1.6 Metode Penelitian
1.6.2 Rangkaian Pengalaman Saya di Lapangan
Bapak Choril ini sudah umur 50 tahun tapi tetap masih kuat untuk pergi bekerja.
Selanjutnya saya juga mewawancari Ibu Tiwi (45 tahun) yang dimana Ibu Tiwi ini adalah seorang janda yang mempunyai sepasang anak. Ibu Tiwi menghidupin keluarganya dengan bekerja sebagai petani yang menanam padi dan ubi menggalo. Ibu ini juga sangat senang dengan sistem pertanian mereka yang sudah berubah. Karena dengan sistem berladang menetap lebih gampang dan tidak sulit lagi mencari ladang yang sudah tumbuh dengan tananamnya. Ibu Tiwi ini janda selama 10 tahun, beliau janda karena suaminya meninggal karena diserang penyakit. Ibu Tiwi ini tidak ingin lagi menikah karena beliau trauma dengan suaminya yang tidak bertanggungjawab, suka minuman keras dan bermain perempuan.
1.6.2 Rangkaian Pengalaman Saya di Lapangan
Banyak pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan saat berada di lapangan ketika melakukan penelitian ini, begitu juga dengan rasa sedih dan rasa senang yang setiap harinya datang silih berganti tanpa saya sadari. Saya memiliki informan-informan yang baik dalam memberikan informasi yang saya inginkan. Begitu juga dengan aparat pemerintah Desa Petani, seperti bapak Bapak Sugeni (Ketua RT/RW), Bapak Sudarto (Ketua Adat Sakai) dan juga orang-orang Sakai di Desa Petani ini, yang bersedia berbagi ilmu, canda, tawa dan banyak informasi yang diberikan kepada saya terkait dengan penelitian ini.
Penulis tiba di Lokasi penelitian pada tanggal 10 agustus 2014, langkah awal terlebih dahulu saya melapor ke kantor Desa Petani dan membawa surat izin
18 penelitian dari kampus serta menjelaskan maksud dari kedatangan saya ke Desa Petani ini. Penulis datang bersama saudara yaitu Tulang dan pacar penulis. Penulis tahu lokasi tersebut dari Tulang, karena Tulang penulis juga punya ladang di daerah Desa Petani tersebut. Penulis dan Tulang penulis pergi ke Desa Petani dengan menggunakan mobil sedangkan pacar penulis menggunakan sepeda motor. Saat kami datang ke Desa petani anak-anak pun langsung datang menghampiri kami dan mengikuti kami kemana pun kami pergi.
Saya langsung di suruh berhadapan dengan Kepala adat Desa Petani yaitu Bapak Sugeni (46 tahun), Saya pun memperkenalkan diri dan tidak lupa juga saya memberikan surat izin penelitian dari Universitas Sumatera Utara kepada beliau,serta meminta izin agar saya bisa tinggal di Desa Petani tersebut. Beliau sangat menerima kedatangan saya dengan baik, pada saat saya berdiskusi dengan beliau, beliau sangat tertarik dengan judul yang saya ingin teliti nantinya di Desa Petani.
Setelah sekian lama berdiskusi dengan beliau, beliau menyuruh saya pergi ke rumah Bapak Sudarto (55 tahun) beliau adalah ketua adat Desa Petani, ternyata Bapak Sudarto ini adalah orang tua angkat Tulang penulis, karena ladang yang dikerjakan Bapak Sudarto ini adalah ladang Tulang saya. Tulang saya angkat Bapak Sudarto ini menjadi orang tua angkat karena Bapak ini sangat baik dan jujur terhadap keluarga Tulang saya. Saya disuruh tinggal dirumah Bapak Sudarto karena Bapak tersebut lebih tahu tentang kehidupan orang Sakai serta perubahan sistem berladang berpindah menjadi berladang menetap. Sebelum kami berangkat anak-anak tersebut datang menghampirin saya kerumah bapak Sudarto dan minta ikut foto bersama Saya.
