Mandiri Gotong Royong
10. Rajin dan Terampil
Sumber: Permendikbud No. 20 Tahun 2018
D. PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN a. Pengertian Pondok Pesantren
Pesantren menurut sebagaian ahli merupakan produk pendidikan asli Indonesia (Azra, 1999:h.105). Pendidikan asli Indonesia ini secara langsung dan tidak langsung ikut mencerdaskan bangsa Indonesia. Pesantren lahir karena respon dari kebijakan penjajah Belanda yang menganaktirikan pendidikan Islam sehingga melahirkan dualisme pendidikan yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 mengatakan bahwa pesantren lahir karena respon dari kebijakan penjajah Belanda yang menganaktirikan pendidikan Islam sehingga melahirkan dualisme pendidikan yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Pesantren telah ada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka. Pesantren merupakan kebutuhan masyarakat setelah surau, langgar dan mesjid tidak memadai lagi sebagai lembaga pendidikan Islam.
Istilah pesantren lebih terkenal dengan sebutan, yakni pondok pesantren. Kata pondok pesantren berasal dari kata pondok dan pesantren.Menurut Hasbullah sebagaimana yang dikutip Binti Maunah (2009:h.18) pondok berasal dari bahasa Arab funduq, yaitu berarti hotel, asrama, rumah, penginapan, dan tempat tinggal sederhana. Sedangkan pengertian pesantren secara lughowi terdiri dari kata santri dan ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an” yang membentuk tempat. Jadi secara maknawi pesantren diartikan sebagai tempat para santri, yang kalau kita telusuri secara idiom kata “san” (manusia baik) dihubungkan dengan kata “tra” (suka menolong), sehingga kata-kata pesantren dapat diartikan tempat pendidikan manusia baik-baik (Muwahid Shulhan dan Soim, 2013:h.153).
Menurut Zamakhsyari Dhofier yang dikutip Yasmadi (2005:h.61 -62) kata santri dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Bisa dikatakan pula secara umum berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik”, berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru ke mana saja guru ini pergi dan menetap. pemaparan ini memberikan sebuah pemahaman bahwa podok pesantren
27
merupakan tempat orang mempelajari kitab suci atau nilai-nilai kebaikan sesuai dengan agama.
Menurut Fauzan (2015:h. 156) pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bertujuan mendalami ilmu agama Islam. Dari beberapa pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa pondok pesantren merupakan tempat tinggal para pencari ilmu agama Islam dan sekaligus membangun kepribadian para santri untuk menjadi pribadi yang berkahlakul karimah dengan memancarkan panca jiwa yakni jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa persaudaraan, jiwa kemandirian, dan jiwa bebas memilih jalan hidup demi masa depan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan agama Islam.
b. Komponen dan Karakteristik Pondok Pesantren
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam Pasal 1 Ayat 2 menyatakan bahwa pesantren wajib memiliki beberapa komponen pesantren yang terdiri dari: a) kiyai atau sebutan lain yang sejenis, b) santri, c) pondok atau asrama pesantren, d) masjid atau mushola, e) pengajian dan kitab kuning.
a) Kiyai atau sebutan sejenis
Kiai merupakan unsur yang paling esensial yang harus ada di dalam pondok pesantren. Kiai dalam kata lain biasanya disebut juga dengan ulama. Imam AlGhazali merupakan dokter spiritual. Kalau dokter medis bertugas mengobati penyakit-penyakit fisik, maka ulama bertugas mengobati penyakit-penyakit hati (Ahmad, 2003:h.20). Dalam pengertian ini kiai diibaratkan sebagai suatu sosok manusia yang istimewa dimana tugasnya yang relatif kasat mata. Seorang kiai yang benar-benar kiai dalam hal ini berarti orang yang mampu membimbing umat, yang mampu mengobati penyakit masyarakat, serta menawarkan obat bagi masyarakat. Seseorang disebut Kiyai manakala memiliki pemaham atau keilmuan islam yang beragam, diantaranya aqidah, fiqih, ilmu nahwu dan sharaf, serta tasawuf.
Istilah kyai bukan berasal dari bahasa Arab, perkataan Kiyai yaitu gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada orang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya (Haedari, 2005: 28). Istilah ini berasal dari masyarakat jawa yakni dari kata “iki” dan “yae” yang artinya ini saja. Mengingat orang yang di panggil kiyai memiliki keahlian yang beragam sehingga masyarakat memberinya kepercayaan untuk menjadi pemimpinnya dalam permasalahan agama.
b) Santri
Santri adalah sekelompok masyarakat yang masih belajar tentang agama kepada kiai atau ulama dilingkungan pondok pesantren (Mu’tasim, 2010: 40). Santri dalam pondok pesantren berdasarkan domisilinya dibagi
28
menjadi dua yaitu santri muqim dan santri kalong. Arti santri muqim adalah santri yang setiap harinya berada di dalam pondok pesantren serta mengikuti segala kegiatan yang ada di pondok pesantren tersebut. Sedangkan santri kalong sebagaimana asal namanya “kalong-kelelawar” adalah hewan yang biasa keluar pada malam hari, sedangkan siangnya pulang kerumah masing-masing. Santri kalong yang dimaksud dalam bagian adalah santri yang mengikuti pelajaran pondok pesantren hanya di malam hari, dan di siang hari mereka akan pulang kerumah masing-masing dan mengikuti pendidikan seperti biasa (Umiarso dan Zazin, 2011: 33).
c) Pondok
Pesantren tradisional pada umumnya memiliki asrama atau pemondokan untuk para santrinya. Pondok atau pemondokan merupakan tempat penggemblengan, pendidikan, dan pembinaan serta pengajaran ilmu pengetahuan. Alasan utama pendirian pemondokan adalah; Pertama, santri kebanyakan merupakan luar daerah dimana kiai tinggal, dan ada tuntutan untuk tinggal di pesantren dengan waktu yang cukup lama. Kedua, kebanyakan pesantren berdiri di daerah pedesaan, sehingga tidak adanya akomodasi (perumahan) yang cukup untuk menampung santri. Ketiga, menurut kiai santri merupakan titipan Tuhan dan wajib untuk diberikan tempat dan dilindungi (Umiarso dan Zazin, 2011: 29).
d) Masjid atau Mushola
Masjid selain fungsinya sebagai tempat ibadah secara umum juga merupakan tempat untuk pendidikan khususnya di daerah pedesaan. Masjid dalam pesantren merupakan sesuatu yang esensial, karena disanalah tempat para santri mengaji dan berjamaah sholat (Umiarso dan Zazin, 2011: 31). e) Kitab Kuning
Kitab kuning dalam pondok pesantren tradisional merupakan bahan ajar yang mendapat tempat yang istimewa, dan menjadi pembeda antara pendidikan lain. Kitab klasik atau yang sering disebut dengan kitab kuning ciri khas pesantren ini umumnya berbahasa arab dan tanpa adanya kharakat atau lebih sering disebut dengan kitab gundul. Adapun kitab-kitab klasik yang ada di pondok pesantren dapat digolongkan menjadi delapan kelompok yaitu; 1) Nahwu (sintaksis) dan Saraf (morfologi), 2) Fiqh, 3) Ushul fiqh, 4) Hadist, 5) Tafsir, 6) Tahuhid, 7) Tasawuf dan etika, 8) Tarikh dan balaghah (Umiarso dan Zazin, 2011: 35).
c. Sistem Pembelajaran Pondok Pesantren
Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki ciri khas tertentu dalam kegiatan pembelajarannya, termasuk dalam metode yang digunakannya. Tim Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Kementerian Agama RI (2003:h.74) menuturkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran di pondok pesantren terdapat banyak metode yang diterapkan di pondok pesantren. Dari
29
sekian banyak metode itu, secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu metode pembelajaran tradisional (asli pesantren) dan metode pembelajaran yang bersifat pembaharuan. Metode pembelajaran tradisional meliputi sorogan, weton/bandongan, halaqah dan hafalan, sedangkan metode pembaharuan di antaranya hiwar, bahtsul masa‟il, fathul kutub, muqoronah, demonstrasi, fathul kutub, sandiwara dan majelis taklim (Taufiq, t.t. : h.57).
Melalui penggunaan metode yang berfareasi diharapkan dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan efesien yaitu dapat meningkatkan motif belajar siswa atau santri, tumbuhnya kreatifitas, belajar mandiri dan dapat mengembangkan nilai-nilai dan sikap utama dalam kehidupan sehari-hari (Ahmadi dan Joko, 2000:h.52-53). Penerapan metode dan sistem pembelajaran yang beragam, secara tidak langsung membangun pola yang unik dari kegiatan pendidikan di pondok pesantren yang tentu tidak ditemui di tempat pendidikan lainnya. Hal ini sekaligus menjadi ciri khas tersendiri dari pendidikan pondok pesantren.
Sistem pembelajaran di pondok pesantren dipengaruhi beberapa prinsip penanaman karakter santri. Matondang (2014:h.46) mengemukakan beberapa prinsip pembelajaran di pondok pesantren, dimana prinsip-prinsip tersebut secara tidak langsung akan membentuk karakter para santri. Ragam prinsip tersebut antara lain:
a) Theocentric. Prinsip ini merupakan sistem pendidikan atau pembelajaran yang didasarkan pada pandangan yang menyatakan bahwa sesuatu kejadian berasal, berproses, dan kembali kepada kebenaran Allah swt, dan merupakan bagian integral dari totalitas kehidupan keagamaan.
b) Sukarela dalam mengabdi. Para pengasuh pondok pesantren memandang semua kegiatan pendidikan adalah ibadah kepada Allah swt. Penyelenggaraan pendidikan pada pesantren dilaksanakan secara sukarela dan mengabdi kepada sesame dalam rangka mengabdi kepada Allah swt. c) Kearifan. Prinsip yang dimaksud dalam istilah kearifan adalah seorang
muallim maupun santri mampu bersikap sabar, rendah hati, patuh pada ketentuan hukum agama, mampu mencapai tujuan tanpa merugikan orang lain, dan mendatangkan manfaat bagi kepentingan bersama.
d) Kesederhanaan. Prinsip yang dimaksud dalam istilah ini adalah tidak tinggi hati dan sombong meskipun berasal dari orang kaya ataupun keturunan bangsawan.
e) Kolektivitas. Prinsip ini memiliki makna bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran di pondok pesantren harus mengutamakan kepentingan bersama atau orang banyak di atas kepentingan pribadi.
f) Mengatur kegiatan bersama. Pada prinsip ini, kegiatan pembelajaran di pondok pesantren dilakukan secara bersama-sama di bawah bimbingan asatidz (para guru) dan kiyai.
30
g) Ukhuwah Diniyah. Prinsip ini merupakan prinsip persaudaraan seagama di antara sesama santri, mengingat mereka berasal dari daerah maupun kota yang berbeda-beda.
h) Kebebasan. Prinsip kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dari segi penerapan kurikulum dan kebijakan pengelola pesantren. Kebebasan kurikulum pada pesantren berarti tidak terikat dengan peraturan negara. Sedangkan kebebasan kebijakan (politis) merupakan sikap mengedepankan netralitas dalam pelaksanaan pembelajaran, tidak berafiliasi pada salah satu kepentingan politik maupun kepentingan lainnya.
d. Nilai-nilai Karakter Pondok Pesantren
Secara umum, nilai yang dimaksudkan sebagaimana disebutkan oleh Sa‟id Aqiel Siradj (1999:h.215-216) adalah sebagai berikut:
a) Jiwa keikhlasan yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk keuntungan-keuntungan tertentu, tetapi semata-mata ibadah kepada Allah. b) Jiwa kesederhanaan. Sederhana bukan berarti pasif atau menerima apa
adanya, tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, pengusaan diri dalam menghadapi kesulitan dan berani maju terus menghadapi perkembangan dinamika sosial. Kehidupan kyai atau ulama yang sederhana tetapi penuh dengan kesenangan dan kegembiraan merupakan teladan yang baik masyarakat yang masih miskin.
c) Jiwa Ukhuwah Islamiyah. Karakter ini tergambar dalam suasana yang akrab antar komunitas Pondok Pesantren yang dipraktekan sehari-hari. Keakraban hubungan antara kyai dan santri memungkinkan kyai atau ulama memberikan pengetahuan yang “hidup” kepada santrinya.
d) Jiwa kemandirian yang merdeka tidak menggantungkan diri pada bantuan dan pamrih pihak lain.
e) Jiwa bebas dalam memilih jalan hidup dan menentukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimis menghadapi segala problematika hidup berdasarkan nilai-nilai Islam.
