• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI UMAT TRIDHARMA KELENTENG HOK LAY KIONG BEKASI DALAM RITUAL PEMUJAAN DEWA DAPUR

D. Relevansi Perayaan Dewa Dapur Pada Zaman Sekarang

Tridharma adalah sebutan dari tiga ajaran Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme yang menjadi kesatuan dari ajaran agama orang Tionghoa di Cina maupun di Indonesia. Dari tiga ajaran itulah sebagai perwujudan dari hasil kepercayaan dan kebudayaan Tionghoa. Memunculkan nilai sinkretisme dari tiga aliran utama yang menjadi perwujudan tempat ibadah Tridharma yaitu sebuah kelenteng. Kelenteng adalah tempat ibadah yang pada umumnya dipergunakan oleh masyarakat Tionghoa yang memiliki kepercayaan Tridharma. Karena di dalam kelenteng terdapat para dewata yang dihormati dari Tiga Agama Besar di atas seperti: Dewata Buddhisme dipuja juga oleh

47Bapak Ing Suhendi, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

88

penganut agama Tao, para Dewata Tao juga mendapatkan penghormatan serupa dari penganut Buddhis, begitu pula dengan Khonghucu. Patung-patung dari tokoh tertinggi ketiga aliran kepercayaan tersebut ditempatkan dan dipuja bersama-sama di atas satu altar pemujaan.

Dari latar belakang Kepercayaan Tridharma di atas, oleh sebab itu Tridharma dibangun dengan memegang prinsip-prinsip kepercayaan masing-masing, walaupun tokoh atau dewa yang mereka sembah dominan sama. Masyarakat Tionghoapun tidak mencampur adukan syariat yang fundamental dalam kepercyaan Tridharma tersebut. Gambaran prinsip tiga ajaran ini adalah satu, dan telah menjadi satu dalam segala kegiatan spritual orang Tionghoa seperti Dewa Dapur. Dewa Dapur adalah dewa penjaga rumah yang dipercayai dan disembah semua lapisan masyarakat Tionghoa. karena, Dewa Dapur dewa adalah dewa yang dianggap penting untuk kelangsungan nasib kehidupan masyarakat yang beragama Tao, Khonghucu, ataupun Buddha.

Disisi lain fungsi dan peran Dewa Dapur sangat krusial dalam kehidupan masyarakat Tionghoa karena, Dewa Dapur berada pada lapisan keluarga dan posisinya sangat memiliki kedekatan dengan keluarga Tionghoa. Oleh sebab itu, yang menjadikan Dewa Dapur masih tetap eksis dipercaya dan dipuja keberadaannya di dalam keluarga masyarakat Tionghoa. Walaupun dari kebanyakan masyarakat Tionghoa tidak tahu asal-usul mula kepercayaan Dewa Dapur. Masyarakat Tionghoa seakan–akan tidak peduli bagaimana kemunculan Dewa Dapur walau hanya dari sebuah mitologi legenda semata.

Dewa Dapur pada saat ini dengan perubahan zaman, dengan kemajuan kebudayaan, peradaban, dan ilmu pengetahuan, semestinya kepercayaan keagamaan manusia khusunya orang Tionghoa akan peran, fungsi, dan makna Dewa Dapur mengalami kemunduran. Tetapi sekarang kita lihat dengan kaca modern upacara-upacara yang berkaitan dengan kepercayaan rakyat khususnya khas Tionghoa masih dipercayai dan berlangsung meriah dan tidak menunjukan tanda-tanda akan punah ditelan jaman. Malahan ada dewa-dewa yang pada zaman dahulu dipuja yang memiliki peran yang dipercaya oleh masyarakat tradisional Tionghoa pada zaman moderen menyesuaikan dengan zaman modern. Seperti Dewa Dapur yang dahulunya pada zaman dahulu dikenal pertama kali dengan sebutan dewa api lalu, berevolusi menjadi Dewa Dapur. Itu menandakan nilai religius dari setiap ritual agama memiliki tempat khusus dihati penganutnya.

