• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. Responden I

A.3. Rangkuman Hasil Wawancara

FR adalah seorang wanita berusia 20 tahun, berbadan langsing dengan tinggi 161 cm dan berat kira-kira 53 kg. FR berkulit putih, berambut lurus berwarna hitam panjang sepinggang dan selalu dibiarkan tergerai. FR adalah anak pertama dari 3 orang bersaudara. FR berdomisili di Medan bersama kedua orang tuanya. Sehari-harinya, FR melakukan kegiatan sebagai seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Medan, Sumatera Utara. Saat ditanyakan apakah ia pernah merasakan bentuk kecemasan setelah pembelian, ia langsung menjawab ya namun pada saat itu FR belum bersedia diwawancarai dan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kegiatan wawancara. Namun, berkat pendekatan dari peneliti dan bujukan dari teman dekatnya yang mana adalah teman peneliti juga, akhirnya FR menyetujui dan bersedia berbagi informasi tentang semua pengalaman membelinya. Bila dilihat sekilas, FR terlihat pendiam, dan tidak mudah berkomunikasi dengan orang baru. Namun setelah beberapa kali bertemu, FR selalu ramah dan tidak sungkan bila diminta untuk meluangkan waktu wawancara. Ketika diminta untuk mengisi alat ukur untuk melihat tipe

kepribadian introvert dan ekstrovert FR mendapatkan hasil INFJ yang berarti ia termasuk dalam tipe kepribadian introvert dengan tingkat moderate (sedang). Tipe kepribadian ini sendiri diakui oleh FR dengan menyatakan ia memang merasakan bahwa ia adalah seorang yang introvert.

Dalam kebanyakan kegiatan belanja, FR merasa menyukai melakukan proses belanja sendirian, karena ia merasa lebih senang melakukan proses belanja sendiri. Tetapi terkadang FR tidak merasa keberatan bila ditemani oleh orang terdekatnya. Namun meski ditemani, tetap saja FR tidak menerima saran untuk membeli produk tertentu. Hal ini terjadi saat ia sedang melakukan pembelian

handphone yang ditemani oleh ayahnya. Meski ditemani, FR memilih sendiri produk yang ia inginkan dan menolak saran ayahnya untuk membeli produk dengan merk berbeda. FR lebih percaya dengan pilihannya sendiri dan bersikeras untuk tetap menginginkan produk pilihannya. Faktor kepribadian FR yang tergolong introvert yang membuatnya lebih mempercayai dirinya sendiri daripada pendapat orang lain. Hal ini juga mengakibatkan FR lebih suka berjalan-jalan sendiri bila sedang berbelanja tanpa ditemani orang lain. Ia juga tidak begitu percaya dengan pengaruh-pengaruh teman ataupun penjual yang terkadang manawarkan produk padanya. Pada produk untuk kebutuhan sendiri, FR seringkali

langsung mencari sendiri apa yang disukainya.

Pada beberapa pembelian, FR berbelanja pada saat yang tidak diduga-duga dan tanpa rencana sebelumnya, akibatnya di dalam berbelanja tidak begitu banyak pertimbangan yang dilakukan FR sebelum akhirnya ia memutuskan membeli produk. Sering kali, saat ia melakukan pembelian didorong oleh keinginan diri

sendiri, dan mengabaikan pertimbangan lainnya. Ia tidak dapat menahan diri untuk membeli sesuatu yang dinginkannya, sehingga pertimbangan yang dibuat dalam pembelian tidak begitu matang. FR merasa sangat berat untuk tidak membeli produk yang diinginkannya karena ia merasa akan lebih merasakan rasa penasaran bila ia tidak membeli produk tersebut. Maka ia memutuskan untuk tidak begitu memikirkan banyak hal dan langsung melakukan pembelian saja. Kejadian ini seringkali terjadi bila FR sedang berjalan-jalan sendiri dan merasa tertarik dengan produk-produk tertentu hingga kemudian ia tidak begitu mempertimbangkan kebutuhannya terhadap produk tersebut.

