dari format pengkajian status menelan dan panduan latihan menelan dengan pendekatan FGD.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Kemmis dan Taggart (1988) bahwa tahapan reflection berusaha memahami proses, masalah, issue dan hambatan yang dimanifestasikan dalam tindakan strategis, memperhitungkan berbagai perspektif situasi yang muncul. Reflection biasanya dibantu dengan diskusi peserta kelompok penelitian dengan wacana mengarah ke rekonstruksi makna situasi dan memberikan dasar bagi rencana revisi. Reflection memiliki aspek evaluatif untuk mempertimbangkan pengalaman, menilai efek tindakan yang dilakukan.
Hasil dari penelitian sebelum dan sesudah yang dilakukan oleh peneliti menemukan bahwa perbedaan mean antara sebelum pelaksanaan family centered care memperoleh 46,71 dan 149,32 setelah pelaksanaan family centered care pada pasien stroke yang mengalami gangguan menelan. Hal ini sejalan dengan penelitian Langmore & Pisegna (2015) menyatakan hasil penelitiannya bahwa dengan dilakukan latihan menelan memberikan manfaat keuntungan jangka panjang.