• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Hak-Hak Pekerja Menurut Perundang-Undangan Di Indonesia

4. UU No.21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja

Lahirnya UU ini tidak terlepas dari keberhasilan reformasi pada waktu itu yang salah satu tuntutannya adalah ditegakkannya demokrasi di Indonesia. UU ini salah satu peraturan yang pertama keluarnya setelah reformasi, yang merubah paradigma pengaturan tentang organisasi buruh yang selama masa orde baru hanya membolehkan satu macam organisasi buruh untuk seluruh Indonesia yang dikenal dengan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Pada era setelah reformasi diperbolehkan dibentuk organisasi buruh dalam satu perusahaan lebih dari satu asal memenuhi syarat untuk pembentukannya. Sehingga bermunculanlah berbagai macam organisasi buruh bahkan sebagai partai politik yang pernah menjadi salah satu partai peserta pemilu.

Kebebasan berserikat dan berkumpul termuat dalam konvensi ILO tentang kebebasan berserikat dan perlindungan hak berorganisasi, 1948 (No.87) telah diratifikasi dan dituangkan dalam Keputusan Presiden RI No. 83 Tahun 1998, dan Konvensi ILO tentang hak berorganisasi dan berunding bersama, 1949 (No. 98) telah diratifikasi dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 1956. Konvensi No. 87 dimaksudkan secara keseluruhan untuk melindungi kebebasan berserikat terhadap kemungkinan campur tangan pemerintah. Konvensi No. 98 ditujukan untuk mendorong pengembangan penuh mekanisme perundingan kolektif sukarela.

Keberadaan serikat pekerja saat ini lebih terjamin dengan diundangkannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja / serikat buruh (Lembaran Negara Tahun 2000 No. 131, Tambahan Lembaran Negara No. 3898). Sebelum adanya UU No. 21 Tahun 2000, kedudukan serikat pekerja secara umum dianggap hanyalah sebagai kepanjangan tangan atau boneka dari majikan, yang kurang

65 Frans Magins- Suseno, 1999, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Modern, , Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta, Hlm. 73.

39 memperjuangkan aspirasi anggotanya. Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja dan buruh.

Berdasarkan pengertian tersebut maka keberadaan suatu organisasi pekerja sebagai suatu ungkapan dari kebebasan berserikat dan berkumpul pekerja sangat menentukan kondisi hubungan kerja antara pihak pekerja dan pengusaha. Hal ini dikarenakan pada dasarnya hubungan kedua belah pihak adalah suatu hubungan perdata yang penuh dengan tawar menawar antara hak dan kepentingan pekerja dengan hak dan kepentingan pengusaha66. Hubungan perdata antara kedua belah pihak ini harus didasarkan pada keseimbangan kedudukan dan kekuatan sehingga hasil dari tawar menawar tersebut akan memberikan hasil "win-win" bagi kedua belah pihak. Apabila kondisi ini dapat tercapai, maka tidak akan terlalu banyak dibutuhkan campur tangan dari pihak pemerintah melalui organisasi pekerja yang kuat dan mandiri inilah pekerja akan mempunyai kekuatan tawar menawar kolektif yang akan memberikan kedudukan yang seimbang dengan pengusaha.

Fungsi serikat buruh/ pekerja yang dirumuskan dalam UU No. 21 Tahun 2000 belum dapat dilaksanakan secara maksimal. Fungsi berasal dari kata function, artinya something that performs a function : or operation67. Fungsi dapat pula diartikan sebagai jabatan (pekerjaan) yang dilakukan : jika ketua tidak ada maka wakil ketua melakukan fungsi ketua

; fungsi adalah kegunaan suatu hal; berfungsi artinya berkedudukan, bertugas sebagai ; menjalankan tugasnya68 Fungsi serikat buruh / pekerja dengan demikian dapat diartikan sebagai jabatan, kegunaan, kedudukan

66 Khairani, Peranan Serikat Pekerja dalam Memperjuangkan Hak Pekerja,2007, Makalah, Fakultas Hukum Unand Padang,

67 Philip Babcoks, 1993, A Merriam webster’s third new international dictionary of the English language un a bridged, Merriam Webster inc, publishers, Springfield, massa chusetts, U.S.A. p. 921.

