C. Hak-Hak Pekerja Menurut Perundang-Undangan Di Indonesia
2. UU No.3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
UU No. 3 Tahun 1992 dibentuk untuk mengatur perlindungan kepada pekerja dari kemungkinan terjadinya sesuatu yang mengakibatkan
30 hilangnya sebagian atau seluruhnya penghasilan pekerja disebabkan oleh hal-hal di luar kemampuannya. Hal ini dapat dilihat dari ketentaun pasal 1 ayat (1) yang menyatakan bahwa Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia. Misalnya sakit, cedera akibat kecelakan, tua, meninggal dunia dan sebagainya. Bentuk perlindungan yang diberikan menurut UU ini adalah berupa santunan atau jaminan dan berupa pelayanan. Hal ini dapat kita lihat pada Pasal 3 ayat (1) yang menyebutkan bahwa Untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja diselenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja yang pengelolaannya dapat dilaksanakan dengan mekanisme asuransi. Artinya perlindungan yang diberikan dikelola melalui program asuransi dengan memungut iuran kepada pengusaha yang mempekerjakanya dan atau dari upah pekerja itu sendiri. Sehingga selanjutnya menurut Pasal 3 ayat (2) setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja.
Sedangkan menurut UU No.24 Tahun 2011 disebut dengan Jaminan Sosial dengan pengertian bahwa Jaminan Sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.
Pengertian Jaminan Sosial menurut UU No.24 Tahun 2011 sangat berbeda dari pengertian Jamsostek menurut UU No.3 Tahun 1992. Karena jamsostek hanya dimaksudkan untuk melindungi pekerja atau orang-orang berada dalam hubungan kerja sedangkan Jaminan Sosial nasional untuk seluruh rakyat Indonesai termasuk pekerja tentunya. Dengan perbedaan ini berarti konsekuensi peserta Jaminan sosial nasional mencakup seluruh rakyat Indonesia tidak hanya pekerja.
Hal ini bisa dilihat dalam Konsiderans UU SJSN bagian (a) yakni bahwa setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur;
31 selanjutnya terapat pula pada pasal 1 angka 8 yang menyebutkan bahwa Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran. Lebih lanjut di dalam pasal 13 dan 14 disebutkan bahwa yang menjadi peserta adalah orang yang bekerja pada pemberi kerja dan pada Pemerintah dan orang fakir miskin penerima bantuan. Pasal 13 : Pemberi kerja secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjaannya sebagai peserta kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti. Pasal 14 (1) Pemerintah secara bertahap mendaftarkan penerima bantuan iuran sebagai peserta kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, yang terdiri dari fakir miskin dan orang tidak mampu. Jadi secara sederhana dapat disebutkan bahwa yang menjadi peserta Jaminan Sosial Nasional adalah : 1. pegawai negeri, 2. Pekerja, dan 3.fakir miskin.
Program jaminan sosial meliputi : a. jaminan kesehatan;
b. jaminan kecelakaan kerja;
c. jaminan hari tua;
d. jaminan pensiun; dan e. jaminan kematian
Dari 5 jenis program Jaminan sosial ada 4 jenis diselenggarakan oleh badan penyelenggara yang mengelola ketenagakerjaan, dimana badan yang dimaksud menurut UU Jaminan Sosial adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (selanjutnya disebut dengan BPJS). BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b menyelenggarakan program:
a. jaminan kecelakaan kerja;
b. jaminan hari tua;
c. jaminan pensiun; dan d. jaminan kematian.
Berdasarkan ketentuan ini dapat diketahui bahwa Jamsostek masih tetap berlaku sebagaimana yang terdapat pada UU No.3 Tahun 1992. Yang
32 berubah adalah badan penyelenggaranya yang semula diselenggarakan oleh sebuah Badan Usaha Pemerintah yang berupa Perusahaan Perseroan yang dikenal dengan PT Jamsostek. Dengan adanya perubahan menjadi BPJS itu berarti penyelenggara Jamsostek merupakan badan hukum publik yang berada dibawah naungan Presiden.
Program Jamsostek terdiri dari Jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan pemeliharaan kesehatan. Berkaitan dengan Jamsostek sejak tahun 2014 terjadi perubahan yang sangat mendasar dengan berlakunya UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU No.24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Perubahan tersebut menyangkut dengan jenis program dan kepesertaan, serta kedudukan badan penyelenggara Jamsostek.
