kepadapenikmatnya dalam format suara yang disiarkan kepada publik dalam bentuk virtual
4. Musik, yaitu konten radio yang hanya terdiri dari beberapa kumpulan lagu tanpa adanya konten tambahan dari penyiar.
1.2 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio
1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio Indonesia
Perkembangan industri televisi dan radio di Indonesia dimulai ketika Angkatan Laut Kerajaan Belanda pertama kali mengoperasikan fasilitas radio komunikasi di Sabang pada tahun 1911. Pada saat itu, fasilitas radio digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengatur lalu lintas kapal laut yang melintas Selat Malaka, jalur perdagangan yang sangat padat pada masanya. Setelah Perang Dunia I usai, tepatnya pada tahun 1925, Batavia Radio Society atau Radio Batavia Vereniging (BRV) mulai didirikan di Jakarta. BRV merupakan sekelompok broadcaster yang mulai mengudarakan siaran tetap berupa pemutaran musik dari luar negeri. Lahirnya BRV inilah yang mulai mengawali keberadaan radio siaran di Hindia Belanda (Indonesia). Salah satu stasiun radio milik swasta yang paling popular di Hindia Belanda adalah Solosche Radio Vereniging (SRV) yang didirikan oleh Bumi Putera di Solo pada tahun 1933.10
Pada 8 Maret 1942, saat Belanda menyerahkan diri kepada Jepang, radio siaran yang ada dihentikan sepenuhnya. Kemudian Jepang mendirikan lembaga penyiaran baru yang dinamakan Hoso Kanri Kyoko dengan cabang-cabangnya di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang. Kedelapan stasiun daerah inilah yang kemudian menjadi embrio pendirian Radio Republik Indonesia (RRI). Setelah masa ini, kemudian televisi dan radio di Indonesia berkembang dalam beberapa era, yaitu: Era Kemerdekaan Indonesia (Orde Lama, 1945–1965); Orde Baru (1966–1998); Era Reformasi.
Era Kemerdekaan Indonesia (Orde Lama, 1945–1965). Di awal masa kemerdekaan, RRI mulai didirikan oleh pemerintah Indonesia sebagai stasiun radio resmi pertama milik pemerintah pada 11 September 1945. Pada masa itu, RRI mempunyai peran penting dalam mengampanyekan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 kepada dunia. Berkat siaran
(9) http://en.wikipedia.org/wiki/BBC_Knowledge, diakses pada 23 Juli 2014
radio inilah, dunia mengetahui informasi terkait proklamasi kemerdekaan Indonesia, sehingga dukungan dan rasa simpati pun serta merta mengalir dari negara-negara tetangga. Sejarah momen kemerdekaan ini diukir oleh para penyiar radio senior, Ronodipoero, beserta pemimpin redaksinya, Bachtiar Lubis, yang mengudarakan naskah proklamasi dan mempropagandakan kemerdekaan bangsa Indonesia secara terus menerus dari waktu ke waktu, mulai dari pukul 19.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945.
Logo Radio Republik Indonesia (RRI) Sumber: trisaktimarketingclub.com
Illustrasi
Moehamad Joesoef Ronodipoero Sumber: LP3ES, 2012
Moehamad Joesoef Ronodipoero
Moehamad Joesoef Ronodipoero atau Yusuf Ronodipuro, adalah seorang duta besar Indonesia yang awalnya dikenal sebagai seorang penyiar kemerdekaan Republik Indonesia berkat perannya dalam menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia melalui Radio Hoso K yoku. Saat itu, Ronodipoero tidak mengetahui akan serangan yang di- lakukan oleh tentara Amerika kepada Jepang. Tiba-tiba saja siaran Radio Hoso K yoku dihentikan tanpa alasan yang jelas. Baru setelah Mochtar Loebis, seorang sastrawan dan wartawan yang dipercaya untuk menangani pemberitaan mancanegara, memberikan kabar tersebut pada Ronodipoero, Ronodipoero pun berangkat ke markas Menteng 31 untuk mendiskusikan strategi perebutan Radio Hoso K yoku. Setelah sistem penyiaran dapat diambil alih sepenuhnya, Ronodipoero yang pada saat itu masih berusia 26 tahun pun mulai menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam bahasa Inggris ke seluruh dunia. Berkat jasa Ronodipoero ini, seluruh dunia pun mengetahui peristiwa bersejarah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tidak lama setelah peristiwa bersejarah tersebut, bersama dengan pimpinan-pimpinan radio daerah, Ronodipoero pun turut berperan sebagai salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia pascamerdeka, hingga akhirnya merintis karir sebagai duta besar Indonesia untuk beberapa negara di Eropa.