68Departemen P & K, ,1989, Kamus besar bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hal.

245.

40 dari serikat buruh/ pekerja. Berdasarkan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang No. 21 Tahun 2000, yaitu

(1) Serikat pekerja/ serikat buruh, federasi and konfederasi serikat pekerja/ serikat buruh bertujuan memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/ buruh dan keluarganya.

(2) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) serikat pekerja/ serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja/ serikat buruh mempunyai fungsi :

a. sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerja bersama dan penyelesaian perselisihan industrial;

b. sebagai wakil pekerja/buruh dalam lembaga kerja sama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya;

c. sebagai sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

d. sebagai sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya;

e. sebagai perencana, pelaksana dan penanggung jawab pemogokan pekerja/ buruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

f. sebagai wakil pekerja/ buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham di perusahaan.

Belum adanya ketentuan pelaksanaan dari Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang fungsi serikat buruh/serikat pekerja mengakibatkan diperlukan adanya interpretasi dari ketentuan Pasal 4 Undang-Undang No. 21 Tahun 2000.

1. Sebagai Pihak Dalam Pembuatan PKB Dan Penyelesaian Perselisihan Perburuhan

Fungsi pertama dari serikat pekerja adalah sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerja bersama atau PKB. Istilah perjanjian kerja bersama (PKB) ada setelah diundangkannya Undang-undang No. 21 Tahun 2000, dimaksudkan untuk menggantikan kedudukan kesepakatan kerja bersama (KKB). Pembuat undang-undang menganggap pengertian dari PKB sama dengan KKB. PKB merupakan terjemahan dari Collective Labour Agreement (CLA). Sentanoe Kertonegoro, menganggap KKB tidak sama dengan PKB, yaitu :

Perjanjian Kerja Bersama adalah :

41 1. Dasar dari individualisme dan liberalisme (free fight liberalisme) berpandangan bahwa antara pekerja dan pengusaha adalah dua pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda dalam perusahaan

2. Mereka bebas melakukan perundingan dan membuat perjanjian tanpa campur tangan pihak lain;

3. Dibuat melalui perundingan yang bersifat tawar-menawar (bargaining) masing-masing pihak akan berusaha memperkuat kekuatan tawar-menawar, bahkan dengan menggunakan senjata mogok dan penutupan perusahaan;

4. Hasilnya adalah perjanjian yang merupakan keseimbangan dari kekuatan tawar menawar

Kesepakatan Kerja Bersama

1. Dasar adalah hubungan industrial Pancasila berpandangan bahwa antara pekerja dan pengusaha terdapat hubungan yang bersifat kekeluargaan dan gotong royong;

2. Mereka bebas melakukan perundingan dan membuat perjanjian asal saja, tetapi memperhatikan kepentingan yang lebih luas yaitu masyarakat, bangsa dan negara;

3. Dibuat melalui musyawarah untuk mufakat, tidak melalui kekuatan tawar menawar tetapi yang diperlukan sifat yang keterbukaan, kejujuran dan pemahaman terhadap kepentingan semua pihak. Kehadiran serikat pekerja dalam rangka meningkatkan kerjasama dan tanggung jawab bersama;

4. Hasilnya adalah suatu kesepakatan yang merupakan titik optimal yang bisa dicapai menurut kondisi yang ada, dengan memperhatikan kepentingan semua pihak.69

