Oleh
Dr. Rizki Nur Rachman Putra Gofur
Puasa telah banyak diteliti oleh banyak ilmuan dari seluruh dunia. Secara umum puasa memberikan efek yang baik untuk kesehatan. Puasa dilakukan oleh masyarakat seluruh dunia dengan berbagai latar belakang mulai dari sebagai tren, ajaran agama, maupun karena alasan sosial budaya. Tidak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia mayoritas terdiri dari pemeluk agama Islam.
Agama Islam mengajarkan untuk berpuasa selama bulan Ramadhan dari terbit hingga tenggelamnya matahari. Muslim yang berpuasa dalam bulan Ramadhan tidak hanya muslim yang sehat saja, namun juga para pengidap penyakit kronis. Para pengidap penyakit kronis ini salah satunya adalah pasien dengan chronic kidney disease (CKD) atau gagal ginjal kronis. Lalu bagaimana dampak puasa terhadap CKD? Bagaimana tatalaksana pasien CKD selama puasa? Bolehkah pasien CKD berpuasa? Artikel ini
31
berusaha menjawab pertanyaan pertanyaan di atas.
Chronic Kidney Disease
Sebelumnya mari sedikit membahas mengenai CKD untuk me-refresh pengetahuan tentang CKD. Sub bab ini disarikan dari buku Kapita Selekta Kedokteran (Tim Kapita Selekta Kedokteran, 2014).
Definisi dari CKD adalah adanya kelainan structural dan fungsional pada ginjal. Kerusakan ini tidak boleh bersifat sementara dan harus bertahan minimal tiga bulan. Kelainan struktur yang dimaksud adalah kelainan struktural yang dapat dilihat dari pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium. Kelainan tersebut adalah albuminuria, sedimen urin, kelainan elektrolit. Namun juga dapat melalui pemeriksaan histologi, imaging, dan riwayat transplantasi ginjal. Kelainan tersebut juga dapat dilihat dari adanya penurunan laju filtrasi glomeroulus < 60 ml/menit/1,73 m persegi.
Etiologi yang menyebabkan CKD ber-macam-macam. Mulai dari infeksi yang
32
babkan glomerulonefirtis, diabetes mellitus yang menyebabkan nefropati diabetikum, hipertensi, obstruksi pada saluran kemih diakibatkan oleh batu atau tumor, lupus sistemik, dan penggunaan obat-obatan yang berlebihan. Prevalensi penyakit ini di negara maju mencapai 10-13% sedangkan di Indonesia didapatkan sektiar 12,5% mengalami penurunan fungsi gijal.
Manifestasi klinis dari CKD tidak spesifik. Pada fase awal-awal penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala. Gejala muncul pada fase akhir. Tanda dan gejala yang umumnya dapat muncul akibat CKD adalah :
Ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa : dicirikan oleh tanda gejala hyperkalemia, asidosis metabolic, serta hiperfosfatemia
Ketidakseimbangan cairan yang ditandai dengan edema pada ekstremitas, efusi pleura, asites, peningkatan JVP, asites Gejala-gejala gastrointestinal seperti
metallic taste, vomiting gastritis, ulkus peptikum, dan malnutrisi
33
Gangguan kulit seperti kulit kering, pruritus, dan perubahan warna kulit
Gangguan saraf seperti adanya kelemahan otot, kelainan memori, penurunan kesadaran
Anemia dan gangguan hemostasis
Penyakit-penyakit metabolic seperti dyslipidemia, diabetes mellitus, dan gangguan hormone seks.
Untuk mendiagnosis CKD selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, perlu pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan darah lengkap perlu dilakukan untuk mendeteksi anemia. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan profil ginjal untuk menilai kenaikan ureum atau serum kreatinin. Peningkatan profil ginjal mengindikasikan adanya kerusakan ginjal. Kemudian dapat dilakukan pemeriksaan elektrolit, CKD dicirikan dengan adanya hyperkalemia, hipokalsemia, hiper-fofatemia, hipermagesemia.
