• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

10. Putusan Pengadilan

a. Hal-hal yang memberatkan dan yang meringankan

Sebelum menjatuhkan pidana, terlebih dahulu dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan yang meringankan. Hal-hal-hal yang memberatkan adalah:

1) Perbuatan Terdakwa merusak masa depan saksi GL

2) Perbuatan Terdakwa merendahkan martabat kaum perempuan

3) Perbuatan Terdakwa dilakukan terhadap orang yang seharusnya dilindungi.

Adapun hal-hal yang meringankan adalah: 1) Terdakwa belum pernah dihukum

2) Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya

3) Terdakwa bersikap sopan di persidangan.

b. Amar Putusan

Majelis Hakim, dengan mengingat Pasal 81 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, menjatuhkan putusan yang amar putusannya berbunyi sebagai berikut:

1) Menyatakan Terdakwa MUHAJIR RASYID bin ROSIDI terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ” dengan sengaja membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya yang dilakukan secara berlanjut”

2) Menjatuhkan terhadap Terdakwa MUHAJIR RASYID bin ROSIDI tersebut dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun dan denda sebesar Rp 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar oleh Terdakwa diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan.

3) Menetapkan lamanya Terdakwa ditahan dalam Rumah Tahanan Negara dikurangkan seluruhnya dai pidana yang dijatuhkan.

4) Menetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan. 5) Menyatakan barang bukti berupa:

a) 1 (satu) buah kaos warna putih bergambar kumbang b) 1 (satu) buah rok warna hitam

Dikembalikan kepada GL

6) Menetapkan agar Terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).

B. Pembahasan

Suatu tindakan yang merugikan orang lain atau tindakan yang melawan hukum ada yang disebut tindak pidana. Tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana dan pelaku ini dapat dikatakan merupakan subjek tindak pidana serta tindak pidana merupakan pelanggaran terhadap norma atau kaidah sosial yang telah ada dalam masyarakat. Hukum, menurut C.S.T. Kansil, melayani tujuan negara tersebut dengan

menyelenggarakan:

Keadilan dan ketertiban, sebagai syarat-syarat pokok untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan. Bahwa adil itu kiranya dapat digambarkan sebagai suatu keadaan keseimbangan yang membawa ketentraman di hati orang, dan jika diusik atau dilanggar akan menimbulkan kegelisahan dan kegoncangan.107

107

Seseorang dikatakan melawan hukum apabila melanggar peraturan hukum pidana (KUHP) dan peraturan-peraturan lain di luar KUHP. Pelakunya diancam dengan pidana sesuai perbuatannya seperti yang termuat dalam peraturan tersebut. Perbuatan yang diancam dengan hukum pidana adalah:

Perbuatan yang secara mutlak harus memenuhi syarat formal, yaitu dengan mencocokan dengan rumusan Undang-undang yang telah ditetapkan yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan peraturan-peraturan lain yang berdimensi pidana dan memiliki unsur material yaitu bertentangan dengan cita-cita mengenai pergaulan masyarakat atau dengan kata pendek suatu sifat melawan hukum atau tindak pidana.108

Salah satu perbuatan yang bersifat melawan hukum atau tindak pidana adalah tindakan pemerkosaan atau membujuk untuk melakukan persetubuhan di luar ikatan perkawinan yang sah. Moeljatno mengatakan bahwa perkosaan menurut konstruksi yuridis perundang-undangan di Indonesia (KUHP), adalah:

Perbuatan memaksa seorang wanita yang bukan istrinya untuk bersetubuh dengan dia dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Kata-kata “memaksa” dan “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan” di sini sudah menunjukkan betapa mengerikannya pemerkosaan tersebut. “Pemaksaan hubungan kelamin pada wanita yang tidak menghendakinya akan menyebabkan kesakitan hebat pada wanita tersebut, apalagi disertai kekerasan fisik. Kesakitan hebat dapat terjadi tidak hanya sebatas fisik saja, tetapi juga dari segi psikis.109

Korban pemerkosaan atau bujukan untuk melakukan persetubuhan, dapat terjadi pada anak-anak di bawah umur, berdasarkan ketentuan Pasal 290 angka 3 KUHP dirumuskan bahwa:

Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan atau kutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.

108

Moeljatno. 1983. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana

Cetakan Pertama. Bina Aksara. Yogyakarta. Hal. 20.

109

Ketentuan lain dalam KUHP, yaitu Pasal 288 ayat (1) KUHP merumuskan sebagai berikut:

Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam pernikahan, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa sebelum mampu dikawin, diancam apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal-Pasal di atas yang mengatur soal larangan berhubungan badan (bersetubuh) dengan wanita yang berusia di bawah lima belas tahun, di bawah dua belas tahun atau belum mampu untuk kawin. Artinya, pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dianggap sebagai kejahatan kesusilaan. Pelakunya dengan mudah dapat dituduh telah melakukan perkosaan yang secara ekplisit menyebut soal perkosaan.

Selain KUHP, di dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga dirumuskan tentang tindak pidana persetubuhan dengan korban anak-anak. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 yang merumuskan sebagai berikut:

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Salah satu kasus tindak pidana pemerkosaan/persetubuhan dengan korban anak di bawah umur menimpa korban bernama GL, berumur 14 (empat belas) tahun, yang dilakukan oleh ayah tirinya sendiri yaitu MUHAJIR RASYID bin ROSIDI yang beralamat di Desa Dawuhan Wetan RT 05/03 Kecamatan

Kedunganteng, Kabupaten Banyumas. Atas perbuatannya tersebut, MUHAJIR RASYID bin ROSIDI didakwa melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengannya yang dilakukan secara berlanjut dan melanggar ketentuan Pasal 81 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dan telah dijatuhi hukuman pidana dengan Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 03/Pid.Sus/2012/PN. PWT.

Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 03/Pid.Sus/2012/PN. PWT. tersebut, penelitian ini mengkaji tentang penerapan unsur-unsur Pasal 81 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2002 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dalam Putusan Pengadilan Negeri Purwokerto Nomor 03/Pid.Sus/2012/PN. PWT dan pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto dalam menjatuhkan pidana pada perkara Nomor 03/Pid.Sus/2012/PN. PWT.

1. Penerapan unsur-unsur Pasal 81 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2002 jo Pasal