1. Program Jamsostek, untuk saat ini program yang diselenggarakan adalah program kecelakaan kerja, program hari tua dan program kematian, sedangkan program Pelayanan Kesehatan menjadi kewenangan Badan Penyelenggaraan Kesehatan Nasional yang pesertanya salah satunya juga dari pekerja yang ada di seluruh Indonesia.
Dengan berlakunya UU tentang BPJS ketentuan yang terdapat pada Pasal 8 sampai dengan 15 UU No.3 Tahun 1992 tentang Jamsostek masih tetap berlaku. Adapun ketentuan Pasal 8-15 berisi tentang :
a.Jaminan Kecelakaan Kerja
Pasal 8 menyebutkan bahwa (1). Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima jaminan Kecelakaan Kerja.(2).
Termasuk tenaga kerja dalam Jaminan Kecelakan Kerja ialah:a.
magang dan murid yang bekerja pada perusahaan baik yang menerima upah maupun tidak; b. mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah perusahaan c. narapidana yang dipekerjakan di perusahaan.
33 Maksud dari ketentuan Pasal 8 ini bahwa setiap tenaga kerja berhak atas jaminan kecelakaan kerja, selain tenaga kerja, magang/orang yang magang atau murid, pemborong pekerjaan yang tidak berupa perusahaan dan nara pidana yang dipekerjakan juga berhak atas santuan kecelakaan kerja.
Pasal 9 : Jaminan Kecelakaan Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) meliputi :a. biaya pengangkutan; b. biaya pemeriksaan, pengobatan, dan/atau perawatan; c. biaya rehabilitasi; d.
santunan berupa uang yang meliputi :
1. santunan sementara tidak mampu bekerja;
2. santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya;
3. santunan cacat total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental;
4. santunan kematian.
Pasal 10 : (1). Pengusaha wajib melaporkan kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerja kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggaran dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam.(2). Pengusaha wajib melaporkan kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam setelah tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan oleh dokter yang merawatnya dinyatakan sembuh, cacat atau meninggal dunia.(3).
Pengusaha wajib mengurus hak tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja kepada Badan Penyelenggara sampai memperoleh hak-haknya.(4). Tata cara dan bentuk laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 11 : Daftar jenis penyakit yang timbul karena hubungan kerja serta perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
a. Jaminan Kematian
Pasal 12 ayat (1). Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, keluarganya berhak atas Jaminan Kematian.(2).
Jaminan Kematian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi: a.
biaya pemakaman; b. santunan berupa uang.
34 Pasal 13 : Urutan penerima yang diutamakan dalam pembayaran santunan kematian dan Jaminan Kematian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d butir 4 dan Pasal 12 ialah :
a. janda atau duda;
b. anak;
c. orang tua;
d. cucu;
e. kakek atau nenek;
f. saudara kandung;
g. mertua.
b. Jaminan Hari Tua
Menurut Pasal 14 ayat (1) Jaminan Hari Tua dibayarkan secara sekaligus, atau berkala, atau sebagian dan berkala, kepada tenaga kerja karena: a. telah mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun, atau b. cacat total tetap setelah ditetapkan oleh dokter. Ayat (2) Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia, Jaminan Hari Tua dibayarkan kepada janda atau duda atau anak yatim piatu. Pasal 15 : Jaminan Hari Tua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dapat dibayarkan sebelum tenaga kerja mencapai usia 55 (lima puluh lima) tehun, setelah mencapai masa kepesertaan tertentu, yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Sesuai dengan ketentuan dalam UU SJSN bahwa khusus untuk pekerja masih diberlakukan ketentuan yang terdapat pada Pasal 8-15 UU No. 3 Tahun 1992, maka untuk program lainnya berlaku lah UU SJSN yang berkaitan dengan program berikut :
a. Jaminan Hari Tua
Pasal 35 ayat (1) Jaminan hari tua diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib. Jaminan hari tua diselenggarakan dengan tujuan untuk menjamin agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Peserta jaminan hari tua adalah peserta yang telah membayar iuran.