Sejarah sistem penyiaran televisi di Indonesia dimulai pada 17 Agustus 1962. Pada saat itu, Televisi Republik Indonesia (TVRI) lahir dan untuk pertama kalinya mulai beroperasi. Siaran pertama dilakukan untuk menyiarkan peringatan hari ulang tahun ke-17 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dari halaman Istana Merdeka Jakarta. Pada awalnya TVRI adalah proyek khusus untuk menyukseskan penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta. Siaran TVRI pada saat itu hanya terkait seputar Asian Games yang dikoordinir oleh Organizing Committee Asian Games IV, di bawah naungan Biro Radio dan Televisi Departemen Penerangan. Mulai 12 November 1962,TVRI mengudara secara reguler setiap hari dengan variasi konten yang berbeda. Pada 1 Maret 1963 TVRI mulai menayangkan iklan seiring dengan ditetapkannya TVRI sebagai televisi berbadan hukum yayasan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 215 Tahun 1963.
Orde Baru (1966–1998). Pergeseran kekuasaan politik ekonomi di Indonesia turut memengaruhi industri televisi dan radio di Indonesia. Pada masa pemerintahan orde baru, RRI sebagai satu- satunya radio siaran milik pemerintah, sempat mengalami konlik ketika RRI diperebutkan oleh Partai Komunis Indonesia(PKI) dan militer untuk menyiarkan propagandanya. Hingga akhirnya, RRI menjadi media utama yang digunakan untuk menyebarkan kepentingan-kepentingan politik pemerintah pusat dan daerah.
Mengacu pada UU No. 5 Tahun 1964, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970, tentang Radio Siaran Non Pemerintah. Dalam peraturan tersebut, konten siaran radio non pemerintah diwajibkan memiliki fungsi sosial, yaitu sebagai alat pendidik, penerangan, hiburan, bukan alat untuk kegiatan politik.11 Akan tetapi, akomodasi yang diberikan oleh
pemerintah ini sifatnya menjadi sangat terbatas, karena peran politis radio dan televisi swasta menjadi ditiadakan sama sekali. Siaran-siaran yang sifatnya politis hanya diberikan kepada RRI dan TVRI, yang selanjutnya di-relay oleh televisi dan radio swasta. Selain itu, sistem kepemilikan media hanya terkonsentrasi pada sejumlah golongan yang berpengaruh di masa pemerintahan Orde Baru. Hal ini ditunjukkan ketika anak pertama Presiden Soeharto, Siti Hardianti Rukmana yang ditunjuk sebagai ketua umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) yang bertugas mengelola penyiaran radio swasta di Indonesia.