FR tidak biasa untuk melakukan survey mengenai produk yang dibelinya. Pencarian informasi yang dilakukannya kerap kali terbatas. Termasuk pada produk elektronik, FR biasanya hanya melihat informasi mengenai produk yang diinginkannya dari katalog dari produk yang diinginkannya atau dari maraknya penggunaan produk dilingkungannya. Walaupun ia tidak begitu memiliki pengetahuan tertentu mengenai barang elektronik, terkadang FR tidak mau bertanya pada orang lain dan mengkonfirmasikan apa yang dilihatnya. Saat ia menyukai produk tersebut, ia langsung berniat membelinya tanpa membandingkannya dengan rekomendasi orang lain.

Tipe kepribadian FR, mendukung hal ini yang membuatnya melakukan keputusan bebas tanpa ada campur tangan ataupun saran dari siapapun. FR biasanya tidak bertanya mengenai produk yang akan dibelinya, ia merasa malas bertanya pada orang lain karena merasa lebih tahu apa yang dinginkannya dibandingkan orang lain. FR lebih mempercayai dirinya dan hal-hal yang

dilihatnya sendiri dan kemudian mengevaluasinya sendiri. Bila hasil evaluasi terhadap produk itu bagus, maka FR tidak ragu untuk membelinya tanpa bertanya terlebih dahulu pada orang lain meski tingkat kepentingan pembelian yang dilakukannya cukup tinggi.

Pengalaman pembelian yang menimbulkan perasaan keragu-raguan atau kecemasan sering dirasakan FR karena ia merasa tidak begitu yakin terhadap kualitas produk yang dipilihnya, atau karena sebelumnya tidak mengumpulkan informasi yang cukup. Pengalaman kecemasan ataupun keraguan setelah pembelian yang dialami FR muncul sebelum penggunaan produk. Hal ini terjadi saat proses pertimbangan kembali setelah pembelian yakni saat ia melihat-lihat kembali produk yang sudah ia beli dirumah atau setelah proses pembayaran produk.

Pada beberapa pembelian, kekecewaan menuntun FR untuk tidak lagi memakai produk yang sudah dibelinya, seperti pada pembelian dress dan sweater. Namun pada beberapa pembelian lain, FR tetap menggunakan produk yang dibelinya, meskipun ia merasakan disonansi setelah pembelian produk tersebut. Hal ini karena, FR merasa produk yang dibelinya cukup penting untuk digunakan sehari-hari dan tidak mudah untuk mendapatkan gantinya yang lain. Hal ini terjadi saat FR melakukan pembelian terhadap laptop Acer. Pada mulanya FR ingin membeli laptop karena merasa membutuhkan produk ini untuk keperluan sekolahnya. FR tertarik membeli laptop Acer karena pada saat itu laptop Acer merupakan laptop yang sedang trend, FR merasa tertarik apada produk tersebut. Saat uang untuk membeli laptop diterima, tanpa mengkonfirmasi dahulu

mengenai laptop Acer pada orang lain, FR memutuskan untuk langsung membelinya di toko. Meski saat ditoko FR sempat ditawarkan untuk membeli produk lain oleh penjual, FR merasa keputusannya tidak dapat diubah dan ia tetap memilih Acer. Merasa sudah memilih model yang dinginkannya, FR langsung melakukan pembayaran.

Setelah proses pembayaran, FR merasa ragu dengan keputusannya karena sebenarnya ia tidak begitu mengetahui kualitas produk elektronik yang sudah dibelinya, namun karena tertarik dengan modelnya maka ia berusaha menghilangkan keragu-raguannya dengan pemikiran lain dan kemudian mencoba memakai produk terlebih dahulu. Bila ia sedang memakai produk bersamaan dengan temannya yang memakai produk sejenis, FR merasa khawatir bahwa kualitas produk yang dibelinya lebih rendah dari pada produk yang dimiliki temannya. Namun karena produk tersebut penting baginya untuk digunakan sehari-hari FR tetap mencoba menggunkannya meskipun akhirnya ia menyesal karena ternyata produk yang dibelinya tidak bertahan lama. Akibatnya, pada pembelian berikutnya FR tidak mau lagi menggunakan produk dengan merk yang sama.

A.3.a. Aspek Emotional

FR pernah mengalami kecemasan setelah membeli produk laptop. Awalnya,

FR membeli karena membutuhkan laptop, ia menyadari pemakaian produk Acer

sedang marak dan merupakan produk yang sedang in dan merasa tertarik terhadap

karena ia ingin memiliki laptop sendiri untuk keperluan sekolahnya. Pada saat pembelian dilakukan FR memutuskan untuk melakukan pembelian sendiri tanpa ditemani siapapun, FR lebih senang melakukan proses belanja sendiri.