Apabila dicermati pendapat Sentanoe mengenai perbedaan antara PKB dengan KKB, tampak ada peluang yang dapat dipergunakan oleh majikan dalam hal memanfaatkan suatu keadaan dari pengertian KKB untuk menekan buruh dalam hal memperjuangkan haknya. Pada pengertian KKB, lebih ditekankan semua pihak tidak hanya mementingkan kepentingannya tetapi harus memperhatikan juga kepentingan bangsa dan negara. Sebagai contoh pemerintah telah menetapkan Upah Minimum Propinsi/Kota. Ketentuan UMP itu seolah-olah dijadikan sebagai dasar bagi majikan untuk memberikan upah kepada buruhnya selama-lamanya tanpa melihat lama kerja buruh, prestasi atau keuntungan yang diperoleh perusahaan. Memang ada peningkatan upah berdasarkan lamanya masa kerja atau prestasi tetapi apabila dibandingkan dengan perolehan keuntungan majikan sangat jauh. Ada dalih dari majikan untuk tidak memberikan kenaikan upah bagi buruhnya di atas ketentuan UMP,

69 Sentanoe Kertonegoro, 1999, Hubungan industrial, hubungan antara pengusaha dan pekerja (Bipartid) dan Pemerintah (Tripartid), YTKI, Jakarta, hlm. 106.

42 yaitu perusahaan bisa saja memberikan kenaikan upah berdasarkan presentasi keuntungan yang diperoleh perusahaan, tetapi hal ini tidak dilakukan karena nanti akan diprotes oleh perusahaan yang sejenis yang dapat mengakibatkan mogok kerja pada perusahaan lainnya sehingga mengganggu stabilitas nasional.

Dari uraian itu maka sepatutnyalah kita mengubah paradigma dari KKB ke PKB yang lebih memberikan posisi mandiri bagi serikat buruh untuk berperan aktif dalam pembuatan PKB. Sebagai pihak dalam pembuatan PKB saat ini ternyata menimbulkan masalah. Setelah adanya Undang-Undang No.

21 Tahun 2000, dimungkinkan terbentuk lebih dari satu serikat pekerja/ buruh di satu perusahaan. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pada masa itu karena serikat pekerja / buruh hanya diakui satu di seluruh Indonesia yaitu serikat pekerja seluruh Indonesia (SPSI) maka hanya SPSI unit kerja PT X saja yang berhak sebagai pihak dalam pembuatan KKB apabila memenuhi ketentuan jumlah anggotanya adalah minimal 50 % dari jumlah pekerja yang ada di perusahaan itu. Hal ini diatur dalam Pasal 130 ayat (2) UU Ketenagakerjaan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Konvensi ILO No. 87 tentang kebebasan berserikat dan perlindungan hak berorganisasi yaitu pengusaha dan pekerja mempunyai hak untuk membentuk, dan tunduk hanya pada peraturan organisasi yang bersangkutan, bergabung dengan organisasi pilihannya sendiri. Adanya monopoli serikat pekerja pada saat itu dalam wadah SPSI menurut Sentanoe :

“Hanya dapat dibuat dalam hubungannya dengan perwakilan (representative) untuk maksud perundingan kolektif, konsultasi oleh pemerintah, atau penunjukan wakil-wakil pada organisasi internasional.

Tetapi tidak boleh digunakan untuk mencegah berfungsinya organisasi minoritas. Organisasi-organisasi minoritas setidak-tidaknya harus memiliki hak untuk melakukan perwakilan atas nama para anggotanya dan mewakili anggota dalam hal keluhan-keluhan individual”.70

70 Sentanoe Kertonegoro, 1999, Kebebasan Berserikat (Freedom of Association), YTKI, Jakarta, hlm 48.

43 5. Menurut UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Kondisi hukum di bidang ketenagakerjaan yang ada perlu ditata kembali guna memenuhi tuntutan kebutuhan hukum yang tidak saja didasarkan pada aspek yuridis dan politis, tetapi juga sosiologis dan filosofis. Hal ini memerlukan pengkajian secara cermat dalam kaitannya dengan evaluasi masa lampau, sekarang dan untuk menjangkau masa mendatang71.

