• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkuman dan Rekomendasi

Dalam dokumen Bioetik Dan Hukum Kedokteran (Halaman 69-72)

Meninjau patokan health behavior dalam konstelasi individu normal (artinya: di luar DSM-IV) untuk dapat diterapkan ke dalam kelompok persons with disabilities, terlihat bahwa masih sangat panjang proses yang harus ditempuh agar upaya modifikasi ini dapat direalisasi, dengan beberapa alasan berikut ini:

1. Kesadaran masyarakat masih sangat rendah tentang nilai eksistensi persons with

dis-abilities including mental illness, bahwa mereka adalah tetap warga negara, yang tetap

mempunyai hak-hak individual (menyadur atau our freedoms dari Roosevelt yang menegaskan kembali Declaration of Independence tahun 1778: freedom of speech and

expression, freedom of every person to worship God in his own way, everywhere in the world, freedom from want, and freedom for fear) walaupun mereka telah melakukan

perbuatan yang dapat dikategorikan tercela di muka hukum;

2. Masyarakat belum secara penuh memahami karya tenaga professional secara menyeluruh dan sungguh-sungguh, yang berkemampuan mendiagnosis keadaan disabled dan

men-tally ill dalam kesempatan-kesempatan luas, bukan hanya ketika harus berhadapan dengan

hukum dalam proses peradilan pidana (di muka polisi, jaksa penuntut perkara, hakim pemutus perkara, dan lembaga pemasyarakatan yang merehabilitasi si pelaku). Akibatnya, penggunaan jasa professional seperti ini kurang berkembang dan kurang diminati oleh tenaga terdidik sebagai lahan kerja/profesi;

3. Minimnya dukungan suprastruktur dan infrastruktur dalam bidang kesehatan jiwa yang bukan hanya persoalan nasional, tetapi juga internasional (seperti diuraikan di depan hanya ada 1 deklarasi tentang disabled persons di antara 27 global instruments). 4. Bukti lain: di antara 31 bidang rapporteurs di UN Human Rights System, belum ada bidang

kesehatan, juga secara khusus “sub bidang” disabled atau mental illness; demikian pula baru ada 5 kategorisasi “rights” yaitu civil, politics, economics, social and culture, padahal kesehatan merupakan salah satu pilar utama kesejahteraan individual yang membangun negara kesejahteraan (welfare state), di samping pendidikan dan ekonomi.

Sedangkan berbicara tentang hak dan kewajiban (siapa melakukan apa) atas kelompok individu ini, dapat dikemukakan beberapa pendekatan berikut ini:

1. Telah diperkenalkan suatu rumusan untuk menerapkan sistem dan desain dalam mendiagnosis yang bersandar pada kemampuan kognisi dan gambaran kognisi sosial individu, yaitu menerapkan penelaahan tentang schema, script, ingatan, perhatian, inferensi dan rekonstruksi peristiwa sosial sampai batas kemampuan individu tersebut, sebagai cara untuk menghindarkannya dari bias diakibatkan oleh kurang berfungsinya kemampuan diferensiasi dan integrasi yang biasanya mereka derita.

2. Dalam menegakkan diagnosis juga diakomodasi dan diperhitungkan sebanyak dan seluas mungkin peranan peristiwa-peristiwa sosial yang mempunyai makna (dan pengaruh) bagi si individu, melalui pelbagai teknik dengan didasarkan pada kekayaan observasi tingkah laku serta wawancara berstruktur yang sistematik dan mendalam. Pengenalan intensi bertingkah laku, dan derajat kematangan sosial yang bisa menjadi dasar untuk re-edukasi, menjadi sangat bermakna.

60 - Semiloka Kesehatan dan Hak Asasi Manusia

Sebagai ilustrasi: dalam penelitian pribadi, penulis menyimpulkan bahwa penggolongan derajat keterbelakangan mental seorang anak kini bukan hanya semata-mata ditentukan oleh pengukuran IQ nya, tetapi oleh taraf kemampuan sosialnya (social ability - Richardson, 1974)

Sesuai pemahaman hak asasi manusia yang menyangkut kewajiban atas individu sebagai warga negara, apa pun keadaannya, maka jelas bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengelola hak asasi manusia bagi individu yang tergolong disabled dan mentally ill ini. Ke-10 asas dalam KUHAP yang mengatur perlindungan terhadap keluhuran harkat serta martabat manusia harus diterapkan kepada individu yang tergolong dalam kelompok yang kurang beruntung ini. Menarik untuk diangkat sinyalemen Mardjono Reksodiputro (Reksodiputro, 1994) bahwa ada beda antara “Hak Asasi Manusia”, dengan “hak serta kewajiban warga negara”.

