• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN OUTSOURCING DI DALAM UNDANG-UNDANG KETENAGAKERJAAN DAN PERATURAN LAINNYA

A. Latar Belakang Pengaturan Outsourcing di Indonesia

3. Proses terbentuknya Outsourcing di dalam UU Ketenagakerjaan

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pada mulanya UU Ketenagakerjaan yang dikenal juga sebagai Paket 3 UU Perburuhan, merupakan hasil pembahasan dari RUU Pembinaan dan Perlindungan Ketenagakerjaan (selanjutnya disebut RUU PPK) yang sudah mengalami beberapa kali penundaan dalam memberlakukan pada masyarakat. Menurut kalangan buruh dan serikat buruh Paket 3 Hukum Perburuhan disebut sebagai produk hukum cerminan kekalahan kedaulatan Negera (state Souvereignty) terhadap otoritas modal dalam

178 Agusmidah, Opcit, hlm. 266.

179 A. Uwiyono, 2003, Implikasi Hukum Pasar Bebas dalam Kerangka AFTA Terhadap Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia dalam Jurnal Hukum Bisnis Vol 22 Jan-Peb 2003, Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, Jakarta.

107 mengatur hubungan perburuhan180. Penilaian yang bernada negatif seperti ini dapat difahami jika kita lihat sejarah dan kronolgis terbentuknya UU Ketenagakerjaan mulai dari penyusunan RUU yang tidak mempunyai Naskah Akademik sampai beberapa kali ditunda berlakunya sampai dinyatakan berlaku.

Pada waktu penyusunan RUU PPK rumusan outsourcing tidak ditemukan sama sekali sampai berhasilnya dibentuk UU No.25 Tahun 1997. Berdasarkan risalah persidangan pun tidak ditemukan substansi yang membahas tentang masalah tersebut namun tiba-tiba pada waktu UU Ketenagakerjaan diundangkan ternyata banyak materi dari RUU itu yang berubah termasuk pengaturan tentang outsourcing yang diatur pada Pasal 64 – 66. Pembahasan mengenai RUUK dan RUU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) setelah ditunda beberapa kali, dilakukan lagi pada waktu Pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Pemerintah mengajukan tiga RUU ke DPR untuk dilakukan pembahasan. Pada waktu itu Departemen Tenaga Kerja dipimpin oleh Bomer Pasaribu.

Perumusan dan pembahasan outsoutcing terjadi pada waktu sidang Pansus DPR menyerahkan pembahasan beberapa materi yang tidak bisa diselesaikan kepada suatu tim untuk memperhalus bahasa dan meluruskan rumusan dalam RUUK tersebut. Berdasarkan hasil kajian Jafar Suryomenggolo181 perumusan mengenai outsourcing dimulai karena adanya inisiatif dari Said Iqbal sebagai salah satu anggota Tim Kecil perwakilan pekerja. Dikatakan inisiatif karena pada draft naskah DPR hal yang satu ini tidak terumuskan secara khusus melainkan masuk dalam bentuk pemborongan pekerjaan. Inisiatif untuk memasukkan outsourcing oleh Said Iqbal dipengaruhi oleh pengalaman di tempat kerjanya perusahaan Jepang yang sebagian besar sudah mempraktikkan outsourcing dengan kata lain sudah merajalela, oleh karena itu harus diatur kalau tidak berbahaya182. Perumusan soal outsourcing memang banyak diajukan oleh Tim Kecil183.

180 Jafar Suryomenggolo, 2007, Dinamika Perumusan UU Ketenagakerjaan dan RUU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Apa, Siapa dan Bagaimana, TURC, cet. II, Jakarta, hlm. 3

181 Ibid, Hlm. 31

182 Ibid

183 ibid.

108 Meskipun pembahasan mengenai RUUK ini membutuhkan waktu yang sangat lama tetapi khusus untuk pembahasan outsourcing tidak banyak mengalami kesulitan dan perdebatan yang panjang karena para pihak sepakat bahwa outsourcing merupakan hal yang baru dan anggota tim banyak yang tidak mengetahui dan faham yang berkaitan dengan outsourcing sehingga memerlukan waktu untuk belajar dulu, apalagi pihak Apindo memang menginginkan adanya legalitas dari praktik yang selama ini telah dijalankan. Sehingga terjadi kesepahaman untuk mencantumkan secara eksplisit istilah outsourcing sebagai bentuk dari pemborongan pekerjaan. Menurut Rekso Ageng Herman sebagai yang ditugasi oleh DPR sebagai Ketua Tim Kecil pada awalnya dalam RUUK istilah yang dipergunakan adalah outsourcing tapi pada waktu persidangan akhir istilah tersebut sudah menjadi istilah lain184. Dihubungkan dengan pendapat Weber pemuatan materi sistem outsourcing di dalam UU Ketenagakerjaan yang merupakan faktor kepentingan185 dalam hal ini kepentingan pemilik modal atau pengusaha.

Berkaitan dengan Tim Kecil yang dimaksud disini adalah sebuah tim yang dibentuk oleh DPR yang dikomandoi oleh Jacob Nuwawea selaku Ketua Panitia Khusus (Pansus) pada waktu itu, didukung oleh anggota Komisi VII DPR RI, sejumlah pengurus Serikat Buruh, wakil dari Apindo dan 3 orang Dosen Hukum Perburuhan dari Fakultas Hukum mewakili pihak Perguruan Tinggi. Pembahasan RUUK dan RUUPHI mengalami kemandegan karena situasi politik pada waktu yang sedang tidak stabil berkaitan dengan kasus Presiden Abdurrahman Wahid.

Sehingga perhatian DPR lebih terfokus pada situasi tersebut sampai pada akhirnya terjadi pergantian Presiden. Perubahan kepemimpinan Negara yang digantikan oleh Megawati Sukarnoputri menjadi Presiden serta merta merubah kedudukan Jacob Nuwa Wea menjadi Menteri Tenaga Kerja sehingga berpengaruh pada kewenangannya yang makin besar dalam menyelesaikan RUUK dan RUUPPHI.

Jika diperhatikan proses pembahasan dapat diketahui bahwa ketiga Paket Hukum Perburuhan yang dibentuk lebih didasarkan pada motif politik yang didorong oleh liberalisasi ekonomi Indonesia dalam pasar bebas. Desakan

184 Rekso Ageng Herman, dalam Jafar Suryomenggolo, ibid

185 Peters dan Siswosubroto,dalam Juhaya, Op.cit, hlm. 49

109 globalisasi ekonomi untuk meninggalkan asas proteksi buruh memang sangat terasa selama pembahasan RUUK. Namun demikian kepentingan partai juga terselip didalamnya sehingga dapat dikatakan bahwa faktor ekonomi ditunggangi motif politik untuk menghasilkan kekuasaan politik yang lebih luas. Dalam proses pembentukan dan pembahasan dapat diidentifikasi beberapa hal yang bermasalah yakni ; proses pembentukan sebagai tolak ukur konstitusional kinerja DPR, masalah transparansi selama proses, lemahnya daya tawar buruh di Parlemen, perlunya pembenahan internal Serikat Buruh dan kematian hukum perburuhan di tangan para ahlinya sendiri186 .

Sebagaimana hasil studi yang dilakukan oleh Jafar Suryamenggala yang menyatakan bahwa :

“dalam proses pembahasan yang dipimpin oleh Surya Chandra Surapaty sebagai pengganti Jacob Nuwa Wea yang memang kurang memahami masalah perburuhan sering mengalami kendala, sebagai contoh Pansus kebingungan menentukan RUU mana yang lebih dahulu dibahas apakah RUUK atau RUUPPHI, dalam proses perjalanan pembahasan pun tidak ada dari kedua RUU itu yang betul-betul selesai dibahas. Sidang-sidang pembahasan kedua RUU itu tidak pernah mencapai korum dan kelanjutannya sendiri Nampak mulai kabur. Terlebih lagi ketika bulan Juli 2002 serikat Buruh secara tegas menolak pengesahan RUU itu”187

Melihat keadaan yang demikian maka Jacob Nuwa Wea mengambil alih proses pembahasan karena kecewa atas hasil pembahasan DPR. Beliau mengadakan pertemuan dengan wakil-wakil Serikat Buruh dan pengusaha di kantornya pada tanggal 21 Agustus 2003. Pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil karena Serikat Buruh tetap menolak. Oleh karena itu pada pertengahan September 2003 Jacob Nuwa Wea melakukan pertemuan tertutup dengan DPR188. Dengan adanya aksi penolakan yang dilakukan terus oleh Serikat Buruh sampai penolakan tanggal 23 September 2002 Jacob Nuwa Wea mengusulkan adanya pertemuan antara Serikat Buruh dengan pengusaha. Pertemuan pada akhirnya menghasilkan peraturan perburuhan yang bersifat liberal dan menciptakan pasar kerja yang lentur (flexible labour market).

186 Ibid.

187 Ibid, hlm. 14

188 Suara Pembaruan, 13 September 2003

110 Sesuai dengan hasil kajian dalam Risalah Persidangan dan pembahasan RUUK dihubungkan dengan hasil kajian Jafar Suryomenggolo maka dapat diketahui bahwa perumusan konsep outsourcing tidak dirumuskan sejak awal oleh pemerintah dalam draft RUU dan tidak pula dirumuskan atau diusulkan oleh DPR atau Pansus yang membahas RUUK tetapi muncul pada waktu pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh Tim Kecil yang pada mulanya diketuai oleh Jacob Nuwa Wea. Dengan kata lain proses perumusannya tidak melalui prosedur yang seharusnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Oleh karena perumusan yang tidak melalui prosedur yang benar maka ketentuan kaidahnya pun tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan pada umumnya yakni setiap materi yang diatur selalu diberikan pengertian mengenai istilah dan makna yang terkandung di dalamnya.

Selanjutnya agar tidak terjadi bermacam penafsiran oleh siapapun maka untuk tiap materi diberikan penjelasan pada bagian Penjelasan Pasal demi Pasal.

Hal ini tidak ditemukan pada pengaturan outsourcing. Begitu juga pengaturan sanksi seyogyanya untuk pelaksanaan outsourcing agar berjalan dengan baik sesuai dengan pengaturan outsourcing yang dibuat dengan persayaratan yang begitu ketat tetapi tidak diatur tentang sanksi bagi pemberi kerja atau perusahaan pemborongan dan perusahaan penyedia jasa yang melanggar persayaratan pelaksanaannya.

Berkaitan dengan materi yang tidak jelas rumusan/konsep normanya akan menimbulkan ketidakpastian hukum kepada pekerja, sebagaimana dikemukakan oleh Ismail bahwa, untuk menciptakan kepastian hukum dalam suatu peraturan perundang‐undangan harus terpenuhi beberapa syarat antara lain Norma hukum itu harus mempunyai kejelasan konsep.189