Secara umum pasien baru CKD atau dengan kecurigaan CKD (yang sebelumnya belum didiagnosis CKD) perlu dirujuk ke fasilitas
34
kesehatan tingkat lanjut. Namun ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa perujukan harus dilakukan segera, beberapa di antaranya adalah :
Pasien CKD baru yang perlu dicari penyebab dari CKD tersebut
Pasien gagal ginjal akut yang tidak respon dengan terapi awal dan tidak ada perbaikan fungsi ginjal
Anemia dan CKD
Pasien kecurigaan CKD dengan riwayat penyakit ginjal di keluarga
Terdapat hematuria
CKD yang semakin memburuk
CKD dengan hipertensi tidak terkontrol atau tidak membaik dengan pemberian obat CKD dengan gangguan tulang
Level kalium yang sulit terkontrol Albuminuria refrakter
CKD yang akan dilakukan transplantasi gijal
CKD dan Puasa
Puasa memiliki dampak tertentu pada kondisi fisiologis tubuh diakibatkan tidak ada konsumsi kalori dan cairan dari terbit matahari
35
hingga terbenam. Beberapa studi sudah mencoba menjelaskan hubungan antara keduanya. Studi oleh Al-Muhanna pada 140 pasien dengan CKD dengan rincian 40 pasien hemodialysis rutin, 18 pasien peritoneal dialisis, 15 pasien predialis, dan 67 dengan terapi obat. Pada studi ini ditemuan tidak ada efek samping puasa terhadap CKD. Namun studi ini terbatas karena tidak mengeksklusi pasien dengan gagal ginjal kronik stadium akhir.
Studi lain dilakukan oleh Bakhit et al. pada tahun 2017. Studi ini bersifar prospektif observasional yang mengamati 65 pasien dengan CKD stage 3-5. Observasi dilakukan selama Ramadhan dan 3 bulan setelah Ramadhan. Studi ini menemukan bahwa 33% mengalami perburukan fungsi ginjal. Studi ini kemudian menarik kesimpulan bahwa pasien dengan CKD stage 3 atau lebih mengalami perburukan fungsi ginjal saat melakukan puasa Ramadhan.
Sebelum melakuan puasa sebaiknya pasien yang menderita penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular mengunjungi dokter untuk kontrol 1 atau 2 bulan sebelum puasa. Kunjungan ini
36
diperlukan untuk melakukan pemeriksaan fisik, edukasi mengenai puasa, serta pengaturan dosis obat. Pasien yang diberikan diuretic perlu hati hati karena dapat menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Untuk pasien puasa, diuretik bukan pilihan utama untuk pasien hipertensi. Walupun diuretic tidak rutin diberikan untuk pasien CKD, namun kadang juga dapat disertai dengan gangguan kardiovaskular dan hipertensi dan mendapatkan obat ini.
Sekarang keputusan yang perlu diberikan adalah apakah seorang pasien dengan CKD dapat berpuasa atau tidak. Jika ragu, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam. Namun terdapat beberapa kriteria seorang pasien CKD yang tidak diperbolehkan untuk puasa:
Poliuria, pasien dengan volume urin yang lebih besar dari 2,5 liter per hari
Pasien dengan diabetes insipidus atau diabetes mellitus yang tidak terkontrol Pasien dengan segala jenis angina Pasien dengan postural hipotensi Pasien dengan infeksi akut
37
Pasien dengan ulkus peptic akut
Pasien dengan komorbid signfikan seperti kardivaskular
Pasien yang tidak patuh dengan modifikasi diet, obat, dan terapi.
Sedangkan untuk pasien CKD yang tidak masuk kriteria di atas, ada beberapa tips yang dapat diberikan selama puasa untuk menjaga kondisi dan stabilitas penyakit. Tips tersebut adalah :
Dosis obat dapat diatur dan diganti menjadi dua kali sehari dan dikonsumsi saat sahur dan berbuka
Hentikan puasa jika terjadi gejala ketidakseimbangan elektrolit atau pening-katan plasma kreatinin > 30%
Hentikan puasa jika terjadi gejala - gejala tersebut : edema, sesak, pusing berputar, anoreksi, lemas, dan kelemahan
Follow up pemeriksaan ke dokter setiap 1 atau 2 minggu. Pemeriksaan dilakukan sebelum, saat, dan sesudah Ramadhan.
38
Saat buka hindari makanan tinggi potassium dan pospor seperti kurma, kismis, kacang, keju, jus, teh, dan kopi
• Konsumsi air sekitar 1 – 2,5 liter, namun jangan berlebihan. Konsumsi ini juga bisa menyesuaian planning terapi.
Daftar pustaka
Ahmad S & Chowdhury TA, 2019. Ther Adv Endocrinol Metab 2019, Vol. 10: 1–11
Am Fam Physician. 2017 Dec 15;96(12):776-783 Bakhit et al., 2017. Saudi Med J. 2017 Jan; 38(1):
48–52
Bragazi, 2014. J Res Med Sci. 2014 Jul; 19(7): 665–676.
Tim Kapita Selekta Kedokteran. 2014.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesklapius
39