”kan kemaren aku lagi butuh laptop terus waktu itukan laptop masih jarang yang pake.. aku liat kemaren Acer itu keknya

booming kali dimana-mana semua orang pake itu.. jadi yaudah aku pengen beli itu” (R.1/W.3,d7/b.563-567h.16)

”yaudah terus aku bilang kan.. tapi terserah ya pa mau merek apa.. terus papa bilang yaudah terserah kakak aja mau merek apa yang penting seneng yang penting ada yauda dikirim duitnya yaudah abis itu aku pigi beli sendiri ketokonya..” (R.1/W.3,a14/b.567-57/h.16)

”aku.. emang kemana-mana agak males ditemenin kalo gak bener-bener penting kak.. misalnya kayak nyari kado buat orang atau nyari bahan untuk dekorasi acara tapi kalo emang barang kebutuhan sendiri aku lebih seneng nyari sendiri..” (R.1/W.2,cb8/b.381-387/h.10)

Dalam rentang satu bulan sejak FR mengenal produk hingga pembelian produk FR tidak mencari informasi kemanapun mengenai produk yang ingin dibelinya. Hal ini karena FR merasa percaya dengan status produk yang sedang

trend sehingga FR meyakini produk pastilah memiliki kualitas yang baik. Karena FR sudah memiliki merk laptop yang diinginkannya, FR tidak meilirik produk dengan merk yang lain. FR merasa yakin dengan pilihannya meskipun ia tidak mengkonfirmasi evalusi yang dibuatnya terhadap produk dengan orang lain.

”Pertama karena ngetrend karena banyak orang yang pake kan.. udah aku bilang aku kalo barang elektronik gak ngerti-ngerti.. bukan gak ngerti sih.. gak.. males update.. dan aku ngerasa aku gak terlalu butuhin barang-barang kekgitu.. kekgitu jadi yaudah apapun yang ada udah dipake ajalah kekgitu” (R.1/W.4,d13/b.1247-1254/h.32)

”Aku mikirnya karena udah banyak yang pake kan kayak motor sendiri kan honda banyak orang pake hondakan berarti emang honda bagus kan..” (R.1/W.4,d14/b.1256-1259/h.32)

”soalnya aku ngerasa pengen aja kak kan lagi heboh laptop kemaren terus aku uda liat banyak yang pake Acer .. aku percaya sama yang aku liat..” (R.1/W.3,aa15/b.599-602/h.16)

”hmm.. ditokonya itu aku cuma liat mana yang modelnya bagus mana yang enak diliat yaudah terus beli aja..” (R.1/W.2,a3/b.391-393/h.10)

”tapi gak nanya ke siapapun.. akhirnya sampe ditoko langsung beli gak ngerti apa-apa oh yang ini bagus kok modelnya kekgini.. kekgitu–gitu pokok nya langsung dapet aja..” (R.1/W.2,aa4/b.400-404/h.11)

Setelah proses pembayaran, dijalan ketika hendak pulang kerumahnya FR merasakan perasaan tidak nyaman akan keputusan yang telah diambilnya. Perasaaan ketidaknyamanan ini dipicu oleh kenyataan bahwa sedikitnya pengetahuan yang dimiliki FR mengenai produk yang dibelinya sehingga FR merasa cemas bila kualitas produk yang dibelinya tidak sesuai harapannya. Kecemasan juga disebabkan oleh keberanian mengambil resiko membeli meski sebelumnya tidak mengumpulkan informasi yang cukup dengan bertanya dengan orang lain.

