Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio
3. Public broadcasting syndication merupakan bentuk bursa konten yang dilakukan untuk suatu segmen konten acara untuk dapat disiarkan di sebuah konten acara stasiun
televisi atau radio lain.
Salah satu contoh lembaga yang sukses dalam memfasilitasi bentuk sindikasi konten acara televisi di Amerika adalah he Program Exchange yang dibentuk pertama kali dengan nama Program Syndication Services Inc. di tahun 1973.
Di Indonesia sendiri, kegiatan bursa konten acara televisi dan radio dinilai belum begitu marak perkembangannya. Rumah-rumah produksi independen yang menghasilkan konten acara lebih banyak menjual hak siarnya secara langsung kepada stasiun-stasiun televisi yang dirasa akan tertarik untuk menayangkan konten yang ditawarkannya. Hal ini tentunya membuat para rumah produksi independen berskala kecil menjadi kesulitan dalam menjalin koneksi untuk dapat memasarkan kontennya ke para pemain besar media di Indonesia. Akibatnya, konten yang dihasilkan hanya mampu menembus jaringan pasar lokal saja.
A.4 Proses Penyiaran
Tahapan akhir dalam rantai nilai utama sektor televisi dan radio adalah tahap penyiaran. Pada tahapan ini, seluruh program acara yang telah dibuat pada proses produksi disiarkan kepada publik melalui presenter. Pelaku utama yang berperan sebagai presenter adalah media penyiaran konten televisi dan radio.
Gambar 2 - 7 Rantai Nilai Penyiaran Subsektor Televisi dan Radio
Presenter pada proses penyiaran terbagi menjadi berbagai macam jenis sesuai dengan format distribusi ataupun format acara itu sendiri. Untuk acara siaran langsung yang telah selesai diproduksi, selanjutnyaakan dipresentasikan melalui stasiun televisi atau radio, serta IP based
tempat pengarsipan acara rekaman untuk selanjutnya dipresentasikan oleh operator dengan merestorasi kembali konten acara.
Rantai nilai penyiaran merupakan bentuk penyajian stasiun televisi dan radio akan acara-acaranya sebagai salah satu usaha pembentukan citra produknya di mata masyarakat. Pada rantai nilai presentasi, aktor utama yang terlibat meliputi perusahaan televisi kabel, stasiun televisi dan radio, serta jaringan internet. Berikut ini daftar nama perusahaan televisi kabel yang menyiarkan acara dari stasiun-stasiun televisi lokal di Indonesia:
• PT. MNC Sky Vision (Indovision dan Top TV, Oke Vision), kabel dan satelit.
• PT. Indosat Mega Media (IM2/IndosatM2 (IM2 PayTV)), kabel.
• PT. Link Net (First Media), kabel dan satelit.
• PT. Mentari Multimedia (M2V Mobile TV), terrestrial. • PT. Indonesia Media Televisi (BigTV), kabel dan satelit
• PT. Indonusa Telemedia (TelkomVision), kabel dan satelit
• PT. Indonusa Telemedia (Yes TV), satelit.
• PT. Nusantara Vision (OkeVision), satelit.
• PT. Karyamegah Adijaya (Aora), satelit.
• PT. Cipta Skynindo (Skynindo), satelit.
• PT. Telekomunikasi Indonesia (Groovia TV), IPTV.
Pada rantai nilai penyiaran, aktor dari bidang pemerintahan yang paling berperan dalam kegiatan penyiaran serta pengawasan acara-acara televisi dan radio tentunya adalah Komisi Penyiaran Indonesia. Untuk televisi, siaran acara dari beberapa stasiun televisi swasta dan milik pemerintah dapat dinikmati secara gratis dan serentak se-Indonesia. Sedangkan untuk acara radio, karena keterbatasan frekuensi siaran, masing-masing wilayah akan memiliki jenis siaran radio yang berbeda-beda.
B. Pasar
Gambar 2 - 8 Peta Pasar
Konten acara yang dihasilkan oleh televisi dan radio kemudian disiarkan secara serentak kepada publik sebagai pemirsa dan pendengar konten acara di berbagai macam jangkauan. Para penikmat konten acara televisi dan radio dapat dikelompokkan menjadi penonton umum, penonton ahli, serta perusahaan pengiklan.
