• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROYEK DALAM PENYELESAIAN

Dalam dokumen PRESERVING SUSTAINABILITY (Halaman 58-63)

1. Pada kuartal ketiga tahun 2014, Perkebunan Kalimantan Utama I (PKU), Entitas Anak yang bergerak di perkebunan kelapa sawit, memulai proses pembangunan pabrik diawali dengan penyiapan tapak pabrik. Kapasitas pabrik direncanakan sebesar 30 ton/jam. Pembangunan diperkirakan selesai pada akhir tahun 2015.

2. IM telah menyelesaikan pembangunan pengalihan conveyor belt yang menghubungkan langsung antara CPP baru dengan conveyor belt yang sudah ada.

ENTITAS ANAK

PT Toba Bara Sejahtra Tbk adalah perusahaan pertambangan batubara yang melakukan kegiatan penambangan di daerah Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Perseroan memiliki infrastruktur pendukung operasional penambangan seperti jalan angkut batubara,

perkantoran, perbengkelan, pelabuhan khusus batubara dan infrastruktur lainnya.

Perseroan mempunyai tiga Entitas Anak yang bergerak di bidang pertambangan batubara dengan area konsesi berdampingan di daerah Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Satu Entitas Anak yang bergerak di perkebunan kelapa sawit, yaitu PT Perkebunan Kalimantan Utama I (PKU), baru memulai pembangunan pabrik kelapa sawit.

Ketiga Entitas Anak di bidang pertambangan batubara adalah:

1. PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) yang berlokasi di Sangasanga, Kutai Kartanegara,

Kalimantan Timur. ABN beroperasi dengan izin IUPOP

dan mulai beroperasi pada September 2008. ABN memiliki lahan seluas 2.990 ha, dengan perkiraan sumber daya batubara sebesar 156 juta ton. 2. PT Indomining (IM) yang berlokasi di Sangasanga,

Kutai Kartanegera, Kalimantan Timur. IM beroperasi dengan izin IUPOP dan mulai operasi pada Agustus 2007. IM memiliki lahan seluas 683 ha, dengan perkiraan sumber daya batubara sebesar 37 juta ton. 3. PT Trisensa Mineral Utama (TMU) yang berlokasi

di Loa Janan, Muara Jawa dan Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. TMU beroperasi dengan izin IUPOP dan mulai beroperasi pada Oktober 2011. TMU memiliki lahan seluas 3.414 ha, dengan perkiraan sumber daya batubara sebesar 43 juta ton.

Secara keseluruhan, jumlah estimasi sumber daya batubara yang dimiliki Perseroan adalah sebesar 236 juta ton*. Kota Balikpapan Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Malaysia

Kota terdekat berjarak kurang dari 50 km

Jarak pit ke jetty sejauh ~25 km & terdekat ~5 km

Jarak yang dekat antara jetty dan pengapalan Lokasi tambang yang

bersebelahan SUNGAI M AHAKAM SAMARINDA SELAT MAKASAR ~55 Km (total ~120 Km) ~65 Km ~120 Km MUARA JAWA Kutai Energy ABN Jetty MUARA BERAU Kota besar Jetty Transhipment Point TMU-IM Hauling Road

TMU IM ABN ~25 km ~5 km IM Jetty BALIKPAPAN

* Berdasarkan laporan Runge untuk ABN per tanggal 31 Desember 2011, Laporan SMGC untuk IM per tanggal 1 Januari 2012, Laporan Marston untuk TMU per tanggal 30 Oktober 2011

PT ADIMITRA BARATAMA NUSANTARA

PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) yang didirikan pada tahun 2006, memiliki daerah pertambangan dengan luas area sekitar 2.990 ha berlokasi di Desa Kampung Jawa, Kecamatan Sangasanga dan Desa Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, sekitar 30 kilometer di sebelah tenggara Samarinda, ibukota Kalimantan Timur. Wilayah konsesi ABN terdiri atas dua wilayah yang berbeda, ABN Timur dan ABN Barat. ABN beroperasi berdasarkan Ijin Kuasa Pertambangan Nomor: 540/74/KP-Er/DPEIV/ VI/2006. Berdasarkan laporan JORC terakhir, ABN memiliki sumber daya batubara sekitar 156 juta ton dan cadangan batubara sekitar 117 juta ton. ABN mulai melakukan kegiatan eksplorasi dan pembangunan infrastruktur pada tahun 2007, dan produksi komersial pada tahun 2008.