Memasuki tahun 1988, industri televisi dan radio di Indonesia mulai mengalami perkembangan yang pesat ketika stasiun televisi dan radio milik swasta mulai berdiri. Pada saat itu, pemerintah mulai mengijinkan televisi swasta beroperasi di Indonesia. Stasiun televisi milik swasta yang pertama kali didirikan di Indonesia adalah RCTI.Tidak lama setelah RCTI didirikan, stasiun televisi swasta lainnya pun mulai bermunculan dalam waktu yang singkat, di antaranya adalah SCTV (1989), TPI (1990), ANTV (1993), INDOSIAR (1995),dan sebagainya.Untuk dapat mengimbangi persaingan dengan televisi swasta, TVRI pun mulai mencoba berinovasi dengan menghadirkan konten yang unik dan berbeda. Salah satu konten yang cukup ikonik pada saat itu adalah program Berpacu Dalam Melodi (BDM) yang diciptakan pada tahun 1988 oleh Ani Sumadi. Program BDM juga lah yang membawa nama Koes Hendratmo mulai populer di Indonesia. Adapun konten-konten unggulan yang sarat nilai pendidikan dan inspirasi pada saat itu adalah Aneka Ria Safari di tahun 1980–an, serta Titian Muhibah yang sarat nilai budaya di tahun 1990.
Disamping tren perkembangan munculnya stasiun televisi swasta, televisi berlangganan pun sudah mulai disiarkan oleh PT Media Nusantara Citra (MNC) dengan mendirikan anak perusahaan Skyvision pada Agustus 1988. Akan tetapi, karena tarif berlangganan yang cukup tinggi, pelanggan Skyvision sendiri masih sangat minim, dan hanya digunakan oleh golongan menengah ke atas.12
Kemudian operator televisi berlangganan pertama kali, Indovision pun secara resmi diluncurkan oleh Skyvision di Indonesia pada tahun 1994, setelah melalui proses perijinan yang panjang. Lalu menyusul didirikannya televisi kabel yaitu Kabelvision di tahun 1994, persaingan di dunia televisi pun semakin ketat.
Foto Para Pemain Drama Seri Si Doel Anak Sekolahan Sumber: soulovart.blogspot.com
Masing-masing stasiun televisi swasta kemudian berlomba-lomba untuk menyuguhkan acara yang menarik dan kreatif. Akan tetapi, RCTI tetap menjadi stasiun televisi pelopor yang merajai dunia pertelevisian swasta di Indonesia dengan program-program unggulannya yang kreatif dan menarik. Seputar Indonesia, Kuis Kotak Katik, tayangan-tayangan serial drama populer mancanegara, Si Doel Anak Sekolahan, dan Keluarga Cemara, merupakan beberapa program unggulan milik RCTI. Kesuksesan RCTI ini yang kemudian dicoba diikuti jejaknya oleh stasiun televisi swasta lainnya, dengan menghadirkan konten-konten yang relatif serupa untuk menyaingi konten-konten unggulan RCTI.
Hal ini tentunya membuat TVRI menjadi semakin tertekan dalam persaingan industri pertelevisian, ditambah lagi, pada tahun 1981, dengan berbagai alasan politis TVRI tidak diijinkan lagi menayangkan iklan. Seiring dengan perkembangan jumlah stasiun televisi swasta di Indonesia, pada tahun 1997 DPR-RI akhirnya menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Penyiaran yang kemudian disahkan oleh Presiden menjadi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Penyiaran, pada tanggal 29 September 1997.
Ketatnya persaingan industri televisi swasta di Indonesia memicu para pelaku usaha untuk semakin kreatif menciptakan konten-konten yang menarik dan kompetitif. Pada masa inilah, penayangan hak siar konten acara luar negeri mulai gencar dilakukan dan meraih respon yang positif dari para pemirsa-nya. Saat itu, konten serial drama seperti telenovela yang dipopulerkan oleh SCTV, hingga serial drama produksi dalam negeri (sinetron) pun marak ditayangkan hampir di seluruh stasiun televisi pada jam tayang yang hampir bersamaan. Jenis penonton yang dibidik untuk segmen tayangan serial drama ini mayoritas adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan menghabiskan banyak waktunya di rumah. Tak heran apabila iklan-iklan yang disuguhkan di sela-sela program acara tidak luput dari produk-produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Era Reformasi. Masa reformasi yang diawali dengan demo dan kerusuhan besar-besaran di tahun 1998, merupakan salah satu titik di mana media juga ikut mulai menuntut kebebasan dalam berkarya. Berkembangnya ruang gerak media penyiaran pada masa reformasi tentunya memberikan pengaruh besar kepada peningkatan jumlah pemodal yang berinvestasi di industri tersebut. Pergerakan reformasi juga memicu pergeseran kepemilikan bisnis radio dan televisi di Indonesia yang ditunjukan dengan mulai maraknya para pengusaha yang terjun ke bidang media penyiaran.