Nilai-nilai karakter tersebut menjadi sebuah karakteristik seorang santri sebagai bekal dalam mengabdikan diri di kehidupan bermasyarakat nantinya. Karakter santri tersebut dikenal juga dengan istilah “panca jiwa” yang memiliki arti lima nilai-nilai jiwa. Panca jiwa menjadi karakter awal sebagai modal dalam mengembangkan karakter-karakter positif lainnya. Karakter santri terbangun dengan sendirinya saat seorang santri hidup di pondok pesantren, dimana seorang santri dituntut untuk hidup dalam kesederhanaan, kemandirian, keikhlasan dalam menjalani hidup yang tidak seperti di rumah, dan tuntutan membangun komunitas sosial dengan teman-temannya di pesantren.
31 E. KERANGKA BERFIKIR
Untuk memberikan kemudahan dalam membaca, menganalisa, dan memahami penelitian ini, penulis menyederhanakan penelitian ini dalam kerangka konseptual yang meliputi latar belakang permasalahan, proses dalam menanggulanginya dan tujuan akhir penelitian.
Latar belakang penelitian ini adalah keadaan karakter remaja khususnya di usia pelajar yang semakin memprihatinkan. Data yang penulis berhasil kumpulkan menunjukkan kenakalan remaja di Indonesia terdiri dari beberapa jenis yaitu tawuran antara pelajar, penyalahgunaan narkoba, free sex atau berhubungan intim sebelum menikah, dan merokok. Ragam jenis kenakalan remaja di Indonesia pada tahun 2018 jika diprosentasikan sejumlah data berikut : Tawuran (14,4%), Narkoba (6,7%), Free Sex (7,54%), Merokok (33,8%). Ragam kenakalan remaja tersebut disebabkan beberapa faktor yakitu, kurangnya perhatian orang tua, pergaulan dengan teman sebaya, pengaruh teknologi dan budaya barat, serta pengaruh pendidikan.
Proses yang dapat dilakukan dalam memberikan solusi atau penyelesaiannya merujuk kepada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas yang mengamanahkan pendidikan sebagai sarana membentuk karakter peserta didik yang unggul dan mulia, Undang-undang Nomor 12 tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka, Teori Lickona tentang penguatan pendidikan karakter, dan Teori Said Hamid Hasan tentang pengintegrasian penguatan pendidikan karakter pada program kegiatan pengembangan sekolah.
Tujuan yang diharapkan dari proses tersebut adalah terwujudnya karakter yang mulia seluruh peserta didik dan terwujudnya sistem manajemen penguatan pendidikan karakter di Pondok Pesantren Darunnajah khususnya dan seluruh lembaga pendidikan di Indonesia pada umumnya.
32
Gambar 2.4. Kerangka Berfikir
Input
1. Amanah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 tentang tujuan pendidikan. 2. Pendidikan Tujuan pendidikan belum tercapai secara maksimal. 3. Meningkatnya jumlah peserta didik yang terlibat dalam tindak
kriminal, tawuran dan seks bebas.
4. Manajemen penguatan pendidikan karakter di sekolah belum memenuhi standar pendidikan karakter.
5. Peran orang tua dan keluarga dalam mengawasi dan menanamkan pendidikan karakter masih minim.
Proses
1. Undang-undang Nomor 12 tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka,
2. Teori Lickona tentang penguatan pendidikan karakter. 3. Teori Said Hamid Hasan tentang pengintegrasian penguatan
pendidikan karakter pada program kegiatan pengembangan sekolah.
4. Teori Walgito tentang proses pembentukan perilaku
Sumber: Undang-undang No. 12 tahun 2010, Lickona, 2015: 595, Said Hamid Hasan, dkk (2010:h.15-21), dan Walgito (2004:79)
Output
Tercapainya tujuan pendidikan nasional yakni terwujudnya
33 BAB III
METODE PENELITIAN