Produksi batubara pada tahun 2014 mencapai 4,4 juta ton, meningkat sebesar 4,8% dari 4,2 juta ton pada tahun 2013. Rasio pengupasan ABN mencapai 13,9x, turun dibandingkan dengan 14,0x pada tahun 2013. Hal ini sejalan dengan program konsolidasi dan efisiensi biaya yang dicanangkan Perseroan sejak tahun 2013.

Kegiatan operasional ABN menyerap tenaga kerja sebanyak 2.006 orang, yang terdiri dari 389 orang tenaga kerja pada ABN dan 1.617 orang tenaga kerja pada kontraktor maupun sub-kontraktor. Sebagian besar tenaga kerja ABN dan kontraktor/sub-kontraktor adalah masyarakat lokal dari Kecamatan Sangasanga dan Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara kurang lebih 61% dari kebutuhan tenaga kerja, sedangkan sisanya sekitar 39% berasal dari luar daerah dua kecamatan tersebut.

Kemampuan infrastruktur ABN meliputi mesin penghancur, overland conveyor dan jetty, dengan kapasitas saat ini sekitar 10 juta ton per tahun.

Penambangan dilakukan dengan sistem penambangan terbuka (surface open pit mining). Batubara ABN memiliki kandungan abu yang rendah sehingga tidak dilakukan pencucian (washing), hanya dilakukan proses peremukan (crushing). Kegiatan penambangan ABN dilakukan oleh dua kontraktor utama, yaitu PT Petrosea Tbk dan PT Arkananta Apta Pratista.

Produk batubara ABN termasuk dalam kelompok

thermal coal dengan rank sub-bituminous dan

bituminous dengan kualitas antara 5.200 GAR - 5.800 GAR. Produk ABN dipasarkan ke beberapa negara di dunia, diantaranya India, Tiongkok, Jepang, Thailand, dan Korea. ABN juga memasok untuk kebutuhan dalam negeri seperti industri semen dan beberapa industri lainnya.

Dalam waktu yang relatif singkat sejak mulai beroperasi tahun 2008, ABN selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2011, 2012 dan 2013 berhasil meraih peringkat Hijau dan tahun 2014 meraih peringkat Biru untuk PROPER, sebuah program Pemerintah yang memberikan peringkat terhadap kepatuhan pelestarian lingkungan oleh pelaku industri besar yang berdampak pada lingkungan alam.

Kegiatan Eksplorasi

A. Daerah Eksplorasi

Pada bulan Januari hingga Maret dilakukan kegiatan eksplorasi yang sudah selesai dan update model

geology.

Mulai bulan April kegiatan eksplorasi diprioritaskan di area rencana pit baru yang masih memerlukan tambahan data pemboran terutama di area subcrop dan down dip. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan adalah:

1. Melakukan infill drilling pada rencana pit baru di blok Timur yang merupakan bagian dari rencana pengembangan penambangan pit 1 yang bertujuan untuk mendapatkan tambahan data pemboran dengan merapatkan spasi pemboran dari data pemboran sebelumnya.

2. Melakukan infill drilling di area sumbu anticline untuk mengetahui kemenerusan dan bentuk

seam-seam potensial pada area sumbu anticline yang

masih dapat dioptimalkan.

3. Melakukan infill drilling di pit 1 Utara (pit aktif) yang bertujuan untuk mendapatkan tambahan data pemboran dengan merapatkan spasi pemboran dari data pemboran sebelumnya sehingga dapat menambah keyakinan

kemenerusan seam-seam utama ke arah down dip hingga rencana batas bawah pit.

4. Melakukan depressurization drilling untuk

mengurangi tekanan air dan menstabilkan low wall di pit 1.

5. Melakukan infill drilling (tahap I) di area sumbu

anticline untuk mengetahui kemenerusan dan

bentuk seams potensial pada area sumbu anticline yang masih dapat dioptimalkan.

6. Melakukan infill drilling (tahap II) di area sumbu

anticline untuk mengetahui kemenerusan dan

bentuk seams potensial pada area sumbu anticline yang masih dapat dioptimalkan.

7. Pada bulan Oktober tidak dilakukan kegiatan eksplorasi, tetapi melakukan kegiatan rutin

geological model update dan persiapan kegiatan

eksplorasi tahun 2015.

B. Metode Pengukuran

1. Pemboran dilakukan dengan menggunakan metode pemboran lubang terbuka (open hole) dan touch coring diameter lubang HQ dan NQ dengan sudut pemboran 90˚ atau vertikal. Pada pemboran touch coring dilakukan pengambilan

sample core dan data geophysical logging,

sedangkan pada pemboran terbuka dilakukan pengambilan sample cutting dan data geophysical

logging.

2. Dengan kemiringan batuan di areal Barat berkisar 70˚ - 85˚, maka kegiatan pemboran eksplorasi di blok Barat dilakukan dengan metode pemboran miring dengan kemiringan 45˚. Sistem pemboran menggunakan metode

open hole dan touch coring. Lubang open hole

bertujuan untuk mengetahui urutan (stratigraphy) dan kemenerusan (continuity) batuan khususnya

seam batubara. Sedangkan lubang touch coring

untuk pengambilan sample batubara guna analisa kualitas batubara.

3. Kondisi struktur geologi di daerah blok Timur kemiringan batubara (dip) cukup landai sekitar 5° - 10° dengan kondisi tersebut maka pemboran dilakukan dengan metode pemboran vertikal. 4. Lubang dari pemboran berukuran N (76.00 mm)

dan H (99.70 mm) dilakukan dengan sistem bor miring (45˚). Untuk penetrasi kedalaman dari jenis bor yang ada, unit Koken E-8 untuk kondisi miring 45˚ mencapai 100 meter, jika vertikal mencapai 150 meter.

5. Untuk pekerjaan bor crop line menggunakan sistem pemboran vertikal dan penetrasi dari pemboran sampai kedalaman 30 meter menggunakan rods jenis rods AW dengan diameter lubang berukuran N (76.00 mm). 6. Pemboran dilakukan dengan menggunakan

metode pemboran lubang terbuka (open hole) dan touch coring diameter lubang HQ dan NQ dengan sudut pemboran 90˚ atau vertikal. Pada pemboran coring dilakukan pengambilan sample

core dan data geophysical logging, sedangkan

pada pemboran terbuka dilakukan pengambilan

sampel cutting dan data geophysical logging.

C. Pengawasan Pemboran

Kegiatan pemboran dilakukan oleh kontraktor pemboran PT Duta Jaya Putrapersada Mining yang mengoperasikan 3 unit mesin pemboran yang terdiri dari 2 unit tipe Jacro 300 dan 1 unit tipe Jacro 200 yang digunakan untuk pemboran infill drilling baik yang open hole maupun yang touch coring. Kegiatan pemboran ini disupervisi langsung oleh ABN di bawah Seksi Geologi, Departemen Engineering.

D. Kemajuan Eksplorasi

Wilayah ABN terdiri dari 2 blok utama, yaitu blok Timur dan blok Barat, yang dibedakan dengan adanya zona pengecualian minyak/gas milik PT Pertamina Asset V site Sangasanga di dalam area konsesi. Selama periode bulan April hingga Juli, kegiatan pemboran dilakukan di blok Timur dan blok Barat. Pekerjaan infill drilling tahap I menyelesaikan 59 lubang dari total rencana 56 lubang pemboran, dengan total kedalaman 5.897,40 meter dari rencana 6.167 meter.

Pada bulan Agustus dilakukan kegiatan infill drilling tahap II di blok Timur dan blok Barat dengan total meter 1.295,10 meter (15 lubang pemboran) sehingga secara keseluruhan, progres pemboran sudah selesai dengan jumlah total 72 lubang bor, dengan total kedalaman 7.153,45 meter dari rencana 7.167 meter.

Di bulan September tidak ada kegiatan eksplorasi, tetapi fokus pada verifikasi dan validasi data hasil eksplorasi yang telah dilakukan.

PT INDOMINING

PT Indomining (IM) memiliki wilayah konsesi yang mencakup sekitar 683 hektar di daerah Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, sekitar 38 kilometer sebelah tenggara Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Menurut laporan JORC terakhir, Indomining memiliki total sumber daya batubara sekitar 37 juta ton dan cadangan batubara sekitar 22 juta ton. IM beroperasi berdasarkan Izin Usaha Produksi Nomor: 540/004/IUP-OP/MB-PBAT/III/2013 tanggal 15 Maret 2013. Tahap produksi IM dimulai pada bulan Agustus 2007, sedangkan produksi komersial di mulai pada bulan September 2007.