Pasal 1 angka 1 UU Ketenagakerjaan, menyebutkan bahwa Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Penjelasan Umum UU Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga terpenuhi hak-hak dan perlindungan yang mendasar bagi tenaga kerja dan pekerja/buruh serta pada saat yang bersamaan dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi pembangunan dunia usaha.

Landasan yuridis tersebut secara tegas menyatakan bahwa bekerja merupakan hak asasi manusia yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dilindungi dan dijamin oleh hukum. Oleh karena itu, untuk memenuhi rasa keadilan bagi semua pihak yang terkait dengan ketenagakerjaan maka sangat dibutuhkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang mengakomodasi semua kepentingan. Sementara ini, banyaknya tuntutan masyarakat dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam berbagai kesempatan menyampaikan akan diadakan perubahan terhadap UU Ketenagakerjaan.

Hak-hak pekerja yang ditentukan di dalam UU Ketenagakerjaan adalah : 1. Hak atas upah

Mengenai pengertian dari upah ini dapat kita lihat dalam peraturan perundang-undangan maupun pendapat para ahli. Menurut Pasal 1 angka 30 UU Ketenagakerjaan, Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari

71 Sekretariat Jenderal DPR RI, Proses Pembahasan Rancangan UU tentang Ketenagakerjaan, Buku 1 hlm 129

44 pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerja dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Menurut Pasal 1 angka 5 UU No.3 Tahun 1992 tentang Jamsostek, Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada tenaga kerja untuk sesuatu pekerjaan yang telah atau akan dilakukan, dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang ditetapkan menurut suatu perjanjian, atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan tenaga kerja, termasuk tunjangan baik untuk tenaga kerja sendiri maupun keluarganya.

Menurut Pasal 1 angka 13 UU No.40 Tahun 2004 tentang Sistem jaminan Sosial Nasional (UU SJSN), Gaji atau upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja ditetapkan dan dibayar menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan /atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Menurut Iman Soepomo, Upah adalah pembayaran yang diterima oleh buruh selama dia melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan. Soepomo juga berpendapat bahwa Bagi pekerj/buruh dan pengusaha arti upah mempunyai makna yang berbeda, hal ini dapat dilihat dari pendapat yang dikemukakan oleh G. Reynold yang dikutip oleh Soepomo : Bagi majikan upah itu adalah biaya produksi yang harus ditekan serendah-rendahnya agar harga barangnya nanti tidak terlalu tinggi atau keuntungannya menjadi lebih tinggi. Bagi organisasi buruh upah adalah objek yang menjadi perhatiannya untuk dirundingkan dengan majikan agar dinaikkan. Bagi buruh upah adalah jumlah uang yang diterimanya pada waktu tertentu atau lebih penting lagi : upah merupakan jumlah barang kebutuhan hidup yang ia dapat

45 beli dari upah itu72.

Menurut Abdul Rahmat Budiono, Upah merupakan imbalan prestasi yang dibayarkan oleh majikan kepada buruh atas pekerjaan yang telah dilakukan oleh buruh.73Upah menurut Edwin B.Plippo dalam bukunya “Principle of Personal Management” yang diterjemahkan oleh Mukijat, adalah harga untuk jasa yang diterima atau diberikan oleh orang lain, bagi kepentingan seseorang atau badan hukum74. Bagi pekerja, upah merupakan tujuan, karena dengan upah akan digunakan untuk biaya pemenuhan kebutuhan hidup. Bagi pengusaha, upah merupakan biaya produksi, sehingga ia akan sangat hati-hati dalam menetapkan upah. Bagi pemerintah, upah harus ditetapkan standart kelayakannya sesuai dengan batas minimal kebutuhan gizi pekerja dan keluarganya, meningkatkan produktifitas dan daya beli. Di lain pihak merupakan alat untuk mendorong investasi, mendorong pertumbuhan ekonomi dan menekan laju inflasi.75 Dalam terminolgi Islam istilah upah disebut dengan ijrah yakni upah atas suatu pekerjaan. Penentuan ijrah pada adanya relasi dua pihak, yaitu pekerja (buruh) dan pihak yang mempekerjakan (majikan) yang objeknya adalah jasa-jasa dengan satu kompensasi berupa upah atas pekerjaan itu76.