Disisi yang lain, kepercayaan ritual Dewa Dapur banyak mengalami perubahan bentuk ritual persembahyangan yang disebabkan perubahan zaman. Semua itu dibuktikan dari berubahnya bentuk dapur. Walaupun berubah bentuk dapur yang pada zaman dahulu dengan dapur pada zaman sekarang tetapi, ritual penghormatan Dewa Dapur tidak hilang dan tidak kehilangan makna. Pada zaman modern sekarang kebanyakan rumah sudah tidak ada altar di dapur. Permasalahan itu semua tidak menyebabkan hilangan perayaan Sembahyang penghormatan kepada Dewa Dapur. Ritual ini tetap dirayakan karena, kepercayaan terhadap Dewa Dapur bukan kepercayaan membuta tetapi

90

kepercayaan yang mendasar karena, di dalam ritual penghormatan Dewa Dapur memiliki nilai moral dan etika yang baik untuk di jalankan manusia.48

Perubahan zaman menjadikan tradisi semakin ditinggalkan karena, dianggap tidak relevan. Itu tejadi pula pada perayaan ritual Dewa Dapur zaman sekarang. Pada umumnya zaman dahulu setiap rumah memiliki altar kecil untuk para dewa dan ada pula khusus Dewa Dapur di rumah. Tetapi, Pada rumah-rumah modern sekarang sudah tidak ada altar khusus untuk Dewa Dapur. Itu yang menjadi penyebab lunturnya kepercayaan atas penghormatan persembahyangan Dewa Dapur. Yang biasanya dilakukan di rumah, tetapi sekarang hanya di kelenteng.49

Dapat diambil benang merah bahwa perintah ritual persembahyangan penghormatan Dewa Dapur memang tidak punya ajaran yang tertulis yang berupa fatwa atau kitab suci yang menyebabkan lunturnya tradisi tersebut. Latar belakang itulah yang menjadikan ritual ini bersifat kesadaran dan tidak memiliki keharusan wajib yang memiliki sanksi jika tidak menjalankan. Itu yang menyebabkan anak-anak muda pada zaman sekarang tidak mudah percaya akan tradisi ini dengan begitu saja terhadap Dewa Dapur. Mereka menganggap kepercayaan Dewa Dapur hanya sebuah legenda dan dongeng atas keberadaannya.50

48Bapak Drajat, Wawancara Pribadi, Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 27 April 2017.

49Bapak Agus, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 4 Mei 2017.

50Bapak Jaya Sena, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

Permasalahan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa harus ada peran orang tua. Disini orang tua memiliki andil bagaimana orang tua bisa menjelaskan tradisi ritual Dewa Dapur kepada anak-anaknya supaya tetap dijalankan dan dilestarikan. Karena kepercayaan terhadap Dewa Dapur bukan kepercayaan membuta tetapi kepercayaan yang mendasar.51 Walaupun Dewa Dapur kehilangan tempatnya di rumah pada zaman moderen sekarang dengan tidak dihormati atau diabaikan keberadaanya. Tetapi, Dewa Dapur tetap akan ada dan eksistesnsi Dewa Dapur tetap di puja dan tetap ada di dalam keluarga.52

Kepercayaan model tersebut seperti apa yang diungkapkan oleh Fowler bahwa kepercayaan hendak dimengerti secara dinamis. Kepercayaan itu meliputi kenyataan bahwa pribadi menemukan arti atau ditemukan oleh arti itu. Kepercayaan mencangkup baik konstruksi aktif atas keyakinan dan komitmen maupun sikap pasif dalam menerimanya. Kepercayaan mencangkup segala ekspresi religius eksplisit dan seluruh pembentukan kepercayaan, dan juga segala cara untuk menemukan dan mengarahkan diri pada koherensi dalam lingkunan yang paling akhir, namun yang tidak bersifat religus.53 Kesemua itu adalah ekspresi dari sebuah agama. karena, agama adalah sistem simbol yang berfungsi untuk menanamkan semangat dan motivasi yang kuat, mendalam, dan bertahan lama pada manusia dengan menciptakan

51Bapak Jaya Sena, Wawancara Pribadi , Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

52Bapak Ing Suhendi, Wawancara Pribadi, Kantor Yayasan Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi, 6 Mei 2017.

