• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAK BANYAK genera si muda sekarang di Kota Tebing

Dalam dokumen MEDIA PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI (Halaman 35-37)

Tinggi yang mengetahui sosok ula- ma tarikat satu ini. Padahal, Tengku H. Syekh Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi,(1792-1928) merupakan satu di antara khali- fah tariqat Al Kholidi Naqsabandi yang pernah mengecap pendidi- kan dengan ulama besar thariqat Naqsabandiyah Babussalam Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsabandi (1811-1926) di pusat persulukan tariqat itu, di Kampung Babussalam, Kesultanan Langkat.

Di masa itu, kebanya- kan mufti dari berbagai kerajaan dan kesultanan Melayu di pesisir timur Sumatera berasal dari per- sulukan Babussalam. Kerajaan Negeri Padang sendiri memiliki hubungan khusus dengan persu- lukan itu, karena banyak keluarga kerajaan yang mengikuti pen- didikan di sana. Salah satunya, adalah Syekh Tg. Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi.

Hal itu dikuatkan dengan besarnya peran para murid per- sulukan dalam pengembangan dan penyiaran dakwah islam di Kerajaan Padang, khususnya di kawasan etnis Simalungun di Ti- nokkah. Sipispis. Hingga 1930, dikabarkan terdapat madrasah pendidikan Islam di kawasan itu yang dibanguan raja Kerajaan Padang Tebing Pangeran, dengan guru-guru berasal dari persulu- kan Babussalam itu. Sedangkan muridnya, berasal dari kawasan Raya Kahaean dan sekitarnya.

Syekh H. Tg.. Muham- mad Hasyim Al Kholidi Naqsa- bandi, merupakan mufti resmi Kerajaan Negeri Padang terlama, di mana beliau hidup di masa Raja Marah Hakum gelar Pan- glima Goraha (1830-1850) dan di masa Marah Hudin atau Teng- ku Haji Muhammad Nurdin alias Tengku Haji (1870-1914).

Syekh H. Tg. Mhd. Hasyim Al Kholidi Naqsabandi, dari penu- turan buyutnya Husni Thabri, wafat di Kampung Dolok Sari (Kampung Kebun Kelapa) pada 1928. Ulama kharismatik itu diperkirakan beru- sia 130 tahun dan dikebumikan di pemakaman keluarga, kini terle- tak di Gg. Keluarga Link.01, Kel. Tebing Tinggi, Kec. Padang Hilir. Dikisahkan, Tengku Mhd Hasyim dilahirkan di Bandar Khalifah sekira tahun 1792 dari keluarga Kerajaan Padang Tebing Tinggi di Bandar Khalifah. Ayahn- ya bernama Tengku Abdullah, bangsawan dari Kerajaan Johor, Malaysia. Sedangkan Pak Cik be- liau, merupakan raja Kerajaan Pa- dang ke 9 bernama Raja Tebing Pengeran yang gugur di Kampung Pematang Buluh, Bandar Khali- fah, akibat pengkhianatan dalam perang melawan Kerajaan Bedagai sebagai taklukan Kesultanan Deli.

Raja Tebing Pangeran dalam literatur terbatas, dikenal sebagai pemberi nama dan pen- diri Kota Tebing Tinggi. Di masa kekuasaannya, berdiri pangkalan (pelabuhan sungai) di tepian Sei Padang tepat di muara Sei Ba- hilang. Pangkalan diberi nama sesuai dengan nama pendirinya, yakni Pangkalan Tebing. Bela- kangan nama itu berkembang menjadi Tebing Tinggi seiring dengan pertumbuhan daerah itu.

Pasca wafatnya Raja Tebing Pengeran, tampuk kekua- saan Kerajaan Padang dikenda- likan bangsawan dari garis ketu- runan lain, yakni garis keturunan etnis Barus, yakni Marah Hakum gelar Panglima Goraha. Gejolak politik kerajaan itu, telah meming- girkan hak-hak politik dari warga Melayu keturunan Raja Tebing Pangeran, di mana mereka hanya mendapat hak memimpin kes- yahbandaran Bandar Khalifah. Akibatnya, beberapa diantaranya

beralih perhatian dari kekuasaan dengan mendalami agama Islam dan menjadi pendakwah Islam.