Penonton Umum terdiri dari masyarakat yang menikmati konten acara televisi dan radio semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan informasi. Jumlah penonton umum yang menikmati konten acara yang disuguhkan oleh stasiun televisi dan radio tertentu merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan oleh perusahaan pengiklan untuk mengiklankan produknya di konten acara tersebut.
Penonton Ahli merupakan pihak-pihak yang memiliki keahlian yang diakui untuk memberikan penilaian kualitas dari konten sehingga mereka menikmati konten acara televisi atau radio sebagai bagian dari profesionalisme kerja. Contoh dari penonton ahli diantaranya adalah kritikus, penulis atau jurnalis, serta pakar media.
Perusahaan pengiklan merupakan salah satu target utama para pemilik media yang sekaligus mendasari ide pembuatan konten tersebut. Hal ini disebabkan oleh iklan yang menjadi satu- satunya sumber pendapatan stasiun televisi dan radio di Indonesia.
C. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment)
C.1 Apresiasi
Proses apresiasi karya seni dari televisi dan radio adalah salah satu rantai nilai pendukung dalam sektor tersebut. Tahapan apresiasi ini terbagi menjadi beberapa jenis seperti ditunjukkan pada Gambar 2-9.
Acara-acara yang disiarkan selanjutnya akan diapresiasi dalam bentuk pemberian beragam penghargaan dan nominasi, kritik oleh para pakar ilm atau acara radio serta penonton.Bentuk apresiasi yang diberikan oleh asosiasi jurnalistik berupa penghargaan, sedangkan untuk apresiasi dari penonton dan kritikus adalah rating yang diberikan secara spesiik untuk satu acara tertentu. Adapun bentuk apresiasi berupa literasi, yakni bentuk pengajaran akan konten-konten acara televisi dan radio yang direkomendasikan untuk dinikmati sesuai dengan segmen umur penikmatnya. Bentuk apresiasi dalam bentuk literasi ini diberikan oleh tenaga pendidik secara formal dan oleh orang tua secara nonformal.
Di Indonesia sendiri sudah terdapat banyak jenis penghargaan yang diberikan pada subsektor penyiaran televisi dan radio. Berikut ini jenis-jenis bentuk penghargaan yang terdapat di Indonesia beserta aktor yang terlibat di dalamnya untuk subsektor penyiaran acara televisi:
• Panasonic Gobel Awards.
• Musium Rekor Indonesia (MURI).
• SCTV Awards.
• Infotainment Awards.
• Penghargaan Peabody.
• KONI Awards.
• Anugerah Jurnalistik Pertamina.
• Muctar Lubis Award.
• KPI Awards.
• Citra Pariwara Awards.
Sayangnya, beberapa penghargaan besar yang diharapkan mampu menjadi pemicu untuk mengembangkan kreativitas dalam pemrograman konten, ternyata justru kurang mampu mendongkrak kualitas konten acara. Selain itu, stasiun-stasiun televisi lokal yang cenderung tidak memiliki ambisi untuk mengompetisikan kontennya dalam beberapa ajang penghargaan bergengsi secara nasional, membuat hasil kreativitas lokal yang berkualitas tidak dapat tertangkap dan mendapat apresiasi dari masyarakat. Hal ini tentunya membuat konten-konten acara lokal menjadi kurang menarik bagi para perusahaan pengiklan untuk berinvestasi di dalamnya. Sedangkan jenis-jenis penghargaan yang diberikan pada subsektor radio juga tidak kalah jumlahnya dengan industri televisi. Berikut ini beberapa penghargaan yang dianugerahkan untuk konten radio:
• Indonesian Radio Awards.
• Penghargaan Peabody.
• Apresiasi Jurnalistik Jakarta.
• Anugerah Adinegoro.
• MH hamrin Award (PWI Award).
• Jusuf Ronodipuro Award. C.2 Pendidikan
Dokumen acara dan apresiasi yang telah didapatkan selanjutnya dapat menjadi input pada tahapan studi. Tahapan ini merupakan proses jalannya kegiatan pembelajaran ilmu penyiaran televisi dan radio dilakukan.