Kalau kita perhatikan pengertian yang dikemukakan oleh Iman Soepomo yang menyatakan bahwa upah diberikan kepada buruh atas pekerjaan yang telah dia lakukan atau dipandang melakukan pekerjaan.

Artinya pekerja yang sudah terikat dalam hubungan kerja mempunyai hak untuk menerima upah jika secara nyata melakukan pekerjaan atau tidak secara nyata melakukan pekerjaan tetapi tetap berhak juga atas upah meskipun tidak melakukan pekerjaan karena di luar kemampuan dirinya. Berbeda dengan yang dikemukakan oleh Abdul Rahmat Budiono yang menurutnya upah adalah imbalan dari prestasi kerja yang

72 Iman, Soepomo, Op.cit, hlm. 135

73 Abdul Rahmat Budiono, Hukum Perburuhan di Indonesia, RajaGrafindo, Jakarta, hlm.36

74 Dikutip dari Sofi Sofiyah, Jurnal Ilmu Hukum Litigasi, Vol.7 No.2 Juni 2006, FH Unpas Bandung, hlm. 231

75 Payaman J. Simanjutak, 2004, “Reformasi System Pengupahan Nasional“, Informasi Hukum Vol. 5 Tahun VI.

76 Ridwan, Fiqh Perburuhan, Grafindo Litera Media, Yogyakarta, 2007, hlm 4

46 sudah dilakukan artinya jika pekerja tidak melakukan pekerjaan di luar kemampuannya dia tidak berhak menerima upah.

Apa yang dirumuskan di dalam UU Ketenagakerjaan Pasal 1 angka (30) merupakan peningkatan dari rumusan-rumusan sebelumnya karena upah dinyatakan sebagai hak dari pekerja. Kalau sudah dinyatakan sebagai hak tentunya ada semacam kewajiban untuk memenuhinya oleh yang mempunyai kewenangan untuk membayarnya, dalam hal ini adalah pemberi kerja. Pada dasarnya upah akan dibayar jika ada pelaksanaan dari kewajiban untuk melakukan pekerjaan, atau yang dikenal sebagai asas no work no pay (ada pekerjaan ada upah) hal ini diatur di dalam Pasal 93 : Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Pengaturan ini dapat dilihat dalam UU Ketenagakerjaan dan PP No. 81 Tahun 1981 tentang Perlindungan upah. Namun demikian asas ini tidaklah mutlak dipakai oleh UU Ketenagakerjaan karena ada pengecualian untuk itu, sebagaimana diatur di dalam Pasal 93 ayat (2-5) : pengusaha wajib membayar upah apabila :

a. pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;

b. pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;

c. pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia;

d. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara;

e. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya;

f. pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari

pengusaha;

g. pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;

h. pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh

47 atas persetujuan pengusaha; dan

i. pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.

3. Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit : sebagai berikut:

a. untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus perseratus) dari upah;

b. untuk 4 (empat) bulan kedua, dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari upah;

c. untuk 4 (empat) bulan ketiga, dibayar50% (lima puluh perseratus) dari upah;

d. untuk bulan selanjutnya dibayar 25 % (dua puluh lima perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh pengusaha.

4. Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak masuk bekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c sebagai berikut :

a. pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari;

b. menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

c. mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

d. membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

e. isteri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

f. suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

g. anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, dibayar untuk selama 1 (satu) hari;

5. Pengaturan pelaksanaan ketentuan sebagaimana ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Dalam pemberian upah kepada pekerja seharusnya memperhatikan kebutuhan hidup pekerja sehingga memenuhi penghidupan layak bagi pekerja. Di dalam UU Ketenagakerjaan dipertegas ketentuan pemenuhan hidup layak sebagaimna diatur dalam Pasal 88 ayat (1) bahwa setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Maksud dari penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak adalah jumlah penerimaan atau pendapatan pekerja/buruh dari hasil pekerjaannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan

48 hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar yang meliputi makanan dan minuman, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan jaminan hari tua. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka menurut Pasal 88 ayat (2) Pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh, meliputi :

a. upah minimum;

b. upah kerja lembur;

c. upah tidak masuk kerja karena berhalangan;

d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;

e. upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;

f. bentuk dan cara pembayaran upah g. denda dan potongan upah;

h. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;

i. struktur dan skala pengupahan yang proporsional;

j. upah untuk pembayaran pesangon; dan k. upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 88 tersebut dapat diketahui bahwa dalam rangka melindungi pekerja dari kesewenang-wenangan penentuan besarnya upah oleh Pengusaha maka Pemerintah membuat kebijakan dalam pengaturan upah. Dengan kata lain masalah upah merupakan kewenangan dari Pemerintah yang memang secara tegas ditentukan dalam UU Ketenagakerjaan. Meskipun sebenarnya masalah upah merupakan hak atau wewenang dari para pihak untuk menentukannya pada waktu melakukan perjanjian, oleh Asriwijayanti77 disebut bahwa mengenai upah harus diserahkan kepada para pihak untuk menentukan berapa besaran dan bagaimana cara pembayarannya. Menurut saya walaupun dalam konsep perjanjian ada asas kebebasan berkontrak bagi para pihak, tetapi dalam hal upah seharusnya memang ada campur tangan Pemerintah dalam mengaturnya agar tidak terjadi upah yang ditetakan tidak terlalu rendah. Hal ini sebagai perwujudan dari tugas Pemerintah (Negara) dalam rangka memberikan perlindungan kepada rakyat. Sebagaimana dikemukakan oleh Philipus M.Hadjon bahwa perlindungan yang diberikan oleh Negara atau Pemerintah kepada rakyat :

77 Asriwijayanti, wawancara, pada Hari Sabtu 1 November 2013 Jam 17.00. Surabaya

49

“selalu berkaitan dengan kekuasaan. Ada dua kekuasaan yang selalu menjadi perhatian yakni kekuasaan pemerintah dan kekuasaan ekonomi.

Dalam hubungan dengan kekuasaan pemerintah, permasalahan perlindungan hukum bagi rakyat (yang diperintah), terhadap pemerintah (yang memerintah). Dalam hubungan dengan kekuasaan ekonomi, permasalahan perlindungan hukum adalah perlindungan bagi si lemah (ekonomi) terhadap si kuat (ekonomi), misalnya perlindungan bagi pekerja terhadap pengusaha.78

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah tersebut antara lain melalui peraturan perundang-undangan yang menyangkut dengan upah, misalnya tentang Penetapan Upah Minimum. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa dalam rangka memberikan upah yang memenuhi kebutuhan layak maka Pemerintah mengaturnya melalui Penetapan Upah Minimum dengan berberapa komponen lainnya. Upah minimum terdiri atas: upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota, dan upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota; dimana dalam pelaksanaannya diarahkan kepada pencapaian kebutuhan hidup layak.

Menurut UU Ketenagakerjaan kewenangan untuk menentukan besarnya Upah minimum pada tiap daerah ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota. Dengan kata lain wewenang untuk menentukan berapa upah yang berlaku tiap daerah adalah merupakan kewenangan Gubernur dengan memperhatikan pertimbangan dari Dewan Pengupahan Daerah. Dewan

Menurut UU Ketenagakerjaan kewenangan untuk menentukan besarnya Upah minimum pada tiap daerah ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota. Dengan kata lain wewenang untuk menentukan berapa upah yang berlaku tiap daerah adalah merupakan kewenangan Gubernur dengan memperhatikan pertimbangan dari Dewan Pengupahan Daerah. Dewan