”seneng sih soalnya uda ada yang bisa dipake uda ada laptop baru.. tapi.. masih mikir ini bagus gak sih.. bagus gak sih.. soalnya kan gaada nanya ke siapapun aku juga sama sekali gak tau soal yang gitu-gitu.. kalo untuk masalah yang lain boleh la tapi kalo udah masalah barang elektonik aku agak sedikit kurang tahu karena gak terlalu tertarik kak..” (R.1/W.2,a5/b.407-415/h.11)

”... ada mikir ini bagus gak sih ini kualitasnya gimana sih.. ntar baru dipake udah kek gini.. kek gitu-gitu kak... aku kan gaktau apa-apa soal barang elektronik, terus kok berani beraninya beli ini langsung gak nanya-nanya.. terus aku juga kan gak ada nanya dulu sama yang pernah pake itu..” (R.1/W.3,a17/b.609-618/h.17)

”Ini bener gak sih yang dibeli ini bakal bagus gak sih bakal cepat rusak gak sih.. kenapa gak nanya dulu.. ada gak nyamannya..” (R.1/W.2,a6/b.416-419/h.11)

”Terus kemaren aku juga gak tau lagi pasaran harganya berapa udah langsung main beli aja jadi mikirnya apa emang udah bener ya harganya tadi gak kemahalan kan ya.. ragu-ragu sih sempet ragu tapi yaudalah yang penting pake dulu..” (R.1/W.2,a7/b.419-425/h.11)

Setahun kemudian kecemasan FR terhadap produk yang dibelinya seakan terjawab karena laptop yang dibelinya tidak bertahan lama meskipun ia merasa jarang menggunakannya.

”..cuma kadang setiap makek laptopnya kayak ada rasa cemas sendiri gitu kak, apalagi kalok udah lagi ngerjain tugas sama kawan dan dia ma makek laptop yang berbeda merk sama aku.. emang bagus gak ya lapop yang kubeli ini.. gitu” (R.1/W.3,a13/b.534-540/h.15)

”yaudah pas udah ketauan cepat rusak itu kak keselnya itu sampe.. keselnya itu bener-bener kesel karena kan papa juga marah papa bilang kenapa asal beli aja gaada nanya.. terus kemaren aku bilang ke papa kan kemaren papa gaada bilang harus merek ini merek ini... yauda aku beli yang aku pengen aja.. terus abis itu.. tapi masih kesel aja masa aku beli barang gak worthed.. sayang duitnya kak walaupun bukan duit sendiri tapikan sayang kak..” (R.1/W.2,a8/b.427-438/h.11)

”cuma setahun kak.. terus batrenya soak.. untuk laptop kan itu cepet banget.. padahal aku orangnya gak suka mainin.. gak suka internet kali..” (R.1/W.2,a9/b.440-443/h.12)

Setelah membeli, FR seringkali merasa keragu-raguan terhadap keputusan membeli yang diambilnya. Pada pembelian sepatu crocss, FR merasakan keragu-raguan dengan pilihannya akan produk. Meskipun mamanya sudah memberi saran untuk membeli sepatu dengan ukuran lebih besar, ia merasa yakin dengan kepercayaannya sendiri untuk membeli sepatu dengan ukuran yang lebih kecil.

”Terus nyobalah nomernya yang 8 sama 7.. kata mama udah beli yang nomer 8 aja biasanya juga beli kan nomer 8 .. kekgitu terus aku bilang tapi yang 8 kegedean aku gak suka pake sepatu yang gede-gede lebih .. terus mama bilangkan kak itu kekecilan lo.. terus kubilang alah sepatu-sepatu kekgini paling kalo keseringan gede sendiri nanti dia” (R.1/W.4,ca23/b.1372-1386/h.35)

”Waktu dijalan itu sedikit sedikit aku liatin kotaknya.. cobak lagi liat kotaknya coba lagi.. mikir ini nomor nya udah sesuai gak ya sama aku.. gimana ya.. sampe mama rewel lagi abis itu dia bilang kan.. mama kan kalo udah marah pake aku aku dia.. terus mama bilang.. kenapa? awas aja gak dipake ya udah banyak uangku keluar.. gitu hahaha..”(R.1/W.4,a32/b.1389-1395/h.35)

Terkadang FR merasa sifatnya yang tidak mau begitu dicampuri orang lain dalam mengambil keputusan menjadi salah satu penyebab ia mengalami pengalaman belanja yang tidak menyenangkan. Namun sulit baginya untuk mengubah sifatnya ini sehingga ia kerap mengulangi pembelian-pembelian berikutnya dimana dia merasakan pengalaman belanja yang tidak menyenangkan.