19 Setelah selesai berfoto, Kami pun langsung pergi kerumah Bapak Sudarto orang tua angkat Tulang saya, sebelum kami naik kami dikerumunin anak-anak dan minta uang kepada saya. Lalu Tulang saya mengatakan “kasih aja demi penelitianmu”, karena orang yang berdatang ke Desa Petani untuk bertujuan penelitian di mintain uang juga. Saya pun mengasihnya uang 2 ribu per orang, setelah itu pun kami berangkat. Akhirnya kami pun sampai kerumah Bapak Sudarto dan menyampaikan maksud dan tujuan saya datang ke rumah beliau. Tidak lupa juga penulis menyertakan surat izin penelitian dari Universitas Sumatera Utara.
Selang beberapa menit kemudian beliau menanyakan kembali tentang judul yang ingin saya teliti di Desa Petani, mengapa anda mengambil judul tentang sistem berladang orang sakai? Tanya beliau kepada saya, tanpa pikir panjang saya pun menjawab pertanyaan yang beliau berikan kepada saya. Setelah lama menjelaskan judul penelitian saya kepada beliau, akhirnya beliau pun paham dengan apa yang sedang saya teliti di Desa Petani ini. Kemudian beliau juga menanyakan kembali kepada saya, apa yang harus kami bantu kepada anda? Tanya beliau kepada saya, saya pun menjawab dengan senang hati “Ya” yang saya butuhkan “pak” seperti demografi desa secara umum, sejarah Desa Petani, jumlah penduduk berdasarkan usia, mata pencaharian penduduk dan lainnya “pak” sesuai data yang diperlukan saya nantinya. Beliau pun menjawab “oke” tidak ada masalh bagi kami dan kami akan segera memberikan data tersebut kepada anda, jawab beliau kepada saya. Jika dikemudian hari ada halangan dan hambatan yang anda daptkan di lapangan harap melapor ke kapada saya “ya”, kata beliau kepada saya dan saya menjawab “oke terima kasih atas perhatiannya pak.”
20 Sekalian juga saya minta izin untuk tinggal beberapa minggu di tempat Bapak tersebut dan Bapak tersebut menjelaskan dengan senang hati saya bisa menerima anda tinggal disini.
Hari pertama saat berada di lapangan, dengan hati penuh dengan kegembiraan saya pun pergi bersama Bapak Sudarto pada Pukul 08.00 pagi ke Kantor Desa Petani untuk mengambil data tentang kependudukan serta demografi Desa Petani secara umum. Setelah saya mendapatkan data tersebut kemudian saya juga menanyakan apakah penduduk Desa Petani ini orang sakai semua atau ada penduduk pendatang?. Beliau pun menjawab dengan nada suara yang tenang “ada” tetapi orang pendatang tersebut adalah orang suku batak yang jauh dari tempat kami tinggal ini. Tidak lama kemudian saya diajak oleh Bapak Sudarto untuk bertemu dengan orang-orang pendatang tersebut. Akhirnya kami pun sampai dirumah pendatang yang bernama Ibu Silaban/Bapak Sinaga tersebut dengan jarak tempuh perjalanan setengah jam. Saya pun memperkenalkan diri dan menceritakan maksud kedatangan saya kerumah mereka. Saat mendengar saya boru Silaban mereka sangat senang karena baru ini mereka melihat boru silaban yang cantik. Lalu Ibu Silaban ini mengatakan panggil saya” namboru” ea. Jawab saya “ea namboru”.
Mereka tinggal jauh dengan orang sakai tersebut karena mereka orang-orangnya jahatnya dan mau pun tinggal dengan orang sakai tersebut karena mereka mendapatkan lahan yang murah itu hanya di Desa Petani. Saat Ibu ini cerita tentang keburukan orang sakai tersebut dengan pakai bahasa batak. Pekerjaan mereka ini adalah berladang juga, mereka mempunyai lahan 2 hektar yang ditanamin sawit. Karena Bapak Sudarto ini mau ke ladang lagi maka pun
21 permisi kepada yang punya rumah. Lalu namboru itu mengatakan “olo, ro ma hamu anon da”. Jawab saya “ea namboru” (sambil menyalam mereka).