53Agus Cremers, Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan menurut James W. Fowler (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995), h. 45.

92

konsepsi yang bersifat umum tentang eksistensi, dan membungkus konsepsi-konsepsi itu sedemikian rupa dalam suasana faktualitas sehingga suasana dan motivasi itu kehihatan sangat realistis.54 Adanya sosok Dewa Dapur yang mitologinya memberikan motivasi dan nilai moral kepada manusia yang menyebabkan Dewa Dapur masih dihormati oleh masyarakat Tionghoa khusunya di Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi.

54Roger M Keesing, Antropologi Budaya Suatu Perspeksif Kontemporer (Jakarta: Gelora Aksra Pratama, 1981), h. 95.

93

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian sebagai berikut:

Dewa Dapur adalah salah satu dewa yang dipercayai oleh masyarakat keturunan Tionghoa berada. Mau beragama apapun orang Tionghoa menganut suatu kepercayaan. Pasti memiliki kepercayaan kepada Dewa Dapur.

Dewa Dapur merupakan salah satu Dewata penguasa bumi, yang memiliki kekuasaan di bumi. Kekuasaan mereka adalah di alam dunia dan didekat manusia. Dewa Dapur menjadi salah satu dewa penjaga rumah dari banyak dewa seperti dewa pintu, dewa kamar, dewa obat, dewa kelahiran dan masih banyak dewa lainnya. Dewa Dapur merupakan dewa yang memiliki kedekatan sangat khusus dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Karena, Dewa Dapur adalah dewa yang bertempat tinggal di dalam rumah.

Kedekatan Dewa Dapur di hati keluarga dan masyarakat Tionghoa karena, Dewa Dapur memiliki fungsi dan peran yang banyak yang mendatangkan keberkahan dan keuntungan untuk pemilik rumah yaitu: Pertama, Dewa Dapur secara umum adalah sebagai Dewa yang memiliki tugas perwakilan Tuhan untuk menata dan menggatur rumah tangga. Bukan hanya manata

94

bentuk pemberian rizki dalam urusan perut saja, melainkan memiliki fungsi mengkontrol prilaku penghuni rumah yang berupa moral dan akhlak serta memberikan motivasi semangat hidup. Kedua, dengan adanya kepercayaan Dewa Dapur telah Memberikan suatu peringatan atas peristiwa yang terjadi pada diri kita. Memberikan petunjuk supaya kita selalu berhati-hati dalam berprilaku. Ketiga, Adanya kepercayaan adanya Dewa Dapur sebagai motivasi di dalam keluarga untuk selalu berbuat baik dan menjalankan kehidupan berkeluarga yang baik. Karena percaya bahwa Dewa Dapur sedang mengawasi dan mengevaluasi keadaan keluarga. Keempat, Dari fungsi tersebut yang menjadikan keluarga mendapatkan keberkahan dan kebaikan menjadikan hidup keluarga menjadi rukun.

Fungsi dan peran Dewa Dapur tersebut yang membuat Dewa Dapur Dipercayai dapat memberikan perlindungan, keamanan, kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan setiap rumah tangga dan anggotanya. Dan Dia merupakan salah satu dewa yang bisa memberikan banyak keberkahan jika kita menghormatinya. Bentuk perhormatan kepada Dewa Dapur yaitu dengan cara melakukan persembahyangan ritual kepada-Nya. Perayaan Dewa Dapur pada umumnya dirayakan 2x dalam setahun yaitu pada saat seminggu sebelum tiba Hari Raya Tahun Baru Imlek dan tiga hari setalah Tahun Baru Imlek. Ritual persembahyangan Dewa Dapur itu jatuh pada tanggal 24 bulan 12 penanggalan Imlek diperingati sebagai ritual pengantaran ‘naik-Nya’ Dewa Dapur ke langit dan tanggal 3 bulan 1 Imlek (4 bulan 1 Imlek) atau tiga hari setelah Imlek diperingati sebagai ritual ‘turun-Nya’ Dewa Dapur ke

bumi. Dan untuk kelenteng Hok Lay Kiong sendiri melaksanakan perayaan ritual persembahyangan kepada Dewa Dapur pada tanggal 24 bulan 12 Imlek dan tanggal 3 bulan 1 Imlek. Dan ada waktu diluar itu untuk memberikan penghormatan kepada Dewa Dapur yaitu pada saat upacara pernikahan masyarakat Tionghoa dan ulang tahun Dewa Dapur.