”... gregetnya masih terasa sampe mikir kenapa.. kenapa sampe dibeli sih, kenapa gak tanya orang dulu.. kekgitu.. walaupun hobi beli sepatu atau baju tapi kenapa gak nanya mama kenapa gak minta kawani orang, kalo beli sendiri kan jadinya nyesel kekgini.. sayang duitnya mending beli yang lain.. kek gitu sih kak keselnya.. tapi berikutnya.. berikutnya kejadiannya kekgitu lagi hahaha..” (R.1/W.1,ea1/b.193-203/h.5)

”jelasin.. terus bilang ke diri sendiri.. lain kali kalo mau beli barang itu harus nanya orang harus kekgini-kekgini.. tapi nanti diulangin lagi kak sifat yang gamau tanya sana-sini itu” (R.1/W.1,aa1/b.175-179/h.5)

Kecemasan ataupun keragu-raguan yang dirasakan FR setelah membeli suatu produk tidak jarang berakhir pada tidak terpakainya produk yang sudah dibelinya. Hal ini terjadi pada pembelian sepatu crocs, dress serta sweater. Namun terdapat pula beberapa produk yang tetap digunakan FR karena produk yang

dibelinya merupakan produk yang penting untuk digunakan sehari-hari dan tidak mudah baginya mendapatkan ganti yang lain.

”Abistu pas dicoba dirumah kok rasanya freak.. gitu gak cocok kayaknya samaku.. haha aku ngerasa aneh makenya padahal mama bilang enggak kenapa-kenapa.. udah sampe sekarang gak terpikir mau make kak.. tu masih ada dikotak barangnya dirumah..” (R.1/W.4,eb15/b.1524-1530/h.38)

”..tapi akhirnya nyesel.. itukan sogo efek lampunya buat gajelas.. jadi pas dipake disana keliatannya enggak apa-apa.. eh ternyata ketika dicoba dirumah ternyata bahannya nerawaang.. bahkan sekalipun pake short itu masih keliatan. Soalnya aku pake dress

gitu kan cuma kalo pergi ke gereja, jadi gak sopankan kalo ke tempat ibadah pake baju kek gitu jadi yaudah enggak dipake lagi..” (R.1/W.1,a2/b.239-349/h.6)

”...laptopnya.. aku gak ngelakuin apa apa sih kak, pakek aja...” (R.1/W.3,eb5/b.541-542/h.15)

”kalo HPnya dipake terus lah kak.. terus klo mau beli HP lagi aku mesti nabung lagi.. capek.. jadi mikirnya udahlah pake handphone

udah bisa nelfon, bisa sms, bisa internet udah cukup..” (R.1/W.1,eb2/b.209-213/h.6)

”iya kak, apalagi kalo HP kan penting.. kalo sepatu kan masih ada sepatu yang lain jadi bisalah gausah dipake dulu.. kalo HP kan mau pake HP apalagi..” (R.1/W.1,eb3/b.215-218/h.6)

A.3.b. Aspek Wisdom of purchase

FR sering berbelanja dengan tidak direncanakan. Tipe kepribadian FR yang mendukungnya untuk berfokus pada dirinya sendiri mengakibatkannya lebih menyukai menghabiskan waktunya sendiri tanpa ditemani orang lain. Demikian pula saat ia dalam proses berbelanja, FR lebih suka melakukan kegiatan belanja

sendirian dari pada ditemani orang lain. Pada pembelian dress, FR tidak yakin apakah sebenarnya ia membutuhkan produk tersebut.

”aku pergi jalan suka sendiri kak.. terus kalo ada yang bagus yaudah dibeli, kalo lagi pengen beli ya beli.. bukan gara-gara butuh sih.. kalo butuh, justru kalo aku butuh malah biasanya aku nanya orang lain tapi itupun aku bilangnya ke mama. Tapi kalo bener-bener aku lagi pergi jalan sendiri, terus melihat sesuatu yang menarik hati, yaudah beli aja..” (R.1/W.1,bb3/b.222-231/h.6)

Selain itu FR juga kerap berbelanja yang didasarkan pada rasa senang saat membeli sesuatu tanpa pikir panjang dan pertimbangan yang matang. Saat FR menyukai suatu produk, sulit baginya untuk tidak membeli produk tersebut karena ia akan merasa lebih penasaran bila tidak jadi membelinya.

