• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Manfaat Kemitraan

4.3.2. Rantai Pasar dan Marjin Pemasaran

Lembaga pemasaran rantai pasokan beras pandawangi yang umum terjadi di Kecamatan Warung Kondang-Cianjur (Gambar 11), yang juga merupakan rantai pemasaran petani non mitra adalah :

a. Pedagang Pengumpul Tingkat Desa (PPTD) adalah orang yang membeli gabah dari petani dalam bentuk MKP dan pembeliannya dilakukan dengan sistem borongan (kemplang). Umumnya tidak memiliki Huller, sehingga proses pengolahan gabah menjadi beras dilakukan dengan menyewa Huller yang dimiliki oleh pedagang besar. b. Pedagang Besar Daerah (PBD) adalah orang yang membeli

gabah/beras dari pihak pedagang pengumpul ataupun dari petani dalam bentuk beras/GKP. Sebagian besar pedagang besar memiliki fasilitas Huller dengan sarana dan prasarana lengkap ditunjang dengan mutu mesin pabrik yang baik. Beras yang dibeli dari pedagang pengumpul diolah kembali, terutama menyangkut proses pemutihan beras, proses grading dan proses pengemasan ulang, sehingga mutu dan nilai jualnya lebih tinggi dari sebelumnya. Sedangkan jika membeli dalam bentuk gabah, diolah menjadi beras melalui penjemuran, penggilingan, grading, sortasi, dan pengemasan. Hasil grading adalah menghasilkan jenis kepala, super dan Jitay (menir beras atau pecahan dari beras kepala).

c. Pedagang Besar Luar Daerah (Grosir). Adalah pedagang grosir di PIC, Bogor, Bandung, dan Sukabumi. Mereka dikirimi langsung oleh PBD

secara kontinu setiap minggu, dengan pembayaran dapat menggunakan giro/bilyet, tunai, ataupun kredit. Beras dijual langsung kepada konsumen atau melayani di tempat. PBLD, khususnya di PIC menyalurkan beras kepada pedagang besar luar pulau seperti ke Lampung.

d. Pedagang Pengecer. Pedagang yang langsung berhubungan dengan konsumen, terdiri dari pedagang pengecer daerah dan pedagang pengecer luar daerah. Pedagang tidak melakukan pengemasan ulang, karena sudah dikemas dalam ukuran 5 kg, 10 kg, 20 kg/, 25 kg dan 50 kg.

Gambar 11. Rantai pemasaran beras di Kecamatan Warung Kondang

Lembaga dan fungsi pemasaran di Kecamatan Warung Kondang - Cianjur terlihat pada Tabel 18. Berdasarkan tabel tersebut, setiap lembaga pemasaran mempunyai fungsi pemasaran yang terbagi menjadi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas.

Lembaga

Pemasaran Fungsi Pemasaran Perlakuan

Petani Pertukaran Fasilitas Penjualan Pembayaran Pedagang Pengumpul Pertukaran Fisik Fasilitas Penjualan, Pembelian Pengolahan, Pengemasan, Pengangkutan dan Penyimpanan Informasi Harga dan Pasar Sortasi, Pembayaran dan Penanggungan Resiko Pedagang Besar Pertukaran

Fisik Fasilitas

Pembelian, Penjualan Pengolahan, Pengemasan, Pengangkutan dan Penyimpanan Informasi Harga dan Pasar Sortasi dan Grading,

Pembayaran dan Penanggungan Resiko Pedagang Besar Luar Daerah Pertukaran Fisik Fasilitas Pembelian, Penjualan Pengangkutan, Penyimpanan, Informasi Harga dan Pasar Pembayaran dan

Penanggungan Resiko Pedagang Pengecer Pertukaran

Fisik Fasilitas

Pembelian, Penjualan Pengangkutan, Penyimpanan Informasi Harga dan Pasar Pembayaran dan Penanggungan Resiko