Gambar 2 - 10 Peta Studi Subsektor Konten Televisi dan Radio
Proses pembelajaran ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara formal dan nonformal. Proses pembelajaran secara formal dilakukan oleh sekolah jurusan penyiaran dengan ijazah atau sertiikasi resmi yang diakui. Sedangkan pendidikan nonformal bisa diperoleh melalui komunitas- komunitas yang memberikan kuliah umum secara singkat terkait dalam bidang penyiaran televisi dan radio. Berbeda dengan pendidikan formal, pendidikan nonformal tidak disertai dengan ijazah, tetapi memiliki sertiikasi kompetensi. Proses dari kedua jenis pendidikan ini nantinya diharapkan akan menghasilkan tenaga ahli yang kemudian dapat berperan dalam memberikan ide-ide kreatif mengenai konsep awal penyiaran televisi dan radio.
Sekolah pendidikan ilmu penyiaran secara formal, baik televisi maupun radio, di Indonesia sudah mulai memiliki jumlah yang cukup banyak walaupun sebagian besar hanya terdapat di kota-kota besar. Akan tetapi, pendidikan ilmu penyiaran tidak hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal yang bersertiikasi ataupun tidak. Di Indonesia sendiri, fasilitas seperti ini biasanya disediakan oleh komunitas penyiaran televisi ataupun radio dalam bentuk seminar, workshop, dan festival.
Aktor-aktor di bidang akademisi yang berperan dalam rantai nilai studi adalah sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan formal terkait dengan ilmu penyiaran di Indonesia. Adapun sekolah-sekolah yang memiliki program pendidikan ilmu penyiaran dan jurnalistik tersebut adalah sebagai berikut:
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bina Nusantara Medan.
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan.
• Akademi Ilmu Komunikasi Padang.
• Akademi Komunikasi Bina Ekatama.
• Akademi Teknologi Komunikasi dan Informasi Indosiar.
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang.
• Akademi Komunikasi Indonesia “Yayasan Pendidikan Komunikasi”.
• Akademi Komunikasi Yogyakarta.
• Akademi Telekomunikasi Indonesia Yogyakarta.
• UPN Veteran Yogyakarta.
• Universitas Atmajaya Yogyakarta.
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya.
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Mahkamah Samarinda.
• Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Fajar.
• Multi Media Training Center “MMTC” Yogyakarta.
Adapun di bidang bisnis, aktor yang menyelenggarakan ilmu pendidikan terkait dengan industry penyiarantelevisi dan radio adalah lembaga-lembaga kursus penyiaran. Biasanya lembaga-lembaga kursus ini sebagian besar didirikan oleh stasiun radio ataupun televisi itu sendiri. Beberapa contoh stasiun televisi dan radio yang membuka kursus bidang jurnalistik dan penyiaran adalah sebagai berikut:
• MitraFM Bekasi.
• 99ers Radio School.
• DJ Arie Broadcasting School.
• Shinta Broadcasting School.
• Journalist Development Program (JDP) TVOne.
• Broadcast Development Program (BDP) RCTI.
• Production Development Program (PDP), Cameraman Development Program (CAMDP), dan Technic Development Program (TDP) oleh Metro TV.
Dari lapisan yang berperan sebagai penyelenggara ilmu pendidikan di penyiaran adalah komunitas- komunitas ilm, jurnalistik, atau radio. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa lembaga komunitas terkait dengan bidang penyiaran seperti berikut ini:
• Komunitas Penyiar dan Pendengar Siaran Radio.
• Jaringan Radio Komunitas.
• Komunitas Televisi Indonesia (KOMTEVE).
• Komunitas Presenter Indonesia. C.3 Pengarsipan
Proses pengarsipan pada industritelevisi dan radio terdiri dari beberapa aktivitas, yaitu pengumpulan-
Gambar 2 - 11 Peta Pengarsipan Subsektor Konten Televisi dan Radio
Pada televisi dan radio, bentuk pengarsipan dapat dilakukan oleh beberapa pihak berikut ini: