PENUMPANG KRD Sri Lelawangsa dari stasiun Tebing Tinggi Deli, saat turun di stasiun besar Medan. Mereka berharap stasiun Tebing Tinggi tidak ditutup PT KAI. Sinergi/ Khalik
PT KERETA
ApiIndonesia (KAI) Divisi Regional I Sumut akhirnya menutup stasiun Tebing Tinggi Deli. Penutupan itu dilakukan setelah para pedagang asongan yang selama ini melaku- kan kegiatannya di stasiun itu tidak bisa lagi dibina dan melaku- kan tindakan yang bisa merugikan pihak PT KAI.
Hal itu, telah berulang kali terjadi sebulan belakangan, akibat kisruh yang berujung bentrok antara pegawai PT KAI Divre I Sumut dengan ratusan pedagang asongan. Kisruh itu, bahkan berujung hingga rapat dengar pendapat (RDP) antara PT KAI, DPRD, Pemko dan pedagang, namun tidak menemukan kesepa- katan di antara mereka. Sejumlah sumber di PT KAI Divre I Sumut, mengatakan penutupan itu khu- sus dilakukan terhadap kereta api jurusan Medan-Tanjung Balai, Medan-Rantau Parapat dan Med- an-P. Siantar. “Rencananya akan dilakukan hingga April 2014 men- datang,” ujar seorang karyawan di stasiun KA Tebing Tinggi. Sedan-
gkan KRD Sri Lelawangsa tetap operasional seperti biasa.
Salah seorang staf PT KAI Divre I Sumut, mengatakan penutupan stasiun itu merupa- kan skenario terakhir, jika tidak ada langkah-langkah lain yang bisa dilakukan lagi. Dikatakan pegawai PT KAI yang bekerja di bagian perbengkelan itu, pe- nutupan stasiun Tebing Tinggi Deli sendiri tidak akan merugi- kan PT KAI. Justru sebaliknya akan merugikan masyarakat kota Tebing Tinggi keseluruhan, ka- rena kehilangan alat transportasi yang sudah puluhan tahun mel- ayani masyarakat.“Tak Cuma itu, masyarakat juga akan kehilangan subsidi yang selama ini ada pada ongkos karcis yang dibeli,” ujar pegawai warga kota Tebing Tinggi itu.
Saat ini, harga karcis yang mendapat subsidi, adalah KA kelas ekonomi dan KRD Lela- wangsa, di mana seharusnya Rp40 ribu, tapi penumpang membayar Rp20 ribu/sekali berangkat. Diungkapkan, penumpang KA
dari kota Tebing Tinggi jumlahnya relatif kecil dan tak berpengaruh bagi pendapatan PT KAI. Alasan- nya, selama ini PT KAI dalam kegiatan usahanya, bertumpu pada transportasi barang (minyak dan karet) dari perkebunan. Sedang- kan angkutan penumpang hanya bagian dari pelayanan sosial. “Jadi kalau pun ditutup tidak ada masalah, nasibnya akan seperti Sei Rampah dan Perbaungan,” ujar pegawai PT KAI yang setiap hari naik KRD Sri Lelawangsa.
Salah seorang penumpang bernama Hendri Susanto, men- gaku kecewa jika stasiun Tebing Tinggi Deli ditutup, karena tidak adanya pemecahan terhadap masalah pedagang asongan. “Saya sudah puluhan tahun mengguna- kan kereta api ini, kecewa sekali kalau sampai tutup,” ujar warga yang tingga di Kel. Badak Be- juang, Kec. T. Tinggi Kota itu. Di- katakan, harusnya jika pedagang asongan dibela, maka penumpang juga dibela. Jangan karena memb- ela sebelah pihak yang lain men- derita.
Sosial
Dari pantauan, dalam beberapa pekan belakangan, KA jurusan Tj. Balai, Rantau Parapat dan Pematang Siantar tidak lagi berhenti di stasiun Tebing Tinggi Deli. Menurut keterangan pihak Polsuska stasiun Tebing Tinggi, keadaan ini akan berlangsung hingga April 2015. Jika tak ada pemecahan, sudah ada perintah agar stasiun Tebing Tinggi Deli ditutup saja. Mengadu Ke DPRD T.Tinggi
Ratusan pedagang stasiun kereta api kota Tebing Tinggi kem- bali mengadu ke DPRD, Kamis (11/12), setelah pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre I Sumut dari stasiun kota Tebing Tinggi kembali melarang mereka berdagang. Ratusan pedagang itu, datang menggunakan spanduk serta membawa barang-barang yang selama ini jadi alat mencari nafkah mereka.
Sejumlah perwakilan peda- gang stasiun kemudian diterima DPRD, langsung dipimpin Ketua M. Yuridho Chap dan belasan anggota Dewan lainnya, di ruang komisi. Terlihat mengawal ratusan pedagang aparat Polres langsung dipimpin AKBP Enggar Parea- mon, juga Danramil Kapten Sole- han dan jajaranya maupun jajaran
Brimobdasu.
Dalam pengaduan- nya, salah seorang dari Asosiasi Pedagang Stasiun Kereta Api kota Tebing Tinggi M. Syaiful, mengeluhkan sikap keras pihak stasiun KA yang tidak membole- hkan mereka berjualan di stasiun. Masalah larang itu sendiri, menu- rut pedagang, karena pihak staisun harus menegakkan ketentuan UU No.23 Tahun 2007 tentang Perk- eretaapian serta berbagai peratu- ran lainnya.
“Kami mengerti dengan peraturan itu, tapi kami juga butuh ma- kan untuk menghidupi keluarga. Semua itu tak dipedulikan pihak kereta api,” adu perwakilan peda- gang. Pedagang lain mengatakan mereka bukan tidak taat dengan ketentuan, tapi mereka butuh solusi atas nasib dan masa depan mereka.
Dari pengaduan itu, Ketua DPRD kemudian membentuk tim untuk melakukan dialog dengan PT KAI stasiun Tebing Tinggi Deli untuk melakukan pertemuan, pada sore harinya. Pertemuan sore hari di ruang komisi DPRD, terli- hat hadir Wakil Wali Kota Ir. Oki Doni Siregar, Ketua DPRD dan jajarannya, perwakilan PT KAI serta perwakilan pedagang.
Dalam pertemuan sore hari bertujuan memecahkan masalah nasib 350 pedagang stasiun KA itu, PT KAI menjelaskan sikap mereka, karena menjadi kebija- kan perusahaan. Jika tidak dilak- sanakan, maka jabatan mereka akan menjadi taruhannya. “Kami harus menjalankan ketentuan UU dan kebijakan perusahaan. Tapi kami juga paham dengan nasib pedagang,” ujar Jaka, corporate manager PT KAI. Itu sebabnya, tambah dia, pihak PT KAI sudah siap dengan CSR, rekruitmen dan mendukung langkah-langkah terkait nasib pedagang. Tapi, tabah Jaka, soal larangan terhadap peda- gang sudah tegas.
Wakil Wali Kota Ir. H. Oki Doni Siregar yang diminta saran, mengatakan apapun alasannya berdasarkan sila 2 Pancasila, maka aspek kemanusiaan tidak bisa di- lupakan dalam masalah ini, meski PT KAI kukuh dengan penegakan peraturan yang ada. “Saya him- bau, mari kita sama-sam amencari solusi memecah nasib 350 peda- gang ini, antara Pemko, DPRD, PT KAI dan pedagang sendiri,” tandas Wakil Wali Kota.