Satu di antaranya ada- lah Tengku Mhd. Hasyim yang kala itu masih berusia muda. Dia mendalami ilmu tariqat dari al- iran Naqsabandiyah di Basilam, hingga kemudian sempat men- duduki salah satu jabatan khalifah persulukan itu. “Mungkin Syekh Muhammad Hasyim ini, menjadi murid dari ulama besar dan pen- diri thariqat Naqsabandi Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsabandi,” kata PNS yang bek- erja di Pemko Tebing Tinggi itu. Namun, dari sejumlah data, Syekh Tengku Muhammad Hasy- im Al Kholidi Naqsabandi bergu- ru kepada Syekh Sulaiman Huta- pungkut dari Padang Sidempuan, serta Syekh Ali Ridlo di Jabal Qubais, Makkah, sehingga tidak memiliki jaringan murid dengan persulukan Naqsabandiyah Ba- bussalam, Langkat, tapi memiliki aliran yang sama dengan persulu- kan Naqsabandiyah, Babussalam. Pada masa berikutnya, Mhd Hasyim kembali ke kam- pung halamannya di Kerajaan Padang dan menetap di Kam- pung Dolok Sari. Beliau meni-

kah dengan Hj Syofiah dan men- dapat tujuh anak. Selain istri pertama, ulama tariqat ini juga memiliki tiga istri lainnya. Tapi belum diperoleh data, siapa saja ketiga istri ulama besar itu se-

lain Hj. Syofiah yang dikabarkan

juga memilik banyak keturunan. Salah satu diantara anak Syekh Muhammad Hasyim yang juga berkembang adalah Tengku Abdul Muthallib. Teng- ku Abdul Muthallib menikah dengan dua perempuan, satu diantaranya bernama Wan Fa- timah Syam. Dari pernikahan antara Tengku Abdul Muthal- lib dan Wan Fathimah Syam itu,

Agama

lahir pula beberapa anak, satu dianta- ranya Tengku Abdan. Tengku Abdan ini menikah dengan wanita etnis Mi- nangkabau bernama Nurhayati Tan- jung. Dari kedua pasangan itu, punya keturunan, yakni enam anak dianta- ranya bernama Ilmal Bani Hasyim. Dari tiga istri lainnya, belum ditemukan silsilah keturunan Syekh Tengku H. Mhd Hasyim Al Khalidi Naqsabandi. Hanya saja, kebanya- kan keturunan mulai cucu, cicit dan generasi berikutnya dari ulama besar itu, umumnya tinggal di kawasan Kel. Tebing Tinggi, Kec. Padang Hilir.

Husni Thabri, mengakui semua keturunan dari istri pertama telah meninggal dan kini hanya ting- gal cucu dan cicitnya saja. “Anak terakhir buyut kami itu meninggal 1966 bernama Hj Mariatul Qob- tiah,” ungkap Thabri, yang meru- pakan cucu keturunan terakhir dari istri pertama, ulama thariqat itu. Tengku H. Syekh Mhd Hasy- im Al Kholidi Naqsabandi itu juga memiliki hubungan dengan pendiri Kota Tebing Tinggi Datuk Bandar Kajum atau dikenal dengan Datuk Punggawa dari Kerajaan Negeri Pa- dang. Datuk Bandar Kajum beristri- kan Hj. Fathimah yang merupakan anak pertama dari istri pertama Hj.

Syofiah. Dari garis ini juga terdapat

banyak keturunannya. Seluruh ketu- runan ulama thariqat itu mengguna- kan nama Bani Hasyim di belakang nama masing-masing, meski ada juga yang tidak mencantumkannya.

Ulama tariqat itu sempat

menunaikan ibadah haji ke Makkah, berlayar dari Pangkalan Tebing men- uju Bandar Khalifah. Dari Bandar Khalifah, jamaah haji kala itu me- nyeberang ke Penang, Malaysia dan terus berlayar ke Jeddah. Di Mak- kah Al Mukarramah, atas cendra Tengku Haji Muhammad Nurdin, Syekh Hasyim, mendirikan masjid dan tempat penampungan jemaah haji asal Negeri Padang, sekira 1890 di tanah suci itu. Namun, tempat peristirahatan itu saat ini tidak lagi ditemukan seiring dengan perluasan Masjid Haram yang terus berlanjut.