Pasal 37 ayat (1) Manfaat jaminan hari tua berupa uang tunai dibayarkan sekaligus pada saat peserta memasuki usia pensiun, meninggal dunia, atau
35 mengalami cacat total tetap. Besarnya manfaat jaminan hari tua ditentukan berdasarkan seluruh akumulasi iuran yang telah disetorkan ditambah hasil pengembangannya. Pembayaran manfaat jaminan hari tua dapat diberikan sebagian sampai batas tertentu setelah kepesertaan mencapai minimal 10 (sepuluh) tahun. Apabila peserta meninggal dunia, ahli warisnya yang sah berhak menerima manfaat jaminan hari tua. Pelaksanaan program jaminan har tua ini akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 38 ayat (1) Besarnya iuran jaminan hari tua untuk peserta penerima upah ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari upah atau penghasilan tertentu yang ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerja, ayat (2) Besarnya iuran jaminan hari tua untuk peserta yang tidak menerima upah ditetapkan berdasarkan jumlah nominal yang ditetapkan berdasarkan jumlah nominal yang ditetapkan secara berkala.
b. Jaminan Pensiun
Pasal 39 ayat (1) Jaminan pensiun diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib. yang diselenggarakan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia pensiun atau mengalami cacat total tetap. Usia pensiun ditetapkan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. hal ini berarti mengikuti ketentuan yang sudah berlaku, misalnya untuk pekerja usia pensiun adalah umur 55 tahun sebagaiman diatur di dalm UU Ketenagakerjaan, sedang akan untuk Pegawai Negeri maka akan berlaku UU No.5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Peserta jaminan pensiun adalah pekerja yang telah membayar iuran. maksudnya setiap warga Negara yang sudah membayar iuran misalnya pekerja yang sudah menjadi peserta jamsostek dan pegawai negeri yang sudah ikut program Taspen.
Pasal 41 ayat (1) Manfaat jaminan pensiun berwujud uang tunai yang diterima setiap bulan sebagai : a. Pensiun hari tua, diterima peserta setelah pensiun sampai meninggal dunia; b. Pensiun cacat, diterima peserta yang cacat akibat kecelakaan atau akibat penyakit sampai meninggal dunia; c.
36 Pensiun janda/duda,diterima janda/duda ahli waris peserta sampai meninggal dunia atau menikah lagi; d. Pensiun anak, diterima anak ahli waris peserta sampai mencapai 23 (dua puluh tiga) tahun, bekerja, atau menikah; atau e. Pensiun orang tua, diterima orang tua ahli waris peserta lajang sampai batas waktu tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Setiap peserta atau ahli warisnya berhak mendapatkan pembayaran uang pensiun berkala setiap bulan setelah memenuhi masa iuran minimal 15 (lima belas) tahun, kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. Manfaat jaminan pensiun dibayarkan kepada peserta yang telah mencapai usia pensiun sesuai formula yang ditetapkan.
Apabila peserta meninggal dunia masa iuran 15 (lima belas) tahun ahli warisnya tetap berhak ,mendapatkan manfaat jaminan pensiun. Apabila peserta mencapai usia pensiun sebelum memenuhi masa iur (lima belas) tahun, peserta tersebut berhak mendapatkan seluruh akumulasi iurannya ditambah hasil pengembangannya. Hak ahli waris atas manfaat pensiun anak berakhir apabila anak tersebut menikah, bekerja tetap, atau mencapai usia 23 (dua puluh tiga) tahun. Manfaat pensiun cacat dibayarkan kepada peserta yang mengalami cacat total tetap meskipun peserta tersebut belum memasuki usia pensiun. Besarnya iuran jaminan pensiun untuk peserta penerima upah ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari upah atau penghasilan atau suatu jumlah nominal tertentu yang ditanggung bersama antara pemberi kerja dan pekerja.
c. Jaminan Kematian
Pasal 43 : Jaminan kematian diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial. Jaminan kematian diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan santunan kematian yang dibayarkan kepada ahli waris peserta yang meninggal dunia. Peserta jaminan kematian adalah setiap orang yang telah membayar iuran.
Manfaat jaminan kematian berupa uang tunai dibayarkan paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah klaim diterima dan disetujui Badan
37 Penyelenggara Jaminan Sosial. Besarnya manfaat jaminan kematian ditetapkan berdasarkan suatu jumlah nominal tertentu.
Iuran jaminan kematian ditanggung oleh pemberi kerja, yang besarnya iuran jaminan kematian bagi peserta penerima upah ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari upah atau penghasilan. Besarnya iuran jaminan kematian bagi peserta bukan penerima upah ditentukan berdasarkan jumlah nominal tertentu dibayar oleh peserta.