Permasalahan strategis saat ini yang terdapat dalam pemasaran beras Pandanwangi adalah mengenai kemurnian beras Pandanwangi itu sendiri. Berdasarkan pengamatan dan uji lab oleh LPPM-IPB, rataan keaslian beras Pandanwangi pada beras berlabel Pandanwangi yang dijual hanya sekitar 24,7%, artinya sekitar 75,3% merupakan beras pencampur. Selain itu tidak ada korelasi antara besarnya tingkat kemurnian dengan tingginya harga jual beras Pandanwangi. Hal ini menandakan bahwa mahal tidaknya beras Pandanwangi sangat ditentukan oleh motif bisnis untuk memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Berdasarkan pengamatan, pencampuran beras Pandawangi mulai dilakukan sejak rantai pertama pemasaran di lakukan yaitu ketika gabah hasil panen dari petani dibeli oleh tengkulak.

Dalam pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat hingga di tangan konsumen melibatkan beberapa pelaku rantai pasok/pasar, yaitu petani selaku produsen gabah, Gapoktan selaku pengolah dan pemasar beras kepala, CV Quasindo selaku pemasar beras Pandanwangi bersertifikat dan super/hypermarket selaku pemasar yang bersentuhan langsung dengan konsumen.

Untuk mengetahui proporsional atau tidaknya pembagian keuntungan antara pihak-pihak yang bermitra dalan pengadaan beras Pandanwangi bersertifikat, dilakukan analisis marjin pemasaran. Dari Tabel 19, terlihat bahwa marjin keuntungan Gapoktan dan CV Quasindo cukup proporsional, yaitu masing-masing 7% dan 6%. Demikian juga halnya dengan marjin keuntungan yang diterima petani yaitu sebesar 7 %. Marjin biaya yang ditanggung oleh pihak Gapoktan meliputi biaya penanganan gabah, pengolahan gabah, pengemasan, penyimpanan dan transportasi. Sedangkan marjin biaya yang ditanggung CV Quasindo meliputi biaya transportasi, pengemasan, promosi, penyimpanan dan bongkar muat. Dari perbandingan harga jual, terlihat bahwa posisi tawar Gapoktan masih memadai, dimana Gapoktan menerima harga lebih dari 50 % dari harga jual di tingkat konsumen.

Tabel 19. Marjin pemasaran beras Pandanwangi bersertifikat

No. Uraian Marjin pemasaran Pangsa

(Rp) (%) 1 Petani Marjin biaya 1,946 12 Marjin keuntungan 1,054 7 Harga diterima 3,000 19 2 Gapoktan Harga beli 3,000 Marjin biaya 4,851 30 Marjin keuntungan 1,149 7 Harga jual 9,000 56 3 Perusahaan mitra Harga beli 9,000 Marjin biaya 2,775 17 Marjin keuntungan 1,025 6 Harga jual 12,800 80 4 Hyper/Super market Harga beli 12,800

Marjin biaya & keuntungan 3,200 20%

Harga jual konsumen 16,000 100%

Setiap perlakuan dan transfer produk dari saluran satu ke saluran lainnya dalam rantai pemasaran akan menghasilkan nilai tambah atau marjin terhadap produk. Marjin timbul akibat adanya peningkatan nilai atau manfaat produk dan biaya tambahan dalam pengelolaan, seperti biaya proses, transpotasi, penanganan dan lain–lain. Rantai pemasaran beras Pandanwangi bersertifikat dari produsen ke daerah pemasaran terlihat cukup efisien karena besarnya marjin tataniaga yang tercipta di setiap rantai pemasaran relatif sebanding dengan penambahan nilai produk baik kualitas maupun atribut produk lainnya. Gapoktan menciptakan marjin tertinggi (Rp. 6000) dari kegiatannya mengolah gabah menjadi beras kepala dimana termasuk didalamnya marjin petani, sementara CV Quasindo menciptakan marjin sebesar Rp. 3.800 dari kegiatan repacking dan kelengkapan atribut kemasan beras. Sedangkan Super/Hypermarket mendapat marjin yang lebih kecil sebanding dengan kecilnya nilai tambah yang diciptakan.

Dokumen terkait