Adapun praktiknya prosesi persembahyangan kepada Dewa Dapur yaitu pertama-mana membersihkan altar Dewa Dapur, menyediakan perlengkapan persembahyangan seperti hio untuk dibakar sebagai menghantarkan Dewa Dapur, dan yang tidak lupa sesaji makanan untuk menyuap Dewa Dapur yang salah satunya makanan yang manis-manis supaya Dewa Dapur melaporkan prilaku angota keluarga kepada Tuhan yang baik-baik. Persembahyangan kepada Dewa Dapur biasanya dilakukan individu di rumah yang dimulai dengan orang tua terlebih dahulu lalu orang yang lebih muda. Tetapi sedangkan di kelenteng pada umumnya dilakukan berjama’ah.

Kepercayaan terhadap Dewa Dapur merupakan tradisi kepercayaan masyarakat Cina yang sudah mentradisi. Kepercayaan masyarakat Cina disini dibangun untuk mempercayai terhadap suatu kekuatan yang dapat mengendalikan hidup dan menentukan nasib mereka merupakan kepercayaan yang turun-menurun diyakini oleh masyarakat Cina. Kepercayaan tersebut dipercayai bahwa ada kekuatan yang diwujudkan dalam bentuk dewa yang berupa roh yang diyakini bisa membantu manusia dalam mengatasi permasalahan yang ada di kehidupan dunia.

96

Pernyataan di atas diperkuat oleh ada banyak alasan keyakinan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari komunitas etnis Cina tersebut. Beberapa keyakinan tersebut sangat terkait dengan kewajiban-kewajiban religius atau dengan misteri keberuntungan di masa depan. Lainnya terkait dengan hal-hal yang dianggap orang lain sebagai tahayul tanpa basis aktual. Maka akan tampak jelas bahwa religi sejati dari orang Cina ini sangat terkait dengan upaya mengejar kesuksesan duniawi, menenangkan arwah orang-orang yang sudah mati, dan mengungkap misteri tersembunyi masa depan. Ketiga hal di atas bisa dikendalikan dengan cara memberi penghormatan ritualistik pada mereka yang sudah mati sehingga arwah mereka tenang dan senang, dengan cara mengupayakan harmoni dan keberimbangan dalam kehidupan sehari-hari, dan dengan mengunakan berbagai metode ramalan. Dalam lingkungan hal-hal seperti itulah kehidupan komunitas Cina dibangun. Adat, kebiasaan, dan cara hidup seperti itulah yang selalu dibawa-bawa orang Cina ke mana saja.

Tetapi dalam era modern sekarang ritual penghormatan terhadap Dewa Dapur mengalami kemerosotan akan eksistensi dan relevansi ritual terhadap Dewa Dapur untuk anak-anak muda yang hidup di zaman sekarang karena, salah satu penyebab kemerosotan pernghormatan kepada Dewa Dapur disebabkan bahwa perayaan Dewa Dapur bukanlah keharusan yang perintahnya tertulis di kitab suci dan merupakan hanya kesadaran kepercayaan dari menjalankan tradisi. Tetapi, disisi yang lain ritual Dewa Dapur masih tetap dijalankan oleh orang tua karena percaya bahwa Dewa

Dapur membawa keberkahan untuk keluarganya. Alesan mereka tetap berpegang teguh kepada keyakinan tersebut sangatlah sederhana. Mereka mengatakan bahwa kepercayaan terhadap dewa-dewi adalah warisan leluhur, sehingga tanpa perlu mempertanyakan lebih jauh. Walaupun banyaknya versi legenda kemunculan dari asal-usul Dewa Dapur yang belum terverifikasi kebenarannya. Analisa tersebut menjadi penutup dalam kesimpulan skripsi ini.

98