• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosesi Pelaksanaan Ritual Upacara Persembahyangan Dewa Dapur

PERSEPSI UMAT TRIDHARMA KELENTENG HOK LAY KIONG BEKASI DALAM RITUAL PEMUJAAN DEWA DAPUR

C. Prosesi Pelaksanaan Ritual Upacara Persembahyangan Dewa Dapur

Perayaan Dewa Dapur adalah sebuah bentuk kepercayaan orang Cina yang didapat dari sebuah mitologi yang mentradisi dan menjadi sebuah kepercayaan yang sangat penting untung keluarga Tionghoa. Menurut pengetahuan literatur yang penulis ketahui, bahwa Dewa Dapur merupakan sosok dewa yang paling memiliki kedekatan dengan keluarga orang Cina dan khususnya yang berketurunan Tionghoa. Kepercayaan mereka terhadap para dewa dianggap sebagai bentuk penghormatan, dan bukan hanya sekedar pemujaan semata. Karena kata Pemujaan dalam buku Kamus Besar Bahasa

Indonesia adalah sebuah bentuk proses, cara, perbuatan memuja. Memuja

artinya menghormati dewa-dewa dan sebagainya dengan membakar dupa, membaca mantra, dan sebagainya.21 Peryataan tersebut berlaku pula kepada kepercayaan terhadap Dewa Dapur. Oleh sebab itu, Masyarakat Tionghoa

20Giok Hong Tie adalah sebutan lain untuk penguasa langit (Tuhan). Giok Hong Tie adalah Dewa Pertama Alam Langit. Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain, seperti dewa matahari, dewa bintang, dewa halilintar, dan Dewa Dapur. Dan Dewa Dapur pada tanggal 24 bulan 12 Imlek akan naik ke langit bertemu Giok Hong Tie untuk melaporkan segala perbuatan prilaku manusia di dalam keluarga tempat Dewa Dapur tinggal. Lihat di karya Himpunan Yayasan Tridharma, Kisah Para Suci, h. 54.

sangat menghormati Dewa Dapur. Kata menghormati dilekatkan untuk para dewa sangat cocok dibandingkan hanya dengan kata memuja, karena menurut masyarakat Tionghoa cara menghormati adalah sebuah bentuk menjalankan tradisi dari nenek moyang. Cara menjalankan tradisi tersebut dengan bentuk cara menghormati yang di dalamnya mendapatkan keberkahan bukan hanya permintaan membuta seperti hanya memuja.22

Menurut masyarakat Tionghoa persembahyangan bentuk penghormatan yang mereka lakukan untuk para dewa sebetulnya berasal dari tradisi orang Tionghoa untuk menghormati dewa tersebut. itu semua mereka kaitkan dengan sebuah masa sebagai bentuk penghormatan kepada seorang tokoh yang telah berjasa pada zaman dahulu yang melakukan perbuatan baik. Dan mereka menghormatinya dengan cara menyembayangi membuat ritual yang dikhususkan untuk mereka (para dewa) supaya manusia mendapatkan kebaikan dan keberkahan dari mereka.23

Dari peryataan di atas dapat diambil benang merah bahwa sikap manusia terhadap agama memperlihatkan suatu pikiran yang tunduk, agama diungkap dalam mitos-mitos dan upacara-upacara yang mempunyai makna sosial dan di mana seluruh keturunan ambil bagian. Agama membangun hubungan komunal dengan makhluk makhluk rohani (dewa-dewa) yang lebih dari sekedar daya-daya impersonal. Agama bisa mencari pertolongan dari

22Bapak Jaya Sena, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

23Bapak Agus, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 4 Mei 2017.

78

dewa, tetapi hanya dengan memohon, bukan dengan memerintah. Tujuan agama yaitu memiliki sifat kedekatan dan kesatuan dengan yang illahi.

Dari bentuk penghomatan yang dilakukan masyarakat Cina terhadap para dewa di atas menjadikan tidak adanya pengetatan di dalam penghayatan ritual kepercayaan tersebut. Maksudnya bahwa bentuk penghormatan terhadap para dewa khususnya kepada Dewa Dapur tidak memiliki keharusan dalam melakukan perayaan sembahyangan kepada-Nya dan menandakan tidak ada hukuman jika tidak melaksanakan persembahyangan tersebut. Peryataan tersebut diperkuat dari peryataan penganut kepercayaan Tridharma:

“Menghormati atau menjalani ritual terhadap Dewa Dapur bukan sebagai bentuk keharusan yang memiliki arti wajib sebagai pemeluknya. Tetapi sebagai bentuk kesadaran diri yang berbentuk penghormatan terhadap Dewa Dapur. Karena, Dewa Dapur dianggap sebagai sewa yang memiliki tugas menjadi perwakilan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau, mengacu kepada kebudayaan kuno itu adalah bentuk kepantasan.24 Dewa Dapur adalah dewa yang dibangun atas dasar

legenda yang tidak disyariatkan secara tertulis. Dewa Dapur merupakan dewa sebagai bentuk simbolis sebagai dewa yang berfigur mendapatkan tugas untuk mengawasi keluarga.”25

Dari bentuk kesadaran diri di atas yang menjadikan tidak ada sanksi ketika seseorang penganut Tridharma tidak menjalankan Ritual penghormatan kepada Dewa Dapur. Karena ritual menghormati Dewa Dapur adalah sifat kesadaran diri sendiri. Dan tidak memiliki hukuman (sanksi) secara tertulis.26 Kesatuan tersebut merupakan bentuk cerminan kepercayaan. Menurut H. Richard

24Bapak Drajat, Wawancara Pribadi, Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 27 April 2017.

25Bapak Ing Suhendi, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

Niebuhr menjelaskan tentang kepercayaan. Bahwa kepercayaan “mengarahkan perhatian kita pada dinamika kepercayaan manusia yang dibentuk dan dirasakan dalam hubungan-hubungan tradisi (tiga unsur yang tergabung). Di dalam semua hubungan tersebut rasa percaya dan setia diperdalam dan diperkuat dalam upaya bersama untuk mempercayakan dan menyerahkan diri kepada suatu pusat nilai dan kekuatan yang melampaui kita manusia.”27 Kepercayaan adalah sikap dan tindakan kepercayaan dan kesetian terhadap berbagai realitas tertentu yang menjadi sumber nilai dan objek rasa setia.28

Dari sikap kepercayaan itulah yang membentuk penghayatan kepada Dewa Dapur berupa sembahyang yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa, walaupun tradisi tersebut berupa legenda zaman dahulu. Sembahyang terhadap Dewa Dapur merupakan bentuk penghormatan dan bukan bentuk keharusan, jadi tidak ada sanksi jika tidak menjalankan. Karena, ada sebuah prinsip yang mengatakatan “bahwa tidak ada hukuman selama seseorang tidak melakukan

kejahatan”. Dan ada filosofi mengatakan pula “Jangan kau mencari dewa, jikalau prilakmu baik, maka dewa yang akan mencarimu.”29 Peryataan tersebut

memiliki makna bahwa ketika seseorang menghormati dewa maka seseorang itu akan mendapatkan kebaikan. Karena, sebuah penghormatan kepada dewa adalah sebuah cerminan kita melakukan kebaikan.

27Agus Cremers, Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan menurut James W. Fowler, h. 46.

28Agus Cremers, Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan menurut James W. Fowler, h. 5.3

29Bapak Agus, Wawancara Pribadi , Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 4 Mei 2017.

80

Ritual persembahyangan setiap agama memiliki perbedaan masing-masing. Tetapi, ritual persembahyangan tiap-tiap agama memiliki esensi yang sama karena di dalamnya mengharapkan sebuah timbal balik kebaikan kepada penganutnya. Begitu pula pada ritual persembahyangan terhadap Dewa Dapur. Kita ketahui bahwa ritual persembahyangan kepada Dewa Dapur jatuh pada tanggal 24 bulan 12 Imlek yang mana berbarengan seminggu sebelum jatuhnya hari raya Tahun Baru Imlek.

Pada Tahun Baru Imlek orang-orang Cina sangat sibuk, seperti merapihkan rumah, menghias rumah, memasak makanan yang tak biasanya dari perayaan lainya. Selain itu Tahun Baru Imlek dirayakan sebagai momentum untuk menyembah dewa-dewi, arwah leluluh bahkan kepada Tuhan. Seperti memberikan penyembahan kepada Dewa-dewa rumah, khususnya Dewa Dapur, tiba-tiba Dewa Dapur mendapat perhatian khusus pada saat itu. Dewa Dapur adalah dewa yang memiliki tugas melapor ke langit tentang tingkah pola penghuni rumah dalam setahun. Maka pada penghantaran Dewa Dapur, masyarakat keturuan Tionghoa di kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi membuat sesembahan untuk persembahyangan kepada-Nya. Di dalam buku Kisah Para Suci karangan Balai Kitab Tridharma Indonesia menyatakan bahwa: “ketika melakukan persembahyangan kepada Dewa Dapur biasanya membawa arak sebagai persembahannya, namun ada pula yang menggunakan

air teh dengan batang hio. Ada pula membawa makanan, minuman, uang kertas, dan makanan manis-manis.”30

Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi sendiri ketika tiba seminggu sebelum masuk hari raya Tahun Baru Imlek. Pengurus kelenteng pada saat itu sangat sibuk dengan segala pekerjaan persembahyangan untuk para dewa, dan salah satunya kepada Dewa Dapur. Semua melakukan kerja bakti dengan bersih-bersih kelenteng. Setelah semuanya bersih-bersih. Pengurus kelenteng menyiapkan sesembahan di depan altar Dewa Dapur seperti: Nasi beserta lauknya yang sudah matang, arak putih, buah-buahan, makanan yang manis-manis, sayuran, dan yang terakhir daging-dagingan yang memiliki tiga bentuk perwakilan perwujudan alam seperti Babi mewakili dunia darat, ikan mewakili dunia air, dan ayam mewakili tingkatan udara dunia atas. Perlengkapan di atas di sejajarkan di depan meja altar dengan pelengkap dupa hio dan kertas bentuk burung yang dibakar.31

Kelengkapan keanekaragaman persembahyangan di atas memungkin hanya ada di kelenteng, karena di tempat ini memiliki dana yang memadai yang bersumber dari sumbangan umat Tridharma yang bersembahyang di kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi. Tetapi, perlengkapan tersebut untuk sebua keluarga yang memiliki altar Dewa Dapur di rumahnya, mungkin hanya bisa menyiapkan sesajen dari kesanggupan pemilik rumah dan tidak ada paksaan kemewahan ketika melakukan persembahyangan kepada Dewa Dapur. Seperti

30Himpunan Yayasan Tridharma, Kisah Para Suci, h. 55.

82

peryataan yang dikatakan oleh masyarakat Tridharma di Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi.

“Sembahyang kenaikan Dewa Dapur ke langit dikatakan sebagai ritual Toapekong naik. Dan Alat perlengkapan untuk sembahyang kenaikan Dewa Dapur yaitu banyak variasinya tergantung daerah kebisaan adat kebiasaan yang sudah dijalankan disuatu daerah. Dan juga menyeseuaikan ekomomi yang dimiliki pemilik rumah. Kalau hanya sanggup menyediakan nasi untuk menghantarkan Dewa Dapur itupun tidak masalah. Sifat menyediakan sesaji untuk ritual tidak

memaksakan.”32

Peryataan di atas dapat diambil benang merah bahwa setiap ada perayaan persembahyangan yang ditujukan kepada para dewa, masayarakat tidak dipaksa untuk membawa sesajian yang diluar kesanggupan individunya karena semua ritual ini bersifat tidak memaksa. Ada pribahasa yang menyatakan bahwa “apa yang kau berikan yang ditujukan kepada dewa akan diterima

walaupun hanya segelas air putih, karena itu bernilai kebaikan”. Ritual Dewa

Dapur disini pun tidak bernilai keharusan dan hanya kesadaran sebagai menjalankan tradisi yang menjadi kepercayaan. Karena, persembahyangan kepada Dewa Dapur tidak ada perintah secara tertulis dalam kitab suci untuk membawa sesaji yang khusus, oleh sebab itu berdasarkan kesanggupan masyarakat.

Pada waktu yang sama ketika perlengkapan sesaji di atas siap, dilanjutkan dengan menjalankan prosesi persembahyangan Dewa Dapur. Dalam pelaksanaan prosesi ritual sembahyang kepada Dewa Dapur dilakukan pada pukul jam 8 malam. Kita ketahui bahwa yang dilakukan masyarakat pada

umumnya melakukan pembersihan rumah beserta altar yang dibersihkan, menyiapkan sajian-sajian yang di letakan meja altar, Dan tidak lupa patung Dewa Dapur diletakan ditengah-tengah yang dinaungi alikatur kakan kiri dengan atap. Selain itu, di samping patung Dewa Dapur dituliskan syair-syair sebagai bentuk sogokan (doa). Prosesi tersebut berlangsung harus dilengkapi dengan pembakan dupa hio,33 dan kertas kuda-kudaan sebagai simbolik kendaraan Dewa Dapur terbang kelangit.34 Dan disisi lain patung atau gambar bibir Dewa Dapur perlu diusap dengan madu untuk memastikan kata-kata yang dilaporkan yang manis-manis saja. Bahkan, ada yang menyajikan makanan berbahan ketan sehingga mulut Dewa Dapur lengket tidak bisa melaporkan apapun.35

Adapun doa yang dipanjatkan ketika prosesi berlangsung pada umumnya yaitu untuk mendapatkan keberkahan dari Tuhan dan supaya menjalankan kehidupan kedepanya menjadi lebih baik lagi. Seperti permintaan doa masyarakat Cina pada zaman Dinasti Ching:

“Paduka Zao Jun,36 yang Mulia, sebutlah kebaikan kami di langit,

bawalah berkah bagi kami apabila Anda turun kembali.”37

33Hio dalam persembahyangan masyarakat Tionghoa adalah perlengkapan yang wajib. karena, hio diibaratkan sebagai penghantar asap yang di terbang ke langit yang membawa sesembahan dan permohonan doa.

34Bapak Drajat, Wawancara Pribadi, Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 27 April 2017.

35Frena Bloomfield, Chinese Beliefs, terj Teguh W. Utomo, h. 76.

36Zao Ju adalah Nama lain dari nama Dewa Dapur. Karena, nama Dewa Dapur dalam perkembangan suku, budaya memiliki banyak panggilan.

84

Doa di atas menandakan bahwa makna dari persembahyangan ritual Dewa Dapur yaitu mendapatkan keberkahan dari Dewa Dapur. Dan menjadikan personil keluarga menjadi baik, rukun dan bertanggung jawab atas prilakunya.

Disisi lain, tidak cukup perayaan ritual persembahyangan Dewa Dapur pada tanggal 24 bulan 12 Imlek yang jatuh seminggu sebelum Tahun Baru Imlek sebagai penghantaran Dewa Dapur ‘naik’ ke langit. Tetapi, masyarakat Tionghoa pada umumnya harus menjemput Dewa Dapur turun ke bumi untuk menjalankan tugasnya kembali dan membawa keberkahan dari laporan yang dilaporkan kepada penguasa langit (Tuhan) yaitu pada tanggal 4 bulan 1 Imlek bertepatan 3 hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek. Sesembahan dan kemeriahan saat pengantaran Dewa Dapur naik ke langit harus sama saat turunnya Dewa Dapur ke bumi. Masyarakat Tionghoa sanggat sibuk menyiapkan perlengkapan yang sama di depan altar Dewa Dapur. Perlengkapan prosesi ritual turunya Dewa Dapur ini pada umumnya sama perlengkapan persembahan atas naiknya Dewa Dapur ke langit. Yang membedakan hanya doa yang dipanjatkan ketika prosesi ‘turun’ Dewa Dapur berlangsung. Seperti kutipan syair doa dari Dinasti Song saat ritual turunnya Dewa Dapur ke Bumi :

“Wahai Dewa Dapur jaganlah Kau menyebutkan hal-hal tidak

baik dalam laporanMu, dan bawalah keberkahan dan keberuntungan saat engkau kembali.”38

