Oleh
Dr. Rizki Nur Rachman Putra Gofur
Ketika mendekati bulan Ramadhan, tentu dokter akan mulai mendapat konsultasi mengenai bolehkah seorang pasien (dengan berbagai penyakit) melakukan puasa. Salah satu konsultasi yang hampir selalu muncul adalah mengenai ibu hamil dan puasa. Sebelum melakukan edukasi, seorang dokter tentu perlu menyiapkan pendapat yang berbasis ilmiah. Berbagai studi mengenai puasa dan ibu hamil akan dibahas pada artikel ini.
Menurut hukum Islam, semua orang dewasa yang sehat harus berpuasa saat bulan Ramadhan. Namun aturan ini tidak berlaku pada wanita hamil. Jika wanita hamil khawatir bahwa puasanya dapat menganggu kesehatan janin yang dikandungnya, maka diperbolehkan tidak puasa. Namun aturan ini justru membuat wanita hamil berpikir bahwa puasa adalah sebuah kewajiban, walaupun sedang hamil.
Sebelum mengetahui lebih dalam mengenai efek puasa pada kehamilan, sebaiknya
62
tahui predictor dan faktor yang memotivasi wanita hamil untuk puasa saat bulan Ramadhan. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menemukan bahwa kepatuhan puasa menurun 4% setiap minggu dengan meningkatnya usia gestasional. Umumnya tidak berpuasa diasoasikan dengan ketidaksetujuan dari suami, dan ketakutan bahwa dapat muncul efek buruk pada kehamilan. Analisis regresi linear menunjukkan bahwa perempuan yang puasa menunjukkan bahwa jumlah hari puasa memiliki hubungan terbalik dengan usia gestasi, ketakutan efek samping pada kehamilan, dan penolakan dari suami.
Sebuah penelitian Case Control di Iraq pada tahun 2017 oleh Safari et al. menggambarkan hal ini. Secara umum wanita hamil dapat bepuasa dengan baik selama Ramadhan, sekitar 80% wanita berpuasa 21 sampai 29 hari selama Ramadhan, dan sebanyak 38,7% menyelesaikan puasanya. Keputusan untuk berpuasa tidak berhubungan dengan tingkat edukasi dan pekerjaannya. Peningkatan berat badan pada ibu hamil lebih rendah 0,4 kg dibandingkan kelompok lain yang tidak berpuasa. Angka diabetes
63
gestasional sebanyak 2,6% pada kelompok puasa dan 8,3% pada kelmpok yang tidak berpuasa. Analsis regresi menunjukkan bahwa wanita yang tidak berpuasa pada trimester kedua memiliki risiko 1,51 kali lebih besar untuk menderita diabetes gestasional. Juga pada wanita yang berpuasa 21 hingga 29 hari selama Ramaadhan memiliki risiko lebih rendah untuk menderita diabetes gestasional. Sekitar 60% dari wanita hamil kelompok puasa juga mengatakan bahwa bepruasa merupakan hal wajib bagi orang sakit dan tidak sakit. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa perempuan yang berpuasa pada trimester kedua kehamilan memiliki risiko yang lebih rendah untuk menderita diabetes gestasional dan juga memiliki risiko yang lebih rendah untuk peningkatan berat badan yang berlebihan.
Penelitian lain yang dilakukan Glazier et al. menyelidiki mengenai keluaran perinatal pada wanita hamil yang berpuasa Ramadhan. Penelitian ini berupa Systematic Review dan Meta analisis. Pada penelitian ini ditemukan 18.920 subyek wanita hamil yang menjalani puasa Ramadhan. Berat lahir tidak dipengaruhi oleh
64
puasa ibu hamil selama Ramadhan. Berat plasenta dilaporkan lebih rendah pada kelompok yang bepuasa, namun ini hanya berdasarkan satu studi besar saja. Tidak ditemukan data pada kematian perinatal. Puasa Ramadhan tidak dikaitkan dengan persalinan preterm, berdasarkan 5600 kehamilan. Walaupun begitu disipmulkan bahwa puasa Ramadhan tidak berpengaruh terhadap berat lahir, namun tidak ada bukti yang jelas mengenai potensi morbiditas perinatal.
Penelitian selanjutnya dilakukan di Tehran, Iran. Penelitian ini memeriksa 189 kasus untuk menentukan hubungan antara puasa Ramadhan dengan pertumbuhan intrauterin dan waktu persalinan. Studi ini bersifat kohort persepsktif, dilakukan pada wanita hamil yang menjalani puasa saat bulan Ramadhan. Wanita hamil ini dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu tidak berpuasa, berpuasa 1 sampai 10 hari, berpuasa 11 sampai 20 hari dan bepuasa 21 hingga 30 hari. Pada 189 pasien, ditemukan usia rata rata adalah 25,9 tahun, 61,8 kg, dan rata rata indeks masa tubuh (IMT) 23,9 kg/m2. Hari rata rata ibu yang bepuasa adalah 13 hari dan 66 kasus (34,9%)
65
tidak berpuasa. Sebagai tambahan tidak ada perbedaan antara usia, IMT saat petama kehamilan, usia ibu, jumlah kehamilan, dan riwayat aborsi di kedua kelompok. Tidak ada perbedaan antara rata berat, panjang, dan lingkar kepala antara bayi wanita hamil dari kelompok kelompok di atas. Selanjutnya juga tidak ada perbedaan antara keluaran kehamilan antara wanita hamil yang berpuasa di bebagai trimester. Kesimpulan dari studi ini adalah, bahwa wanita dengan nutrisi yang baik tidak memiliki efek yang buruk terhadap petumbuhan intrauteirn dan waktu persalinan. Walupun begitu, terdapat risiko relative untuk berat lahir yang rendah sebanyak 1,5 kali pada wanita yang hamil pada trimester satu dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak berpuasa sama sekali.
Artikel ini dimaksudkan sebagai referensi bagi dokter untuk memberikan edukasi juga sembari memberikan saran yang paling baik pada pasien. Keputusan klinis Kembali ke tiap dokter, dan tentu saja harus mempehatikan individu setiap pasien, karena setiap pasien berbeda. Terakhir penulis selalu mengingatkan untuk selalu
66
memperhatikan masukan dari pasien sebelum memberikan masukan klinis.
Sumber
Glazier, J.D., Hayes, D.J.L., Hussain, S. et al. The effect of Ramadan fasting during pregnancy on perinatal outcomes: a systematic review and meta-analysis. BMC Pregnancy
Childbirth 18, 421 (2018).
https://doi.org/10.1186/s12884-018-2048-y
Lily A. van Bilsen, Ary I. Savitri, Dwirani Amelia, Mohammad Baharuddin, Diederick E. Grobbee, Cuno S.P.M. Uiterwaal, Predictors of Ramadan fasting during pregnancy,
Journal of Epidemiology and Global Health, Volume 6, Issue 4, 2016, Pages 267-275, ISSN 2210-6006,
https://doi.org/10.1016/j.jegh.2016.06.002. (https://www.sciencedirect.com/science/arti cle/pii/S221060061630034X)
Safari, K., Piro, T.J. & Ahmad, H.M. Perspectives and pregnancy outcomes of maternal Ramadan fasting in the second trimester of pregnancy. BMC Pregnancy
67
Childbirth 19, 128 (2019).
https://doi.org/10.1186/s12884-019-2275-x Ziaee V, Kihanidoost Z, Younesian M, et al. The
effect of ramadan fasting on outcome of pregnancy. Iran J Pediatr. 2010;20(2):181-186.
68