Logo Stasiun Televisi Swasta Indonesia Sumber: infoindonesiakita.com
Perubahan lain yang cukup terlihat adalah dengan direvisinya UU Penyiaran yang baru, UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002. Namun, hal tersebut tidak memiliki dampak yang signiikan terhadap industri televisi di Indonesia. Pemilik stasiun televisi swasta masih didominasi oleh segelintir elit yang memiliki pengaruh cukup tinggi di pemerintahan. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan UU Penyiaran sebelumnya, revisi UU Penyiaran yang dilakukan dirasa jauh lebih demokratis. Hal ini terlihat dari diakuinya empat macam lembaga penyiaran, yaitu lembaga penyiaran publik, komunitas, swasta, dan berlangganan, serta didirikannya juga lembaga independen perwakilan publik yang bertindak sebagai regulator sistem penyiaran yang berlaku. Tren konten acara yang disuguhkan oleh televisi swasta yang baru bermunculan pun mulai bergerak ke arah talk show dan variety show komedi. Acara variety show yang diadaptasi dari konten luar negeri pun mulai menjadi tren baru yang mendominasi sebagian besar stasiun televisi, seperti salah satu contoh program yang sangat populer pada saat itu adalah Ekstravaganza milik Trans TV. Bukan hanya variety show yang sifatnya lucu, tetapi beberapa rumah produksi mulai berani bereksperimen dengan memberikan tayangan reality show yang cukup kontroversial, seperti Dunia Lain, Akademi Fantasi Indosiar, dan Termehek-Mehek. Acara-acara yang dinilai kontroversial dan berani ini ternyata berhasil menjadi acara yang banyak diminati penonton pada saat itu. Hal yang sama juga terjadi pada industri radio. Konten acara seperti dongeng cerita hantu serta reality show yang dinilai usil dengan mengerjai pendengarnya, secara spontan pun menjadi favorit sebagian stasiun radio. Di Bandung, cerita ber-genre horor, Nightmare Side, sempat menjadi acara primadona yang mampu meraup jumlah pendengar yang cukup tinggi. Hingga akhirnya beragam kritikan pedas muncul terkait acara-acara yang dinilai memberikan dampak buruk psikologis pada para pendengarnya serta penyalahgunaan informasi pribadi milik para pendengar, maka acara seperti ini mulai dikurangi.
Adapun pada era peralihan sinyal analog menjadi sinyal digital sudah mulai merambah dunia media Indonesia, Kabelvision pun mengeluarkan merek dagang baru dengan nama Digital1, yang menggunakan sinyal digital sebagai jaringan penyiarannya. Kemudian pada tahun 2007, Kabelvision bergabung dengan Digital1 di bawah nama First Media.
Logo First Media Sumber: www.rizairli.com
Perkembangan teknologi internet yang sangat pesat menjadi suatu peluang sekaligus ancaman bagi industri televisi dan radio bila tidak dimanfaatkan secara optimal. Dengan pemanfaatan teknologi internet yang baik oleh industri media, maka proses penetrasi pasar media televisi dan radio untuk menembus pasar internasional pun akan menjadi lebih mudah.
Mulai bergesernya kanal televisi dan radio di Indonesia menjadi media multi-platform ditandai dengan meningkatnya pengguna layanan streaming seperti Youtube, Vimeo, Netflix, serta webstreaming lainnya yang menyiarkan konten-konten acara televisi dan radio di Indonesia. Bahkan kini, sebagian besar situs resmi stasiun televisi dan radio telah menyediakan layanan streaming konten-konten acaranya. Adapun stasiun televisi swasta di Indonesia yang memanfaatkan media digital sebagai strategi utamanya dalam melakukan penetrasi dan perluasan pasar, adalah NET TV. Sebelum NET TV mulai mengudara sebagai salah satu stasiun televisi berjaringan, NET TV telah terlebih dahulu menjaring pasar global dengan memanfaatkan streaming platform melalui Youtube.
Sumber: televisiguide.co.id
Era media digital ini, tentunya akan jauh lebih terbuka, sehingga membuat peningkatan keragaman pasar semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Selain itu, digitalisasi media juga menimbulkan dinamika industri televisi dan radio menjadi lebih kompleks, membuat perkembangan tren konten acara yang diminati pun menjadi sangat cepat berubah.
Kini, konten acara yang diproduksi secara amatir oleh masyarakat sendiri pun dapat langsung disiarkan secara luas kepada publik melalui internet tanpa adanya proses pendistribusian atau pengemasan konten acara yang sistematis seperti pada stasiun televisi dan radio, ataupun rumah produksi profesional. Sayangnya, tidak semua konten yang dibuat memiliki dampak positif bagi sosial. Seperti salah satunya adalah acara musik yang populer sejak pertama kali tayang 2008, Dahsyat, menimbulkan pro dan kontra terkait kontennya yang dinilai oleh sebagain orang sebagai konten yang kreatif dan menghibur, akan tetapi sebagian orang lainnya berpendapat justru tayangan tersebut merupakan bentuk kreativitas yang bersifat destruktif. Hal serupa terkait pro dan kontra juga turut dialami oleh konten-konten acara hiburan populer lainnya, seperti acara Yuk Keep Smile (YKS), Pesbukers (ANTV), Film Televisi (FTV), serta acara-acara infotainment yang semakin menjamur.
Tidak hanya acara hiburan, konten berita di Indonesia pun apabila tidak dikelola dengan baik,secara tidak disadari justru dapat memprovokasi ataupun menimbulkan keresahan masyarakat. Hal ini terlihat dari konten berita-berita aktual yang menampilkan peristiwa kejahatan, kerusuhan, serta maraknya kasus korupsi. Konten-konten seperti itu apabila ditayangkan secara bebas, dinilai dapat menimbulkan efek negatif yang memengaruhi optimisme dan kepercayaan rakyat, terutama kaum muda. Selain itu, konten berita yang kini disuguhkan kepada masyarakat memiliki unsur independensi yang sangat rendah di dalamnya. Kepentingan politis yang kental di dunia media membuat laporan berita tidak lagi menjadi objektif dan independen, sehingga terjadi kesimpangsiuran fakta yang terjadi sesungguhnya. Konten-konten seperti inilah yang sangat sulit untuk dikendalikan oleh pemerintah secara teliti dan terus menerus. Hal ini dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan lembaga pengawasan penyiaran yang bertugas untuk mengawasi konten kualitas penyiaran baik yang dihasilkan dari dalam negeri maupun konten dari luar negeri yang disiarkan di Indonesia.
Gambar 1 - 3 Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia
Sebelum
Kemerdekaan
Stasiun radio pertama di Indonesia, Bataviase Radio Vereniging (BRV), berdiri.
1925
1933
Stasiun radio pertama, Solosche Radio Vereniging (SRV), didirikan oleh BumiPutra.1937
Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK) berdiri. Orde Lama (1945 – 1965)1945
RRI (Radio RepublikIndonesia) didirikan.
1962
TVRI (Televisi Republik Indonesia) memulai
siarannya dengan menayangkan peringatan hari ulang
tahun Republik Indonesia XVII.
TVRI melakukan siaran langsung upacara
pembukaan sian ames IV dari elora
Bung Karno.