”Aku tipe orang yang kalo misalnya... yaudah aku butuh ini terus begitu pergi ketempat belum tau mau beli apa mau beli baju yang mana.. ngeliat mana yang bagus yaudah langsung beli.. jadi gak pake alternatif-alternatifan .. kalo ada orang kan sehari sebelum pembelian dia survey dulu besoknya baru beli.. kalo aku enggak, mana yang aku pengen mana yang aku suka yaudah beli..” (R.1/W.2,d5/b.325-334/h.9)

”ih dress nya lucu.. terus mikir lagi beli gak ya.. beli gak ya.. tapi nanti kalo gak beli nanti kepikiran sampe rumah..” (R.1/W.1,d3/b.237-239/h.6)

Akibatnya, setelah membeli FR sering merasakan keragu-raguan akan keputusan yang telah diambilnya. Ia merasa bimbang apakah sudah mengambil keputusan yang tepat atau sebaliknya.

”… abis beli itu pas dijalan aku kayak agak ragu sebenarnya apa aku emang butuh ya baju ini.. (R.1/W.2,b7/b.339-342/h.9)

”soalnya kan aku emang sering gitu gregetan aku udah liat yang lucu-lucu gitu bawaannya pengen beli aja.. ambil aja gitu.. kok tadi pas beli aku lngsung aja gitu enggak ada nanya-nanya dulu.. gitu-gitu kak.. biasanya itu aku langsung yang ah bodo amatlah yang penting aku senang.. urusan nanti la itu hahaha.. nanti kalo udah

ketauan gak bagus barula ’kan bego.. betulkan.. kenapa beli yang ini tadi..” (R.1/W.2,b8/b.342-352/h.9)

Sifatnya yang suka melakukan pembelian sendiri, membuat FR kerap merasa kesulitan bila dihadapkan pada dua pilihan yang dia sukai, kerena ia hanya dapat mengandalkan informasi yang ada pada dirinya sendiri. Kesulitan dalam memilih salah satu diantara dua membuatnya terbayang-bayang akan produk yang ditolaknya setelah pembelian.

”Yaudah pilih sendiri dicoba dipake.. banyak pilihan aku sama sekali gk tau mau pilih yang mana sanking banyaknya sampe om itu nelpon itu satu jam yang lalu itu aku masih disitu..” (R.1/W.3,b11/b.718-722/h.19)

”tapi akhirnya beli juga.. kalo gasalah setelah dipilih-pilih sisalah dua yang modelnya aku paling suka warna krem sama warna merah campur item-item gitu akhirnya belinya yang krem.. tapi sebenernya aku juga pengen yang merah kak.. tapi kalo beli dua-dua duit jajanku aku abis.. hha.. cuma aku masih pengen yang item merah sebenernya..” (R.1/W.3,b12/b.727-736/h.20)

”setelah sampai dirumah kepikiran aja memang.. abis diliatliat lagi dirumah kok kayaknya gabagus haha.. kayaknya bakalan lebih senang kalo aku bisa beli yang merah item juga..” (R.1/W.3,b13/b.751-755/h.20)

Ketika membeli sweater untuk temannya hal yang sama juga dirasakan FR. Ia merasa bimbang dalam memilih antara dua pilihan untuk diberikan pada temannya.

”pas itu aku milihnya susah... aku bingung dia suka dua-duanya, tapi disitu kayak ada bias dari aku, aku sukanya warna hitam, dia sih lebih suka abu-abu cuman item dia juga suka jadi aku pilih item atau abu-abu.. setauku dari temen-temen yang lain dia juga suka abu-abu paling suka sama abu-abu tapi dia juga banyak barang abu-abu.. itu sampe ada sejam aku milih-milih yang dua ini.. akhirnya aku muter dulu.. kutinggal dulu nyari-nyari yang lain manatau ada.. sambil mikir mikir.. ada gak yang lain ya.. akhirnya balik lagi kesitu terus akhirnya aku mikir yaudalah kayaknya yang

item lebih netral dari pada abu-abu..” (R.1/W.3,ba9/b.644-668/h.18)

Pembelian sweater dilakukan FR untuk menghadiahi temannya. Namun secara tidak sadar FR merasa produk yang dipilihnya merupakan produk yang disukainya, keragu-raguan pun timbul saat FR mengevaluasi keputusannya kembali.

”Disatu sisi aku lega kak.. karna uda ada yang mau dikasikan sama dia tapi karena aku agak ragu abis belinya aku langsung sms

Dokumen terkait