Kami pun berangkat pulang ke Bapak Sudarto dan sampai kerumah Pukul 11.00 pagi. Setelah sampai kami pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke ladang, sebelum berangkat kami makanan dulu. Saya dan Ibu Siti siapkan makanan dan kami pun makan sama. Selang beberapa menit kami pun siap makan dan istirahat sejenak dan langsung pergi ke ladang. Kami keladang jalan kaki dan menggunakan sampan untuk menyeberangi sungai tersebut. Setelah sampai kami pun membersihkan ladang tersebut setelah itu kami langsung menanami tanaman. Sambil bekerja kami cerita-cerita tentang sistem pertanian mereka dengan sambil bercerita capeknya pun tak terasa. Banyak pengalaman dan informasi yang bisa saya dapat dari Bapak/Ibu ini. Setelah semuanya selesai kami istirahat sejenak baru kami pulang kerumah karena matahari sudah terbenam.
Di Desa Petani ini belum masuk listrik sehingga warga tersebut memakai diesel yang dimana setiap harinya dihidupkan pada pukul 18.30 wib. Setelah sampai dirumah Bapak Sudarto langsung menghidupkan diesel dan penulis bersama ibu siap-siap untuk memasak makan malam. Lauk-pauk kami pada malam hari adalah ikan juara padi yang dimana sudah diasapin, digoreng dan disambel. Sayurnya kangkung yang ditumis. Ikan juara padi ini sangat enak apa lagi kalau digulai lebih enak lagi rasanya. Setelah kami masak, penulis pun mandi dengan menggunakan kain basah dengan menggayung air dari sungai. Keadaan sungai yang dalam membuat penulisa tidak berani untuk berenang. Pada awalnya penulis ragu untuk mandi dengan air sungai, kerena air sungai berwarna hitam kecoklatan. Selain itu mereka juga buang kecil dan besar langsung kesungai
22 tersebut. mereka juga menggosok gigi dengan mengambil air hujan yang ditampung kalau pun hujan tidak turun mereka menggunakan air bersih yang dibeli 1 derejen itu 6000. Penulis sangat tidak nyaman mandi disungai tersebut dan penulis juga sangat prihatin melihat warga tersebut karena tidak memperhatikan kebersihan tubuh dan lingkungannya. Terutama pemakaian sikat gigi yang digunakan bergantian dengan anggota keluarga lainnya, ada yang menggunakan sabuk pinang dan bahkan ada juga yang tidak menggosok gigi sehingga gigi mereka ada yang berwarna kuning.
Setelah semuanya selesai mandi kami pun makan malam bersama, sebelum kami makan kami memulai doa dengan agama kami masing-masing. Selesai makan malam bapak Sudarto langsung ke depan untuk menghidupkan TV dan selesai penulis membereskan makan malam dan langsung pergi kedepan bergabung dengan bapak Sudarto untuk menonton TV. Karena bapak Sudarto menonton siaran bola dan penulis tidak menyukai bola maka penulis permisi kepada bapak Sudarto untuk pergi jalan-jalan melihat keadaan malam bersama pacar saya. Kami pun berkeliling kampung tersebut sampai kami berjumpa dengan satu keluarga yang sedang asyik duduk di depan pintu dan kami pun menghampiri mereka dan mempersilahkan kami masuk kerumahnya. Bapak tersebut bernama subeni dan bapak choril. Kami bercerita terntang Suasana kampung tersebut dimalam hari. Ternyata sangat sepi dan gelap karena tidak adanya lampu dijalan. Setelah kami cerita panjang lebar dan waktu yang sudah menunjukkan pukul 22.00 wib kami pun permisi pulang.
Orang Sakai ini tidur dengan menggunakan tilam, kasur lipat atau tikar di depan TV. Hanya sebagian warga saja yang menggunakan tempat tidur dan tidur
23 didalam kamar. Penulis tidur dengan menggunakan kasur lipat, bantal dan selimut yang sudah dikasih sama ibu Siti. Penulis tidur di depan TV dan pacar Penulis tidur bersama anak bapak Sudarto di tempat tidur. Keadaan lantai dan dinding rumah bapak Sudarto terbuat dari papan yang tidak tertutup rapat sehingga membuat banyaknya nyamuk dan angin yang masuk.
Kegiatan pada pagi hari yang dilakukan secara rutin adalah mencari ikan disungai dengan menyelam kedalam karena kalau menggunakan sampan maka ikan-ikan tersebut pada kabur mendengar suara mesin sampan tersebut. Saya ikut bersama Bapak Sudarto dan Ibu Siti untuk mencari ikan. Suasananya sangat dingin apalagi pada saat sudah menyelam kedalam sungai tersebut sangat dingin sekali. Kami pergi pada pukul 05.00 sampai dengan hasil yang kami dapat sudah banyak.
Hasil tangkapan kami dengan melangai kebanyakan ikan-ikan juara padi yang kecil-kecil tetapi kalau menggunakan Lukah hasil tangkapannya cukup besar-besar. Selesai pulang mencari ikan kami pergi melihat lukah atau taju yang dipasang sore sebelumnya. Terdapat 3 lukah yang dipasang bapak Sudarto dan Ibu siti hasil tangkapan ikan dalam satu lukah sekitar 6-15 ekor ikan bulan-bulan. Penulis memperhatikan cara mereka dalam mengambil ikan yang teperangkap dalam lukah, memperhatikan mereka meletakkan lukah, bertanya dimana tempat meletakkan lukah agar mendapatkan banyak ikan, upan yang digunakan dan lain-lain. Ikan yang didapat dari lukah ini antara lain ikan bulan-bulan dan ikan selais.
Ibu siti pun langsung menghidupkan api untuk mengasapin ikan juara padi sambil menunggu ikan siap diasapin ibu Siti sambil mengolah ikan bulan-bulan menjadi ikan asin. Penulis pun memperhatikan cara ibu Siti dalam mengasepkan
24 ikan dan mengolah ikan menjadi ikan asin. Ibu Siti menjelaskan bahwa ikan yang diasepkan butuh semalaman sedangkan ikan asin dijemur sekitar 2-3 hari sampai ikan tersebut kering.
Pukul 11.00 bapak Sudarto bersiap-siap keladang karena ibu Siti sedang mengeringkan dan mengolah ikan maka bapak Sudarto sendiri yang pergi keladang sedangkan penulis dengan Ibu Siti menunggu ikan yang diasepin sambil bercerita. Hari pun sudah menjelang sore dan ikan pun belum siap diasepin maka apinya dimatikan dan dilanjutkan setelah pulang mencari ikan, penulis dan Ibu Siti pergi lagi untuk mencari ikan. Sore ini kami mencari ikan dengan menggunakan sampan dan hasil yang kami dapat sore ini lebih sedikit dari pada pagi hari. Mataharipun mulai terbenam kami pun pulang, ternyata bapak Sudarto sudah sampai dirumah terlebih dahulu. Ternyata bapak Sudarto sudah menghidupkan api ydan melanjutkan ikan tersebut untuk diasepin dengan menggunakan api kecil agar ikan tersebut tidak gosong.
Pada tanggal 15 Agustus penulis sudah tidak bisa lagi menahan buang air besar yang sudah beberapa hari ini penulis menahan-nahan sambil memegang batu agar tidak buang air besar. Karena penulis tidak bisa untuk buang air besar langsung kesungai tersebut. Saat ibu Siti melihat saya merintih kesakitan ibu Siti langsung menayakkan kepada penulis tentang keadaan penulis dan penulis menjawab kalau penulis sesak mau buang air besar lalu Ibu Siti langsung menyuruh penulis untuk pergi kesungai untuk buang air besar. Selesai penulis buang air besar, penulis melihat Ibu Siti sibuk membersihkan ikan yang kami ambil tadi pagi dan saya ikut membantunya.
25 Pada tanggal 17 agustus di desa petani ini merayakan hari kemerdekaan Indonesia dengan menggadakan suatu permainan. Saya ikut bagian dalam permainan tersebut, permainan yang saya ikutin adalah permainan tarik tambak ibu-ibu lawan bapak. Kami pikir kami akan kalah karena tenaga bapak-bapak tersebut lebih kuat dari pada ibu-ibu. Ternyata salah kami yang ibu-ibu ini yang menang karena cuaca saat itu hujan dan becek kami semua yang ikut tarik tambang pada berjatuhan karena licinnya. Seru habis saat mengikuti perlombaan seperti itu walaupun penulis baru bebeapa hari tapi rasanya sudah bertahun-tahun tinggal dan mengenal warga tersebut.
Besoknya saya mengalami sakit demam dan ibu Siti sangat kwatir dan mengambil daun esam dari semak-semak pinggir jalan. Ibu Siti langsung mengelolahnya dan memberikan kepada penulis agar diletakkan ke dahi agar panasnya turun dan meminumnya. Tapi penulis sangat ragu meminumnya sehingga penulis tidak meminumnya.
Pada tanggal 20 agustus saya pergi bersama pacar dan keluarga Bapak Sudarto ke Desa Bonai yang dimana Desa Bonai ini adalah bagian dari Desa petani yang dimana perumahan sosial orang sakai juga yang di dirikan oleh pemerintah. Kami pergi ketempat saudara mereka. Ternyata jauh lebih berbeda dengan keadaan orang Sakai di Desa Petani. Di Desa Bonai ini tidak lagi menggunakan air sungai untuk mandi, mencuci dan lain sebagainya. Karena setiap rumah mereka sudah memiliki air sumur yang bersih dan agak sedikit bau. Warga yang di Desa petani itu adalah pindahan dari Desa Bonai mereka pindah karena masih ingin mengalami kehidupan yang tinggal di atas air. Di Desa Bonai ini sudah memperhatikan kesehatan dan pendidikan anaknya.
26 Kami tinggal ditempat saudara bapak Sudarto karena saudaranya sakit, saudara bapak Sudarto ini guru yang mengajar di SD yang bernama ibu Lia. Ibu Lia ini menyuruh Penulis untuk menggantikan ibu itu untuk sementara saja. Penulis mengatakan kalau saya tidak membawa seragam dan sepatu untuk mengajar. Lalu ibu Lia ini menjawab dengan menggunakan kaos biasa dan sendal juga bisa kok. Penulis pun akhirnya mau dan pacar penulis pun ikut membantu untuk mengajar anak-anak SD tersebut. Anak-anaknya sangat baik dan mau diajarin, penulis mengajarkan semua mata pelajaran kecuali agama islam yang dimana saya tidak megerti. Saya sangat senang bisa mengajar mereka dan punya pengalaman untuk mengajar. Semangat mereka untuk belajar sangat tinggi dibandingkan dengan di Desa Petani. Anak-anak Di Desa petani ini tidak ada semangat untuk sekolah dan dorongan orang tua pun juga tidak ada malah mendukung anak-anaknya tidak bersekolah. Saya mengajar di sekolah selama 2 hari saja dan selanjutnya kami langsung pulang ke Desa Petani karena masih banyaknya pekerjaan tersebut belum selesai. Penulis pun sangat berterima kasih kepada ibu Lia sudah mengasih kesempatan untuk mengajar di sekolah tersebut dan kami pun berpamitan untuk pulang.
Pada pagi hari sekitar pukul 10.00 sehabis mencari ikan penulis, pacar penulis dan Ibu Siti untuk bersiap-siap ke Kantor Desa untuk mengambil data tentang Desa Petani. Kami menggunakan 2 sepeda motor ke Kantor Desa penulis dengan pacar penulis dan Ibu Siti dengan sendirinya. Akhirnya kami pun sampai dan menjumapai bapak Hendra. Bapak hendra ini menyambut kami dengan ramah dan penulis menceritakan maksud dan tujuan penulis datang kesini. Penulis menanyakan apakah bapak Hendra memiliki data wilayah Desa Petani ini.
27 Kemudian Bapak Hendra langsung mencari dan mengambil berkas tersebut antara lain peta desa petani, berita acara pemasangan Tugu Batas Desa, Berita Acara Penetapan Batas Wilayah Desa/ Kelurahan, Daftar koordinat batas Desa Petani Kecamatan Mandau, dan bentuk pilar batasan desa. Penulis meminjam sebentar berkas tersebut untuk difotocopy. Selain itu penulis juga banyak berbincang dengan Bapak Hendra mengenai keadaan masyarakat sakai di Desa Petani ini.
Setelah selesai kami pun berpamitan dan langsung pergi ke kota untuk memfotocopy berkas tersebut dan setelah selesai kami balek ke Kantor Desa untuk memulangkan berkas tersebut dan berterima kasih kepada Bapak Hendra. Kami ppun langsung pulang ke rumah karena perut sudah tidak memungkinkan lagi. Pukul 03.00 sore kami sampai dirumah dan langsung mempersiapkan untuk makan dan selesai makan kami langsung pergi mencari ikan.
Pada tanggal 24 Agustus pukul 08.00 kami pergi keladang untuk memanen ubi menggalo hasil panennya ada yang di jual dan dikonsumsi sendiri dan Ibu Siti menjelaskan kalau ubi menggalo ini rasanya enak dan penulis penasaran ingin merasakannya. Selesai kami dari ladang, kami langsung pulang. Ibu Siti langsung mengelolah ubi tersebut untuk dikonsumsi sendiri. Penulis pun ikut memantu dan penulis pun tahu tahap demi tahap dalam mengelolah ubi menggalo tersebut. ubi menggalo ini adalah makanan asli orang sakai yang rasanya hambar dan berstektur keras.
Beberapa hari penulis sudah di Desa petani ini penulis melihat keadaan sistem pertanian mereka yang sangat mengalami perubahan dan sangat berbeda dalam bertani di Desa Petani dengan bertani di sumatera utara ini. Dahulunya mereka memanfaatkan hasil hutan dan sekitarnya. Mereka juga masih menerapkan
28 pertanian ladang berpindah dengan tanaman padi dan ubi menggalo. Dulu orang sakai rata-rata memiliki lahan yang luas, tetapi pada saat perusahaan mulai membuka hutan dan belukar mereka banyak kehilangan tanahnya. Memang ada beberapa pihak membantu pengganti pada tanah penduduk yang diambil, akan tetapi lebih banyak lagi yang seenaknya mencaplok itu tanah mereka tanpa permisi dan biaya pengganti tanah juga sangat rendah dan sepihak. Sehingga warga desa Petani ini masing-masing mempunyai lahan tapi tidak sebanyak lahan mereka dulu. Mereka menjaga lahan dan mempergunakan sebaik mungkin untuk kebutuhan mereka masing-masing.
Padi yang ditanam mereka adalah padi kering yang dimana mereka langsung menanam padi tersebut dalam keadaan kering dan ubi menggalo. Untuk menghemat mereka tidak hanya memakan nasi saja tapi ubi menggalo di olah untuk dijadikan makan keseharian mereka juga.
Pada tanggal 25 Agustus Penulis beserta bapak Sudarto pergi mengunjungin rumah Bapak Adim untuk bermaksud menanyakan seputar sejarah kedatangan perusahaan-perusahaan dalam membuka hutan dan belukar tersebut sehingga lahan warga Sakai yang begitu luas menjadi sedikit, perubahan dalam sistem pertanian mereka yang dahulunya berladang-berpindah dan memanfaatkan hasil hutan dan sekarang ini mereka sudah berladang menetap. Dan mengenai keadaan mereka pada saat lahan mereka diambil oleh perusahaan dan pendatang lainnya. Ternyata apa yang diceritakan warga tersebut sama dengan yang diceritakan bapak Admin bedanya saja bapak Admin lebih jelas penjelasannya. Begitu panjang lebar bapak Admin menceritakan kebutuhan penulis tersebut sambil penulis pun merekamnya.
29 Selesai bercerita dengan bapak Admin saya melihat ibu rika dan anaknya (isteri dan anak bapak Admin) menyusun kayu dan mengikat kayu pada siang hari. Penulis bercerita dengan ibu Rika dan anaknya sambil membantunya.