Sekembalinya dari tanah suci, dari Kampung Dolok Sari itu pula, lanjut Husni Thabri, khalifah Naqsabandiyah itu, menyebarkan pahamnya ke berbagai wilayah, meliputi kerajaan Padang, Bedagai hingga ke Kerajaan Serdang. Lima Laras dan Kerajaan Bandar. Bebera- pa persulukan dibuka murid-murid Tuan Guru Mhd. Hasyim, di antara- nya di Bandar Tinggi, Bedagai, Sei Buluh, Lidah Tanah, Tebing Tinggi dan Bandar Khalifah. Jejak terakhir dari penyebaran tariqat Tuan Guru Mhd. Hasyim itu, masih terlihat di Lidah Tanah, tepatnya di Kampung Tengah. Dulu dipimpin Khalifah Adnan dan terakhir ada di Sei Buluh dipimpin H. Dul Hadi, terang Thabri.

Tuan Guru Mhd. Hasyim juga membuka persulukan di la- han miliknya. Namun, saat ini persulukan itu telah lama rubuh dan lahannya kini menjadi area perkebunan ubi, tepat dipinggir

rel kereta api arah Rantau Pra- pat, di kelurahan Tebing Tinggi.

Semasa hidupnya, ulama tariqat ini dikenal memiliki karo- mah sebagai tanda kedekatannya kepada Allah SWT. Seperti penutu- ruan nenek Husni Thabri kala masih hidup, Syekh Muhammad Hasyim ini dikenal dengan doanya yang makbul. Bahkan, setelah wafatnya, makam ulama itu sering diziarahi masyarakat untuk bernazar. “Seingat saya hingga tahun 1970 masih ban- yak orang yang berziarah,” kata dia.

Karomah lain yang sempat terekam dalam ingat keturunan- nya, adalah kemampuan Tuan Guru Mhd. Hasyim dalam melihat mak- sud orang yang datang kepadanya. Begitu pula dengan kemampuan- nya melihat masa lalu dan masa depan, di mana banyak masyarakat kala itu yang meminta tunjuk ajar padanya, kata Husni Thabri.

Sayangnya, jejak ulama tariqat itu, kini tak lagi bergema. Seiring dengan perjalanan wak- tu, nama ulama thariqat asal Kota Tebing Tinggi itu, telah lama tak dibicarakan orang lagi. Bahkan, keturunannya telah belasan tahun tidak menyelenggarakan haul tuan guru itu. Haul terakhir yang dilak- sanakan, kata Husni Thabri, seingat dia pada 1992. Setelah itu, kegiatan yang sama hilang ditelan seiring edaran masa. Namun, beberapa ketu- runan Syekh Hasyim, mengaku haul diselenggarakan setiap tahun meski tidak dengan acara besar-besaran. “Tetap saja dilakukan secara seder- hana,” ujar Mahyan Zuhri, mantan anggota DPRD kota Tebing Tinggi.

Makamnya pun kini terke- san tak terurus. Bangunan yang me- nutupi kubur terlihat telah kusam. Seng atasnya menganga lebar tak diperbaiki. Sedangkan plang nama yang terletak di depan komplek pekuburan itu, tulisannya juga telah kabur. Zaman, ternyata telah melupa- kan sosok ulama tariqat yang jaya di masa lalu. Bahkan, belakangan terjadi sengket antara sesame ketu- runan, di mana akhirnya makam itu tidak lagi diberi plank, guna meng-

hindari konflik keluarga. Sudah

semestinya Pemko Tebing Tinggi melalui Disporabudpar memperhati- kan makam ulama thariqat itu seba-

MAKAM ulama thariqat Syekh H. Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi di Gg. Keluarga, Link.01, Kel. Tebing Tinggi,

Opini

Antara Harapan

Dalam dokumen MEDIA PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI (Halaman 35-37)

Dokumen terkait