Produksi batubara pada tahun 2014 mencapai 2,3 juta ton, meningkat sebesar 64,3% dari 1,4 juta ton pada tahun 2013. Rasio pengupasan (SR) meningkat menjadi 13,2x dibandingkan 12,8x pada tahun 2013. Volume produksi batubara IM meningkat secara signifikan dengan beroperasinya CPP baru yang menambah kapasitas produksi batubara IM sebesar enam juta ton per tahun, selain juga mampu memproses batubara yang dihasilkan dari tambang TMU.

Kegiatan operasional IM menyerap tenaga kerja sebanyak 695 orang termasuk kontraktor dan sub-kontraktor. Sekitar 80% tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal sebagai implementasi program pengembangan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang. Kontraktor penambangan IM adalah PT RPP Contractor Indonesia. Kegiatan penambangan merupakan penambangan terbuka (surface open pit

mining) dengan metoda truck dan shovel. Produk

batubara IM memiliki kualitas 5.600 GAR dengan total sulfur berkisar 1,0%. Produk ini cukup bersaing di dalam pasar internasional maupun domestik.

Dalam hal kepatuhan lingkungan, Indomining telah menerima peringkat Biru untuk Proper dari Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2012 dan 2013 sebagai penghargaan atas kepatuhan terhadap persyaratan pengelolaan lingkungan yang sehat berdasarkan peraturan perundang-undangan. Di tahun 2014, IM kembali berhasil meraih peringkat Biru untuk PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan) dari Kementerian Lingkungan Hidup yang merupakan penghargaan terhadap kepatuhan pelestarian lingkungan oleh pelaku industri besar yang berdampak pada lingkungan alam.

Kegiatan Eksplorasi

A. Daerah Eksplorasi

Kegiatan eksplorasi sepanjang tahun 2014 diprioritaskan pada daerah yang memerlukan pemboran detail untuk mendapatkan data geologi, hidrologi dan kepentingan uji geoteknik.

Kegiatan eksplorasi yang dilakukan adalah: 1. Melakukan pengukuran patahan pit A Utara dan

Selatan berdasarkan perbandingan data pick-up survei dan pengukuran di lapangan.

2. Pengukuran tebal aktual batubara di lokasi pit A Utara dan D Selatan untuk keperluan pembaharuan/updating model geologi dan kontrol penambangan.

3. Melakukan aktivitas infill drilling di beberapa titik yang jarak spasinya masih kurang rapat.

4. Melakukan pengecekan kondisi material lumpur di area yang telah selesai dilakukan pembebasan lahan untuk mengetahui ketebalan material lumpur agar dapat melakukan update model geologi.

5. Melakukan support supervisi pemboran geoteknik untuk rencana konstruksi OLC (Over Line

Conveyor) di daerah lumpur CPP (Coal Processing Plant).

6. Mengevaluasi pengajuan pemboran geoteknik untuk high LoM pit A seam A1 berkoordinasi dengan Tim Geologi ABN.

7. Mengkaji rencana pemboran geoteknik high LoM

pit B 3 (tiga) titik dengan tujuan mengevaluasi

design LoM pit dan disposal terkait isu failure.

B. Metode Pengukuran

Pengeboran dilakukan dengan menggunakan metode pemboran lubang terbuka (open hole) tipe NQ dengan kedalaman maksimal 100 meter. Untuk deskripsi batuan dilakukan geophysical logging dan dengan deskripsi menggunakan cutting pemboran.

C. Pengawasan Pemboran

Pengawasan dilakukan langsung oleh geologist dari Indomining. Untuk alat pemboran menggunakan 4 unit bor milik CV Moedjiarto Mandiri Utama.

D. Kemajuan Eksplorasi

Pekerjaan bor eksplorasi mencapai total kedalaman 2.047,50 meter untuk pemboran lubang terbuka (open hole) dan 2.007,50 meter untuk geophysical

Dalam dokumen PRESERVING SUSTAINABILITY (Halaman 58-63)

Dokumen terkait