Pengertian yang digunakan dalam kepustakaan perlu didiseminasikan karena: human rights mengandung tiga elemen, yaitu civil rights (=burgerrechten; hak warga negara),

politi-cal rights, dan social rights. Hak warga negara inilah yang utama dibanding dengan hak

politik dan sosial, karena hanya apabila hak warga negara ini benar-benar dimiliki oleh para warga negara dan dipertahankan oleh pengadilan, barulah hak politik dan hak sosial dapat mempunyai arti.

3. Ketika jelas bahwa individu penyandang disability bahkan mental illness tidak mungkin memperjuangkan hak-hak individualnya di muka hukum, harus ada penjaminan oleh negara atas kesejahteraannya berdasarkan undang-undang. Untuk itu diperlukan segera kerja sama terpadu dari perwakilan negara dan keluarga demi kesejahteraan jiwanya dan menjaga serta mempertahankan hak-hak politik dan sosialnya.

4. Dalam konteks health behavior, individu perlu dilindungi hak-haknya untuk hidup sehat, sejauh mungkin dilibatkan dalam health education sebagai partisipan aktif sesuai keadaan kematangan kemampuan sosial dan daya tahan fisiknya.

5. Memantapkan pola pendekatan bio-psiko-sosial, dalam menegakkan diagnosis dan prog-nosis. Dalam melakukan terapi dan intervensi terkendali perlu memperhatikan psikoterapi yang terintegrasi serta faktor ras dan kultur dalam merancang intervensi.

6. Sebagai rekomendasi akhir, ingin penulis sampaikan kepada sidang Semiloka ini agar dapat secara asertif memperjuangkan usul kepada pihak-pihak strategik dengan berinisiatif mengembang-luaskan substansi Declaration on the Rights of Disabled Persons menjadi

Covenant on Standard Minimum Rules for the Treatment of Persons with Disabilities including Mental Illness.

Rujukan

1 . American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV-TR. 4th Ed. Text Revision. 2000.

2. Australia Department of Foreign Affairs and Trade. Human Rights Manual Fiftieth Anniversary of the Universal Declaration of Human Rights. 1998.

3. Davidson, G, John M, Neale. Abnormal Psychology. 8th Ed. John Wiley & Sons, Inc. N.Y., Singapore, Toronto, 2001.

4. Glanz K, Frances M Lewis, Barbara K. Rimer. Health Behavior and Health Education. Theory, Research, and Practice. 2nd Edition. Jossey-Bass Publishers. San Fransisco, 1997.

5. Hannum, Hurst. Guide to International Human Rights Practice. Second Edition. Univ. of Pennsylvania Press. Philadelphia, 1994.

6. Hassan F. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Pustaka Jaya, Jakarta, 1973.

7. Irsan, Koesparmono. Hak Asasi Manusia Suatu Pengantar. Ubhara Press, Jakarta, 2000.

8. Manan B. Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia. Yayasan HAM, Demokorasi, dan Supremasi Hukum. Bandung, 2001.

9. Reksodiputro M. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. Kumpulan Karangan Buku Ketiga. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, UI, Jakarta, 1994.

10. Richardson R. Social Ability and Its Measurement Devices for Mentally Retarded Child. Future and Purpose. John Wiley & Sons., New York, Toronto, 1974 dalam “Sekitar Masalah Sosialisasi pada Anak Terbelakang Mental”. Damona IC Poespawardaja. [Skripsi], Fakultas Psikologi UI, 1977

-Semiloka Kesehatan dan Hak Asasi Manusia - 63

Dalam dokumen Bioetik Dan Hukum Kedokteran (Halaman 69-72)

Dokumen terkait