Prosesi persembahyanan naiknya atau turunya Dewa Dapur di atas pada umumnya dilakukan individu karena, orientasi dari doa yang dipanjatkan untuk keberuntungan si individu. Tetapi pada umumnya boleh dilakukan secara berjama’ah seperti yang dilakukan perayaannya di kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi bersama-sama dengan umat Tridharma lainnya.39 Dan pada umumnya pula posesi persembahyangan kepada Dewa Dapur dilakukan oleh orang tua terlebih dahulu dan lalu dilanjutkan oleh anak-anak remaja atau yang lebih muda. Dan tempat pelaksanaan prosesinya yaitu di dapur seperti namanya Dewa Dapur bertempat di dapur. Masyarakat pada umumnya membuat altar kecil di dapur untuk persembahnyan Dewa Dapur. Tetapi, untuk di kelenteng sendiri altar Dewa Dapur yaitu di ruangan paling belakang setelah altar-altar para dewa lainya.

Disisi lain, karena prosesi perayaan ritual Dewa Dapur bertepatan dengan datangnya Tahun Baru Imlek, ada amalan-amalan ketika tiba perayaan ritual ini selain masyarakat Tionghoa membersihkan dan merapihkan rumah dan altar yaitu dianjurkan menjadi vegetarian. Karena, di dalamnya mengandung makna bahwa menjadi vegetarian mengkondisikan seseorang tidak membunuh.40 Berdema dengan fakir miskin dan biasanya, melakukan sedekah kepada sesama manusia.41 Pada momentum tersebut disebut sebagai Hari Persaudaraan (Hari

Kenaikan Dewa Dapur). Pada hari ini masyarakat Tionghoa dianjurkan untuk

39Bapak Sulai, Wawancara Pribadi, Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 27 April 2017.

40Bapak Agus, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 4 Mei 2017.

86

berdana membantu fakir miskin dan memberikan bantuan-bantuan tanpa membedakan golongan manusia.42

Adapun fungsi dan peran atas perayaan riual persembahyangan Dewa Dapur yang dilakukan masyarakat umat Tridharma yaitu: Pertama, Dewa Dapur secara umum adalah sebagai Dewa yang memiliki tugas perwakilan Tuhan untuk menata dan menggatur rumah tangga. Bukan hanya manata bentuk pemberian rizki dalam urusan perut saja, melainkan memiliki fungsi mengkontrol prilaku penghuni rumah yang berupa moral dan akhlak serta memberikan motivasi semangat hidup.43 Kedua, dengan adanya kepercayaan Dewa Dapur telah Memberikan suatu peringatan atas peristiwa yang terjadi pada diri kita. Memberikan petunjuk supaya kita selalu berhati-hati dalam berprilaku.44 Ketiga, Adanya kepercayaan adanya Dewa Dapur sebagai motivasi di dalam keluarga untuk selalu berbuat baik dan menjalankan kehidupan berkeluarga yang baik. Karena percaya bahwa Dewa Dapur sedang mengawasi dan mengevaluasi keadaan keluarga.45 Keempat, Dari fungsi tersebut yang menjadikan keluarga mendapatkan keberkahan dan kebaikan menjadikan hidup keluarga menjadi rukun.46

42Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat “Agama Khonghucu” di Indonesia (Jakarta: Pelita Kebajika, 2005), h. 173.

43Bapak Drajat, Wawancara Pribadi, Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 27 April 2017.

44Bapak Agus, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 4 Mei 2017.

45Bapak Ing Suhendi, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

46Bapak Jaya Sena, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

Dari penyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pentingnya kepercayaan terhadap Dewa Dapur itu dijalankan untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat Tionghoa ke depannya. Karena, memberikan keberkahan yang luar biasa kepada keluarga dan anggota keluarga pemilik rumah jika memberikan perayaan kepada Dewa Dapur. Dari alesan fungsi dan peran luar biasa tersebut yang menjadikan ritual penghormatan Dewa Dapur bukan dilaksakan pada tanggal 24 bulan 12 Imlek dan tanggal 4 bulan 1 Imlek saja. Melainkan ketika sepasang pengantin yang berketurunan Tionghoa ingin menikah dan melaksanakan pernikahan. Harus melakukan ritual persembahyangan kepada Dewa Dapur. Alasennya, supaya sepasang pengantin ini dalam menjalankan bahtera rumah tangga mendapatkan keberkahan dari Dewa Dapur tersebut.47